30 November 2009

Kabinet Retorika & Dongeng Kancil

Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua belum seumur jagung tetapi ributnya tak ketulungan. Nusantara polusi kata-kata. Itu karena semua suka bicara. Kata dijawab kata-kata. Justifikasi ditimpa apologia. Merumpun di satu kubangan menjadi retorika. Ya, negeri ini sedang mempraktekkan filosofi banyak bicara dan kerja itu adalah bicara.

Pekerjaan macam ini pernah ngetrend di jagat raya. Dalam berbagai catatan sejarah masa Yunani kuno muasalnya. Yang mempraktekkan kerja macam itu disebut Sokrates dan Plato sebagai Kaum Sofis. ‘Penjual kata-kata’, dan ‘membual’ menjadi komoditas yang laris manis.

Dampak dari ‘jualan kata’ itu melahirkan politisi yang ‘ngecap doang’, suka tipu-tipu, penguasa yang ‘ngadali’ rakyat, dan ahli hukum pokrol bambu. Itu yang kelak menjerat Sokrates ‘pembawa kebenaran’ menjadi pesakitan di negeri pengamal ‘demokrasi murni’ ini.

Kaum Sofis di ratusan tahun sebelum Tahun Masehi itu mengkultuskan kata, karena jalinan kata itu dianggap dewa. Sebab filosofi Kaum Sofis kemudian disebut filsafat Sofia bersendi pada retorika, dan agitasi serta oratoris, nyawa dari segala yang diperjuangkan. Itu pula yang menjadikan kebenaran tidak penting, karena yang diutamakan adalah kemenangan.

Di negeri ini, ‘jualan kata’ itu juga pernah berjaya. Awal abad 20 ‘Dongeng Kancil’ memasyarakat, meluas menjadi menu utama ‘piwulang’, pelajaran moral bagi bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Sebarannya dari Gresik, Jawa Timur mewabah ke seluruh Jawa, Palembang, dibawa para pedagang sampai ke Tumasik (Singapura), Malaysia dan Brunei, dan akhirnya ‘Si Pelanduk’ bagian dari ‘budaya serumpun’.

Malah di abad 14 yang disebut De Graff dan De Han di jantung Majapahit berkembang Islam Syiah itu, dalam Babad Gresik dikatakan mereka juga punya fabel Kancil yang bernama Falando Kancieh, Sang Kancaci, atau Si Kancil. Dengan demikian, rasa-rasanya, Sang Kancil ini fabel Persia yang digemari Kiai Semboja, dan dipakai sebagai ‘alat’ mengkomunikasikan agama.

Kiai Semboja memang tak banyak dikenal. Beliau adalah saudagar Gresik yang sukses, suami Nyi Ageng Pinatih. Nama belakangan ini yang kesohor, karena merupakan ibu angkat Sunan Giri. Tak salah jika Raden Paku, nama kecil Sunan Giri, bersyiar Islam, mendalang dengan tokoh Kancil.

Si Kancil ini memang dikisahkan cerdas, suka bicara, kendati juga dikenal culas, mahir tipu-tipu. Yang kena tipu seperti itu adalah petani, yang dalam folklore dikatakan timunnya dicuri.

Tapi di balik itu, seperti tertuang dalam ‘Syair Kancil Yang Cerdik’, Hikayat Pelanduk Jenaka’, sampai ‘Layang Cariyos Kancil’ dikatakan, binatang ini amat luar biasa. Dia pemersatu satwa di hutan belantara. Dia tegas bertindak demi keutuhan warga rimba.

Dia hadapi kerbau dan harimau yang merasa sebagai satwa buas, kuat, dan mentahbiskan dirinya sebagai penguasa. Setelah takluk, Kancil bertindak selayaknya pemimpin. Reward dan punishment diterapkan. Harimau serta kerbau tak berkutik tatkala dijatuhi hukuman. ‘Pemimpin kuwi kudu teges. Yen ora teges kuwi maqome sing dipimpin’, begitu petuahnya. Pemimpin itu wajib tegas. Kalau tidak tegas itu maqomnya yang dipimpin.

Kancil bukan hanya umbar kata-kata. Dia lengkap sebagai negarawan. Kata dan tindakan sepadan. Dia paham ‘berkuasa’ itu sama dengan tamsil ‘naik macan’. Yang ‘dikuasai’ takut macan yang ditunggangi, ‘penguasa’ ngeri turun dari macan yang siap memangsanya.

Dari Dongeng Kancil & ‘asbabul nuzul’ retorika terdapat pelajaran berharga. Kalau Kepolisian, Kejaksaan, KPK, dan institusi lain ada masalah, kenapa hanya ‘kata-kata Kancil’ yang dipakai, bukan tindakannya? Padahal Kancil juga representasi dari Pancasila, ‘permusyawaratan dan permufakatan’.

Retorika ternyata memang bukan penyelesaian. Biarpun kata-kata penting untuk diutarakan, tetapi tindakan amat lebih penting dibanding perdebatan. Kini rakyat sedang menunggu tindakan tegas dari pemimpinnya itu. Bukan kata-kata yang bersifat retoris.

Oleh Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.
Sumber : detik.com)

>>Selanjutnya..!

27 Agustus 2009

Museum Prabu Geusan Ulun

Museum Prabu Geusan Ulun berdiri di sekitar kompleks kantor Pemkab Sumedang. Museum ini termasuk terlengkap di Jawa Barat, kecuali Banten dan Cirebon. Gedung tua ini berarsitektur Sunda dengan ornamen kayu jati. Di dalamnya terpajang warisan budaya leluhur, mulai abad ke-15 hingga abad ke-19 Masehi atau sejak zaman kerajaan Sumedang Larang hingga masa penjajahan Belanda.

Benda-benda cagar budaya yang disimpan dalam gedung ini lumayan banyak dan kerap mengundang perhatian masyarakat luas. Misalnya ada gamelan tua sebanyak 7 set, dan benda-benda pusaka leluhur Sumedang. Riwayat gamelan-gamelan itu selain buatan daerah Sumedang, ada pula yang dibuat semasa Kerajaan Mataram. Benda lain yang juga menyedot daya tarik adalah Mahkota Binokasih.

Mahkota ini selalu menjadi magnet pengunjung lantaran kandungan histori yang dipendamnya. Pada 1578, Mahkota Binokasih merupakan saksi bisu penobatan Prabu Geusan Ulun menjadi Raja Sumedanglarang tahun 1578. Sekaligus sebagai bukti eksistensi kerajaan Pajajaran karena mahkota itu peninggalan Pajajaran terakhir sebelum runtuh oleh Banten.

Bahkan pada masa lalu, mahkota ini sering dipakai untuk upacara pernikahan putra-putri tokoh Sumedang. Sebut saja Hayono Isman, mantan Menpora era Soeharto, adalah orang terakhir yang mengenakan mahkota ini saat menikah. Petugas Museum Prabu Geusan Ulun, Abdul Syukur (45), menceritakan bila mahkota Bikokasih seperti memiliki tuah tertentu. Misalnya melanggengkan hubungan suami istri.

Selain itu, juga terdapat keris milik Prabu Geusan Ulun, Panunggal Naga, dan keris milik Pangeran Kornel (Pangeran Kusumadinata IX), Nagasasra yang dipakai beliau saat berjabat tangan dengan Daendels dalam peristiwa Sadas Pangeran tahun 1811.
Menurut Abdul Syukur, sejarah berdirinya Museum Prabu Geusan Ulun dilatarbelakangi lahirnya Yayasan Pangeran Aria Atmaja (YPSA) tahun 1950 yang kemudian diubah menjadi Museum Pangeran Sumedang tahun 1955.

Geusan Ulun

Nama Geusan Ulun diambil dari tokoh sejarah yang kharismatik dan berjasa dalam menyebarkan agama Islam di wilayah bekas Pajajaran yang masuk ke wilayah Sumedanglarang. Museum yang terletak di jantung Kota Sumedang, berusia hampir tiga ratus tahun. Museum masih tampak utuh dan kokoh berdiri di sebelah gedung Negara yang juga kediaman resmi keluarga Bupati Sumedang. Gedung Negara ini dibangun pada pertengahan abad ke-19 pada masa pemerintahan Pangeran Sugih.

Sejak berdirinya sampai sekarang, Museum Prabu Geusan Ulun memiliki 6 buah gedung, dengan luas lahan 1,8 hektare dan dikelilingi benteng setinggi 3 meter. Di antaranya, Gedung Srimanganti, didirikan tahun 1706 oleh Bupati Dalem Adipati Tanujaya yang memindahkan pusat kota kabupaten dari Tegal Kalong ke tempat ini.

Hingga tahun 1950, Gedung Srimanganti menjadi kediaman resmi bupati atau keluarganya dan antara tahun 1950 sampai 1981 dipergunakan Kantor Pemda Sumedang serta pernah mengalami pemugaran bersamaan gedung Bumi Kaler, tahun 1982. Setelah itu, Srimanganti diserahkan kepada Yayasan Pangeran Sumedang oleh Direktur Kebudayaan Depdikbud masa itu. Gedung Srimanganti dan Bumi Kaler, sebelumnya masuk dalam Monumenter Ordonantie tahun 1931 sebagai benda Cagar Budaya.

Dalam gedung ini disimpan cukup banyak koleksi benda sejarah, antara lain Meriam Kalantaka peninggalan kompeni tahun 1656, Gamelan Panglipur peninggalan Pangeran Rangga Gede tahun 1625-1633, Gamelan Pangasih peninggalan Pangeran Kornel (1791-1828), serta Gamelan Sari Arum peninggalan Pangeran Sugih (1836-1882). Sementara itu, Gedung Bumi Kaler yang didirikan tahun 1850 atau masa pemerintahan Pangeran Kusumah Adinata (Pangeran Sugih) 1836-1882, dipergunakan sebagai tempat kediaman Bupati Sumedang.

Bentuk arsitektur khas sunda berupa Julang Napak, dibuat pada umumnya dari bahan kayu jati. Di dalam gedung ini disimpan, antara lain kitab/naskah kuno terdiri Alquran tulisan tangan abad 19, Kitab Waruga Jagat awal abad ke-18, serta Kitab Riwayat abad ke-19 dan huruf pegon. Selain kitab itu, juga kumpulan koleksi uang dalam dan luar negeri, puade, tempat anak dikhitan abad 19, Payung Kebesaran abad ke-17,18, dan 19, jam berdiri, peninggalan Pengeran Suria Atmaja, buku-buku di ruang perpustakaan.

Sementara itu, Gedung Gamelan juga didirikan tahun 1973 sumbangan dari Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta masa itu. Oleh Pemda diserahkan YPS dan kemudian digunakan menyimpan sebagian gamelan serta alat musik tradisional lainnya, selain digunakan tempat latihan tari-tarian. Di dalamnya tersimpan 10 unit gamelan, di antaranya Gamelan Sari Oneng Parakan Salak abad ke-19, pernah dibawa pameran di Amsterdam tahun 1883, di Paris 1889, dan Chicago 1893. Kemudian Gamelan Sari Oneng Mataram, abad ke-17 peninggalan Pangeran Penambahan, serta sejumlah gamelan lain abad ke-18.

Gedung lainnya, yakni gedung Gedeng yang pada mulanya dibangun pada tahun 1850 oleh Pangeran Suria Kusumah Adinata, digunakan menyimpan pusaka, senjata-senjata leluhur, dan gamelan peninggalan masa lalu. Gedung Gedeng juga sempat dipugar pada tahun 1950, tapi fungsinya masih tetap untuk menyimpan pusaka leluhur. Baru kemudian, pada tahun 1990 dibangun Gedung Pusaka baru sehingga sebagian besar koleksi pusaka dipindahkan ke gedung pusaka yang baru ini. *



>>Selanjutnya..!

Teror Siluman Perempuan

Suasana mencekam landa Desa Arahan Kidul, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Belakangan ini, warga desa itu diteror mahluk gaib menakutkan. Bahkan empat orang sudah jadi korban. Mereka mati dengan kepala terlepas dari jasad. Menurut warga Arahan, mahluk ini sering muncul berwujud perempuan berkemban. Ia berkelebat, lalu hilang dikegelapan. Atau berubah wujud jadi hewan. Siapakah siluman pencabut nyawa ini ? Bagaimana ia memangsa korbannya ?

Ini adalah kisah nyata yang pernah terjadi di muka bumi. Penulis sengaja mengorek kembali file lama tersebut untuk sekadar mengenang, sekaligus menafakuri kebesaran Ilahi. Dan bahwa fenomena “gaib” itu memang ada (Wallahu alam bisshawab)........................

Ketika itu, Kamis, pertengahan Januari 2001, sore. Puluhan pemuda dan orang-orang tua sudah terlihat berjaga-jaga. Mereka berkerumun tepat di depan pos ronda blok Nyi Buyut Biyana. Hanya sekian puluh meter saja dari gudang penggilingan padi milik Pak Kasan. Lima puluh meter dari situ pula, sebidang tanah pemakaman umum desa Arahan Kidul terhampar. Lokasinya hanya dibelah sebuah parit kecil yang berair keruh. Suasana desa kian mencekam saat gelap mulai merayap. Cuaca pun kurang bersahabat. Hujan rintik-rintik mulai turun.

Wajah-wajah yang berkerumun itu memperlihatkan ketegangan. Seperti tengah menanti sesuatu yang entah mereka siap atau tidak untuk menghadapinya. Tapi kebersamaan telah membuat mereka punya nyali. Beberapa diantara mereka ada yang membawa kentungan, tanda yang kerap digunakan untuk roda malam. Yang lainnya ada yang menenteng golok, tongkat kayu dan alat-alat lain yang bisa digunakan untuk memukul. Seakan hendak menghadapi musuh atau perang antar kampung sebagaimana sering terjadi. Dari sudut-sudut kampung, terlihat orang satu persatu datang dan bergabung. Dikerumunan itu tampak Daruni, Kepala Desa Arahan Kidul. Dia terlihat serius bercakap-cakap dengan beberapa orang tua.

Malam mulai merayap. Rumah-rumah penduduk sejak sore sudah tampak benderang. Nyaris tiap sudut kampung diterangi lampu. Tujuannya untuk menekan rasa takut akan kegelapan. Tentu desa Arahan Kidul yang luas tak mungkin seluruhnya dibalut cahaya. Ada bagian-bagian yang gulita. Beberapa keluarga sengaja mengungsikan kaum perempuan dan anak-anak ke rumah tetangga lain. Tetua kampung mewanti-wanti warganya agar berada dalam rumah seorang diri, apalagi berkeliaran dimalam hari. “Khawatir bila terjadi sesuatu,” begitu amar pesannya.

Korban Nyawa

Tepat pukul 7 malam, wajah-wajah kerumunan itu semakin tegang. Tak banyak bicara. Mereka memang menanti datangnya sesuatu yagn sulit dijelaskan logika sehat. Tiada lain, kemunculan siluman perempuan pembawa maut. Siapa sesungguhnya mahluk gaib penebar kematian ini ? Warga Arahan tak kuasa menjelaskan. Namun banyak yang menyaksikan bila wujud asli mahluk ini adalah perempuan bertubuh seksi.

Ketika muncul, siluman ini hanya mengenakan kain yang menutupi lutut hingga payudara (kemban). Sayang, mereka tidak pernah berhasil melihat wajah perempuan siluman ini. ‘Wajahnya nda kelihatan, soalnya kalau kepergok dia langsung terbang,” tutur Parno (30), warga Arahan yang pernah melihat penampakan siluman ini. “Tapi melihat bentuk badannya, saya perkirakan wajahnya pasti cantik,” semburnya.

Seperti dituturkan warga, ada orang pintar asal Tasikmalaya yang mengatakan bila siluman perempuan ini sebenarnya manusia biasa. Namun dia tengah menuntut ilmu pesugihan. Yakni sebuah ilmu untuk mencari kekayaan dan kesaktian, dengan cara menjadi sekutu setan. Dan untuk menyelesaikan prosesi menuntut ilmunya itu, dia harus mendapatkan menyerahkan korban-korban sebagai tumbal. Korban-korbannya ini adalah manusia. Tepatnya kepala manusia. Siluman ini tak peduli tumbalnya lelaki atau perempuan, baik tua ataupun muda.

Atas informasi dari orang pintar inilah warga Arahan setiap malam keluar rumah untuk meronda. Mengusir penebar teorr dan menekan jatuhnya korban. Mereka bahkan berupaya meringkus mahluk laknat itu. “Kalau dapat, pasti sudah kami bakar,” tandas Casman, warga Arahan Kidul, dengan wajah emosi meski tak bisa menyembunyikan gurat-gurat ketakutan.

Memang begitulah kenyataannya. Di desa ini sudah empat orang meninggal dunia secara beruntun. Mereka diduga kuat sebagai korban perempuan siluman. Mereka adalah Wikat (60), Darja (60), Kuraeni (20) dan Harjana (45). Semula, kematian Darja, korban peretama, dianggap wajar saja. Bukankah kematian sudah takdir Yang Maha Kuasa ? Tapi, gejala aneh kemudian tercium. Pertama, Darja meninggal tanpa sebab yang pasti, padahal fisiknya dalam keadaan sehat walafiat, tak kurang suatu apapun.

Kedua, saat mati wajah Dirja tampak pucat pasi dan matanya melotot. Seperti habis melihat sesuatu yang mengerikan. Dan ketiga, pasca-kematiannya, tiap malam selalu terdengar bunyi burung hantu. Padahal, sejak puluhan tahun, bahkan mungkin sejak desa ini ada, tak pernah seorang pun warga mendengar suara burung hantu semacam itu. Suaranya benar-benar menakutkan. Seperti bakal terjadi sesuatu.

Ternyata benar saja. Empat hari setelah kematian Dirja, Kuraeni, meninggal dunia. Kematian ibu muda ini lebih tidak wajar. Ia juga mati mendadak. Apalagi Mayang (7), anak perempuan Kuraeni, sepontan berceloteh bila sehari sebelum ibunya meninggal, ia melihatkepala sang ibu berada di atas meja tamu. Hanya saja, kata Mayang seperti disampaikan kepada famili Kuraeni, di wajah ibunya itu terlihat sebuah tahi lalat besar. Padahal semasa hidup, semua orang tahu bila Kuraeni tidak memiliki tahi lalat. “Rasanya tidak mungkin anak sekecil itu bicara aneh-aneh. Apalagi dalam suasana berduka seperti itu,” tutur Abdul Manan (72), tokoh masyarakat Arahan Kidul.

Cerita Mayang ini kemudian menyebar luas ke antero desa. Orang-orang mulai dihinggapi rasa cemas. Apalagi setiap menjelang malam, warga selalu mendengar suara burung hantu. Yang jelas-jelas tak pernah mereka dengar selama ini. Herannya, suara itupun tak jelas arah rimbanya. Alih-alih suara itu terdengar sayup dari arah pekuburan. Namun sesekali burung itu berbunyi dari salah satu sudut kampung. Dan begitulah seterusnya, dalam waktu 40 hari, dua warga desa meninggal susul menyusul. Mereka adalah Wikat (60), mantan Kuwu Arahan Kidul dan Hardjana (60).

Selalu Lolos

Begitulah suasana desa yang berjarak 25 km dari Indramayu ini. Sejak kematian empat warga, setiap malam digalakkan ronda kampung. Hampir semua pemud adesa dan juga orang-orang tua di kampung turun ronda. Mereka berkumpul dulu di pos ronda depan penggilingan padi milik pak Kasan. Di tempat itu, mereka menunggu isyarat-isyarat. Semisal suara burung hantu, atau bunyi-bunyian lain yang mencurigakan. Bila mendengar tanda-tanda semacam itu, mereka memecah diri dalam beberapa kelompok dan bergerak keliling kampung. Kepala Desa Arahan Kidul, Daruni, memimpin langsung “operasi” tersebut.

Soal bunyi burung hantu, konon merupakan tanda yang sering terdengar bila siluman perempuan akan muncul. Menurut Casman, warga yang pernah melihat penampakan siluman perempuan ini, beberapa saat setelah muncul, siluman ini kemudian berubah wujud. Terkadang menjadi babi, kucing, atau binatang ternak lainnya. “Bayangkan, mana mungkin di jaman seperti ini ada seekor babi berkeliaran di tengah kampung. Itu pasti binatang jadi-jadian,” tutur Casman.

Memang, semula banyak warga yagn tak percaya soal mahluk jadi-jadian ini. Tapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri, akhirnya mereka percaya. Apalagi setelah adanya empat korban meninggal. Itu juga yang membuat tekad warga semakin kuat untuk dapat meringkus siluman ini. Tindakan yang mereka lakukan tak sebatas ronda malam. Sebab selama ini, hasilnya nihil. Mereka juga melakukan upaya lain. Misalnya melaporkan perkara munculnya mahluk gaib ini kepada Camat, pihak Polres Indramayu, bahkan berkirim surat ke Bupati. “Pak Camat sendiri pernah datang ke desa ini untuk mennangkan warga dan memberi dorongan moral. Tapi tetap saja ketakutan itu tidak bisa hilang,” ujar Abdul Manan, tokoh masyarakat.

Tidak cuma itu saja. Upaya lain pun mereka lakukan. Salah satunya mencari dukun-dukun atua orang pintar spesialis pemburu hantu. Beberapa utusan warga dikirim untuk mencari orang pintar di Tasikmalaya dan Cirebon. Dari orang pintar ini didapat informasi bila yang melakukan serangkaian teror di desanya adalah seorang perempuan yang tinggalnya tidak jauh dari Desa Arahan Kidul. Dia memang menghendaki kematian beberapa warga, untuk dijadikan tumbal.

Pengusiran mahluk ini juga dilakukan orang pintar dari jarak jauh. Yakni dengan mengirimkan energi-energi ke desa, sekaligus memasang pagar gaib. Upaya ronda kampung sendiri nyaris membuahkan hasil. Dalam beberapa kesempatan, mereka berhasil melakukan pengepungan. Tapi mahluk ini selalu dapat meloloskan diri. Dia berkelebat di antara pepohonan, lalu raib. Atau terkadang langsung berubah wujud menjadi seekor anjing. Namun ketika dikejar, dia menghilang.

Untunglah belakangan ini warga mulai sedikit lega. Teror perempuan siluman ini mulai berkurang. Apalagi sejak santri-santri pengajian dari Perguruan Silat Putra Setia pimpinan Ustad Yusuf Ismail, turut diterjunkan untuk mengusir mahluk gaib ini. Nyaris teror siluman tak pernah terdengar lagi. Tapi sisa-sisa kewaspadaan itu masih tampak. Misalnya kita saksikan hampir di tiap rumah, terlihat petikan atau lembaran ayat suci Alquran di tempel di dinding atau jendela. ***

Riwayat Desa Arahan Kidul



LDesa Arahan Kidul-Bangkir, Kecamatan Arahan, Indramayu, termasuk desa yang memiliki riwayat panjang. Desa ini terbentuk beberapa abad lampau. Jejaknya mengarah pada satu nama tokoh Nyi Buyut Biyana. Ia adalah tokoh sakti yang embuka desa ini seorang diri dengan cara membakar hutan. Tokoh ini dimakamkan tepat di tengha-tengah desa. Makamnya pun dikeramatkan. Siapa sebenarnya tokoh ini ?

Sejak heboh kemunculan siluman pencabut nyawa, Desa Arahan Kidul selalu jadi bahan perbincangan banyak orang. Dan bila merunut ke belakang, ternyata desa ini meninggalkan garis sejarah yang panjang. Tapak sejarah itupun menunjuk sebuah makam tua yang begitu dikeramatkan warga. Itulah makam Nyi Buyut Biyana, pendiri desa yang kono berasal dari Kerajaan majapahit. Anehnya, meski makamnya dikeramatkan orang, tapi tak ada yagn beranir menziarahi. Apalagi sampai meminta macam-macam kepada penghuni kubur.

Menurut cerita dari mulut kemulut, dulu, blok Arahan Kidul adalah daerah yang angker. Di daerah ini pernah mengalir sebuah sungai bernama Cidempet. Sungai ini menginduk ke sungai cimanuk yang berair deras. Sekarang sungai Cidempet sudah kering dan rata dengan tanah. Tokoh-tokoh daerah in, pada masa itu selain Nyi Buyut Biyana adalah Ki Buyut Santri, Ki Buyut Samin, Ki Buyut Bali, Ki Buyut Madujaya, dan Ki Buyut Muslim. Mereka begitu dikenal karena semasa hidup selalu menebar kebaikan.

Seperti diceritakan Abdul Manan, tokoh desa, dulunya daerah ini banyak bergentayangan roh-roh halus. Hal ini disebabkan kedekatannya dengan kompleks pemakaman umum Cukul. Memang, roh-roh itu tidak menganggu warga. Tapi kemunculannya secara fisik, sering membuat orang lari terbirit-birit.

Tahun 1950-an, pernah terjadi peristiwa aneh. Salah satu bagian di kompleks pemakaman Cukul pernah ambrol ke dalam tanah. Beberapa makam terlihat amblas. Anehnya, ada sebuah makam yang penghuninya sesosok mayat terbungkus kain kafan robek-robek. Ia tengah duduk bersila. Oleh juru kunci makam, kuburan itu ditimbun lagi dengan tanah. Peristiwa ini pun sangat menggemparkan warga ketika itu.

Nyi Buyut Biyana

Siapa sebenarnya tokoh yang satu ini ? Dia adalah pendiri desa Arahan. Ia seorang yang memiliki kesaktian luar biasa. Menurut cerita orang-orang tua di sana, Nyi Buyut Biyana berasal dari Kerajaan majapahit. Ia lalu hijrah ke daerah arahan dan membuka kampung dengan cara yang aneh. Ia menunggang kuda sambil tangannya menebangi pohon-pohon. Setelah itu ia membakarnya. Semua dikerjakan seorang diri. Lama kelamaan, kampung semakin ramai dan menjadi desa. Sehingga dikenallah nama blok Nyi Buyut Biyana. Sampai akhir hayat, tokoh ini dimakamkan di desa Arahan Kidul.

Konon, pada waktu-waktu tertentu, dari kuburan Nyi Buyut Biyana sering keluar sinar terang. Atas kejadian-kejadian aneh itu, maka makam Nyi Buyut Biyana dikeramatkan orang. Tapi anehnya, meski dikeramatkan, kuburannya jarang diziarahi. Meski begitu, makam sang tokoh tetap dipelihara warga. Sekelilingnya diberi pagar tembok dan atasnya dikasih cungkup.

Menurut keterangan warga, makam Nyi Buyut Biyana berada tepat di tengha-tengah desa. Bahkan ada yang bilang jika makam ini sebaga pancernya (pusat) Desa Arahan. Sebuah makam keramat, sudah lazim terlihat banyak diziarahi. Anehnya, makam Nyi Buyut Biyana tak pernah diziarahi. Apalagi sengaja orang sampai nginap dimakam itu untuk mencari berkah. Dulu, pernah ada orang yagn tidur di mkam Nyi Buyut Biyana untuk maksud tertentu. Namun tanpa sebab yang jelas, tiba-tiba saja orang itu terlempar ke semak-semak di sektiar makam. Sejak itulah orang tak berani macam-macam di kuburan ini.

Kejadian lain, pernah ada beberapa warga mengkoordinir untuk perbaikan makam. Ia memintai sumbangan kepada warga. Tapi setelah terkumpul, uang itu malah dibawa kabur ke Jakarta. Nah, saat dalam perjalanan, orang-orang ini mengalami kecelakaan dan semuanya tewas. Namun, meski ada juga yang menziarahi, kebanyakan dilakukan bulan Oktober setiap tahun. Ketika itulah ratusan orang silih berganti berziarah. ***



>>Selanjutnya..!

23 Agustus 2009

Keangkeran Hutan Cikondang

Kawasan hutan yang tak seberapa luas ini ditumbuhi aneka jenis pohon berusia tua. Masyarakat di sana begitu mengakrabinya. Itu lantaran di dalam hutan ini ada jalan jalan setapak yang menghubungkan antar kampung. Tapi, orang-orang tua di sana selalu mewanti-wanti siapapun untuk waspada. Sebab kalau bertindak sembrono, sama artinya dengan mencari celaka. Inilah kisah khas hutan Cikondang.

Rasa hormat masyarakat di sekitar hutan Cikondang, Desa Lamajang, Pangalengan, Kabupaten Bandung terhadap kelestarian alam begitu nyata. Contohnya terhadap hutan yang luasnya hanya beberapa hektare di sudut kampung Cikondang ini. Bisa jadi, hal ini tumbuh lantaran keyakinan akan adanya selimut mistis yang menyelubungi hutan Cikondang. Kecintaan mereka terhadap hutan, boleh dibilang sebanding dengan kecintaan terhadap sawah. Tidak heran bila setiap tahun, masyarakat selalu menggelar upacara Seren Taun Mapag Taun. Sebuah upacara adat sebagai rasa syukur kepada Yang Mahakuasa karena berhasil panen.

Di sisi lain, kehidupan masyarakat Cikondang juga sangat religius. Hampir seluruh warga memeluk agama Islam. Salah satu contoh unik dari masyarakat di sana adalah ketika berjalan sambil membawa kitab suci Alquran. Mereka membawa Alquran dengan menjunjungnya di atas kepala. Seorang tokoh masyarakat di sana, Ilin Dasyah (68), mengatakan, itulah wujud penghormatan rakyat Cikondang terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran.

Hutan Angker

Hutan Cikondang yang ditumbuhi pohon-pohon besar ini dibelah sebuah jalan setapak yang menghubungkan antar kampung. Karena itulah kesan seram yang selalu menempel pada sebuah hutan, tidak terasa pada hutan ini. Masyarakat Cikondang seperti sudah terbiasa. Cuma, kehati-hatian ekstra seolah sudah tertanam dalam diri warga kampung. Mereka yakin bila bertindak macam-macam di dalam hutan, maka balak akan menyusul. Misalnya menebang pohon sembarangan. Maka dipastikan si penebang akan mengalami nasib apes, seperti jatuh sakit, kesialan, bahkan sampai usahanya bangkrut.

Disadari atau tidak, hutan Cikondang ternyata memang angker. Orang-orang di sana yakin betul bila hutan itu dihuni oleh sebangsa lelembut. Sehingga berkembang anggapan, mengganggu kelestarian hutan, sama dengan mengusik keberadaan mahluk tidak kasat mata itu. Namun, kata Ilin Dasyah, keberadaan mereka harmonis dengan masyarakat di sekitar hutan.

Berbeda dengan apa yang pernah dialami Anom Alun, sesepuh desa Lamajang yang dianggap memiliki kelebihan oleh masyarakat. Suatu ketika, lelaki yang usianya hampir seabad ini masuk hutan. Konon, menurut cerita warga, Anom Alun memiliki kelebihan bisa masuk ke dalam alam gaib dan berkomunikasi dengan penghuninya. Anom Alun juga dikenal sebagai juru kunci makam Uyut Istri yang kerap diziarahi para pemburu berkah.

Suatu hari, Anom Alun masuk ke kawasan hutan Cikondang. Dia berniat mencari kayu untuk dijadikan kayu bakar. Tak jauh dari hutan, ia menemukan sebatang pohon tua yang sudah kering. Anom Alun berkesimpulan, mengambil pohon itu tidaklah menganggu kelestarian hutan. Sebab pohon itu memang sudah tidak berguna lagi. Nah, Anom Alun bermaksud menebang pohon itu.

Dia pun berjalan mendekati pohon itu. Lalu dikeluarkan sebuah kapak yang dibawanya dari rumah. Sebagai tokoh kebatinan, Anom Alun tahu persis adanya penghuni gaib hutan Cikondang. Maka sebelum kapak diayun, mulut Anom Alun terlihat komat kamit. Ia merapal mantera. Usai itu, pohon pun ditebangnya dengan kapak. Sampai sekian waktu tidak terjadi apa-apa. Bahkan hingga batang pohon nampak tipis dikikis kapak. Herannya, pohon itu tidak kunjung tumbang. Ini tentu mengherankan. Secara logika, mestinya pohon itu tumbang. Sebab batang pohonnya sudah tinggal beberapa centimeter. Mestinya, tertiup angin sedikit saja sudah roboh.

Melihat keadaan itu, Anom Alun sendiri sadar ada sesuatu yang terjadi. Memang hutan Cikondang bukan sembarang hutan. Bisa saja penghuni hutan itu tidak rela pohon ini ditebang. Karena pemahaman itulah, kembali Anom Alun merapal mantera, minta ijin mengambil batang pohon ini untuk keperluan yang baik. Anom berkomunikasi dengan mahluk yang tidak kasat mata.

Tapi, tetap saja pohon tidak mau tumbang. Kesabaran Anom Alun mulai hilang. Ia lalu mengambil sikap ancang-ancang. Setelah mengambil jarak secukupnya, tiba-tiba dia menggebrak pohon itu dengan telapak tangaa. Namun apa yang terjadi sungguh diluar dugaan. Tumbangkah pohon itu? Ternyata tidak. Pohon tetap berdiri kokoh. Sebaliknya, tubuh Anom Alun justru terjengkang beberapa meter. Bahkan dari mulutnya keluar darah segar. Untunglah, tak jauh dari tempat itu ada orang yang sedang melintas, sehingga segera memberikan pertolongan.

Menurut Ilin Dasyah, bangsa lelembut penghuni hutan Cikondang tidak menghendaki pohon itu diambil siapapun, termasuk tokoh sehebat Anom Alun. Mahluk halus yang menghuni kawasan itu adalah para punggawa atau pengawal Uyut Istri, tokoh yang makamnya selama ini dijaga Anom Alun. Itu tandanya siapa pun tidak bisa mengganggu hutan itu. “Kalau punya indera lebih, sebenarya orang biasa pun bisa melihat adanya semacam perkampungan mahluk halus di hutan Cikondang,” katanya, seraya menambahkan, bila sejak dahulu, hutan itu memang tidak pernah disentuh orang. ***

>>Selanjutnya..!

Keramat Batu Tujuh Bojongmenje

Batu Tujuh adalah sebutan tujuh bongkah batu yang terdapat di lingkungan RW 02 Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Batu Tujuh memang dikeramatkan. Bahkan nama gang yang melintasi lokasi batu itu berada, diberinama Gang Batu Tujuh. Masyarakat setempat yakin Batu Tujuh berkait dengan sejarah silam tempat itu. Tak seorang pun berani mengusik batu itu karena takut celaka.

Keberadaan Batu Tujuh hanya berjarak sekitar 400 meter dari lokasi candi Bojong Menje, yang baru ditemukan tiga tahun silam. Di sebut Batu Tujuh, karena jumlah batu ini tujuh bongkah. Fisiknya bulat tak beraturan dengan diameter rata-rata 60 cm. Semuanya tergeletak begitu saja di salah satu sudut jalan Gang Batu Tujuh.Yang unik dari batu ini adalah soal bobot.

Ketika ditanyakan kepada masyarakat setempat soal itu, mereka semua menggelengkan kepala, tanda tidak tahu. Kepala Kampung Bojongmenje, Somantri Salim (60), malah mengatakan sesuatu yang sulit dinalar. Katanya, berat batu tidak bisa diukur. “Bobotnya bisa mencapai satu ton bila yang ingin mengangkat punya niat buruk,” tandas tokoh yang dituakan di kampung itu.

Sejak ditemukannya Candi Bojongmenje alias Candi Orok beberapa tahun silam, keberadaan Batu Tujuh juga menyedot rasa ingin tahu masyarakat. Somantri meyakinkan bila Batu tujuh sudah ada sejak lama. Ia tergeletak di tanah milik H Umar. Dan sejak lama pula, tak pernah ada yang memindahkan batu-batu itu. Somantri mengatakan, pernah ada yang akan membawa salah satu batu itu. Memang, hari itu ia berhasil membawanya. Tapi esoknya, batu itu sudah ada di tempat semula. “Bahkan yang memindahkannya jadi sakit,” kenang Somantri.

Menurut Somantri, Batu Tujuh bukan sembarang batu. Batu itu merupaikan tinggalan leluhur yang pernah menghuni tempat itu ratusan tahun lalu. Bahkan kini batu itu ditunggui mahluk gaib bernama Nyi Mas Raja Inten. Konon ada satu keanehan yang melekat pada batu itu. Ia bisa memberi kekayaan bagi pemeliharanya. Hal itu dibuktikan H Umar. Dulu, sebelum merawat batu itu, ia tak memiliki apapun dalam bentuk harta. Namun setelah memelihara batu itu dihalaman rumahnya, H Umar memiliki tanah sampai 60 Ha yang tersebar di beberapa tempat.

Minta Tumbal

Tapi hati-hati terhadap batu ini. Bila bertindak gegabah, bisa dapat celaka. Seperti memindahkan letak batu dari tempat asalnya. Tiga tahun yang lalu, Somantri bercerita, pernah ada yang mencoba memindahkan batu itu. Namanya H Rohman. Sayangnya, proses pemindahan tidak didahului dengan permohonan ijin kepada penunggu batu. Akibatnya penghuni batu itu tak rela, Nyi Mas Raja Inten tak mau dipindah.

Lantas apa yang terjadi? Setelah memindahkan batu itu, keesokan harinya H Rohman jatuh sakit. Kian hari sakitnya tambah parah. Akhirnya dia meninggal dunia. Penyakit yang dideritanya pun sangat aneh. Sakit itu datang tiba-tiba dan tidak diketahui jenisnya. Ilmu kedokteran hanya menyebutnya sakit tekanan darah tinggi. “Bisa saja sebenarnya H Rohman menjadi tumbal dari batu itu,” tutur Somantri.

Setelah kejadian itu, beberapa tokoh kampung Bojongmenje pernah kedapatan ilafat. Bunyinya antara lain, “Kami jangan dirusak, peliharalah kami,” ujar Somantri menirukan bunyi ilafat itu. Akhirnya ilafat ini didiskusikan bersama beberapa pini sepuh kampung. Mereka meyakini isi ilafat itu adalah pesan untuk memelihara Batu Tujuh yang terletak di RT 02 itu. Sebab ternyata, petunjuk gaib semacam itu datangnya bukan hanya sekali, tapi beberapa kali kepada lain orang. Sejak itu Batu Tujuh dianggap keramat dan tak ada yang berani macam-macam.

Meski dikeramatkan, beber Somantri, kita tidak boleh melebih-lebihkan soal batu ini. Selain ia pun mahluk ciptaan Tuhan sama seperti manusia, bentuknya tetap saja batu, benda mati. Hanya saja, batu ini memiliki kelebihan dibandingkan benda sejenis. Yakni ada penunggunya, yang patut dihormati. “Ini pertanda kita harus menghargai alam semesta,” ungkap Somantri. ***


>>Selanjutnya..!

Kisah Unik Jembatan Sambas Kalbar

Jembatan Sambas amat terkenal dan menjadi penghubung antar kota di kawasan selatan propinsi Kalimantan Barat. Jembatan ini bukan hanya bersejarah, tapi juga dianggap keramat karena konon dikuasai oleh kaum Bunian (mahluk halus). Banyak kejadian aneh berlaku di jembatan sepanjang 150 m ini. Seperti penampakan-penampakan bangsa lelembut dan mahluk halus. Dulu, jembatan ini luput dari kehancuran saat dibom tentara Jepang.

Jembatan Sambas terletak di kota Sambas, atau berjarak 270 Km dari ibukota propinsi Kalimantan Barat, Pontianak ke arah selatan. Jembatan ini dianggap vital karena menghubungkan kota Bengkayang, Singkawang, Pemangkat, Sambas dan daerah-daerah kecil di bagian selatan Kalbar. Boleh dikata, ini jembatan satu-satunya yang menjadi nadi ekonomi dan transportasi masyarakat di sana. Keberadaan jembatan ini tak bisa lepas dari keberadaan kota Sambas yang unik.

Kota keramat

Kota Sambas sendiri dikenal sebagai kota keramat karena konon dikuasai oleh kaum Bunian (mahluk halus). Tak heran bila kota ini kerap disebut pula sebagai Negeri Kebenaran, sebutan lain untuk kaum Bunian. Menurut sejarah, Sambas tempo dulu merupakan sebuah kerajaan besar yang tilas-tilasnya hingga kini masih ada. Tak jauh dari pusat kota, masih berdiri Keraton Sambas yang megah, lengkap dengan kompleks keluarga kesultanan.

Kerajaan Sambas didirikan oleh Raden Soelaiman, yang bergelar Soeltan Moehammad Tsafioeddin I di Tanjung Muara Ulakan Lubuk Madung, pada tahun 1080 hijriah atau tahun 1687 masehi. Kerajaan ini mengalami masa jaya semasa diperintah oleh Soeltan Moehammad Tsafioeddin II. Cerita dari mulut ke mulut menyebut daerah ini kerap kedatangan kaum Bunian setelah salah seorang putra mahkotanya yang bernama Raden Sandi Braja menghilang secara misterius dan menjadi raja di kerajaan Bunian.

Menurut cerita, jenazah raden Sandi meninggal karena sakit yang tidak ada obatnya, dan kemudian jasadnya menghilang diambil kaum Bunian. Lalu Raden Sandi dijadikan raja kaum Bunian yang berpusat di Kecamatan Paloh. Peristiwa itu terjadi sebagai tebusan atas nyawa burung peliharaan sang Puteri Kebenaran (kaum Bunian) pada saat beliau berburu di hutan Paloh. Hanya saja, sejauh mana kebenaran cerita ini masih sulit dibuktikan.

Jembatan Sambas

Bagaimana dengan jembatan Sambas yang keramat itu? Benarkah jembatan ini tak mempan dibom oleh tentara Jepang? Pada tahun 1941, tanda-tanda berakhirnya pendudukan 3,5 abad tentara Belanda di nusantara mulai terlihat. Pasukan Jepang mulai terlihat memasuki kawasan nusantara dengan peralatan tempurnya. Termasuk daerah Kalimantan Barat. Pasukan Jepang memang berusaha keras mematahkan kekuatan Belanda yang ada di Kalimantan Barat termasuk Sambas. Salah satunya melumpuhkan sarana ekonomi dan transportasi darat, seperti jempatan.

Nah, negeri matahari terbit itu melihat jembatan Sambas sangat vital dan perlu dihancurkan untuk melumpuhkan kekuatan Belanda. Bulan Desember 1941, menjadi saksi bisu. Dengan melibatkan sekitar 27 pesawat tempurnya, tentara Jepang menyerang Angkatan Udara Belanda di Sanggau Ledo. Ternyata target serangan tersebut tidak saja untuk menghancurkan pangkalan Angkatan Udara Belanda, namun juga pada jembatan Sambas dan jalan raya yang menghubungkan kota Singkawang, Pemangkat dan Sambas serta Bengkayang.

Akan tetapi, keajaiban pun terlihat. Jembatan dan jalan yang dibangun oleh Sultan Moehammad Tsafioeddin II ini tak hancur sedikitpun. Padahal, bala tentara Jepang melihatnya telah hancur. Tak hanya itu. Muntahan peluru dan bom bak hujan lebat itu menerjang apa yang ada di bawahnya. Lucunya, hujan bom dan peluru itu justru jatuh di kawasan hutan belantara.

Padahal sebelumnya, tentara Jepang melihat kawasan yang berada di bawahnya itu merupakan kota yang sangat ramai dan megah. Menurut keterangan, itulah istana dari kerajaan Bunian yang terletak di Paloh. Tentu saja harapan Jepang meluluhlantakkan daerah Sambas tidak tercapai. Sebab lokasi yang dibom tersebut tiada lain hanyalah hutan belantara saja. Karena pengecohan ini kerajaan Sambas yang menjadi target sasaran penyerangan tetap berdiri dengan megahnya.

Sudah barang tentu, Sultan Moehammad Mulia Ibrahim Tsafioeddin, raja ke-15 kerajaan Sambas dan seluruh kawulanya aman dan selamat dari serangan itu. Dan hingga kini jembatan kokoh penghubung kota Sambas dan kota lainnya di Kalimantan Barat tetap berdiri. Ia menjadi saksi bisu sejarah kerajan Sambas. “Orang-orang Bunian akan selalu menjaga Sambas untuk selamanya. Percayalah tak akan ada satu orang pun yang bisa menghancurkan sambas, kecuali seizin Yang Maha Kuasa,” tutur Hasan, kuncen keraton Sambas.

“Sambas tok beh kote kramat. Sian ade yang sanggop nguasaek nye. (Sambas itu kota kramat, tidak akan ada yang bisa menguasainya),” tutur Hasan lagi. Alhasil, baik Sambas maupun jembatan keramat itu masih kokoh berdiri hingga kini. ***


>>Selanjutnya..!

Jejak Kerajaan Sunda & Galuh (1)

Dalam catatannya, Tome Pires (1513) menyebut Kerajaan Sunda terletak dua hari perjalanan dari Pelabuhan Kalapa yang terletak di muara Ciliwung. Sunda sebagai nama kerajaan tercatat dalam dua buah prasasti batu yang ditemukan di Bogor dan Sukabumi. Prasasti yang di Bogor banyak berhubungan dengan Kerajaan Sunda pecahan Tarumanagara, sedangkan yang di daerah Sukabumi berhubungan dengan Kerajaan Sunda sampai masa Sri Jayabupati. Inilah jejak-jejak kerajaan Sunda dan Galuh.

Nama Sunda sebagai kerajaan seperti tersurat dalam prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi terdiri atas 40 baris. Sehingga memerlukan empat buah batu untuk menuliskannya. Keempat batu bertulis itu ditemukan pada aliran Cicatih di daerah Cibadak. Tiga ditemukan di dekat Kampung Bantar Muncang, sebuah ditemukan di dekat Kampung Pangcalikan. Keunikan prasasti ini adalah disusun dalam huruf dan bahasa Jawa Kuno. Keempat prasasti itu sekarang disimpan di Museum Pusat dengan nomor kode D 73 (dari Cicatih), D 96, D 97 dan D 98.

Isi ketiga batu pertama (menurut Pleyte), bila diterjemahkan berbunyi : “Selamat. Dalam tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, Ahad, Wuku Tambir. Inilah saat Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa, membuat tanda di sebelah timur Sanghiyang Tapak. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda.

“Dan jangan ada yang melanggar ketentuan ini. Di sungai ini jangan (ada yang) menangkap ikan di sebelah sini sungai dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak sebelah hulu. Di sebelah hilir dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak pada dua batang pohon besar. Maka dibuatlah prasasti (maklumat) yang dikukuhkan dengan Sumpah.”

Sumpah yang diucapkan oleh Raja Sunda ini, lengkapnya tertera pada prasasti keempat (D 98). Terdiri dari 20 baris, intinya menyeru semua kekuatan gaib di dunia dan disurga agar ikut melindungi keputusan raja. Siapapun yang menyalahi ketentuan tersebut diserahkan penghukumannya kepada semua kekuatan itu agar dibinasakan dengan menghisap otaknya, menghirup darahnya, memberantakkan ususnya dan membelah dadanya. Sumpah itu ditutup dengan kalimat seruan, "I wruhhanta kamung hyang kabeh" (Ketahuilah olehmu parahiyang semuanya).

Kehadiran Prasasti Jayabupati di daerah Cibadak sempat membangkitkan dugaan bahwa Ibukota Kerajaan Sunda terletak di daerah itu. Namun dugaan itu tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah lainnya. Isi prasasti hanya menyebutkan larangan menangkap ikan pada bagian sungai (Cicatih) yang termasuk kawasan Kabuyutan Sanghiyang Tapak. Sama halnya dengan kehadiran batu bertulis Purnawarman di Pasir Muara dan Pasir Koleangkak yang tidakmenunjukkan letak Ibukota Tarumanagara.

Tanggal pembuatan Prasasti Jayabupati bertepatan dengan 11 Oktober 1030. Menurut Pustaka Nusantara, Parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun (952 - 964) saka (1030 -1042 M). Isi prasasti itu dalam segala hal menunjukkan corak Jawa Timur. Tidak hanya huruf, bahasa dan gaya, melainkan juga gelar raja yang mirip dengan gelar raja di lingkungan Keraton Darmawangsa. Tokoh Sri Jayabupati dalam Carita Parahiyangan disebut dengan nama Prabu Detya Maharaja. Ia adalah raja Sunda ke-20 setalah Maharaja Tarusbawa.

Kerajaan Sunda

Telah diungkapkan sebelumnya, bahwa Kerajaan Sunda adalah pecahan Tarumanagara. Peristiwa itu terjadi tahun 670 M. Hal ini sejalan dengan sumber berita Cina yang menyebutkan bahwa utusan Tarumanagara yang terakhir mengunjungi negeri itu terjadi tahun 669 M. Tarusbawa memang mengirimkan utusan yang memberitahukan penobatannya kepada Raja Cina dalam tahun 669 M. Ia sendiri dinobatkan pada tanggal 9 bagian-terang bulan Jesta tahun 591 Saka, kira-kira bertepatan dengan tanggal 18 Mei 669 M.

Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa Tarumanagara yang ke-13. Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, ia ingin mengembalikan keharuman jaman Purnawarman yang berkedudukan di purasaba (ibukota) Sundapura. Dalam tahun 670 M, ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh, untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa.

Karena Putera Mahkota Galuh berjodoh dengan Parwati puteri Maharani Sima dari Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah, maka dengan dukungan Kalingga, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Tarumanagara dipecah dua. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh. Dalam tahun 670 M Kawasan Tarumanagara dipecah menjadi duakerajaan, yaitu: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Citarum sebagai batas.

Maharaja Tarusbawa kemudian mendirikan ibukota kerajaan yang baru, seperti yang sudah diungkapkan dibagian sebelumnya, di daerah pedalaman dekat hulu Cipakancilan. Dalam cerita Parahiyangan, tokoh Tarusbawa ini hanya disebut dengan gelarnya: Tohaan di Sunda (Raja Sunda). Ia menjadi cakalbakal raja-raja Sunda dan memerintah sampai tahun 723 M.

Karena putera mahkota wafat mendahului Tarusbawa, maka anak wanita dari putera mahkota (bernama Tejakancana) diangkat sebagai anak dan ahli waris kerajaan. Suami puteri inilah yang dalam tahun 723 menggantikan Tarusbawa menjadi Raja Sunda II. Cicit Wretikandayun ini bernama Rakeyan Jamri. Sebagai penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya.

Sebagai ahli waris Kalingga ia kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi Mataram dalam tahun 732 M. Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya dari Tejakencana, Tamperan atau Rakeyan Panaraban. Ia adalah kakak seayah Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dari Sudiwara puteri Dewasinga Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara. (bersambung)


>>Selanjutnya..!

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP