<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097</id><updated>2011-12-22T15:56:47.324+07:00</updated><title type='text'>Eko Risanto</title><subtitle type='html'>membaca &amp;amp; menangkap makna</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>207</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-6507057154698746399</id><published>2009-11-30T07:19:00.003+07:00</published><updated>2009-11-30T07:23:22.904+07:00</updated><title type='text'>Kabinet Retorika &amp; Dongeng Kancil</title><content type='html'>Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua belum seumur jagung tetapi ributnya tak ketulungan. Nusantara polusi kata-kata. Itu karena semua suka bicara. Kata dijawab kata-kata. Justifikasi ditimpa apologia. Merumpun di satu kubangan menjadi retorika. Ya, negeri ini sedang mempraktekkan filosofi banyak bicara dan kerja itu adalah bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan macam ini pernah ngetrend di jagat raya. Dalam berbagai catatan sejarah masa Yunani kuno muasalnya. Yang mempraktekkan kerja macam itu disebut Sokrates dan Plato sebagai Kaum Sofis. ‘Penjual kata-kata’, dan ‘membual’ menjadi komoditas yang laris manis. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari ‘jualan kata’ itu melahirkan politisi yang ‘ngecap doang’, suka tipu-tipu, penguasa yang ‘ngadali’ rakyat, dan ahli hukum pokrol bambu. Itu yang kelak menjerat Sokrates ‘pembawa kebenaran’ menjadi pesakitan di negeri pengamal ‘demokrasi murni’ ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Sofis di ratusan tahun sebelum Tahun Masehi itu mengkultuskan kata, karena jalinan kata itu dianggap dewa. Sebab filosofi Kaum Sofis kemudian disebut filsafat Sofia bersendi pada retorika, dan agitasi serta oratoris, nyawa dari segala yang diperjuangkan. Itu pula yang menjadikan kebenaran tidak penting, karena yang diutamakan adalah kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri ini, ‘jualan kata’ itu juga pernah berjaya. Awal abad 20 ‘Dongeng Kancil’ memasyarakat, meluas menjadi menu utama ‘piwulang’, pelajaran moral bagi bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Sebarannya dari Gresik, Jawa Timur mewabah ke seluruh Jawa, Palembang, dibawa para pedagang sampai ke Tumasik (Singapura), Malaysia dan Brunei, dan akhirnya ‘Si Pelanduk’ bagian dari ‘budaya serumpun’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah di abad 14 yang disebut De Graff dan De Han di jantung Majapahit berkembang Islam Syiah itu, dalam Babad Gresik dikatakan mereka juga punya fabel Kancil yang bernama Falando Kancieh, Sang Kancaci, atau Si Kancil. Dengan demikian, rasa-rasanya, Sang Kancil ini fabel Persia yang digemari Kiai Semboja, dan dipakai sebagai ‘alat’ mengkomunikasikan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiai Semboja memang tak banyak dikenal. Beliau adalah saudagar Gresik yang sukses, suami Nyi Ageng Pinatih. Nama belakangan ini yang kesohor, karena merupakan ibu angkat Sunan Giri. Tak salah jika Raden Paku, nama kecil Sunan Giri, bersyiar Islam, mendalang dengan tokoh Kancil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Kancil ini memang dikisahkan cerdas, suka bicara, kendati juga dikenal culas, mahir tipu-tipu. Yang kena tipu seperti itu adalah petani, yang dalam folklore dikatakan timunnya dicuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di balik itu, seperti tertuang dalam ‘Syair Kancil Yang Cerdik’, Hikayat Pelanduk Jenaka’, sampai ‘Layang Cariyos Kancil’ dikatakan, binatang ini amat luar biasa. Dia pemersatu satwa di hutan belantara. Dia tegas bertindak demi keutuhan warga rimba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hadapi kerbau dan harimau yang merasa sebagai satwa buas, kuat, dan mentahbiskan dirinya sebagai penguasa. Setelah takluk, Kancil bertindak selayaknya pemimpin. Reward dan punishment diterapkan. Harimau serta kerbau tak berkutik tatkala dijatuhi hukuman. ‘Pemimpin kuwi kudu teges. Yen ora teges kuwi maqome sing dipimpin’, begitu petuahnya. Pemimpin itu wajib tegas. Kalau tidak tegas itu maqomnya yang dipimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kancil bukan hanya umbar kata-kata. Dia lengkap sebagai negarawan. Kata dan tindakan sepadan. Dia paham ‘berkuasa’ itu sama dengan tamsil ‘naik macan’. Yang ‘dikuasai’ takut macan yang ditunggangi,  ‘penguasa’ ngeri turun dari macan yang siap memangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Dongeng Kancil &amp; ‘asbabul nuzul’ retorika terdapat pelajaran berharga. Kalau Kepolisian, Kejaksaan, KPK, dan institusi lain ada masalah, kenapa hanya ‘kata-kata Kancil’ yang dipakai, bukan tindakannya? Padahal Kancil juga representasi dari Pancasila, ‘permusyawaratan dan permufakatan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Retorika ternyata memang bukan penyelesaian. Biarpun kata-kata penting untuk diutarakan, tetapi tindakan amat lebih penting dibanding perdebatan. Kini rakyat sedang menunggu tindakan tegas dari pemimpinnya itu. Bukan kata-kata yang bersifat retoris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://detik.com" _target:blank&gt;detik.com&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-6507057154698746399?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/6507057154698746399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/11/kabinet-retorika-dongeng-kancil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6507057154698746399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6507057154698746399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/11/kabinet-retorika-dongeng-kancil.html' title='Kabinet Retorika &amp; Dongeng Kancil'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-1357769002289575315</id><published>2009-08-27T14:59:00.002+07:00</published><updated>2009-08-27T15:00:21.849+07:00</updated><title type='text'>Museum Prabu Geusan Ulun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpY9B38snFI/AAAAAAAAAjE/-g_mN5Zm1aI/s1600-h/museum+geusan+ulun.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpY9B38snFI/AAAAAAAAAjE/-g_mN5Zm1aI/s200/museum+geusan+ulun.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374550307720961106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Museum Prabu Geusan Ulun berdiri di sekitar kompleks kantor Pemkab Sumedang. Museum ini termasuk terlengkap di Jawa Barat, kecuali Banten dan Cirebon. Gedung tua ini berarsitektur Sunda dengan ornamen kayu jati. Di dalamnya terpajang warisan budaya leluhur, mulai abad ke-15 hingga abad ke-19 Masehi atau sejak zaman kerajaan Sumedang Larang hingga masa penjajahan Belanda. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Benda-benda cagar budaya yang disimpan dalam gedung ini lumayan banyak dan kerap mengundang perhatian masyarakat luas. Misalnya ada gamelan tua sebanyak 7 set, dan benda-benda pusaka leluhur Sumedang. Riwayat gamelan-gamelan itu selain buatan daerah Sumedang, ada pula yang dibuat semasa Kerajaan Mataram. Benda lain yang juga menyedot daya tarik adalah Mahkota Binokasih. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahkota ini selalu menjadi magnet pengunjung lantaran kandungan histori yang dipendamnya. Pada 1578, Mahkota Binokasih merupakan saksi bisu penobatan Prabu Geusan Ulun menjadi Raja Sumedanglarang tahun 1578. Sekaligus sebagai bukti eksistensi kerajaan Pajajaran karena mahkota itu peninggalan Pajajaran terakhir sebelum runtuh oleh Banten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pada masa lalu, mahkota ini sering dipakai untuk upacara pernikahan putra-putri tokoh Sumedang. Sebut saja Hayono Isman, mantan Menpora era Soeharto, adalah orang terakhir yang mengenakan mahkota ini saat menikah. Petugas Museum Prabu Geusan Ulun, Abdul Syukur (45), menceritakan bila mahkota Bikokasih seperti memiliki tuah tertentu. Misalnya melanggengkan hubungan suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, juga terdapat keris milik Prabu Geusan Ulun, Panunggal Naga, dan keris milik Pangeran Kornel (Pangeran Kusumadinata IX), Nagasasra yang dipakai beliau saat berjabat tangan dengan Daendels dalam peristiwa Sadas Pangeran tahun 1811.&lt;br /&gt;Menurut Abdul Syukur, sejarah berdirinya Museum Prabu Geusan Ulun dilatarbelakangi lahirnya Yayasan Pangeran Aria Atmaja (YPSA) tahun 1950 yang kemudian diubah menjadi Museum Pangeran Sumedang tahun 1955. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Geusan Ulun&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Geusan Ulun diambil dari tokoh sejarah yang kharismatik dan berjasa dalam menyebarkan agama Islam di wilayah bekas Pajajaran yang masuk ke wilayah Sumedanglarang. Museum yang terletak di jantung Kota Sumedang, berusia hampir tiga ratus tahun. Museum masih tampak utuh dan kokoh berdiri di sebelah gedung Negara yang juga kediaman resmi keluarga Bupati Sumedang. Gedung Negara ini dibangun pada pertengahan abad ke-19 pada masa pemerintahan Pangeran Sugih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak berdirinya sampai sekarang, Museum Prabu Geusan Ulun memiliki 6 buah gedung, dengan luas lahan 1,8 hektare dan dikelilingi benteng setinggi 3 meter. Di antaranya, Gedung Srimanganti, didirikan tahun 1706 oleh Bupati Dalem Adipati Tanujaya yang memindahkan pusat kota kabupaten dari Tegal Kalong ke tempat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tahun 1950, Gedung Srimanganti menjadi kediaman resmi bupati atau keluarganya dan antara tahun 1950 sampai 1981 dipergunakan Kantor Pemda Sumedang serta pernah mengalami pemugaran bersamaan gedung Bumi Kaler, tahun 1982. Setelah itu, Srimanganti diserahkan kepada Yayasan Pangeran Sumedang oleh Direktur Kebudayaan Depdikbud masa itu. Gedung Srimanganti dan Bumi Kaler, sebelumnya masuk dalam Monumenter Ordonantie tahun 1931 sebagai benda Cagar Budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gedung ini disimpan cukup banyak koleksi benda sejarah, antara lain Meriam Kalantaka peninggalan kompeni tahun 1656, Gamelan Panglipur peninggalan Pangeran Rangga Gede tahun 1625-1633, Gamelan Pangasih peninggalan Pangeran Kornel (1791-1828), serta Gamelan Sari Arum peninggalan Pangeran Sugih (1836-1882). Sementara itu, Gedung Bumi Kaler yang didirikan tahun 1850 atau masa pemerintahan Pangeran Kusumah Adinata (Pangeran Sugih) 1836-1882, dipergunakan sebagai tempat kediaman Bupati Sumedang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk arsitektur khas sunda berupa Julang Napak, dibuat pada umumnya dari bahan kayu jati. Di dalam gedung ini disimpan, antara lain kitab/naskah kuno terdiri Alquran tulisan tangan abad 19, Kitab Waruga Jagat awal abad ke-18, serta Kitab Riwayat abad ke-19 dan huruf pegon. Selain kitab itu, juga kumpulan koleksi uang dalam dan luar negeri, puade, tempat anak dikhitan abad 19, Payung Kebesaran abad ke-17,18, dan 19, jam berdiri, peninggalan Pengeran Suria Atmaja, buku-buku di ruang perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Gedung Gamelan juga didirikan tahun 1973 sumbangan dari Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta masa itu. Oleh Pemda diserahkan YPS dan kemudian digunakan menyimpan sebagian gamelan serta alat musik tradisional lainnya, selain digunakan tempat latihan tari-tarian. Di dalamnya tersimpan 10 unit gamelan, di antaranya Gamelan Sari Oneng Parakan Salak abad ke-19, pernah dibawa pameran di Amsterdam tahun 1883, di Paris 1889, dan Chicago 1893. Kemudian Gamelan Sari Oneng Mataram, abad ke-17 peninggalan Pangeran Penambahan, serta sejumlah gamelan lain abad ke-18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung lainnya, yakni gedung Gedeng yang pada mulanya dibangun pada tahun 1850 oleh Pangeran Suria Kusumah Adinata, digunakan menyimpan pusaka, senjata-senjata leluhur, dan gamelan peninggalan masa lalu. Gedung Gedeng juga sempat dipugar pada tahun 1950, tapi fungsinya masih tetap untuk menyimpan pusaka leluhur. Baru kemudian, pada tahun 1990 dibangun Gedung Pusaka baru sehingga sebagian besar koleksi pusaka dipindahkan ke gedung pusaka yang baru ini. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-1357769002289575315?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/1357769002289575315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/museum-prabu-geusan-ulun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/1357769002289575315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/1357769002289575315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/museum-prabu-geusan-ulun.html' title='Museum Prabu Geusan Ulun'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpY9B38snFI/AAAAAAAAAjE/-g_mN5Zm1aI/s72-c/museum+geusan+ulun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-7335106989344949430</id><published>2009-08-27T14:52:00.004+07:00</published><updated>2009-08-27T14:58:58.582+07:00</updated><title type='text'>Teror Siluman Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpY7tD8I9hI/AAAAAAAAAik/gfY7aLbBAJQ/s1600-h/suasana+desa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 137px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpY7tD8I9hI/AAAAAAAAAik/gfY7aLbBAJQ/s200/suasana+desa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374548850650969618" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;b&gt;Suasana mencekam landa Desa Arahan Kidul, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Belakangan ini, warga desa itu diteror mahluk gaib menakutkan. Bahkan empat orang sudah jadi korban. Mereka mati dengan kepala terlepas dari jasad. Menurut warga Arahan, mahluk ini sering muncul berwujud perempuan berkemban. Ia berkelebat, lalu hilang dikegelapan. Atau berubah wujud jadi hewan. Siapakah siluman pencabut nyawa ini ? Bagaimana ia memangsa korbannya ? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ini adalah kisah nyata yang pernah terjadi di muka bumi. Penulis sengaja mengorek kembali file lama tersebut untuk sekadar mengenang, sekaligus menafakuri kebesaran Ilahi. Dan bahwa fenomena “gaib” itu memang ada (Wallahu alam bisshawab)........................ &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, Kamis, pertengahan Januari 2001, sore. Puluhan pemuda dan orang-orang tua sudah terlihat berjaga-jaga. Mereka berkerumun tepat di depan pos ronda blok Nyi Buyut Biyana. Hanya sekian puluh meter saja dari gudang penggilingan padi milik Pak Kasan. Lima puluh meter dari situ pula, sebidang tanah pemakaman umum desa Arahan Kidul terhampar. Lokasinya hanya dibelah sebuah parit kecil yang berair keruh. Suasana desa kian mencekam saat gelap mulai merayap. Cuaca pun kurang bersahabat. Hujan rintik-rintik mulai turun. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah-wajah yang berkerumun itu memperlihatkan ketegangan. Seperti tengah menanti sesuatu yang entah mereka siap atau tidak untuk menghadapinya. Tapi kebersamaan telah membuat mereka punya nyali. Beberapa diantara mereka ada yang membawa kentungan, tanda yang kerap digunakan untuk roda malam. Yang lainnya ada yang menenteng golok, tongkat kayu dan alat-alat lain yang bisa digunakan untuk memukul. Seakan hendak menghadapi musuh atau perang antar kampung sebagaimana sering terjadi. Dari sudut-sudut kampung, terlihat orang satu persatu datang dan bergabung. Dikerumunan itu tampak Daruni, Kepala Desa Arahan Kidul. Dia terlihat serius bercakap-cakap dengan beberapa orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam mulai merayap. Rumah-rumah penduduk sejak sore sudah tampak benderang. Nyaris tiap sudut kampung diterangi lampu. Tujuannya untuk menekan rasa takut akan kegelapan. Tentu desa Arahan Kidul yang luas tak mungkin seluruhnya dibalut cahaya. Ada bagian-bagian yang gulita. Beberapa keluarga sengaja mengungsikan kaum perempuan dan anak-anak ke rumah tetangga lain. Tetua kampung mewanti-wanti warganya agar berada dalam rumah seorang diri, apalagi berkeliaran dimalam hari. “Khawatir bila terjadi sesuatu,” begitu amar pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Korban Nyawa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 7 malam, wajah-wajah kerumunan itu semakin tegang. Tak banyak bicara. Mereka memang menanti datangnya sesuatu yagn sulit dijelaskan logika sehat. Tiada lain, kemunculan siluman perempuan pembawa maut. Siapa sesungguhnya mahluk gaib penebar kematian ini ? Warga Arahan tak kuasa menjelaskan. Namun banyak yang menyaksikan bila wujud asli mahluk ini adalah perempuan bertubuh seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika muncul, siluman ini hanya mengenakan kain yang menutupi lutut hingga payudara (kemban). Sayang, mereka tidak pernah berhasil melihat wajah perempuan siluman ini. ‘Wajahnya nda kelihatan, soalnya kalau kepergok dia langsung terbang,” tutur Parno (30), warga Arahan yang pernah melihat penampakan siluman ini. “Tapi melihat bentuk badannya, saya perkirakan wajahnya pasti cantik,” semburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dituturkan warga, ada orang pintar asal Tasikmalaya yang mengatakan bila siluman perempuan ini sebenarnya manusia biasa. Namun dia tengah menuntut ilmu pesugihan. Yakni sebuah ilmu untuk mencari kekayaan dan kesaktian, dengan cara menjadi sekutu setan. Dan untuk menyelesaikan prosesi menuntut ilmunya itu, dia harus mendapatkan menyerahkan korban-korban sebagai tumbal. Korban-korbannya ini adalah manusia. Tepatnya kepala manusia. Siluman ini tak peduli tumbalnya lelaki atau perempuan, baik tua ataupun muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas informasi dari orang pintar inilah warga Arahan setiap malam keluar rumah untuk meronda. Mengusir penebar teorr dan menekan jatuhnya korban. Mereka bahkan berupaya meringkus mahluk laknat itu. “Kalau dapat, pasti sudah kami bakar,” tandas Casman, warga Arahan Kidul, dengan wajah emosi meski tak bisa menyembunyikan gurat-gurat ketakutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang begitulah kenyataannya. Di desa ini sudah empat orang meninggal dunia secara beruntun. Mereka diduga kuat sebagai korban perempuan siluman. Mereka adalah Wikat (60), Darja (60), Kuraeni (20) dan Harjana (45). Semula, kematian Darja, korban peretama, dianggap wajar saja. Bukankah kematian sudah takdir Yang Maha Kuasa ? Tapi, gejala aneh kemudian tercium. Pertama, Darja meninggal tanpa sebab yang pasti, padahal fisiknya dalam keadaan sehat walafiat, tak kurang suatu apapun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, saat mati wajah Dirja tampak pucat pasi dan matanya melotot. Seperti habis melihat sesuatu yang mengerikan. Dan ketiga, pasca-kematiannya, tiap malam selalu terdengar bunyi burung hantu. Padahal, sejak puluhan tahun, bahkan mungkin sejak desa ini ada, tak pernah seorang pun warga mendengar suara burung hantu semacam itu. Suaranya benar-benar menakutkan. Seperti bakal terjadi sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar saja. Empat hari setelah kematian Dirja, Kuraeni, meninggal dunia. Kematian ibu muda ini lebih tidak wajar. Ia juga mati mendadak. Apalagi Mayang (7), anak perempuan Kuraeni, sepontan berceloteh bila sehari sebelum ibunya meninggal, ia melihatkepala sang ibu berada di atas meja tamu. Hanya saja, kata Mayang seperti disampaikan kepada famili Kuraeni, di wajah ibunya itu terlihat sebuah tahi lalat besar. Padahal semasa hidup, semua orang tahu bila Kuraeni tidak memiliki tahi lalat. “Rasanya tidak mungkin anak sekecil itu bicara aneh-aneh. Apalagi dalam suasana berduka seperti itu,” tutur Abdul Manan (72), tokoh masyarakat Arahan Kidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Mayang ini kemudian menyebar luas ke antero desa. Orang-orang mulai dihinggapi rasa cemas. Apalagi setiap menjelang malam, warga selalu mendengar suara burung hantu. Yang jelas-jelas tak pernah mereka dengar selama ini. Herannya, suara itupun tak jelas arah rimbanya. Alih-alih suara itu terdengar sayup dari arah pekuburan. Namun sesekali burung itu berbunyi dari salah satu sudut kampung. Dan begitulah seterusnya, dalam waktu 40 hari, dua warga desa meninggal susul menyusul. Mereka adalah Wikat (60), mantan Kuwu Arahan Kidul dan Hardjana (60). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Selalu Lolos&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah suasana desa yang berjarak 25 km dari Indramayu ini. Sejak kematian empat warga, setiap malam digalakkan ronda kampung. Hampir semua pemud adesa dan juga orang-orang tua di kampung turun ronda. Mereka berkumpul dulu di pos ronda depan penggilingan padi milik pak Kasan. Di tempat itu, mereka menunggu isyarat-isyarat. Semisal suara burung hantu, atau bunyi-bunyian lain yang mencurigakan. Bila mendengar tanda-tanda semacam itu, mereka memecah diri dalam beberapa kelompok dan bergerak keliling kampung. Kepala Desa Arahan Kidul, Daruni, memimpin langsung “operasi” tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal bunyi burung hantu, konon merupakan tanda yang sering terdengar bila siluman perempuan akan muncul. Menurut Casman, warga yang pernah melihat penampakan siluman perempuan ini, beberapa saat setelah muncul, siluman ini kemudian berubah wujud. Terkadang menjadi babi, kucing, atau binatang ternak lainnya. “Bayangkan, mana mungkin di jaman seperti ini ada seekor babi berkeliaran di tengah kampung. Itu pasti binatang jadi-jadian,” tutur Casman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpY78mC6cvI/AAAAAAAAAi0/ks7RTqEUdKU/s1600-h/abdul+manan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpY78mC6cvI/AAAAAAAAAi0/ks7RTqEUdKU/s200/abdul+manan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374549117504221938" /&gt;&lt;/a&gt;Memang, semula banyak warga yagn tak percaya soal mahluk jadi-jadian ini. Tapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri, akhirnya mereka percaya. Apalagi setelah adanya empat korban meninggal. Itu juga yang membuat tekad warga semakin kuat untuk dapat meringkus siluman ini. Tindakan yang mereka lakukan tak sebatas ronda malam. Sebab selama ini, hasilnya nihil. Mereka juga melakukan upaya lain. Misalnya melaporkan perkara munculnya mahluk gaib ini kepada Camat, pihak Polres Indramayu, bahkan berkirim surat ke Bupati. “Pak Camat sendiri pernah datang ke desa ini untuk mennangkan warga dan memberi dorongan moral. Tapi tetap saja ketakutan itu tidak bisa hilang,” ujar Abdul Manan, tokoh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cuma itu saja. Upaya lain pun mereka lakukan. Salah satunya mencari dukun-dukun atua orang pintar spesialis pemburu hantu. Beberapa utusan warga dikirim untuk mencari orang pintar di Tasikmalaya dan Cirebon. Dari orang pintar ini didapat informasi bila yang melakukan serangkaian teror di desanya adalah seorang perempuan yang tinggalnya tidak jauh dari Desa Arahan Kidul. Dia memang menghendaki kematian beberapa warga, untuk dijadikan tumbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusiran mahluk ini juga dilakukan orang pintar dari jarak jauh. Yakni dengan mengirimkan energi-energi ke desa, sekaligus memasang pagar gaib. Upaya ronda kampung sendiri nyaris membuahkan hasil. Dalam beberapa kesempatan, mereka berhasil melakukan pengepungan. Tapi mahluk ini selalu dapat meloloskan diri. Dia berkelebat di antara pepohonan, lalu raib. Atau terkadang langsung berubah wujud menjadi seekor anjing. Namun ketika dikejar, dia menghilang. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpY70xkKcDI/AAAAAAAAAis/-oo7As47COE/s1600-h/TKP+PENAMPAKAN.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 129px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpY70xkKcDI/AAAAAAAAAis/-oo7As47COE/s200/TKP+PENAMPAKAN.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374548983157518386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah belakangan ini warga mulai sedikit lega. Teror perempuan siluman ini mulai berkurang. Apalagi sejak santri-santri pengajian dari Perguruan Silat Putra Setia pimpinan Ustad Yusuf Ismail, turut diterjunkan untuk mengusir mahluk gaib ini. Nyaris teror siluman tak pernah terdengar lagi. Tapi sisa-sisa kewaspadaan itu masih tampak. Misalnya kita saksikan hampir di tiap rumah, terlihat petikan atau lembaran ayat suci Alquran di tempel di dinding atau jendela. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Riwayat Desa Arahan Kidul&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;LDesa Arahan Kidul-Bangkir, Kecamatan Arahan, Indramayu, termasuk desa yang memiliki riwayat panjang. Desa ini terbentuk beberapa abad lampau. Jejaknya mengarah pada satu nama tokoh Nyi Buyut Biyana. Ia adalah tokoh sakti yang embuka desa ini seorang diri dengan cara membakar hutan. Tokoh ini dimakamkan tepat di tengha-tengah desa. Makamnya pun dikeramatkan. Siapa sebenarnya tokoh ini ?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpY8ktYQayI/AAAAAAAAAi8/ynSWKuyixq0/s1600-h/BUYUT__BIANA.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpY8ktYQayI/AAAAAAAAAi8/ynSWKuyixq0/s200/BUYUT__BIANA.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374549806667557666" /&gt;&lt;/a&gt;Sejak heboh kemunculan siluman pencabut nyawa, Desa Arahan Kidul selalu jadi bahan perbincangan banyak orang. Dan bila merunut ke belakang, ternyata desa ini meninggalkan garis sejarah yang panjang. Tapak sejarah itupun menunjuk sebuah makam tua yang begitu dikeramatkan warga. Itulah makam Nyi Buyut Biyana, pendiri desa yang kono berasal dari Kerajaan majapahit. Anehnya, meski makamnya dikeramatkan orang, tapi tak ada yagn beranir menziarahi. Apalagi sampai meminta macam-macam kepada penghuni kubur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita dari mulut kemulut, dulu, blok Arahan Kidul adalah daerah yang angker. Di daerah ini pernah mengalir sebuah sungai bernama Cidempet. Sungai ini menginduk ke sungai cimanuk yang berair deras. Sekarang sungai Cidempet sudah kering dan rata dengan tanah. Tokoh-tokoh daerah in, pada masa itu selain Nyi Buyut Biyana adalah Ki Buyut Santri, Ki Buyut Samin, Ki Buyut Bali, Ki Buyut Madujaya, dan Ki Buyut Muslim. Mereka begitu dikenal karena semasa hidup selalu menebar kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diceritakan Abdul Manan, tokoh desa, dulunya daerah ini banyak bergentayangan roh-roh halus. Hal ini disebabkan kedekatannya dengan kompleks pemakaman umum Cukul. Memang, roh-roh itu tidak menganggu warga. Tapi kemunculannya secara fisik, sering membuat orang lari terbirit-birit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1950-an, pernah terjadi peristiwa aneh. Salah satu bagian di kompleks pemakaman Cukul pernah ambrol ke dalam tanah. Beberapa makam terlihat amblas. Anehnya, ada sebuah makam yang penghuninya sesosok mayat terbungkus kain kafan robek-robek. Ia tengah duduk bersila. Oleh juru kunci makam, kuburan itu ditimbun lagi dengan tanah. Peristiwa ini pun sangat menggemparkan warga ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nyi Buyut Biyana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa sebenarnya tokoh yang satu ini ? Dia adalah pendiri desa Arahan. Ia seorang yang memiliki kesaktian luar biasa. Menurut cerita orang-orang tua di sana, Nyi Buyut Biyana berasal dari Kerajaan majapahit. Ia lalu hijrah ke daerah arahan dan membuka kampung dengan cara yang aneh. Ia menunggang kuda sambil tangannya menebangi pohon-pohon. Setelah itu ia membakarnya. Semua dikerjakan seorang diri. Lama kelamaan, kampung semakin ramai dan menjadi desa. Sehingga dikenallah nama blok Nyi Buyut Biyana. Sampai akhir hayat, tokoh ini dimakamkan di desa Arahan Kidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, pada waktu-waktu tertentu, dari kuburan Nyi Buyut Biyana sering keluar sinar terang. Atas kejadian-kejadian aneh itu, maka makam Nyi Buyut Biyana dikeramatkan orang. Tapi anehnya, meski dikeramatkan, kuburannya jarang diziarahi. Meski begitu, makam sang tokoh tetap dipelihara warga. Sekelilingnya diberi pagar tembok dan atasnya dikasih cungkup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangan warga, makam Nyi Buyut Biyana berada tepat di tengha-tengah desa. Bahkan ada yang bilang jika makam ini sebaga pancernya (pusat) Desa Arahan. Sebuah makam keramat, sudah lazim terlihat banyak diziarahi. Anehnya, makam Nyi Buyut Biyana tak pernah diziarahi. Apalagi sengaja orang sampai nginap dimakam itu untuk mencari berkah. Dulu, pernah ada orang yagn tidur di mkam Nyi Buyut Biyana untuk maksud tertentu. Namun tanpa sebab yang jelas, tiba-tiba saja orang itu terlempar ke semak-semak di sektiar makam. Sejak itulah orang tak berani macam-macam di kuburan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian lain, pernah ada beberapa warga mengkoordinir untuk perbaikan makam. Ia memintai sumbangan kepada warga. Tapi setelah terkumpul, uang itu malah dibawa kabur ke Jakarta. Nah, saat dalam perjalanan, orang-orang ini mengalami kecelakaan dan semuanya tewas. Namun, meski ada juga yang menziarahi, kebanyakan dilakukan bulan Oktober setiap tahun. Ketika itulah ratusan orang silih berganti berziarah. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-7335106989344949430?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/7335106989344949430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/teror-siluman-perempuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/7335106989344949430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/7335106989344949430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/teror-siluman-perempuan.html' title='Teror Siluman Perempuan'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpY7tD8I9hI/AAAAAAAAAik/gfY7aLbBAJQ/s72-c/suasana+desa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-4156998642190298537</id><published>2009-08-23T10:52:00.001+07:00</published><updated>2009-08-23T10:54:04.112+07:00</updated><title type='text'>Keangkeran Hutan Cikondang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpC9UY8qSfI/AAAAAAAAAic/EptUzgjKl1o/s1600-h/MENUJU+HUTAN+LARANGAN.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpC9UY8qSfI/AAAAAAAAAic/EptUzgjKl1o/s200/MENUJU+HUTAN+LARANGAN.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373002513444915698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Kawasan hutan yang tak seberapa luas ini ditumbuhi aneka jenis pohon berusia tua. Masyarakat di sana begitu mengakrabinya. Itu lantaran di dalam hutan ini ada jalan jalan setapak yang menghubungkan antar kampung. Tapi, orang-orang tua di sana selalu mewanti-wanti siapapun untuk waspada. Sebab kalau bertindak sembrono, sama artinya dengan mencari celaka. Inilah kisah khas hutan Cikondang.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Rasa hormat masyarakat di sekitar hutan Cikondang, Desa Lamajang, Pangalengan, Kabupaten Bandung terhadap kelestarian alam begitu nyata. Contohnya terhadap hutan yang luasnya hanya beberapa hektare di sudut kampung Cikondang ini. Bisa jadi, hal ini tumbuh lantaran keyakinan akan adanya selimut mistis yang menyelubungi hutan Cikondang. Kecintaan mereka terhadap hutan, boleh dibilang sebanding dengan kecintaan terhadap sawah. Tidak heran bila setiap tahun, masyarakat selalu menggelar upacara Seren Taun Mapag Taun. Sebuah upacara adat sebagai rasa syukur kepada Yang Mahakuasa karena berhasil panen. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di sisi lain, kehidupan masyarakat Cikondang juga sangat religius. Hampir seluruh warga memeluk agama Islam. Salah satu contoh unik dari masyarakat di sana adalah ketika berjalan sambil membawa kitab suci Alquran. Mereka membawa Alquran dengan menjunjungnya di atas kepala. Seorang tokoh masyarakat di sana, Ilin Dasyah (68), mengatakan, itulah wujud penghormatan rakyat Cikondang terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hutan Angker&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan Cikondang yang ditumbuhi pohon-pohon besar ini dibelah sebuah jalan setapak yang menghubungkan antar kampung. Karena itulah kesan seram yang selalu menempel pada sebuah hutan, tidak terasa pada hutan ini. Masyarakat Cikondang seperti sudah terbiasa. Cuma, kehati-hatian ekstra seolah sudah tertanam dalam diri warga kampung. Mereka yakin bila bertindak macam-macam di dalam hutan, maka balak akan menyusul. Misalnya menebang pohon sembarangan. Maka dipastikan si penebang akan mengalami nasib apes, seperti jatuh sakit, kesialan, bahkan sampai usahanya bangkrut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak, hutan Cikondang ternyata memang angker. Orang-orang di sana yakin betul bila hutan itu dihuni oleh sebangsa lelembut. Sehingga berkembang anggapan, mengganggu kelestarian hutan, sama dengan mengusik keberadaan mahluk tidak kasat mata itu. Namun, kata Ilin Dasyah, keberadaan mereka harmonis dengan masyarakat di sekitar hutan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan apa yang pernah dialami Anom Alun, sesepuh desa Lamajang yang dianggap memiliki kelebihan oleh masyarakat. Suatu ketika, lelaki yang usianya hampir seabad ini masuk hutan. Konon, menurut cerita warga, Anom Alun memiliki kelebihan bisa masuk ke dalam alam gaib dan berkomunikasi dengan penghuninya. Anom Alun juga dikenal sebagai juru kunci makam Uyut Istri yang kerap diziarahi para pemburu berkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Anom Alun masuk ke kawasan hutan Cikondang. Dia berniat mencari kayu untuk dijadikan kayu bakar. Tak jauh dari hutan, ia menemukan sebatang pohon tua yang sudah kering. Anom Alun berkesimpulan, mengambil pohon itu tidaklah menganggu kelestarian hutan. Sebab pohon itu memang sudah tidak berguna lagi. Nah, Anom Alun bermaksud menebang pohon itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun berjalan mendekati pohon itu. Lalu dikeluarkan sebuah kapak yang dibawanya dari rumah. Sebagai tokoh kebatinan, Anom Alun tahu persis adanya penghuni gaib hutan Cikondang. Maka sebelum kapak diayun, mulut Anom Alun terlihat komat kamit. Ia merapal mantera. Usai itu, pohon pun ditebangnya dengan kapak. Sampai sekian waktu tidak terjadi apa-apa. Bahkan hingga batang pohon nampak tipis dikikis kapak. Herannya, pohon itu tidak kunjung tumbang. Ini tentu mengherankan. Secara logika, mestinya pohon itu tumbang. Sebab batang pohonnya sudah tinggal beberapa centimeter. Mestinya, tertiup angin sedikit saja sudah roboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat keadaan itu, Anom Alun sendiri sadar ada sesuatu yang terjadi. Memang hutan Cikondang bukan sembarang hutan. Bisa saja penghuni hutan itu tidak rela pohon ini ditebang. Karena pemahaman itulah, kembali Anom Alun merapal mantera, minta ijin mengambil batang pohon ini untuk keperluan yang baik. Anom berkomunikasi dengan mahluk yang tidak kasat mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tetap saja pohon tidak mau tumbang. Kesabaran Anom Alun mulai hilang. Ia lalu mengambil sikap ancang-ancang. Setelah mengambil jarak secukupnya, tiba-tiba dia menggebrak pohon itu dengan telapak tangaa. Namun apa yang terjadi sungguh diluar dugaan. Tumbangkah pohon itu? Ternyata tidak. Pohon tetap berdiri kokoh. Sebaliknya, tubuh Anom Alun justru terjengkang beberapa meter. Bahkan dari mulutnya keluar darah segar. Untunglah, tak jauh dari tempat itu ada orang yang sedang melintas, sehingga segera memberikan pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ilin Dasyah, bangsa lelembut penghuni hutan Cikondang tidak menghendaki pohon itu diambil siapapun, termasuk tokoh sehebat Anom Alun. Mahluk halus yang menghuni kawasan itu adalah para punggawa atau pengawal Uyut Istri, tokoh yang makamnya selama ini dijaga Anom Alun. Itu tandanya siapa pun tidak bisa mengganggu hutan itu. “Kalau punya indera lebih, sebenarya orang biasa pun bisa melihat adanya semacam perkampungan mahluk halus di hutan Cikondang,” katanya, seraya menambahkan, bila sejak dahulu, hutan itu memang tidak pernah disentuh orang. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-4156998642190298537?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/4156998642190298537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/keangkeran-hutan-cikondang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/4156998642190298537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/4156998642190298537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/keangkeran-hutan-cikondang.html' title='Keangkeran Hutan Cikondang'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpC9UY8qSfI/AAAAAAAAAic/EptUzgjKl1o/s72-c/MENUJU+HUTAN+LARANGAN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-6409092814201379621</id><published>2009-08-23T10:51:00.001+07:00</published><updated>2009-08-23T10:52:46.818+07:00</updated><title type='text'>Keramat Batu Tujuh Bojongmenje</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpC9BIUUkRI/AAAAAAAAAiU/JETMdpaD7_A/s1600-h/BATU7.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpC9BIUUkRI/AAAAAAAAAiU/JETMdpaD7_A/s200/BATU7.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373002182563238162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Batu Tujuh adalah sebutan tujuh bongkah batu yang terdapat di lingkungan RW 02 Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Batu Tujuh memang dikeramatkan. Bahkan nama gang yang melintasi lokasi batu itu berada, diberinama Gang Batu Tujuh. Masyarakat setempat yakin Batu Tujuh berkait dengan sejarah silam tempat itu. Tak seorang pun berani mengusik batu itu karena takut celaka. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keberadaan Batu Tujuh hanya berjarak sekitar 400 meter dari lokasi candi Bojong Menje, yang baru ditemukan tiga tahun silam. Di sebut Batu Tujuh, karena jumlah batu ini tujuh bongkah. Fisiknya bulat tak beraturan dengan diameter rata-rata 60 cm. Semuanya tergeletak begitu saja di salah satu sudut jalan Gang Batu Tujuh.Yang unik dari batu ini adalah soal bobot. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanyakan kepada masyarakat setempat soal itu, mereka semua menggelengkan kepala, tanda tidak tahu. Kepala Kampung Bojongmenje, Somantri Salim (60), malah mengatakan sesuatu yang sulit dinalar. Katanya, berat batu tidak bisa diukur. “Bobotnya bisa mencapai satu ton bila yang ingin mengangkat punya niat buruk,” tandas tokoh yang dituakan di kampung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Sejak ditemukannya Candi Bojongmenje alias Candi Orok beberapa tahun silam, keberadaan Batu Tujuh juga menyedot rasa ingin tahu masyarakat. Somantri meyakinkan bila Batu tujuh sudah ada sejak lama. Ia tergeletak di tanah milik H Umar. Dan sejak lama pula, tak pernah ada yang memindahkan batu-batu itu. Somantri mengatakan, pernah ada yang akan membawa salah satu batu itu. Memang, hari itu ia berhasil membawanya. Tapi esoknya, batu itu sudah ada di tempat semula. “Bahkan yang memindahkannya jadi sakit,” kenang Somantri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Somantri, Batu Tujuh bukan sembarang batu. Batu itu merupaikan tinggalan leluhur yang pernah menghuni tempat itu ratusan tahun lalu. Bahkan kini batu itu ditunggui mahluk gaib bernama Nyi Mas Raja Inten. Konon ada satu keanehan yang melekat pada batu itu. Ia bisa memberi kekayaan bagi pemeliharanya. Hal itu dibuktikan H Umar. Dulu, sebelum merawat batu itu, ia tak memiliki apapun dalam bentuk harta. Namun setelah memelihara batu itu dihalaman rumahnya, H Umar memiliki tanah sampai 60 Ha yang tersebar di beberapa tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Minta Tumbal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi hati-hati terhadap batu ini. Bila bertindak gegabah, bisa dapat celaka. Seperti memindahkan letak batu dari tempat asalnya. Tiga tahun yang lalu, Somantri bercerita, pernah ada yang mencoba memindahkan batu itu. Namanya H Rohman. Sayangnya, proses pemindahan tidak didahului dengan permohonan ijin kepada penunggu batu. Akibatnya penghuni batu itu tak rela, Nyi Mas Raja Inten tak mau dipindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Lantas apa yang terjadi? Setelah memindahkan batu itu, keesokan harinya H Rohman jatuh sakit. Kian hari sakitnya tambah parah. Akhirnya dia meninggal dunia. Penyakit yang dideritanya pun sangat aneh. Sakit itu datang tiba-tiba dan tidak diketahui jenisnya. Ilmu kedokteran hanya menyebutnya sakit tekanan darah tinggi. “Bisa saja sebenarnya H Rohman menjadi tumbal dari batu itu,” tutur Somantri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah kejadian itu, beberapa tokoh kampung Bojongmenje pernah kedapatan ilafat. Bunyinya antara lain, “Kami jangan dirusak, peliharalah kami,” ujar Somantri menirukan bunyi ilafat itu. Akhirnya ilafat ini didiskusikan bersama beberapa pini sepuh kampung. Mereka meyakini isi ilafat itu adalah pesan untuk memelihara Batu Tujuh yang terletak di RT 02 itu. Sebab ternyata, petunjuk gaib semacam itu datangnya bukan hanya sekali, tapi beberapa kali kepada lain orang. Sejak itu Batu Tujuh dianggap keramat dan tak ada yang berani macam-macam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meski dikeramatkan, beber Somantri, kita tidak boleh melebih-lebihkan soal batu ini. Selain ia pun mahluk ciptaan Tuhan sama seperti manusia, bentuknya tetap saja batu, benda mati. Hanya saja, batu ini memiliki kelebihan dibandingkan benda sejenis. Yakni ada penunggunya, yang patut dihormati. “Ini pertanda kita harus menghargai alam semesta,” ungkap Somantri. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-6409092814201379621?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/6409092814201379621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/keramat-batu-tujuh-bojongmenje.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6409092814201379621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6409092814201379621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/keramat-batu-tujuh-bojongmenje.html' title='Keramat Batu Tujuh Bojongmenje'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpC9BIUUkRI/AAAAAAAAAiU/JETMdpaD7_A/s72-c/BATU7.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-6229860787259957991</id><published>2009-08-23T10:50:00.002+07:00</published><updated>2009-08-23T10:51:39.546+07:00</updated><title type='text'>Kisah Unik Jembatan Sambas Kalbar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpC8wBNK3iI/AAAAAAAAAiM/raPvZrLsmKI/s1600-h/jembatan+sambas.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpC8wBNK3iI/AAAAAAAAAiM/raPvZrLsmKI/s200/jembatan+sambas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373001888596418082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Jembatan Sambas amat terkenal dan menjadi penghubung antar kota di kawasan selatan propinsi Kalimantan Barat. Jembatan ini bukan hanya bersejarah, tapi juga dianggap keramat karena konon dikuasai oleh kaum Bunian (mahluk halus). Banyak kejadian aneh berlaku di jembatan sepanjang 150 m ini. Seperti penampakan-penampakan bangsa lelembut dan mahluk halus. Dulu, jembatan ini luput dari kehancuran saat dibom tentara Jepang. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jembatan Sambas terletak di kota Sambas, atau berjarak 270 Km dari ibukota propinsi Kalimantan Barat, Pontianak ke arah selatan. Jembatan ini dianggap vital karena menghubungkan kota Bengkayang, Singkawang, Pemangkat, Sambas dan daerah-daerah kecil di bagian selatan Kalbar. Boleh dikata, ini jembatan satu-satunya yang menjadi nadi ekonomi dan transportasi masyarakat di sana. Keberadaan jembatan ini tak bisa lepas dari keberadaan kota Sambas yang unik. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kota keramat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Sambas sendiri dikenal sebagai kota keramat karena konon dikuasai oleh kaum Bunian (mahluk halus). Tak heran bila kota ini kerap disebut pula sebagai Negeri Kebenaran, sebutan lain untuk kaum Bunian. Menurut sejarah, Sambas tempo dulu merupakan sebuah kerajaan besar yang tilas-tilasnya hingga kini masih ada. Tak jauh dari pusat kota, masih berdiri Keraton Sambas yang megah, lengkap dengan kompleks keluarga kesultanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kerajaan Sambas didirikan oleh Raden Soelaiman, yang bergelar Soeltan Moehammad Tsafioeddin I di Tanjung Muara Ulakan Lubuk Madung, pada tahun 1080 hijriah atau tahun 1687 masehi. Kerajaan ini mengalami masa jaya semasa diperintah oleh Soeltan Moehammad Tsafioeddin II. Cerita dari mulut ke mulut menyebut daerah ini kerap kedatangan kaum Bunian setelah salah seorang putra mahkotanya yang bernama Raden Sandi Braja menghilang secara misterius dan menjadi raja di kerajaan Bunian. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut cerita, jenazah raden Sandi meninggal karena sakit yang tidak ada obatnya, dan kemudian jasadnya menghilang diambil kaum Bunian. Lalu Raden Sandi dijadikan raja kaum Bunian yang berpusat di Kecamatan Paloh. Peristiwa itu terjadi sebagai tebusan atas nyawa burung peliharaan sang Puteri Kebenaran (kaum Bunian) pada saat beliau berburu di hutan Paloh. Hanya saja, sejauh mana kebenaran cerita ini masih sulit dibuktikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jembatan Sambas&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan jembatan Sambas yang keramat itu? Benarkah jembatan ini tak mempan dibom oleh tentara Jepang? Pada tahun 1941, tanda-tanda berakhirnya pendudukan 3,5 abad tentara Belanda di nusantara mulai terlihat. Pasukan Jepang mulai terlihat memasuki kawasan nusantara dengan peralatan tempurnya. Termasuk daerah Kalimantan Barat. Pasukan Jepang memang berusaha keras mematahkan kekuatan Belanda yang ada di Kalimantan Barat termasuk Sambas. Salah satunya melumpuhkan sarana ekonomi dan transportasi darat, seperti jempatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, negeri matahari terbit itu melihat jembatan Sambas sangat vital dan perlu dihancurkan untuk melumpuhkan kekuatan Belanda. Bulan Desember 1941, menjadi saksi bisu. Dengan melibatkan sekitar 27 pesawat tempurnya, tentara Jepang menyerang Angkatan Udara Belanda di Sanggau Ledo. Ternyata target serangan tersebut tidak saja untuk menghancurkan pangkalan Angkatan Udara Belanda, namun juga pada jembatan Sambas dan jalan raya yang menghubungkan kota Singkawang, Pemangkat dan Sambas serta Bengkayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, keajaiban pun terlihat. Jembatan dan jalan yang dibangun oleh Sultan Moehammad Tsafioeddin II ini tak hancur sedikitpun. Padahal, bala tentara Jepang melihatnya telah hancur. Tak hanya itu. Muntahan peluru dan bom bak hujan lebat itu menerjang apa yang ada di bawahnya. Lucunya, hujan bom dan peluru itu justru jatuh di kawasan hutan belantara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sebelumnya, tentara Jepang melihat kawasan yang berada di bawahnya itu merupakan kota yang sangat ramai dan megah. Menurut keterangan, itulah istana dari kerajaan Bunian yang terletak di Paloh. Tentu saja harapan Jepang meluluhlantakkan daerah Sambas tidak tercapai. Sebab lokasi yang dibom tersebut tiada lain hanyalah hutan belantara saja. Karena pengecohan ini kerajaan Sambas yang menjadi target sasaran penyerangan tetap berdiri dengan megahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu, Sultan Moehammad Mulia Ibrahim Tsafioeddin, raja ke-15 kerajaan Sambas dan seluruh kawulanya aman dan selamat dari serangan itu. Dan hingga kini jembatan kokoh penghubung kota Sambas dan kota lainnya di Kalimantan Barat tetap berdiri. Ia menjadi saksi bisu sejarah kerajan Sambas. “Orang-orang Bunian akan selalu menjaga Sambas untuk selamanya. Percayalah tak akan ada satu orang pun yang bisa menghancurkan sambas, kecuali seizin Yang Maha Kuasa,” tutur Hasan, kuncen keraton Sambas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sambas &lt;i&gt;tok beh kote kramat. Sian ade yang sanggop nguasaek nye.&lt;/i&gt; (Sambas itu kota kramat, tidak akan ada yang bisa menguasainya),” tutur Hasan lagi. Alhasil, baik Sambas maupun jembatan keramat itu masih kokoh berdiri hingga kini. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-6229860787259957991?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/6229860787259957991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/kisah-unik-jembatan-sambas-kalbar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6229860787259957991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6229860787259957991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/kisah-unik-jembatan-sambas-kalbar.html' title='Kisah Unik Jembatan Sambas Kalbar'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpC8wBNK3iI/AAAAAAAAAiM/raPvZrLsmKI/s72-c/jembatan+sambas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-3113444388881518921</id><published>2009-08-23T10:49:00.000+07:00</published><updated>2009-08-23T10:50:19.685+07:00</updated><title type='text'>Jejak Kerajaan Sunda &amp; Galuh (1)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Dalam catatannya, Tome Pires (1513) menyebut Kerajaan Sunda terletak dua hari perjalanan dari Pelabuhan Kalapa yang terletak di muara Ciliwung. Sunda sebagai nama kerajaan tercatat dalam dua buah prasasti batu yang ditemukan di Bogor dan Sukabumi. Prasasti yang di Bogor banyak berhubungan dengan Kerajaan Sunda pecahan Tarumanagara, sedangkan yang di daerah Sukabumi berhubungan dengan Kerajaan Sunda sampai masa Sri Jayabupati. Inilah jejak-jejak kerajaan Sunda dan Galuh.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Sunda sebagai kerajaan seperti tersurat dalam prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi terdiri atas 40 baris. Sehingga memerlukan empat buah batu untuk menuliskannya. Keempat batu bertulis itu ditemukan pada aliran Cicatih di daerah Cibadak. Tiga ditemukan di dekat Kampung Bantar Muncang, sebuah ditemukan di dekat Kampung Pangcalikan. Keunikan prasasti ini adalah disusun dalam huruf dan bahasa Jawa Kuno. Keempat prasasti itu sekarang disimpan di Museum Pusat dengan nomor kode D 73 (dari Cicatih), D 96, D 97 dan D 98. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi ketiga batu pertama (menurut Pleyte), bila diterjemahkan berbunyi : “Selamat. Dalam tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, Ahad, Wuku Tambir. Inilah saat Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa, membuat tanda di sebelah timur Sanghiyang Tapak. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jangan ada yang melanggar ketentuan ini. Di sungai ini jangan (ada yang) menangkap ikan di sebelah sini sungai dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak sebelah hulu. Di sebelah hilir dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak pada dua batang pohon besar. Maka dibuatlah prasasti (maklumat) yang dikukuhkan dengan Sumpah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah yang diucapkan oleh Raja Sunda ini, lengkapnya tertera pada prasasti keempat (D 98). Terdiri dari 20 baris, intinya menyeru semua kekuatan gaib di dunia dan disurga agar ikut melindungi keputusan raja. Siapapun yang menyalahi ketentuan tersebut diserahkan penghukumannya kepada semua kekuatan itu agar dibinasakan dengan menghisap otaknya, menghirup darahnya, memberantakkan ususnya dan membelah dadanya. Sumpah itu ditutup dengan kalimat seruan, "I wruhhanta kamung hyang kabeh" (Ketahuilah olehmu parahiyang semuanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Prasasti Jayabupati di daerah Cibadak sempat membangkitkan dugaan bahwa Ibukota Kerajaan Sunda terletak di daerah itu. Namun dugaan itu tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah lainnya. Isi prasasti hanya menyebutkan larangan menangkap ikan pada bagian sungai (Cicatih) yang termasuk kawasan Kabuyutan Sanghiyang Tapak. Sama halnya dengan kehadiran batu bertulis Purnawarman di Pasir Muara dan Pasir Koleangkak yang tidakmenunjukkan letak Ibukota Tarumanagara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal pembuatan Prasasti Jayabupati bertepatan dengan 11 Oktober 1030. Menurut Pustaka Nusantara, Parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun (952 - 964) saka (1030 -1042 M). Isi prasasti itu dalam segala hal menunjukkan corak Jawa Timur. Tidak hanya huruf, bahasa dan gaya, melainkan juga gelar raja yang mirip dengan gelar raja di lingkungan Keraton Darmawangsa. Tokoh Sri Jayabupati dalam Carita Parahiyangan disebut dengan nama Prabu Detya Maharaja. Ia adalah raja Sunda ke-20 setalah Maharaja Tarusbawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kerajaan Sunda &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah diungkapkan sebelumnya, bahwa Kerajaan Sunda adalah pecahan Tarumanagara. Peristiwa itu terjadi tahun 670 M. Hal ini sejalan dengan sumber berita Cina yang menyebutkan bahwa utusan Tarumanagara yang terakhir mengunjungi negeri itu terjadi tahun 669 M. Tarusbawa memang mengirimkan utusan yang memberitahukan penobatannya kepada Raja Cina dalam tahun 669 M. Ia sendiri dinobatkan pada tanggal 9 bagian-terang bulan Jesta tahun 591 Saka, kira-kira bertepatan dengan tanggal 18 Mei 669 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa Tarumanagara yang ke-13. Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, ia ingin mengembalikan keharuman jaman Purnawarman yang berkedudukan di purasaba (ibukota) Sundapura. Dalam tahun 670 M, ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh, untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Putera Mahkota Galuh berjodoh dengan Parwati puteri Maharani Sima dari Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah, maka dengan dukungan Kalingga, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Tarumanagara dipecah dua. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh. Dalam tahun 670 M Kawasan Tarumanagara dipecah menjadi duakerajaan, yaitu: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Citarum sebagai batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maharaja Tarusbawa kemudian mendirikan ibukota kerajaan yang baru, seperti yang sudah diungkapkan dibagian sebelumnya, di daerah pedalaman dekat hulu Cipakancilan. Dalam cerita Parahiyangan, tokoh Tarusbawa ini hanya disebut dengan gelarnya: Tohaan di Sunda (Raja Sunda). Ia menjadi cakalbakal raja-raja Sunda dan memerintah sampai tahun 723 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena putera mahkota wafat mendahului Tarusbawa, maka anak wanita dari putera mahkota (bernama Tejakancana) diangkat sebagai anak dan ahli waris kerajaan. Suami puteri inilah yang dalam tahun 723 menggantikan Tarusbawa menjadi Raja Sunda II. Cicit Wretikandayun ini bernama Rakeyan Jamri. Sebagai penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ahli waris Kalingga ia kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi Mataram dalam tahun 732 M. Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya dari Tejakencana, Tamperan atau Rakeyan Panaraban. Ia adalah kakak seayah Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dari Sudiwara puteri Dewasinga Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara. &lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/jejak-kerajaan-sunda-galuh-2.html"/&gt;(bersambung) &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-3113444388881518921?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/3113444388881518921/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/jejak-kerajaan-sunda-galuh-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/3113444388881518921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/3113444388881518921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/jejak-kerajaan-sunda-galuh-1.html' title='Jejak Kerajaan Sunda &amp; Galuh (1)'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-588109147340596219</id><published>2009-08-23T10:48:00.001+07:00</published><updated>2009-08-23T10:49:26.488+07:00</updated><title type='text'>Jejak Kerajaan Sunda &amp; Galuh (2)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Tarusbawa adalah sahabat baik Bratasenawa alis Sena (709 - 716 M), Raja Galuh ketiga. Tokoh ini adalah tokoh Sanna, ayah Sanjaya dalam Prasasti Canggal (732 M). Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya. Bratasenawa alias Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora dalam tahun 716 M. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purbasora adalah cucu Wretikandayun dari putera sulungnya, Batara Danghyang Gurusempakwaja, pendiri kerajaan Galunggung. Sedangkan Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M).&lt;br /&gt;Sebenarnya, Purbasora dan Sena adalah saudara satu ibu karena hubungan gelap antara Mandiminyak dengan istri Sempakwaja. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh Sempakwaja tidak dapat menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Raja Galuh karena ompong. Sementara, seorang raja tak boleh memiliki cacat jasmani. Karena itulah, adiknya yang bungsu yang mewarisi tahta Galuh dari Wretikandayun. Tapi, putera Sempakwaja merasa tetap berhak atas tahta Galuh. Lagipula asal-usul Raja Sena yang kurang baik telah menambah hasrat Purbasora untuk merebut tahta Galuh dari Sena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bantuan pasukan dari mertuanya, Raja Indraprahasta, sebuah kerajaan di daerah Cirebon sekarang, Purbasora melancarkan perebutan tahta Galuh. Sena melarikan diri ke Kalingga, ke kerajaan nenek isterinya, Maharani Simma. Sanjaya, anak Sena, berniat menuntut balas terhadap keluarga Pubasora. Untuk itu ia meminta bantuan Tarusbawa, sahabat Sena. Hasratnya dilaksanakan setelah menjadi Raja Sunda yang memerintah atas nama isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum itu ia telah menyiapkan pasukan khusus di daerah Gunung Sawal atas bantuan Rabuyut Sawal, yang juga sahabat baik Sena. Pasukan khusus ini langsung dipimpin Sanjaya, sedangkan pasukan Sunda dipimpin Patih Anggada. Serangan dilakukan malam hari dengan diam-diam dan mendadak. Seluruh keluarga Purbasora gugur. Yang berhasil meloloskan diri hanyalah menantu Purbasora, yang menjadi Patih Galuh, bersama segelintir pasukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patih itu bernama Bimaraksa yang lebih dikenal dengan Ki Balangantrang karena ia merangkap sebagai senapati kerajaan. Balangantrang ini juga cucu Wretikandayun dari putera kedua bernama Resi Guru Jantaka atau Rahiyang Kidul, yang tak bisa menggantikan Wretikandayun karena menderita "kemir" atau hernia. Balangantrang bersembunyi di kampung Gegegr Sunten dan dengan diam-diam menghimpun kekuatan anti Sanjaya. Ia mendapat dukungan dari raja-raja di daerah Kuningan dan juga sisa-sisa laskar Indraprahasta, setelah kerajaan itu juga dilumatkan oleh Sanjaya sebagai pembalasan karena dulu membantu Purbasora menjatuhkan Sena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanjaya mendapat pesan dari ayahnya, Sena, bahwa kecuali Purbasora, anggota keluarga Keraton Galuh lainnya harus tetap dihormati. Sanjaya sendiri tidak berhasrat menjadi penguasa Galuh. Ia melalukan penyerangan hanya untuk menghapus dendam ayahnya. Setelah berhasil mengalahkanPurbasora, ia segera menghubungi uwaknya, Sempakwaja, di Galunggung dan meminta beliau agar Demunawan, adik Purbasora, direstui menjadi Penguasa Galuh. Akan tetapi Sempakwaja menolak permohonan itu karena takut kalau-kalau hal tersebut merupakan muslihat Sanjaya untuk melenyapkan Demunawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanjaya sendiri tidak bisa menghubungi Balangantrang karena ia tak mengetahui keberadaannya. Akhirnya Sanjaya terpaksa mengambil hak untuk dinobatkan sebagai Raja Galuh. Ia menyadari bahwa kehadirannya di Galuh kurang disenangi. Selain itu sebagai Raja Sunda ia sendiri harus berkedudukan di Pakuan. Untuk pimpinan pemerintahan di Galuh ia menganngkat Premana Dikusuma, cucu Purbasora. Premana Dikusuma saat itu berkedudukan sebagai raja daerah. Dalam usia 43 tahun (lahir tahun 683 M), ia telah dikenal sebagai raja resi karena ketekunannya mendalami agama dan bertapa sejak muda. Ia dijuluki Bagawat Sajalajaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Raja Galuh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunjukan Premana oleh Sanjaya cukup beralasan karena ia cucu Purbasora. Selain itu, isterinya, Naganingrum, adalah cucu Ki Balangantrang. Jadi suami istri itu mewakili keturunan Sempakwaja dan Jantaka, putera pertama dan kedua Wretikandayun.&lt;br /&gt;Pasangan Premana dan Naganingrum sendiri memiliki putera bernama Surotama alias Manarah (lahir 718 M, jadi ia baru berusia 5 tahun ketika Sanjaya menyerang Galuh). Surotama atau Manarah dikenal dalam literatur Sunda klasik sebagai Ciung Wanara. Kelak di kemudian hari, Ki Bimaraksa alias Ki Balangantrang, buyut dari ibunya, yang akan mengurai kisah sedih yang menimpa keluarga leluhurnya dan sekaligus menyiapkan Manarah untuk melakukan pembalasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengikat kesetiaan Premana Dikusumah terhadap pemerintahan pusat di Pakuan, Sanjaya menjodohkan Raja Galuh ini dengan Dewi Pangrenyep, puteri Anggada, Patih Sunda. Selain itu Sanjaya menunjuk puteranya, Tamperan, sebagai Patih Galuh sekaligus memimpin "garnizun" Sunda di ibukota Galuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Premana Dikusumah menerima kedudukan Raja Galuh karena terpaksa keadaan. Ia tidak berani menolak karena Sanjaya memiliki sifat seperti Purnawarman, baik hati terhadap raja bawahan yang setia kepadanya dan sekaligus tak mengenal ampun terhadap musuh-musuhnya. Penolakan Sempakwaja dan Demunawan masih bisa diterima oleh Sanjaya karena mereka tergolong angkatan tua yang harus dihormatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan Premana serba sulit, ia sebagai Raja Galuh yang menjadi bawahan Raja Sunda yang berarti harus tunduk kepada Sanjaya yang telah membunuh kakeknya. Karena kemelut seperti itu, maka ia lebih memilih meninggalkan istana untuk bertapa di dekat perbatasan Sunda sebelah timur Citarum dan sekaligus juga meninggalkan istrinya, Pangrenyep. Urusan pemerintahan diserahkannya kepada Tamperan, Patih Galuh yang sekaligus menjadi "mata dan telinga" Sanjaya. Tamperan mewarisi watak buyutnya, Mandiminyak yang senang membuat skandal. Ia terlibat skandal dengan Pangrenyep, istri Premana, dan membuahkan kelahiran Kamarasa alias Banga (723 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skandal itu terjadi karena beberapa alasan. Pertama, Pangrenyep pengantin baru berusia 19 tahun dan kemudian ditinggal suami bertapa. Kedua, keduanya berusia sebaya dan telah berkenalan sejak lama di Keraton Pakuan dan sama-sama cicit Maharaja Tarusbawa. Ketiga, mereka sama-sama merasakan derita batin karena kehadirannya sebagai orang Sunda di Galuh kurang disenangi. Untuk menghapus jejak, Tamperan mengupah seseorang membunuh Premana dan sekaligus diikuti pasukan lainnya sehingga pembunuh Premana pun dibunuh pula. Semua kejadian ini rupanya tercium oleh senapati tua Ki Balangantrang. &lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/jejak-kerajaan-sunda-galuh-3.html"/&gt;(bersambung) &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-588109147340596219?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/588109147340596219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/jejak-kerajaan-sunda-galuh-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/588109147340596219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/588109147340596219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/jejak-kerajaan-sunda-galuh-2.html' title='Jejak Kerajaan Sunda &amp; Galuh (2)'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-6249649767434874905</id><published>2009-08-23T10:47:00.001+07:00</published><updated>2009-08-23T10:47:58.487+07:00</updated><title type='text'>Jejak Kerajaan Sunda &amp; Galuh (3)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Dalam tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Medang dari orangtuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara puteranya, Tamperan, dan Resiguru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resiguru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Tamperan menjadi penguasa Sunda-Galuh melanjutkan kedudukan ayahnya dari tahun 732 - 739 M. Sementara itu Manarah alias Ciung Wanara secara diam-diam menyiapkan rencana perebutan tahta Galuh dengan bimbingan buyutnya, Ki Balangantrang, di Geger Sunten. Rupanya Tamperan lalai mengawasi anak tirinya ini yang ia perlakukan seperti anak sendiri. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan rencana Balangantrang, penyerbuan ke Galuh dilakukan sianghari bertepatan dengan pesta sabung ayam. Semua pembesar kerajaan hadir, termasuk Banga. Manarah bersama anggota pasukannya hadir dalam gelanggang sebagai penyabung ayam. Balangantrang memimpin pasukan Geger Sunten menyerang keraton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudeta itu berhasil dalam waktu singkat seperti peristiwa tahun 723 ketika Sanjaya berhasil menguasai Galuh dalam tempo satu malam. Raja dan permaisuri Pangrenyep termasuk Banga dapat ditawan di gelanggang sabung ayam. Banga kemudian dibiarkan bebas. Pada malam harinya ia berhasil membebaskan Tamperan dan Pangrenyep dari tahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi hal itu diketahui oleh pasukan pengawal yang segera memberitahukannya kepada Manarah. Terjadilah pertarungan antara Banga dan Manarah yang berakhirdengan kekalahan Banga. Sementara itu pasukan yang mengejar raja dan permaisuri melepaskan panah-panahnya di dalam kegelapan sehingga menewaskan Tamperan dan Pangrenyep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita kematian Tamperan didengar oleh Sanjaya yang ketika itu memerintah di Medang yang kemudian dengan pasukan besar menyerang purasaba Galuh. Namun Manarah telah menduga itu sehingga ia telah menyiapkan pasukan yang juga didukung oleh sisa-sisa pasukan Indraprahasta yang ketika itu sudah berubah nama menjadi Wanagiri, dan raja-raja di daerah Kuningan yang pernah dipecundangi Sanjaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dibagi Dua&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang besar sesama keturunan Wretikandayun itu akhirnya bisa dilerai oleh Rajaresi Demunawan (lahir 646 M, ketika itu berusia 93 tahun). Dalam perundingan di keraton Galuh dicapai kesepakatan: Galuh diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga. Demikianlah lewat perjanjian Galuh tahun739 ini, Sunda dan Galuh yang selama periode 723 - 739 berada dalam satu kekuasan terpecah kembali. Dalam perjanjian itu ditetapkan pula bahwa Banga menjadi raja bawahan. Meski Banga kurang senang, tetapi ia menerima kedudukan itu. Ia sendiri merasa bahwa ia bisa tetap hidup atas kebaikan hati Manarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperteguh perjanjian, Manarah dan Banga dijodohkan dengan kedua cicit Demunawan. Manarah sebagai penguasa Galuh bergelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana memperistri Kancanawangi. Banga sebagai Raja Sunda bergelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Aji Mulya dan berjodoh dengan Kancanasari, adik Kancanawangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah tua dari kabuyutan Ciburuy, Bayongbong, Garut, yang ditulis pada abad ke-13 atau ke-14 memberitakan bahwa Rakeyan Banga pernah membangun parit Pakuan. Hal ini dilakukannya sebagai persiapan untuk mengukuhkan diri sebagai raja yang merdeka. Ia harus berjuang 20 tahun sebelum berhasil menjadi penguasa yang diakui di sebelah barat Citarum dan lepas dari kedudukan sebagi raja bawahan Galuh. Ia memerintah 27 tahun lamanya (739 - 766).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manarah di Galuh memerintah sampai tahun 783. Ia dikaruniai umur panjang. Dalam tahun tersebut ia melakukan manurajasuniya, mengundurkan diri dari tahta kerajaan untuk melakukan tapa sampai akhir hayat, dan baru wafat tahun 798 dalam usia 80 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam naskah-naskah babad, posisi Manarah dan Banga ini dikacaukan. Tidak saja dalam hal usia, di mana Banga dianggap lebih tua. Tapi, juga dalam penempatan mereka sebagai raja. Dalam naskah-naskah tua, silsilah raja-raja Pakuan selalu dimulai dengan tokoh Banga. Kekacauan silsilah dan penempatan posisi itu mulai tampak dalam naskah Carita Waruga Guru yang ditulis pada pertengahan abad 18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeliruan paling menyolok dalam babad ialah kisah Banga yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Majapahit. Padahal, Majapahit baru didirikan Wijaya dalam tahun 1293, 527 tahun setelah Banga wafat. Kekalutan itu dapat dibandingkan dengan kisah pertemuan Walangsungsang dengan Sayidina Ali yang masa hidupnya berselisih 8 1/2 abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keturunan Manarah putus hanya sampai cicitnya yang bernama Prabulinggabumi (813 - 852). Tahta Galuh diserahkan kepada suami adiknya yaitu Rakeyan Wuwus alias Prabu Gajah Kulon (819 - 891), cicit Banga yang menjadi Raja Sunda ke-8 (dihitung dari Tarusbawa). Sejak tahun 852 M kedua kerajaan pecahan Tarumanagara itu diperintah oleh keturunan Banga sebagai akibat perkawinan di antara para kerabat keraton: Sunda -Galuh-Kuningan (Saunggalah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Jayabupati yang prasastinya telah dibicarakan di muka adalah Raja Sunda yang ke-20. Ia putra Sanghiyang Ageng (1019 - 1030 M). Ibunya seorang puteri Sriwijaya dan masih kerabat dekat Raja Wurawuri. Adapun permaisuri Sri Jayabupati adalah puteri Darmawangsa, adik Dewi Laksmi isteri Airlangga. Dan Karena pernikahan tersebut Jayabupati mendapat anugerah gelar dari mertuanya, Darmawangsa. Gelar itulah yang dicantumkannya dalam prasasti Cibadak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Sri Jayabupati pernah mengalami peristiwa tragis. Dalam kedudukannya sebagai Putera Mahkota Sunda keturunan Sriwijaya dan menantu Darmawangsa, ia harus menyaksikan permusuhan yang makin menjadi-jadi antara Sriwijaya dengan mertuanya, Darmawangsa. Pada puncak krisis ia hanya menjadi penonton dan terpaksa tinggal diam dalam kekecewaan karena harus "menyaksikan" Darmawangsa diserang dan dibinasakan oleh Raja Wurawuri atas dukungan Sriwijaya. Ia diberi tahu akan terjadinya serbuan itu oleh pihak Sriwijaya, akan tetapi ia dan ayahnya diancam agar bersikap netral dalam hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan Wurawuri yang dalam Prasasti Calcuta (disimpan di sana) disebut pralaya itu terjadi tahun 1019 M. Di bawah ini adalah urutan Raja-raja Sunda sampai Sri Jaya Bupati yang berjumlah 20 orang, yakni Maharaja Tarusbawa (669 - 723 M), &lt;br /&gt;Sanjaya Harisdarma, cucu-menantu no. 1 (723-732 M), Tamperan Barmawijaya (732-739 M), Rakeyan Banga (739-766 M), Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766-783 M), Prabu Gilingwesi, menantu no. 5 (783-795 M), Pucukbumi Darmeswara, menantu no. 6 (795-819 M), Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819-891 M), Prabu Darmaraksa (adik-ipar no. 8, 891 - 895 M), Windusakti Prabu Dewageng (895 - 913 M).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudian Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi (913-916 M), Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa, menantu no. 11 (916-942 M), Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa (942-954 M), Limbur Kancana,putera no. 11,(954-964 M), Prabu Munding Ganawirya (964-973 M), Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989 M), Prabu Brajawisesa (989-1012 M), Prabu Dewa Sanghyang (1012-1019M), Prabu Sanghyang Ageng (1019 - 1030 M), dan Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030-1042 M ).  Kecuali Tarusbawa, Banga dan Darmeswara, yang hanya berkuasa di kawasan sebelah barat Citarum, raja-raja yang lainnya berkuasa di Sunda dan Galuh. (Tamat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-6249649767434874905?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/6249649767434874905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/jejak-kerajaan-sunda-galuh-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6249649767434874905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6249649767434874905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/jejak-kerajaan-sunda-galuh-3.html' title='Jejak Kerajaan Sunda &amp; Galuh (3)'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-7832840405745561686</id><published>2009-08-23T10:41:00.002+07:00</published><updated>2009-08-23T10:47:16.677+07:00</updated><title type='text'>Makam Opu Daeng Manambon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpC7ily4API/AAAAAAAAAiE/6W5zH69Nw-w/s1600-h/MAKAM_DAENG_MANAMBON.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 136px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpC7ily4API/AAAAAAAAAiE/6W5zH69Nw-w/s200/MAKAM_DAENG_MANAMBON.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373000558388445426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Sebukit Rama adalah nama tempat yang menjadi bukti sejarah perjalanan Kerajaan Mempawah, Kalimantan Barat. Bukit yang berada kurang lebih 10 Km dari Kota Mempawah itu menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Mempawah sejak Patih Gumantar bertahta. Di situlah bermayam para tokoh-tokoh kerajaan Mempawah seperti Opu Daeng Menambon, serta Patih Gumantar. Mengapa kompleks Sebukit Rama dikeramatkan orang ?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar bila kompleks Sebukit Rama di sebut-sebut sebagai saksi, sekaligus bukti sejarah Kerajaan Mempawah. Sebab di tempat itu ditemukan tilas-tilas sejarah seperti Batu Tempat Semedi, Tongkat Kayu Belian, Kolam Batu Berbentuk Teratai, serta Prasasti Balai Pertemuan. Kerajaan Mempawah sendiri berkait erat dengan Kerajaan Bangkule Rajakng yang dipimpin oleh Ne’Rumanga pada abad ke-16. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebukit Rama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juru kunci Sebukit Rama, Gusti Lahmudin (62) dan Gusti Amar (62) menuturkan, sepeninggal Ne’ Rumanga, kerajaan ini dipimpin putranya, Patih Gumantar yang beristrikan Dara Irang. Sayang, sang istri lebih dulu meninggal dunia dan dikaruniani tiga anak, Patih Nyabakng, Patih Janakng dan Dara Itam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirannya terus saja gundah sepeninggal istri tercinta. Maka untuk menghibur diri, dia melakukan pengembaraan untuk mencari lokasi istana Bangkule Rajakng yang baru. Sampailah Patih Gumantar ke sebuah bukit bernama Gunung Kandang yang ukurannya tidak terlalu besar, namun strategis letaknya karena dikelilingi oleh sebuah sungai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patih Gumantar lantas membangun istana di situ. Istana itu diberinama diberi nama Sebukit Rama, yang artinya bukit raya, jaya, agung dan mulia. Sayang, Patih Gumantar terbunuh saat perang kayau mengayau (memenggal kepala manusia, red) dengan Suku Bidayuh (Biaju) di dekat Sungkung kawasan Serawak, tapi jasadnya di makamkan di Sebukit Rama.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, kejayaan Bangkule Rajakng pun runtuh hingga berabad kemudian bangkit lagi saat diperintah Raja Kudong yang pusat pemerintahannya di Pekana (sekarang Karangan, red). Namun kerajaan itu tak ada sangkut pautnya dengan Patih Gumantar. Sepeninggal Raja Kudong, kerajaan ini kemudian diambil alih oleh Raja Senggaok.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi lain yang menyebut, tatkala Patih Gumantar terbunuh saat perang kayau-mengkayau, kedudukannya digantikan oleh putranya yakni Patih Nyabakng, dengan pusat kerajaan di Sebukit Rama. Saat itulah, diadakan perjanjian dengan Ne’ Riyo dari Kerajaan Lara di Sungai Raja (Raya) Negeri Sambas, yang membuat batas antara kedua kerajaannya dari lautan membelah sepanjang Sungai Raya hingga menyusuri daratan dan gunung ke perhuluan dengan ditanami batu-batuan sebagai tanda yang disebut Sungai Raja Seba’yan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Senggaok sendiri, dengan sebutan Panembahan Senggaok, menikah dengan Puteri Cermin, yaitu salah satu puteri Raja Qahar dari Kerajaan Baturizal (Pagaruyung) Indragiri, Sumatera, yang mengungsi karena terjadi perang saudara di sana. Mereka dikaruniani seorang anak perempuan yang diberi nama Mas Indrawati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Daeng Manambon&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dewasa, Mas Indrawati dinikahkan dengan Sultan Muhammad Zainudin dari Kerajaan Matan di Ketapang dan mendapatkan seorang putri cantik, Puteri Kesumba. Namun di kerajaan ini, sempat terjadi perang saudara. Sultan Muhammad Zainal akhirnya tersingkir dari tahta oleh adiknya sendiri, Sultan Agung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpC6zw-jthI/AAAAAAAAAh8/s2jm2FqbnhA/s1600-h/KERATON+MEMPAWAH.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpC6zw-jthI/AAAAAAAAAh8/s2jm2FqbnhA/s200/KERATON+MEMPAWAH.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372999753936385554" /&gt;&lt;/a&gt;Ia sempat mengirim surat meminta bantuan ke lima Opu bersaudara untuk merebut kerajaannya lagi. Keberhasilan lima Opu yang dipimpin Opu Daeng Menambon ini lah, yang kemudian menjadikannya dinikahkan dengan Puteri Kesumba. Dari perkawinan ini, mereka mendapat putra-putri. Tetapi yang menonjol kepopulerannya adalah Utin Chandramidi dan Gusti Jamiril atau Panembahan Adijaya Kesuma Jaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, Opu Daeng Menambon, istrinya dan Mas Indrawati (mertuanya, red) serta neneknya, Puteri Cermin dan langsung ke Senggaok. Setelah diadakan serah terima dari Pengeran Adipati, yakni sepupu yang memangku sementara tahta kerajaan, Opu Daeng Menambon yang merupakan cucu menantu Panembahan Senggaok, kemudian memangku jabatan Raja mempawah yang ketiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kemudian memindahkan pusat kerajaan ke Sebukit Rama lagi. Cara pemerintahannya berjalan lancar, karena bijaksana dan taat memeluk agama Islam serta selalu bermusyawarah. Sedangkan Utin Chandramidi kemudian menikah dengan Sultan Abdurahman Alkadrie, raja pertama Kerajaan Pontianak. Sedangkan Gusti Jamiril menggantikan tahta Kerajaan Matan di Ketapang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hewan misterius&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah masa silam telah berlalu. Dan kompleks Sebukit Rama di mana Opu Daeng Manambon dipusarakan, kini menjadi yang dikeramatkan orang. Konon, mendatangi kompleks makam Opu Daeng Manambon, harus dilandasi niat yang baik dan hati yang bersih. Bila tersirat niat yang buruk, dipastikan bakal mendapat hal-hal aneh. Seperti menjumpai kalajengking atau hewan berbisa yang misterius lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Gusti Lahmudin, jika berada di makam seorang raja besar, semua  tergantung niatnya. Kalau tidak demikian, maka dia akan menjumpai hal-hal yang tak lazim di kawasan Sebukit Rama. ”Pernah dulu ada seorang wanita, tersesat dan sempat melihat tujuh tangga Kolam Batu berbentuk Teratai. Padahal di tempat itu hanya ada satu anak tangga saja,” jelasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika, kata Gusti Lahmudin, saat banyak orang yang tergila-gila dengan judi, tidak sedikit orang yang datang ke tempat itu hanya ingin minta nomor. ”Konon kabarnya ada yang pernah dapat. Tapi kebanyak dari mereka malah bertemu ular dan kalajengking berbisa. Binatang-binatang itu memang datang untuk menakut-nakuti agar tempat ini jangan dinodai untuk tujuan yang tak benar,” jelasnya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-7832840405745561686?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/7832840405745561686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/makam-opu-daeng-manambon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/7832840405745561686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/7832840405745561686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/makam-opu-daeng-manambon.html' title='Makam Opu Daeng Manambon'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SpC7ily4API/AAAAAAAAAiE/6W5zH69Nw-w/s72-c/MAKAM_DAENG_MANAMBON.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-2624203410284940111</id><published>2009-08-23T10:40:00.000+07:00</published><updated>2009-08-23T10:41:40.695+07:00</updated><title type='text'>Dibalik Jatuhnya Kerajaan Pajajaran (1)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16 panggung sejarah di tanah Jawa berubah oleh oleh dua fenomena menarik. Yakni melemahnya dan memudarnya kerajaan-kerajaan lama yang bercirikan Hindu-Budha. Pada sisi lain, muncul Islam sebagai kekuatan politik baru yang semakin menunjukkan pengaruh yang kian membesar. Pasca jatuhnya Majapahit (1527), kerajaan Hindu yang tersisa adalah Pajajaran (Bogor) dan Blambangan (Pasuruan). Inilah fenomena dibalik jatuhnya Kerajaan Pajajaran.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Majapahit jatuh sekitar tahun 1527, di Pulau Jawa hanya terdapat dua kerajaan Hindu yang masih tersisa, yaitu Kerajaan Pajajaran - yang ibukotanya terletak di sekitar Kota Bogor sekarang dan Kerajaan Blambangan di Pasuruan. Dan setelah Kerajaan Blambangan ditaklukkan oleh Demak (1546), maka tinggallah Kerajaan Pajajaran menjadi satu-satunya kerajaan Hindu yang masih berdiri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kekuatan Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, kekuatan Islam mulai tumbuh. Melihat hal itu sebagai bahaya yang dapat mengancam eksistensinya, Kerajaan Pajajaran berupaya mengantisipasi dengan menerapkan dua macam kebijakan. Pertama, berusaha membatasi pedagang-pedagang Islam yang mengunjungi pelabuhan-pelabuhan yang berada di wilayah kekuasaan Pajajaran. Kedua, mengadakan hubungan persahabatan dan kerja sama dengan Portugis yang berkedudukan di Malaka. Hubungan persahabatan ini dimaksudkan agar Portugis dapat membantu Pajajaran apabila Kesultanan Demak menyerangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan Malaka oleh Portugis (1511), ditambah dengan sifat¬sifat ambisiusnya untuk memonopoli semua perdagangan rempah-¬rempah dari Nusantara dan sikapnya yang memusuhi orang-orang Islam, menimbulkan kebencian dan permusuhan dari para pedagang, khususnya pedagang muslim. Hal ini mengakibatkan mereka tidak mau melewati dan singgah di Malaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan melalui alur pelayaran yang sulit, para pedagang dari India, Persia, Arab, dan lainnya dapat berhubungan dengan pusat-pusat perdagangan di Jawa melalui Selat Sunda setelah sebelumnya melewati Aceh Barat, Barus, Singkel, Padang Pariaman, dan Salida. Dengan demikian, kedudukan Banten sebagai pelabuhan clan vasal Pajajaran menjadi sangat penting clan ramai dikunjungi pedagang-pedagang asing. Kondisi ini pada gilirannya telah menjadikan Banten semakin terbuka, termasuk dalam hal penerimaan mereka terhadap Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kerajaan Demak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, perjanjian persahabatan antara Pajajaran dengan Portugis mendapat tanggapan tidak simpatik dari Banten, yang sudah banyak menerima kehadiran Islam, sehingga kesetiaan Banten terhadap Pajajaran semakin menipis. Hal yang sama ditunjukkan pula oleh Demak. la menilai bahwa dengan masuknya Portugis ke Pulau Jawa akan berakibat fatal bagi kemerdekaan Nusantara secara keseluruhan, sehingga peristiwa persahabatan Pajajaran-Portugis telah memperbesar hasrat Demak untuk menguasai Pajajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna melumpuhkan kekuasaan Pajajaran, Demak tidak langsung melakukan serangan frontal ke pusat kekuasaannya, tetapi terlebih dahulu harus menguasai Banten. Strategi ini diambil dengan pertimbangan bahwa secara sosio-psikologis, masyarakat Banten yang terbuka dan sudah cenderung menerima kehadiran Islam, ditambah dengan kebencian mereka terhadap Pajajaran yang telah berkolusi dengan Portugis, akan mempermudah Demak untuk menanamkan pengaruhnya, lebih-lebih bila melalui pendekatan emosi keagamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara geografis-ekonomis, Banten, sebagai kota pelabuhan dan pangkalan strategis di Jawa Barat, merupakan akses dan aset yang sangat berarti bagi Pajajaran, seperti halnya Sunda Kelapa. Dengan dikuasainya Banten berarti salah satu sumber daya dan sumber dana Pajajaran sudah dikuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya menguasai Banten, Raja Demak, Sultan Trenggana, mengutus Sunan Gunung Jati beserta sejumlah pasukan perang Demak sekitar 1524-1525 untuk menyerangnya. Tidak diberitahukan terjadinya perlawanan yang berarti, malah yang terjadi penguasa Banten menerima kehadiran Sunan Gunung Jati dan pasukannya serta membantu proses Islamisasi. Perkembangan selanjutnya, Sunan Gunung Jati berhasil mengambil alih pemerintahan kota pelabuhan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kota pelabuhan Banten berhasil dikuasai, langkah berikutnya, dalam upaya melaksanakan strategi global mengislamkan Jawa Barat, adalah menyerang Sunda Kelapa, sebuah kota pelabuhan utama yang penting dan ramai yang dimiliki Pajajaran. Perebutan kota ini berlangsung cukup sengit karena letaknya yang tidak jauh dari ibukota Kerajaan Pajajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai petunjuk bahwa perebutan kota ini sangat penting bagi agama Islam, setetah berhasil direbutnya, kota ini diberi nama baru, Jayakarta atau Surakarta. Keduanya nama-nama Jawa yang berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti jaya dan makmur. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1527. &lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/dibalik-jatuhnya-kerajaan-pajajaran-2.html"/&gt;(bersambung) &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-2624203410284940111?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/2624203410284940111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/dibalik-jatuhnya-kerajaan-pajajaran-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/2624203410284940111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/2624203410284940111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/dibalik-jatuhnya-kerajaan-pajajaran-1.html' title='Dibalik Jatuhnya Kerajaan Pajajaran (1)'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-7653723315898743384</id><published>2009-08-23T10:39:00.000+07:00</published><updated>2009-08-23T10:40:32.554+07:00</updated><title type='text'>Dibalik Jatuhnya Kerajaan Pajajaran (2)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ada kisah lucu pasca jatuhnya Pajajaran. Orang-orang Portugis tiba-tiba datang untuk mendirikan kantor dagang dan benteng berdasarkan perjanjian yang diadakannya pada tahun 1522 dengan Sang Hyang dari Pajajaran. Mereka tidak tahu bila kota itu telah diduduki oleh orang-¬orang Islam. Tentu saja kedatangan mereka ditolak dengan kekuatan senjata oleh penguasa baru yang telah beragama Islam. Merekapun mundur. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penaklukan Banten dan Sunda Kelapa mempunyai arti penting bagi Kesultanan Demak karena beberapa alasan. Pertama, dengan ditaklukannya Banten dan Sunda Kelapa akan memudahkan penaklukan Pajajaran. Kedua, Banten dapat dijadikan tempat strategis bagi penyerangan pantai selatan Sumatra, Lampung, dan Palembang yang penduduknya masih animis yang kaya cengkih dan lada. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ketiga, dengan dikuasainya jalur pantai Jawa Barat, yaitu Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon berakhirlah kekhawatiran Demak atas orang-orang Portugis di Pulau Jawa. Dan keempat, Banten dapat dijadikan pusat penyebaran Islam untuk penduduk di Jawa Barat dan sebagian Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambisi Demak untuk menaklukan Pajajaran tidak sempat menjadi kenyataan, karena dengan meninggalnya Sultan Trenggana (1546) Demak menjadi lemah. Pemerintahan pengganti, Susuhunan Prawata (1546-1549), dan seterusnya merupakan anti klimaks terhadap kejayaan raja yang mendahuluinya, Sultan Trenggana, yang sebagai raja Islam telah memerintah sebagian besar Pulau Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini telah dimanfaatkan oleh Sultan Hasanudin (1552-1570), penguasa Banten kedua yang menggantikan ayahnya, Sunan Gunung Jati, yang pindah ke Cirebon (1552)  untuk memerdekakan Banten lepas dari kekuasaan Demak. Dengan demikian, wilayah kekuasaan Banten di Pulau Jawa pada masa Hasanudin meliputi Banten dan Jayakarta, sedangkan di luar Pulau Jawa meliputi Lampung dan Bengkulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Serangan Banten&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Hasanudin (1570), kesultanan Banten dipimpin oleh Yusuf (1570-1580). Hasrat untuk menaklukan kerajaan Pajajaran menjadi kenyataan pada masa pemerintahannya. Keberhasilan Banten menguasai Paiajaran (1597) merupakan perwujudan dari cita-¬cita lama, yakni sejak Demak memegang hegemoni atas Jawa pada masa Sultan Trenggana (1504-1546), kemudian dilanjutkan oleh Banten sebagai asal Demak pada masa Sunan Gunung Jahi (1525¬1552), dan Banten merdeka pada masa Hasanudin dan Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sumber tradisi, penyerangan Banten ke Pajajaran itu sedikitnya terjadi tiga gelombang besar. Pertama, pada masa Pajajaran di bawah pemerintahan Ratu Dewan Buana (1535-1534), dilakukan oleh Sunan Gunung Jati; kedua, pada masa pemerintahan Nilakendra (1551-1567), dilakukan oleh Hasanudin; dan ketiga, pada masa Pajajaran diperintah oleh Ragamulya (1567-1579), dilakukan oleh Yusuf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan itu mengisyaratkan betapa kuatnya Pajajaran, dalam kondisi yang teralienasi selama kurang lebih setengah abad, baik secara ideologi, ekonomi, maupun keamanan masih menunjukkan kemampuan perlawanannya. Bahkan, menurut sumber tradisi pula, kemenangan Banten atas Pajajaran itu dimungkinkan oleh pengkhianatan pegawai Pajajaran itu sendiri. Sesudah kota kerajaan jatuh, raja beserta keluarganya "menghilang". Sementara itu seluruh kerajaanya dihancurkan dan penduduknya dibunuh atau diusir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jatuhnya Pajajaran, maka lenyaplah kerajaan besar terakhir yang menganut Hindu di Jawa. Ini pun berarti bahwa wilayah kekuasaan Banten dengan sendirinya meluas ditambah dengan bekas wilayah yang ditaklukannya. Namun kenyataannya tidak semua bekas wilayah kekuasaan Pajajaran dikuasai Banten, tetapi daerah itu dibagi dalam dua bagian dengan Karawang sebagai batas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian sebelah barat untuk Banten dan bagian sebelah timur untuk Cirebon. Pembagian ini dimungkinkan mengingat ada hubungan geneologis antara penguasa Banten dan Cirebon, juga baik secara langsung maupun tidak, Cirebon telah turut membantu, paling tidak, dalam memperlemah kondisi Pajajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ibukota kerajaan ditaklukkan, tampaknya penguasa Banten tidak tertarik untuk melibatkan daerah itu dalam berbagai aktivitas kesuitanan. Hal ini, boleh jadi, disebabkan karena secara geografis wilayah bekas ibukota Pajajaran yang di pedalaman dianggap kurang strategis bagi aktivitas (khususnya perekonornian) Kesultanan Banten yang bercorak maritim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, sumber daya manusianya pun, terutama yang bersedia masuk Islam, kemungkinan lebih banyak direkrut bagi kepentingan pembentukan dan memperkuat tentara Banten, karena pemindahan penduduk dari daerah yang ditaklukkan ke wilayah pihak yang menang kadang-¬kadang merupakan salah satu tujuan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kekuatan Banten&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang abad ke-17 terjadi beberapa pergeseran dan perubahan pola serta tata kekuatan politik dan ekonomi di Jawa khususnya dan di wilayah Nusantara umumnya. Munculnya Mataram sebagai pemenang hegemoni, menggantikan posisi Demak, yang senantiasa berupaya memperluas wilayah pengaruh ke kerajaan¬kerajaan di sekitarnya dan berkeinginan agar kerajaan-kerajaan itu menjadi vasal-vasal yang mengakui suzereinitasnya, menambah maraknya percaturan politik di Jawa. Tidak terkecuali Banten; kesultanan ini pun termasuk wilayah sasaran jangkauan semangat ekspansi Mataram. Bahkan Banten pernah beberapa kali diserang, namun gagal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi malah sebaliknya, politik iuar negeri Mataram yang disemangati oleh spirit ekspansionismenya, secara tidak langsung, telah turut memberi andil dalam memperbesar peranan Banten sebagai pusat perdagangan yang menonjol. Banten dijadikan salah satu tempat pelarian para pedagang dari pesisir Jawa Tengah dan Timur yang berusaha menghindari cengkraman Mataram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghancuran kota-kota pelabuhan pesisir Jawa Tengah dan Timur oleh Mataram itu pun membuat pergeseran dalam jaringan perdagangan dan rute pelayaran di Nusantara. Kalau selama abad ke-16 rute yang ditempuh ialah Maluku-Makasar-Selat Sunda. Sehubungan dengan perubahan itu, maka kedudukan Banten bertambah penting dan strategis. Politik ekspansi Mataram pun telah mempengaruhi pola aliansi, dalam arti "dengan siapa suatu kelompok harus bergabung dan dalam rangka menghadapi kelompok mana". (habis) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-7653723315898743384?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/7653723315898743384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/dibalik-jatuhnya-kerajaan-pajajaran-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/7653723315898743384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/7653723315898743384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/dibalik-jatuhnya-kerajaan-pajajaran-2.html' title='Dibalik Jatuhnya Kerajaan Pajajaran (2)'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-6609675707794075962</id><published>2009-08-18T16:18:00.003+07:00</published><updated>2009-08-18T16:30:39.520+07:00</updated><title type='text'>Indonesia Raya</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sebutan Indonesia Raya memang tidak berlebihan untuk tanah yang kita pijak ini. Indonesia memang kaya dan raya. &lt;i&gt;Gemah ripah loh jinawi.&lt;/i&gt; Pulau dan lautnya beribu jumlah. Tanahnya mengandung kekayaan tiada tara. Minyak, gas bumi, batubara, emas, perak, intan berlian, nikel, dan aneka tambang lain. Bagian atasnya subur bukan main. “Tongkat kayu dan batu” pun bisa jadi tanaman, kata Koes Plus. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atasnya juga tumbuh hutan terluas sejagad, yang mensuplai udara bersih untuk  Amerika, Rusia, Inggris, China, India, Australia, dan negara-negara penghuni bumi lainnya. Itu yang membuat Indonesia “dimanja” negara-negara besar penghasil polutan, sekaligus dirayu agar menjaga hutannya. Berbicara soal lingkungan, Indonesia memang negara yang berkuasa. Mana ada negara yang berani menolak Indonesia bila ingin menggelar even-even lingkungan sedunia. Termasuk Amerika, Inggris dan sekutu-sekutunya yang sombong itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lautnya melebihi luas daratan. Ia menyimpan kekayaan tak ternilai. Berjuta jenis ikan, ubur-ubur, terumbu karang, rumput laut, sampai minyak dan gas bumi, semua terendam di situ. Adalah Malaysia, negara yang paling iri dengan Indonesia. Sejak lama negeri jiran itu mengincar pulau-pulau terluar RI yang dianggap “tidak diurus”. Belakangan sikapnya makin kurang ajar. Dengan pongah mengklaim blok-blok laut wilayah kita sebagai miliknya. Ini tentu tak bisa dibiarkan. Kita harus tegas. Pulau Sipadan dan Ligitan telah berhasil mereka rampas dari pangkuan ibu pertiwi. Semoga itu menjadi yang terakhir buat mereka. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, 17 Agustus 2009, Indonesia merayakan HUT kemerdekaan yang ke-64. Artinya kita sudah lebih dari setengah abad jadi negera berdaulat. Banyak hal sudah kita raih. Presiden pun sudah 6 kali berganti. RI sudah berubah rupa. Kemajuan global telah menyeret pula negeri ini untuk menyesuaikan diri. Modernisasi telah berlangsung di sini. Hanya saja, kemakmuran belum menyertai. Angka kemiskinan masih tinggi. Bahkan kian menjadi. Kalau ada yang berkampanye menyebut angka kemiskinan di Indonesia menurun, itu bohong besar. Dusta publik yang tak terperi. Mereka mengingkari hati nuraninya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti apa yang bisa disanggah ketika jutaan rakyat kehilangan pekerjaan dan jadi penganggur. Karena pabrik-pabrik tempat mereka bekerja mengalami kebangkrutan. Bukti mana yang bisa hilangkan saat kita menyaksikan dengan jelas di sana sini rakyat antri sembako, bahkan ada yang tewas pula karenanya. Tapi sudahlah. Itu telah berlalu. Kini kita memiliki pemimpin baru. Kita harus ucapkan selamat, seraya berharap agar beliau bisa membawa negeri ini menuju sejahtera. Menjadi mercusuar dunia. Kita berdoa semoga dihari-hari kedepan, para pemimpin kita mendapat keselamatan dari Yang Maha Kuasa. Dijauhkan dari marabahaya dan senantiasa berjalan lurus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh televisi, surat kabar, radio dan internet, kita dikabari euphoria perayaan ultah ke-64 ini dengan beragam tema, beragam cara. Ada yang merayakannya dengan menggelar upacara bendera di dalam laut, dalam gua, di puncak gunung, dan kebanyakan di lapangan-lapangan. Di pelosok-pelosok negeri, kita saksikan pula kemeriahan HUT RI dengan aneka permainan dan hiburan rakyat. Semoga semangat Indonesia merdeka ini terbawa ke masa-masa datang. Dan mentranformasikannya menjadi semangat berkarya. Agar dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air ke depan semakin baik. Di sana sini aman dan tali persaudaraan kiat erat terjalin. Tak ada lagi ledakan bom, tak ada lagi teror. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga harus melupakan pertikaian antar partai dan pendukungnya pasca pemilu dan pilpres kemarin. Caleg-caleg yang gagal jangan lagi stress dan depresi. Bangkitlah hai calon wakil kami di DPR &amp; DPRD. Masih banyak “PR” untuk negeri ini. Untuk sahabatku, Ustad Ujang Bustomi di Mundu (Cirebon), terima kasih karena telah menyadarkan caleg-caleg yang stress dan depresi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun harus kita sesalkan, tapi kita lupakan saja soal sidang paripurna DPR dua hari lalu. Di mana lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, lupa mereka kumandangkan di awal acara. Padahal patut diketahui, merekalah yang membuat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Sekedar mengingatkan, menurut Pasal 59 Ayat (1) UU yang disahkan presiden 9 Juli 2009 itu, lagu kebangsaan wajib diperdengarkan dan/atau dinyanyikan untuk menghormati presiden dan/atau wapres dalam acara pembukaan sidang paripurna MPR, DPR, DPRD, dan DPD. Menurut UU ini pula, lagu kebangsaan merupakan wujud eksistensi bangsa yang menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tidak melupakan begitu saja, tapi menjadikannya bagian dari pengalaman masa lalu. Masih banyak pekerjaan besar yang menanti bangsa ini. Bahwa bagaimana segenap potensi yang kita miliki ini bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Agar angka kemiskinan berkurang, bahkan terhapus. Agar anak-anak negeri bisa sekolah dengan biaya murah sampai jenjang tertinggi. Sehingga mereka bisa jadi anak yang pintar dan menjadi penerus bangsa yang berkualitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karunia Yang Maha Kuasa atas tanah yang subur dan laut yang kaya milik kita ini harus ada yang menjaga. Agar tidak dicuri bangsa lain atau dirampok bangsa sendiri untuk kepentingan pribadi. Sebab itulah harta karun bangsa ini yang belum tergali. Cadangan berharga untuk masa depan negeri. Dirgahayu Republik Indonesia. I love you full. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-6609675707794075962?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/6609675707794075962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/indonesia-rata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6609675707794075962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6609675707794075962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/indonesia-rata.html' title='Indonesia Raya'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-80311460976885645</id><published>2009-08-18T15:56:00.005+07:00</published><updated>2009-08-18T16:05:14.975+07:00</updated><title type='text'>Mengunjungi Kabuyutan Ciburuy Garut</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoptCs3bcDI/AAAAAAAAAhs/Ps0lXM3sIGo/s1600-h/kabuyutan-3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoptCs3bcDI/AAAAAAAAAhs/Ps0lXM3sIGo/s200/kabuyutan-3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371225398763548722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Abad 15 silam, Kampung Ciburuy adalah sebuah daerah yang teduh dan tenang. Ia terletak di lereng sebelah barat Gunung Cikuray, Desa Pamalayan, Bayongbong, Garut, Jabar. Tanahnya luas dan subur. Para &lt;i&gt;karuhun&lt;/i&gt; (leluhur) di sana menyebutnya tanah dewa sasana, yang artinya tempat bersemayamnya para dewa. Di sinilah jejak para resi dan raja besar tanah Pasundan terkuak. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatar Sunda termasuk kawasan relatif banyak meninggalkan tilas-tilas sejarah. Namun demikian, terbilang sedikit diantaranya yang berhasil diungkap. Para sejarawan mencatat, pada periode abad ke-4 hingga ke-16 masehi, di kawasan ini berdiri kerajaan-kerajaan bercorak Hindu. Sebut saja kerajaan Tarumanagara, Galuh, hingga kerajaan Sunda Pakuan.  Begitulah para ahli menyebutnya sebagai periode yang cukup panjang dalam perputaran sejarah. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penelusuran sejarah, di tanah Jawa bagian barat (Pasundan), pengaruh Hindu sesungguhnya lebih dulu merebak. Yaitu dengan berdirinya kerajaan Tarumanagara pada abad ke-4. Lalu kemudian muncul kerajaan-kerajaan lainnya. Ironisnya, di daerah ini malah nyaris tidak ditemukan bangunan candi seperti halnya banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya candi yang ditemukan di Jawa Barat adalah Candi Cangkuang, kendati hingga kini masih terjadi silang pendapat di kalangan pakar. Candi ini ditemukan di kampung Pulo, desa Cangkuang, kecamatan Leles, Garut, Jabar. Kemudian Candi Bojongmenje, yang ditemukan tahun 2003 dan kini masih dalam penelitian intensif Balai Arkeolog Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita-berita tentang kehidupan kerajaan-kerajaan pada masa silam, terungkap lewat penemuan para ahli. Beberapa prasasti, misalnya, berhasil ditemukan dan diungkap kandungan isinya. Misalnya prasasti Batu Tulis dan Kebon Kopi di Bogor. Juga prasasti Kawali dan Galuh di Ciamis, lalu prasasti Kebantenan I - V di Banten, prasasti Rumantak di Gegerhanjuang Tasikmalaya, prasasti sanghyang Tapak I - II di Sukabumi dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber-sumber berbentuk naskah pun berhasil di temukan di tatar Sunda ini. Antara lain Carita Parahyangan, Carita Bujangga Manik, Carita Waruga Rasa, Babad Galuh, Babad Pakuan, Siskandang Karesian, Amanat dari Galunggung, dan lainnya. Semua naskah itu mengandung isi yang berhubungan dengan keberadaan kerajaan-kerajaan Sunda di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tanah Dewa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meski jejak-jejak kerajaan di tatar Sunda berhasil ditelusuri lewat prasasti dan naskah-naskah tua, namun bentuk fisik semacam bangunan atau candi, jarang ditemukan. Inilah yang membedakan eksistensi kerajaan-kerajaan di daerah Jawa Tengah dan Timur dengan daerah Jawa Barat. Candi memang identik dengan sarana ibadah dan pemujaan kala itu. Ia merupakan cermin religi dan kesakralan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagaimana dengan Tatar Sunda? Di kalangan masyarakat Sunda, muncul sebutan Tanah Dewa Sasana. Yakni suatu bukti bahwa masyarakat Sunda kala itu, memerlukan suatu tempat yang sakral dan dikeramatkan, sebagai wujud kehidupan religiusnya. Mengapa mereka tak membangun candi? Ini yang menarik. Namun konon, Tanah Dewa Sasana punya nilai setara dengan eksistensi candi, yang kerap dinamakan kabuyutan atau kawikuan. Sebagai contoh adalah Kabuyutan Ciburuy di desa Pamalayan, Bayongbong, Garut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tanah Dewa Sasana adalah sebuah tempat yang disucikan para petinggi kerajaan yang mulai meninggalkan aktivitas duniawi. Jangan heran bila kabuyutan selalu jauh dari keramaian. Sebab di sinilah, mantan raja dan petinggi kerajaan menenangkan diri. Tidak sedikit pula yang menghabiskan sisa usianya. Tidak jarang, petinggi kerajaan yang masih aktif, membahas masalah pelik ketatanegaraan dan urusan rakyat di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kabuyutan Ciburuy&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nana Suryana, kuncen Kabuyutan Ciburuy, mengatakan bila di kabuyutan yang di peliharanya, terdapat bermacam-macam benda pusaka peninggalan tokoh-tokoh zaman kerajaan Sunda. Ini merupakan bukti bila kabuyutan seluas 7 Ha ini pernah didiami tokoh-tokoh penting. “Banyak peninggalan karuhun yang disimpan di dua bangunan,” tutur Nana. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoptLnP09wI/AAAAAAAAAh0/v4VB2aSibt4/s1600-h/kabuyutan-2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoptLnP09wI/AAAAAAAAAh0/v4VB2aSibt4/s200/kabuyutan-2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371225551874094850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kabuyuran Ciburuy terdiri dari tiga bangunan dan sebuah saung lesung (tempat menumbuk padi). Bangunan pertama disebut patemon yang sebagai tempat berkumpul (rapat) dan menerima tamu. Kemudian bumi alit (padalaman), tempat beristirahat raja sekaligus tempat menyimpan perangkat kerajaan seperti peta, naskah-naskah dan dokumen kerajaan. Dan ketiga lumbung padi tempat persediaan makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Secara fisik, ketiga bangunan ini bentuknya unik, beratap ijuk dan mirip bangunan di daerah Minangkabau. Bangunan disangga tiang-tiang dari kayu dan berdinding bilik. Di dalam dua bangunan itu terdapat keris, sabuk, rantai emas, golok, bogor ageung, cupu, naskah kuno, kujang, tumbak, trisula, kentongan, tongkat, dan lainnya. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Naskah Kuno Ciburuy&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tahaduk sang hiang hayu tekang yarakan kami ring wiring ka di kita.&lt;/i&gt; (Harus tahan dan sabar dalam menyambut datangnya pemimpin yang menerima wahyu untuk mengajarkan ilmu Allah kepada manusia yang kurang iman, termasuk kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kunang dyan kumijar sa rasana kang wuwus kami. &lt;/i&gt; (Keterangan dan contoh untuk menyatakan rasa tunggal bersaudara yang diwajibkan oleh Alah yang terdapat dalam kitab suci manapun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Hayua kita umawa ya rasa ya carita. &lt;/i&gt; (Ketidakwaspadaan dan kelemahan kita yang menjadikan bangsa kita mengalami kesusahan dan penderitaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mung kalor raksa wawa wasita. &lt;/i&gt; (Dimana waktu membalas terhadap saudara-saudara kita yang satu ideologi  harus tetap waspada dan tetap menjaga nama baik bangsa sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nada kari-kari luini kang rasa carita. &lt;/i&gt; (Kejadian itu meminta korban, akibat kelakuan yagn keterlaluan yagn menyebabkan eksusahan dan penderitaan.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Yana kaulingana ri kami. &lt;/i&gt; (Kamu sekalian tidak pernah ingat kepada Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Auma nihan luike. &lt;/i&gt; (Golongan yang demikian akan lebih berat hukumannya) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ka wuang ngarga wiwiku. &lt;/i&gt; (Hanya sedikit orang yang menghargai guru yang menunjukkan manusia kepada jalan yang benar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mreng ngucapa ta carita ni kang huang dewasa. &lt;/i&gt; (Riuhnya suara yang kesusahan terdengar oleh para pemimpin di seluruh dunia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kala re purwa teja rata tarima haka nguni. &lt;/i&gt; (Pokok ajaran para pemimpin adalah tentang keseimbangan hidup, bila tidak percay acobalah tanyakan kepada musuh atau kepada saudara-saudara tertua yang terdahulu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anaa ka yugi arah kami sawite swara maha dewa. &lt;/i&gt; (Anaknya yang akan dating, juga mengaku ketruunan para leluhur yang bijaksana yang tidak berbeda bila tidak berbicara bagaikan pemimpin besar yang berbudi luhur padahal palsu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Murang kusika garga game tri kusuma pata tajali. &lt;/i&gt; (Hanya yang pintar, yang gagah/kuat, yang bangsawan, yang rajin, yang patuh, yang cantik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/simbol-suksesi-kepemimpinan.html"/&gt;Simbol Suksesi Kepemimpinan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/ritual-warga-kabuyutan-ciburuy.html"/&gt; Ritual Warga Kabuyutan Ciburuy&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-80311460976885645?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/80311460976885645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/mengunjungi-kabuyutan-ciburuy-garut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/80311460976885645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/80311460976885645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/mengunjungi-kabuyutan-ciburuy-garut.html' title='Mengunjungi Kabuyutan Ciburuy Garut'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoptCs3bcDI/AAAAAAAAAhs/Ps0lXM3sIGo/s72-c/kabuyutan-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-3153487472094126264</id><published>2009-08-18T15:54:00.003+07:00</published><updated>2009-08-21T15:04:21.631+07:00</updated><title type='text'>Simbol Suksesi Kepemimpinan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopshRBro6I/AAAAAAAAAhk/qBXTWuZqDwM/s1600-h/kabuyutan-4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopshRBro6I/AAAAAAAAAhk/qBXTWuZqDwM/s200/kabuyutan-4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371224824354677666" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;b&gt;Kabuyutan Ciburuy adalah tempat yang sunyi dan sakral. Para karuhun yang tiada lain orang-orang penting kerajaan Sunda, rupanya sengaja mendirikan tempat ini agar terisolasi dari keramaian duniawi. Selain itu, agar eksistensi kehidupan damai mereka terabadikan hingga akhir zaman. Jangan heran bila masyarakat sekitar mengeramatkan, bahkan menjadikannya bagai pusaka. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilik Kebudayaan Dinas Dikbud Kecamatan Bayongbong mengatakan bila pengaruh agama Hindu di Tatar Sunda pada masa lalu boleh dibilang amat dominan dibanding daerah Jawa tengah dan timur. Tapi ironisnya, di tanah Sunda sulit ditemukan bangunan tempat ibadah agama Hindu berbentuk candi atau pura. Candi yang ada di kawasan ini sebut saja Cangkuang, Garut dan Bojongmenje, Rancaekek, Bandung. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabuyutan Ciburuy yang kerap disebut tanah Dewa Sasana ini merupakan bukti leluhur Ciburuy yang kuat memegang spirit magis religius. Kabuyutan  ini dulunya dijadikan tempat peribadatan dan pemujaan. Sekaligus cita-cita dari akhir kehidupan para petinggi kerajaan yang baik. “Sering ditemukan kisah raja sunda yang mengakhiri hidup dan masa tuanya dengan menjadi seorang raja resi atau pertapa,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan tokoh-tokoh kerajaan masa lalu, menjadi seorang resi, wiku, pandita atau pertapa, merupakan perilaku yang bijak dan sempurna dalam hidup di dunia. Sehingga wajar bila sang raja seperti ini akan berhasil dalam ngeuyeuk dayeuh ngolah nagara (mengatur pemerintahan). Sebab, sang raja mampu menyeimbangkan antara tugas menjalankan roda pemerintahan dengan ketaatan menekuni perintah sang pencipta, dan juga menghormati trandisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Simbol suksesi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabuyutan Ciburuy adalah jejak sejarah masa silam. Hal itu terinci jelas dengan adanya naskah-naskah dari daun lontar dan nipah. Meski belum tergali keseluruhan, namun sebagian isi naskah menyiratkan ajaran dan petuah. Antara lain berkenaan dengan filsafat, logika, etika dan estetika. Naskah lontar dan nipah ini merupakan amanat petinggi kerajaan tanah Sunda, yakni Prabu Guru Dharmasiksa Paramarta Mahapurusa, yang terkenal dengan gelar Sanghyang Wisnu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam amanatnya, Raja Sunda Prabu Guru Dharmasiksa menginginkan anak cucu dari keturunannya tetap mempertahankan dan menjaga martabat leluhur. Dharmasiksa adalah tokoh yang luar biasa. Cermin pemimpin yang patut diteladani. Dialah raja yang paling lama menduduki singgasana kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. Karirnya pun melejit mulai dari penguasa daerah bawahan di Saunggalah (kabupaten Kuningan, Jabar saat ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kala itulah peristiwa suksesi kerajaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meski bukan keturunan raja, Dharmasiksa bisa naik tahta dengan damai dan tanpa pecah perang saudara. Dharmasiksa adalah satu diantara raja-raja bawahan yang berhasil menjadi raja Pusat. Inilah satu hal yang menurut catatan penilik Kebudayaan Bayongbong sebagai peristiwa suksesi yang paling damai. Rupanya, kenegarawanan serta sikap pribadi Prabu Dharmasiksa yang luhur, ia bisa menjadi pemimpin yang diharapkan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dukuh Ciburuy&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabuyutan Ciburuy terletak di kampung Ciburuy, Desa Pamalayan, Bayongbong, Garut. Menuju ke sana bisa ditempuh dari dua arah. Salah satunya melalui jalan Cigedug menuju daerah tenggara dari jalan raya Bayongbong sejauh kurang lebih 3,5 Km. Dari jalan raya inilah perjalanan diarahkan menuju lereng gunung Cikuray. Lokasi Kabuyutan Ciburuy memang agak terpencil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika kabuyutan ini pertama didirikan, diperkirakan kawasan ini masih sepi. Bahkan tak banyak orang yang tahu dan menjamahnya. Kini Ciburuy telah menjadi perkampungan yang ramai. Akan tetapi, perilaku masyarakat kampung Ciburuy masih mencerminkan tradisi-tradisi leluhur yang berhubungan dengan keberadaan kabuyutan. Dan ini yang membedakan masyarakat kampung Ciburuy dengan daerah lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ciri-ciri fisik masyarakat Ciburuy gampang dibedakan, yakni memiliki postur tubuh yang rata-rata pendek dan bermata pencaharian bertani. Untuk memperkokoh keteguhan terhadap pelestarian tradisi karuhunnya, masyarakat Ciburuy membentuk semacam lembaga yang dinamakan Tukuh Ciburuy. Tukuh Ciburuy ini pula membedakan masyarakat Ciburuy dengan masyarakat desa lainnya di Bayongbong. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/mengunjungi-kabuyutan-ciburuy-garut.html"/&gt;Mengunjungi Kabuyutan Ciburuy Garut &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/ritual-warga-kabuyutan-ciburuy.html"/&gt; Ritual Warga Kabuyutan Ciburuy&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-3153487472094126264?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/3153487472094126264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/simbol-suksesi-kepemimpinan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/3153487472094126264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/3153487472094126264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/simbol-suksesi-kepemimpinan.html' title='Simbol Suksesi Kepemimpinan'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopshRBro6I/AAAAAAAAAhk/qBXTWuZqDwM/s72-c/kabuyutan-4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-951244975705926200</id><published>2009-08-18T15:50:00.004+07:00</published><updated>2009-08-20T03:06:10.338+07:00</updated><title type='text'>Ritual Warga Kabuyutan Ciburuy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopr_yv41UI/AAAAAAAAAhU/18fGrM5qyGI/s1600-h/kabuyutan-6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopr_yv41UI/AAAAAAAAAhU/18fGrM5qyGI/s200/kabuyutan-6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371224249291298114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Kabuyutan Ciburuy meninggalkan tapak sejarah masa silam. Terbukti dengan adanya naskah dari lontar dan nipah, serta benda-benda kuno yang tersimpan di sana. Masyarakat Ciburuy betul-betul mengeramatkan tempat ini. Mereka yakin adanya karomah leluhur yang menyelimuti. Tak heran bila setiap Muharam, kerap digelar ritual ada yang menyedot banyak pengunjung.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dituturkan kuncen Kabuyutan Ciburuy, Nana Suryana kepada penulis, Kabuyutan Ciburuy itu merupakan tempat istirahat Prabu Siliwangi. Sebagai bukti, di kompleks ini terdapat benda-benda peninggalan raja. Antara lain benda-benda pusaka keris, kujang, golok kuno, trisula, tombak, dan lain-lain serta seperangkat gamelan atau alat kesenian yang disebut goong renteng. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Patilasan Kean Santang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah satu daya tarik Kabuyutan Ciburuy adalah terdapatnya patilasan Prabu Kean Santang, putra Raja Pajajaran Prabu Siliwangi. Bentuknya berupa lempengan batu yang luasnya kurang lebih 2 X 1 meter yang menghampar tak jauh dari bangunan utama kabuyutan atau rumah padalaman. Menurut Nana Suryana, batu hampar itu merupakan tempat Prabu Kean Santang melakukan salat, persisnya ketika mengejar ayahnya di sana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopsI1VCPrI/AAAAAAAAAhc/W9ECpnykCx0/s1600-h/kabuyutan-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopsI1VCPrI/AAAAAAAAAhc/W9ECpnykCx0/s200/kabuyutan-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371224404602797746" /&gt;&lt;/a&gt;Tokoh masyarakat Cimaung Banjaran, Kabupaten Bandung, Aki Adju, menceritakan bila Prabu Siliwangi bukan melarikan diri karena kejaran Prabu Kean Santang. Melainkan menghindari Raden Kean Santang yang ingin mengislamkannya. “Untuk menghindari bentrok fisik dengan putra kesayangannya itu, maka Prabu Siliwangi mengalah dan memilih menghindar,” ungkapnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah satu tempat menghindar tersebut adalah Kabuyutan Ciburuy. Ketika itu, Prabu Kean Santang tidak mendapati ayahnya. Lantas ia melakukan salat di atas batu hamper itu. Usai salat, terdengar suara Prabu Siliwangi tanpa wujud. Ia menyatakan bahwa sebenarnya sang ayah telah memeluk Islam. Tapi bila harus dikhinat (disunat) oleh anaknya sendiri, hal itu pamali (tabu). “Sampai sekarang Prabu Siliwangi tidak diketahui keberadaannya. Kabarnya ia menghilang di hutan Sancang, Garut Selatan,” beber Aki Adju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Upacara Seba&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada setiap bulan Muharam, masyarakat Ciburuy yang terletak di lereng gunung Cikuray ini rutin melaksanakan ritual adat. Hal itu sebagai tanda penghargaan kepada para leluhur, sekaligus upaya melestarikan budayanya. Ritual adat itu dinamakan upacara Seba. Yakni upacara mengeluarkan dan membersihkan benda-benda pusaka yang ada di dalam Kabuyutan Ciburuy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bagi masyarakat setempat, membuka dan mengeluarkan benda-benda pusaka dari tempatnya bukan pekerjaan sembarangan. Melainkan harus dilakukan pada waktu tertentu, sebegaimana selalu dipraktekkan para leluhurnya. Upacara Seba sendiri mengambil waktu hari Rabu terakhir di bulan Muharam. Atau bulan pertama pada hitungan tahun hijriah. Rangkaian upacara Seba antara lain melakukan pembersihan rumah adat, sebelum hari “H” berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seba adalah upacara membersihkan benda-benda pusaka sebagai tanda hormat kepada leluhur. Dalam upacara ini selalu dihidangkan sajian-sajian penganan yang bahannya berasal dari ketan. Pengadaan bahan-bahan upacara berasal dari swadaya masyarakat setempat secara gotong royong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setiap upacara Seba dilaksanakan, masyarakat selalu antusias mengikuti. Mereka tumpah ruah mendatangi kabuyutan Ciburuy untuk mendapatkan berkah dari ritual itu. Mereka bukan saja berasal dari lingkungan setempat, tapi banyak pula yang datang dari daerah-daerah lain. Upacara Seba sendiri dimulai pukul sembilan malam, hingga tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saat upacara Seba berlangsung, kuncen Kabuyutan Ciburuy selalu mengeluarkan mantra-mantra. Konon, saat mengucapkan itu, sang kuncen diyakini tengah dirasuki arwah leluhur. Mantra-mantra itulah yang selalu dinantikan oleh para pengunjung, karena merupakan ramalan kehidupan di masa yang akan datang. Dengan mendengar mantra-mantra itu, dipercaya seseorang akan mendapat keberkahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada waktu-waktu tertentu yang merupakan larangan bagi siapa saja  untuk berziarah ke Kabuyutan Ciburuy. Antara lain pada hari Selasa dan Jumat. Menurut Nana Suryana, kuncen generasi ke-48, pada masa lalu, setiap hari Selasa dan Jumat merupakan hari di mana para leluhur melakukan kegiatan suci. Boleh dikata, hari itu merupakan hari tenang, sehingga tidak boleh ada keributan dan aktivitas yang mengganggu. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/mengunjungi-kabuyutan-ciburuy-garut.html"/&gt;Mengunjungi Kabuyutan Ciburuy Garut &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/simbol-suksesi-kepemimpinan.html"/&gt;Simbol Suksesi Kepemimpinan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-951244975705926200?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/951244975705926200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/ritual-warga-kabuyutan-ciburuy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/951244975705926200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/951244975705926200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/ritual-warga-kabuyutan-ciburuy.html' title='Ritual Warga Kabuyutan Ciburuy'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopr_yv41UI/AAAAAAAAAhU/18fGrM5qyGI/s72-c/kabuyutan-6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-1926722841221187594</id><published>2009-08-18T15:47:00.002+07:00</published><updated>2009-08-18T15:50:17.554+07:00</updated><title type='text'>Wanita Peminda Makam Siliwangi (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopq_zGoKcI/AAAAAAAAAhE/vGS9QPnOHJQ/s1600-h/makam+siliwangi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopq_zGoKcI/AAAAAAAAAhE/vGS9QPnOHJQ/s200/makam+siliwangi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371223149875046850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Hj Netty Medina S, menemukan sebuah makam keramat. Belakangan terungkap bila itu adalah makam Prabu Siliwangi. Letaknya dilereng Gunung Pangrango, Cianjur, Jabar. Dalam pengembaraannya di alam batin, Hj Netty dibimbing untuk memindahkan makam itu. Kini Makam Prabu Siliwangi telah dipindah ke belakang rumahnya, kampung Ngamprah Pasir Pari, Desa Nengkelan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wanita kelahiran tahun 1937 ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia bukan paranormal, juga bukan ahli kebatinan. Ia pun, juga bukan ahli sejarah yang biasa duduk dibangku akademis. Tapi, Hj Netty adalah putri seorang pensiunan polisi di Komdak (kini Polda, red) Jabar berpangkat mayor. Namun kecintaannya pada leluhur, serta kedalaman memahami sejarahnya, telah memberinya ketajaman mata batin. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Segala hal yang berbau leluhur Sunda, ia talungtik (teliti) dengan caranya sendiri. Dasarnya pun tidak main-main. Selain terjun langsung ke lapangan, Hj Netty mengakurkannya dengan berbagai literatur. Buku-buku tua dan naskah-naskah yang jarang ditemukan dewasa ini, sudah habis dilahapnya. Salah satu hasilnya adalah pengalaman unik ketika menemukan makam (petilasan) raja Pajajaran paling terkenal itu, di lereng Gunung Pangrango. Yang kemudian dipindahkan ke belakang rumahnya di Ciwidey, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jejak Leluhur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di tatar Sunda, nama Prabu Siliwangi, raja kerajaan Pajajaran, sudah bukan hal asing. Bahkan nama itu sudah melanglang buana ke antero jagad. Namanya begitu harum, seharum kepribadiannya semasa hidup. Tomme Pires, ilmuwan asal Portugis yang pernah masuk Indonesia abad 17, meninggalkan tulisan tentang keberadaan Prabu Siliwangi di negaranya. Dalam catatannya, ketika masuk daerah Pakuan (Bogor) melalui sungai, Pires melihat tiang-tiang kokoh sepanjang sungai. Ia mengidentifikasi itu sebagai tiang-tiang istana kerajaan Sunda (Pajajaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoprG0zyqGI/AAAAAAAAAhM/THKOtNkyr4s/s1600-h/HJ_NETTY.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 131px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoprG0zyqGI/AAAAAAAAAhM/THKOtNkyr4s/s200/HJ_NETTY.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371223270591998050" /&gt;&lt;/a&gt;Prasasti Batu Tulis Bogor, juga salah satu bukti otentik.  Prasasti itu merupakan persembahan prabu Surawisesa, raja Pajajaran, untuk ayahandanya Sri Baduga Maharaja Ratu Haji, atau Prabu Siliwangi. Padahal prabu Surawisesa waktu itu sangat berkuasa. Tapi ia selalu ingat kebesaran ayahandanya. Terutama oleh karya-karya besarnya. Sebab itulah, prabu Surawisesa membuat sebuah prasasti untuk mengenang kebesaran ayahnya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bunyi prasasti batu tulis adalah "Semoga selamat, ini tanda peringatan bagi Prabu Ratu Suwargi (almarhum, red) ia dinobatkan dengan gelar Prabu Ratu Dewata Prana dinobatkan lagi dengan gelar Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata dialah yang membuat parit pertahanan di Pakuan, dia anak Rahyang Dewa Niskala yang di pusarakan di Gunatiga, cucu Rahyang Niskala Wastu Kencana yang dipusarakan di Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat hutan samida, membuat telaga rena maha wijaya dialah yang membuat semua itu."&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Begitulah. Nama Prabu Siliwangi tak sekadar tercantum dalam prasasti. Juga tidak dalam pelajaran sejarah. Tapi benar-benar merasuk dalam hati sanubari rakyat, terutama masyarakat Sunda.  Memang, hingga kini ada kontroversi tentang raja termasyhur itu. Terutama soal keberadaan makamnya. Pakar sejarah sendiri, konon angkat tangan. Begitu pun ahli kepurbakalaan. Hal ini semakin mengokohkan kesimpulan, bila sang prabu tidak wafat, melainkan moksa (tilem atau menghilang). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Melalui pergulatan batinnya, Hj Netty Medina yakin, bila "makam" yang ia pindahkan itu adalah patilasan tilemnya Prabu Siliwangi. Untuk bisa menemukan patilasan itu sendiri, Hj Netty harus menempuhnya dengan susah payah. Menembus hutan dan menyusuri lereng gunung. Hingga tahun 1972, bertemulah ia dengan sebuah makam yang panjang dan lebar. Letaknya di tengah sawah milik Abah Udi, di bawah rimbunnya sebuah pohon, di lereng Gunung Pangrango. Kejadian-kejadian gaib yang sulit dicerna akal sehat, kerap kali menghampirinya. &lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/wanita-peminda-makam-siliwangi-2.html"/&gt;(Bersambung)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-1926722841221187594?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/1926722841221187594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/wanita-peminda-makam-siliwangi-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/1926722841221187594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/1926722841221187594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/wanita-peminda-makam-siliwangi-1.html' title='Wanita Peminda Makam Siliwangi (1)'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopq_zGoKcI/AAAAAAAAAhE/vGS9QPnOHJQ/s72-c/makam+siliwangi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-6505562087015384634</id><published>2009-08-18T15:46:00.001+07:00</published><updated>2009-08-18T15:47:51.212+07:00</updated><title type='text'>Wanita Peminda Makam Siliwangi (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopqkAJJcvI/AAAAAAAAAg8/gE4Rr1xJY1s/s1600-h/MAKAM_SLW_1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 130px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopqkAJJcvI/AAAAAAAAAg8/gE4Rr1xJY1s/s200/MAKAM_SLW_1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371222672338940658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Sebuah makam yang aneh di lereng Gunung Pangrango, Cianjur. Terdiri dari gundukan batu-batu hitam yang antik. Meski tak terurus dan ditumbuhi rumput liar, tapi kesan keramat sangat terasa. Begitu menemukan makam itu, Hj Netty seakan terbius. Kesadaran fisiknya lenyap. Ia masuk ke alam tak kasat mata. Berkomunikasi dengan pengisi makam, Eyang Haji Jaya Pakuan Gelar Puun Prabu Seda Wali Sakti Hidayatullah Siliwangi, atau Prabu Siliwangi. Inilah kisahnya. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kecintaan Hj Netty Medina S (64) akan sejarah leluhur begitu mendalam. Dan itu berangkat sejak Netty berusia muda. Ayahnya, Rd Endih Natapraja, anggota polisi Komdak (kini Polda) Jabar, juga demikian. Darah cinta leluhur itu, agaknya menurun pada diri Netty. Bahkan sang ayah ini pernah dipercaya Gubernur Jabar Mashudi ketika itu, masuk dalam tim untuk mencari makam Prabu Siliwangi, bersama 11 ahli sejarah. Namun, proses pencarian itu tidak membuahkan hasil. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Benda-benda Gaib&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan "makam" atau patilasan Prabu Siliwangi di lereng Gunung Pangrango ini bukan  dari proses singkat. Melainkan hasil dari sebuah pengembaraan yang penuh liku. Secara fisik, menuju makam keramat ini cukup sulit. Harus melalui jalan setapak yang jauh. Menembus hutan, membelah sawah dan mengitari lereng gunung di wilayah Cianjur. Sementara tempat tinggalnya waktu itu cukup jauh, di kompleks Perkebunan PTP XII Vada Cianjur, Cikalong Kulon. Bisa memakan waktu setengah hari untuk mencapainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, Netty telah menghabiskan banyak waktu dengan mengulik berbagai literatur sejarah. Terutama yang berhubungan dengan sejarah Pajajaran. Sejak muda, jiwa Netty memang telah terpanggil untuk menekuni sejarah Sunda. Padahal, wawasan formal soal itu, tak ada dalam kamus Netty. Semuanya serba otodidak dan penuh keajaiban. Bayangkan, di kediamannya, ratusan buku-buku kuno yang berkait dengan sejarah, berjajar di rak buku. Belum lagi benda-benda pusaka seperti keris, golok, tongkat dan lainnya. Semua terpajang dan terawat rapi. Anehnya, semua benda-benda itu datang dengan sendirinya. "Mungkin saya sudah ditakdirkan memegang amanah untuk memeliharanya," tutur Hj Netty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, menurut pengakuannya, baik kitab-kitab kuno, atau benda-benda gaib tersebut, datang dengan sendirinya. Wawasannya yang dalam terhadap segala hal yang berbau sejarah Sunda, telah membawanya masuk ke alam "lain". Batinnya menjadi amat peka. Kepekaan itu yang membuat Netty akrab dengan karuhun (leluhur) yang ada pada dimensi lain. Netty sanggup berkomunikasi dengan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar aktivitasnya menekuri sejarah Sunda itu, ia pun aktif berkecimpung dalam organisasi budaya. Bahkan namanya tercatat sebagai salah seorang tokoh pendiri Angkatan Muda Siliwangi (AMS). Sebuah organisasi bermassa banyak, yang sangat disegani di wilayah Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Makam Prabu Siliwangi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adanya sebuah kerajaan bernama Pajajaran di tatar Sunda, begitu masuk dalam keyakinan Hj Netty. Soal ini, Hj Netty mengungkap bukti tertulisnya. Misalnya buku "Sejarah Prabu Siliwangi Ratu Purana Prabu Guru Dewasaprana Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajran Taun 1417-1513." Lalu buku "Sejarah Alquran", yang ditulis H Abubakar Meulaboh Atjeh, 1956. Dalam sebuah bab berjudul Fatahillah, terdapat paragraf berbunyi: "…berangkatlah menuju Jawa Barat, pertama kali ia menuju Batam. Maka sampailah ia di Girang itu daerah Banten. Ia diterima oleh Raja Pajajaran dan akhirnya raja Jawa Barat yang berkedudukan di Banten ini masuk Islam tahun 1522. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian buku "Sejarah Masjid" (H Abubakar Meulaboh Atjeh, 1955), dan catatan lainnya tentang keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran dengan Prabu Siliwanginya. Namun, semua tak menyebut secara spesifik di mana letak makam raja Pajajaran paling terkenal itu. Sampai kemudian tahun 1972, secara tak sengaja ia menemukan makam tersebut. Dan itu ketika ia berkunjung ke rumah salah seorang kenalannya, Abah Udi, di lereng Gunung Pangrango, Cianjur. Tepatnya di Kampung Selagombong, Desa Cikancana, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itulah secara tiba-tiba, terluncur sebuah pertanyaan dari Netty kepada Maman, putra Abah Udi. Apakah di sekitar sini ada makam keramat? Tanya Netty spontan. Maman sendiri heran, dari mana Netty tahu didaerah itu ada makam keramat. Dan spontan menjawab, "Ya, ada. Kira-kira 1,5 kilo dari sini." Tangan Maman menunjuk lereng sebuah gunung yang menjulang tinggi. Mendengar jawaban itu, Netty penasaran ingin melihatnya. Apalagi setelah dijelaskan Abah Udi, bila itu adalah makam Eyang Haji Jaya Pakuan. Kontan, tubuh Netty lemas. Darahnya seakan berhenti mengalir. Hj Netty mengucap istighfar berkali-kali. &lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/wanita-peminta-makam-siliwangi-3.html"/&gt;(Bersambung)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-6505562087015384634?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/6505562087015384634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/wanita-peminda-makam-siliwangi-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6505562087015384634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6505562087015384634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/wanita-peminda-makam-siliwangi-2.html' title='Wanita Peminda Makam Siliwangi (2)'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopqkAJJcvI/AAAAAAAAAg8/gE4Rr1xJY1s/s72-c/MAKAM_SLW_1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-4493109118844362037</id><published>2009-08-18T15:43:00.001+07:00</published><updated>2009-08-18T15:45:58.510+07:00</updated><title type='text'>Wanita Peminta Makam Siliwangi (3)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopqKF_aF5I/AAAAAAAAAg0/Cr7i_JxpChQ/s1600-h/HJ+NETTY+MEDIA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 140px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopqKF_aF5I/AAAAAAAAAg0/Cr7i_JxpChQ/s200/HJ+NETTY+MEDIA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371222227232102290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;B&gt;Mendengar itu adalah makam Eyang Haji Jaya Pakuan, tubuh H Netty Medina S langsung lemas. Darahnya seakan berhenti mengalir. Itulah "makam" prabu Siliwangi, yang selama ini dicari. Bahkan oleh tim 11 ahli sejarah yang dibentuk Gubernur Jabar Mashudi waktu itu. Saking cinta kepada leluhurnya, makam itu dipindah Hj Netty ke belakang pekarangan rumahnya di Kp Ngamprah Pasir Pari, Desa Nengkelan, Ciwidey, Kabupaten Bandung. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Makam di lereng Gunung Pangrango, Kampung Sela Gombong, Desa Cikancana, Kec. Pacet, Cianjur, Jabar itu ternyata ada yang menunggui. Ia adalah seorang tua berusia 143 tahun. Namanya Abah Acing. Orang aneh ini tahu pesis sejarah makam itu. Seakan dia pernah mengalami sendiri masa-masa tersebut. Dulu, kata Abah Acing, di depan makam tersebut ada sebuah sungai bernama Cinangsi. Sungai itu tempat berkumpulnya prajurit-prajurit pasukan Pajajaran (semacam tangsi). &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Masih menurut Abah Acing, tak jauh dari tempat itu ada lagi sungai yang sering disebut orang Cikujang. Disitulah disimpannya benda-benda pusaka Pajajaran, seperti kujang dan lainnya. Nama Cikujang sendiri diambil dari nama benda pusaka khas Sunda tersebut. Masih di sekitar situ, ada lagi tempat patilasan Kian Santang dengan makam istrinyayang bernama Nyai Emas Rantaijati. Penemuan "makam" Prabu Siliwangi ini terjadi tahun 1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Prabu Siliwangi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seperti diungkap Hj Netty Medina, ihwal makam itu adalah sebagai berikut. Suatu ketika, Prabu Siliwangi meninggalkan keratonnya. Ia diiringi para ksatria pengawalnya. Diantaranya Eyang Ki Santang, yang terkenal dengan julukan Gagaklumayung. Sang Praju juga diiringi Eyang Enjang Panadean Ukur, dan beberapa putranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sang Prabu bersama rombongan berangkat menuju ke arah timur. Rombongan melewati suatu daerah, yang sekarang bernama Cianjur. Lalu singgah di Pasir Pakuan, atau Desa Cikancana, Pacet, Cianjur. Pada masa itu keadaan sangat tidak aman. Maka dibuatlah sebuah siasat untuk mengelabui musuh. Yakni dengan membikin kuburan Prabu Siliwangi palsu. Kuburan itu diberinama pasarean Eyang Haji Jaya Pakuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah itu, sang Prabu meneruskan perjalanan seorang diri,t anpa pengawalan. Sampailah ia ke daerah laut selatan. Dis itulah Sang Prabu ngahiyang (menghilang). Sukma Sang Prabu jadi satu dengan kekuatan gaib yagn tidak bisa diraba, tapi hanya bisa dirasakan oleh sebuah keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Makam Dipindah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak ditemukan pertama kali, makam itu jarang didatangi lagi. Sebab lokasinya yang jauh dan sulit ditempuh dari rumah Hj Netty di Perkebunan Vada Cikalong Kulon saat itu. namun ketika beberapa tahun kemudian mengunjungi makam itu lagi, Hj Netty tak menemukan Abah Acing. Yang ada hanya sebuah wasiat dari orang tua itu, bahwa dirinya akan pulang ke rahmatullah. Alasannya, saat itu telah ada orang yang akan mengurus dan memelihara makam itu. yang dimaksud Abah Acing dalam wasiatnya, tak lain adalah Hj Netty Medina S. dan ternyata, menurut silsilah keluarga, Hj Netty masih termasuk keturunan ke-27 Raja Galuh, atau keturunan ke-9 dari Eyang Dalem RH Abdul Manf, yang makamnya terletak di Kampung Mahmud, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk memudahkan pemeliharaan dan kelestarian sejarah Pajajaran, pada 27 Oktober 1987, makam itu dipindah ke belakang pekarangan Hj Netty di Ciwidey. Pemindahan dilakukan dengan prosesi layaknya memindahkan makam secara Islami. Beberapa tokoh masyarakat di lereng Gunung Pangrango diundang. Yang dipindahkan hanyalah sejumput tanah dari atas makam keramat itu, lalu dimasukkan ke dalam peti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kini makam prabu Siliwangi terawat apik di Kampung Ngamprah Pasir Pari, Desa Nengkelan, ciwidey. Tempatnya berada persis di atas sebuah bukit yang indah. Untuk mencapai makam itu, harus menapaki beberapa anak tangga. Di atas pusaranya terdapat prasasti bertulis, "Sembah Eyang H Jaya Pakuan gelar Puun Prabu Seda Wali Sakti Hidayatulloh Siliwangi ngalih ti Kutaluhur Gunung Pnagrango Cianjur ka Ngamprah Pasir Pari Desa Nengkelan Kecamatan Ciwidey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak makam itu dipindah, banyak yang datang untuk ziarah. Mereka ingin melihat langsung keberadaan makam tersebut, dan tak sedikit pula yang punya maksud-maksud tertentu. Kejadian-kejadian aneh pun, kerap pula terjadi di situ. Misalnya suatu ketika, ia kedatangan tamu dari Jakartanya. Dia adalah seorang kontraktor. Ketika akan menaik tangga menuju makam, tiba-tiba ia terduduk dan bersimpuh. Seperti bergerak di luar kesadaran, ia berjalan mengengsod, layaknya seorang abdi kerajaan yang hendak megnhadap sang raja. Cara berjalan seperti itu terus dilakukan hingga mendekati makam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Orang-orang yang melihatnya, tentu merasa heran. Ketika ia sadar dan ditanya, katanya ia melihat seseorang berpakaian bak seorang raja di atas sana. Orang itu berdiri tegak, sangat anggun dan berwibawa. Konon, itulah adalah Prabu Siliwangi yang menampakkan diri. (habis) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-4493109118844362037?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/4493109118844362037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/wanita-peminta-makam-siliwangi-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/4493109118844362037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/4493109118844362037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/wanita-peminta-makam-siliwangi-3.html' title='Wanita Peminta Makam Siliwangi (3)'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopqKF_aF5I/AAAAAAAAAg0/Cr7i_JxpChQ/s72-c/HJ+NETTY+MEDIA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-6731460495287353568</id><published>2009-08-18T15:38:00.003+07:00</published><updated>2009-08-18T15:43:34.620+07:00</updated><title type='text'>Keramat Dayeuh Ciomas Majalengka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopo4EwaqYI/AAAAAAAAAgU/DgzqaJaGfX4/s1600-h/BUYUT+CIBUNTU-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopo4EwaqYI/AAAAAAAAAgU/DgzqaJaGfX4/s200/BUYUT+CIBUNTU-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371220818151516546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Kawasan Sukahaji Majalengka rupanya menyimpan rahasia mistis. Di sana tercecer kantung-kantung mistik dan keramat yang rutin dikunjungi para pencari berkah dari berbagai daerah. Sebut saja Buyut Cibuntu, Sumur Mas, Dangdeur Pugur, dan lain-lain tempat yang menawarkan harapan masa depan atas restu kekuatan alam gaib. Dangdeur Pugur, misalnya, diam-diam merupakan tempat berburu pesugihan. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lokasi yang satu ini lebih sering disebut-sebut para pengalap berkah dari berbagai daerah. Namanya Dangdeur Pugur. Letaknya disebuah kampung di Desa Ciomas, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka. Warga setempat, bahkan tak terlalu ambil peduli dengan kekuatan mistis yang diyakini bersemayam di tempat ini. Mereka cenderung cuek, atau bahkan nyaris tak banyak yang tahu akan daya tarik mistik yang tersembunyi. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa yang menghembuskan kabar keluar kawasan Ciomas soal daya tarik mistik tempat ini. Diduga keras, kabar itu berhembus dari mulut ke mulut. Dari satu peziarah ke peziarah lain. Dan seperti mendapat promosi gratisan, nama Dangdeur Pugur, sama halnya dengan Sirah Dayeuh Ciomas, menjadi terkenal namanya di kalangan pencari berkah. Bahkan Samsudin (50), seorang pengalap berkah dari Indramayu, sengaja datang ke Dayeuh Ciomas berdasar informasi seorang rekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tokoh Cina&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dangdeur Pugur adalah tempat keramat yang masih ada hubugannya dengan Sirah Dayeuh Ciomas, namun letaknya terpisah satu sama lain. Orang pasti tak akan menyangka lokasi ini menjadi ajang berburu pesugihan. Sebab selain letaknya di tengah perkampungan penduduk, posisinya persis di dekat sebuah surau. Namun, siapa sangka tempat ini menyimpan daya tarik mistik luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejarah daerah Ciomas, diyakini bertolak dari nama seorang tokoh yang dipusarakan di makam keramat yang ada di sini.  Ia adalah seorang Cina bernama Pak Cio. Menurut keterangan masyarakat di sana, asal muasal nama Desa Ciomas diambil dari nama tokoh ini. Suku kata “Cio” diambil dari nama Pak Cio, sedangkan suku kata “mas” diambil dari nama sumur Mas yang ada di kompleks keramat Buyut Cibuntu, Dayeuh Ciomas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mengapa nama Pak Cio diabadikan menjadi nama desa? Sebab dialah yang pertama kali membuka hutan Sukahaji dan menyulapnya menjadi perkampungan yang ramai. Secara fisik, Dangdeur Pugur mudah dikenali oleh menjulangnya sebuah pohon beringin yang berusia lebih dari seratus tahun. Akar-akar pohon yang menjuntai, menjadi ciri yang mudah ditebak. Nah, persis di bawah pohon beringin itulah makam Pak Cio berada. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, tak banyak yang menduga bila komplek Dangdeur Pugur ini kerap dijadikan ajang mencari pesugihan. Sebuah upaya memperoleh kekayaan melalui persekutuan dengan siluman penunggu pohon beringin.Menurut keterangan masyarakat, di tempat ini seringkali terlihat orang sedang melakukan tirakat. Ia duduk di sana berlama-lama, mulutnya komat kamit, dan kelakuan itu terus berlangsung hingga tengah malam. Esoknya, orang ini tak terlihat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seperti sudah maklum, masyarakat di sana tak ambil pusing dengan berbagai kelakuan para peziarah. Mereka amat toleransi dan menganggap itu merupakan bagian dari keyakinan orang lain. Toh, selama ini kampung tak ada gangguan oleh kedatangan ramainya para peziarah. Yang terjadi justru sebaliknya, kampung menjadi ramai dan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Siluman pesugihan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagdja Mulia, seorang spiritualis yang kerap mengantar peziarah asal Sumedang, menceritakan bila tempat ini memang biasa digunakan sebagai sarana mencari pesugihan. Mulanya, orang yang datang ke sini hanya sekadar bertawasul, setelah itu pulang lagi. Namun entah sejak kapan ada orang mencari pesugihan di tempat ini. “Karena itulah peziarah harus hati-hati, jangan terjebak dengan siluman pesugihan,” Bagdja Mulia mewanti-wanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagdja menduga, siluman pesugihan yang kerap muncul dalam berbagai wujud itu bersemayam di pohon beringin di samping makam Pak Cio. Orang yang batinnya lemah dan tak kuat iman, akan mudah terseret dalam transaksi gaib dengan siluman itu. Bagdja sendiri pernah membuktikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoppBjF4k_I/AAAAAAAAAgc/bUdOLRUbB8I/s1600-h/BUYUT+CIBUNTU-2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoppBjF4k_I/AAAAAAAAAgc/bUdOLRUbB8I/s200/BUYUT+CIBUNTU-2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371220980913443826" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu hari, Bagdja Mulia datang ke Dangdeur Pugur untuk melakukan tirakat. Tepat tengah malam, saat bersemadi, tiba-tiba dihadapannya muncul seorang wanita cantik. Mata batin Bagdja yang sudah terasah, langsung merasakan getaran negative yang ditebar wanita ini. Ia tak lain adalah siluman yang menjelma menjadi menjadi wanita dan hendak menggoda dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benar saja, tak lama setelah kemunculannya yang mendadak, wanita cantik itu bertanya dengan lemah lembut. “Apa yang kamu inginkan?” Tanya si wanita ke arah Bagdja, yang kemudian dijawab tak menginginkan apa-apa, melainkan hanya ingin mendoakan ahli kubur dan mendapat barokah dari Yang Maha Kuasa. Mendapat jawaban itu, mahluk berwujud wanita cantik itu segera menghilang entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bagdja, trik-trik siluman pesugihan menggaet sasarannya bermacam-macam. Orang yang batinnya lemah, saat melakukan tirakat pasti akan didatangi dalam berbagai wujud. Bila ia seorang lelaki, siluman yang muncul akan berwujud perempuan cantik jelita. Bila orang tua yang tirakat, yang muncul adalah suara gaib seolah-olah petunjuk atau wangsit. “Padahal semua itu adalah tipu daya siluman. Hati-hatilah,” tandas Bagdja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut penuturan para peziarah yang ditemui posmo di Dayeuh Ciomas, keramat Dangdeur Pugur memang sering dijadikan arena mencari pesugihan. Akan tetapi, karena syarat atau tumbalnya sering berupa penderitaan diri pemohon, maka banyak orang yang menolak bersekutu dengan siluman Dangdeur Pugur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olot (45), peziarah asal Cirebon misalnya, pernah didatangi seseorang yang menawarkan kekayaan. Mulanya saya merasa yakin dan tertarik ajakan dia. Maklumlah, selama ini kesulitan ekonomi tengah menghimpit Olot. “Tapi karena dia minta agar saya mau menjadi pengemis selama tiga bulan, maka permintaannya saya tolak. Biar miskin saya masih punya harga diri,” tegas Olot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mak Oyah (63), istri kuncen Dayeuh Ciomas yang juga mengelola keramat Dangdeur Pugur, mengatakan bila Dangdeur Pugur bukan tempat untuk mencari pesugihan. Yang benar adalah tempat bertawasul kepada Yang Maha Kuasa agar permohonannya diijabah. “Hanya saja doanya dilakukan di makam Babah Cio. Sebenarnya doa itu bisa dikirim dari sini (Dayeuh Ciomas),” tutur Mak Oyah.&lt;br /&gt; Tapi Mak Oyah tidak menampik kemungkinan tersebut. Sebab semua itu diserahkan kepada orang yang menginginkannya. “Kalau jalan melalui pesugihan yang ingin ditempuh, silakan saja. Asalkan dia sanggup menanggung segala akibatnya,” ungkap wanita yang selalu setia menemani Wirta (75), suaminya yang bertugas sebagai kuncen Dayeuh ciomas itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mak Oyah menjelaskan bila keramat Ciomas sebenarnya menolak dimintai hal-hal tidak benar. Jangankan minta pesugihan, orang yang memohon mendapatkan nomor jitu untuk permainan judi togel saja ditolak. “Di sini tempat memohon kehidupan lebih baik dengan cara yang baik,” katanya seraya menyerahkan semuanya kepada Yang Di Atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Dijaga Khodam Harimau Putih&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Di kompleks Dayeuh Ciomas terdapat beberapa makam, tiga bongkah batu, dua sumur, serta sebuah pancoran yang semuanya dikeramatkan. Tak boleh main-main dan anggap enteng tempat-tempat itu, bila ingin masa depannya terang. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuju kompleks Sirah Dayeuh Ciomas, orang harus berjuang ekstra keras. Pertama, ia harus melalui pematang sawah sejauh kurang lebih 2 km. Dan kedua, ia harus rela turun naik perbukitan dengan jalan berbatu yang jarak tempuhnya kurang 2 km. Meski medan berat, anehnya, setiap hari puluhan orang datang ke Dayeuh Ciomas. Medan berat tak menyurutkan langkah-langkah para peziarah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang datang ke tempat ini pun beragam. Rata-rata berasal dari luar Majalengka, seperti Bandung, Sumedang, Cirebon, Kuningan, bahkan Jakarta dan daerah Jawa Tengah. Tiap hari, ada saja yang datang ke tempat ini memohon berkahnya. Dan pulangnya, mereka selalu membawa botol minuman kemasan yang berisi air dari Sumur Mas, Sumur Cikajayaan dan Pancuran Cikahuripan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Buyut Cibuntu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirah Dayeuh Ciomas kerap pula disebut keramat Buyut Cibuntu. Tempat ini memang terkenal karena kabar dari mulut ke mulut. Akan tetapi, banyak peziarah tak ambil pusing yang mana makam Buyut Cibuntu dan mana makam Nyi Ciptarasa. Orang kerap kali terkecoh dengan makam Nyi Ciptarasa yang letaknya lebih nyaman dan terletak dalam sebuah bangunan permanen. Makam inilah yang justru lebih banyak diziarahi. Selain itu, di dekat makam Nyi Ciptarasa terdapat tiga sumur keramat dan batu Panayogian Rizki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Siapa sebenarnya Buyut Cibuntu yang terkenal itu? Beliau adalah orang yang berjasa membuka areal perkampungan ketika masih berbentuk hutan belantara. Hanya saja, tak ada catatan apa hubungannya dengan Pak Cio, orang Cina yang juga membuka perkampungan Ciomas. Akan tetapi, dalam perkembangannya, dua tokoh ini memang amat disegani dan makamnya selalu ramai diziarahi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makam Buyut Cibuntu terletak di lereng atas bukit Cibuntu. Nama aslinya adalah Raden Brasma, yang juga kerap disebut Raden Semar. Yang bertanda ke tempat ini umumnya adalah mereka yang terjerat berbagai pelik dalam hidupnya. Semisal tengah dililit perkara hukum, sampai problem utang piutang. Namun, tidak sedikit pula yang meminta aji pengasih dan penglarisan untuk usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hanya saja, para peziarah jarang mengunjungi makam Buyut Cibuntu. Sebab selain medannya lebih berat, hampir berada di puncak bukit, jalannya juga terjal dan licin bila hujan turun. Karena itulah Wirta, kuncen Buyut Cibuntu, menyarankan agar doa dilantunkan di sisi pusara Nyi Ciptarasa yang tempatnya berada di dalam sebuah bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut cerita yang berkembang, makam Buyut Cibuntu paling dikeramatkan diantara tempat keramat yang ada di Sukahaji. Selain karena menuju ke lokasi yang sulit, makam Mbah Buyut Cibuntu juga dijaga harimau putih gaib. Harimau ini memang tak kasat mata dan juga tak pernah mengganggu manusia. Namun bagi mereka yang awas batin, pasti dapat melihat kehadiran harimau tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tanah dari makam Mbah Raden Brasma atau Buyut Cibuntu ini sering diambil oleh Wirta tiap hari Jumat kliwon. Tanah itu lalu dimasukkan ke dalam bungkusan-bungkusan kecil oleh Mak Oyah, sang istri, untuk di bawa pulang oleh peziarah. Konon, bila tanah itu ditaburkan di sekitar rumah bisa menangkal segala macam balak seperti serangan santet, teluh dan guna-guna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumur Keramat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di halaman bangunan makam Nyi Ciptarasa, terdapat dua buah sumur dan sebuah pancoran yang sangat dikeramatkan baik oleh masyarakat setempat, maupun para peziarah. Ketiga sumur ini berusia ratusan tahun. Menurut Wirta, sebelum dirinya lahir, sumur itu sudah ada. Bahkan jauh sebelum kakek dan neneknya lahir. Anehnya, meski tak seberapa dalam, bahkan saat musim kemarau panjang sekalipun, air sumur ini tak pernah kering. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopphUTeSrI/AAAAAAAAAgs/15rme3PWEmc/s1600-h/BUYUT+CIBUNTU-5.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopphUTeSrI/AAAAAAAAAgs/15rme3PWEmc/s200/BUYUT+CIBUNTU-5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371221526699723442" /&gt;&lt;/a&gt;Karena posisinya tidak dalam, siapa pun yang menginginkan air ini bisa langsung mengambilnya dengan cara menciduk. Konon, air sumur ini memiliki banyak khasiat sesuai dengan namanya masing-masing. Sumur yang letaknya disebelah barat di sebut Sumur Cikajayaan. Sumur ini dipercaya bisa memberikan kejayaan bagi pemakainya. Para peziarah Dayeuh Ciomas, selalu menyempatkan diri mandi di sumur ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, di sebelah sumur ini tampak berserakan uang receh dan lembaran uang kertas ribuan, yang bercampur dengan aneka bunga. Rupanya, setelah mandi, orang selalu menaruh uang dan bunga-bungaan di situ. Tak jelas apa maksudnya. Kabarnya, cara itu dilakukan agar keinginannya mendapatkan kejayaan dalam hidup lekas tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sejarahnya, sumur Cikajayaan ini dibuat oleh pendiri atau pembuka daerah Ciomas ratusan tahun silam. Tujuannya untuk mendapatkan sukses dan kejayaan dalam hidup. Semasa jaman perjuangan kemerdekaan, banyak para pejuang yang datang dan meminum air sumur ini sebelum maju ke medan perang. Tujuannya untuk mendapatkan kemenangan dalam pertempuran. Sampai sekarang sumur ni masih diyakini memiliki tuah. Itu sebabnya banyak pengunjung yang datang dari jauh ke sini hanya untuk mandi atau mengambil airnya dalam botol untuk dibawa pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumur Cikajayaan konon sangat manjur untuk sinden dan calon artis. Tidak heran bila para peziarah kerap terpesona oleh gadis-gadis yang mandi di sumur Cikajayaan. Mereka rata-rata berwajah manis dan bersuara bagus. Maklum, calon artis dan sinden. Nah, beberapa tiga meter dari sumur Cikajayaan terdapat sebuah sumur yang aneh bin ajaib. Orang menyebutnya Sumur Mas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengherankan, warna air sumur ini berwarna kuning keemasan. Benda apapun yang jatuh ke dalam sumur ini, akan tampak berwarna kekuning-kuningan, persis seperti warna emas. Menurut cerita, dulu Nyi Ciptarasa pernah kehilangan sebuah perhiasan terbuat dari emas. Dicari kemana-mana tidak ditemukan. Suatu hari, terdengar suara gaib yang mengatakan bahwa perhiasan itu di salah satu sumur dan larut bersama air itu. Setelah dilihat, ternyata ada sebuah sumur yang airnya berwarna kuning keemasan. Air sumur ini konon manjur untuk pengasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lainnya adalah air pancur Cikahuripan (kehidupan). Air pancuran ini bersumber dari mata air yang dialirkan melalui pipa. Beberapa peziarah sering terlihat antri untuk mengambil airnya. Air ini diyakini memiliki macam-macam tuah yang intinya adalah membawa berkah untuk kehidupan di masa yang akan datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menrutu kuncen Wirta, pemakaian air dari dua sumur dan pancoran ini berbeda satu sama lain. Air sumur Cikajayaan, haru dibawa pulang. Sebab menurut kepercayaan, air sumur itu akan memiliki tuah bila dipakai di rumah masing-masing. Pada jaman perang kemerdekaan dulu, air ini sering digunakan untuk membasuh luka para prajurit. Tak berapa lama ia mengalami kesembuhan. Begitu juga prajurit yang turun mentalnya, setelah dipercik air ini, semangatnya timbul kembali. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Tiga Batu Penentu Rejeki&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tiga bongkah batu berbeda ukuran tergeletak persis di beranda depan bangunan maam Nyi Ciptarasa. Meski ukurannya berbeda, tapi tak sembarang orang bisa mengangkatnya. Inilah batu yang disebut panayogian rizki atau penentu kerejekian. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoppRLVEqMI/AAAAAAAAAgk/fFdJ5nnUCu8/s1600-h/BUYUT+CIBUNTU-4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 159px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoppRLVEqMI/AAAAAAAAAgk/fFdJ5nnUCu8/s200/BUYUT+CIBUNTU-4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371221249412606146" /&gt;&lt;/a&gt;Tiga bongkah batu ini berwarna hitam legam, dengan alas batu pula. Menurut catatan, benda ini merupakan peninggalan sejarah purbakala yang dilindungi oleh undang-undang. Sayangnya, tak ada penjelasan resmi asal usul batu dan sejak kapan berada di lokasi itu. Juga tak ada keterangan dimanfaatkan untuk batu ini oleh manusia jaman purba. Yang pasti, dari segi ukuran, batu ini amat menarik hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukurannya berbeda dan posisinya berurutan mulai yang besar di sebelah kiri sampai terkecil di sebelah kanan. Menurut Wirta, ketiga batu ini disebut panayogian rizki yang dalam bahasa Indonesia berarti batu penentu rejeki. Maksudnya, siapa orang yang sanggup mengangkat batu itu, maka rejekinya akan lancar. Dan siapa yang tidak sanggup mengangkatnya, rejekinya akan seret. Ternyata, banyak pengunjung yang berhasil mengangkat batu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, ukuran bobot batu ini tak bisa ditentukan. Sebab batu paling besar yang diperkirakan seberat 50 kg, bisa saja bagaikan seberat 10 kg bila diangkat orang. Artinya, orang bertubuh kecil dan kurus pun, bisa saja mengangkat batu ini dengan mudah. “Itu semua kebesaran Tuhan. Melalui batu ini diperkirakan rejeki seseorang,” tutur Wirta kepada posmo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, sebongkah batu kecil bisa saja berbobot puluhan kilo bila diangkat. Itulah penentu kerejekian. Penuh dengan misteri dan tak bisa dinalar dengan akal sehat. Hanya saja, ada syarat saat mengangkat batu ini. Yaitu tidak boleh menimbulkan bunyi setelah diangkat. Sebab bila menimbulkan bunyi berdegum karena beratnya, maka peruntungan rizkinya musnah. Wallahu alam bissawab. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-6731460495287353568?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/6731460495287353568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/keramat-dayeuh-ciomas-majalengka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6731460495287353568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6731460495287353568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/keramat-dayeuh-ciomas-majalengka.html' title='Keramat Dayeuh Ciomas Majalengka'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopo4EwaqYI/AAAAAAAAAgU/DgzqaJaGfX4/s72-c/BUYUT+CIBUNTU-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-3927593230686618220</id><published>2009-08-18T15:35:00.003+07:00</published><updated>2009-08-18T15:38:14.434+07:00</updated><title type='text'>Tradisi Panjang Jimat Cirebon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopoG1736DI/AAAAAAAAAf8/3Hs72AANexI/s1600-h/PANJANG+JIMAT1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 123px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopoG1736DI/AAAAAAAAAf8/3Hs72AANexI/s200/PANJANG+JIMAT1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371219972359448626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Panjang Jimat merupakan ritual melestarikan dan merawat jimat yang berupa kalimat syahadat. Panjang Jimat dilaksanakan bertepatan dengan maulud Nabi Muhammad, dan menjadi sarana pengingat lahirnya Nabi Muhammad, serta ajaran-ajarannya. Upacara ini sarat makna dan selalu diserbu ratusan ribu hadirin. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana malam itu begitu khidmat. Ribuan warga Cirebon memenuhi empat telatah bersejarah dan sakral dalam perjalanan syiar Islam di kawasan Cirebon. Prosesi Panjang Jimat rutin dilakukan setiap 12 Rabiul awal, yang menjadi puncak atau pelal peringatan maulud Nabi Muhammad saw, yang sarat makna dan selalu dijubeli ratusan ribu massa. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, telah dilakukan ritual pencucian beragam jimat atau benda-benda pusaka peninggalan leluhur Cirebon. Biasanya, air bekas mencuci ini kerap diburu masyarakat. Konon, air bercampur kembang setaman bekas mencuci Gong Sekati di Masjid Agung Kanoman, misalnya, diyakini bisa membawa keberkahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan, tradisi pelal Panjang Jimat ini telah dilaksanakan lebih dari 6 abad. Pelaksanaannya dilakukan di empat tempat yang menjadi peninggalan dari Sunan Gunung Djati. Antara lain, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton kacirebonan dan Kompleks makam Syekh Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, pendiri kasultanan Cirebon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, acara ini tak hanya dihadiri oleh ribuan warga Cirebon, tapi juga masyarakat dari luar seperti Majalengka, Indramayu, Kuningan, Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis, Bandung, bahkan dari daerah Tegal, Brebes, Pekalongan, Semarang, Jakarta dan Banten. Dari keempat tempat ritual itu, yang paling banyak dihadiri pengunjung adalah Keraton Kasepuhan dan Kanoman. Di Keraton Kasepuhan, pelal Panjang Jimat dipimpin langsung oleh Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadinignrat, SE, yang merupakan putra mahkota Sultan Kasepuhan XIII, Dr H Maulana Pakuningrat, SH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di Keraton Kanoman, upacara dipimpin Pangeran Raja Muhammad (PRM) Emiruddin dan Patih Pangeran Qodiran untuk mengawal prosesi arak-arakan Nasi Jimat dari Bangsal Jinem ke Masjid Agung Kanoman. Kepemimpinan Emirudin menjadi semacam penegasan sebagai Sultan Kanoman XII pengganti Pangeran Raja Mohammad Djalaluddin, Sultan Kanoman XI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ritual Keramat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Prosesi Panjang Jimat diantaranya berisi arak-arakan nasi tujuh rupa atau Nasi Jimat yang melambangkan hari kelahiran manusia dari Bangsal Jinem yagn merupakan tempat sultan bertahta ke masjid atau mushala keraton. Nasi Jimat itu diarak dengan pengawalan 200 barisan abdi dalem yang membawa symbol-simbol. Barisan pertama adalah pembawa lilin, yang bermakna penerang. Lalu iring-iringan pembawa perangkat upacara seperti manggaran, nadan dan jantungan, yang melambangkan kebesaran dan keagungan. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopoNvKC1DI/AAAAAAAAAgE/PsLSAx01ZHI/s1600-h/PANJANG+JIMAT3.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 197px; height: 151px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopoNvKC1DI/AAAAAAAAAgE/PsLSAx01ZHI/s200/PANJANG+JIMAT3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371220090798920754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selanjutnya, berturut-turut iringan pembawa air mawar dan kembang goyang, perlambang air ketuban sebelum lahirnya jabang bayi dan usus atau ari-ari yang mengakhiri kelahiran. Kemudian iring-iringan pembawa air serbat yagn disimpan di 2 guci yang melambangkan darah saat bayi dilahirkan. Kemudian 4 baki yang menjadi lambing 4 unsur yang ada dalam diri manusia, yakni angin, tanah, api dan air.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah iring-iringan pengawal lengkap berkumpul di Bangsal Purbayaksa, putra Mahkota PRA Arief atas izin Sultan Kasepuhan, memimpin arak-arakan menuju Langgar Agung sejauh 100 meter. Arak-arakan yang keluar dari Bangsal Purbayaksa disambut di luar keraton oleh pengawal pembawa obor. Ini merupakan perlambang Abu Thalib, paman nabi menyambut kelahiran bayi Muhammad pada malam hari yang kemudian menjadi manusia agung.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Arak-arakan ini menuju Langgar Agung (mushala). Di sana, Nasi Jimat Tujuh Rupa itu dibuka berikut sajian makanan lain termasuk makanan yang disimpan dalam 38 buah piring pusaka. Piring pusaka ini dikenal amat bersejarah dan paling dikeramatkan karena merupakan peninggalan Sunan Gunung Djati, dan berusia lebih dari 6 abad. Di Langgar Agung ini dilakukan shalawatan serta pengajian kitab Barjanzi hingga tengah malam. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengajian dipimpin imam Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan. Setelah itu makanan tadi disantan bersama-sama. Di sinilah kejadian unik berlaku. Rakyat yang berjubel-jubel di luar masjid, berusaha berebutan menyalami atau sekadar menyentuh tangan PRA Arief, Sultan Kasepuhan. Dalam keyakinan masyarakat, bila berhasil menyentuh calon Sultan tersebut, maka ia akan mendapatkan berkah dalam kehidupannya. Tak heran bila PRA Arief mendapat pengawalan ketat dari pengawal keraton. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ngalap Berkah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopoYhSO-jI/AAAAAAAAAgM/5O-z0-ltnmM/s1600-h/PANJANG+JIMAT4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 197px; height: 135px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopoYhSO-jI/AAAAAAAAAgM/5O-z0-ltnmM/s200/PANJANG+JIMAT4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371220276053735986" /&gt;&lt;/a&gt;Menurut keterangan, peringatan maulud Nabi Muhammad saw merupakan warisan dari kalifah Sholahuddin Al Ayubi, sekitar 700 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad. Sholahuddin selalu merayakan maulud dengan berbagai upacara yagn berlangsung amrak. Tujuannya agar umat muslim selalu ingat dan meneladani Muhammad. Di Cirebon, Pangeran Cakrabuana mengadopsi perayaan itu dan disesuaikan dengan adapt dan istiadat setempat. Dan sampai sekarang dikenallah apa yang disebut upacara Panjang Jimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di Keraton Kanoman, sejak 17 April atau 7 Rabiul Awal, Gamelan Saketi (Sekaten) yang merupakan peninggalan Sunan Gunung Djati ditabuh diiringi shalawat dan puji-pujian karya Sunan Kalijaga “Lir Ilir”. Gamelan Sekati juga mengiringi prosesi Panjang Jimat.  Akhir upacara, dilakukan prosesi “Buang Takir”, dimana gamelan yang selama 5 hari ditabuh, akan diistirahatkan dan ditabuh lagi pada upacara Panjang Jimat tahun depan. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-3927593230686618220?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/3927593230686618220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/tradisi-panjang-jimat-cirebon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/3927593230686618220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/3927593230686618220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/tradisi-panjang-jimat-cirebon.html' title='Tradisi Panjang Jimat Cirebon'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopoG1736DI/AAAAAAAAAf8/3Hs72AANexI/s72-c/PANJANG+JIMAT1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-1881381155838993235</id><published>2009-08-18T15:28:00.006+07:00</published><updated>2009-08-18T15:34:48.499+07:00</updated><title type='text'>Big Foot Muncul di Gunung Papandayan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopme6PmtNI/AAAAAAAAAfM/UZQBOulpsQo/s1600-h/big+foo-2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopme6PmtNI/AAAAAAAAAfM/UZQBOulpsQo/s200/big+foo-2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371218186809554130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Sepekan terakhir ini warga Garut, Jawa Barat, dihebohkan penampakan tapak kaki raksasa (Bigfoot) di lereng Gunung Papandayan. Banyak yang menduga bila di lereng gunung berapi itu ada penghuninya dari golongan buta (raksasa). Sebab tak sedikit warga di sana bertutur kerap melihat penampakan si Jangkung alias mahluk tinggi besar. Inilah penelusuran posmo di lokasi penampakan. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis pagi, akhir November 2006, Ahmudin berlari tergopoh-gopoh dari arah lereng Gunung Papandayan. Mimik wajahnya memperlihatkan ketakutan dan rasa cemas. Kelakuan lelaki berusia 60 tahun itu membuat warga Dusun Stamplat, Desa Panawa, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut, itu tentu saja memancing keheranan warga. Beberapa warga menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapak Raksasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmudin adalah pria beranak enam, warga RT 04 RW 07 Dusun Stamplat, yang memiliki sepetak kebun di lereng Gunung Papandayan. Jarak kebunnya dengan perkampungan penduduk mencapai 2 km, dengan posisi kemiringan mencapai 30-40 derajat. Tak heran bila Mang Udin, begitu warga di sana menyapanya, kerap tidur di kebun hingga sepekan lamanya. Setelah perbekalan habis, ia kembali ke kampung dan kemudian balik lagi ke ladang. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopmpR8AGUI/AAAAAAAAAfU/Kb7GzrJOgT8/s1600-h/big+foo-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopmpR8AGUI/AAAAAAAAAfU/Kb7GzrJOgT8/s200/big+foo-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371218364968474946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Kamis pagi itu, Ahmudin terbangun dari gubuknya di pinggir ladang. Atap gubuk, dedaunan dan tanah tampak basah oleh embun dan hujan rintik semalam. Kontur tanah ladang yang berkemiringan mencapai 40 derajat itu membuat luas pandangan ke atas dan arah bawah tampak leluasa. Saat mata menyisir areal kebun miliknya, ia terkejut melihat tapak-tapak kaki yang aneh dan janggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, telapak kaki mirip manusia itu berukuran tidak normal. Selain jarak tapak kaki yang satu dengan lainnya sangat lebar, ukurannya juga besar. Dan tentu saja, siapa pun yang berpikiran normal, akan langsung mengatakan bila itu adalah tapak buta atau raksasa. Tapak kaki itu tercecer dari arah lereng gunung atas menuju ke bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopm3ic5Y_I/AAAAAAAAAfc/ESpF6xDBfvU/s1600-h/big+foo-3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopm3ic5Y_I/AAAAAAAAAfc/ESpF6xDBfvU/s200/big+foo-3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371218609919583218" /&gt;&lt;/a&gt;Kenyataan itu membuat bulu kuduknya spontan merinding. Tapi karena penasaran, Udin mencoba menelusuri jejak kaki itu dari atas ke bawah. Ia menghitung terdapat sekitar 49 telapak kaki yang berukuran besar. Anehnya, tapak kaki itu menghilang persis dekat sebuah kolam berukuran 4 x 6 meter. Tak jelas apakah mahluk itu masuk ke dalam kolam itu, atau melompatinya. Yang pasti, tapak itu tak ditemukan lagi di seberang kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mang Udin yang sudah belasan tahun membuka kebun di areal milik Perhutani petak 119 HA/12 H, Blok Cagarburung, itu langsung panik. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera ambil langkah seribu. Udin berniat melaporkan penemuannya kepada warga kampung. Tak kurang dari sejam, warga Kampung Stamplat, Desa Panawa, berbondong-bondong melihat tapak kaki raksasa itu. Gegerlah desa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengundang Perhatian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kabar penampakan tapak kaki raksasa yang oleh masyarakat luas disebut Bigfoot itu, dalam waktu singkat, telah menembus batas-batas desa yang hanya bisa dicapai melalui jalan darat dalam kondisi berbatu dan memprihatinkan. Kini hampir sebagian besar warga Garut dan Jawa Barat mengetahui kabar tersebut. Banyak yang penasaran datang langsung ke lokasi penampakan, tapi tak sedikit yang cukup hanya mendengar cerita, karena sulitnya mencapai lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rasa penasaran pun melanda para pejabat pemda setempat. Mulai dari kepala desa di sekitar kecamatan Pamulihan, camat, sampai pejabat humas Pemkab Garut, turun ke lapangan. Minggu (26/11), Kabag Humas Setda Garut Drs Dikdik Hendrajaya, M.Si, sengaja datang bersama Camat Pamulihan Drs Firman Karyadin, Kepala Desa Panawa Dudih, dan masyarakat, ramai-ramai melihat kebenaran penampakan tapak raksasa itu. Dan mereka merasa takjub dengan apa yang dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meski demikian, banyak yang bertanya-tanya soal kebenaran pemilik tapak kaki buta itu. Banyak warga yang mengusulkan agar pemda membentuk tim khusus untuk menelusuri kebenaran penemuan itu. Namun tidak sedikit yang sebaiknya tidak usah dibesar-besarkan, dan menganggap itu sebagai kejadian alamiah dan pasrah atas kehendak Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah melalui penelitian, ditemukan setidaknya 49 jejak Bigfot. Panjang tapak kaki tersebut mencapai 40-46 cm dengan lebar 17-18 cm dan berkedalaman 3 - 5 cm. Panjang tapak ibu jarinya mencapai 9 cm dengan lebar 7 cm. Sedangkan jarak satu tapak kaki dengan tapak kaki lainnya berkisar antara 145 cm hingga 245 cm. Bila dilihat dari posisinya, seluruh tapak kaki itu mengarah ke bawah, sehingga diduga mahluk raksasa itu berjalan dari lereng gunung mengarah ke perkampungan warga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapak Gaib&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berhari-hari, penampakan tapak raksasa di lereng Gunung Papandayan itu menjadi buah bibir masyarakat. Banyak yang menduga tapak kaki itu merupakan tapak kaki mahluk gaib penghuni kawasan Papandayan. Ada juga yang menyebut sebagai tapak binatang mirip kera semacam gorila. Tapi tidak sedikit pula yang berspekulasi bila tapak itu milik manusia raksasa yang selama ini misterius dan menghuni hutan Gunung Papandayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari berbagai tanggapan atas tapak raksasa itu, sebenarnya warga Stamplat tidak terlalu merasa terkejut dengan kenyataan tersebut. Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya di tahun 2005, seorang warga bernama Entin (45), bahkan pernah melihat sendiri dengan jelas sosok mahluk tinggi besar berbulu hitam. Dalam jarak kurang lebih 30 meter, Entin melihat mahluk itu tengah berjalan di kebun miliknya, di lereng Papandayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Entin sempat shock dengan apa yang dilihatnya. Ia segera memberitahu sang suami dan para tetangga. Sayang, mahluk itu dengan cepat menghilang dan tak meninggalkan jejak. Kabar penampakan mahluk raksasa inipun merebak ke seantero kampung. Entin memperkirakan mahluk itu memiliki ketinggian 3 meter, berbulu hitam dan jalannya agak membungkuk. Tapi Entin tak melihat bagian depan wajah mahluk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Entin, seorang ibu rumah tangga bernama Eti Supandi (42), warga RT 03 RW 07 Dusun Stamplat, mengaku pernah menyaksikan hal serupa. Kejadiannya tahun 1999, pada malam hari sekitar pukul 23.00 WIB. Kala itu, Eti hendak menutup kain gordin jendela kaca rumahnya yang posisinya menghadap ke tanah lapang. Maklum, malam sudah larut dan ia akan segera tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sengaja matanya melihat ke luar rumah yang waktu itu tampak terang oleh cahaya rembulan. Tiba-tiba saja pada jarak sekitar 20 meter dari rumahnya, ia menyaksikan sosok hitam, tinggi besar, sedang berjalan menuju rimbunan pohon-pohon pinus. Seakan tidak percaya dengan apa yang dipandangnya, Eti menggosok-gosok mata. Ternyata memang benar, sosok setinggi hampir 3 meter itu benar adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok paginya, Eti mendatangi tempat munculnya sosok hitam itu bersama seorang tetangga. Benar saja, di tempat itu terlihat ada semacam telapak kaki berukuran besar. Namun sayang tapak tidak terlalu jelas karena kondisi tanah yang kering dan keras akibat lama tidak hujan. Bahkan ia sempat meminta tetangganya itu untuk memberi tanda tapak kaki itu. Eti lantas menyebutnya si Jangkung, dan sejak itu tidak pernah melihatnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadan Jarot (21), juga warga dusun Stamplat, pernah dengar cerita sehubungan dengan tapak raksasa itu. Seorang warga bernama Rohman, suatu hari sedang melihat tapak raksasa. Setelah itu dia hendak merokok. Setelah itu mengambil korek gas untuk menyalakan. Anehnya, korek itu tidak bisa hidup. Kejadian ini juga dialami rekan-rekannya yang lain. Akhirnya tak ada seorang pun yang merokok. ”Tapi setelah sampai di bawah (di kampung, red), mereka bisa menghidupkan rokok seperti biasa. Memang aneh,” ujar Dadan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Daerah Pewayangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Spekulasi seputar penampakan tapak raksasa di lereng Gunung Papandayan terus berputar. Menurut cerita orang-orang tua di kawasan Desa Panawa, kemunculan mahluk raksasa itu sebenarnya tidak perlu diributkan. Sebab hal tersebut akan terjadi setiap 50 tahun sekali. Boleh dikata, kemunculan mahluk raksasa itu merupakan siklus 50 tahunan. ”Sebelumnya pernah terjadi penampakan seperti ini tahun 1955,” kata Ade Suhara, Ketua Rukun Kampung Pasir Lenggut, Desa Panawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut dia, kawasan Pamulihan memang unik. Di lihat dari nama dusun dan desanya saja, asumsi orang sudah mengarah pada satu hal. Cobalah simak nama-nama seperti Desa Panawa atau Pandawa. Juga ada nama Desa Arjuna dan Desa Srikandi. Nama yang berhubungan dengan dunia pewayangan itu, kata Ade Suhara, adalah peninggalan dari nenek moyang mereka. Bila ditilik secara mendalam, tentu ada makna dan latarbelakangsejarahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dari segi lokasi, desa-desa di kaki lereng Gunung Papandayan itu sangat sulit ditempuh melalui jalan darat. Sarana transportasi darat kondisinya sangat sulit, berkelok-kelok, berbatu dan rawan longsor. Alat transportasi umum pun hanya tiga buah dan tripnya sehari sekali. Tidak heran bila kampung-kampung di kawasan Pamulihan bagaikan terisolasi. Pendeknya, tiga kata menerangkan kawasan itu: gunung, hutan dan perkebunan. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Eti Supandi (42), Warga Stamplat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada tapak raksasa itu bukan barang aneh bagi orang sini. Sebab banyak yang pernah lihat baik wujudnya ataupun tinggalannya dari dulu. Hanya ceritanya jarang dibesar-besarkan dan menyebar dari mulut kemulut di dalam kampung saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopnGPWNAFI/AAAAAAAAAfk/M-PSCsbqrKk/s1600-h/eti+supandi+(warga)1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopnGPWNAFI/AAAAAAAAAfk/M-PSCsbqrKk/s200/eti+supandi+(warga)1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371218862489272402" /&gt;&lt;/a&gt;Beberapa orang warga sini ada yang pernah lihat wujudnya, atau tapaknya saja. Saya yakin itu tapak Si Jangkung. Sebab tahun 1999 saya pernah lihat Si Jangkung di depan rumah saya, terus masuk ke hutan pinus di pinggir lapangan. Kejadiannya malam jam sebelas, dan pagi-pagi saya lihat tempat itu ada bekas tapak kakinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat sepintas, dia mirip manusia. Tapi karena tingginya sampai tiga meter, dan warnanya hitam, saya kira dia bukan manusia. Mungkin raksasa atau mahluk seperti monyet besar. Biarpun pernah muncul hal-hal seperti itu, atau cerita-ceritanya, tapi warga di sini aman-aman saja. Mereka tidak pernah terusik atau terganggu, bahkan tidak ada laporan warga yang pernah diganggu oleh mahluk aneh. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ahmudin (60), Penemu Tapak Big Foot &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak punya firasat apa-apa kebun saya dilewati mahluk raksasa. Saya sudah cek semuanya ada 49 tapak dari atas ke bawah sepanjang kurang lebih 150 meter. Saya sangat yakin ini bukan ulah manusia. Tapi sejak malamnya saya tidak mendengar suara apapun. Ini aneh.  &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopnVAaT-jI/AAAAAAAAAfs/plUZOxhejx4/s1600-h/ahmudin+(penemu+tapak+bigfoot)1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 152px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopnVAaT-jI/AAAAAAAAAfs/plUZOxhejx4/s200/ahmudin+(penemu+tapak+bigfoot)1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371219116178012722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, hal-hal aneh muncul setelah penemuan tapak raksasa ini. Beberapa kali saya seperti bermimpi di datangi mahluk tinggi berbulu hitam. Kejadian lebih jelas waktu tanggal 28 November jam 5 sore, sepulang dari kebun. Karena sering mimpi didatangi mahluk hitam, saya mencoba minta agar kalau mahluk itu memang benar adanya, tolong menampakkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya, saya didatangi mahluk berbulu hitam itu. Ia mengaku bernama Suna, sedang numpang lewat mau cari makan buat istrinya yang sedang hamil. Nama istrinya adalah Neri, dari golongan manusia tapi tubuhnya tinggi. Wajahnya cantik bermahkota, mengenakan baju kebaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya kedatangan mahluk itu begitu singkat, tapi saya jelas-jelas dalam keadaan sadar dan bukan mimpi. Di akhir pertemuan dengan mahluk itu, saya hanya mengatakan silahkan saja kalau mau cari makanan, tapi jangan mengambil warga di sini. Carilah buah-buahan, sayuran atau binatang. Kampung kami ini aman, jangan ganggu kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkata begitu, mahluk itu terus pergi. Dan sejak itu saya tidak pernah dibayang-bayangi mahluk hitam. Malah sampai sekarang tidak terdengar ada hewan ternak yang hilang atau hasil kebun yang dicuri. Saya yakin itu tapak raksasa yang nyata, dan tidak akan mengganggu siapa pun kalau kita tidak menganggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Adet Suhara (38), Ketua RW &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopnff1ChhI/AAAAAAAAAf0/OuIxnrZ7MWk/s1600-h/adet+suhara+(ketua+rw)1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 159px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopnff1ChhI/AAAAAAAAAf0/OuIxnrZ7MWk/s200/adet+suhara+(ketua+rw)1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371219296410306066" /&gt;&lt;/a&gt;Kata orang-orang tua di stamplat, penampakan tapak raksasa itu selalu terulang tiap 50 tahun sekali. Saya sering dengar cerita-cerita itu. Tapi apa dampak dan akibat kemunculan itu saya tidak tahu. Apakah jadi pertanda buruk atau baik, tidak tahu. Saya hanya mengambil hikmahnya kalau ini semua adalah kehendak Yang Maha Kuasa, sekaligus sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah kami memang banyak kejadian janggal. Kemunculan tapak raksasa itu adalah salah satunya. Kalau melihat faktanya, saya berkesimpulan itu tapak gaib. Sebab selain wujudnya tidak pernah ditemukan, tapak kaki itu juga menghilang begitu saja. Sekarang yang harus kita lakukan adalah bagaimana menyikapinya. Ini berhubungan dengan teguran supaya manusia kembali melirik alam lingkungan yang mulai rusak. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/kemunculan-bigfoot-di-berbagai-tempat.html"/&gt;Kemunculan Bigfoot di Berbagai Tempat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-1881381155838993235?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/1881381155838993235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/big-foot-muncul-di-gunung-papandayan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/1881381155838993235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/1881381155838993235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/big-foot-muncul-di-gunung-papandayan.html' title='Big Foot Muncul di Gunung Papandayan'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopme6PmtNI/AAAAAAAAAfM/UZQBOulpsQo/s72-c/big+foo-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-6785429197547097525</id><published>2009-08-18T15:26:00.001+07:00</published><updated>2009-08-18T15:35:43.921+07:00</updated><title type='text'>Kemunculan Bigfoot di Berbagai Tempat</title><content type='html'>&lt;b&gt;Penampakan tapak kaki raksasa di lereng Gunung Papandayan, mengingatkan orang akan kemunculan fakta sejenis di beberapa tempat di tanah air dan mancanegara. Dan tentu saja, fenomena itu menimbulkan kehebohan luar biasa. Pemerintah negara bagian Johor, Malaysia, bahkan akan menghukum bagi siapa yang mengusik keberadaan bigfoot.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampakan tapak kaki mahluk raksasa di lereng Gunung Papandayan, mirip dengan kejadian di Ngabang, Kalimantan Barat, beberapa tahun silam. Bahkan warga Barito Utara, Kalimantan Tengah, tak hanya menemukan tapak kaki raksasa, tapi juga telapak tangan berukuran besar. Fakta menggemparkan tersebut ditemukan di wilayah ruas jalan menuju desa Sei Rahayu I kilometer 38, Kecamatan Teweh Tengah dan juga di Kelurahan Tumpung Laung, Kecamatan Montallat, Kalimantan Tengah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lurah Tumpung Laung I, Reginal H Tawu, di Muara Teweh, membenarkan, jejak telapak kaki dan tangan raksasa sering pula ditemukan di hamparan pasir Janah Gemuntur di sana. Berdasarkan cerita orang-orang tua di kelurahan Tumpung Laung, jejak telapak kaki dan tangan sering ditemukan di hamparan pasir Janah Gemuntur, sekitar 10 kilometer di belakang kelurahan yang juga ibukota kecamatan Montallat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, belum ada warga yang mengaku melihat langsung makhluk raksasa yang diperkirakan sebesar gorila ini. Tapi para pemburu atau warga yang melintas di Janah Gemuntur, seringkali melihat jejak raksasa yang serupa dengan jejak telapak kaki dan tangan yang ditemukan di jalan simpang kilometer 38 yang menuju desa bekas transmigrasi Sei Rahayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah warga masyarakat setempat yakin itu jejak makhluk raksasa, karena setiap pagi atau siang sering melihat daun-daun yang biasanya berserakan di sekitar lapangan, tiba-tiba bersih. Sepertinya ada tangan yang membersihkan tumpukan daun.  "Menurut cerita orang tua, tempat ini memang angker. Dulu, hamparan pasir Janah Gemuntur pernah diusulkan menjadi lokasi wisata. Tapi sekarang belum terealisir," kata Reginal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak bisa memastikan, apakah jejak di Janah Gemuntur sama dengan jejak yang ditemukan staf Dinas Pekerjaan Umum Barut belum lama ini. Penemuan jejak ini mesti diteliti lebih lanjut, karena ada indikasi antara hal nyata dengan hal-hal gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, jejak yang ditemukan di jalan trans kilometer 38 pada 1 November 2006 lalu, sempat menghebohkan sejumlah staf  PU Barut. Telapak tangan dan kaki ukuran besar, hampir mirip bentuknya dengan telapak tangan manusia itu terlihat jelas di atas jalan yang baru di aspal dan dilapisi debu batu di kawasan hutan atau sekitar 400 meter dari simpang ruas jalan negara Muara Teweh-Puruk Cahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar Lolongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Johor, Malaysia, kisah penemuan telapak Kaki Besar ini lebih dramatis. Tepatnya pertengahan Februari 2006 pagi-pagi buta. Ketika itu, Yazid Jaafar (29) bersama dua rekannya, Ariffin Sham dan Wan Ahmad Ismail, berada dalam gubuk perkebunan kelapa sawit tempat mereka bekerja, di Kaki Gunung Panti, Johor. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara lolongan dan auman aneh dari dalam hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi yang terdengar itu dianggapnya sungguh luar biasa dan belum pernah terdengar sebelumnya. Suaranya seperti perpaduan bunyi monyet dan babi hutan. ''Kami dapat membedakan bunyi hewan liar yang biasa ditemui di hutan ini. Tapi saya tidak pernah mendengar bunyi aneh seperti itu,'' ungkap Jaafar kepada media setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lolongan dan auman itu terdengar sekitar 10 menit. Kemudian Jaafar dan dua rekannya mengambil lampu senter dan langsung pergi mencari sumber suara. ''Ketika diperkirakan berada di dekat sumber suara, kami mendengar bunyi dengusan yang kuat dan kami bergegas pergi karena takut,” kata mereka.  Menyusul terdengarnya suara aneh itu, Jaafar juga terbelalak karena untuk pertama kalinya melihat telapak kaki raksasa. Di sekitarnya, didapati daun-daun pohon bekas dipetik pada ketinggian tiga meter lebih, dan dipercayai dimakan oleh makhluk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Saya melihat dengan jelas bekas telapak kaki menyerupai telapak kaki manusia, tetapi jarinya lebih besar di sepanjang tebing sungai. Makhluk itu mungkin muncul di hutan sekitar kawasan ini dan berjalan di sepanjang tebing sungai untuk makan daun,'' ungkap Jaafar. Ukuran jejak itu kira-kira panjang 50 cm dan lebar 30 cm. Jejak telapak kaki berukuran besar itu sangat jelas, empat jari bentuknya seperti telapak kaki monyet, ditambah satu ibu jari bengkok 90 derajat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, tepatnya sejak November 2005, media Malaysia telah dilanda demam Bigfoot. Saat itu, sejumlah pekerja tambak ikan mengklaim telah melihat tiga makhluk raksasa berbulu di pinggiran Endau Rompin.  Mereka juga mengaku telah melihat sebuah jejak kaki raksasa yang sempat difoto oleh mereka. Foto itu kemudian dimuat oleh koran-koran lokal. Para petugas Endau Rompin telah menyisir lokasi penampakan makhluk-makhluk itu. Tapi tidak ditemukan bukti-bukti fisik tentang keberadaan mereka. Namun kemudian ada pula laporan penampakan Bigfoot dari penduduk asli yang tinggal di pinggiran hutan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah negara bagian Johor bahkan  mengancam akan menghukum siapa pun mengusik mahkluk bigfoot atau si kaki besar. Kebijakan baru ini diumumkan, setelah ada sekelompok orang yang mengaku berhasil menangkap bayi bigfoot di hutan Johor. Pihak berwajib di negara bagian Johor mengancam akan memenjarakan warga asing yang memasuki hutan untuk mencari Big foot alias si kaki besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kini mahluk berbulu yang sulit ditemukan itu juga dilindungi dari warga Malaysia. Kebijakan ini diumumkan menyusul laporan bahwa sekelompok pria yang mengaku petugas suaka margasatwa mengatakan kepada warga desa di dekat Mersing, Johor, bahwa mereka telah memberhasil melumpuhkan bayi Bigfoot dengan panas yang dibubuhi obat bius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legenda Batak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban Batak, juga telah lama mengenal adanya makhluk yang bernama Homang. Homang adalah sejenis hewan yang mempunyai daya intelijensia tinggi. Tubuhnya berbulu dan pandangan matanya dapat menghilangkan ingatan manusia yang pernah melihatnya. Kegemarannya adalah mengambil anak dara desa untuk dibawa ke pedalaman hutan, untuk dijadikan sebagai teman. Homang sangat membutuhkan manusia sebagai temannya tapi dia sendiri tidak ingin diketahui secara umum oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 80-an, pernah ada khabar seorang putri desa di Panigoran, Pakkat, Humbahas, hilang ketika akan mengambil air ke pancuran umum di waktu subuh. Kabarnya, memang Homang memunculkan diri di pergantian pagi ke siang. Saat malam akan berubah terang, Homang akan mengincar anak dara yang suka atau sedang melamun atau "marangan-angan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasil, anak itu ditemukan kembali pulang ke rumahnya dengan pandangan mata yang linglung. Orang Batak bilang, itu "dililui Homang". Homang akan mengembalikan mangsa ke rumahnya setelah pikirannya dihilangkan. Korban hanya mengingat bahwa dia baru kembali dari hutan, tapi tidak mengetahui dari mana dan bagaimana jalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang, dalam perjalanan pulang Homang akan memberikan pilihan kepada korbannya, yakni menetap dengannya atau kembali ke rumah. Bila pilihan menetap, maka korban akan hidup dengan Homang di hutan. Dan bila pilihannya ingin kembali, Homang akan membolehkan korban pulang ke rumahnya dengan memberikan ciri-ciri jalan dan tidak boleh menoleh ke belakang. Bila menoleh ke belakang maka korban mungkin saja akan tersesat selamanya di hutan maupun di alam pikirannya sendiri, alias rittik atau gila. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;luk Pemalu, Aktif Malam Hari&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ditemukannya tapak Kaki Besar alias Bigfoot di banyak tempat, mengindikasi fakta Bigfoot dekat dengan kebenaran. Tak heran bila banyak pihak tertarik untuk menyelidiki lebih jauh. Namun, hingga kini belum terdengar hasil memuaskan. Jadi, benarkah keberadaannya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita-cerita mengenai Si Kaki Besar alias Bigfoot telah terdengar sejak berabad-abad lalu. Ia selalu jadi pembicaraan hangat di sekitar api unggun bagi siapapun yang berkemah di tepi hutan atau gunung. Orang Amerika menyebutnya sebagai Sasquatch, dan kebanyakan memanggilnya Bigfoot (kaki besar). Makhluk misterius ini diyakini serupa kera besar yang hidup di wilayah-wilayah pegunungan dan hutan-hutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legenda mengenai kera raksasa itu selalu diceritakan dari mulut ke mulut oleh kebanyakan suku Indian di Amerika, juga bangsa-bangsa asli Eropa dan Asia. Orang-orang di Himalaya, misalnya,  memiliki kisah si Manusia Salju Buruk Rupa yang disebut Yeti. Di kalangan orang-orang Aborigin, Australia, Bigfoot dikenal sebagai Yowie Man. Orang-orang di Amerika Selatan, kawasan Amazon, menyebutnya Mapinguari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tinggi 3 Meter&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan orang, konon mengaku pernah melihat manusia kera berbulu lebat itu. Namun, bukti keberadaannya masih kabur. Memang ada beberapa foto yang memperlihatkan makhluk tinggi besar tersebut, tetapi keasliannya diragukan. Sejauh ini banyak pula jejak-jejak kaki yang terlihat, seperti yang terjadi di di Kp Stamplat, lereng Gunung Papandayan, Garut, Jabar itu. Meski banyak yang mengaku pernah melihatnya, tapi orang-orang masih meragukan. Pasalnya belum ada bukti yang benar-benar akurat akan keberadaannya, sisa tulang belulangnya pun tidak pernah ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, ada sekelompok kecil ilmuwan yang masih tergoda mencari, bahkan meyakini keberadaan Bigfoot. Walau mungkin mendapat cemooh dari banyak kalangan, namun kelompok ini mengungkap adanya bukti-bukti forensik yang cukup untuk menjalankan suatu ekspedisi yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Yakni penelitian ilmiah yang komprehensif untuk membuktikan bahwa makhluk legendaris itu benar-benar ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada atau tidak, yang jelas banyak kebudayaan memiliki cerita tentang manusia berbulu. Penampakan mereka di Amerika Utara dan Asia sudah dibicarakan sejak awal tahun 1800-an. Walau sudah banyak cerita, foto, dan jejak kaki mereka, namun sejauh ini belum pernah ada bukti ilmiah bahwa mereka ada. Tidak pernah ditemukan kotorannya, tulang belulangnya, serta tubuhnya, hidup atau mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan mengenai bigfoot yang pertama didokumentasikan adalah jejak yang ditemukan seorang pedagang Kanada tahun 1811. Nama bigfoot (kaki besar) kemudian dikenal luas setelah adanya laporan media mengenai jejak kaki besar yang ditemukan di Bluff Creek, California, tahun 1959. Sedangkan foto bigfoot paling terkenal diambil tahun 1967 walau masih diperdebatkan keasliannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, para pencari bigfoot seolah mendapat harapan baru ketika rambut bigfoot ditemukan penduduk Teslin di Yukon. Mereka mengklaim menemukan rambut tersebut di sekitar jejak-jejak besar yang ditinggalkan makhluk setinggi 3 meter, serupa manusia, yang terlihat di halaman rumah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kera Asia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanda-tanda keberadaan mahluk misterius yang banyak ditemukan di Amerika, Eropa dan Asia ini menimbulkan dugaan bahwa mahluk tersebut adalah keturunan dari sebangsa kera besar Asia yang bermigrasi hingga Amerika Utara pada jaman es. Para ilmuwan percaya saat ini setidaknya ada 2.000 manusia kera yang tinggal di hutan-hutan pegunungan Amerika Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makhluk jantan dewasa dari jenis ini diperkirakan berukuran tinggi 2,4 meter, beratnya sekitar 360 kilogram. Mahluk ini mempunyai kaki yang ukurannya lebih besar dari kaki manusia, sehingga mereka dikenal sebagai Bigfoot. Makhluk misterius ini diduga aktif pada malam hari (nocturnal) dan pemalu. Makanan utamanya adalah buah-buahan dan berbagai jenis berri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Bigfoot benar adanya? Matt Moneymaker, seorang penjelajah, telah mencari Bigfoot selama bertahun-tahun. Suatu hari, di hutan sebelah timur Ohio, ia mengklaim berjumpa dengan primata itu. "Saat itu jam dua pagi dan bulan seperempat penuh," kata Moneymaker. "Tiba-tiba di depan saya berdiri makhluk setinggi 2,4 meter pada jarak lima meter, dan menggeram kepada saya. Ia seolah berkata bahwa saya berada di tempat yang salah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moneymaker, yang tinggal di Dana Point, California bagian selatan, adalah seorang pengacara yang di waktu senggangnya mengelola Bigfoot Field Researchers Organization, suatu jaringan yang terdiri dari sekitar 3.000 orang yang mengaku pernah bertemu Sasquatch. Meski banyak yang mengaku melihat makhluk itu, sayang sekali tidak satupun yang berhasil memotretnya. Barangkali foto Bigfoot paling terkenal adalah yang diambil oleh Roger Patterson pada tahun 1967. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto kontroversial itu melukiskan Bigfoot betina yang berjalan tergesa-gesa di tepi sebuah sungai di California utara. "Makhluk itu jelas-jelas bukan manusia," kata Moneymaker. Untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekedar berkhayal, para pendukung Bigfoot itu kini mencari bukti-bukti forensik untuk membuktikan keberadaannya. Penyelidik Jimmy Chilcutt dari Kepolisian Conroe, Texas, yang merupakan ahli dalam sidik jari dan jejak kaki, telah menganalisa lebih dari 150 cetakan kaki Bigfoot, yang disimpan di laboratorium Meldrum di Universitas Idaho. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar salah satu cetakan jejak kaki yang ditemukan tahun 1987 di Walla Walla, negara bagian Washington, Chilcutt meyakinkan bahwa Bigfoot benar-benar ada. "Pola dan teksturenya berbeda dengan pola lain yang pernah saya lihat," ujarnya. "Jelas ini tidak berasal dari manusia atau dari primata lain yang pernah saya ketahui. Pola alurnya memanjang sepanjang telapak, tidak seperti jejak manusia yang melebar. Tekstur telapak juga dua kali lebih tebal dibanding manusia, yang mengindikasikan makhluk ini memiliki kulit yang sangat tebal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Meldrum mengatakan bahwa cetakan seberat 180 kilogram yang dikenal sebagai Cetakan Skookum menyajikan bukti yang lebih jelas mengenai keberadaan Bigfoot. Cetakan itu dibuat bulan September 2000 dari bekas jejak makhluk yang berbaring menyamping di sekitar tanah lumpur di Hutan Nasional Gifford Pinchot, di Washington. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cetakan Skookum menggambarkan bentuk-bentuk yang diketahui sebagai lengan, paha, pinggul, dan juga betis. Kata Meldrum, ukurannya 40 hingga 50 persen lebih besar dari manusia normal dan anatominya tidak serupa dengan hewan-hewan yang sudah dikenal. Mengenai hal itu, beberapa akademisi percaya Meldrum bisa jadi benar. Peneliti simpanse terkenal, Jane Goodall, bahkan mengatakan dirinya yakin bahwa primata-primata besar yang belum ditemukan, seperti Yeti atau Sasquatch, benar-benar ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Masih Diragukan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski demikian, mayoritas ilmuwan menganggap Bigfoot hanyalah omong kosong belaka. Sebab bila makhluk itu memang ada, mengapa tidak satupun yang pernah tertangkap baik hidup maupun mati. Mengenai hal itu, para pembela Bigfoot berargumen bahwa makhluk itu sifatnya pemalu dan aktif di malam hari. Mereka juga menyebutkan bangkainya tidak pernah ditemukan seperti halnya kita jarang menemukan bangkai beruang grizzly di alam bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang meragukan lagi adalah kenyataan dimana contoh-contoh rambut yang dibawa saksi mata ternyata berasal dari rusa elk, beruang atau sapi. Beberapa penglihatan dan jejak kaki, setelah diselidiki ternyata palsu. "Bukti-itu adalah hasil kerja orang-orang yang mencari sensasi," kata Michael Dennett, salah satu peneliti yang tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguan Dennett terhadap Bigfoot makin besar setelah ia mendengar cerita putra Ray Wallace, seorang pencari jejak Bigfoot. Wallace, menurut sang putra, ternyata menciptakan legenda Bigfoot dengan membuat jejak-jejak kaki palsu dari kayu di wilayah perkemahan sebelah utara California pada tahun 1958. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mengenai cerita dari para saksi mata, Dennett lebih menganggapnya sebagai halusinasi orang-orang saja. "Laporan-laporan itu sama dengan laporan dari mereka yang mengaku melihat monster Loch Ness, UFO, atau makhluk lain," katanya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/big-foot-muncul-di-gunung-papandayan.html"/&gt;Big Foot Muncul di Gunung Papandayan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-6785429197547097525?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/6785429197547097525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/kemunculan-bigfoot-di-berbagai-tempat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6785429197547097525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6785429197547097525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/kemunculan-bigfoot-di-berbagai-tempat.html' title='Kemunculan Bigfoot di Berbagai Tempat'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-5196620140614317851</id><published>2009-08-18T15:18:00.006+07:00</published><updated>2009-08-18T15:25:19.017+07:00</updated><title type='text'>Aliran Tarekat Amaliyah Diamuk Massa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopkHTQ2iyI/AAAAAAAAAec/9YyvA67z2ks/s1600-h/tarekat+amaliyah-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopkHTQ2iyI/AAAAAAAAAec/9YyvA67z2ks/s200/tarekat+amaliyah-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371215582185556770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Karena digunakan sebagai tempat menyebarkan ajaran sesat, markas jamaah majlis taklim Miftahussalamah, di Kampung Laladon Desa Parakan Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor, diamuk ratusan massa. HM Yusup Maulana, pimpinan majlis yang mengamalkan tarekat amaliyah itu pun diamankan polisi untuk menghindari pengadilan massa.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu petang (29/10/2006), warga Desa Parakan Ciomas, Kab. Bogor, dikejutkan suara hiruk pikuk. Suara-suara itu berasal dari iring-iringan massa yang memperlihatkan tampang kemarahan. Sambil menenteng benda-benda keras seperti linggis, balok kayu dan batu-batu, mereka berpawai menuju kampung Laladon Kadoya, Desa Parakan, Ciomas. Tepat di mulut jalan menuju RT 02 RW 05, mereka membelok dan berhenti di depan rumah No. 30 yang dihuni Ustad HM Yusup Maulana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu tampak lengang. Tak ada seorang pun di sana. Penghuninya, ustad Yusup, tengah menghadiri pertemuan dengan tokoh-tokoh desa Parakan dan Pagelaran, serta unsur-unsur Muspika  setempat di Kantor Camat Ciomas. Di sana, ustad Yusup tengah berdialog membicarakan kegiatan majlis taklim Miftahussalamah yang dipimpinnya. Kabarnya, Yusuf tak sekadar membuka pengajian sebagaimana lazimnya penganut ahlus sunnah wal jamaah. Ia juga menyebarkan tarekat Amaliyah, yang diduga keras berisi ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan syareat Islam. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah di Kp Laladon Kadoya itulah yang selama ini dijadikan pusat kegiatan ustad Yusup. Di depannya, terdapat musala permanen yang dapat menampung jamaah hingga 100 orang. Di musala itulah praktek rutin pengajian tarekat amaliyah dilakukan. Namun, tak jelas siapa yang memberi komando, tiba-tiba massa yang berkerumun tadi, langsung melempari rumah ustad Yusup dan musala tersebut. Genteng, kaca-kaca, dan dinding tembok, berderai terkena lemparan batu-batu. Tak hanya rumah ustad Yusup dan musala yang dirusak, dua rumah lain disebelahnya pun turut terkena lemparan. Penghuninya langsung angkat kaki dan menyelamatkan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopkOimVaUI/AAAAAAAAAek/QLT8652bE_w/s1600-h/tarekat+amaliyah-4.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopkOimVaUI/AAAAAAAAAek/QLT8652bE_w/s200/tarekat+amaliyah-4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371215706561276226" /&gt;&lt;/a&gt;Tak puas dengan aksi pelemparan, massa pun merangsek ke dalam rumah dan musala. Mereka mengobrak-abrik rumah dan isinya, bahkan 2 motor yang ada di rumah ustad Yusuf dirusak, lalu dilempar ke dalam sumur. Untunglah kejadian itu tak berlangsung lama. Setelah setengah jam massa mengamuk, Pasukan Dalmas Polres Bogor datang dan mengamankan lokasi kejadian. Malam itu juga, ustad Yusuf yang masih melakukan dialog bersama tokoh masyarakat dan unsur Muspika, langsung digiring ke Mapolres Bogor untuk dimintai keterangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dianggap telah melakukan tindak anarkis, polisi menangkap sembilan warga yang dianggap bertanggungjawab atas aksi tersebut. Kapolres Bogor AKPB Irlan, mengatakan, berdasarkan penyidikan dan pengembangan yang dilakukan, modus perusakan adalah sikap ketidaksukaan masyarakat terhadap terhadap kegiatan yang dijalani HM Yusuf Maulana. Ia juga menyatakan polisi belum menemukan siapa otak di balik aksi perusakan tersebut. "Berdasarkan penyidikan dan pengembangan yang kami lakukan, aksi perusakan tersebut adalah spontanitas masyarakat. Kami belum melihat adanya modus lain," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna melakukan pencegahan agar aksi perusakan tidak berlanjut, pihaknya telah mengajak instansi terkait di jajaran Pemerintah Kabupaten Bogor, Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat, para tokoh masyarakat untuk memberikan pengarahan dan penjelasan kepada warga masyarakat terhadap suatu temuan. "Dari situasi yang berselisih atau silang pendapat, agar jangan disikapi dengan tindakan anarkis sehingga bisa menjadi obyek hukum," katanya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Zikir Jahat  &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut warga setempat, amuk massa itu berawal dari keresahan warga yang sudah berjalan hampir enam tahun. Keresahan dipicu oleh adanya pengajian yang dilaksanakan Majlis Taklim Miftahussalamah, pimpinan ustad HM Yusup Maulana. Sebab setelah diamati, warga melihat pengajian itu semakin berkembang ke arah yang tidak diinginkan. Jamaah yang datang rata-rata bukan masyarakat sekitar, melainkan dari luar kota. Mereka datang menggunakan mobil, atau motor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tentu saja bukan itu duduk masalahnya. Yang meresahkan warga adalah materi pengajian yang disampaikan ustad Yusup terasa lain dari kebanyakan umat Islam. Ada beberapa hal yang menurut warga sangat tidak lazim. Misalnya soal hukum salat Jumat. Menurut aliran Amaliyah, salat Jumat hukumnya sunnat, sehingga tak dilaksanakan pun tidak apa-apa. “Ini kan aneh. Waktu orang-orang di kampung salat Jumat, mereka malah tidur,” ungkap Aceng, salah seorang warga Kp. Laladon Kadoya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti lain penyimpangan ajaran tarekat Amaliyah pimpinan HM Yusup adalah menetapkan sendiri waktu pelaksanaan saum ramadhan dan pelaksanaan Idul Fitri. Ibadah saum yang mereka laksanakan dimulai dua hari lebih awal dari ketetapan pemerintah. Begitu pula hari raya Idul Fitri,  mereka tetapkan jatuh pada hari Sabtu (21/10/2006). Masih ada beberapa hal lain yang tentu saja menyimpang dari ajaran Islam, seperti pelaksanaan salat sudah dianggap sah hanya dengan mengucap niat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar pelaksanaan pengajian yang terang-terangan terlihat penyimpangannya, ada satu amalan yang dipraktekkan oleh jamaah Amaliyah. Seperti dituturkan salah seorang warga yang enggan disebut jatidirinya, jamaah tarekat Amaliyah mengamalkan zikir jahat. Yakni zikir untuk kelancaran usaha bagi pengamalnya, namun efeknya buruk bagi orang lain. Sumber posmo ini menuturkan bila zikir jahat yang diamalkan jamaah Amaliyah, sudah membawa kebangkrutan dua warga setempat.&lt;br /&gt;Warga ini, katanya, setiap melakukan usaha selalu gagal. Konon, itu akibat zikir jahat yang ditebar anggota tarekat Amaliyah. Hanya saja, tidak jelas bagaimana bunyi ataupun bentuk zikir jahat yang bisa merontokkan usaha seseorang tersebut. Sehingga kebenarannya pun masih menjadi tanda tanya. Akan tetapi, soal zikir ini, Encep (52), tokoh masyarakat setempat, juga membenarkan. Hanya saja ia tidak yakin bila zikir itu bisa membawa sial bagi usaha orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya memang mendengar adanya zikir jahat. Tapi yang tahu tentu hanya para anggota mereka sendiri,” ucap Encep. Dan masih menurut Encep yang diakui sejumlah warga, praktek pengajian majlis taklim Miftahussalamah ini tidak lazim. Misalnya pelaksanaan pengajian dimulai sejak sore hari, dan baru selesai dini hari. “Mana ada pengajian semalam suntuk seperti itu. Pasti ada apa-apanya di dalam pengajian tersebut,” ucap Encep lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Parakan dan Pagelaran tentu merasa khawatir bila mereka akan dianggap masyarakat luas sebagai bagian dari pengikut ajaran Amaliah. Maklum saja, tempat pengajian dan pengajaran aliran ini berada di kampung mereka. Oleh karena itulah mereka merasa aman bila HM Yusup diusir dari kampung dan menutup majlis taklim Miftahussalamah itu. Namun, di kantor polisi HM Yusuf membantah  tuduhan warga. "Saya masih mengajarkan Alquran," ujarnya ketika itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Sosok HM Yusup Maulana bin Ujang (60)&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Banyak yang ingin tahu sosok HM Yusup Maulana, pimpinan Tarekat Amaliyah yang tindak tanduknya membuat geger masyarakat ini. Namun, pribadinya yang tertutup dan jarang bergaul dengan warga, tak banyak yang tahu sisi lain sang ustad. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopk1nagCyI/AAAAAAAAAe0/R86t-aP8_i0/s1600-h/tarekat+amaliyah-5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 107px; height: 143px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopk1nagCyI/AAAAAAAAAe0/R86t-aP8_i0/s200/tarekat+amaliyah-5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371216377868716834" /&gt;&lt;/a&gt;Nama lengkap pria kelahiran 60 tahun silam ini adalah Muhammad Yusup Maulana. Ia dikenal sebagai pribadi yang tertutup, tapi ramah ketika berpapasan dengan warga. Terbukti bila berpapasan dengan orang lain, ia selalu menebar senyum. Akan tetapi, di luar semua itu, Yusup tertutup. Pribadinya eksklusif dan terlihat bagaikan menyimpan segudang misteri. Boleh jadi, ia memang menyimpan banyak ajaran-ajaran dan pengetahuan tentang seluk beluk agama Islam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Identitas HM Yusup Maulana pun tidak tercantum dalam catatan rukun tetangga (RT) setempat. Pasalnya, sejak kedatangannya ke Kampung Laladon Kadoya enam tahun silam, Yusup tidak pernah melaporkan diri. Hal itu diutarakan Encep, yang menjabat Ketua Rukun Tetangga 02 RW 05, Desa Parakan. Ustad Yusuf menunaikan ibadah haji pada tahun 2005 lalu. Pada kartu identitas rombongan haji, Yusup menulis pendidikan terakhirnya sekolah rakyat (SR). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pribadinya tertutup, tapi Yusup diketahui memiliki dua orang istri. Yang seorang ikut dengannya tinggal di Kp Laladon Kedoya, yang seorang seorang lagi berada di desa lain. Kedatangannya di Kp Laladon Kadoya atas prasarana yang disediakan salah seorang warga RT 02 bernama Sodik. Pria yang meninggal dunia tahun 2005 lalu itulah yang memfasilitasi Yusup baik rumah, maupun segala kebutuhan hidup lainnya. Maklum saja, Yusup memang tidak mempunyai pekerjaan lain, selain memimpin majlis taklim Miftahussalamah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keterampilannya menyampaikan ajaran-ajaran agama, Yusup memiliki banyak jamaah. Dan uniknya, rata-rata jamaah Yusup adalah orang-orang dari luar desa. Bahkan ada yang dari Jakarta, atau Bandung. Merekapun terlihat berasal dari latarbelakang ekonomi berada. Terbukti setiap kali datang ke pengajian, mereka mengendarai kendaraan baik roda empat maupun roda dua. Tidak heran bila perkembangan pengajiannya berjalan yang cukup pesat. Yusup sanggup membangun musala yang sangat permanen lengkap dengan fasilitas di dalamnya. Bahkan atas sokongan para jamaah, Yusup dapat menunaikan ibadah haji tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengaku Tobat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rupanya, perjalanan hidup Yusup yang religius, ternyata dilatarbelakangi pengamalan ilmu agama yang menyimpang. Terbukti ajaran-ajaran yang disampaikan kepada para jamaahnya, dianggap Majelis Ulama setempat sebagai ajaran yang sesat. Bahkan selain mendapat penolakan dari warga yang ditandai pengrusakan rumah dan musalanya, ia pun harus diusir dari desa. Dan tepat pada saat aksi amuk massa berlangsung, Yusup sebenarnya tengah memberikan pernyataan pengakuan dihadapan unsur-sunsur Muspika Kecamatan Ciomas dan tokoh masyarakat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopkdpcg7CI/AAAAAAAAAes/-cPae5nZezE/s1600-h/tarekat+amaliyah-3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sopkdpcg7CI/AAAAAAAAAes/-cPae5nZezE/s200/tarekat+amaliyah-3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371215966097173538" /&gt;&lt;/a&gt;Di atas secarik kertas, HM Yusuf Maulana mengakui bila perbuatannya selama ini telah menyimpan dari aturan-aturan agama Islam. Pernyataan yang berisi lima poin itu ditandatangani dihadapan Kepala Desa Parakan, H Oman Rohmana, Kepala Desa Pagelaran, H Tohir, Ketua MUI Kecamatan Ciomas, Drs KH Muyadi, MPdi, Camat Ciomas Rudy Gunawan, SH., Danramil 2120 Ciomas Kapten Marah Sulaiman, dan Kapolsek Ciomas AKP Sardjiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pernyataannya, Yusuf mengaku kalau ajaran Amaliyah tidak sesuai dengan Ahli Sunnah Wal Jamaah, Alquran, Sunnah, Hadis, Izma dan Qiyas. Yusuf juga bersedia membubarkan ajarannya serta sepakat untuk bertobat dan meminta maaf kepada warga setempat. Selain itu ia juga menyanggupi untuk pindah dari Desa Parakan secepatnya. Namun sayang, meski telah membuat pernyataan, ratusan massa terlanjur mengamuk dan merusak rumah serta musala sering di¬pakai untuk pengajian dan pengajaran aliran Amaliyah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rincinya, Yusup mengaku telah mengajarkan ajaran agama Islam kepada santri/murid pengajian di Desa Parakan dan Desa Pagelaran Ciomas, yang tidak sesuai dengan ahlu sunnah waljamaah, antara lain ajaran itu tidak ada dasarnya dan tidak sesuai dengan ahlu sunnah waljamaah, alquran, sunnah, ijma dan qiyas, antara lain menentukan hari raya idul fitri, tidak mewajibkan salat jumat, ajaran yang ada dalam kitab dawamul haq, tariqat-tariqat bagi amaliyah yang menyimpang dari alquran, sunnah, ijma dan qiyas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Yusup juga menyatakan bertaubat kepada Alalh SWT dan mohon maaf pada masyarakat dan tokohnya, atas perilaku pribadi dan kelompoknya yang mengganggu dan meresahkan masyarakat Desa Parakan dan Pagelaran. Yusup juga akan pindah domisili dari desa Parakan Kec. Ciomas ke tempat lain, dan menginstruksikan kepada para muridny untuk bertaubat dan meninggalkan ajaran/wiridan yang selama ini diajarkan dan kembali pada komunitas ahli sunnah waljamaah. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keterangan Encep, Ketua RT 02/05/tokoh masyarakat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sudah lama warga disini yang terganggu oleh pengajian yang dilakukan ustad Yusup. Terbukti setiap terdengar koor zikir dari jamaah Amaliyah, selalu saja ada warga yang nyeletuk dan teriakan menyindir. Tapi hanya sejauh itu. Untuk berbuat lebih jauh warga tidak berani. Mungkin karena itulah kelompok pengajian ini merasa aman dan semakin berkembang. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoplH2OtTRI/AAAAAAAAAe8/bAR_cl-vLpQ/s1600-h/tarekat+amaliyah-6.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoplH2OtTRI/AAAAAAAAAe8/bAR_cl-vLpQ/s200/tarekat+amaliyah-6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371216691083431186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga yang ikut pengajian ustad Yusup kurang lebih 10 orang, dan mereka sudah mengaku khilaf dan bertobat kepada Allah SWT. Secara pribadi meskipun Ketua RT di sini, saya tidak begitu mengenal ustad Yusuf. Asal usulnya memang tidak jelas, waktu pertama kali dia pindah ke sini juga tidak lapor. Dia di bawa oleh salah seorang warga bernama Sodik yang sudah meninggal setahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya diteruskan oleh anaknya Sodik, yakni Oji yang pengusaha bengkel motor. Semua kebutuhan hidup Ustad Yusup ditanggung oleh Sodik, mulai dari makan hingga diberi tempat tinggal. Karena pengajiannya berkembang, kehidupan ekonominya maju. Sebab banyak anggota jamaah dari luar kota ternyata orang-orang kaya. Terlihat mereka datang ke pengajian menggunakan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustad Yusup orangnya misterius. Dia tidak banyak bergaul dengan warga. Yang kami tahu soal dia, dia itu mengaku berasal dari Pagentongan Bogor, dan beristri dua orang. Yang satunya lagi tinggal di kampung Laksana. Tapi soal keluarganya kami tidak tahu menahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari-hari, Yusup tidak punya pekerjaan tetap. Selain mengurus pengajiannya, kerjanya ya cuma tidur saja. Sampai dia naik haji tahun lalu, semua yang menanggung adalah jamaahnya. Yang menjadi keresahan warga adalah pelaksanaan pengajian yang selalu dilakukan sejak malam hari hingga dini hari. Warga di sini sudah lama curiga dengan model pengajian seperti itu. Jarang di dalam Islam melakukan zikir hingga dini hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang anehnya, selain salat jumat tidak diwajibkan bagi anggota jamaah, waktu orang-orang salat jumat mereka malah tidur di rumah, kadang-kadang pergi ke istri keduanya.  Setiap pengajian diikuti tidak kurang dari 30 orang jamaah. &lt;br /&gt;Saya pernah diajak salah seorang anak buahnya untuk ikut pengajian. Katanya kalau mau usaha cepat berhasil, ikut saja pengajian ustad Yusup. Tapi saya menolaknya, soalnya sudah kelihatan kalau ada penyimpangan.  Kehebatan zikir mereka adalah ketika rumah Sodik akan di sita bank. Tapi entah kenapa, setelah kehadiran Ustad Yusup, rumah tersebut tidak jadi di sita. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ainur Ridho, Sekretaris MUI Kec. Ciomas &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Amaliah ini dikembangkan oleh Yusup Maulana. Inti ajarannya banyak bertentangan dengan syareat Islam, terutama dikalangan ahlu sunnah wal jamaah. Seperti tidak mewajibkan salat jumat, dan hukumnya hanya sunnat. Selain itu, ajaran ini dapat menentukan awal Ramadan dan awal idul fitri sendiri, mereka punya pegangan sendiri. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoplTYtrjHI/AAAAAAAAAfE/vD7fHgEmz2A/s1600-h/tarekat+amaliyah-7.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 153px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoplTYtrjHI/AAAAAAAAAfE/vD7fHgEmz2A/s200/tarekat+amaliyah-7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371216889318706290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang cukup mencolok adalah keberadaan Syekh abdul Qodir Zaelaeni yang lebih tinggi kedudukannya dari pada Nabi Muhammad SAW. Kami melihat banyak peraturan yang ada dalam Islam dia langgar. Dampaknya, isi pengajian itu membelok dari ajaran yang sebenarnya. Maka timbullah benturan sosial di kalangan masyarakat. Akhirnya rumah di rusak massa. Itu karena masyarakat resah dan tidak puas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi ajaran yang jauh menyimpang, misalnya jika salat cukup mengingat kepada Allah saja. Itu jelas tidak sesuai syareat karena tidak mengikuti rukun sahnya salat. Selain itu, Yusuf juga menggunakan hadis yang menyebutkan di akhir zaman umat Islam akan terbagi ke dalam 73 aliran, tetapi satu-satunya aliran yang dijamin masuk surga adalah aliran Amaliyah. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Tarekat yang Dikembangkan Yusup Maulana&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam tumpukan buku-buku dan kita-kitab yang terdapat di rumah ustad HM Yusup, terdapat catatan-catatan yang ditulis tangan dengan menggunakan bahasa sunda. Isinya diperkirakan merupakan inti ajaran yang tercantum dalam Kitab Dawamul Haq. Antara lain berisi ajaran tentang makrifat, ilmu mencari Allah, keimanan, tentang umat rasulullah, asal usul dan hakekat manusia, dan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih rinci, beberapa bagian isi catatan tersebut sebagai berikut. Bahwa makrifat kepada Allah itu wajib bagi seluruh manusia, tepatnya bagi manusia yang sudah akil baligh. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW (tidak ditulis perawinya, red), “Awaluddini ma’rifattullohi ta’ala”. (awal-awalnya agama itu harus tahu dulu Allah SWT). Jalan makrifat kepada Allah ada dua, ada jalan dari bawah ke atas, dan ada jalan dari atas ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan ini, jalan dari bawah ke atas itu melalui belajar di pesantren, mengkaji kitab Quran dan melakoni ibadahnya, yakni rukun yang lima perkara. Itulah jalan ibadah makrifat kepada Allah Taala. Tapi sayangnya, banyak yang tidak sampai ke makrifatnya, lantaran terlanjur mendapat kenyamanan menyebut asmanya. Artinya sudah merasa nikmat dengan begitu, padahal bila diteruskan makrifat kepada dzat sifatnya Allah Ta’ala, masa tidak ketemu akan kenikmatannya, sebab baru di asma saja sudah begitu nikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal asal usul umat manusia, dalam catatan tersebut disebutkan berasal dari babu Hawa yang berasal dari tulang iga nabi Adam. Sementara nabi Adam berasal dari unsur bumi, unsur pi, unsur air, dan unsur angin. Sedangkan unsur-unsur itu berasal dari nur Muhammad, yakni cahaya hitam hakekatnya bumi, cahaya putih hakekatnya air, cahaya kuning hakekatnya angina, dan cahaya merah hakekatnya api. Lalu nur Muhammad berasal dari nur yang Maha Suci, yakni dari johar awal (zat yang paling awal). Johar awal inilah bibitnya tujuh bumi, tujuh langit, dan segala isinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan ini juga menerangkan perbedaan iman dan makrifat. Iman artinya percaya dan makrifat artinya tahu. Percaya kepada Allah Ta’ala itu harus dengan makrifat, sehingga jangan hanya iman dengan taklid, mengaku percaya adanya Allah berdasarkan kabar dari orang lain, atau dapat dari kita saja, atau jangan hanya percaya adanya Allah hanya karena adanya ciptaan-Nya, seperti bumi dan langit. Agama lain pun menganut kepercayaan seperti itu. Tentu saja, kalau demikian tidak adanya beda Islam dengan agama lain. Oleh karena itu makrifat juga penting selain iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara istilah Islam, diartikan suci, bersih dari segala kotoran. Menurut catatan ini, kotoran itu tiada lain adalah nafsu. Siapa pun manusia di dunia ini pasti punya nafsu. Di dalam manusia walaupun dia ahli agama, pasti punya nafsu, apalagi yang melakukan sirik, ujub, ria, dan takabur. Agama Islam tidak ada duanya. Bahkan karena satu, maka sifatnya gaib. Karena sifatnya Islam adalah nur. Sewaktu kita berada di alam nur, tidak punya nafsu, tidak ingin apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Islam tidak ada dua, yakni kanjeng Rasulullah. Sebab manusia itu kebagian pangkat Islam, manusia hanya jadi umat, tapi yang sampai ke pangkat umat pun sudah bangga. Oleh sebab itu harus tahu dulu Rasulullah. Di dalam rukun Islam juga diwajibkan ziarah ke kuburan Kanjeng Rasulullah dan ke Baitullah. Jadi harus jelas hakekatnya Rasulullah dan Baitullah dan keratonnya Allah Ta’ala, dan itu ada di dalam diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Catatan yang diperkirakan ditulis oleh Ustad HM Yusup Maulana ini juga menerangkan perihal Alquran yang terdiri dari empat perkara. Yakni Qur’anul Majid, yaitu qur’an yang ada hurupnya, yang umum dipakai ngaji oleh umat Islam sealam dunia. Lalu Qur’anul Karim, yaitu qur’an yang mulia, yang ada tulisannya, karena yang dimuliakan oleh umat Islam se alam dunia. Kemudian, Qur’anul Hakim, yakni quran yang agung, barangnya itu juga, yang suka dibaca dan diagungkan oleh umat Islam. Dan terakhir, Qur’anul Adim yang artinya qur’an yang suci dan langgeng, petunjuk yang langgeng hukumnya dari dunia sampai akhirat. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-5196620140614317851?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/5196620140614317851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/aliran-tarekat-amaliyah-diamuk-massa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/5196620140614317851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/5196620140614317851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/aliran-tarekat-amaliyah-diamuk-massa.html' title='Aliran Tarekat Amaliyah Diamuk Massa'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SopkHTQ2iyI/AAAAAAAAAec/9YyvA67z2ks/s72-c/tarekat+amaliyah-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-2011095695212403548</id><published>2009-08-17T16:12:00.004+07:00</published><updated>2009-08-17T16:19:04.295+07:00</updated><title type='text'>Titisan Bung Karno &amp; Ratu Kidul</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokfWKiyH4I/AAAAAAAAAd0/4UZVuvqE7Xc/s1600-h/KERATON_BIRU_2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 136px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokfWKiyH4I/AAAAAAAAAd0/4UZVuvqE7Xc/s200/KERATON_BIRU_2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370858496263856002" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;b&gt;Kampung Panunggulan RT 01 RW 08, Desa Babakan, Kec. Tenjo, Kab Bogor, cukup terpencil dan jauh dari keramaian. Namun dari situlah kegegeran berawal. Pasangan suami istri, Andi Antoni Setiawan (28) dan Yati Astari (20), tiba-tiba membuat pengakuan mengejutkan. Mereka membeber jatidiri yang sesungguhnya. Andi yang lahir di Blitar, mengaku sebagai titisan Bung Karno. Dan Yati Astari, warga asli Panunggulan, mengaku titisan Ratu Kidul. Apa yang sesungguhnya terjadi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nama Andi dan Yati mendadak disebut-sebut orang. Bukan apa-apa, dari mulut pasangan muda itulah terluncur pengakuan nyeleneh, sekaligus mengejutkan. Sang suami, Andi Antoni Setiawan, tak hanya mengaku sebagai titisan Bung Karno, melainkan wujud dari Bung Karno itu sendiri. Dalam sehari-hari, Andi menyebut Abimanyu untuk nama lainnya. Sementara sang istri, Yati Astari, mengaku sebagai titisan Ratu Kidul, penguasa laut selatan. Nama lainnya adalah Ibu Ratu Siti Ningrum, Ibu Nyai Roro Kidul dan Ibu Suri Keraton Biru Kasepuhan Laut Kidul. Rumahnya yang berdinding bilik bambu di Kampung Panunggulan, disebutnya sebagai Keraton Biru.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan yang menimbulkan cemooh dari masyarakat ini terjadi Minggu (23/5/2004) silam. Namun pasangan ini tak peduli. “Biarlah orang berkata apa saja tentang kami. Mereka tidak tahu bila kami sedang berjuang demi rakyat dan negara ini,” tutur Andi. Memang, memproklamirkan pengakuan itu, pasangan ini tak cuma modal dengkul. Ada segudang bekal yang telah dipersiapkan. Selain benda-benda pusaka yang diakuinya sebagai milik Bung Karno, seperti tongkat komando, keris, dan lain-lain, juga kemampuannya berbicara. Baik Abimanyu maupun Yati, terbilang mahir bertutur kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan nyeleneh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana politik yang ingat bingar oleh ritual pemilihan umum, bisa jadi merupakan momen yang pas bagi pasangan ini untuk membuat pengakuan aneh. Sehingga hawa politik yang panas, bisa membuat pengakuan itu melambung, dan mendapat perhatian dari sana sini. Artinya, ada dugaan kuat kedua orang ini hanya mencari popularitas di tengah situasi negara yang tengah sibuk menghadapi pergantian pimpinan dan pemerintahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dugaan ini dengan tegas dibantah Andi. Pria kelahiran Blitar, tanggal 16 Juli ini mengungkap alasannya. Menurut dia, kondisi negara ini sudah gawat. Telah terjadi krisis muntidimensi yang mengkhawatirkan. “Negara ini kehilangan jamus kalimasadha,” ucapnya. Maksudnya tiada lain, negara ini telah kehilangan figur, kekuatan dan pamor, sehingga menjadi morat-marit. “Saya ingin negeri ini kembali seperti jaman Bung Karno yang mempunyai wibawa di mata masyarakat dunia,” alasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jaman Bung Karno, bebernya, nama Indonesia harum dimata internasional. Nusantara bukan hanya dihormati, tapi juga disegani. Amerika Serikat sebagai negara adidaya, tidak berani macam-macam dengan Indonesia. Bung Karno sebagai pemimpin kala itu, bahkan berani dengan lantang berteriak, “Go To Hell America!” (Pergilah ke neraka Amerika!) “Pendeknya, cita-citanya menjadikan Indonesia mercusuar dunia nyaris tercapai, ketika itu,” terang Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, belum tercapai cita-cita itu, pemerintahan Bung Karno berakhir dan beralih ketangan Soeharto. Sejak itu pembangunan memang berjalan, namun sifatnya semu. Karena dibangun di atas tumpukan utang kepada negara lain. Akibatnya, Indonesia semakin terpuruk. Era reformasi pun, tak memberi banyak harapan. Bahkan arahnya semakin melenceng. Korupsi makin merebak di mana-mana. Menurut Abimanyu, dulu Bung Karno hanya menitipkan bangsa ini kepada orang lain, yakni Soeharto. “Kutitipkan  bangsa ini kepadamu,” cetus Abimanyu menirukan ucapan Bung Karno dengan suara lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah saatnya kebangkitan kembali Bung Karno. Ia akan mengambil alih kembali negeri ini, meski dengan cara yang lain. Abimanyu sendiri lantas me-warning Presiden Megawati, yang berkuasa saat ini, untuk datang kepadanya. Bila dalam waktu lima belas hari, terhitung sejak hari Minggu (23/5/2005), tidak juga datang kepadanya, maka karir Megawati sebagai presiden akan habis. Kendali pemerintahan berikutnya akan diserahkan kepada Amien Rais. “Karena langkahnya akan diamini oleh Yang Maha Kuasa,” ungkap Abimanyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengaku sebagai titisan Bung Karno, Andi alias Abimanyu ini juga mengaku memegang harta amanah. Yakni harta titipan yang dikumpulkan semasa Bung Karno berkuasa, untuk mensejahterakan rakyat. Harta ini, kata Abimanyu, jumlahnya sangat banyak dan tersimpan diberbagai tempat di tanah air. Seperti diungkap Yati, jumlah harta itu lebih dari cukup untuk melunasi utang-utang negara yang mencapai ratusan triliun. “Hanya saja mencairkannya harus memenuhi beberapa persyaratan,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yati alias Ibu Sukma alias Khairunnisa, tak mau berkomentar banyak soal harta amanah. “Itu masalah sensitif,” katanya pendek.  Selama ini, sambungnya, banyak yang datang mencari Bapak (Bung Karno atau suaminya, red). Tapi mereka tidak pernah dikasih tahu. Sebab tujuan mereka hanya untuk menanyakan keberadaan harta amanah, ujar Yati. Namun ketika didesak, Yati mengungkap bila di Jawa Barat saja ada tiga tempat menyimpan harta amanah. Salah satunya di Banten, ketika masih menyatu dengan propinsi Jawa Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Bawah Tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ramai-ramai pengakuan titisan Bung Karno dan Ratu Kidul ternyata cukup mengejutkan warga setempat. Masalahnya selama ini, keseharian pasangan muda itu tampak biasa-biasa saja. Tak ada yang janggal dalam diri mereka. Hanya saja, perilaku Yati kerap dipandang nyeleneh. Misalnya soal cara bertutur yang melebihi warga kampung lainnya. Yati dinilai pintar bicara, meski terkadang dianggap tak logis. Sedangkan Andi diketahui warga sebagai pendatang yang menikahi Yati secara baik-baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun dibalik semua itu, seperti diakui Yati, sesungguhnya mereka melakukan gerakan di bawah tanah. Yakni berjuang untuk memperbaiki kondisi negara ini. Nah, karena waktunya saat ini dianggap tepat, maka perjuangan yang selama beberapa tahun dirintis itu dibeberkan kepada khalayak. Dengan harapan rakyat mau bersama-sama berjuang memperbaiki negara ini. “Kalau hal ini dibiarkan terus menerus, maka negara ini akan hancur,” kata Yati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Abimanyu juga tengah menyiapkan energi baru. Yakni sebuah perhimpunan yang akan menjadi kendaraan dirinya melakukan perjuangan. Kendaraan itu bernama Himpunan Keluarga Besar Rakyat Indonesia. Bahkan bendera HKBRI kini sudah siap untuk dikibarkan. “Bila HKBRI sudah beroperasi, maka semua partai-partai akan berguguran. Sebab semuanya sudah tercakup dan akan disatukan dalam satu himpunan besar, yakni HKBRI,” jelas Abimanyu. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Sering Dikunjungi Kanjeng Ratu Kidul&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pengakuan Yati Astari alias Ratu Kidul alias Ibu Ratu Siti Ningrum&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wanita berperawakan tinggi kurus ini terbilang muda. Ia lahir di Kampung Panunggalan, 17 Agustus, dua puluh tahun silam. Bila melihat usianya, sulit rasanya membayangkan sebuah pengakuan titisan Ratu Kidul pada dirinya. Namun Yati bukan wanita sembarangan. Ia hanya lulusan SD di kampung. Saat usia 15 tahun, Yati merantau ke Jakarta. Saat itulah kepergiannya menggegerkan isi kampung. Pasalnya, sejak Yati meninggalkan rumah, keberadaannya tak diketahui lagi. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokfsclEc1I/AAAAAAAAAd8/aL3wMNvc0B4/s1600-h/TITISAN_RATU_KIDUL_3.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokfsclEc1I/AAAAAAAAAd8/aL3wMNvc0B4/s200/TITISAN_RATU_KIDUL_3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370858879062405970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Yati menghilang bagaikan ditelan bumi. Tak ada secuil kabarpun yang memberitahu dimana Yati berada. Sanak famili dan para tetangga telah berusaha mencari Yati di Jakarta. Tapi hasilnya nihil. Mereka nyaris putus asa. Barulah setahun kemudian, tiba-tiba saja Yati muncul, dan pulang ke rumah. Hanya saja, perilaku Yati berubah 180 derajat. Yati sekarang sangat jauh berbeda dengan Yati yang dulu. Yati terlihat seperti orang stress. Namun ketika bicara, suaranya meledak-ledak. Tampak seperti wanita yang cerdas, lulusan perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meski didesak sanak famili, Yati tak pernah mau mengungkap kepergiannya selama setahun. Usia 19 tahun, datang seorang pemuda bernama Andi, asal Blitar, meminangnya. Mereka pun menikah dengan upacara sederhana. Kini Yati tengah mengandung 8 bulan. Sang suami, juga tak banyak tingkah. Dia diketahui bekerja di Jakarta, yang saban minggu selalu pulang untuk berkumpul bersama sang istri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yati sendiri mengaku sebagai titisan Ratu Kidul, dengan nama lain Ibu Ratu Siti Ningrum, Ibu Nyai Roro Kidul Ibu Suri Keraton Biru Kasepuhan laut kidul. Yati mengaku kerap bertemu dengan Ratu Kidul. Kanjeng ratu, katanya, selalu datang pada waktu-waktu tertentu. Biasanya bila dirinya tengah menghadapi persoalan. “Sejak kemari Ratu Kidul membolehkan saya cerita apa saja, tapi harus hati-hati,” tutur Yati.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yati yakin dirinya titisan Ratu Kidul. Antara lain berdasarkan ciri-ciri kelahirannya. Waktu dilahirkan ada tanda khusus. Sebelah kiri tubuhnya berwarna kuning, dan sebelah kanan warna biru. Setelah itu, umur 15 tahun menghilang selama setahun. “Sebenarnya, setelah tidak ada di sini, saya merasa banyak yang datang kepda saya. Tapi orang-orang mengatakan saya suka ngomong sendiri. Padahal saya berada di tempat lain, mengalami penggodokan dalam banyak hal, termasuk ilmu-ilmu agama,” ungkapnya. Selama menghilang itu, Yati mengaku pernah pulang ke rumah sebanyak tiga kali. Tapi kata orang tua mengatakan baru sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin Ketemu Megawati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yati mengaku saat ini tengah melakukan perjuangan memperbaiki nasib negeri. Selama apa yang disebut Yati sebagai masa perjuangan, Yati mendapat titipan berupa sebentuk cincin untuk diberikan kepada presiden Megawati. Dan sejak setahun silam, niatnya bertemu Megawati hampir kesampaian. Hanya saja sang suami melarangnya. “Ada satu titipan yang harus dipakai Ibu Megawati,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pertemuannya dengan sang suami, cerita Yati, merupakan garis takdir. Andi sendiri yang datang ke sini, lalu memperkenalkan diri dengan nama Abimanyu. Namun, sebelum ketemu Andi yang mengaku Abimanyu, Yati sudah ketemu dengan orang-orang gaib.  Mereka berpesan agar saya mencari lelaki yang namanya Abimanyu. “Setelah saya cari tidak ketemu. Ada yang namanya Abimanyu tapi ternyata bukan. Nah selama pencarian itu, saya menemukan banyak sekali yang mengaku Soekarno. Sejak itu saya stop perjalanan saya. Terus saya tinggal di rumah. Beberapa bulan kemudian, dia (Andi) datang sendiri ke sini,” beber Yati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula, Yati sendiri ragu, apakah benar dia Abimanyu yang dicarinya selama ini. Tapi akhirnya dia sadar, ternyata pria itulah yang dicari. “Bapak (Andi atau Bung Karno, red) itukan kalau ngomong bibirnya naik ke atas sedikit. Itu yang saya tahu dari ciri-ciri Soekarno. Dan cirri-ciri seperti itu ada pada Andi,” ungkap Yati. Uniknya, Andi sendiri mengaku telah mencari Yati selama tiga tahun. Dalam pencarian itu dia banyak menemui tokoh-tokoh penting, hingga keluar masuk belantara Banten. “Tapi akhirnya ketemu di Panunggalan,” ungkapnya lagi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata Yati, yang dikatakannya sebagai Soekarno itu benar. “Saya mengatakan ini tidak tega sama dia. Saya sendiri kaget, terharu, kok bisa ke sini,” tutur Yati sambil terisak. Banyak yang datang mencari dia, tapi tidak diberi tahu. “Dan sekarang ini sudah waktunya, maka saya buka. Andi itu tempat (boko), jadi tempat titisan Soekarno. Saya sebenarnya juga sedih dia dicemooh orang. Tapi saya tahu persis siapa dia, dan bagaimana perjuangannya.” *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Andi Antoni Setiawan alias Abimanyu alias Bung Karno&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter pria kelahiran Blitar ini tegas dan berani. Sorot matanya tajam, gaya bicaranya berapi-api. Andi Antoni Setiawan mengaku titisan Bung Karno. Dalam banyak kesempatan, Andi kerap memperkenalkan diri dengan nama Abimanyu. Seperti diterangkan Yati, istrinya, nama itu disandangnya karena membawa Cakra Emas. Cakra emas itu semacam kenabian atau wahyu dari Yang Maha Kuasa. “Cakra emas itu boleh dibilang baju plus isinya yang disebut antakusuma. Orang-orang sekarang bilangnya reinkarnasi. Kalau dulu bilangnya cakra emas atau lahir kembali. Cakra emas kalau dimasukkan ke negara adalah burung garuda,” jelas Yati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sokf1YfnbxI/AAAAAAAAAeE/l5uTJ7r6JdM/s1600-h/BUNG_KARNO.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sokf1YfnbxI/AAAAAAAAAeE/l5uTJ7r6JdM/s200/BUNG_KARNO.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370859032584613650" /&gt;&lt;/a&gt;Menurut Yati, sebelum meninggal, Bung Karno pernah mengatakan bahwa beliau menitipkan negara ini kepada kamu, dan suatu saat akan saya ambil kembali. Dan sekarang inilah saatnya negara ini diambil kembali. Sebab dulu hanya dititipkan. Setelah reinkarnasi mau diambil kembali. “Makanya waktu banyak yang nyari-nyari Soekarno, saya diam saja. Sebab saya tahu dia di sini. Ada yang nyari ke sini pun tidak saya kasih tahu. Pertama, untuk ke selamatan. Kedua, yang mencari Soekarno itu hanya untuk mengejar hartanya. Hartanya itu milik istri pertamanya, yang di selatan. Itu sebabnya tidak saya kasih tahu,” beber Yati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi sendiri mengaku sebagai pewaris keraton Gebang yang ada di Kota Blitar, Jawa Timur. Dari kakeknya, dia menyebutkan keturunan Sunan Bonang. Andi alias Abimanyu mengatakan bila dirinya tidak mengaku-ngaku Bung Karno. Namun dia sendiri merasa adalah wujud dari Bung Karno itu. Pengakuan itu didasarkan kondisi negara yang genting. “Negara ini kehilangan Jamus Kalimosodho. Yakni kehilangan figur, kekuatan dan pamor, sehingga tampak morat marit,” tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abimanyu ingin negara ini kembali seperti jaman Bung Karno yang punya wibawa di mata dunia. Yang terjadi saat ini adalah negara kita kehilangan wibawa, bahkan dihina oleh negara-negara lain. “Nusantara terpuruk,” tandasnya. Orang-orang tua negeri ini, kata Abimanyu, sudah hilang. Sehingga dirinya ingin mempersatukan kembali anak-anak bangsa ini. Dia juga berpesan kepada Presiden Mgawati untuk bertobat terhadap dosa-dosanya yang sudah dilakukan. Mega juga dianjurkan sadar dan patuh pada nasehat para orang tua.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau itu yang dilakukan maka ia layak kembali menjadi pemmpin bangsa ini. Kalau tidak, maka saya serahkan bangsa ini pada Amien Rais, biar negara ini diamini oleh Tuhan YME,” katanya. Abimanyu itu adalah yang dituakan para sesepuh tanah Jawa. Seperti Mbah Kancil di Banten, Raja Badui Dalam, Kyai Oyot di Cianjur, Mbah Anom penguasa Sumur Tujuh (Cibulang), Gunung Ciremai dan tetua lainnya. “Kami sudah bersidang pada bulan Maulud yang lalu di Istana Bogor dan sudah diputuskan agar saya turun untuk menyelamatkan bangsa ini,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Abimanyu, dirinya bisa mebuka tabir harta karun milik negara yang tersimpan di perut bumi nusantara. Namun, dia tidak mau gegabah seperti banyak orang yang mengaku bisa mengeluarkan harta karun itu asal ada kekuatan hukum sendiri dari negara. “Ini bukan main-main dan merupakan amanah yang diberikan pada dirinya dari para sesepuh tadi,” ungkapnya lagi. Abimanyu mengatakan bila menjadi pemegang amanah itu tidak boleh sombong. Sebab harta yang dipegangnya itu merupakan titipan yang harus dipergunakan untuk kepentingan rakyat. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-2011095695212403548?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/2011095695212403548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/titisan-bung-karno-ratu-kidul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/2011095695212403548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/2011095695212403548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/titisan-bung-karno-ratu-kidul.html' title='Titisan Bung Karno &amp; Ratu Kidul'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokfWKiyH4I/AAAAAAAAAd0/4UZVuvqE7Xc/s72-c/KERATON_BIRU_2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-2216710885730466320</id><published>2009-08-17T16:11:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T16:12:16.686+07:00</updated><title type='text'>Bogor Ibukota Pakuan Pajajaran</title><content type='html'>&lt;b&gt;Pada 3 Juni silam, Bogor merayakan hari jadinya. Pada saat itulah, 527 tahun yang lalu, Kerajaan Pakuan Pajajaran melakukan pelantikan Sri Baduga Maharaja, sebagai raja Pajajaran yang pertama. Upacara itu dikenal dengan nama Kuwedabhakti, yang berlangsung tepat pada 3 Juni 1482. Lantas benarkah Bogor merupakan ibukota Pakuan Pajajaran?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara Kuwedabhakti dilangsungkan selama sembilan hari. Itu berlangsung hingga peresmian Pakuan (Kabupaten Bogor saat ini) menjadi pusat pemerintahan. Sekaligus melantik Sri Baduga Maharaja, sebagai raja Pajajaran yang pertama. Nah, berdasarkan peristiwa histories itulah sidang pleno DPRD Kabupaten Bogor, 26 Mei 1972, menetapkan tanggal 3 Juni sebagai hari jadi Kabupaten Bogor. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibukota Pajajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tradisional, letak ibukota Pakuan Pa¬jajaran berada di Kota Bogor sekarang. Angga¬pan itu didukung bukti-bukti sejarah dan hasil penelitian kepurbakalaan. Salah satu bukti se¬jarah yang masih ada sampai sekarang adalah  sebuah prasasti di daerah Batutulis.&lt;br /&gt;Dalam prasasti Batutulis diberitakan "Wag na pun, Ini Sasakala Prabu Ratu purane pun. Di wastu diyadi ngaran Prabu Guru Dewataprana, diwastu diyadi ngaran Sri Baduga Maharaja Ratuhaji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu De¬wata". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, “Semoga selamat. Inilah tanda peringatan Prabu Ratu almarhum. Dinobatkan ia dengan na¬ma Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) ia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Pen¬guasa di Pakuan Sri Sang Ratu Dewata). Dalam cerita pantun Bogor disebutkan, pada masa Pajajaran setiap tahun selalu diadakan per¬ayaan upacara "Gurubumi" dan "Kuwedhabak¬ti ". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam agama Pajajaran, Kurewa adalah De¬wa kekayaan (kemakmuran) dan dianggap sua¬mi Dewi Sri (padi). Upacara tsb diadakan 49 hari setelah penutupan musim panen jatuh, akhir bu¬lan Maret. Bila dari akhir Maret jamu 58 hari (49+9) atau kira-kira dua bulan, maka upacara "Kuwedabhakti" sebagai penutupan upacara "Guru¬bumi" akan jatuh pada akhir Mei atau awal Juni .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut perhitungan yang teliti, bulan puma¬ma pada bulan Mei 1482 bersamaan dengan tang¬gal 15 Rabiulawal tahun 887 Hijrah dan itu jus¬tru jatuh pada 4 Mei 1482, sedangkan upacara "Kuwedhabakti" pada akhir Mei atau awal Juni . Dengan demikian, ditetapkan bahwa upacara yang dimaksud berlangsung pada awal Juni 1482. Malam purnamanya bertepatan dengan tanggal 15 rabiul akhir 887 Hijrah yang jatuh pada tang¬gal 3 Juni 1482. Dan 3 Juni 1482 itu pula dijadikan sebagai hari jadi Kota Bo¬gor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mengapa tidak diam¬bil sejak pertama kali Pakuan Pajajaran didirikan, sekitar awal abad ke-8? Me¬mang ada benarnya. Namun kesulitannya adalah tidak tentu angka tahunnya. Sementara pada periode 1482, bebera¬pa kali kedudukan Pakuan diseling oleh kota-ko¬ta lain sebagai pusat pemerintahan. Di samping itu, muncul pula alasan kesejara¬han, karena periode Sri Baduga, adalah permu¬laan periode atau era Pajajaran akhir yang sejak itu ibukota kerajaan tidak pindah-pindah lagi sampai saat keruntuhannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tradisional, justru periode Pajajaran akhir inilah yang di¬jadikan kebanggaan penduduk Jabar. Alasan ter¬penting dalam pembentukan "hari jadi" ini ialah ci¬ta-cita yang terkandung di dalamnya. Mengapa mempunyai sejarah "Hari Jadi Bogor" karena harus kembali ke motto sejarah "Histori vitae Magistra" (Sejarah adalah Guru Kehidupan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta kuno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, benarkah letak ibukota Pakuan Pajajaran berada di Kota Bo¬gor sekarang? Setidaknya, ada bukti kuat yang menunjukkan hal itu. Yakni sebuah peta kuno buatan orang Sunda yang tersimpan di sebuah desa di daerah Garut. Dalam peta yang terbuat dari bahan kain digambarkan, letak Pajajaran berada antara Cisadane dan Cili¬wung, tepatnya di Kota Bogor sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti lain, laporan ekspedisi VOC pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Sersan Scipio yang melewati daerah Batutulis pada hari Sabtu tanggal 26 Juli 1687 dalam perjalanan ekspe¬disinya mencari pantai selatan, memberitakan adanya sisa-sisa parit dan benteng. la mendapat laporan, kelompok peninggalan purbakala di Batutulis adalah bekas singgasana raja Pajajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan kedua berasal dari Kapitan Adolf Winkler 15 Juni 1690. la memberitakan telah melewati Pakuan yang terletak di Pajajaran, an¬tara sungai besar (Ciliwung) dan Sungai Tangerang (Cisadane). Berita itu disusul laporan ekspedisi VOC ke lereng Pangrango untuk meneliti sumber gempa bumi dahsyat yang ter¬jadi pada malam tanggal4/5 Januari 1699 (letu¬san Gunung Salak) Ekspedisi yang dipimpin Ram dan Coops. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan dari Cikereteg lewat Kampung Rancamaya tanggal 29 November 1701, rombongannya sampai ke Tajur. Di daerah ini mereka menemukan sisa "jalan yang lurus di¬tumbuhi pohon durian kedua tepinya" dan meru¬pakan tempat bercengkrama raja Pajajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita keempat berasal dari Abraham van Riebeck yang pernah dua kali mengunjungi Batu¬tulis. Pertama pada tanggal 17 Aguustus 1703 se¬bagai Direktur Jendral VOC dan kedua kali pa¬da tanggal 15 Mei 1704 sebagai Gubernur Jen¬dral. la adalah putra Jan van Riebeck pendiri "Kaapstad" di Afrika Selatan. la melaporkan ten¬tang adanya sisa-sisa parit dan adanya gerbang Pakuan (Layungsari/Jerokuta) yang kanan-kirinya diapit oleh dua buah parit yang curam dan dalam. Jarak dari gerbang Pakuan ke Batutulis disebutkan dua menit perjalanan naik kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapak sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuktian kepurbakalaan dilakukan oleh CM Pleyte. la berhasil menemukan bekas-bekas benteng atau kuta Pakuan. Ternyata daerah bekas ibukota Pakuan Pajajaran meliputi Jerokuta, Batutulis, Lawanggintung, pasar Sukasari. Bekas kuta (benteng) Pakuan masih dapat disaksikan di daerah Tajur belakang Kompleks Perumahan LIPI antara Cibalok dan Cipakancilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bekas-bekas parit dapat dilihat di tiga tempat, yaitu sebelah luar sisa kuta, di Batutulis (dari be¬lakang stasiun kereta api membentang sampai di Balekambang) dan di kompleks perumahan . Dreded terbentang sampai di belakang SD Batu¬tulis I. Dapat dipastikan, bahwa letak bekas ibukota Pakuan Pajajaran adalah di Kota Bogor yang sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapannya, bahwa bekas istana Pakuan terletak di Istana Bogor sekarang yang berada dari almarhum Suhamir dan MA Salmun, ternyata keliru karena tidak didukung bukti-buk¬ti sejarah lagi. Lagi pula sebagian kesimpulan¬nya didasarkan atas isi "prasasti kebun Raya". Prasasti ini ternyata "palsu", karena dibuat oleh Dr Friederich, seorang sarjana yang pertama kali mencoba prasasti Batutulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letak bekas Istana Pakuan, menurut penelit¬ian ialah di daerah Lawanggintung di Kompleks Zeni Angkatan Darat. Hal ini didasarkan kepa¬da hasil penelitian tentang Dam Cipakancilan ba¬gi kehidupan penduduk Pakuan seham-hari, ceri¬tera pantun Bogor dan penelitian penul is atas po¬sisi batu-batu peninggalan Purbakala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bukti-bukti sejarah di atas, wajarlah bila kita mengambil tahun pendirian Kota Bogor jauh ke masa silam, yaitu pada saat tempat ini menja¬di ibukota kerajaan Pajajaran. Selain adanya hubungan historis dan lokasi antara Kota Bogor dan Pakuan, juga terdapat hubungan kepen¬dudukan. Tokoh-tokoh Ranggading dan Ki Mangparang adalah tokoh pembesar Pajajaran yang kemudi¬an memimpin masyarakat muslim di Pajajaran di daerah sekitar Batutulis dan Pakancilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, setelah kekuasaan Pajajaran dilikuidasi oleh Banten, Pakuan hanya kehilangan fungsinya sebagai pusat pemerintahan, tetapi tidak kehi¬langan fungsinya sebagai tempat tinggal. Dan yang jelas ulang tahun Kotamadya Bogor maupun Kabupaten Bogor sama dilaksanakan pada 3 Juni atau dikenal dengan "Hari Jadi Bo¬gor”. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-2216710885730466320?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/2216710885730466320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/bogor-ibukota-pakuan-pajajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/2216710885730466320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/2216710885730466320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/bogor-ibukota-pakuan-pajajaran.html' title='Bogor Ibukota Pakuan Pajajaran'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-1846687424884812346</id><published>2009-08-17T15:57:00.002+07:00</published><updated>2009-08-17T15:59:50.553+07:00</updated><title type='text'>Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sokb1Zm719I/AAAAAAAAAdk/KOcPNMUrZek/s1600-h/suryalaya-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sokb1Zm719I/AAAAAAAAAdk/KOcPNMUrZek/s200/suryalaya-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370854634837235666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Pondok Pesantren Suryalaya didirikan 5 September 1906 (7 Rajab 1323 H) oleh KH Abdullah Mubarrok bin Nur Muhammad, yang biasa dipanggil Abah Sepuh. Di dalam masyarakat, Abah Sepuh dikenal sebagai tokoh yang aktif membantu mensejahterakan masyarakat sekitar, baik lahir maupun batin. Selain itu, Abah Sepuh juga banyak berjaya membantu Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam masa perjuangan kemerdekaan, yakni melalui syiar, pendidikan dan pengamalan agama Islam. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abah Sepuh dikenal juga sebagai guru mursyid dalam pengajaran dan pengamalan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Awal mula berdirinya pontren Suryalaya tak lepas dari perjalanan Abdullah Mubarrok atau Syekh Mubarok ke Cirebon untuk berguru kepada Syekh Tolhah. Ketika itu, Syekh Mubarok sudah menjadi pengajar di Pesantren Tundagan. Tiap tiga bulan sekali ia pergi ke Cirebon untuk menimba ilmu kepada syekh Tolhah. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kemudian datang gangguan dari ulama sekitar dan aparat pemerintah kolonial. Syekh Mubarok waktu itu sudah megnamalkan ajaran-ajaran yagn diberikan Syekh Tolhah di pesantrennya. Bahkan memberikan penerangan kepada masyarakat sekitar tentang ihwal Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN). Akan tetapi, hal ini dinilai beberapa ulama di sekitar Tundagan sebagai ajaran yang menyimpang dari agama dan berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas aparat kolonial Belanda yang tahu TQN tengah disebarkan Syekh Mubarok kepada masyarakat mulai melakukan pelarangan. Aparat kolonial sudah mengendus bila tarekat itulah yang mensponsori pemberontakan Cilegon – Banten pada 1888 sehingga harus dicegah penyebarannya. Maka berdasarkan berbagai pertimbangan, Syekh Mubarok lantas memindahkan pesantren beserta keluarganya ke Kampung Cisero, 26 KM sebelah Barat Tundagan, atau masuk dalam wilayah Desa Pagerageung, Tasikmalaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Cicero, tingkat gangguan dari mereka yagn belum meahyami tarekat ternyata cuup besar, disamping lokasinya yang kurang sesuai untuk tempat pendidikan dan mudah terlihat oleh aparat colonial Belanda. Pada tahun 1904, pesantren lantas dipindahkan lagi ke Kampung Godebag, atau 2,5 Km arah timur Cicero. Di sinilah, Syekh Mubarok yang juga dikenal dengan panggilan Abah Sepuh kemudian membangun masjid dan rumah-rumah untuk temapt tinggal keluarga dan santri yang mondok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Godebag ini, Abah Sepuh pernah dijebloskan ke dalam penjara. I alantas minta izin kepada Syekh Tolhah untuk mencari tempat lain yang lebih aman dari tekanan aparat colonial Belanda. Namun permohonan itu ditolak Syekh Tolhah. Sebab menurut mata batin Syekh Tolhah, Godebag punya masa depan gemilang. Bahkan Syekh Tolhah sempat sekian lama tinggal di Godebag untuk meyakinkan murid kesayangannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benar saja, penglihatan ke depan guru mursyid TQN itu tidak meleset. Pesantren Godebag yang kemudian bernama Suryalaya itu berkembang pesat. Dan sedikit demi sedikit, ikhwan Suryalaya bertambah. Dan ajaran TQN pun mulai dipahami masyarakat secara luas, dan tidak dipandang sebagai ajaran yang menyimpang. Namun pada tahun 1953, Abah Sepuh yang mulai sakit-sakitan mulai menyerahkan semua urusan pesantren kepada KH Shohibul Wafa Tajul Arifin atau yang biasa dipanggil Abah Anom. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abah Sepuh Mangkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1956, Abah Sepuh mangkat. Tahun itu pula, putranya yang ke-5, yakni Abah Anom, menggantikan peran Abah Sepuh. Kiprah Abah Anom meneruskan pesantren Suryalaya adalah berusaha membangun berbagai sarana dan prasarana pertanian rakyat yang waktu itu dalam situasi keamanan buruk. Saluran air irigasi pedesaan yagn dibangun oleh Abah Sepuh sepanjang 2 KM, diperbaiki dan dipelihara agar airnya dapat mengairi sawah-sawah rakyat. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sokb7A9qK4I/AAAAAAAAAds/L6ZQuruiM6Q/s1600-h/suryalaya-2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sokb7A9qK4I/AAAAAAAAAds/L6ZQuruiM6Q/s200/suryalaya-2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370854731300875138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Pontren Suryalaya dalam membantu perjuangan bangsa Indonsia lepas dari belenggu penjajah amat kentara. Secara langsung, misalnya, Pontren Suryalaya ikut membantu berjuang melawan pemberontakan DI/TII. Dalam bidang sosial, pontren Suryalaya juga aktif membina eks preman yang insaf, membina korban penyalahgunaan narkotika, kenakalan remaja dan gangguan kejiwaan yang ingin menjadi normal kembali. Peran lain adalah aktif membangun di bidang pertanian, koperasi, kesehatan, pendidikan umum dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak langsung, pontren Suryalaya ikut membangun bangsa dengan meningkatkan kualitas SDM melalui pendekatan keagamaan. Diantaranya dengan cara pendidikan, pengajaran dan pengamalan TQN bagi umat manusia yang ingin masuk Islam secara lengkap (lahir dan batin). Tujuannya untuk memperkuat iman agar hati menjadi bersih dan bebas dari kotoran yang akhirnya akan menimbulkan rasa ikhlas dan yakin kepada Allah dalam melaksankan amal, ibadah dan pekerjaan di dunia. &lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/pondok-pesantren-suryalaya-tasikmalaya_17.html"/&gt;(bersambung)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-1846687424884812346?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/1846687424884812346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/pondok-pesantren-suryalaya-tasikmalaya_6134.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/1846687424884812346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/1846687424884812346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/pondok-pesantren-suryalaya-tasikmalaya_6134.html' title='Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya (1)'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Sokb1Zm719I/AAAAAAAAAdk/KOcPNMUrZek/s72-c/suryalaya-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-2715566846954222169</id><published>2009-08-17T15:55:00.004+07:00</published><updated>2009-08-17T16:00:38.354+07:00</updated><title type='text'>Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokbLPyEKAI/AAAAAAAAAdU/B-AYBjIoeRQ/s1600-h/kh+zaenal+abidin+anwar-1+.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 189px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokbLPyEKAI/AAAAAAAAAdU/B-AYBjIoeRQ/s200/kh+zaenal+abidin+anwar-1+.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370853910645057538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Hampir setiap kali menyebut Ponpes Suryalaya, maka orang akan langsung teringat Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN). Memang, pengamalan TQN merupakan spesialisasi dari Ponpes Suryalaya. Yakni penggabungan dua tarekat mu’tabarah, yaitu Tarekat Qodiriyah dengan metode dzikir jaharnya dan Tarekat Naqsyabandiyah dengan metode dzikir khofinya. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dituturkan pengasuh Pontren Suryalaya, KH Zaenal Abidin Anwar, melalui pengamalan TQN akan timbul rasa ikhlas, tenteram, adil, welas asih, ramah, jujur, cinta kepada agama dan Negara, berani berkorban demi agama dan Negara, berpendirian teguh, gotong royong, tahan godaan setan, sabar, waspada dan hilangnya rasa benci, emosi, cengeng, nafsu jahat, iri dengki, dan penyakit hati lainnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan pengajaran TQN atau talqin atau bai’at dzikir diberikan dan langsung di awasi oleh Abah Anom sebagai guru mursyid yang berlokasi di pusat Ponpes Suryalaya, Tasikmalaya. Karena kondisi kesehatan dan usia Abah Anom yang tidak memungkinkan, kegiatan ini beliau dibantu oleh wakil-wakil talqin yang telah diberi mandat untuk dapat memberikan talqin TQN dengan lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia dan Asean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talqin ini diberikan kepada orang-orang yang ingin belajar dzikir secara benar seperti yagn telah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW, sahabat-sahabat nabi dan ulama-ulama atau wali-wali yang mewarisi ilmu dzikir dari beliau sebagai salah satucara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT serta mengerjakan segala perintah-Nya dengan hati yang lebih yakin dan ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokbS1eUEII/AAAAAAAAAdc/93VwyOo96n8/s1600-h/suryalaya-4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokbS1eUEII/AAAAAAAAAdc/93VwyOo96n8/s200/suryalaya-4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370854041021845634" /&gt;&lt;/a&gt;Jadi dalam diri orang tersebut harus ada keinginan yang meskipun kecil, untuk dapat lebih meningkatkan diri dalam melaksanakan perintah-Nya (beribadah) secara sempurna lahir dan batin, sehingga dapat lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Keinginan itu merupakan inti dari taubat, yang merupakan pernyataan bahwa apa yang telah dilakukan sebelumnya dalam beribadah belumlah sempurna dan ingin lebih disempurnakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap bulan, rata-rata tamu yang berkunjung ke Ponpes Suryalaya mencapai ribuan. Mereka datang baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Seperempat tamu tersebut adalah ikhwan lama TQN dengan tujuan silaturahmi kepada Abah Anom atau pengasuh ponpes Suryalaya lainnya. Selebihnya, para tamu itu datang untuk meminta diajarkan dzikir TQN atau talqin baik kepada Abah Anom atau wakil talqin yang ada. Hal ini belum termasuk talqin yang diberikan oleh apra wakil talqin dipelbagai daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah ditalqin dzikir TQN, maka dzikir jahar dan khofi yagn sudah ditanamkan ke dalam hati harus selalu diamalkan, sesuai aturan pengamalan TQN secara lengkap yang terdapat dalam buku Uqudul Jumaan, yaitu meliputi pengamalan harian, mingguan (khataman) dan bulanan (manaqiban).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah, jika hal ini diterapkan secara rajin dan berdisiplin, akan diperoleh hikmahnya sesuai dengan azas dan tujuan TQN yaitu : semakin dekat kepada Allah swt, mendapatkan keridhoan-Nya, timbul perasaan cinta kepada-Nya dan akhir mendapatkan ma’rifat dari-Nya. “Jika ini sudah tercapai, maka jadilah ia manusi ainsan kamil yang berguna bagi agama, bangsa dan Negara, paling tidak bagi masyarakat sekitar,” tutur KH Zaenal Abidin.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silsilah TQN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; TQN selain merupakan spesialisasi dari ponpes Suryalaya, ia juga adalah gabungan dua tarekat mu’tabarah, yakni tarekat Qodiyah yang terkenal dengan metode dzikir jaharnya (diucapkan) dan Tarekat Naksyabandiyah degnan metode dzikir khofinya (dalam hati). Melalui talqin dan pengamalan kedua dzikir itu, dengan tidak lupa melaksanakan syariat Islam yang wajib dan sunat lainnya, Insya Allah manusia dapat mencapai mahabah dan ma’rifat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Silsilah TQN hingga Abah Anom sekarang ini antara lain : Allah SWT, Jiblil as, Muhammad saw, Sayyidina ali kw, Husain ra, Zain al ‘Abidin ra, Muhammad al Baqr ra, Ja’far al Shadiq ra, Musa al Khadim ra, Abu al Hasan “ali Ibn Musa ra, Ma’ruf al Karkhi ra, Sirr al Saqathi ra, Abu al Qasim al Junaidi al Baghdadi ra, Abu bakr Dilfi al Syibli ra, Abu al Fadhl atau ‘Abd al Wahid al Tamimi ra, Abdul FAroj at Thurthuusi ra, Abu al Hasan ‘Ali Ibn Yusuf al qirsyi al Hakkari ra, Abu Sa’id al Muharik Ibn ‘Ali al Mahzumi ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu tersebutlah tokoh ulama besar sepanjang masa, yang masuk ke dalam silsilah TQN ke-19 yakni Abdul Qadir al Jailani qs. Kemudian Abd al ‘Aziz ra, Muhammad al Hattak ra, Syams al “Din ra, Syarof al Din ra, Nur al Din ra, Wali al Din ra, Hisyam al Din ra, Yahya ra, Abu Bakr ra, Abd al Rahim ra, Utsman ra, Abd al Fatah ra, Muhammad Murad ra, Syams al Din ra, Ahmad Khatib Syambas Ibn Abd al Ghaffar ra, Thalthat ra, (36) Abdullah Mubarak Ibn Nur Muhammad ra (Abah Sepuh), dan terakhir (37) Shohibulwafa Tajul Arifin ra (Abah Anom). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa awal tarekat-tarekat diajarkan dan diamalkan di Indonesia, kelancaran untuk mencapai tingkat pengembangannya sangat tergantung kepada para penguasa dan pejabat pemerintah kesultanan atau kerajaan bersangkutan. Para guru tarekat pda masa awal, kebanyakan berasal dari luar Indonesia, kemudian berhasil menjadi penasehat-penasehat keagamaan para Sultan, para kerabat Sultan dan para pejabat tinggi di kesultanan, seperti para wali di Jawa atau ulama besar di luar pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh Tarekat Naqsyabandiyyah, dapat cepat dan lancer dalam mencapai tingkat pengembangannya mulai abad ke-13 hingga abad ke-18. Hal itu dikarenakan para Sultan atau pejabat-pejabat tinggi di kesultanan menganut Tarekat Naqsyabandiyyah atau Sattariyyah. Sedangkan Tarekat Qadiriyyah dan lainnya kebanyakan dianut di lapisan menengah ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-17 hingga ke-19, laju perkembangan dan luas cakupan tarekat-tarekat tersebut mengalami hambatan besar karena terjadinya peperangan baik antar bangsa Indonesia sendiri, maupun perang menghadapi serbuan bangsa-bangsa eropa seperti Pportugis, Belanda dna Inggris yang memasuki berbagai bagian wilayah Indonesia. &lt;a href="http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/pondok-pesantren-suryalaya-tasikmalaya.html"/&gt;(bersambung) &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-2715566846954222169?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/2715566846954222169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/pondok-pesantren-suryalaya-tasikmalaya_17.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/2715566846954222169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/2715566846954222169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/pondok-pesantren-suryalaya-tasikmalaya_17.html' title='Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya (2)'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokbLPyEKAI/AAAAAAAAAdU/B-AYBjIoeRQ/s72-c/kh+zaenal+abidin+anwar-1+.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-1376161253125600806</id><published>2009-08-17T15:52:00.002+07:00</published><updated>2009-08-17T15:55:01.314+07:00</updated><title type='text'>Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya (3)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Soka11kGt_I/AAAAAAAAAdM/vtidTCk5iEs/s1600-h/suryalaya-4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Soka11kGt_I/AAAAAAAAAdM/vtidTCk5iEs/s200/suryalaya-4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370853542829930482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Salah satu ciri khas Ponpes Suryalaya selain melaksanakan pendidikan formal berbasis kurikulum agama Islam dan Umum, juga membuka pondok Inabah. Yakni pondok yang diperuntukkan menangani mereka yang kecanduan narkoba, kenakalan remaja dan gangguan jiwa lainnya. Proses penanganannya menggunakan metode TQN.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pendidikan agama Islam di Ponpes Suryalaya secara tradisional sudah berjalan bersamaan dengan berdirinya ponpes ini tahun 1905. saat itu, KH Abdullah Mubarok (Abah Sepuh) sudah berusia 54 tahun dan sudah cukup lama belajar ilmu agama dari berbagai guru, diantaranya Syekh Tolhah dari Cirebon dan Syekh Holil dari Madura. Kedua guru ini dikenal sebagai guru Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) besar pada zamannya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak itu Abah Sepuh menerima santri yang ingin belajar Islam baik ilmu teori seperti fiqih, ushuluddin, ilmu alat, tasawuf, dan lain-lain, termasuk praktek amaliah seperti pelaksanaan syari’ah Islam maupun pelaksanaan tarekat Islam dalam bentuk pengajaran (talqin) dan pengamalaan TQN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Apalagi sejak diterimanya mandate sebagai guru mursyid TQN dari Syekh Tolhah pada tahun 1908, maka semakin banyaklah santri-santri beliau. Kondisi ni berlangsung terus ketika Ponpes SUryalaya dipimpin oleh KH Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom) yang juga mendapat mandate sebagai guru mursyid TQN sejak tahun 1956.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan formal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak tahun 1957, santri Ponpes Suryalaya semakin membludak. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, maka didirikanlah sekolah dengan kurikulum formal yang menitikberatkan pendidikan agama Islam seperti Madrasah Diniyyah Awwaliyah. Dan dari tahun ketahun perkembangan semakin pesan dengan didirikan sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP), Madrasah Tsanawiyah (MT), Madrasah Aliyah (MA), Pendidikan Guru Agama (PGA), dan Perguruan Tinggi Da’wah Islam (1963).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1970, berdiri lagi sekolah-sekolah dengan kurikulum pendidikan formal umum seperti SMP (1970), SMA (1976), TK (1978), SMU (1994), dan Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (AILM, 1986). Meski demikian cirri khas dari pesantren tetap dipertahankan dalam satu pendidikan formal. Diantaranya dalam satu lokasi selalu ada Kiyai/Ajengan, Mesjid, Sekolah/kampus, asrama, dan kompleks rumah tinggal guru/dosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar jam sekolah formal yang berlangsung dari pukul 07.00 – 13.00, siswa/santri dapat mengikuti kegiatan pengajian tradisional (non formal) yang dilaksanakan di Masjid Nurul Asror, yang waktunya setelah salat wajib. Kegiatannya antara lain mengaji Alquran, mengaji kitab Safinah, Jurmiah, Tijan, Taqrib, Imriti, kemudian Tasripan, dan lain peljaran seperti bahasa Arab, ngaji Lagam, Imla dan lain-lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pondok Inabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Salah satu ciri khas Ponpes Suryalaya adalah adanya pondok Inabah. Inabah berarti kembali ke jalan yagn benar. Dalam pengertian tasawuf, Inabah adalah salah satu maqam atau tingkatan dalam perjalanan seorang murid yagn sedang berupaya mendekati Allah swt, yaitu pada maqam kembalinya dari maksiat menuju kepada ketaatan kepada Alalh Karena merasa malu melihat Allah swt.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sasaran dari TQN yang dikembangkan Ponpes Suryalah adalah batiniah/rohaniah atau jiwa/hati manusia. Sehingga jiwa/hati dibersihkan dari segala kotoran atau penyakit yang timbul karena kurang kuatnya iman dalam menahan gelombang godaan setan. Dan narkotika adalah salah satu cara yang sangat disenangi oleh setan untuk membawa manusia kepada kesesatan, terutama bagi remaja yang salah didik. Sama halnya minuman keras, obat-obat narkotika menyerang pusat syaraf manusia dan punya sifat yang menghilankan kesadaran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari pengalaman, seorang yang telah menderita kecanduan narkotika, 90% perkataannya adalah dusta dan sering berpura-pura baik. Orang tua yagn tidak waspada akhirnya sering mendapatkan bahwa anaknya ternyata sudah cukup lama menderita kecanduan narkotika, sehingga sulit untuk disembuhkan. “Tujuan akhir dari inabah adalah mengembalikan mereka menuju jalan yang benar dan diridhoi Allah swt,” tutur KH Zaenal Abidin Anwar, pengasuh Ponpes Suryalaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan metode TQN yang dipakai untuk penyembuhan korban narkotika dan gangguan kejiwaan lainnya adalah penyembuhan yang dimulai dari hati/jiwa. Ini sesuatu dengan petunjuk Alquran dan Hadist. Maka pada 1971, secara insidentil dimulailah penyembuhan terhadap para korban narkotika yagn dititipkan ke Ponpes Suryalaya dengan metode TQN. Ternyata hanya dalam waktu 6 bulan, hasil memuaskan diraih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Agar proses penyembuhan berjalan lebih efektif dan efisien, maka pasien ditempatkan dalam suatu panti penyembuhan, termasuk untuk menangani kenakalan remaja dan gangguan kejiwaan lainnya. Akhirnya tahun 1980 didirikanlah panti Inabah I di desa Cibeureum, Ciamis yang dipimpin H Anangsyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Metode TQN yang dipakai untuk penyembuhan korban narkotika, kenakalan remaja dan gangguan kejiwaan, dikembangkan secara khusus yang pelaksanaan dimulai dari jam 02.00 pagi dengan mandi taubat/junub. Selanjutnya Sholat Sunat Taubat, Tahajud, sholat sunat lainnya dan diteruskan dengan zikir sebanyak-banyaknya sampai datang waktu subuh. Setelah itu diteruskan dengan zikir dan kemudian sholat sunat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Begitulah seterusnya kegiatan harian dari pasien adalah salat (wajib dan sunat), zikir, makan dan akhirnya tidur kembali pada jam 22.00 untuk bangun kembali pada jam 02.00 dengan kegiatan yang sama. Dalam waktu sepekan, jika kesadaran asien sudah pulih, maka mereka di bawah kepada Abah Anom atau para wakilnya, untuk ditalqin. Jika kegiatan ini dilaksanakan secara disiplin dan rutin, maka dalam waktu 2 bulan sampai 6 bulan, mereka akan sembuh total dan menjadi normal kembali. (habis) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-1376161253125600806?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/1376161253125600806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/pondok-pesantren-suryalaya-tasikmalaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/1376161253125600806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/1376161253125600806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/pondok-pesantren-suryalaya-tasikmalaya.html' title='Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya (3)'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/Soka11kGt_I/AAAAAAAAAdM/vtidTCk5iEs/s72-c/suryalaya-4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-203886138449284375</id><published>2009-08-17T15:50:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T15:52:07.902+07:00</updated><title type='text'>Kekeramatan Masjid Angke Jakarta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokaLfz-geI/AAAAAAAAAdE/iGyQZxjF15s/s1600-h/MASJID_ANGKE.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 178px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokaLfz-geI/AAAAAAAAAdE/iGyQZxjF15s/s200/MASJID_ANGKE.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370852815436415458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Sejuk dan menyenangkan. Begitulah kesan orang-orang yang pernah salat di masjid ini. Didirikan 2 April 1751, oleh seorang wanita Cina Tartar yang kaya raya. Banyak kejadian-kejadian tak masuk akal berlaku di masjid ini. Fakta itulah yang menjadikan masjid Angke begitu dikeramatkan. Dulu, areal masjid ini merupakan tempat pembantaian etnis Cina oleh VOC.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Suasana nyaman sangat mendominasi. Tak jarang orang ingin berlama-lama ibadah di dalam masjid yang bernama Al Anwar ini. Beberapa orang terlihat salat dengan khusuknya. Ada perasaan lain saat berada di masjid ini. Masjid Angke, memang dikenal orang sebagai masjid keramat. Berbagai peristiwa besar dan aneh dimasa lalu, mengangkat pamor masjid ini dihati umat. Bahkan oleh orang-orang tertentu, masjid ini diyakini punya yoni. Ada daya magnit yang sanggup menarik orang untuk ibadah. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Angke atau masjid Al Anwar terletak di Jalan Tubagus Angke RT 01 RW 05, Kampung Rawa Bebek, Kel. Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Tahun 1972, masjid ini ditetapkan Gubernur DKI Ali Sadikin, menjadi benda cagar budaya yang patut dilindungi. Siapa yang merusak atau mengambil benda-benda apapun yang ada di dalam masjid, akan mendapat hukuman berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat Pembantaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan sakral ini seakan memamerkan beragam arsitektur. Ia berdiri di atas tanah seluas 200 m2. Ukurannya lebih kurang 15 X 15 meter. Wujud fisik tersebut masih asli sejak pertama dibangun. Belum pernah tersentuh perubahan sedikitpun. Renovasi dan penguatan fisik, memang kerap terjadi. Namun karena ukurannya terlampau mungil, maka ada penambahan bangunan. Hal itu semata untuk menampung jamaah yang selalu membludak dan ingin salat di masjid keramat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk pintu masuk, serta tiang-tiang agungnya berjumlah 4 buah. Ini mengingatkan orang pada bentuk arsitektur Belanda dan model masjid tua yang ada di Mataram dan Demak. Mimbarnya terbuat dari tembok berukir dan melekat pada tembok. Sedangkan terali-terali jendela berbentuk panjang tanpa ukiran. Ini adalah corak bangunan khas Banten. Tapi yang paling menarik adalah bagian atap yang bersusun dua serta berujung lancip. Cungkup masjid sangat dipengaruhi gaya arsitektur Cina. Sangat mirip dengan rumah ibadah umat Budha, yakni klenteng atau Vihara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, menurut sejarah, masjid ini didirikan oleh seorang wanita Cina suku Tartar yang kaya raya. Ia bersuamikan seseorang berasal dari Banten. Wajar saja bila motif-motif Cina begitu mendominasi gaya arsitektur masjid Angke ini. Menurut ketua DKM Masjid Angke, H Supriatna, pernah ada berkas kuno tulisan tangan berhuruf arab. H Supriatna menduga isinya adalah sejarah pendirian masjid ini. Berkas itu tersimpan dalam sebuah peti kecil. Sayang, peti tersebut sudah dibakar oleh mertuanya, H Mohammad ali bin Abdullah bin Mohammad Mute. Sebab keadaannya sudah hancur, dan ia tidak tahu kegunaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di areal masjid ini, dulu merupakan tempat pembantaian etnis Cina oleh VOC. Peristiwa berdarah itu terjadi tahun 1740 yang dikenal sebagai peristiwa penjagalan orang-orang cina oleh VOC dibawah pimpinan Gubernur General Andrian Valckenier. Kala itu, banyak mayat-mayat orang Cina bergelimpangan dan mengapung di sekitar sungai Angke. Bau amis darah dan potongan-potongan kepala berserakan di mana-mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, sejak peristiwa itu, muncullah nama Angke. Dalam bahasa Cina, Ang artinya merah (darah), dan Ke artinya bangkai. Waktu penyembelihan terjadi, orang-orang Cina bersembunyi di dalam kampung. Warga kampung yang iba menyaksikan peristiwa itu melindungi mereka. Lantas mereka pun hidup bersama dengan damai. Sebagai ucapan terima kasih, seorang wanita Cina dari suku Tar-tar mendirikan sebuah masjid. Kemudian diberinama  Angke. Dalam perkembangan selanjutnya, selain menjadi tempat ibadah, masjid inipun dijadikan markas penggemblengan santri-santri, serta tempat menyusunan strategi penyerangan terhadap Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Lolos Dari Kebakaran Besar&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeramatan Masjid Angke diakui banyak orang. Maklum, bangunan sakral ini masuk dalam daftar masjid-masjid tua yang ada di tanah air. Tidak hanya itu. Masjid yang didirikan 2 April 1751, ini pun meninggalkan goresan sejarah yang dalam. Antara lain pernah lolos dari kebakaran besar bulan September 1957. Benarkah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Angke dikenal pula dengan nama Al Anwar. Terletak di Jalan Tubagus Angke RT 01 RW 05, Kampung Rawa Bebek, Kel. Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Bila orang salat di masjid ini, mereka selalu ingin berlama-lama. Seperti ada kekuatan aneh yang menyedot orang untuk bersujud menyembang Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian sejarah penting turut mewarnai perkembangan masjid yang terletak di lingkungan perumahan penduduk ini. Di depan masjid Angke, ada sejumlah makam tokoh-tokoh penting. Diantaranya adalah makam Pangeran Tubagus Angke, makam Syeh Djafar, dan makam Sultan Syech Syarif Hamid Alqadri dari pontianak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam Sultan Pontianak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita rakyat di sana, beberapa puluh tahun lalu, tanah pekuburan di depan masjid Angke ini pernah porak poranda. Itu terjadi karena pohon besar disampingnya tumbang dihantam angin ribut. Tanah makam terbongkar. Beberapa makam di dekat pohon itu terangkat naik. Tak pelak, tulang belulang di dalamnya menyembul dan berserakan.  Sejauh cerita rakyat, tak ada kejadian aneh setelah angin ribut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa gaib, pernah di alami H Supriatna, ketua DKM Masjid angke sejak 1957. Tahun 1968, tutur H Supriatna, suatu malam dari makam Sultan Hamid keluar sinar terang kekuning-kuningan. Tiba-tiba Supriatna yang tengah duduk di depan masjid, didatangi sosok tinggi besar berjubah putih. Kemunculannya tepat dari atas makam Sultan Hamid. H Supriatna yakin, itulah wujud Sultan Hamid semasa hidup dulunya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, Sultan Hamid adalah seorang pangeran dari Kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat. Ia dikenal sebagai penentang Belanda yang paling gigih. Karena keberaniannya itulah, tahun 1800-an, Belanda menangkap dan membuangnya ke Batavia, tepatnya di daerah Mangga Dua atau Pasar Pagi saat ini.  Tak jelas kapan ia berada di sana. Tapi pada kuburan tersebut terdapat pualam bertulis "Sultan Sjech Sjarief Hamid Alqadri, meninggal dalam usia 64 tahun 35 hari pada tahun 1274 Hijriah atau 1854 masehi". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebakaran Besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut H Supriatna, sebenarnya gelar keramat pada masjid Angke ini karena sering terjadi peristiwa di luar logika. Pada tahun 1960-an, misalnya, pernah ada seorang ibu haji dari Makassar. Dia datang jauh-jauh hanya untuk  mencari masjid Angke. Kepda H Supriatna, ibu haji itu menuturkan. Suatu saat, katanya, ketika tengah tafakkur, ia mendapat ilafat agar mencari masjid Angke di Jakarta. Tentu saja dirinya kebingungan. Sebab yang namanya Jakarta itu luas. Dan masjid Angke sendiri entah letaknya dimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, berangkatlah ia ke Jakarta, ditemani suaminya. Setelah setengah bulan mengobok-obok Jakarta, yang didapat malah masjid Luar Batang. Masjid ini juga sama tuanya dengan Masjid Angke. Namun bukan itu yang dimaksud dalam ilafat. Sampai kemudian ia bertanya kepada seorang lelaki. Dan lelaki itulah H Supriatna, ketua DKM Masjid Angke. Bukan main gembiranya si ibu haji bisa menemukan masjid yang dimaksud dalam ilafatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bulan September tahun 1959, kembali masjid ini memperlihatkan keajaiban. Pada waktu itu terjadi sebuah kebakaran besar. Percikan api diketahui muncul dari sebuah bengkel vulkanisir. Dengan cepat api melahap rumah-rumah yang mayoritas terbuat dari kayu dan beratap daun rumbia. Kontan seluruh kampung mulai dari daerah Angke sampai Jembatan Besi, hangus terbakar.&lt;br /&gt;Tapi aneh, dengan izin Allah, kata H Supriatna, masjid angke ini tidak terbakar sedikit pun. Padahal, bila logika sehat bicara, sudah pasti bangunan masjid ini ikut terbakar. Tapi kenyataannya tidak sama sekali. Itulah keajaiban. "Rumah ayah saya, H Ali Abdullah yang juga pengurus masjid Angke ini, juga lolos dari kebakaran itu," kenang H Supriatna. Sejak itulah masjid ini dianggap masyarakat sebagai masjid keramat. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-203886138449284375?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/203886138449284375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/kekeramatan-masjid-angke-jakarta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/203886138449284375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/203886138449284375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/kekeramatan-masjid-angke-jakarta.html' title='Kekeramatan Masjid Angke Jakarta'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokaLfz-geI/AAAAAAAAAdE/iGyQZxjF15s/s72-c/MASJID_ANGKE.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-3198136621979224698</id><published>2009-08-17T15:49:00.001+07:00</published><updated>2009-08-17T15:50:53.848+07:00</updated><title type='text'>Keunikan Masjid Jami Attaibin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokZ4TbnAfI/AAAAAAAAAc8/uQTltKf90zI/s1600-h/MASJID_ATTABIIN.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 139px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokZ4TbnAfI/AAAAAAAAAc8/uQTltKf90zI/s200/MASJID_ATTABIIN.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370852485695472114" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;b&gt;Mesjid Jami Attaibin seakan tenggelam oleh gemerlap gedung-gedung pencakar langit di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Meski begitu, kesejukan masjid ini kian terasa. Di sinilah para pegawai gedung-gedung itu sembahyang. Lingkungannya yang asri, menambah kekhusukan ibadah. Inilah masjid yang didirikan ditengah berkecamuknya revolusi menentang penjajah Belanda.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara geografis, Masjid Jami Attaibin terletak di Jalan Senen Raya IV, Kelurahan Senen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Tepat di kaki megahnya komplek kondominium modern di tengah kota Jakarta. Antara lain apartemen Allson, komplek perkantoran Menara Era dan Aston Atrium Hotel, dan keramaian terminal Senen. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut fisiknya, masjid Attaibin terletak di atas tanah seluas 711 m. Bangunannya berbentuk persegi panjang berukuran 25 X 20 m. Lantainya terbuat dari marmer dan berdinding tembok. Atapnya dari genteng dengan kerangka tumpang dua yang menghadap utara.  Sejak masjid ini dibangun tahun 1815, belum ada sedikit pun perubahan arsitekturnya. Semua masih asli dan terjaga keutuhannya. Keaslian terlihat dari empat buah tiang penyangga bangunan. Tiang ini terbuat dari kayu bulat tanpa sambungan setinggi 13 meter. Ia berjejer memanjang yang berhiaskan bunga dan relief kaligrafi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi sebelah barat terdapat mihrab yang menjorok keluar. Di situ terdapat sebuah mimbar yang unik. Mimbar terbuat dari kayu jati berukuran 2 X 1,2 meter dengan tinggi 3 meter. Pada mimbar terdapat tiga anak tangga terbuat dari batu marmer. Melihat mimbar seperti ini, mengingatkan  kita pada kekhasan masjid buatan para wali. Seperti masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang dibuat oleh Sunan Gunung Jati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Perjuangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid ini memiliki arsitektur perpaduan gaya Eropa dan Indonesia. Kondisi itu bisa dimaklumi, sebab masjid ini didirikan persis ketika kolonial Belanda berkuasa. Tak heran, corak arsitektur bangunan gaya negeri Kincir Angin itu turut mewarnai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, masjid ini didirikan oleh para pedagang muslim Pasar Senen sekitar tahun 1815. Ketika itu, mereka merasa perlu sebuah tempat untuk ibadah. Sementara di sekitar kawasan Senen, tak ada satupun tempat ibadah itu. maka, di bangunlah Masjid Jami Attaibin, atas prakarsa mereka sendiri dan dengan dana swadaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data historis, masjid ini memiliki spirit perjuangan yang tinggi. Sebab didirikan tepat ketika terjadi revolusi merebut kemerdekaan dari tangan Belanda bergelora. Para pedagang pasar Senen yang benci kepada penjajah Belanda, memberi dukungan logistik kepada para pejuang. Dan masjid Attaibin menjadi markas dukungan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masjid ini pula para pejuang berkumpul dan mendapat siraman rohani. Tak heran, setelah keluar dari masjid ini, semangat juang mereka semakin menyala-nyala. Pada awal dibangun, masjid ini diberi nama Masjid Kampung Besar. Masjid ini menjadi tempat menyusun strategi menghadapi kekuatan belanda. Khususnya dalam pertempuran Senen, Tanah Tinggi dan Keramat. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-3198136621979224698?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/3198136621979224698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/keunikan-masjid-jami-attaibin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/3198136621979224698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/3198136621979224698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/keunikan-masjid-jami-attaibin.html' title='Keunikan Masjid Jami Attaibin'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokZ4TbnAfI/AAAAAAAAAc8/uQTltKf90zI/s72-c/MASJID_ATTABIIN.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-6343840731164113863</id><published>2009-08-17T15:47:00.001+07:00</published><updated>2009-08-17T15:49:20.928+07:00</updated><title type='text'>Masjid Jami Kebon Jeruk</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokZc4AMZwI/AAAAAAAAAc0/fsuwQpY4dxQ/s1600-h/MJD_KEBON_JERUK.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 138px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokZc4AMZwI/AAAAAAAAAc0/fsuwQpY4dxQ/s200/MJD_KEBON_JERUK.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370852014476257026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Meski terletak ditengah hiruk pikuk kota Jakarta, tapi kewibawaannya tetap terjaga. Masjid yang dibangun pada abad ke-17 ini begitu sejuk dan wingit. Di masjid inilah para mujahid digembleng selama 4 bulan. Lalu dilepas untuk syiarkan Islam ke berbagai daerah di pelosok tanah air. Inilah masjid yang membius orang menjadi mujahidin dan ahli dakwah mumpuni.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara administratif, Masjid Jami Kebon Jeruk terletak di jalan Hayam Wuruk No. 85, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat. Ia berada persis ditengah ingar bingar deru kendaraan yang melaju di jalur Hayam Wuruk dan Gajah Mada yang ramai. Masjid ini berbatasan langsung dengan kompleks pertokoan di sebelah selatan dan utara. Sedangkan dibagian selatan, terdapat pemukiman penduduk yang cukup padat. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi arsitektur, keaslian bangunan belum tersentuh perubahan. Jadi keasliannya masih tetap dipertahankan. Meski begitu, proses renovasi sudah berkali-kali dilakukan. Itu untuk menjaga kekokohan masjid yang sudah berusia 3 abad ini. Namun beberapa perubahan dari bentuk asli sudah terjadi juga. Misalnya bagian mihrab (tempat imam, red). Mihrab baru berukuran 2 X 1,5 m, dengan dinding tembok. Sementara mimbar yang asli di bawa ke Museum Fatahillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan masjid dikelilingi pagar tembok pada bagian utara dan timur. Sedangkan sisi barat dan selatan dilengkapi pagar besi setinggi hampir 2 meter. Menara masjid ada dua buah. Sebuah menara lama, dan lainnya baru. Menara lama terbuat dari kaca dengan teralis kayu. Puncaknya berbentuk empat persegi dengan hiasan bulan bintang di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam Cina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid ini terasa agung karena memendam sejarah masa lampau. Masjid Jami Kebon Jeruk adalah masjid pertama yang dibangun di kawasan Glodok. Masjid ini dibangun tahun 1786 Masehi oleh Chau Tsien Hwu, seorang saudagar dari daerah Sin Kiang, negeri Tiongkok. Chau Tsien Hwu adalah seorang pemeluk Islam yang taat. Ia datang ke tanah Jawa karena merasa ditindas oleh pemerintah di daerahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai wujud pemberontakan dirinya, pergilah ia berlayar ke tanah Jawa. Ketika sampai di Jakarta, ia menemukan sebuah surau yang tiangnya telah rusak. Surau itu nampak tidak terpelihara lagi. Bisa dimaklumi, pada masa itu tentara Belanda tengah berkuasa. Mereka menjajah dan meredam sekian banyak kegiatan rakyat jajahannya. Nah, melihat kondisi itulah Chau Tsien Hwu mendirikan tempat ibadah yang diberi nama Masjid Kebon Jeruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bukti sejarah, disebelah timur halaman masjid, terdapat makam dengan nisan bertuliskan Fatimah Hwu. Ia adalah istri dari Chau Tsien Hwu, pendiri masjid. Nisan ini berbentuk kepala naga dengan tulisan huruf Cina dan penanggalan Arab. Tertulis 1792. Tahun wafatnya fatimah. Nisan itu pula yang menjadi lambang keunikan dari masjid Jami Kebon Jeruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli Dakwah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diungkap KH Muhammad Muslihuddien, pengurus Masjid Kebon Jeruk, sejak awal didirikan, masjid ini menjadi markas gemblengan para pendakwah. Ternyata Chau Tsien Hwu bukan hanya seorang pedagang. Ia pun seorang yang mahir berdakwah. Telah banyak pendakwah ulung ia lahirkan. Namun sejak beberapa waktu kemudian, kegiatan gemblengan seperti itu vakum. Bahkan sampai seabad lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti sebuah mukjizat, pada tahun 1974, misi dakwah kembali bergema. Ahli-ahli dakwah dari berbagai penjuru seakan berdatangan. Mereka saling bertukar pikiran dan menimba ilmu. Menggali hakikat hidup dan kehidupan. Membedah ajaran dalam Alquran dan Hadis. Hasilnya, jurus-jurus berdakwah yang jitu tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut KH Muhammad Muslihuddien, setiap malam jumat selalu ada istima (berkumpul, red). Yakni kegiatan berkempul atau pengajian bagi seluruh umat islam. Malam itulah disusun rencana dakwah, dan esok paginya para pendakwah disebar. Uniknya, kegiatan dakwah dilakukan dengan biaya sendiri. "Itu sesuai dengan sunnah Rasul dan semangat berjihad," tutur KH Muslihuddien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembimbingnya teradiri dari kiai-kiai senior dan ahli-ahli dakwah yang suka rela datang sendiri. Gemblengan dilakukan selama bertahap. Tahap pertama selama 4 hari. Bila ia terlihat berminat ditingkatkan menjadi 40 hari, dan seterusnya 4 bulan. Setelah siap, dia akan dilepas untuk berdakwah keliling. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-6343840731164113863?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/6343840731164113863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/masjid-jami-kebon-jeruk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6343840731164113863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6343840731164113863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/masjid-jami-kebon-jeruk.html' title='Masjid Jami Kebon Jeruk'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SokZc4AMZwI/AAAAAAAAAc0/fsuwQpY4dxQ/s72-c/MJD_KEBON_JERUK.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-7492859509038376835</id><published>2009-08-17T12:25:00.003+07:00</published><updated>2009-08-18T16:29:55.678+07:00</updated><title type='text'>Indonesia Raya</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sebutan Indonesia Raya memang tidak berlebihan untuk tanah yang kita pijak ini. Indonesia memang kaya dan raya. &lt;i&gt;Gemah ripah loh jinawi.&lt;/i&gt; Pulau dan lautnya beribu jumlah. Tanahnya mengandung kekayaan tiada tara. Minyak, gas bumi, batubara, emas, perak, intan berlian, nikel, dan aneka tambang lain. Bagian atasnya subur bukan main. “Tongkat kayu dan batu” pun bisa jadi tanaman, kata Koes Plus. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atasnya juga tumbuh hutan terluas sejagad, yang mensuplai udara bersih untuk  Amerika, Rusia, Inggris, China, India, Australia, dan negara-negara penghuni bumi lainnya. Itu yang membuat Indonesia “dimanja” negara-negara besar penghasil polutan, sekaligus dirayu agar menjaga hutannya. Berbicara soal lingkungan, Indonesia memang negara yang berkuasa. Mana ada negara yang berani menolak Indonesia bila ingin menggelar even-even lingkungan sedunia. Termasuk Amerika, Inggris dan sekutu-sekutunya yang sombong itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lautnya melebihi luas daratan. Ia menyimpan kekayaan tak ternilai. Berjuta jenis ikan, ubur-ubur, terumbu karang, rumput laut, sampai minyak dan gas bumi, semua terendam di situ. Adalah Malaysia, negara yang paling iri dengan Indonesia. Sejak lama negeri jiran itu mengincar pulau-pulau terluar RI yang dianggap “tidak diurus”. Belakangan sikapnya makin kurang ajar. Dengan pongah mengklaim blok-blok laut wilayah kita sebagai miliknya. Ini tentu tak bisa dibiarkan. Kita harus tegas. Pulau Sipadan dan Ligitan telah berhasil mereka rampas dari pangkuan ibu pertiwi. Semoga itu menjadi yang terakhir buat mereka. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, 17 Agustus 2009, Indonesia merayakan HUT kemerdekaan yang ke-64. Artinya kita sudah lebih dari setengah abad jadi negera berdaulat. Banyak hal sudah kita raih. Presiden pun sudah 6 kali berganti. RI sudah berubah rupa. Kemajuan global telah menyeret pula negeri ini untuk menyesuaikan diri. Modernisasi telah berlangsung di sini. Hanya saja, kemakmuran belum menyertai. Angka kemiskinan masih tinggi. Bahkan kian menjadi. Kalau ada yang berkampanye menyebut angka kemiskinan di Indonesia menurun, itu bohong besar. Dusta publik yang tak terperi. Mereka mengingkari hati nuraninya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti apa yang bisa disanggah ketika jutaan rakyat kehilangan pekerjaan dan jadi penganggur. Karena pabrik-pabrik tempat mereka bekerja mengalami kebangkrutan. Bukti mana yang bisa hilangkan saat kita menyaksikan dengan jelas di sana sini rakyat antri sembako, bahkan ada yang tewas pula karenanya. Tapi sudahlah. Itu telah berlalu. Kini kita memiliki pemimpin baru. Kita harus ucapkan selamat, seraya berharap agar beliau bisa membawa negeri ini menuju sejahtera. Menjadi mercusuar dunia. Kita berdoa semoga dihari-hari kedepan, para pemimpin kita mendapat keselamatan dari Yang Maha Kuasa. Dijauhkan dari marabahaya dan senantiasa berjalan lurus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh televisi, surat kabar, radio dan internet, kita dikabari euphoria perayaan ultah ke-64 ini dengan beragam tema, beragam cara. Ada yang merayakannya dengan menggelar upacara bendera di dalam laut, dalam gua, di puncak gunung, dan kebanyakan di lapangan-lapangan. Di pelosok-pelosok negeri, kita saksikan pula kemeriahan HUT RI dengan aneka permainan dan hiburan rakyat. Semoga semangat Indonesia merdeka ini terbawa ke masa-masa datang. Dan mentranformasikannya menjadi semangat berkarya. Agar dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air ke depan semakin baik. Di sana sini aman dan tali persaudaraan kiat erat terjalin. Tak ada lagi ledakan bom, tak ada lagi teror. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga harus melupakan pertikaian antar partai dan pendukungnya pasca pemilu dan pilpres kemarin. Caleg-caleg yang gagal jangan lagi stress dan depresi. Bangkitlah hai calon wakil kami di DPR &amp; DPRD. Masih banyak “PR” untuk negeri ini. Untuk sahabatku, Ustad Ujang Bustomi di Mundu (Cirebon), terima kasih karena telah menyadarkan caleg-caleg yang stress dan depresi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun harus kita sesalkan, tapi kita lupakan saja soal sidang paripurna DPR dua hari lalu. Di mana lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, lupa mereka kumandangkan di awal acara. Padahal patut diketahui, merekalah yang membuat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Sekedar mengingatkan, menurut Pasal 59 Ayat (1) UU yang disahkan presiden 9 Juli 2009 itu, lagu kebangsaan wajib diperdengarkan dan/atau dinyanyikan untuk menghormati presiden dan/atau wapres dalam acara pembukaan sidang paripurna MPR, DPR, DPRD, dan DPD. Menurut UU ini pula, lagu kebangsaan merupakan wujud eksistensi bangsa yang menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tidak melupakan begitu saja, tapi menjadikannya bagian dari pengalaman masa lalu. Masih banyak pekerjaan besar yang menanti bangsa ini. Bahwa bagaimana segenap potensi yang kita miliki ini bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Agar angka kemiskinan berkurang, bahkan terhapus. Agar anak-anak negeri bisa sekolah dengan biaya murah sampai jenjang tertinggi. Sehingga mereka bisa jadi anak yang pintar dan menjadi penerus bangsa yang berkualitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karunia Yang Maha Kuasa atas tanah yang subur dan laut yang kaya milik kita ini harus ada yang menjaga. Agar tidak dicuri bangsa lain atau dirampok bangsa sendiri untuk kepentingan pribadi. Sebab itulah harta karun bangsa ini yang belum tergali. Cadangan berharga untuk masa depan negeri. Dirgahayu Republik Indonesia. I love you full. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-7492859509038376835?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/7492859509038376835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/indonesia-raya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/7492859509038376835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/7492859509038376835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/indonesia-raya.html' title='Indonesia Raya'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-4871515132664075235</id><published>2009-08-15T20:43:00.000+07:00</published><updated>2009-08-15T20:45:12.559+07:00</updated><title type='text'>Celoteh Pertamaku</title><content type='html'>Ini “celotehan” pertama yang aku posting. Sebelumnya tidak lebih dari kumpulan artikel ragam topik dan dokumentasi tulisan. Nada dan iramanya tentu berbeda. Relatif lebih kaku dan kadang terasa membosankan. Kalau ini, menurut aku tak. Sebab ada suasana lain saat aku bikin untaian katanya. Ini pula yang sungguh aku harap ketika mendirikan blog yang di sana sini masih berlepotan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis “ocehan” macam begini berbeda dengan menulis artikel umum atau artikel jurnalistik. Di sini ada kebebasan. Tepatnya kebebasan berekspresi, yang bisa dilontarkan tanpa tedeng aling-aling. Aku bisa menembakkan kata-kata pedas, manis, asin atau pahit, sesuka hati. Karena menurutku, di situlah kekhasan sebuah blog. Nuansa &lt;i&gt;ga&lt;/i&gt; formal lebih terasa. Bahkan aku amati, fenomena ini sengaja diciptakan para blogger, agar suasana kekeluargaan atau persahabatan itu bisa terjalin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kebebasan berekspresi yang kusebut tadi, tentu melakoninya dalam koridor etika. Ada sekat yang tak boleh diterobos. Ada norma yang berlaku. Ijinkan aku membuka satu file memori kita. Nanti kutunjukkan bahwa kebebasan berekspresi itu ternyata ada batasnya. Tahun lalu, pemerintah kita sudah mengeluarkan undang-undang yang mengatur tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau yang sering kita dengar dengan sebutan UU ITE. UU inilah yang disebut-sebut bisa memberangus kebebasan berekspresi di dunia maya. Jadi, para blogger harus hati-hati berekspresi di dunia yang katanya tanpa batas ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu ingat kasus Prita, pasien RS Omni Internasional, yang bikin surat keluhan lewat email. Dia diseret ke meja hijau lantaran dijerat UU ITE ini. Dan bukan tidak mungkin si “ITE” ini juga menjerat aku atau siapa saja yang kebablasan “bicara”. Perkara Narliswiandi Piliang atau Iwan Piliang, misalnya, bisa juga menyegarkan ingatan kita akan efek dari UU ITE. Iwan dijerat hukuman enam tahun penjara dan denda maksimal Rp 1 tahun karena tulisan di blog pribadinya. Tulisannya dianggap mencemarkan nama baik seorang anggota DPR RI Fraksi PAN bernama Alvin Lie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah ketentuan Pasal 27 ayat (33) UU No. 11 tahun 2008 tentang ITE yang memerangkap Iwan sehingga harus berurusan dengan pengadilan. Secara lengkap, bunyinya sebagai berikut : “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen dan/atau pencemaran nama baik.” Selanjutnya, dalam pasal 45 UU ITE, sanksi pidana bagi pelanggar pasal 27 ayat (3) itu adalah penjara enam tahun dan denda maksimal Rp 1 Miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dengar Pasal 27 ayat (33) UU ITE ini sempat diuji materilkan di hadapan Mahkamah Konstitusi RI. Alasannya, karena isinya bertentangan dengan Pasal 28F UUD 1945 tentang kebebasan berpendapat, atau katakanlah kebebasan berekspresi. Hanya saja, sampai di mana perkembangan kasus uji materil ini aku kurang mengikuti... hehe. Mungkin bisa ditanyakan ke Mr Google.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiranku dalam dunia blog boleh dibilang terlambat. Istilahnya, aku ini bangun kesiangan. Aku pernah dengar bila euforia kebebasan berekspresi dalam dunia blog ini sudah berlalu, meski belum berakhir, atau tak akan berakhir. Atau katakanlah tengah berlangsung. Hanya saja, trennya sudah digeser oleh era optimalisasi .... (entahlah! apa itu istilahnya. Hehe...). Bahasa lainnya mugkin era dimana blog bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menghasilkan duit tak terbatas. Dan lebih tepatnya lagi, sambil menyalurkan hobi berblogging ria, rupiah atau dolar bisa dikais. &lt;i&gt;Sekali mendayung, dua atau tiga pulau terlampaui.&lt;/i&gt; Demikian bunyi pepatahnya. Menurutku, blogging merupakan bentuk kreativitas yang harus ditumbuh kembangkan. Apalagi bila ia bisa maslahat bagi dirinya sendiri, dan utamanya orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke blogku, mau ke mana ia akan dibawa ? Ya kemanapun angin berembus. Jadi salah satu benda angkasa jagad maya, bolehlah. Pendek kata, sepanjang bisa memberikan sesuatu yang positif bagi siapa saja. Bagi diriku sendiri khususnya, dan bagi siapapun umumnya. Semoga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah celotehan pertamaku, tentu akan ada yang kedua, ketiga dan seterusnya.  ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-4871515132664075235?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/4871515132664075235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/celoteh-pertamaku.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/4871515132664075235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/4871515132664075235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/celoteh-pertamaku.html' title='Celoteh Pertamaku'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-3618716915800677429</id><published>2009-08-13T19:42:00.002+07:00</published><updated>2009-08-13T21:38:04.472+07:00</updated><title type='text'>Dukung Taman Nasional Komodo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoQKgVGT6yI/AAAAAAAAAcU/Be9Pveisatg/s1600-h/tamankomododalam.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoQKgVGT6yI/AAAAAAAAAcU/Be9Pveisatg/s200/tamankomododalam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369428206268181282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Menjadi sebuah kebanggaan bagi bangsa Indonesia ketika Taman Nasional Komodo (TNK) berhasil menjadi salah satu finalis Kampanye "New 7 Wonders of Nature". TNK dinilai berhak melaju ke tahap final setelah menyisihkan kurang lebih 440 nominasi dari 220 negara.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada tanggal 21 Juli 2009 pukul 12.07 GMT (19.07 WIB), New 7 Wonders Foundation telah mengumumkan TNK sebagai salah satu dari 28 finalis yang berhak untuk melanjutkan ke tahap final (Tahap III)," bunyi rilis Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang diterima detikcom, beberapa waktu lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia diharapkan memberi dukungan sebanyak mungkin agar Taman Nasional Komodo di Flores, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengajak seluruh masyarakat Indonesia dan dunia untuk berpartisipasi aktif melakukan pemilihan, agar terpilih sebagai salah satu dari 'Tujuh Keajaiban Dunia bernuansa Alam' yang akan ditentukan pada tahun 2011," begitu bunyi seruan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo tunggu apa lagi, sekarang saatnya melakukan sesuatu yang nyata untuk mengharumkan nama negeri ini dan menunjukan pada dunia Indonesia kita yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anda yang akan memilih dapat melakukan dengan dua cara, Pertama memilih dengan cara online melalui website http://www.new7wonders.com. Kedua, memilih melalui telephone (SLI) dengan menekan +41 77 312 4041. Setelah pesan selesai dan terdengar bunyi beep tekan kode 7717 untuk memilih Taman Nasional Komodo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukung Taman Nasional Komodo.. Dukung Indonesia-mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-3618716915800677429?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/3618716915800677429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/dukung-taman-nasional-komodo.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/3618716915800677429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/3618716915800677429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/dukung-taman-nasional-komodo.html' title='Dukung Taman Nasional Komodo'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoQKgVGT6yI/AAAAAAAAAcU/Be9Pveisatg/s72-c/tamankomododalam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-2639255726655775367</id><published>2009-08-11T11:23:00.005+07:00</published><updated>2009-08-11T11:32:19.352+07:00</updated><title type='text'>Jejak Mistik Situ Burung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDyXTQ8tPI/AAAAAAAAAbk/oV9TTDnUrY0/s1600-h/SITU_BURUNG_1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 132px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDyXTQ8tPI/AAAAAAAAAbk/oV9TTDnUrY0/s200/SITU_BURUNG_1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368557237947905266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Situ Burung adalah nama danau yang kini jadi hamparan sawah dan perumahan. Pada masa lampau, Situ Burung merupakan danau alam yang menawan. Airnya tenang, jernih. Petinggi kawasan Bandung, kerap ngaso di tempat ini, sambil menikmati gamelan dan wayang. Di sana sini tampak orang mengail ikan. Suatu ketika, tragedi besar berlaku. Bau amis darah dan hawa mistik merebak, sejak saat itu. Danau pun mengering, tinggalkan bekas masa lalu yang kelabu. Kucing-kucing siluman, hantu wanita cantik, arwah gentayangan, ikan dan belut gaib, muncul menakutkan. Sesekali, terdengar suara gamelan yang entah darimana asalnya. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang keangkeran Situ Burung tak sebatas bibir. Itu realita. Orang-orang di sana bila ditanya soal Situ Burung selalu tersenyum penuh arti. Raut wajahnya seperti membayangkan sesuatu. Apalagi kalau bukan kisah-kisah yang saat ini masuk kategori seram. Bagi mereka, cerita-cerita semacam itu tidak aneh. Bahkan penampakan wujud mahluk dari dunia lain, bagaikan bumbu dalam kehidupan mereka. Sampai-sampai kengerian tak lagi jadi beban. Mereka sudah terbiasa dengan semua itu. H. Saidin (85), Tatang Suparman (62), H. Ambar Sulaeman (60), Hadi RM (22), Mulyana (30), Asep Taufik Rahmat (19), dan warga Situ Burung lain, memberi kesaksian. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kawasan angker&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Situ Burung adalah dataran rendah bersawah seluas 60 Ha. Secara administratif, kawasan ini masuk wilayah Desa/Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung. Kiri-kanan berbatasan dengan Desa Pangauban dan Cilampeni. Kebanyakan warga Situ Burung adalah bersaudara. Mereka rata-rata masih satu keluarga dari garis leluhur yang sama, atau kait mengait karena hubungan nikah. Uniknya, hampir seluruh warga Situ Burung punya cerita serupa soal misteri daerah yang didiaminya sejak berpuluh-puluh tahun lalu itu. Konon, rata-rata warga pernah mengalami peristiwa gaib. Entah melihat kucing siluman, ikan ajaib, atau hal lain sejenisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga kerap dialami warga pendatang. Yakni orang-orang dari luar Situ Burung yang ingin menetap di kawasan itu dan sekitarnya. Mereka pun kerap menjumpai hal-hal aneh, bahkan menakutkan. Nah, karena tak banyak tahu asal usul kawasan itu, umumnya mereka tak betah lama tinggal di sana. Meski begitu, banyak pula warga pendatang yang terbiasa dengan apa yang berlaku. Dan lambat laun mereka menjadi penduduk tetap di Situ Burung. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena punya riwayat panjang di masa lalu ditambah seringnya orang-orang di sana mengalami peristiwa gaib, maka kawasan itu dinyatakan angker oleh banyak orang. Tapi, tidak semua orang menganggap demikian. Ada pula yang berperilaku ceroboh dan menganggap remeh Situ Burung. Orang-orang seperti inilah, kata Mulyana, warga Situ Burung, yang sering diganggu “penunggu” Situ Burung. “Biasanya orang ini didatangi wanita berwajah cantik. Lalu ia tiba-tiba berubah wujud menjadi mahluk paling mengerikan,” kata anggota Perguruan Silat Budi Hati, Katapang, Kab. Bandung ini. “Tentu saja dia lari pontang-panting,” sambung Mulyana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tangan Raksasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Situ Burung, seperti diungkap Asep Taufik Rahmat, salah seorang pemuda Desa Katapang, sarat dengan keanehan. Bagaimana tidak aneh, katanya, bila orang yang lewat Situ Burung malam hari, tiba-tiba mendengar suara gamelan wayang golek. Kejadian ini yang paling sering dialami. Asep menceritakan ketika suatu saat, rekannya sedang asik berjalan lewat Situ Burung. Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara gamelan mengalun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar suara gamelan, dia tergoda ingin menyaksikan. “Lumayan buat hiburan,” pikirnya ketika itu. Maka dia pun berusaha mencari dimana sumber suara gamelan itu. Namun setelah dicari-cari, muasal suara tak ditemukan. Ia pun sempat beberapa kali berpapasan dengan rekan-rekan yang lain dan menanyakan keberadaan panggung hiburan wayang golek. Namun semua rekannya menggeleng dan mengatakan tak ada wayang golek di sekitar situ. “Akhirnya dia sadar kalau itu suara gamelan gaib dari tengah Situ Burung,” ujar Asep Rahmat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cerita-cerita ganjil seputar Situ Burung ternyata tidak sedikit. Seperti dialami Hadi (22), juga pemuda Desa Katapang. Hadi bahkan mengaku paling sering mengalami peristiwa-peristiwa gaib di Situ Burung. Umpamanya kejadian beberapa waktu lalu. Malam itu, Hadi tengah lewat di jalan kecil yang membelah Situ Burung. Tiba-tiba saja Hadi dikejutkan sebuah penampakan sesuatu yang mengerikan. Dihadapannya terpampang wujud tangan besar sekali. Seperti tangan raksasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna tangan itu hitam legam. Mulanya, Hadi terkejut, bahkan nyaris pingsan mendapati kenyataan itu. Tapi tiba-tiba saja dia sadar bila itu hanya penampakan semata. Hadi yakin mahluk menyeramkan itu tak bermaksud menyakitinya, atau membunuhnya. Benar saja, tiba-tiba terdengar suara besar di dekat telinganya. &lt;i&gt;“Simkuring ayeuna nembongan ka anjeun. Eta lantaran simkuring nyaah ka anjeun. &lt;/i&gt;(Saya sekarang memperlihatkan diri, sebab saya sayang dengan kamu),” kata Hadi menirukan suara gaib itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadi penasaran atas apa yang dialaminya. Dia ingin tahu wujud seutuhnya dari tangan raksasa itu. Ketika kepalanya ditengadahkan ke atas, sumber tangan itu tak tertangkap mata. Hanya gelap gulita yang terlihat. Namun dari suaranya, Hadi yakin mahluk itu adalah jin yang beberapa waktu lalu juga pernah menemuinya. Sayang, tutur Hadi, kejadian itu tak berlangsung lama. “Kira-kira hanya tiga menit, lalu semuanya menghilang ditelan malam.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukan hanya itu saja cerita-cerita seputar Situ Burung. H Saidin (85), sesepuh Desa Katapang yang masih buyut Ki Jenggot leluhur Situ Burung, juga punya pengalaman unik. H Saidin kerap menemukan kucing-kucing siluman berkeliaran di seputar sawah miliknya. Ketika itu H Saidin tengah mencangkul di sawah. Mulanya, beber H Saidin, seekor kucing kecil berwarna hitam muncul, entah darimana asalnya. Tiba-tiba dalam hitungan menit, muncul kucing-kucing lain dalam jumlah besar. Mereka terlihat bermain-main, ada yang berloncatan di sekitar sawah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Waktu pertama kali mendapati kejadian itu, H Saidin tak tahu bila hewan itu mahluk gaib. Karena melihat banyak kucing, ketika itu dirinya mendekati salah seekor darinya. Namun anehnya, ketika hendak ditangkap, kucing itu tak bisa diraihnya. Kucing itu tiba-tiba menghilang, dan muncul lagi di tempat lain. “Akhirnya saya baru tahu bila itu kucing siluman, seperti pernah diceritakan orang tua saya,” tutur H Saidin kepada posmo. Menurut pria yang usianya hampir seabad ini, kucing-kucing siluman itu ada yang memimpin. “Ada ratunya yang bernama Sopal. Bila menampakkan diri, wujudnya sebesar anjing dewasa, dan warnanya hitam,” ungkapnya sambil memperkirakan muasal hewan-hewan itu dari Pelabuhan Bulan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pelabuhan Bulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keangkeran Situ Burung bukan terjadi tanpa sebab. Konon, semua itu karena sejarah masa lalu yang melingkupi. Seperti diungkap Asep Taufik Rahmat, nama Situ Burung sendiri sebenarnya juga aneh. Situ Burung, katanya, artinya danau yang tidak jadi. Hal itu disebabkan adanya kesepakatan para leluhur Situ Burung soal penguasaan mata air yang terletak di Pelabuhan Bulan. Pelabuhan Bulan adalah tanah datar yang dulu terletak ditengah-tengah danau. Di dekat Pelabuhan Bulat itu terdapat mata air, yang konon menghubungkan Situ Burung dengan Situ Patenggang. Diyakini, Pelabuhan Bulan itulah sebagai pusat mistik kawasan Situ Burung. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDygE4UXaI/AAAAAAAAAbs/hH71KzV8T_Q/s1600-h/PELABUHAN_BULAN.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 138px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDygE4UXaI/AAAAAAAAAbs/hH71KzV8T_Q/s200/PELABUHAN_BULAN.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368557388705324450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danau Situ Patenggang terletak di Kecamatan Ciwidey, daerah Bandung Selatan. Atau berjarak kira-kira 30 Km dari Situ Burung ke arah selatan. Menurut kesepakatan para leluhur ketika itu, mata air Pelabuhan Bulan terpaksa diserahkan ke Situ Patenggang. Ketika itu, mata air Pelabuhan Bulan memang menjadi rebutan. Sebab melalui mata air itulah keberadaan danau yang ada di kawasan Katapang (Situ Burung) terjaga. Sesuai kesepakatan, bila Ki Jenggot berhasil dikalahkan, maka sumber mata air Situ Burung itu akan diserahkan ke Situ Patenggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam sebuah pertarungan, Ki Jenggot berhasil dikalahkan oleh salah seorang jawara Situ Patenggang. Dan sesuai kesepakatan, maka mata air Pelabuhan Bulan ditutup. Otomatis, lambat laun air danau mengering. Sejak itulah kawasan itu dinamakan Situ Burung, yang artinya danau tidak jadi. Setelah air danau kering, areal yang luas itu dijadikan pesawahan penduduk sekitar. “Sumber mata air itu masih ada di sekitar Pelabuhan Bulan,” terang Asep Taufik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Asep, yang menutup mata air Pelabuhan Bulan adalah seekor ikan lele gaib raksasa. Beberapa saksi konon pernah melihat ikan itu terlihat di Situ Patenggang. Meski begitu, jelas Asep, kawasan Situ Burung bisa menjadi danau kembali bila terjadi 10 kali hujan besar. Bila itu terjadi, maka Situ Burung akan tergenang dan menjadi danau kembali. “Karena mata air itu ditutup, maka danau Situ Patenggang masih ada sampai sekarang,” ujarnya. ***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;h3&gt; Makam Ki Jenggot Tak Boleh Diziarahi&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ki Jenggot dikenal sebagai leluhur Situ Burung yang melegenda. Pada masa silam, Ki Jenggot adalah seorang pendekar pilih tanding. Kesaktiannya menggaung melewati wilayah Bandung. Banyak pendekar ketika itu, ogah berhadapan dengan tokoh yang satu ini. Namun sudah takdir Yang Kuasa, Ki Jenggot harus tewas dalam memperebutkan mata air Pelabuhan Bulan. Kini makamnya dikeramatkan, tapi tak boleh diziarahi orang.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoD0K9keI-I/AAAAAAAAAcM/jVa5oaayORk/s1600-h/makam+ki+jenggot.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 140px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoD0K9keI-I/AAAAAAAAAcM/jVa5oaayORk/s200/makam+ki+jenggot.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368559224989033442" /&gt;&lt;/a&gt;Kisah tentang Situ Burung ada beberapa versi. Namun tiap-tiap versi punya ujung pangkal yang sama. Itu artinya, semua kisah itu bermuara pada satu hal, yakni Pelabuhan Bulan. Pelabuhan Bulan sebagai pusat mistik kawasan Situ Burung, kini hanyalah sebidang tanah mirip bukit mini. Dulunya, Pelabuhan Bulan adalah pulau mungil yang terletak di tengah danau (Situ Burung). Di tempat inilah dahulu kala, para pembesar sering beristirahat sambil menikmati kesenian gamelan dan wayang golek. Sesekali mereka melayari danau yang berair jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Makan korban&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tatang Suparman (62), Kaur Kesra Desa Katapang, menuturkan bila Pelabuhan Bulan adalah pusat Situ Burung. Tak jelas benar, mengapa tanah seonggok itu dinamakan Pelabuhan Bulan. Tapi yang pasti, areal sekitar danau yang dulu belum punya nama itu dikuasai desa. Untuk membiayai pemerintahan desa, maka tanah-tanah itu disewa kepada penduduk untuk digarap. Saratnya, sipenyewa menyerahkan sekian persen hasil panen untuk lumbung desa sebagai pajak. “Entah kenapa, banyak warga menunggak pajak itu. Maka Kepala Desa waktu itu menyita tanah-tanah itu dari penggarapnya,” cetus Tatang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Danau Situ Burung sendiri sejak lama dikenal sanget (angker). Konon, bila ada yang memancing di Situ Burung sambil membakar menyan hitam, ia pasti akan mendapat banyak ikan. Tentu saja, selain membakar menyan hitam, ada mantera-mantera yang harus dibaca. Secara fisik danau ini memang indah. Tidak heran bila banyak para pembesar yang sering kongkow-kongkow di sana, atau melayari danau diiringi gamelan. Tatang Suparman menceritakan, suatu ketika terjadilah musibah besar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada satu grup gamelan tengah menghibur para pembesar sambil berlayar di danau Situ Burung. Sementara para pembesar itu menyaksikannya di Pelabuhan Bulan. Tiba-tiba saja, terjadi bencana. Muncul putaran air dari sumber mata air dekat Pelabuhan Bulan. Putaran air itu lama-lama makin besar, dan menyebabkan air danau bergelora. Tak pelak, perahu yang mengangkut kelompok kesenian gamelan terombang-ambing. Fatalnya, perahu pun karam, lalu tenggelam. Sinden dan para pengiringnya turut tenggelam. Jenazah mereka pun tak pernah ditemukan. “Karena itulah jangan heran kalau sewaktu-waktu di Situ Burung sering terdengar suara gamelan gaib,” tutur Tatang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Seiring perjalanan waktu, banyak yang menginginkan danau (Situ Burung) dikeringkan dan dijadikan sawah agar lebih produktif. Penguasa kawasan itu setuju, dengan sarat, setiap tahu harus memberangkatkan haji dua warga Situ Burung ke tanah suci Mekkah. Itulah syarat, sekaligus menjadi tumbal mengeringkan air danau. Setelah terjadi kesepakatan, maka air Situ Burung pun dikeringkan. Sumber mata air yang terletak di Pelabuhan Bulan ditutup. Setelah kering, tanah bekas danau dikavling-kavling dan dijadikan sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada tahun-tahun pertama, jelas Tatang, setiap usai panen, para penggarap selalu mengirimkan dua orang warganya ke tanah suci. Tapi, lama kelamaan penduduk semakin banyak. Yang menggarap sawah pun semakin banyak pula. Seiring dengan itu, orang-orang yang dulu menggarap sawah banyak yang dimakan usia. Mereka mulai melupakan syarat mengirimkan haji dua warga tiap tahun. Karena itulah “penguasa” danau sering minta tumbal setiap tahun. Misalnya, ada pendatang yang mendadak kena penyakit, lalu meninggal dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya itu, karena bertambahnya penduduk pula, mahluk gaib dan dedemit yang ada di Situ Burung mulai merambah hingga ke jalan raya. Makanya sering kali pengguna jalan di sana yang melihat penampakan wanita cantik, atau kucing-kucing siluman. Bukan hanya itu, sering pula orang di Situ Burung melihat ikan emas warna hijau dan merah. Atau ikan gabus raksasa dan sapi putih bernama si dongkol. Pernah ada seorang petani melihat belut yang banyak sekali. Ia lalu mencangkul kepala belut itu hingga kepalanya putus. “Sampai dirumah orang itu sakit, lalu meninggal dunia,” kata Tatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Makam Ki Jenggot&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih seputar Situ Burung, ketika itu terjadi rebutan penguasaan sumber mata air yang terletak di Pelabuhan Bulan. Mata air itulah yang mengairi danau selain karena hujan dari langit. Namun, bila mata air dipertahankan, maka ada kemungkinan danau Situ Patenggang mengering. Karena itulah, pendekar di sana meminta agar mata air Situ Burung ditutup lalu dijadikan sawah. Dan untuk mengairi sawah itu, air Situ Patenggang akan dialirkan ke sana melalui mata air di Pelabuhan Bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Asep Taufik Rahmat, terjadilah pertarungan antar pendekar saat memperebutkan mata air tersebut. Dalam pertarungan yang terjadi di Pelabuhan Bulan, banyak pendekar berguguran. Jumlah mereka banyak. Setelah tewas, para pendekar itu dimakamkan secara massal di sudut danau. Kini lokasi pemakaman itu menjadi bangunan STM di blok Ceuri, Situ Burung. Bukti kuburan massal itu adalah saat penggalian sumur di sekolah itu, para penggali menemukan tulang belulang dan tengkorak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk menghentikan pertumpahan darah ketika itu, para pendekar Situ Burung berikrar, bila jagoan mereka Ki Jenggot bisa dikalahkan, maka mata air Pelabuhan Bulan akan diserahkan. Akhirnya dalam sebuah pertarungan, Ki Jenggot yang terkenal sebagai pendekar pilih tanding bisa dikalahkan. Kabarnya, Ki Jenggot sengaja mengalah supaya tidak terjadi pertumpahan darah lagi. Mayatnya lalu dimakamkan di Blok Pasung, tak jauh dari Pelabuhan Bulan. Hingga kini makam Ki Jenggot masih ada dan dikeramatkan orang. Namun uniknya, makam itu tak pernah terlihat diziarahi orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut H Saidin, buyut Ki Jenggot, selain keluarga, makam Ki Jenggot tak boleh diziarahi. Alasannya, untuk menghindari adanya pengkultusan terhadap sosok Ki Jenggot. “Jangan sampai ada menyalahgunakan ziarah kubur untuk perbuatan syirik,” tandas H Saidin. Makam Ki Jenggot sendiri, kata H Saidin, sering menunjukkan kejanggalan. Misalnya, bila tangan dimasukkan ke dalam tanah makam, ketika dicabut selalu muncul bau harum yang merebak ke mana-mana. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;b&gt;H. Saidin (85), buyut ki Jenggot, sesepuh Desa Katapang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situ Burung ibarat gudangnya keanehan. Di sinilah kebesaran Tuhan sering diperlihatkan. Salah satu keanehannya adalah muncul pohon Kalimala di Pelabuhan Bulan. Pohon itu muncul secara mendadak, tanpa diketahui asal usulnya. Bukti lain adanya kisah masa lalu adalah terdapat cadas (batu) ngampar. Konon diatas tempat itu orang sering duduk-duduk sambil menikmati keindahan danau Situ Burung di masa lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDzirsLACI/AAAAAAAAAb8/24eaS9OaloE/s1600-h/H_SAIDIN.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 172px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDzirsLACI/AAAAAAAAAb8/24eaS9OaloE/s200/H_SAIDIN.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368558532994727970" /&gt;&lt;/a&gt;Keberadaan makam Ki Jenggot, kakek buyut saya, juga fenomena lain Situ Burung. Banyak yang berniat menziarahi makam Ki Jenggot, tapi kami pihak keluarga melarang. Kami khawatir makamnya dijadikan tempat untuk kepentingan lain. Sehingga bisa mengarah kepada perbuatan syirik. Meski sering muncul kejadian aneh, semua itu harus ditanggapi sebagai kebesaran Yang Maha Kuasa. Karena Kuasa Nyalah semua itu bisa terjadi. Selain itu bisa menjadi sarana untuk mempertebal keimanan kita. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tatang Suparman (62), perangkat desa Katapang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air Situ Burung bersumber dari Situ Patengang. Tanah danau asalnya dari sitaan lurah karena para penyewa tanah tidak sanggup membayar pajak hasil panen kepada lumbung desa. Sekarang ini istilahnya pajak. Saat itu banyak yang ingin ingin kawasan Situ Burung dikeringkan dan dijadikan sawah. Tapi ada syarat, yakni memberangkatkan tiap tahun naik haji, sebagai tumbalnya. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDzs3LntFI/AAAAAAAAAcE/oS5_okTskdw/s1600-h/TATANG_SUPARMAN.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 159px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDzs3LntFI/AAAAAAAAAcE/oS5_okTskdw/s200/TATANG_SUPARMAN.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368558707878114386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penduduk semakin banyak, yang menempati areal bekas danau pun semakin banyak pula. Ditambah orang-orang pada masa lalu sudah banyak yang tua dan meninggal dunia. Maka orang pun mulai lupa adanya perjanjian dahulu kala untuk memberangkatkan haji dua warga setiap tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena lupa syarat itulah penunggu Situ Burung minta tumbal. Tumbalnya antara lain warga baru yang terkena serangan penyakit, terus meninggal dunia. Kejadian-kejadian gaib paling sering terjadi pada kurung 1970 ke bawah. Sekarang kejadian-kejadian aneh itu sudah jarang. Yang mengalami pun kebanyakan para pendatang. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Asep Taufik Rahmat (19), warga Situ Burung&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sering mengalami kejadian gaib, saya sudah terbiasa. Suatu ketika saya pernah melihat di tengah sawah ada keramaian. Suasananya hiruk pikuk. Selokan kecil yang sehari-hari saya lihat, saat itu berubah menjadi jalan besar. Kalau saya amati, jalan itu menuju ke arah keraton kerajaan jin. Orang-orang berlalu lalang di jalan itu. Suasananya mirip seperti pasar rakyat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya mendalami ilmu tenaga dalam di sebuah perguruan silat, saya mulai merasakan getaran-getaran kuat di Situ Gunung. Bahkan saya bisa berdialog dengan jin yang menunggu kawasan Situ Burung. Salah seorang jin yang menunggu pohon Tanjung di tengah sawah, bernama Mbah Munaja, akhirnya masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya itu, di kawasan Situ Burung pula saya kedatangan raja jin dari Bermuda. Konon, itulah jin peliharaan presiden AS, Geroge W. Bush. Jin ini datang karena ingin menjajal ilmu. Selain itu, di Situ Burung pula saya kedatangan jin dari Timur Tengah, tepatnya dari Afganistan. Namanya Ki Hamka. Dia mengaku tahu letak persembunyian Osama Bin Laden, tapi dia bersumpah tidak akan membuka rahasianya. Semua itu saya alami di Situ Burung. *&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-2639255726655775367?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/2639255726655775367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/jejak-mistik-situ-burung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/2639255726655775367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/2639255726655775367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/jejak-mistik-situ-burung.html' title='Jejak Mistik Situ Burung'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDyXTQ8tPI/AAAAAAAAAbk/oV9TTDnUrY0/s72-c/SITU_BURUNG_1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-5714739804893597942</id><published>2009-08-11T11:21:00.000+07:00</published><updated>2009-08-11T11:22:46.717+07:00</updated><title type='text'>Jejak Danau yang Hilang</title><content type='html'>&lt;b&gt;Inilah kenyataan alam. Bahwa dataran tinggi Bandung, jutaan tahun lalu merupakan danau purba yang membentang luas. Penduduk kini mengatakan dataran Bandung sebagai Situ Hiang (danau yang hilang). Situ Hiang itu terbentuk akibat aliran sungai Citarum Purba yang tersumbat oleh muntahan lahar letusan Gunung Tangkubanparahu. Airnya lalu menyusut secara bertahap dan menjadi dataran seperti sekarang. Fakta itu diungkap almarhum Ir Haryoto Kunto (Kuncen Bandung) dalam buku “Semerbak Bunga di Bandung Raya”.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situ Hiang yang menyusut airnya kemudian menyisakan lebih dari 12 alur sungai yang mengalir dari kaki gunung sekeliling Bandung, lalu bermuara di Kali Citarum. Juga terbentuk pula sejumlah situ atau danau, dalam berbagai bentuk dan ukuran di wilayah Tatar Bandung ini. Selain itu, Danau Bandung Purba mewariskan pula berpuluh-puluh “ranca” atau genangan rawa yang kini telah berubah menjadi kampung dan desa. Kini bisa ditemukan nama-nama seperti Rancaekek, Rancabali, Rancagoong, Rancamaung, Rancakasumba dan lain-lainnya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan Dr Andries de Wilde, seorang tuan tanah di Tatar Bandung, di tahun 1830 orang masih menjumpai beberapa situ atau telaga ukuran besar di sekitar Kota Bandung. Salah satu yang paling besar adalah Situ Ciloloeun, yang terletak di tepi Jl Cigereleng, antara Bandung dan Dayeuhkolot. Dalam salah satu catatannya, Andries de Wilde menceritakan bahwa begitu luas Situ Ciloloeun, sehingga ia bersama beberapa pengiringnya memerlukan waktu seharian untuk mengelilingi tepian danau dengan menunggang kuda. Di tengah danau itu terdapat sebuah pulau. Di sekitar Situ Ciloloeun dan pulau di tengahnya, banyak orang menjumpai binatang buas seperti harimau, badak, ular pyton dan ribuan ekor rusa dan banteng. Ke tempat itulah, orang di masa itu pergi berburu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danau yang hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah selatan Bandung, sampai akhir abad 19 yang lalu, terdapat sebuah danau lainnya, yakni Situ Gede. Di tempat itu penduduk menangkap ikan dengan cara kuno. Yakni berendam diri di air sambil berpegang pada beberapa batang bambu. Adapun alat penangkap ikan menggunakan adalah ayakan bambu yang besar. Pada masa sebelum perang, sejauh mata memandang, di kiri-kanan jalan Cigereleng dan selatan Tegallega, yang terlihat cuma kolam atau balong ikan yang sangat luas. Kini sebagian besar balong tersebut telah menjadi daerah pemukiman penduduk dan kawasan industri. Bahkan Pasar Ikan di samping PT Inti (Jl Moh Toha sekarang), yang dulu ramai dengan lelang ikannya, kini tak dijumpai lagi kegiatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa Situ Hiang lainnya yang masih dapat disaksikan sampai tahun 1960-an adalah situ-rawa Ciendog yang terbentang luas di kawasan Gedebage/Rancaekek. Situ Rawa Ciendog pada masa lalu merupakan kendala alamiah tatkala pembangunan jalur rel kereta api Bandung – Cicalengka. Air situ tersebut sering meluap menggenagi rel kereta api, sehingga mengganggu arus lalu lintas dan angkutan umum. Situ Ciendog merupakan tempat memancing dan ngecrik (menjala) ikan. Sayang, aroma ikannya berbau tanah atau lumpur rawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa sebelum perang, Bandung banyak memiliki berbagai macam sumber dan mata air, dalam bentuk situ, balong ikan, pemandingan, taman ikan, embung (reservoir air kecil) dan talaga yang sebagian besar tak dikenali lagi namanya. Antara lain Situ Garunggang atau Empang Cipaganti, Lebak Gede, Cisitu, Situ Karas di Karasak, Situ Gunting dan Situsaeur (kolam yang ditimbun). Kemudian tiga kolam pemandian dengan mata air alamiah, seperti kolam renang Cihampelas, Karangsetra dan Cimindi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut foto udara, ditahun 1920, lapang Gasibu di depan Gedung Sate merupakan danau yagn cukup luas. Kemudian kolam atau situ kecil kita jumpai pula di taman Ganesha, Taman Maluku, Taman Lalu Lintas dan Taman Pramuka. Kolam teratai di taman-taman Bandung, merupakan “embung”, muara sungai-sungai kecil seperti kali Cikapundung, Cikapayang dan Cikapundung Kolot. Sejak tahun 1906, air Situ Pakar di Dago Atas mulai dimanfaatkan sebagai sumber air bersih sistem water leiding di kota Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kerugian dan rasa kehilangan yang paling besar yang dirasakan warga Bandung adalah lenyapnya “monumen alamiah” Situ Aksan. Itulah sisa terakhir Danau Bandung Purba atau Situ Hiang yang tidak terpisahkan dari legenda (cerita rakyat) Sangkuriang. Pada masa lalu, Situ Aksan yang terletak di Bandung Barat, merupakan tempat rekreasi warga kota. Tempat pemandian dan main sampan, sambil mendengarkan orkes keroncong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Hari Minggu atau Hari Besar selalu dipertunjukkan kesenian, seperti kendang pencak, ketuk tilus, lais, ngadu domba atau ngadu bagong dengan anjing, kongkurs hayam pelung dan sandiwara Janaka Sunda. Bahkan pada perayaan “ceng Beng” warga keturunan sering mengadakan pesta air yang diramaikan oleh pertunjukkan Sandiwara Cina tau Wayang Patehi. Ramai sekali suasananya kala itu. Namun sayang, Situ Aksan yang dulu dikenal sebagai westerche Park kini telah hilang lenyap, tergusur oleh kompleks perumahan real estat. Dengan musnahnya Situ Aksan, maka pupus pula sekelumit kenangan nostalgia indah Bandung Tempo Doeloe. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-5714739804893597942?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/5714739804893597942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/jejak-danau-yang-hilang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/5714739804893597942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/5714739804893597942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/jejak-danau-yang-hilang.html' title='Jejak Danau yang Hilang'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-6211414746568575807</id><published>2009-08-11T11:20:00.001+07:00</published><updated>2009-08-11T11:21:50.417+07:00</updated><title type='text'>Keanehan Kucing Bernaluri Manusia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDx1G3sMdI/AAAAAAAAAbc/1PKcgTzfY_g/s1600-h/KUCING.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 144px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDx1G3sMdI/AAAAAAAAAbc/1PKcgTzfY_g/s200/KUCING.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368556650505187794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Perilaku kucing jantan ini sungguh aneh. Ia ditemukan saat berusia dua minggu. Hingga umur dua tahun, kebiasaannya semakin aneh saja. Selain menyantap apa yang biasa dimakan manusia, kucing ini selalu menetek kepada Rahmat Hidayat Singkuat (37), yang menemukannya ketika itu. Malam ketika ia menemukan kucing itu, Rahmat bermimpi didatangi seekor harimau besar. Benarkah ia bukan kucing sembarangan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, Rahmat hendak pulang ke rumahnya di Komplek Renijaya Baru, Blok AF-2/3, Kelurahan Pamulang, Kecamatan Pamulang, Jakarta Selatan. Di daerah Ciputat, Rahmat melihat seekor anak kucing yang diperkirakan berusia dua minggu akan menyeberang jalan. Khawatir tergilas kendaraan yang lalu lalang, Rahmat berniat menyeberangkannya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika berada digenggamannya, timbul rasa sayang Rahmat kepada kucing itu. Tiba-tiba ia tertarik untuk memungut dan memeliharanya. Kucing itu pun ia bawa pulang. Nah, sejak itu berbagai keanehan pun terjadi. Sesampainya di rumah, kucing itu tak mau jauh dari dirinya. Ketika diberi makan ikan, kucing yang kemudian diberinama “Piko” tak mau memakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya Rahmat merasa itu gejala biasa. Mungkin ia belum terbiasa berada di tempat baru, pikir Rahmat. Tapi ketika ia tengah berbaring di kamar, si Piko menghampiri sambil mengeong. Bahkan ia meloncat dan naik ke dada Rahmat. Di luar dugaan, mulut kucing ini mengendus mencari arah puting susu Rahmat. Karena penasaran, ia membiarkannya. “Allahu Akbar, ternyata si Piko menyusui,” ujar Rahmat kepada penulis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Peristiwa unik tersebut ternyata bukan hanya sekali itu saja. Melainkan setiap ada kesempatan, si Piko selalu minta disusui. Rahmat sendiri mulanya merasa risih. Tapi entah mengapa ia selalu merasa sayang kepada binatang yang kini berusia dua tahun itu. Perilaku menyusunya pun seperti sebuah teka-teki. Setiap menyusu, dipastikan ia akan berpindah sebanyak 8 kali. Empat kali menetek diputing sebelah kiri dan empat kali menetek diputing kanan, secara bergantian. Rahmat sendiri mulanya heran. Namun setelah dipikir-pikir, ternyata jumlah puting susu kucing ada 8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, bila sudah menyusui dari tetek Rahmat, kucing ini tidak mau makan lagi. Sepertinya ia sudah merasa kenyang. Kalau pun ia merasa lapar karena Rahmat tidak berada di rumah, makanan yang biasa disantap manusia, itulah yang dimakannya. Kucing ini doyan makan tempe, tahu, sayur bayam, dan daging. Ia tidak suka makan tikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disungkem Paranormal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tetangga Rahmat juga berkomentar, bila si Piko ini bukan kucing biasa. Artinya bukan sekadar kucing yang memiliki keanehan. Menurut Rahmat, setelah ia memelihara kucing berwarna putih lurik coklat muda ini, batinnya selalu merasa tenteram bila berada di rumah. Pernah suatu ketika, ia pernah kedatangan seorang paranormal. Rahmat sendiri sama sekali tidak mengenal paranormal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, ketika paranormal ini masuk di ruang tamu dan melihat si Piko, ia langsung bersujud di lantai. Rahmat dan istrinya yang juga menyaksikan tingkah si paranormal ini merasa heran. Ketika bangun dari sujudnya, pria aneh itu berujar. “Ini bukan kucing sembarangan. Sebaiknya kalian pelihara baik-baik, sebab Rasulullah juga menyayangi kucing,” pesan paranormal. Rahmat pun mengakui, memang malam setelah menemukan kucing itu, ia bermimpi didatangi seekor harimau besar. Tapi, harimau itu bukannya hendak menerkam Rahmat, melainkan menjilatinya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa keanehan lain semakin memperkuat bila si Piko bukan kucing sembarangan. Kucing ini mengerti suara manusia. Dan bila ada bunyi telepon berdering, ia pasti meloncat dan mendekati gagang telepon. Seisi rumah Rahmat juga tak merasa repot dengan kehadiran kucing ini, misalnya soal beraknya. Sebab bila buang air, si Piko akan menuju WC. Kemudian bila ada tamu laki-laki yang bertandang ke rumah, kucing ini selalu minta diteteki. Dia mencari arah puting susu laki-laki. Tapi ketika diketahui bukan milik Rahmat, kucing ini langsung ngeloyor pergi. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-6211414746568575807?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/6211414746568575807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/keanehan-kucing-bernaluri-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6211414746568575807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6211414746568575807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/keanehan-kucing-bernaluri-manusia.html' title='Keanehan Kucing Bernaluri Manusia'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDx1G3sMdI/AAAAAAAAAbc/1PKcgTzfY_g/s72-c/KUCING.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-4656776523450509021</id><published>2009-08-11T11:13:00.006+07:00</published><updated>2009-08-11T11:19:34.819+07:00</updated><title type='text'>Tumbal Perburuan Harta Karun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDwQ3_B_HI/AAAAAAAAAas/nlUVItRhgR4/s1600-h/HK_PENGGALIAN_KBN_RAYA.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 139px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDwQ3_B_HI/AAAAAAAAAas/nlUVItRhgR4/s200/HK_PENGGALIAN_KBN_RAYA.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368554928522525810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Perburuan harta karun masih terus dilakukan. Praktiknya dilakukan secara rahasia dan tertutup. Ada pula yang dilakukan terbuka, dan diumumkan kehadapan khalayak. Harta karun yang kerap jadi ajang perburuan itu aneka rupa. Kebanyakan peninggalan Bung Karno, lalu harta dan pusaka peninggalan kerajaan-kerajaan masa silam, serta harta peninggalan Belanda. Hanya saja, tak mudah mendapatkannya. Selalu saja memakan korban sebagai tumbalnya. Seseorang bisa kehilangan harta, jabatan, kedudukan, bahkan nyawa. Adakah sesungguhnya harta karun itu? Mengapa banyak yang mengincarnya? Dan mengapa selalu minta tumbal?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nusantara memang kaya. Seluruh bangsa Indonesia tahu soal itu. Tengok saja, dari Sabang sampai Merauke, terhampar kekayaan alam yang begitu melimpah. Baik yang nampak di permukaan, maupun yang tersembunyi di dalam bumi dan lautan. Selain itu, muncul dan tenggelamnya kerajaan-kerajaan di masa lalu, semakin menambah daftar kekayaan negeri ini. Wujudnya pun beraneka rupa. Ada yang berbentuk logam mulia, mata uang kuno, barang-barang antik, sampai pusaka-pusaka bertuah yang tak ternilai harganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan-kekayaan itulah yang kerap disebut harta karun. Sebab keberadaannya tersebunyi dan kebanyakan tertimbun di dalam tanah. Ketika penjajah masuk, sebagian kekayaan itu telah diover alih dan dikirim ke negaranya. Sebagian lain, masih ada di tanah air. Catatan-catatan soal keberadaan harta itu tak banyak. Diantaranya dipegang para ahli waris secara turun temurun, dan tersebar diberbagai tempat. Tidak sedikit pula diantara catatan-catatan itu yang jatuh ketangan pihak ketiga. Mereka inilah yang kerap disebut pemburu harta karun. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Harta Soekarno&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Bicara soal harta karun, perhatian masyarakat cenderung beralih kepada Ir Soekarno, presiden RI pertama. Di sebut-sebut, proklamator kemerdekaan RI itu meninggalkan harta yang lumayan banyak, disimpan diberbagai tempat. Beberapa bagian diantaranya disimpan di bank-bank luar negeri. Harta yang banyak itu bukan diperoleh Soekarno dari korupsi, melainkan titipan raja-raja dan pembesar masa lampau. Harta itu bisa diambil bila Indonesia sudah merdeka dan menjadi negara kesatuan. Mereka sengaja menyumbangkan harta itu untuk kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Harta-harta itu, kerap disebut Dana Revolusi, harta dinasi, harta amanah, dan lain-lan sebutan. Namun maksudnya tiada lain adalah harta karun Soekarno. Harta yang disimpan di bank asing di Swiss, misalnya, dikabarkan berbentuk dolar dan obligasi. Sedangkan yang disimpan di dalam negeri berupa emas batangan 24 karat dan platina berton-ton jumlahnya. Hanya saja, soal dimana harta itu berada, hingga kini masih menjadi misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebuah versi menyebut, dana itu berwujud lempengan emas murni dan platina berbobot 4 ton. Sedangkan uang dalam bentuk dolar senilai US$ 500 miliar, plus obligasi yang jumlahnya tak kalah besar. Yang terakhir itu ditaruh di bank asing. Bila ditotal berikut bunganya, jumlahnya tentu berkali-kali lipat. Dan jika bisa dicairkan, dana itu dapat dignakan untuk membayar utang negara dan mengentaskan krisis multidimensi. Hanya saja, siapa yang berhak mencairkannya? Inilah yang menimbulkan pro-kontra. Bahkan akibat itu, muncul banyak orang yang mengaku-aku sebagai pemegang amanah dari Bung Karno, yang berhak mencairkan harta itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebuah catatan dengan gamblang menyebut jumlah rill Dana Dinasti. Wujudnya berupa lempengan emas dan platina sebanyak 4 ton. Lalu uang sebanyak US 500 miliar dolar. Muasal dana itu dari hasil permufakatan para raja di seluruh Nusantara pada tahun 1972 di Denpasar, Bali. Bertindak sebagai ketua wktu itu adalah Pakoe Buwono X dan sekretaris Sultan Hamid dari Sumbawa. “Mereka menyerahkan sebagian hartanya kepada Bung Karno yang disahkan Notaris Mr Frans dengan akuntan publik Mr Willem dari Belanda. Harta itu kemudian disimpan di sebuah bank di Swiss,” kata sumber ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Konon, harta itu bukan hanya ditumpuk di Swiss. Beberapa tempat di Jawa Barat pun menjadi tempat persembunyiannya. Antara lain di gua Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Malabar dan Gunung Galunggung. Harta karun titipan raja-raja itu baru boleh dibuka etelah tahun 1996. Atau saat keadaan di tanah air sudah memungkinkan. Hanya saja, karena Bung Karno sudah meninggal, maka yagn berhak menandatangani dan mengurus harta itu adalah anak-anaknya.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perburuan harta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Masih menurut catatan-catatan yang tersebar disejumlah sumber, dana maha besar itu dihimpun sejak 1964 melalui Instruksi Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi No 018. Tahun 1966, pemerintah sadar akan manfaat dana itu untuk membiayai pembangunan. Maka keluarlah surat tugas kepada Letjen Purn KRMH Soerjo Wirjohadipoetro (81), untuk emmburu harta itu. Di bawah Letjen Soerya dibentuklah tim Pakuneg (penelitian Keuangan Negara). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hanya saja, meski tim sudah melacak ke berbagai bank di luar negeri, hasilnya nihil. Namun tahun 1987, secara diam-diam pemerintah menugasi Menteri Muda Sekretaris Kabinet Moerdiono, juga untuk menyelidiki kemungkinan ada tidaknya dana itu. Sebuah tim bersandi Operasi Teladan dibentuk. Ketuanya Marsekal Pertama Kahardiman. Tim beroperasi hingga Oktober 1987. Ternyata ditemukan adanya perkembangan. Saat itu, tim menemukan dana 500.000 dolar AS dan uang itu sudah diamankan negara. Hasil  ini memang tidak sesuai dengan kabar yang berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Paranormal yang juga anggota DPR RI Permadi, pernah mendapat izin langsung dari Presiden Abdurrahman Wahid. Permadi lantas mengajak dua pengusaha, Harry Tanujaya dan Sudibyo Tanujaya untuk bekerjasama. Mereka bahkan mengontak tim Spicer dari Sandline Internasional, sebuah perusahaan keamanan yang berbasis di London. Sayang tim ini tak meneruskan penyelidikan karena kekurangan bukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selain Permadi, seorang wanita bernama Lilik Sudarti, juga pernah mendapat izin dari presiden Abdurrahman Wahid untuk memburu harta karun. Izin itu dikeluarkan sebagai penegasan atas izin yang pernah dikeluarkan Soeharto untuk tugas perkara sama. Wanita asal Lenteng Agung, Jakarta ini menyebut Dana Nusantara. Jumlahnya US 250 dolar. Bila dikurskan sedolar dengan Rp 8.850, maka nilainya Rp 2.212,5 triliun. Itu artinya dua kali lebih bear dari utang RI yang jumlahnya mencapai Rp 1.100 triliun. Lilik mengaku didukung dokuman sahih yang dinyatakan asli oleh bank di Den Haag dan Swiss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tumbal perburuan harta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perburuan yang dilakukan tokoh-tokoh itu termasuk terbuka, karena pelaksanaannya diketahui publik. Lantas, bagaimana dengan perburuan yang dilakukan sembunyi-sembunyi? Ternyata jauh lebih banyak. Pada kantung-kantung masyarakat tertentu, perburuan itu masih aktif dilakukan. Mereka bekerja diam-diam, dan melibatkan jaringan. Orientasi perburuan pun bukan hanya pada harta karun peninggalan Bung Karno, tapi juga peninggalan kerajaan-kerajaan yang pernah ada di nusantara. Sebut saja kerajaan Majapahit, Pajajaran, Mataram, Sriwijaya, Kutai dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di Palembang, misalnya, ada kelompok tertentu yang aktif memburu harta sisa-sisa peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Orientasi perburuan mereka adalah gua-gua yang ada di kawasan itu. Harta yang dicari berbentuk barang-barang antik dan emas permata. Mereka meyakini harta-harta masa lalu itu disimpan di dalam gua-gua. Sebuah tim ekspedisi di pertengahan tahun 1990-an, pernah mengendus keberadaan harta karun di dalam sebuah gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hal ini diungkap Moh. Hasbi (40), warga Palembang yang kini berdomisili di Jl Siliwangi, Bandung. Kebetulan ayahnya adalah salah seorang anggota tim tersebut. Ketika itu, tim yang berjumlah lima orang sudah menemukan sebuah gua di tengah belantara. Di salah satu ruang dalam gua itu, ditemukan sebuah ranjang tertutup kain sutera. Di atasnya terdapat setumpuk perhiasan aneka rupa. Ada emas, perak, mutiara, intan berlian, serta seperangkat benda-benda pusaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tim yang dipandu ahli gua dan seorang paranormal ini bergerak atas dukungan dana pihak ketiga. Sayangnya, harta-harta itu tak secuilpun boleh dibawa pulang. Larangan itu didasarkan pada sebuah suara gaib ketika mereka berada di mulut gua. Suara itu bersedia memandu mereka menuju tumpukan harta, dengan syarat tak boleh mengusiknya, apalagi membawa pulang. Termasuk juga tak memberitahukan keberadaannya kepada siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah diperlihatkan keberadaan tumpukan harta itu, mereka berlima bergegas meninggalkan gua. Namun entah apa yang terjadi, sampai di luar gua, jumlah mereka tinggal empat orang. Akhirnya setelah seorang pemandu berdialog dengan penghuni gaib gua itu, diperoleh sebuah keterangan. “Salah seorang anggota tim ternyata diam-diam telah lancang mengambil salah satu benda berharga di tempat itu. Dan orang itu langsung hilang dari pandangan,” tutur Hasbi kepada penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tumbal Nyawa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mengendus dan melacak harta karun ternyata bukan perkara mudah. Apalagi sampai menemukannya. Sudah bukan rahasia bila kegiatan memburu harta karun berisiko besar. Selain dapat menguras harta benda milik sendiri, nyawa pemburu harta karun kerap jadi taruhan. Seperti peristiwa tanggal 9 Juli 2004, di Kabupaten Bogor. Demi mencari tumpukan emas peninggalan kerajaan Pajajaran, empat warga Kiarasari, Kecamatan Sokajaya, Bogor, tewas saat melakukan penggalian di kedalaman 11 meter.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keempat orang ini memburu harta yang terletak di desa Pekandangan, Banjarmangu, Kab. Bogor. Sayang, belum berhasil menemukan harta yang konon berbentuk emas itu, keempatnya tewas di dasar sumur. Mereka adalah Ako Sukarno (35), Sahri (35), Ruspandi (25) dan Ading Supandi (25). Tumbal perburuan harta ini lantas dibawa kembali ke kampung halamannya. Setelah kejadian itu, kawasan lokasi perburuan dinyatakan tertutup untuk segala bentuk penggalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rupanya, Bogor adalah daerah yang memiliki banyak petunjuk adanya harta karun. Harta-harta karun itu diperkirakan bekas peninggalan kerajaan dalam berbagai bentuk. Tien Rostini, tokoh seniman Sunda yang berdomisili di Kota Bogor, mencatat ada 300 titik telatah historis kerajaan Pajajaran. Di titik-titik itulah kemungkinan besar harta karun Pajajaran terpendam. Hanya saja, tak mudah melacak keberadaannya. “Selain itu kecil kemungkinannya berbentuk harta semacam emas. Karena tempat-tempat itu merupakan patilasan,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ki Cheppy Sudarajat, budayawan dari Rancamaya Bogor, mengungkap hal yang sama. Ia mengakui bila Bogor kerap dijadikan lokasi perburuan harta karun. Namun, menurut Ki Cheppy, harta-harta karun berbentuk emas permata itu sudah tidak ada lagi. Sudah diambil oleh penjajah Belanda. “Yang ada mungkin hanya sisa-sisanya. Tapi nilainya sangat tinggi karena berbentuk benda-benda pusaka,” katanya. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDwl8bYvYI/AAAAAAAAAa8/lC4wJJuX7m8/s1600-h/KI_CHEPPY_SUDARAJAT.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 145px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDwl8bYvYI/AAAAAAAAAa8/lC4wJJuX7m8/s200/KI_CHEPPY_SUDARAJAT.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368555290492452226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut Ki Cheppy, lokasi-lokasi harta karun itu terbentang dari Rancamaya hingga Lawang Gintung. Termasuk di dalamnya Batu Tulis, Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor. Lawang Gintung sendiri diyakini sebagai bekas istana Kerajaan Pajajaran. Sedangkan Rancamaya merupakan tapak paling bersejarah peninggalan Pajajaran. Namun tilas-tilas itu sudah musnah oleh pembangunan real estate, seperti bukit Badigul. “Waktu pembangunan real estat berlangsung, puluhan pekerja meninggal dunia. Mereka jadi tumbal keserakahan orang-orang kaya,” ucap Ki Cheppy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ternyata, tak hanya nyawa bisa jadi taruhan dalam perburuan harta karun. Harta benda pun bisa ludes. Banyak contoh orang yang kaya raya jatuh miskin karena terlibat perburuan. Seperti diungkap Ki Cheppy, mencari harta karun ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Tidak mudah dan sangat rumit. Butuh biaya raksasa untuk menemukannya. “Kalaupun ketemu, belum tentu nilainya besar,” terang Ki Ceppy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selain harta dan nyawa, jabatan dan kedudukan pun bisa jadi tumbal. Kita masih ingat kasus penggalian harta karun di bawah prasasti Batu tulis akhir 2002 lalu. Kala itu pimpinan penggalian adalah Menteri Agama RI, Said Agil Almunawar. Apa yang terjadi kemudian? Jabatannya sebagai Menteri Agama jadi tercela. Wibawanya sebagai pejabat hancur. Bahkan lebih dari itu, Said Agil mendapat caci maki dari masyarakat. Penggalian harta karun di Kebun Raya Bogor awal 2004, juga contoh nyata. Selain tak menghasilkan apa-apa, Rahmawati, pimpinan penggalian, mendapat cemooh masyarakat dan harus berurusan dengan polisi. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Mendeteksi Karun dan Pusaka&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ternyata mendeteksi keberadaan harta karun dan benda-benda pusaka ada bedanya. Mendeteksi benda pusaka jauh lebih mudah ketimbang harta karun. Keberadaan benda pusaka mudah dideteksi karena ada energi dari khodamnya. Sedangkan harta karun lebih sulit karena energinya lebih lemah, dan sulit dibedakan wujudnya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Benda-benda pusaka beraneka rupa. Ada yang berwujud keris, tombak, panah, kujang, dan lain-lain sebagai alat beladiri. Ada pula yang berbentuk emas perak intan berlian sebagai perhiasan. Bahkan ada pula yang berbentuk ajimat, rajah, peta kuno, dan lainnya. Benda-benda pusaka biasanya sudah berumur tua. Bahkan ada yang mencapai ratusan tahun. Tapi yang pasti, benda-benda itu memiliki khadam. Sebab benda itu pernah dimiliki oleh seseorang atau kelompok orang di masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meski zaman telah berkembang demikian modern, namun benda-benda pusaka kerap menjadi incaran banyak orang. Tuah benda itulah yang diburu. Seperti untuk penjagaan diri, kewibawaan, penglarisan, dan lainnya. Uniknya, benda pusaka bisa muncul dimana saja, dan bisa dimiliki oleh siapapun yang dikehendaki. Bahkan ia pun bisa menghilang begitu saja, dari genggaman seseorang. Tentu saja, bila orang itu tak dikehendaki khodam dari benda pusaka tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDw3FuC40I/AAAAAAAAAbE/yDAjM4V5B0A/s1600-h/KANG_DADAN_1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 145px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDw3FuC40I/AAAAAAAAAbE/yDAjM4V5B0A/s200/KANG_DADAN_1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368555585044407106" /&gt;&lt;/a&gt;Menurut Dadan SAg, guru utama Perguruan Raksa Budhi Sukamulya (RBS), mendeteksi keberadaan benda pusaka lebih gampang ketimbang harta karun. Caranya tidak rumit, dan sederhana. Bila ada orang yang melakukan ritual, lengkap dengan sesajen untuk mengeluarkan benda pusaka, sebenarnya bisa disederhanakan. “Kuncinya hanya dengan mengerahkan gabungan ilmu tenaga dalam dan tenaga metafisik,” tutur Kang Dadan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, benda-benda pusaka dilindungi khodam. Nah, energi-energi yang terpancar dari khodam itulah yang mudah dideteksi. Karena sudah terdeteksi, maka mengangkatnya pun lebih mudah, meskipun berada di dalam tanah. “Ini berbeda dengan mendeteksi keberadaan harta karun. Harta karun selain terpendam di dalam tanah, energi yang dikeluarkan lemah,” kata Kang Dadan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena lemahnya energi itu, yang bisa ditangkap hanyalah perkiraan. Misalnya soal letak. Namun, soal wujud harta karun itu apakah emas atau logam biasa, masih gelap. Oleh sebab itu kemungkinan gagalnya pencarian harta karun sangat besar. Apalagi bila proses penggalian sudah dilakukan. Selain memakan biaya besar, kemungkinan berhasil sangat kecil. “Sebaiknya mencari usaha yang lebih baik dan halal, ketimbang mencari harta karun. Mudharatnya lebih besar,” nasihat Kang Dadan. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Kronologis perburuan harta karun&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahun 1966-1973&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Presiden Soeharto membentuk tim untuk melacak keberadaan Dana Revolusi zaman Sukarno. Tim yang diketuai Letjen Soerjo, Ketua Tim Pengawasa3n Keuangan Negara, itu berhas3il menyelamatkan uang dan barang senilai US$ 9,8 juta. Tim itu juga menemukan rekening Soebandrio di Union Banques Suisses dan Schwe3zerische Bankgesellschaft, Bern, Swiss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahun 1982&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Michel Hatcher, pemburu harta karun asa3l Inggris, memulai perburuan muatan kapal VOC, Geldermalsen, yang karam diperairan Riau pada 1752. hatcher berhasil mengeruk 150 ribu barang antik dan 225 batang emas lantakan. Diilhami temuan Hatcher, pemerintah lalu membentuk panitia nasional untuk memburu harta karun. Hasilnya tak diketahui sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahun 1986&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Atas usul Suhardiman, saat itu Ketua SOKSI, pemerintah membentuk Tim Operasi Teladan yagn dipimpin Marsekal Pertama Kahardiman untuk memburu Dana Revolusi. Yang ditemukan tim ini justru dana di Bank Indonesia sebesar US$ 550 ribu dan Rp 1,5 miliar. Selain itu, tim ini menemukan dana US$ 250 di Bank Guyerzeller Zumont, Swiss, dan US$ 250 ribu di Bank Daiwa Securities, Tokyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahun 1998&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita muda, Lilik Sudarti, mengaku puny bukti dokumen kepemilikan harta karun peninggalan Sukarno di banyak bank di Swiss. Presiden Soeharto antusias dan pada 21 April 1998 mengeluarkan surat penugasan kepada Lilik untuk mencari harta karun itu. Menurut Lilik, total Dana Nusantara adalah US$ 250 miliar atau senilai Rp 2.212,5 triliun (dengan kurs 1 dolar AS = Rp 8.850) yang disimpan di 21 bank di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahun 2000&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kiai Abdul Rahman mendirikan Yayasan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Yamisa) dan menggembar-gemborkan adanya dana peninggalan sembilan kerajaan di Nusantara di tangannya. Ia menjaring ribuan orang dihampir seluruh Indonesia. Ia menjanjikan gaji ratusan juta rupiah bagi pengurus yayasan di cabang-cabang. Tapi, sampai sekarang, Abdul Rahman belum bisa membuktikan janjinya. Yayasan itu masih berjalan sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahun 2001&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Presiden Abdurrahman Wahid juga ternyata percaya kepada Lilik Sudarti. Ia mengeluarkan surat penugasan kepada Lilik Sudarti dan Sekretaris Neara Djohan Effendi untuk mencairkan dana peninggalan Sukarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahun 2001&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Atas izin Presiden Abdurrahman Wahid, paranormal Permadi menggandeng pengusaha Harry Tanujaya dan Sudibyo  Tanujaya untuk melacak Dana Revolusi. Permadi mengontak tim Spicer di Sandline International, perusahaan keamnan di London. Tapi tim dari Spicer menganggap pemerintah Indonesia tidak punya bukti kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahun 2002&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menteri Agama Said Agil Al Munawar memimpin penggalian di sekitar Prasasti Batutulis, Bogor. Said Agil rupanya percaya kepada “orang pintar” yang membisikkan adanya harta karun peninggalan Kerajaan Pajajaran di bawah prasasti itu. Harta tak ditemukan. Said Agil dicaci banyak orang karena kekonyolannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahun 2004&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rahmawati, wanita asal Jakarta, menggali harta karun di dalam kawasan Kebun Raya Bogor. Rahmawati mendasarkan keyakinannya tentang harta karun dikawasan itu atas dasar bisikan gaib. Atas bisikan itu, Rahmawati memperkirakan terdapat emas lantakan dan peta harta karun di sekitar kawasan yang digalinya. Namun ia harus berurusan dengan polisi, karena dianggap melanggar areal yang dilindungi hukum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Drs Kunto Sofianto MHum, sejarawan Unpad Bandung&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perburuan harta karun memang marak, meskipun dilakukan diam-diam. Sebab proses perburuan harta karun melibatkan aktivitas fisik. Misalnya bekas-bekas penggalian harta karun yang kerap mengundang masalah. Pasalnya, kebanyakan harta karun yang diyakini terpendam di suatu tempat, ternyata tempat itu merupakan areal yang dilindungi oleh negara, umpamanya Batu Tulis. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDxG1wvqlI/AAAAAAAAAbM/kDjM2ez0pPY/s1600-h/KUNTO.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 147px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDxG1wvqlI/AAAAAAAAAbM/kDjM2ez0pPY/s200/KUNTO.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368555855638669906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleks Batu Tulis itu punya nilai sejarah yang dalam. Terutama bagi masyarakat Sunda. Di situlah tempat raja-raja kerajaan Sunda pernah berkumpul. Presiden RI pertama, Bung Karno, ingin di makamkan di sekitar Batu Tulis. Itu karena beliau sebagai tokoh besar, tahu persis adanya telatah sejarah di sekitar tempat itu. Bung Karno sangat tahu adanya kekuatan metahistori dan metafisis di sekitar prasasti Batu Tulis. Tak heran beliau membangun istana Batu Tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan Bogor memang bernilai sejarah yang dalam. Di kawasan itulah diperkirakan Kerajaan Pajajaran berpusat. Beberapa peninggalan kerajaan itu tersebar di sana. Bukti-buktinya adalah prasasti Batu Tulis, Lawang Gintung dan Bukit Badigul Rancamaya. &lt;br /&gt;Dulu, Bung Karno sering sendirian di Istana Bogor, yang letaknya tak jauh dari Batu Tulis. Ketika itu para pengawal istana disuruh keluar. Para pengawal ini rupanya mengerti bila Bung Karno katanya tengah duduk-duduk dengan raja-raja. Boleh percaya boleh tidak. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tien Rostini, Budayawan Sunda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDxQCvvwdI/AAAAAAAAAbU/ArUenMEWrcs/s1600-h/ENTIN_ROSTINI.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 137px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDxQCvvwdI/AAAAAAAAAbU/ArUenMEWrcs/s200/ENTIN_ROSTINI.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368556013742965202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di Bogor memang memang ada harta karun. Namun kebanyakan bentuknya bukan emas dan harta benda. Melainkan nilai sejarah yang sangat dalam. Terutama bagi masyarakat Sunda. Di sekitar Bogor setidaknya ada tiga ratus titik tilas sejarah peninggalan Kerajaan Pajajaran. Inilah yang membuat daya tarik banyak orang untuk melakukan perburuan harta karun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, harta karun yang berbentuk emas permata dan barang-barang perhiasan, sebenarnya tidak ada. Yang bisa ditemukan adalah prasasti dan patilasan-patilasan raja-raja Pajajaran. Saya sedih dengan upaya penggalian harta karun di kawasan bersejarah. Sebab selain kecil kemungkinannya untuk berhasil, tempat itu menjadi rusak. Kasus di Batu Tulis dan Kebun Raya Bogor sebaiknya dijadikan contoh terakhir.&lt;br /&gt;Kalau para pemburu harta karun memang pintar, dia pasti bisa mendeteksinya dari jarak jauh. Sehingga tidak perlu menggali untuk memastikan ada tidaknya harta karun. Akibatnya pasti sangat berisiko. Harta karun itu sebetulnya termasuk benda bersejarah, karena peninggalan masa lampau. Bisa dipetik pelajaran dan hikmahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-4656776523450509021?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/4656776523450509021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/tumbal-perburuan-harta-karun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/4656776523450509021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/4656776523450509021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/tumbal-perburuan-harta-karun.html' title='Tumbal Perburuan Harta Karun'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDwQ3_B_HI/AAAAAAAAAas/nlUVItRhgR4/s72-c/HK_PENGGALIAN_KBN_RAYA.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-6424758658953908747</id><published>2009-08-11T11:06:00.006+07:00</published><updated>2009-08-11T11:12:08.074+07:00</updated><title type='text'>Harta Karun Bung Karno Ditemukan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDud3HL3jI/AAAAAAAAAaE/1btFmHqlA2g/s1600-h/EMAS_BUNG_KARNO.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDud3HL3jI/AAAAAAAAAaE/1btFmHqlA2g/s200/EMAS_BUNG_KARNO.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368552952603336242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Warga Bogor heboh menyusul ditemukannya harta karun berupa perhiasan emas murni 24 karat. Sepuluh diantaranya berbentuk emas batangan masing-masing seberat 1 Kg. Lima batang bergambang Bung Karno, mantan Presiden RI pertama, berikut tanda-tangan dirinya. Saepudin (27), sang penemu, mengaku mendapat bisikan gaib dari seorang kakek berjanggut dan berjubah putih. Ia dibisiki untuk menggali sumur di dalam rumahnya. Siapa kakek berjubah putih itu? Dan benarkah harta karun temuan itu murni terbuat dari emas? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rumah mungil di Kampung Hulu Rawa RT 02/05, Desa Bantarsari, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, Jabar itu mendadak ramai dikunjungi orang dari berbagai penjuru. Kabar tentang penemuan harta karun peninggalan Bung Karno, memang telah merebak ke mana-mana. Dan, di dapur rumah itulah, Saepudin, sang pemilik rumah, menemukan 27 buah perhiasan emas berbagai bentuk. Lelaki muda beranak dua dari dua istri itu menemukannya saat menggali sumur, persis di bagian dapur rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta karun itu berupa emas sebanyak 10 batang seberat masing-masing 1 Kg. Kemudian beberapa gelang emas keroncong bergambar ular naga, lima buah gelang emas rantai dan sebuah liontin bertuliskan “Allah” dalam huruf Arab. Uniknya, lima batang diantaranya bergambang Soekarno, mantan Presiden RI pertama. Di bawahnya juga tertera tanda-tangan sang proklamator itu. Disisinya bertuliskan “24 K”. Sedangkan liam lainnya bergambar lambing padi dan kapas, yang ditengahnya terdapat tulisan “LM”. Di atas lambing itu tertulis “999,9” dan di bawahnya tertulis kata “London”. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggali sumur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDuw-Q5U5I/AAAAAAAAAaM/m8r89vkUTJw/s1600-h/SAEPUDIN_1.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 126px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDuw-Q5U5I/AAAAAAAAAaM/m8r89vkUTJw/s200/SAEPUDIN_1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368553280940626834" /&gt;&lt;/a&gt;Seperti dituturkan Saepudin, penemuan emas itu berawal dari sebuah mimpi saat ia terlelap, Rabu (18/5/2004) lalu. Saat itu, seorang pria tua berjubah putih dan berjanggut sepanjang 2 meter, datang menemuinya. Meski dalam mimpi, namun Saepudin merasakan hal itu seperti nyata. Tubuhnya serasa melayang di atas awan. Sang kakek tergambar sebagai sosok yang penuh wibawa. Suaranya besar, namun lembut dan sejuk. Orang tua itu mengaku bernama Haji Syafei yang juga bernama lain Ki Ageng Tirtayasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan itu, si kakek memberikan wejangan Saefudin tentang banyak hal. Diantaranya meminta Saepudin bertobat, dan mengamalkan ajaran kebaikan. Selain itu, Haji Syafei juga menjanjikan bantuan, asalkan Saepudin mau melaksanakan ibadah salat lima waktu. Diakhir pertemuan, si kakek berjubah itu meminta agar Saepudin menggali sumur di dalam rumahnya. Seperti diakui Saepudin, sebenarnya ia memang berencana membuat sumur di luar rumah. Tepatnya persis di dekat pohon pepaya di samping masjid AT Taqwa Hulu Rawa. Namun karena pria berjanggut putih itu melarang, maka Saepudin menuruti permintaannya. Sebab ia juga memberi tahu akan adanya hikmah dibalik semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDvCVdAgQI/AAAAAAAAAaU/HixFJyHnFNM/s1600-h/RUMAH_SAEPUDIN_RAMAI.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 141px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDvCVdAgQI/AAAAAAAAAaU/HixFJyHnFNM/s200/RUMAH_SAEPUDIN_RAMAI.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368553579223220482" /&gt;&lt;/a&gt;Keesokan harinya, Kamis (20/5/2004), Saepudin minta bantuan tetangganya, Ace (30), untuk menggali sumur di lokasi yang ditunjukkan dalam mimpinya. Kepada Ace, Saepudin berpesan akan adanya hikmah dalam penggalian sumur itu. Tanpa tahu makna ucapan Saepudin, Ace pun mulai menggali. Bersama Saepudin, pekerjaan dimulai pukul 06.00 WIB. Dalam waktu dua jam, penggalian sudah mencapai dua meter. Ketika itulah Saepudin merasakan adanya daya tarik yang kuat dari dalam bumi. Lantas mereka berdua istirahat sebenar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu pekerjaan dilanjutkan. Nah, ketika galian mencapai jarak tiga meter, garpu pengeruk tanah Ace membentur benda keras. Agaknya, Saepudin mulai merasakan adanya sesuatu yang nyata dari mimpinya. Lalu pengalian yang semula mengenakan garpu diganti dengan tangan. Ketika itulah mereka menemukan batangan perhiasan dari emas bergambar Presiden Soekarno sebanyak lima batang. Kemudian secara berturut-turut ditemukan batangan emas bergambar padi dan kapas, serta berbagai perhiasan jenis gelang dan liontin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumur keramat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah benda-benda itu diangkat, tiba-tiba saja air menyembur dari dalam tanah. Menurut logika, tidak mungkin kedalaman tiga meter bisa mengeluarkan air. Pada kedalaman 3 meter itu masih sejajar dengan jalan dibagian bawah rumahnya. Sebab seperti diketahui, rumah Saepudin terletak di dataran yang lebih tinggi. Artinya, bila hendak mendapatkan air sumur, kedalaman ideal harus mencapai minimal 7 meter. Namun, yang terjadi sebaliknya. Air itu bisa menyembur hanya dari kedalaman 3 meter. “Mungkin inilah hikmah sebagaimana dikatakan Haji Syafei dalam mimpi saya,” tutur Saepudin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDvTFqT7rI/AAAAAAAAAac/CuL8ilr7PD0/s1600-h/SUMUR_KERAMAT_1.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 140px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDvTFqT7rI/AAAAAAAAAac/CuL8ilr7PD0/s200/SUMUR_KERAMAT_1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368553867041828530" /&gt;&lt;/a&gt;Hanya dalam waktu dua hari, kabar penemuan emas oleh Saepudin merebak ke mana-mana. Nama Saepudin pun bukan hanya terkenal, tapi juga menjadi buah bibir. Dan uniknya, sumur tempat ditemukannya emas-emas lantakan itu, kini dikeramatkan orang. Setiap hari, ratusan orang mengunjungi rumah Saepudin untuk melihat hasil temuannya, sekaligus meminta air sumur untuk beragam alasan. Maemunah (45), warga Ranca Bungur, sengaja datang ke rumah Saepudin hanya untuk meminta air sumur keramat itu. “Saya bawa air ini mudah-mudahan bisa menyembuhkan penyakit rematik suami saya,” ujarnya sambil menunjukkan air sumur dalam kemasan plastik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Benda Gaib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Melihat ciri-ciri temuan Saepudin, banyak yang menyebut bila itu adalah harta karun peninggalan Soekarno, Presiden RI pertama. Sebab, beberapa di antara emas batangan itu bergambar Soekarno sekaligus tandatangannya. Selama ini, banyak kalangan mengatakan bila Bung Karno meninggalkan banyak harta yang sering disebut harta amanah. Namun, harta-harta itu tidak bisa dicairkan dengan mudah. Ada banyak syarat untuk mencairkannya. Dan jumlahnya, konon mencapai ratusan triliun. “Lebih dari cukup untuk membayar seluruh utang-utang negara kita,” tutur Gus Dharma Aji kepada penulis beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Harta-harta amanah inilah yang kerap pula disebut harta karun Bung Karno. Hanya saja, benarkah emas yang ditemukan Saepudin itu harta karun peninggalan Bung Karno? Dan bagaimana keasliannya? Ternyata, banyak yang meragukan. Pascapenemuan emas itu, pendapat masyarakat beragam soal asli tidaknya. Ada yang menyebut asli, dan tidak sedikit pula yang menyatakan tidak.  Pendeknya, rasa penasaran soal keaslian itu menyebabkan polisi mengambil salah satu emas batangan untuk diteliti di Puslabfor Mabes Polri. Namun saat ditanyakan ke ahli perhiasan di sebuah pegadaian di Bogor, hasilnya negatif. Artinya batangan yang disebut emas itu ternyata hanya logam biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tokoh masyarakat setempat, yang juga mantan pengasuh pondok pesantre Al Hidayah, Hulu Rawa, KH Mohammad Shidiq, juga tidak percaya keaslian benda-benda temuan Saepudin. Menurut KH Mohammad Shidiq, benda seperti itu banyak dimiliki orang, termasuk kerabatnya sendiri. Namun, KH Mohammad Shidiq mengakui bila itu bukan benda sembarangan. Benda-benda itu termasuk barang gaib yang dikuasai mahluk halus sebangsa jin. “Benda-benda itu dikuasai mahluk halus dan tidak bisa diperjual belikan. Bahkan tidak laku dijual,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saepudin sendiri amat yakin benda-benda temuannya terbuat dari emas asli. Dirinya pun tidak keberatan bila pemerintah ingin mengambil alih dari tangannya. Hanya saja, ada empat syarat yang harus dipenuh. Pertama, santuni fakir miskin. Kedua, santuni anak yatim. Ketiga, santuni janda-janda miskin. Dan keempat, memperbaiki masjid yang ada di kampungnya. “Itu semua sesuai dengan bisikan gaib yang diterima dari Haji Syafei,” tegasnya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------- &lt;br /&gt;&lt;b&gt;KH Mohammad Shidiq, tokoh masyarakat Hulu Rawa:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asli atau tidaknya benda-benda itu harus dibuktikan oleh ahlinya. Jejak yang mengarah adanya harta karun di daerah ini tidak ada. Hanya saja, dulu dekat rumahnya Saepudin, memang ada lobang tempat persembunyian, zaman Belanda. Jadi kalau ada sirine dan pesawat, orang-orang masuk ke dalam lubang itu untuk menghindari bom. Malahan ada yang lahir di lubang itu. Cuma, saya tidak melihat adanya jejak harta karun. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDvfQLP7vI/AAAAAAAAAak/bSoxZoj-t8g/s1600-h/HK_KH_SIDIK.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 156px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDvfQLP7vI/AAAAAAAAAak/bSoxZoj-t8g/s200/HK_KH_SIDIK.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368554076022763250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya mau membuka pondok pesantren, dia yang mewakafkan tanahnya. Nah, di lokasi pesantren itu juga pernah ditemukan emas semacam yang ditemukan oleh Saepudin itu. Cuma karena santrinya sedikit, akhirnya pesantren tidak berlanjut. Sekarang yang aktif hanya majelis taklim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang punya barang seperti itu sebenarnya banyak, tapi tidak digembar-gemborkan. Kalau dijual juga tidak laku. Sebab itu termasuk barang gaib, yang masih dikuasai jin atau mahluk gaib lain. Barang itu ada yang punya, ada yang memasukinya, yakni mahluk gaib. Menjualnya pun tidak sembarangan, harus ijin kepada yang nganciknya itu. Kalau dijual begitu saja, tidak bisa. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-6424758658953908747?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/6424758658953908747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/harta-karun-bung-karno-ditemukan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6424758658953908747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/6424758658953908747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/harta-karun-bung-karno-ditemukan.html' title='Harta Karun Bung Karno Ditemukan'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoDud3HL3jI/AAAAAAAAAaE/1btFmHqlA2g/s72-c/EMAS_BUNG_KARNO.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-1808015845704826320</id><published>2009-08-11T02:39:00.000+07:00</published><updated>2009-08-11T02:41:02.773+07:00</updated><title type='text'>Menengok Pesona Situ Ciburuy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB3nyRZ4vI/AAAAAAAAAZ8/MDwWmwLrvZo/s1600-h/SITU+CIBURUY+BANDUNG.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB3nyRZ4vI/AAAAAAAAAZ8/MDwWmwLrvZo/s200/SITU+CIBURUY+BANDUNG.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368422281219007218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Situ Ciburuy terletak di kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung. Sehari-hari, danau ini menjadi konsumsi penikmat keindahan alam. Maklum, sebuah pulau ditengahnya bagaikan magnet bagi para pelancong. Inilah fenomena unik itu, pada waktu-waktu tertentu sering munculnya kerbau putih bernama si dongkol dan ikan mas raksasa. Selain itu, ikan Situ Ciburuy tak gampang dipancing. Mengapa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situ Ciburuy pada mulanya adalah dua buah sungai kecil yang ujungnya bertemu di Desa Ciburuy. Tahun 1918, lokasi pertemuan kedua sungai itu dibendung. Lalu airnya diatur untuk mengairi sawah-sawah desa. Lama kelamaan, bendungan ini airnya makin tinggi dan menggenangi wilayah seluas 14.76 ha. Tapi tanah tertinggi di tengah-tengah danau tidak tergenang, yang kemudian membentuk sebuah pulau mungil. Mayarakat setempat lantas memberinya nama Situ Ciburuy. Situ artinya danau, sedangkan Ciburuy adalah nama Desa.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Bempi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal 1942, seorang Belanda bernama Tuan Bempi mengantongi hak memelihara ikan dari pemerintah Hindia Belanda di danau itu. Ikan-ikannya berkembang pesat. Untunglah Tuan Bempi tidak kikir. Ia bahkan dikenal sebagai dermawan yang sering membantu warga desa. Karena kesibukannya dibidang lain, pengelolaan sehari-harian danau ia percayakan kepada Romli, warga Desa Ciburuy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, tahun itu Jepang masuk RI. Semua orang Belanda ditawan dan dibawa ke Jakarta, termasuk Tuan Bempi. Sejak itu, keberadaan Tuan Bempi tidak diketahui lagi.&lt;br /&gt;Sepeninggal beliau, Romli-lah yang mengurus Situ Ciburuy. Karena tak ada pemiliknya lagi, ia lantas mempersilahkan kepada siapa saja untuk mengambil ikan di tempat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak lagi ada yang memiliki, Romli tetap menjaga danau itu dengan setia. Suasana danau seakan menyatu dengan dirinya. Keadaan itu berlangsung hingga Romli naik haji dan meninggal dunia tahun 1994. Romli pun diberi gelar sebagai kuncen Situ Ciburuy. H Abdul Solihin (70), keponakan H Romli, menceritakan bahwa semasa hidupnya, H Romli sering didatangi Tuan Bempi dalam tidurnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, setelah mimpi bertemu Tuan Bempi, keesokan harinya selalu ada yang mati tenggelam di Situ Ciburuy. Akhirnya Romli Sadar kalau kedatangan Tuan BEmpi dalam mimpinya itu untuk memperingatkan para pengunjung agar berhati-hati. Tidak heran H Romli sering menasihati pengunjung yang ingin berenang atau berlayar. Namun kini kondisinya sudah berbeda. Situ Ciburuy semakin dangkal meski debit air tergantung curah hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukar dipancing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, masyarakat setempat masih meyakini adanya seekor ikan mas raksasa yang kadang-kadang muncul. Mereka yang pernah melihat adalah warga yang sering mancing dan menangkap ikan di situ. Katanya, ikan ini tubuhnya sebesar daun pintu dan sekujur tubuhnya berlumut. Selain itu, orang-orang Situ Ciburuy juga sering melihat si Dongkol, yakni sapi putih yang munculnya tidak terduga. Bisa saja siapapun tiba-tiba melihat ada sapi putih tengah mencari makan di pinggir danau. “Itulah si dongkol, sapi putih gaib yang muncul,” ujar Abdul Solihin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dua mahluk itu tidak mengganggu manusia. “Danau ini tidak angker. Cerita di dongkol dan ikan mas raksasa malah membuat kami penasaran. Katanya kalau kita kawenehan (kebetulan) melihatnya, akan mendapat berkah. Ya semuanya tergantung keyakinan kita,” ujar Mahmudi, salah seorang pemilik perahu sewa di Situ Ciburuy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, setelah Tuan Bempi menghilang tahun 1942, setiap tahun di sekitar Situ Ciburuy selalu diadakan semacam upacara penolak bala. Upacara ini biasanya digabung dengan upacara menangkap ikan yang dinamakan “lotre”. Ketika itulah digelar pertunjukan wayang golek, kendang pencak dan ronggeng. “Tapi belakangan ini acara tersebut jarang di adakan. Nggak tahu kenapa,” tutur Mahmudi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang unik di Situ Ciburuy adalah soal ikannya. Mengapa masyarakat setempat dengan mudah memancing atau menjala ikan di tempat itu, sedangkan bagi pendatang atau orang luar mengalami kesulitan? Hal ini sangat tidak rasional menurut banyak orang. Setelah ditelusuri, konon, menurut tokoh masyakat di sana, menangkap ikan di Situ Ciburuy itu ada ilmunya. Dan ilmu itu hanya dimiliki secara turun-temurun dari para orang tua kepada anak-anaknya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-1808015845704826320?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/1808015845704826320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/menengok-pesona-situ-ciburuy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/1808015845704826320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/1808015845704826320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/menengok-pesona-situ-ciburuy.html' title='Menengok Pesona Situ Ciburuy'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB3nyRZ4vI/AAAAAAAAAZ8/MDwWmwLrvZo/s72-c/SITU+CIBURUY+BANDUNG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-8549311797922315595</id><published>2009-08-11T02:38:00.001+07:00</published><updated>2009-08-11T02:39:28.702+07:00</updated><title type='text'>Patilasan Prabu Kean Santang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB3ZrvAHiI/AAAAAAAAAZ0/wZrh_O9Wl0o/s1600-h/MAKAM+GADOG.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 130px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB3ZrvAHiI/AAAAAAAAAZ0/wZrh_O9Wl0o/s200/MAKAM+GADOG.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368422038945930786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Nama Prabu Kean Santang amat terkenal di tanah Pasundan. Banyak nama untuk menyebut tokoh yang satu ini berdasarkan kiprahnya di banyak tempat di Jawa Barat. Rakyat di daerah-daerah tertentu seperti Garut, Bogor, Ciamis, atau Cirebon, meyakini betul keberadaan sang tokoh yang berjasa sebagai penyebar syiar Islam. Inilah beberapa peninggalannya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat Jawa Barat, khususnya warga Garut, nama Kean Santang terdengar amat familier. Di hati mereka, kenangan tentang sang prabu yang terkenal sakti dan amat berjasa dalam syiar Islam ini, sudah terpatri. Bila mereka mendengar atau menemukan kata-kata Kean Santang, hati mereka langsung menerawang dan membayangkan kiprah sang prabu beberapa abad silam. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Kean Santang sendiri mempunyai seabreg nama. Di Cirebon namanya Walangsungsang, sedangkan orang Panjalu me¬nyebutnya Borosngora. Nama lain yang juga amat terkenal diantaranya Pangeran Mundinglaya Dikusumah, Prabu Rukmantara, Gagak Lumayung dll. Nama Kean Santang dikenal sebagai turunan Pajajaran yang tertua, putra Prabu Siliwangi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peninggalan dan jejak Prabu Kean Santang terdapat diberbagai tempat. Antara lain di Gadog, 5 Km dari Garut. Orang-orang begitu mempercayai bila peninggalan Prabu Kean Santang dikubur di sini. Di makam Gadog ini pula bisa dijumpai beberapa alat dan senjata peninggalan Prabu Kean Santang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di Dusun Ciburuy,  yang berjarak kira-kira 15 km dari Garut. Tepatnya di Kecamatan Bayongbong. Dari alun-alun kecamatan, ada jalan kecil menuju arah selatan, dan terus naik menelusuri jalan kecil. Di situ akan ditemukan situs Ciburuy, yang diduga kuat sebagai patilasan Prabu Kean Santang, termasuk sehamparan batu tilas sang Prabu menunaikan salat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, di Ciela, tak jauh dari Bayongbong, terdapat pula benda-benda antik milik Kean Santang, yang saat ini dipelihara dengan baik oleh warga setempat. Di daerah Depok, kira-kira 110 km dari Garut ke arah selatan dan 7 km sebelum masuk Pameungpeuk, terdapat gunung yang diberinama Gunung Nagara. Rakyat di sana percaya bahwa Kean Santang dimakamkan di situ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian kawasan hutan Sancang. Hampir seluruh rakyat Jawa Barat, tahu persis bila hutan yang paling dikeramatkan ini pernah disinggahi Prabu Kean Santang dan ayahnya Prabu Siliwangi. Beberapa lokasi di dalam hutan ini, diyakini sebagai patilasan tokoh-tokoh sakti itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sayyidina Ali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah diceritakan tentang keterampilan dan kecakapan Kean Santang. la ingin memperoleh kekuatan. la pergi ke Mekkah untuk menemui Syaidina Ali. Karena kesaktiannya, ia tidak berjalan sebagaimana layaknya manusia biasa, tapi dengan napak kancang atau berjalan di atas air laut. Nah, di Mekkah ia berjumpa seorang tua yang ternyata orang itulah yang dicarinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua itu lantas jatidiri dan maksudmu kedatangannya ke Mekkah. Di jelaskanlah bahwa ia putra Prabu Siliwangi, raja Pajajaran, yang ingin mempelajari keterampilan dan kepandaian dalam ilmu gaib. Ia lantas bertanya di mana kediaman Sayyidina Ali. Orang tua itu mengangguk, dan bersedia mengantarkan Kean Santang kepada orang yang dicarinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan, orang tua itu teringat bila tongkatnya tertinggal. Disuruhnya Kean Santang untuk mengambilnya. Didapatkannya tongkat itu terpancang di tanah. Ketika hendak dicabut, ternyata tidak bisa. Bahkan setelah mengerahkan segenap tenaga, tongkat itu tak bergerak sedikit pun. Keringat mengalir disekujur tubuh, bahkan saking hebatnya tenaga yang dikerahkan, darah segar pun mengucur dari pori-pori. Hingga kemudian, orang tua yang menyertainya telah ada disisinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tenang orang tua itu berkata, "Engkau ingin bertemu dengan Syaidina Ali yang termasyhur itu? Akan aku tunjukkan setelah engkau mencabut tongkat itu. Ucapkanlah sekarang kalimat syahadat, pasti engkau berhasil mencabutnya". Dengan dipandu orang tua itu, Kean Santang mengucap kalimat syahadat. Setelah itu Kean Santang amat mudah mencabut tongkat. Dan rupanya, orang tua itu tiada lain adalah Sayyidina Ali, orang yang memang dicarinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan Sancang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menuntut ilmu kepada Sayyidina Ali, Kean Santang kembali ke tanah Jawa dengan predikat muslim dan siap menyampaikan syiar Islam. Mulailah ia mengajarkan orang agama Islam, dan ayahnya tahu akan hal itu. Diam-diam Prabu Siliwangi dan pengikut¬nya pergi ke arah selatan, memasuki hutan Sancang. Kean Santang menyusulnya dan masuk hutan Sancang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Dilewa, sang penguasa hutan, bertanya maksud kedatangan Kean Santang bersama pasukan. "Saya datang ke sini untuk mengislamkan rakyat Sancang", jawab Kean Santang. Raja Dilewa menerangkan bahwa keputusan ada ditangan Prabu Siliwangi. Namun Prabu Siliwangi diam seriba bahasa, meski akhirnya berkata juga. “Ayo kita pergi ke sungai Cibabalukan, di sana kita bermusyawarah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat itu, Siliwangi mematahkan ranting pohon kaboa, kemudian di perintahnya Kean Santang untuk memegang salah satu ujungnya, sementara ujung lainnya dipegang sendiri. Lalu ia menarik nafas panjang seraya berkata,  "Kami bersama rakyat Sancang tidak masuk Islam, berubah agama tidak mudah. Tapi engkau Kean Santang mesti berhati-hati, sebab engkau menempuh jalan yang salah". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak Kean Santang tak berkata apa-apa. la bingung, lalu mengucap ajian Aji Ader Putih. Berhembuslah angin kencang, diikuti halilintar dan kilat sambar menyambar. Dunia akan runtuh, orang-orang menjadi panik. Tiba-tiba Prabu Siliwangi berubah menjadi harimau putih, tetapi tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Sementara itu rakyatnya berubah menjadi harimau yang warnanya hitam putih garis-garis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kean Santang lalu meneruskan perjalanan ke arah timur, sampailah ia dekat Cilauteureun dan disanalah ia tilem (menghilang). Konon, siapapun pergi ke hutan Sancang dan masuk gua Cigarogol, maka ia akan menemukan harimau putih yang masih hidup. Di mulut gua itu akan terlihat tulang belulang binatang. Masyarakat di sana percaya bahwa tulang-ulang itu dibawa harimau Sancang sebagai makanan harimau putih. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-8549311797922315595?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/8549311797922315595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/patilasan-prabu-kean-santang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/8549311797922315595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/8549311797922315595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/patilasan-prabu-kean-santang.html' title='Patilasan Prabu Kean Santang'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB3ZrvAHiI/AAAAAAAAAZ0/wZrh_O9Wl0o/s72-c/MAKAM+GADOG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-3788687165639294214</id><published>2009-08-11T02:35:00.001+07:00</published><updated>2009-08-11T02:38:37.453+07:00</updated><title type='text'>Meriam Si Amuk Banten</title><content type='html'>&lt;b&gt;Di kompleks masjid Agung Banten di Serang, terdapat sebuah meriam yang bernama Si Amuk. Menurut cerita masyarakat setempat, meriam ini merupakan jelmaan dari salah satu kakak beradik yang dikutuk pada masa Kerajaan Banten masih berdiri. Meriam ini amat berjasa saat terjadi perang besar di tanah Banten. Dengan suaranya yang menggelegar bagaikan raksasa mengamuk, banyak musuh-musuhnya yang ciut. Inilah kisah meriam si Amuk yang melegenda itu. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB3K7AhdqI/AAAAAAAAAZs/FmZ9vFtHOeA/s1600-h/meriam+si+amuk.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 141px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB3K7AhdqI/AAAAAAAAAZs/FmZ9vFtHOeA/s200/meriam+si+amuk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368421785347913378" /&gt;&lt;/a&gt;Abad ke XVI merupakan masa kejayaannya perkembangan agama Islam di kawasan Nusantara, khususnya di Pulau Jawa. Kerajaan Islam yang pertama tumbuh di Demak, yang kemudian dikenal sebagai pusat kerajaan dan perkembangan Islam. Lalu disusul dengan berdirinya Kerajaan Mataram. Dari Mataram berkembang ke arah Barat, ke Cirebon. Dari Cirebon ke wilayah Banten, yang semula di bawah pemerintahan Kerajaan Hindu Pakuan Padjadjaran. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Banten dibawah pemerintahan Kerajaan Demak inilah, Banten menjadi kota pelabuhan niaga yang cukup terkenal hingga sampai daratan Eropa. Terutama untuk barang niaga jenis rempah-rempah. Keadaan ini tentu saja mengundang orang-orang Eropa untuk datang berniaga ke Banten. Tapi kedatangan mereka di Banten ditolak mentah-mentah oleh Sultan Banten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan pertama dilakukan terhadap pedagang berkebangsaan Portugis, yang mengakibatkan timbulnya persengketaan di antara mereka. Sehingga timbullah pikiran orang-orang Portugis untuk menguasai wilayah Banten. Sejak saat itulah cikal bakal perselisihan di antara mereka terjadi, hingga terjadilah cekcok secara fisik dalam peperangan. Dalam pertempuran tersebut Portugis kalah. Dua buah meriam sebagai perlengkapan perang bangsa Portugis berhasil dirampas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna memudahkan membawa kedua meriam itu, oleh seorang tukang pandai besi yang bermukim di kaki sebuah gunung di pedalaman Banten dibuatkan gelang di sebelah kiri dan kanannya. Disamping diberi gelang pada pangkalnya juga diberi tambahan hiasan berbentuk tangan yang sedang mengepal dengan ibu jari menyeruak di antara dua jari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian gelang pada kedua meriam tersebut dilakukan oleh seorang pandai besi, desa tempat tinggal pandai besi yang membuat gelang itu lantas dikenal dengan kampung pandai (yang membuat) gelang. Lalu jadilah nama kampung tersebut dikenal dengan kampung Pandaigelang, yang kemudian jadi kota Padegelang. Dan kedua meriam yang diberi gelang itu lalu dikenal sebagai meriam si Amuk dan si Jagur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkena kutukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada juga yang meyakini, bahwa meriam si Amuk dan si Jagur adalah perwujudan dari dua saudara kakak beradik laki-laki dan perempuan yang melanggar larangan. Akibat pelanggaran itu mereka mendapat kutukan dan berubah wujud menjadi dua pasang meriam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, pada saat itu wilayah pelabuhan Banten dikenal sebagai pelabuhan niaga rempah-rempah yang cukup terkenal sampai ke daratan Eropa. Munculah suatu bencana peperangan, akibat keinginan bangsa asing (Eropa- Portugis) yang ingin menguasai pelabuhan niaga Banten sebagai wilayah kekuasaannya. Wilayah Banten yang saat itu ada di bawah pemerintahan Kerajaan Demak dalam keadaan terancam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Demak lalu mengirim pasukannya ke Banten di bawah pimpinan prajurit-prajurit pilihannya. Di antara prajurit pilihannya itu terdapat tiga bersaudara prajurit yang terjun ke medan laga. Salah satu dari tiga prajurit pilihannya itu ternyata seorang wanita. Dengan gagah berani mereka memimpin anak buahnya menghadang penyerbuan balatentara Portugis yang datang dari arah laut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat menjalankan tugas belanegara itulah dua kakak beradik lelaki dan perempuan yang ternyata kembar itu melanggar larangan. Yakni dengan mandi air laut pada waktu matahari bersinar terik. Akibatnya mereka terkena kutukan leluhur dan berubah wujud menjadi sepasang meriam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kejadian yang menimpa saudara kembarnya itu, si adik berniat untuk membawa pulang kedua meriam itu ke Demak untuk dipersembahkan pada rajanya. Untuk memudahkan membawanya, kedua meriam itu lalu dipasangi dua buah gelang oleh seorang pandai besi yang bertempat tinggal disebuah desa di kaki gunung. Ternyata kedua meriam itu juga memberi andil yang cukup besar dalam peperangan yang berkecamuk di pantai Banten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua meriam itu nampak seperti mengamuk dengan menimbulkan suara menggelegar memuntahkan peluru ke arah musuh-musuhnya. Akibat jasanya itu, kedua meriam itu lalu diberi nama si Amuk dan si Jagur. Sedangkan desa tempat pandai besi yang memberi tambahan gelang pada meriam itu lalu diberi nama Pandaigelang, yang akhirnya menjadi nama kota Pandegelang. Yang menggantikan kota Menes sebagai ibu kota Banten Kulon. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-3788687165639294214?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/3788687165639294214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/meriam-si-amuk-banten.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/3788687165639294214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/3788687165639294214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/meriam-si-amuk-banten.html' title='Meriam Si Amuk Banten'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB3K7AhdqI/AAAAAAAAAZs/FmZ9vFtHOeA/s72-c/meriam+si+amuk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-2995843115825368275</id><published>2009-08-11T02:34:00.001+07:00</published><updated>2009-08-11T02:35:49.378+07:00</updated><title type='text'>Misteri Jembatan Sambas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB2i1J3l1I/AAAAAAAAAZk/6EL7fnXFHyw/s1600-h/jembatan+sambas.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB2i1J3l1I/AAAAAAAAAZk/6EL7fnXFHyw/s200/jembatan+sambas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368421096581732178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Jembatan Sambas amat terkenal dan menjadi penghubung antar kota di kawasan selatan propinsi Kalimantan Barat. Jembatan ini bukan hanya bersejarah, tapi juga dianggap keramat karena konon dikuasai oleh kaum Bunian (mahluk halus). Banyak kejadian aneh berlaku di jembatan sepanjang 150 Km ini. Seperti penampakan-penampakan bangsa lelembut dan mahluk halus. Dulu, jembatan ini luput dari kehancuran saat dibom tentara Jepang. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jembatan Sambas terletak di kota Sambas, atau berjarak 270 Km dari ibukota propinsi Kalimantan Barat, Pontianak ke arah selatan. Jembatan ini dianggap vital karena menghubungkan kota Bengkayang, Singkawang, Pemangkat, Sambas dan daerah-daerah kecil di bagian selatan Kalbar. Boleh dikata, ini jembatan satu-satunya yang menjadi nadi ekonomi dan transportasi masyarakat di sana. Keberadaan jembatan ini tak bisa lepas dari keberadaan kota Sambas yang unik. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota keramat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Sambas sendiri dikenal sebagai kota keramat karena konon dikuasai oleh kaum Bunian (mahluk halus). Tak heran bila kota ini kerap disebut pula sebagai Negeri Kebenaran, sebutan lain untuk kaum Bunian. Menurut sejarah, Sambas tempo dulu merupakan sebuah kerajaan besar yang tilas-tilasnya hingga kini masih ada. Tak jauh dari pusat kota, masih berdiri Keraton Sambas yang megah, lengkap dengan kompleks keluarga kesultanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kerajaan Sambas didirikan oleh Raden Soelaiman, yang bergelar Soeltan Moehammad Tsafioeddin I di Tanjung Muara Ulakan Lubuk Madung, pada tahun 1080 hijriah atau tahun 1687 masehi. Kerajaan ini mengalami masa jaya semasa diperintah oleh Soeltan Moehammad Tsafioeddin II. Cerita dari mulut ke mulut menyebut daerah ini kerap kedatangan kaum Bunian setelah salah seorang putra mahkotanya yang bernama Raden Sandi Braja menghilang secara misterius dan menjadi raja di kerajaan Bunian. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut cerita, jenazah raden Sandi meninggal karena sakit yang tidak ada obatnya, dan kemudian jasadnya menghilang diambil kaum Bunian. Lalu Raden Sandi dijadikan raja kaum Bunian yang berpusat di Kecamatan Paloh. Peristiwa itu terjadi sebagai tebusan atas nyawa burung peliharaan sang Puteri Kebenaran (kaum Bunian) pada saat beliau berburu di hutan Paloh. Hanya saja, sejauh mana kebenaran cerita ini masih sulit dibuktikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jembatan Sambas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan jembatan Sambas yang keramat itu? Benarkah jembatan ini tak mempan dibom oleh tentara Jepang? Pada tahun 1941, tanda-tanda berakhirnya pendudukan 3,5 abad tentara Belanda di nusantara mulai terlihat. Pasukan Jepang mulai terlihat memasuki kawasan nusantara dengan peralatan tempurnya. Termasuk daerah Kalimantan Barat. Pasukan Jepang memang berusaha keras mematahkan kekuatan Belanda yang ada di Kalimantan Barat termasuk Sambas. Salah satunya melumpuhkan sarana ekonomi dan transportasi darat, seperti jempatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, negeri matahari terbit itu melihat jembatan Sambas sangat vital dan perlu dihancurkan untuk melumpuhkan kekuatan Belanda. Bulan Desember 1941, menjadi saksi bisu. Dengan melibatkan sekitar 27 pesawat tempurnya, tentara Jepang menyerang Angkatan Udara Belanda di Sanggau Ledo. Ternyata target serangan tersebut tidak saja untuk menghancurkan pangkalan Angkatan Udara Belanda, namun juga pada jembatan Sambas dan jalan raya yang menghubungkan kota Singkawang, Pemangkat dan Sambas serta Bengkayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, keajaiban pun terlihat. Jembatan dan jalan yang dibangun oleh Sultan Moehammad Tsafioeddin II ini tak hancur sedikitpun. Padahal, bala tentara Jepang melihatnya telah hancur. Tak hanya itu. Muntahan peluru dan bom bak hujan lebat itu menerjang apa yang ada di bawahnya. Lucunya, hujan bom dan peluru itu justru jatuh di kawasan hutan belantara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sebelumnya, tentara Jepang melihat kawasan yang berada di bawahnya itu merupakan kota yang sangat ramai dan megah. Menurut keterangan, itulah istana dari kerajaan Bunian yang terletak di Paloh. Tentu saja harapan Jepang meluluhlantakkan daerah Sambas tidak tercapai. Sebab lokasi yang dibom tersebut tiada lain hanyalah hutan belantara saja. Karena pengecohan ini kerajaan Sambas yang menjadi target sasaran penyerangan tetap berdiri dengan megahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu, Sultan Moehammad Mulia Ibrahim Tsafioeddin, raja ke-15 kerajaan Sambas dan seluruh kawulanya aman dan selamat dari serangan itu. Dan hingga kini jembatan kokoh penghubung kota Sambas dan kota lainnya di Kalimantan Barat tetap berdiri. Ia menjadi saksi bisu sejarah kerajan Sambas. “Orang-orang Bunian akan selalu menjaga Sambas untuk selamanya. Percayalah tak akan ada satu orang pun yang bisa menghancurkan sambas, kecuali seizin Yang Maha Kuasa,” tutur Hasan, kuncen keraton Sambas.&lt;br /&gt;“Sambas tok beh kote kramat. Sian ade yang sanggop nguasaek nye. (Sambas itu kota kramat, tidak akan ada yang bisa menguasainya),” tutur Hasan. Alhasil, baik Sambas maupun jembatan keramat itu masih kokoh berdiri hingga kini. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-2995843115825368275?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/2995843115825368275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/misteri-jembatan-sambas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/2995843115825368275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/2995843115825368275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/misteri-jembatan-sambas.html' title='Misteri Jembatan Sambas'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB2i1J3l1I/AAAAAAAAAZk/6EL7fnXFHyw/s72-c/jembatan+sambas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-4042211501626679776</id><published>2009-08-11T02:26:00.006+07:00</published><updated>2009-08-11T02:34:18.486+07:00</updated><title type='text'>Geger Ajaran Panca Daya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB0knXdGQI/AAAAAAAAAY0/RnzsU3758Q8/s1600-h/lambang+panca+daya.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB0knXdGQI/AAAAAAAAAY0/RnzsU3758Q8/s200/lambang+panca+daya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368418928217102594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Masyarakat Kampung Tagog, Desa Karyamukti, Kec. Salawu, Kab. Tasikmalaya, geger. Kamis (28/8/2008) siang, rumah kediaman H Ishak Suhendra SH, Ketua PPS Panca Daya Cabang Tasikmalaya dan sekretariatnya di Jl Garut-Tasikmalaya, diserbu ratusan massa dari beberapa ormas dan OKP. Warga tak menyangka bila tokoh yang selama ini mereka hormati ternyata penyebar ajaran sesat dan menyesatkan. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis (28/8/2008) sekitar pukul 12.00 WIB, suasana Kampung Tagog menjadi riuh rendah. Ratusan massa dari GP Ansor, Gerakan Masyarakat Anti Aliran Sesat (Gemas) dan Forum Masyarakat Madani, berteriak-teriak di depan rumah seorang tokoh masyarakat setempat bernama H Ishak Suhendra. Mereka menuntut agar H Ishak segera ditangkap dan dijebloskan ke dalam tahanan. Untunglah, aksi massa itu bisa dikendalikan aparat kepolisian setempat yang sejak awal turut mengiringi pergerakan massa.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H Ishak Suhendra SH, Ketua PPS Panca Daya Cabang Tasikmalaya, penulis buku “Agama dalam Realita”, sebenarnya tengah menjalani proses hukum di meja hijau. Tentu, karena paham sesatnya dalam buku itulah yang menyeret pensiunan PNS dari BPN Tasikmalaya ini menjadi pesakitan. H Ishak dituduh telah menodai agama Islam dan berpotensi meresahkan umat. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB0rEUslOI/AAAAAAAAAY8/xVkYDdSIxRA/s1600-h/RUMAH+H+ISHAK.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 149px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB0rEUslOI/AAAAAAAAAY8/xVkYDdSIxRA/s200/RUMAH+H+ISHAK.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368419039069377762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya lagi, akibat pemahamannya yang dinilai keliru tentang agama Islam dan kemudian disebar luaskan melalui bukunya itu, dapat berpotensi menyelewengkan akidah banyak orang. Apalagi kapasitasnya sebagai pimpinan perguruan pencak silat yang konon memiliki ribuan murid dan seorang penyembuh alternatif yang memiliki banyak pasien dari berbagai daerah. Ini tentu dapat sarana “dakwah” menyesatkan yang paling efektif kepada masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangkir Sidang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bila ditelusuri, peristiwa penyerbuan ratusan massa dari GP Ansor, Gerakan Masyarakat Anti Aliran Sesat (Gemas) dan Forum Masyarakat Madani, pekan silam itu merupakan puncak kekesalan terhadap H Ishak Suhendra. Sebab setelah melewati satu persidangan, terdakwa H Ishak yang berada dalam status tidak ditahan itu, justru selalu mangkir dalam persidangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada Kamis (28/8), merupakan sidang ketiga kalinya terdakwa mangkir dan menolak panggilan jaksa. Pada hari itu, sedianya jaksa penuntut umum akan membacakan tuntutannya. Seperti diungkap Juru Bicara MUI Kabupaten Tasikmalaya, H Dudu Rohman, terdakwa diadili karena terbukti melakukan penodaan terhadap agama dan dijerat oleh pasal 156a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman 5 tahun penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena terdakwa tidak hadir juga, maka massa yang sejak awal memantau perkembangan sidang tersebut menjadi kesal. “Akhirnya usai sidang yang digelar secara terbuka itu, massa dari tiga ormas dan OKP ini mengambil inisiatif untuk menjemput paksa H Ishak ke persidangan dan meminta kejaksaan segera menjebloskannya ke dalam tahanan,” tutur H Dudu kepada posmo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebar Lewat Pengajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut H Dudu Rohman, proses penyebaran ajaran menyimpang oleh H Ishak sudah terendus secara jelas sejak Februari 2008 silam. Ketika itu, sebagian masyarakat merasa resah dengan beredarnya sebuah buku yang isinya menyimpang dari kaidah-kaidah agama Islam. Buku itu berjudul “Agama Dalam Realita” yang ditulis H Ishak Suhendra SH. Tentu saja, nama penulis sangat tidak asing ditelinga masyarakat. Sebab ia adalah tokoh yang dermawan di daerahnya, pimpinan PPS Panca Daya yang memiliki banyak murid, dan juga juru penyembuh alternatif terkenal. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena memiliki kredibilitas yang baik dimata masyarakat itulah, dikhawatirkan paham menyimpang H Ishak dapat dengan mudah diserap masyarakat lainnya. Apalagi pesan-pesan muatan isi buku itu sering disampaikan H Ishak dalam pengajian yang selalu digelar setiap malam jumat kepada murid PPS Panca Daya dan sebagian warga setempat. Karena itu, pada 27 Februari 2008, Pengurus PAC GP Ansor Salawu mengambil sikap menolak ajaran sesat yang dilakukan H Ishak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Melalui surat resminya bernomor 03/BAN/MWC/02/2008, PAC GP Ansor Salawu melaporkan jalannya pengajian malam Jumat dan temuan buku “Agama Dalam Realita” kepada Muspika dan KUA Kec. Salawu. Dan sehari kemudian, terjadilah sebuah rapat khusus yang dihadiri oleh bagian Kesbang Pemkab Tasikmalaya, Muspika, KUA, MUI dan GP Ansor yang membahas isi buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah melalui pengkajian yang matang, ditemukanlah 9 point penyimpangan dalam buku “Agama Dalam Realita” karya H Ishak Suhendra. Maka untuk meluruskan pemahaman akidah yang disimpangkan H Ishak itu, pada 10 Maret 2008, Muspika Kec. Salawu memanggil yang bersangkutan untuk meminta klarifikasi. Pertemuan itu juga dihadiri pengkaji buku yang berjumlah 10 orang ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun pertemuan itu tidak menghasilkan titik temu. Masalahnya, paradigma berpikir H Ishak Suhendra ngawur dan selalu mengacu pada percampuran agama. Dalam kesempatan itu H Ishak malah mempersilakan masalah pemahamannya itu dikaji kembali ditingkat yang lebih tinggi. H Ishak juga menganggap pengkajian ditingkat kecamatan Salawu bukan levelnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seperti diungkap H Dudu Rohman, saat pertemuan dengan Muspika dan ulama itu, tercetuslah ungkapan H Ishak yang membuat para hadirin mengucap “mengelus dada”. Saat pembicaraan menemui jalan buntu, salah seorang ulama menanyakan, “… jadi H Ishak ini agamanya apa?” Lantas dijawab H Ishak, “Ya bisa Islam, bisa Kristen!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jawaban H Ishak seperti itu langsung membuat para hadirin mengucap istighfar sambil mengelus dada. Maka setelah pertemuan yang tidak ada titik temunya itu, para hadiri yang terdiri dari Muspika, para ulama dan masyarakat, berkeyakinan bila telah terjadi sesuatu yang “tidak beres” dengan pemahaman H Ishak terhadap Islam. Akhirnya Camat Salawu, Ema Somantri S.Sos, M.Si. secara resmi mengeluarkan surat kepada Bupati Tasikmalaya agar masalah H Ishak ini diproses lebih lanjut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicekal MUI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca pertemuan yang tidak sukses itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Tasikmalaya langsung melakukan pengkajian secara khusus. Dan hasilnya bisa ditebak bahwa paham yang diajarkan Ketua Persatuan Pencak Silat (PPS) Panca Daya Cabang Kab. Tasikmalaya, H. Ishak Suhendra adalah menyimpang. MUI meminta agar aparat hukum segera menarik buku berjudul “Agama dalam Realita” yang ditulisnya dari peredaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUI juga menilai buku itu berpotensi meresahkan umat, dan yang paling berbahaya adalah membuat akidah masyarakat menjadi menyimpang. MUI juga memita agar Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem), segera memanggil pengarang buku tersebut dan memprosesnya sesuai hukum yang berlaku. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt; Buku “Agama Dalam Realita”&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dalam beberapa dialog dengan berbagai pihak, H Ishak Suhendra SH tampak yakin dengan pemahamannya tentang Islam sebagaimana ia tulis pada buku “Agama Dalam Realita”. Buku yang menghebohkan itu pun sempat beredar luas baik dalam bentuk buku aslinya, maupun foto copy-an. Di situlah H Ishak menafsirkan ayat-ayat sesuka hatinya. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang amat dikhawatirkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tasikmalaya, beserta sejumlah ormas dan OKP Islam di sana. Bahwa akibat beredar luasnya pemahaman sesat dan menyesatkan H Ishak Suhendra dalam bentuk buku dan foto copy-annya, bakal tersampaikanlah pesan-pesan menyimpang si penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja simak jawaban enteng yang H Ishak, yang ia cetuskan ketika ditanya ulama dalam satu dialog. “….jadi H Ishak ini agamanya apa?” Lantas H Ishak menjawab, “Ya bisa Islam, bisa Kristen!” Jawaban itu, menurut Juru Bicara MUI Kab. Tasikmalaya, H Dudu Rohman, didengar banyak orang. “Kenyataan itu semakin memperjelas adanya kejanggalan aqidah dalam diri H Ishak,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam persidangan awal yang kala itu dihadiri terdakwa H Ishak, hakim sempat marah dan menggebrak meja. Pasalnya, H Ishak selalu melontarkan jawaban bertele-tele dan berbelit-belit. Misalnya untuk satu pertanyaan yang mestinya cukup dijawab dengan kata “ya” atau “tidak”, tapi H Ishak menjawabnya secara panjang lebar dan terkesan menceramahi majelis hakim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan parahnya, jawaban itu pun ngawur. “Kan harus diterangkan dulu. Inikan soal agama pak hakim. Jadi pak hakim harus tahu bahwa Islam itu …. (panjang lebar, red),” tutur H Dudu menirukan jawaban H Ishak. Bahkan dipersidangan pun, H Ishak menolak didampingi pengacara. Dia ingin melakukan pembelaan secara lisan. Namun hakim meminta H Ishak untuk membuat jawaban secara tertulis dan memberi kesempatan selama satu minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkah laku H Ishak dipersidangan pun selalu mengundang cemooh dari para hadiri yang menyaksikan. Setiap jawaban yang dilontarkan H Ishak, selalu saja mengundang teriakan riuh rendah pengunjung. Masalahnya, jawabannya selalu nyeleneh dan ngawur. Karena kesal selalu disoraki, H Ishak sempat membalik badan menghadap pengunjung sambil menantang, “Mau apa kalian?” Lalu dibalas, “huuu ….” dari pengunjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir Seenaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam buku “Agama Dalam Realitas”, setidaknya tercatat 9 point kejanggalan dan ketidaklaziman. Si penulis, H Ishak Suhendra, menganggap semua agama adalah benar, termasuk ajaran-ajarannya. Sehingga dalam bukunya, H Ishak mencampur adukan semua ajaran agama. Dan bila disimak, ada kecenderungan si penulis mengambil hal-hal yang mudah saja (simpel) dalam masalah agama. Padahal, masalah agama adalah hal serius.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam salah satu kajian, si penulis menempatkan dan menafsirkan firman Allah dalam Alquran dengan memakan ro’yu saja dan tidak memakai metoda penafsiran yang benar. Seperti saat mengartikan lafaz “bismillahirrahmanirrahim”. Dalam buku itu, H Ishak seenaknya memenggal lafaz itu menjadi kata-kata yang diartikan semaunya. Misalnya “bismillahirrahmanirrahim” dipenggal menjadi kata bis = hidup, mil = hati, lahi = rasa, rohman = akal, dan rahim = budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kemudian, di halaman 3 buku “Agama Dalam Realitas”, H Ishak juga menciptakan sendiri adanya istilah Rukun Agama. Menurut dia, dalam Islam itu ada 4 Rukun Agama, yakni iman, tauhid, makrifat dan Islam. Dia menjelaskan, bahwa sasaran Iman kepada kudrat Allah/kuasa Allah = Muhammad Rasulullah = tenaga murni Panca Daya. Dan pendorongnya adalah kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku itu, H Ishak juga membuat urutan Rukun Iman tidak sesuai tertibnya dimana ia mendahulukan iman kepada rosul daripada iman kepada kitab-kitab Allah (halaman 5-6). Pada halaman 17, terdapat pernyataan yang menyalahi aqidah. Bahwa “Wajib Allah membutuhkan Mahluk (manusia), mustahil tidak membutuhkan”. Juga dalam halaman 18, penulis menjelaskan tetang agama, sahadat, shalat, puasa, zakat, haji, tidak berdasarkan dalil dan ketentuan syara. Misalnya mengartikan shalat = bersatu; manunggal; yoga; lebur; sadar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling mencolok dalam ajaran H Ishak adalah bahwa pelaksanaan shalat itu jumlahnya 50 kali dalam sehari semalam atau 24 jam. Maka shalat harus dilakukan dalam 24 jam secara terus menerus tiada hentinya (dawam). Ini tertulis dalam halaman 15 buku tersebut. Selanjutnya dalam halaman 19, H Ishak juga mengartikan sebagian rukun-rukun shalat di luar pengertian syara’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB1TVk0X7I/AAAAAAAAAZU/1NsQcIwBxBQ/s1600-h/H+DUDU+RAHMAN-JUBIR+MUI.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 146px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB1TVk0X7I/AAAAAAAAAZU/1NsQcIwBxBQ/s200/H+DUDU+RAHMAN-JUBIR+MUI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368419730895167410" /&gt;&lt;/a&gt;Menurut jubir MUI Kab. Tasikmalaya, H Dudu Rohman, pihaknya mengkhawatirkan ajaran-ajaran menyimpang itu juga disampaikan kepada murid dan pasien-pasiennya. Sebab seperti diketahui, H Ishak dikenal aktif di perguruan silat dan pengobatan alternatif. “Kami khawatir ajaran-ajaran menyimpangnya itu disampaikan di sana. Dengan pendekatan seperti itu, kami kira pesan-pesan menyimpang dari pemahamannya tentang Islam dan ayat-ayat Alquran bisa dengan mudah masuk kepada mereka,” beber H Dudu. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Sisi Lain Kehidupan H Ishak&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dermawan, Dijuluki “Si Tangan Sakti” &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang menyangka bila lelaki berusia 70 tahun ini bakal terjebak dalam penyimpangan aqidah. Bahkan masyarakat di sekitarnya, tidak akan menyangka sosok yang baik, pemurah dan suka menolong itu harus dipenjara karena urusan buku. H Ishak Suhendra SH adalah pensiunan pegawai negeri sipil dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Tasikmalaya. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB1INiSM2I/AAAAAAAAAZM/MRuKlsnj9dg/s1600-h/H+ISHAK+SUHENDRA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 149px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB1INiSM2I/AAAAAAAAAZM/MRuKlsnj9dg/s200/H+ISHAK+SUHENDRA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368419539758494562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, nama H Ishak memang terkenal sebagai pimpinan perguruan silat dan penyembuh alternatif yang handal.  Ia bahkan dijuluki “Si Tangan Sakti” karena dengan tangannya, ia banyak menyembuhkan orang sakit. Karena “kesaktiannya” itulah ia banyak menerima pasien dari berbagai daerah. Ada yang datang dari Jakarta, Bandung, Garut, dan daerah lainnya. Proses terapi pengobatan yang dilakukannya pun terbilang unik, tapi manjur. Yakni dengan cara mencubit-cubit pasien, lalu si pasien pun sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dudu Rohaedin, Kepala Kampung Tagog, mengakui bila H Ishak adalah pria bertangan dingin karena gemar membantu warga. Di pinggir jalan Garut-Tasikmalaya, H Ishak membuat ruko-ruko untuk sarana perdagangan bagi warga setempat. Selain itu, di kampung Tagog, H Ishak juga sudah melakukan bedah rumah warga sebanyak 14 unit. “Semua itu berasal dari biaya pribadi beliau,” tutur Dudu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, Dudu maupun warga setempat mengaku kaget kalau H Ishak diserbu massa. Namun setelah mengetahui permasalahannya, akhirnya warga bisa mengerti. Pihaknya sendiri tidak pernah tahu kalau H Ishak mengajarkan ajaran-ajaran sesat. “Selama ini kami lihat biasa-biasa saja,” katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, kepada wartawan H Ishak Suhendra mengatakan bila dirinya tidak melakukan kesalahan. Ishak menganggap paham yang diajarkan kepada anggotanya tidak sesat. Sebab yang diajarkan bukan masalah akidah, tetapi bagaimana caranya menggali potensi yang dimiliki manusia.&lt;br /&gt;"Jika dinyatakan salah, salahnya di mana? Kita tidak pernah mengajarkan ajaran yang sesat. Justru kami mencoba mengajarkan, bagaimana caranya agar kita bisa memanfaatkan potensi yang kita miliki, supaya lebih bisa mensyukuri nikmat dari Allah," katanya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KH A Saefulloh, Saksi Ahli MUI dan Pengasuh Pondok Pesantren Sukawana, Tasikmalaya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB1qhSE6KI/AAAAAAAAAZc/oiFBjS2tX6I/s1600-h/KH+A+SAEFULLOH-ahli+MUI.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB1qhSE6KI/AAAAAAAAAZc/oiFBjS2tX6I/s200/KH+A+SAEFULLOH-ahli+MUI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368420129174775970" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, H Ishak itu berjalan normal. Dia pimpinan bela diri dan melakukan kegiatan pengobatan alternatif. Itu tidak menyimpang. Hanya saja, dia menulis buku yang isinya berpotensi menyesatkan umat. Dia menafsirkan sendiri ayat-ayat dalam Alquran. Banyak sekali yang aneh. Misalnya menafsirkan bismillah seenaknya sendiri. Dan banyak lagi yang lainnya. Seperti shalat harus 50 rakaat, dll. Dari mana dasarnya dia menafsirkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menilai dia tidak punya pengetahuan yang memadai tentang agama Islam. Kalau menulis buku untuk pribadinya sendiri, ya tidak apa-apa. Tapi kalau untuk disebarluaskan, itu berbahaya. Hanya saja saya sangat menyayangkan sikap-sikapnya yang arogan. Mungkin karena dia bergerak di dunia persilatan, jadi ada sikap keberanian di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggilan dan teguran dari MUI Kecamatan tidak digubris dan bahkan dianggap remeh. Dia menganggap MUI Kecamatan bukan levelnya. Juga dipanggil kejaksaan sampai 3 kali juga tidak hadir. Jadi dia sudah berani menantang aparat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah melihat penyimpangan-penyimpangan dalam buku yang disebarluaskan itu menyeluruh. Baik dari segi aqidah maupun syariah. Dan itu tidak bisa ditolerir. Bukan masalah furu’ atau perbedaan pendapat dalam bidang fiqih. Tapi ini aqidah. &lt;br /&gt;Kekhawatiran kita adalah akan timbul pemurtadan. Penyimpangan aqidah. Sebab katanya bila sudah memahami agama seperti dalam bukunya, maka salat pun tidak perlu dilakukan. Dan pemahaman dia bukan seperti salat yang dicontohkan rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau buku ini diperbanyak dan disebarluaskan, maka itu bisa berbahaya bagi pemahaman aqidah masyarakat, terutama yang minim pemahaman agamanya. Bukan hanya itu, juga bisa meresahkan. Ini terus terang massa itu masih baik dengan tidak bertindak anarkis. Saya juga sempat menanyakan kepada beliau, dengan kejadian ini apakah menyesal. Dia menjawab, “Tidak”. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-4042211501626679776?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/4042211501626679776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/geger-ajaran-panca-daya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/4042211501626679776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/4042211501626679776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/geger-ajaran-panca-daya.html' title='Geger Ajaran Panca Daya'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB0knXdGQI/AAAAAAAAAY0/RnzsU3758Q8/s72-c/lambang+panca+daya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-766208252374478127</id><published>2009-08-11T02:24:00.001+07:00</published><updated>2009-08-11T02:26:01.566+07:00</updated><title type='text'>Deklarasi Pembentukan Propinsi Cirebon</title><content type='html'>&lt;b&gt;Masyarakat pantai utara Jawa Barat yang terdiri dari Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning), mendeklarasikan berdirinya Propinsi Cirebon. Mereka ingin mandiri dan berpisah dari induknya Provinsi Jawa Barat. Selain kesadaran historis, masyarakat di sana merasakan tak seimbangnya antara kue pembangunan dengan sumbangsih keuangan yang disetor wilayahnya ke pusat. Sedangkan yang kembali ke daerah tidak signifikan. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setidaknya ada lima alasan mengapa Cirebon layak menjadi propvnsi. Pertama, Jawa Barat masih terlalu luas dengan jumlah penduduk yang besar. Sehingga secara manajemen, akan sulit mengelolanya, dibandingkan mengelola sebuah wilayah yang lebih kecil dengan penduduk yang lebih sedikit. Kini, dengan jumlah penduduk wilayah III Cirebon atau Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) mencapai jumlah 8,5 juta jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, potensi ekonomi wilayah Ciayumajakuning sangat tinggi dan bisa menarik investor lebih banyak lagi. Ketiga, melihat segi historis karena pernah menjadi Kesultanan Cirebon yang berdaulat dan berjaya. Keempat, adanya ketidakseimbangan pembangunan di Jawa Barat yang lebih terpusat di Bandung dan sekitarnya. Kelima, adanya momentum gerakan warga yang merasa kecewa karena tidak ada figur dari wilayah Ciayumajakuning yang bisa tampil sebagai pimpinan di tingkat Jabar. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tentu saja kawasan Ciayumajakuning telah memiliki infrastruktur yang sangat mendukung. Cirebon, misalnya, ternyata memiliki segenap infrastruktur. Di sana terdapat pelabuhan, lapangan terbang, jalur kereta api ke tujuan jalur selatan dan utara. Juga memiliki jalan utama darat dan lintasan yang hidup selama 24 jam. Dari segi sumber daya alam, kawasan ini memiliki laut yang panjang, dengan kekayaannya yang masih belum tergali. Selain itu, juga ada sumber minyak, gula dan lumbungnya beras (Indramayu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI PRA Arief Natadiningrat, yang juga putra Mahkota Keraton Kasepuhan Cirebon, mengungkapkan bila selama ini pembangunan hanya terpusat di wilayah Bandung dan sekitarnya. Akibatnya, fungsi Bandung tidak hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai pusat budaya, pendidikan,  industri, dan perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cirebon, kata Pangeran Arief, sejak dulu telah memiliki pelabuhan. Ternyata ini tidak dioptimalkan. Pemerintah malah membangun Terminal Petikemas Gedebage Bandung. “Hal ini seolah-olah semua fungsi ingin diambil pusat dan daerah lain seperti Cirebon tidak diberi porsi,” tutur Pangeran Arief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga masalah budaya. Budaya Sunda termasuk bahasa Sunda mendapat tempat khusus, sebelum akhirnya budayawan Cirebon mendesak adanya pengakuan bahasa Cirebon sebagai bahasa daerah Jawa Barat yang kemudian berujung pada munculnya Perda Bahasa Daerah. "Sepertinya harus digedor-gedor dulu baru keinginan itu dikabulkan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Kaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara geografi, Ciayumajakuning merupakan daerah pantai, daerah dataran rendah, daerah perbukitan dan daerah pegunungan.  Di Utara berbatasan dengan Laut Jawa, Timur berbatasan dengan Kabupaten Brebes. Sebelah Selatan berbatasan dengan kabupaten Ciamis, Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap dan Barat berbatasan dengan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Subang.Kawasan utara dan timur merupakan daerah dataran rendah serta pantai sedangkan kawasan selatan dan barat berbukit-bukit serta dataran tinggi dan Gunung Ciremai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi kawasan bakal Provinsi Cirebon ini sangat menguntungkan, terutama dari segi komunikasi dan perhubungan. Selain itu, Wilayah Cirebon yang memiliki lahan yang subur berasal dari endapan vulkanis serta banyaknya aliran sungai menyebabkan sebagian besar dari luas tanahnya digunakan untuk pertanian. Wilayah Cirebon beriklim tropis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dari potensi luas wilayahnya, Provinsi Cirebon memang pantas untuk menjadi sebuah provinsi, memisahkan diri dari Provinsi Jabar. Mungkin inilah salah satu yang membuat sejumlah masyarakat mendeklarasikan berdirinya Provinsi Cirebon dan Kota Cirebon akan menjadi pusat pemerintahannya. “Hasil pengkajian dan persyaratan pembentukan Provinsi Cirebon, sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 tahun 2007, tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah,” kata ketua Preidium Pembentukan Provinsi Cirebon, Nana Sudiana kepada penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sejumlah pengkajian, sumber daya alam dan sumber daya manusia Ciayumajakuning, dinilai sudah mencukupi dan memenuhi syarat untuk membentuk provinsi sendiri. Bahkan pendapatan daerah di Ciayumajakuning setiap tahunnya mencapai Rp 3,4 triliun. Pendapatan daerah yang cukup besar itu setiap tahunnya disetorkan ke Pemprov Jabar, dan dikembalikan ke Ciayumajakuning sekitar 30% saja. Itupun bukan dalam bentuk uang, melainkan dalam bentuk proyek-proyek pembangunan infrastruktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti terungkap dalam deklarasi pembentukan provinsi Cirebon, 8 Maret 2009 lalu, jika membentuk provinsi sendiri, maka pendapatan daerah yang mencapai Rp 3,4 triliun itu bisa digunakan untuk biaya pembangunan di kawasan Ciayumajakuning. Sehingga percepatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat bisa cepat terwujud. Kemudian dibentuknya Provinsi Cirebon juga akan semakin mendekatkan pelayanan birokrasi kepada masyarakat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berdasarkan potensi tersebut, disebut-sebut bila berpisah dari Jabar, maka Cirebon akan jadi provinsi kaya. Provinsi Cirebon itu merupakan wilayah potensial dan penyumbang penghasilan pajak yang sangat besar. Setiap tahun kontribusi pajak dari wilayah ini sebesar Rp 13 triliun tetapi yang balik ke daerah lagi tidak sampai Rp 1 triliun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infrastruktur di wilayah Ciayumajakuning, saat ini sudah banyak yang rusak. Namun perbaikan atau pembangunannya tidak bisa segera ditangani daerah, karena harus mendapat persetujuan dan ditangani pusat. Oleh karena itu, akan lebih cepat pembangunan infrastruktur jika menjadi provinsi sendiri dengan modal sumber daya alam yang besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, potensi perikanan dan pertambangan di wilayah Ciayumajakuning juga besar sekali. Makanya, masyarakat setempat yakin kalau wilayah ini menjadi Provinsi Cirebon, maka percepatan pembangunan akan lebih terasa. Jika dana pembangunan didrop dari pusat atau provinsi, maka dana pembangunan tersebut menetes sedikit-sedikit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk pertanian dari wilayah ini juga terbesar. Kabupaten Indramayu adalah penghasil beras terbesar, dan penyumbang 16 persen beras nasional. Padahal, itu berasal dari sawah yang hanya mengandalkan hujan sebagai sumber airnya. Seandainya saja dibuatkan sarana irigasi teknis, maka hasil produksi berasnya tentu akan lebih besar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain didukung segenap komponen masyarakat, dukungan berdirinya Provinsi Cirebon juga datang dari Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dan Wagub Dede Yusuf.  Persetujuannya ditegaskan saat pasangan cagub dan cawagub ini kampanye dalam pilkada Jabar beberapa waktu lalu. Sebelum jadi Gubernur Jabar, saat kampanye pilkada lalu, dia sudah tanda tangan menyatakan setuju mendukung dibentuknya Provinsi Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Provinsi Cirebon  memiliki luas sekitar 5.450 km2. Provinsi ini akan memiliki empat kabupaten dan satu kota. Persis seperti Jogjakarta namun lebih luas karena jogjakarta luasnya tidak lebih hanya 3.500 km2. atau luasnya mungkin sebanding dengan Provinsi Bali atau separuh dari luas Lebanon, salah satu negara Timur Tengah. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Sinyalemen Bangkitnya Kesultanan Cirebon&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ada yang menyebut bila keinginan masyarakat Ciayumajakuning membentuk Provinsi Cirebon ini karena dua faktor. Pertama, kurangnya perhatian Pemprov Jabar. Dan kedua, bangkitnya kesadaran masyarakat akan histori masa silam (Kasultanan Cirebon) dan ingin mengulang kembali masa kejayaannya. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melirik perjalanan sejarahnya, Cirebon merupakan daerah di Jawa Barat yang pernah menjadi sebuah Kerajaan Islam yang berjaya. Kala itu, tampil pemimpinnya yang kharismatik, sangat disegani dan dihormati rakyatnya. Bahkan hingga kini, jauh setelah mereka wafat. Sebut saja Sunan Gunung Djati. Kala itu pula, wilayah Cirebon tidak hanya meliputi Ciayumajakuning. Melainkan hampir sepanjang pantai utara pulau Jawa bagian barat dan Jawa Tengah bagian barat. Sejarah ini merupakan modal utama dan eksistensinya tidak diragukan lagi, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasultanan Cirebon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi. Posisinya sangat penting karena berada dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau. Berlokasi di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, membuat Cirebon menjadi pelabuhan dan "jembatan" antara kebudayaan Jawa dan Sunda. Sehingga terciptalah suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Lama-kelamaan wilayah ini berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran). Disebut campuran karena di sana berbaur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan bermata pencaharian yang berbeda-beda, baik untuk bertempat tinggal atau berdagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil). Maka masyarakat di sepanjang pantai Cirebon dikenal sebagai pembuat terasi, petis, dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon ini berkembanglah sebutan cai-rebon (Bahasa Sunda: air rebon) yang kemudian menjadi Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar dan menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa baik dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan Nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, Cirebon tumbuh menjadi cikal bakal pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana pembentukan Propinsi Cirebon sendiri, sejatinya merupakan aspirasi masyarakat yang membutuhkan pelayanan lebih cepat dan terciptanya pembangunan yang berkeadilan. Seperti dituturkan tokoh pemuda Kota Cirebon, Hartoyo, kawasan Ciayumajakuning memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Pendapatan asli daerahnya pun terbilang cukup tinggi, dan bisa menjadi bekal untuk mandiri. Apalagi, mengingat sejarah masa lalu. “Ini seolah-olah membangkitkan kembali kejayaan masa silam ketika Kesultanan Cirebon masih berdiri,” tuturnya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nana Sudiana, Ketua Presidium Pembentukan Provinsi Cirebon (P3C) :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB0B6A-lTI/AAAAAAAAAYk/t-1iNOtDRCg/s1600-h/NANA+SUDIANA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB0B6A-lTI/AAAAAAAAAYk/t-1iNOtDRCg/s200/NANA+SUDIANA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368418331927680306" /&gt;&lt;/a&gt;Rencana pembentukan propinsi Cirebon kini sudah pada tahap implementasi dan sosialisasi. Sebab berbagai persyaratan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah sudah dipenuhi. Sehingga pembentukan propinsi Cirebon ini bukan lagi hanya sekadar wacana, melainkan sudah sampai pada tahap siap diimplementasikan. Sebab semuanya sudah melewati sejumlah kajian. Jadi tinggal disosialisasikan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut dicatat bahwa rencana pembentukan propinsi Cirebon ini bukan tiba-tiba dan dilatarbelakangi kepentingan politis serta pribadi. Keinginan ini sudah lama bergulir dan muncul dari tengah masyarakat. Karena mereka menginginkan kondisi yang lebih baik. Jadi, kalau ada anggapan propinsi Cirebon sebatas wacana, itu pasti diungkapkan oleh orang tidak punya atensi dan tidak punya nyali. Sehingga rencana yang sudah matang dan memperoleh banyak dukungan ini dihambat oleh mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, penduduk di wilayah Ciayumajakuning sangat besar. Ini tentu membutuhkan pelayanan yang cepat dari pemerintah. Kawasan Ciayumajakuning yang terdiri dari 5 daerah itu, memiliki penduduk sebanyak 6.747.485 jiwa. Selain itu, berbagai sarana dan prasarana yang dimiliki cukup mendukung berdirinya sebuah provinsi baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat pertumbuhan penduduk yang demikian besar di wilayah ini, pada suatu ketika, kebutuhan akan pemekaran wilayah ini tetap harus dilakukan. Oleh karena itu, sebaiknya semua pihak terutama yang kontrak pemekaran Provinsi Cirebon, untuk melihat ke masa depan. Bukan untuk kepentingan sesaat. Bila nanti kawasan ini akan dimekarkan, mengapa tidak dari sekarang saja. Sebab semua persyaratan dan potensi sudah mendukung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pangeran Arief Natadiningrat, Putera Mahkota Keraton Kasepuhan Cirebon :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana pemekaran Ciayumajakuning menjadi Provinsi Cirebon memang bisa saja dikaitkan dengan kebangkitan Kasultanan Cirebon, yang intinya berpangkal pada kenyataan histori masa lalu. Namun aturan yang berlaku tidak melihat hubungan histori semacam itu. Kalau mengacu kepada hal itu, tentu Provinsi Cirebon bukan hanya Ciayumajakuning. Melainkan juga Brebes, Subang, Karawang, Bekasi, bahkan Jakarta dan Banten. Itu bila melihat sejarahnya.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB0HqALGGI/AAAAAAAAAYs/Yt8BpHpGrIU/s1600-h/PANGERAN+ARIF.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB0HqALGGI/AAAAAAAAAYs/Yt8BpHpGrIU/s200/PANGERAN+ARIF.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368418430708553826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pemekaran Ciayumajakuning menjadi Provinsi Cirebon, tentu harus mengacu kepada aturan yang berlaku. Keraton Kasepuhan mengembalikan permasalahan ini kepada masyarakat. Kalau mereka menginginkan pemekaran dan membentuk Provinsi Cirebon, tentu dukung. Kalau pun tidak, ya tidak mengapa. Posisi kami adalah mendukung kehendak rakyat.&lt;br /&gt;Cirebon atau Ciayumajakuning sendiri infrastrukturnya relative sudah baik dan mendukung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber daya alamnya juga sangat potensial, demikian juga sumber daya ekonomi dan SDM-nya juga mumpuni. Sudah banyak yang berpendidikan tinggi. Ini tentu lebih baik ketimbang daerah di luar jawa. Dan daerah di luar Jawa itu justru banyak yang memekarkan diri.&lt;br /&gt;Selama ini, memang pembangunan kurang terkoordinasi dalam lingkung Jawa Barat. Kalau berkaca kepada negara Filipina, mereka itu memiliki 70 provinsi. Padahal luas wilayahnya jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi negara kita hanya memiliki 33 provinsi. Ada yang menyebutkan, Indonesia masih ideal untuk dimekarkan. Bahkan masih memungkinkan hingga menjadi 40 provinsi. Saya melihat, Jawa Barat masih mengharapkan Cirebon bagian dari mereka. Sehingga rencana pemekaran ini mengalami hambatan. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-766208252374478127?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/766208252374478127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/deklarasi-pembentukan-propinsi-cirebon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/766208252374478127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/766208252374478127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/deklarasi-pembentukan-propinsi-cirebon.html' title='Deklarasi Pembentukan Propinsi Cirebon'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoB0B6A-lTI/AAAAAAAAAYk/t-1iNOtDRCg/s72-c/NANA+SUDIANA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-2509231135852735875</id><published>2009-08-11T02:18:00.004+07:00</published><updated>2009-08-11T02:23:09.829+07:00</updated><title type='text'>Kemegahan Ma’had Al Zaytun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoByuC0GUoI/AAAAAAAAAYE/oICZMSv1G2A/s1600-h/kampus+al+zaytun-3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoByuC0GUoI/AAAAAAAAAYE/oICZMSv1G2A/s200/kampus+al+zaytun-3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368416891180569218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Sejak awal pembangunan hingga diresmikan oleh Presiden Habibie pada 1999 silam, Pondok Pesantren Al Zaytun terus menerus memantik kontroversi. Memang, siapapun yang pernah menapakkan kakinya di kompleks ini, pasti akan berdecak kagum menyaksikan megahnya fasilitas yang ada. Saat itulah pertanyaan klasik bakal muncul. Dari mana dana untuk membangun ma’had terbesar dan termegah di Asia Tenggara ini ? Tak heran bila pesantren ini sering dikaitkan dengan gerakan NII KW 9 dalam hal menghimpun dana. Bahkan disebut-sebut bila gerakan merongrong NKRI itu bermarkas di balik kemegahan Al Zaytun. Benarkah ? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berlebihan bila menyebut pesantren yang diresmikan Presiden Habibie pada 1999 ini sebagai gambaran dari sistem pesantren modern. Ma’had Al Zaytun dimiliki oleh Yayasan Pesantren Indonesia. Ia dibangun di atas tanah 200 ha untuk sarana pendidikan, didukung 1000 ha lahan untuk usaha perternakan, pertanian dan tanaman hutan. Dukungan sektor pertanian itu bertujuan untuk menanamkan filosofi pertanian dalam proses belajar para santrinya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren ini terus mengalami perkembangan pesat dari wktu ke waktu. Sarana prasarana pendidikan terus bertambah seiring dengan pertambahan jumlah santri. Sejak pertama kali diresmikan, pesantren ini langsung dikenal luas oleh masyarakat Islam di tanah air. Santri-santrinya datang dari seluruh Indonesia, bahkan ada yang berasal dari luar negeri, seperti Malaysia, Singapura dan Afrika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuai Kontroversi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan dan kemajuan yang fenomenal ini akhirnya menimbulkan kontroversial. Misalnya belum genap dua tahun usia Al Zaytun, telah berdatangan tudingan dan tuduhan yang dialamatkan ke pesantren ini. Di kalangan masyarakat Indramayu sendiri, misalnya, sudah tersiar kabar bila Ma’had Al Zaytun menganut ajaran dan akidah menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika, mereka yang mengatasnamakan Keluarga Besar para orang tua korban kejahatan NII Ma’had Al Zaytun, pernah mendatangi DPR RI dan meminta DPR membentuk tim khusus guna menyelesaikan persoalan Al Zaytun. Itulah bentuk reaksi terhadap kesesatan yang dialamatkan kepada Al Zaytun. Reaksi pun terus datang bertubi-tubi, baik dari perseorangan maupun lembaga dalam berbagai acara. Mulai dari diskusi, tabligh akbar, bedah buku, sampai kesaksian para korban. Sebagian besar dari reaksi itu menyebut bila Ma’had Al Zaytun adalah sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, muncul juga anggapan dari masyarakat bahwa Al Zaytun murni sebagai lembaga pendidikan yang menerapkan kurikulum Departemen agama dan Departemen pendidikan Nasional secara terpadu. Mereka juga berpendapat bahwa isu-isu yang disebarluaskan oleh orang atau kelompok tertentu tidak lebih sebagai upaya memecah belah umat Islam dan sekaligus upaya penghancuran Islam oleh orang islam sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenderal (Purn) AM Hendropriyono, kepala BIN, dalam sambutannya ketika meresmikan dimulainya pembangunan gedung Dr Ir HM Soekarno pada 14 Mei 2003, menyatakan akan membela pesantren ini dengan seluruh kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya. Bahkan dia menyebut orang-orang yang selama ini mendiskreditkan Ma’had Al Zaytun sebagai iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya sikap pro dan kontrak di masyarakat seputar ma’had Al Zaytun ini mendorong Departemen Agama RI lewat Balitbang Agama dan Diklat Keagamaan, untuk melakukan penelitian terhadap pesantren itu. Hasilnya, Depag mencatat beberapa hal. Pertama, bahwa Al Zaytun merupakan lembaga pendidikan yang berobsesi menjadi lembaga pendidikan Islam modern dan unggul. Kedua, komunitas Al Zaytun dalam memahami ayat Alquran dan Hadist bercorak rasional dan konstekstual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, walaupun interaksi sosial internal di kalangan komunitas Al Zaytun cukup dialogis dan berkultur islami, namun interaksi sosial eksternal seperti dengan masyarakat sekitar dan pejabat pemerintah cukup terbatas. Bila disimpulkan, hasil penelitian itu menyiratkan Depag belum menemukan bukti-bukti kesesatan Al Zaytun, atau keterlibatannya dengan gerakan NII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga membentuk tim peneliti independen terhadap Ma’had Al Zaytun. Hasilnya, ditemukan beberapa hal. Pertama, indikasi kuat adanya hubungan antara Al Zaytun dengan NII KW 9 yang bersifat historis, finansial dan kepemimpinan. Kedua, terdapat penyimpangan faham dan ajaran Islam yang dipraktekkan organisasi NII KW 9. Ketiga, tidak ditemukan adanya penyimpangan ajaran Islam dalam sistem pendidikannya –kecuali dalam masalah zakat fitrah dan qurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sikap pro kontra bermunculan di sana sini, namun pihak pesantren tak berhenti membangun. Hingga proses pembangunan itu terus berlangsung. Termasuk berdirinya masjid raya Rahmatan Lil’alamin yang mampu menampung 100.000 jamaah, serta ruang belajar berlantai empat yang diberinama”Gedung Jenderal Besar Soeharto”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Al Zaytun&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Awalnya, sekelompok mahasiswa mengadakan diskusi intensif tentang model pendidikan islam yang representatif. Mahasiswa yang melakukan diskusi intensif itu adalah sekelompok mahasiswa ITB yang mempunyai jaringan dengan AS Panji Gumilang. Dalam perkembangan selanjutnya, diskusi itu menghasilkan beberapa pemikiran lanjutan berupa ide pendirian sebuah lembaga dan hingga pemilihan lokasi. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoByzbFcwMI/AAAAAAAAAYM/EjHko_1Xkt0/s1600-h/kampus+al+zaytun-5.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoByzbFcwMI/AAAAAAAAAYM/EjHko_1Xkt0/s200/kampus+al+zaytun-5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368416983595139266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mereka, kondisi umat Islam Indonesia ternyata masih tergolong kaum yang belum mandiri dibanding dengan bangsa-bangsa lain. Mereka menyoroti kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai di kalangan umat Islam Indonesia. Mereka justru melihat umat Islam Indonesia hanya menonjol dalam sisi  kuantitasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka melihat kondisi tersebut seagai realita yang tidak bisa dibantah. Kesamaan visi di antara mereka ini menghasilkan keputusan untuk memilih sistem pendidikan pesantren. Untuk itu, mereka mendirikan Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) pada 1 Juni 1993 atau bertepatan dengan hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1413 H. Untuk pertama kalinya YPI berkantor di desa Padaasih, Kecamatan Cibogo, Kabupaten Subang, berdasarkan akta pendirian tanggal 25 Januari 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan ini berazaskan Pancasila dan UUD 1945 dan bertujuan ikut mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa. Untuk mencapai tujuan itu, yayasan akan melakukan berbagai usaha yang halal. Salah satunya mendirikan pondok-pondok pesantren di mana-mana. Untuk mematangkan sikap pilihan terhadap sistem pesantren, mereka mengunjungi berbagai pesantren di Indonesia, termasuk Malaysia. Mereka melihat visi, misi, dan tujuan pesantren-pesantren itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situlah diadopsi pola-pola pesantren yang mereka anggap baik dan memperbaiki pola pesantren yang kurang baik yang nantinya akan diterapkan untuk mengembangkan Ma’had Al Zaytun. Pada tahun 1994, mereka menemukan beberapa desa salah satunya Desa Gantar (Mekarjaya), Haurgeulis, Indramayu, Jabar. Tahun 1995 mereka mensurvei areal sawah untuk studi kelayakan mendirikan bangunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dianggap layak, pada 17 Mei 1995 mereka mendirikan cabang Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) di kecamatan Haurgeulis, kabupaten Indramayu. Inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Ma’had Al Zaytun yang fenomenal itu. Soal nama Ma’had, itu diadopsi dari nama lembaga pesantren di Malaysia. Pertimbangannya bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan yang asli Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menerapkan kurikulum yang komprehensif dan up to date di pesantren, mereka menempuh sikap modern, yakni sikap yang sanggup mengantisipasi perkembangan zaman yang selalu mengalami perubahan. Oleh sebab itu motto pendidikan Ma’had Al Zaytun yang mereka kembangkan adalah ”Pesantren spirit but modern system”. Sebuah lembaga pendidikan yang disemangati oleh kemandirian pesantren, dan menggunakan sistem modern. Lembaga pesantren ini nantinya akan dihuni oleh individu santri yang berakhlak mulia, berpengalman luas, berpikiran bebas dan berbadan sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen Ilahiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal 1995, mereka merintis pembangunan fisik. Proyek pembangunan ini didasari oleh misi dan visi Ma’had Al Zaytun. Oleh karena itu manajemen proyek yang diterapkan adalah manajemen ilahiyah yang bermakna manajemen tauhid atau manajemen proyek terpadu dan terkendali tanpa batas waktu dalam satu kesatuan sistem. Oleh karena itu pada pembangunan awal Ma’had Al Zaytun tidak membutuhkan waktu dan dana yang banyak. Antara merencanakan dan membangun tidak terlalu lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dalam pengerjaan konstruksi, mereka berperan sebagai konsultan sekaligus kontraktor bahkan menjadi sub-sub kontraktor. Menurut mereka, untuk membangun gedung Abu Bakar misalnya, biaya yang dikeluarkan hanya sepertiga jika dikerjakan oleh orang luar. karyawan pelaksana pembangunan awal pun direkrut dari anggota pengajian dan orang-orang yang bermukim di lingkungan Ma’had Al Zaytun sekitar 1.550 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya sungguh luar biasa. Dalam tempo 3 tahun, mereka berhasil mendirikan gedung pendidikan yang diberinama Abu Bakar Ash-Shidik, Umar Ibn Al Khatab dan satu unit asrama Al Musthofa. Sejak Juli 1999, 1 unit gedung pendidikan dan 1 unit gedung asrama difungsikan sepenuhnya. Kemudian mereka membangun fasilitas-fasilitas dasar penunjang antara lain dapur, kantin pelajar dan kantin tamu, kantor pos, wartel, barbersho, ruang serba guna, ruang tunggu tamu, ruang taklimat untuk tamu dan masjid Al Hayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sejak itu pula mereka mulai menerima siswa-siswa yang jumlahnya mencapai 1.584 orang. Sedangkan tenaga pengajar yang terdiri dari murabbi dan mudarris sebanyak 296 orang. Setelah melalui seleksi, jumlah santri yang diterima adalah 1.459 orang. Dan pada 27 Agustus 1999, Presiden BJ Habibie berkenan meresmikan pesantren terbesar dan termegah di Asia Tenggara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Al Zaytun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca peresmian oleh Presiden Habibie, Ma’had Al Zaytun banyak dikunjungi tamu-tamu, dengan tujuan beragam. Ada yang sekadar menengok anak dan famili yang belajar di situ, namun tidak sedikit yang hanya ingin melihat kemegahan Al Zaytun. Semua tamu yang berkunjung umumnya memberikan sumbangan untuk Ma’had Al Zaytun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan Ma’had Al Zaytun, pada tahun 2000 mereka menerbitkan sebuah majalah bernama Majalah Al Zaytun. Majalah ini dirancang sebagai media komunikasi dan sarana penghubung YPI – Ma’had Al Zaytun dengan seluruh masyarakat. Dan sebagaimana cita-cita awalnya yakni ingin mendirikan Ma’had Al Zaytun di mana-mana, yayasan kemudian membangun ”pendidikan asas”. Ma’had Al Zaytun di Gresik, Jawa Timur, yang peletakan batu pertamanya dilakukan 18 Maret 2000 silam. Pendidikan asas Ma’had Al Zaytun juga dibangun di Subang, Labuan Banten dan di Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, Ma’had Al Zaytun terus menerus melakukan pembangunan fisik. Selain baru saja menyelesaikan pembanguan masjid Rahmatan Lil ‘alamin yang megah dan mampu menampung 100 ribu jamaah, di sebelah utara masjid tersebut juga sedang dibangun waduk yang diberinama waduk Istisqo. Waduk ini dibangun untuk memanfaatkan kembali buangan air di asrama santri, run off water dan over flow kolam-kolam penampungan sehingga bisa dimanfaatkan kembali sebagai sumber air pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menurut informasi, MA’had Al Zaytun juga telah memiliki tanah ribuan hektar di Houston, salah satu kota di negara bagian Texas, Amerika. Bahkan disebutkan bahwa tanah itu adalah wakaf dari seorang pebasket NBA, Hakeem Olajuwon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’had Al Zaytun memiliki luas lahan 1200 ha. Untuk sarana pendidikan seluas 200 ha dan selebihnya 1000 ha sebagai lahan pendukung yang dijadikan lahan perkebunan dan pertanian yang mengelilingi areal pendidikan. Saat memasuki gerbang utama Ma’had Al Zaytun, nampak gedung-gedung megah pembelajaran yang diberinama Abu Bakar As-Shidiq, Umat Ibn Al Khattab, Usman Ibn Affan, Ali Ibn Abi Thalib, dan Jenderal Besar HM Soeharto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung Abu Bakar As Shidiq dibangun dengan luas 10.000 meter persegi dengan bangunan empat lantai. Gedung ini memiliki 42 lokal dan 98 toilet. Gedung Umar Ibnu Al-Khattab menempati areal seluas 12.500 meter persegi dengan bangunan lima lantai dan memiliki lokal berjumlah 58 yang disertai 104 toilet. Sedangkan gedung Usman Ibnu Affan dibangun dengan luas 17.000 meter persegi dengan bangunan 6 lantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung Usman ini memiliki 100 lokal yang dilengkapi dengan 172 toilet. Sementara gedung Ali Ibnu Abi Thalib menempati areal seluas 18.000 meter persegi dengan tujuh lantai. Gedung ini memiliki 100 lokal dan 180 toilet. Gedung pembelajaran Jenderal Besar Soeharto yang sedang dibangun dengan luas 20.000 meter persegi direncanakan memiliki tujuh lantai. Gedung Jenderal Besar Soeharto setiap kelasnya berukuran 8 x 12 m yang dilengkapi meja dan kursi bagi 36 siswa yang menghuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sistem pendidikan berasrama, Ma’had Al-Zaytun memiliki asrama-asrama bagi para siswa yang terletak di sebelah utara gedung pembelajaran. Gedung-gedung asrama ini untuk setiap unitnya menempati lahan 22.000 M dan menampung sekurang-sckurangnya 1700 santri dengan kapasitas setiap kamar dihuni 10 orang. Sampai saat ini ada asrama Al-Fajar dan Al-Madani untuk santri-santri laki-laki, dan&lt;br /&gt;asrama Al-Mustafa dan Al-Nur untuk santri-santri perempuan. Luas setiap kamar santri berukuran 8 x 9 dengan jumlah kamar tiap asrama 170 kamar, kecuali Al-Madani berukuran 8 x 10 m dengan jumlah kamar 204 kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap kamar dilengkapi 3 kamar mandi dalam sebuah toilet, 1 ruang belajar, meja, kursi, lemari pakaian, dan ranjang tidur yang bersusun ganda. Tiap unit bangunan asrama dibuat dalam enam blok yang masing-masing bloknya menghadap ke arah luar dengan jarak pandang yang terbuka bebas ke luar. Pada setiap lantai asrama terdapat suatu hall besar yang berada di tengah-tengah gedung yang berukuran 30 x 32 m. Hal ini berfungsi sebagai wahana komunikasi antar santri dengan berbagai ragam budaya dari berbagai suku bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak dari satu gedung ke gedung lain dipisah oleh jalan beton selebar kurang lebih empat meter, dan dihiasi oleh pohon-pohon yang rindang. Bagi para pengunjung, jalan beton ini bisa berfungsi sebagai tempat jalan santai. Di atas jalan beton dipasang papan nama dengan panah yang mengarah kepada tempat lokasi gedung-gedung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar areal bangunan pendidikan, terhampar lahan 1000 ha untuk lahan perkebunan dan pertanian. Disebelah selatan areal bangunan pendidikan terdapat tanaman-tanaman yang dikembangkan Ma'had Al-Zaytun dalam perkebunan, yaitu jeruk siam Garut, mangga, jati emas, jati genjah, rumput king grass, eukalyptus, zaitun, tin dan kurma.  Di areal ini juga didirikan bangunan untuk peternakan sapi, kambing, itik, dan ikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sektor selatan ini dibangun gedung kultur jaringan dan rumah hijau (green house). Gedung rumah hijau ini seluas 567 m. Di dalam rumah hijau ini terdapat tujuh lokal dengan luas masing-masing 9 x 9 m. Ruang-ruang itu difungsiknn sebagai penyimpanan tanaman-tanaman baru siap ditanam atau siap dipasarkan. Sedangkan sebelah barat areal bangunan pendidikan, dikembangkan pertanian berupa padi gogo, sayuran seperti kubis. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Mengenal AS Panji Gumilang &lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Syekh Panji Gumilang adalah Syekh Ma’had Al Zaytun. Ia figur sentral dan elit utama dalam struktur sosial Ma’had Al Zaytun. Syekh Ma’had dalam pandangan warga komunitas Ma’had tidak hanya inisiator dan manajer tetapi sebagai pemimpin (leader) yang mereka “kagumi” karena memiliki wawasan yang futuristik. Ia memiliki pengalaman luas, berwibawa, tegas, kebapakan, pandai memanfaatkan peluang dan membangun kerjasama. Ia merupakan pemimpin kharismatik yang disegani dan penuh wibawa oleh semua warga ma’had.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan dan pengaruh Syekh melebihi semua eksponen tak terkecuali ketua yayasan dan penasehat ahli almarhum Prof. DR. A.R. Partosentono. Padahal secara struktural, yayasan lebih independen dan lebih tinggi dari pada pimpinan Ma’had.&lt;br /&gt; Kenapa Syekh mendominasi terhadap seluruh aktivitas Ma’had sebagaimana disebutkan?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang kehidupan pribadi Syekh sendiri bisa menjawabnya. Pada&lt;br /&gt;tahun 1993 Syekh Panji Gumilang menjadi Komandan Tertinggi NII KW 9 dan pada tahun 1996 ia menggantikan posisi keimamahan NII dari Adah Djaelani. Secara otomatis, walaupun Ma’had Al Zaytun sub-ordinasi dari Yayasan Pesantren Indonesia tetapi YPI adalah salah satu usaha negara yang diprogramkan, dimana posisi Syekh AS Panji Gumilang sebagai Imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strukrur sosial dalam komunitas Ma’had Al Zaytun terdiri dari unsur pengurus yayasan yang dikenal dengan sebutan eksponen, mudarris, murabbi,  uwadhof/karyawan, santri, serta para koordinator wilayah (Korwil). Eksponen (pengurus yayasan). Eksponen bertugas mengatur semua urusan pembangunan sarana pendukung pendidikan, keuangan serta pengelolaannya. Mereka umumnya berlatar belakang sosial sangat beragam; pengusaha, pejabat, tokoh masyarakat, pegawai negeri dan pensiunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertanggung jawab atas ketersediaan semua kebutuhan Ma'had Al Zaytun dan sekaligus mengelola sumber-sumber keuangan dan pembiayaan pendidikan. Kelompok ini menempati strata atas di mana Syekh Ma'had berada. Mudarris dan Murabbi direkrut secara terbuka dari berbagai latar belakang pendidikan umum, agama dan pesantren, dengan perbandingan yang paling menonjol adalah: lebih banyak guru mata pelajaran umum dari pada mata pelajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudarris adalah guru yang diberi tugas mengajar mata pelajaran tertentu dan mengajar di kelas. Sedang Murabbi adalah seorang pembimbing yang diberi tugas untuk memberikan pendampingan terhadap santri di luar kelas. Murabbi membimbing santri baik dalam belajar, mengikuti kegiatan ekstra kurikuler atau bimbingan lainnya yang diperlukan santri. Seorang Mudarris berperan juga sebagai Murabbi, tetapi, tidak semua Murabbi bertindak sebagai Mudarris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Mudarris dan Murrabi dibina dan dikembangkan dengan terus menerus ditingkatkan ilmunya dengan mengikuti studi lanjut S-1 bagi yang belum sarjana, dan S-2 untuk yang sudah S-1. Peningkatan kualitas ilmu para Mudarris dan Murabbi dilakukan juga dengan pendidikan non formal di Ma’had Al Zaytun ketika libur. Untuk kepentingan studi lanjut bagi Mudarris dan Murabbi, Ma’had Al Zaytun telah melakukan kerjasama (Memorandum of Understanding) dengan berbagai perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mudarris yang merangkap sebagai murabbi memiliki jam kerja ‘hampir’ 24 jam sehari semalam, karena begitu kegiatan belajar-mengajar santri selesai pada pukul 22.00, mereka melakukan kontrol atau pengawasan terhadap santri yang tidak segera berisrirahat atau tidur sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Mereka juga melakukan pengawasan terhadap santri yang mencoba untuk berbuat yang tidak sesuai dengan aturan, seperti santri laki-laki mencoba menyusup ke asrama santri putri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga pada pagi harinya, ketika santri harus bangun pada pukul 03.00 dini hari, para murabbi sudah bangun lebih dahulu untuk kemudian membangunkan para santri. Tugas yang demikian berat, tetapi tidak diimbangi dengan imbalan atau gaji yang memadai, menjadi salah satu banyaknya mudarris dan murabbi yang akhirnya keluar dari Ma’had Al Zaytun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait NII KW 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah makalah pada acara bedah buku di Pemda Indramayu, Selasa (2/10-2001), Umar Abduh menyebut Syech AS Panji Gumilang sebagai pria berperawakan tinggi besar dan berkulit agak gelap. Ia  adalah putra daerah kelahiran desa Sembung Anyar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Ia lahir 27 Juli 1946, tamat Sekolah Rakyat di Gresik tahun 1959, masuk Pondok Modern Gontor tahun 1961 dan memperoleh gelar sarjana dari fakultas Adab IAIN Ciputat, Jakarta tahun 1969.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panji Gumilang juga sempat menjadi guru Aliyah di Perguruan Mathla’ul Anwar, Menes, Pandeglang (Propinsi Banten), selama 8 tahun dan berhenti di tahun 1978. AS Panji Gumilang terlahir bernama Abdus Salam bin Rasyidi. Namanya diganti menjadi Prawoto setelah menyatakan bai’at dan bergabung dengan gerakan NII Wilayah IX pimpinan Seno alias Basyar (alm) di tahun 1978. Ketika itu ia diangkat menjadi pejabat mas’ul jajaran Imarah untuk daerah Banten. Pernah di tahan di POMDAM Bandung selama 8 bulan dalam kasus GPI (Gerakan Pemuda Islam dalam peristiwa SU-MPR th 1978). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam tahanan, Abdus Salam satu sel dengan Shaleh As’ad dan Mursalin Dahlan. Sejak itulah Prawoto menjadi “fundamentalis” NII. Setelah menjalani masa tahanannya, ia bersentuhan secara intensif dengan para elite NII seperti Adah Djaelani, Aceng Kurnia, Tachmid Rahmat Basuki Kartosuwiryo, Toha Machfudz dan lain-lain yang kala itu dalam status buron setelah tertangkapnya HISPRAN (Haji Ismail Pranoto, awal Januari 1977) dan 23 tokoh komandemen gerakan NII di Jawa Timur. Kasus Hispran ini dikenal dengan nama Koji atau Komji (Komando Jihad). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika para tokoh elite NII Adah Djaelani cs maupun elite NII Wilayah IX tertangkap, juga Seno dan H. Abdul Karim Hasan cs secara bersamaan tertangkap pada Agustus tahun 1981 di Jakarta, Prawoto kabur dan buron ke negeri Sabah Malaysia dengan membawa dana jama’ah, yang menurut sahabatnya berjumlah 2 miliar rupiah. Di Sabah Prawoto memperkenalkan dirinya sebagai pengusaha kayu dan besi tua (dari Indonesia) yang mengalami kebangkrutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prawoto alias Abdus Salam Rasyidi dalam menjalani masa buron tersebut seringkali mondar mandir Banten-Jakarta-Sabah. Tempat Prowoto Abdus Salam Rasyidi singgah di Jakarta adalah di rumah kediaman Ustadz Rani Yunsih, Bidara Cina, Cawang. Sedangkan untuk ongkos tiket kembali ke Sabah seringkali dicukupi oleh HM Sanusi (yang waktu itu masih berdomisili di jalan Bangka, Mampang). Bantuan itu berhenti ketika HM Sanusi mendapat mushibah dijebloskan ke penjara oleh rezim ORBA (1985) dengan tuduhan terlibat kasus peledakan BCA (yang terjadi Oktober 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1987 Prawoto alias Abdus Salam kembali ke rumahnya di Menes, Pandeglang (kini provinsi Banten), dan bergabung kembali bersama H. Abd Karim Hasan, M.Ra’is Ahmad dan Nurdin Yahya dalam kelompok gerakan NII LK (Lembaga Kerasulan). Tahun 1990 Toto Salam –nama panggilan barunya– dipercaya H Karim, Komandan I Wilayah IX untuk menjadi Ka Staf I Wil IX. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1992 melakukan kudeta internal di Wil IX lantas menobatkan diri menjadi Komandan Tertinggi NII (Mudabir bin yabah) dan menetapkan wilayah IX sebagai Ummul Qura (Ibukota) NII. Nama baru pun dibuat, diantaranya adalah Syamsul Alam, Nur Alamsyah, Syamsul Ma’arif, Abu Toto, Toto Salam dan Abu Ma’ariq (nama yang terakhir ini digunakan untuk membuka account pada Bank CIC, tempat kelompok ini menyimpan dana jama’ah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1993 Abu Toto Ma’ariq diadili melalui Musyawarah karena perilakunya yang buruk dan berkhianat terhadap kawan sendiri. Antara lain mengakibatkan H Muhammad Ra’is Ahmad ditangkap dan ditahan dalam waktu yang cukup lama. Selain itu, Abu Toto Ma’ariq dinilai tidak pantas memimpin KW IX. Musyawarah pimpinan KW IX akhirnya memutuskan Abu Toto dipecat dari jabatan Mudabir bin yabah (komandan sementara) hasil kudeta tahun 1992 tersebut. Tetapi Abu Ma’ariq membandel, ia tetap berjalan dengan orang-orangnya dan justru akhirnya mampu membangun KW IX membesar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kurun waktu sejak menjadi Mudabir bin yabah antara tahun 1992-1994 Abu Ma’ariq berhasil menghimpun dana jama’ah yang jumlahnya fantastis melalui qoror-qorornya yang akhirnya berlaku hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1994, hampir 1000 orang anggota NII wilayah Pandeglang (Banten) yang telah menyatakan keluar dari struktur kepemimpinan Abu Toto –serta berhasil memecat Toto di tahun 1993– ditangkap aparat keamanan. Oleh para mantan NII KW IX tersebut pengakuan dan keterangan diarahkan kepada Abu Toto (artinya mengakui diri mereka sebagai anak buah Toto Salam yang keluar dari jamaah pimpinan Toto Salam). Serta merta Abu Toto sekeluarga kabur dan meninggalkan rumah kediamannya di Menes Pandeglang (Banten) hingga saat ini. Dari kejadian tersebut berbagai pihak mulai menyadari bahwa Abu Toto adalah pemain tingkat tinggi yang bermain dengan pihak aparat. Nampaknya permainan itu berjalan terus hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara tahun 1994-1995 program dan mobilisasi pembebasan tanah di Indramayu untuk rencana pembangunan Ma’had Al Zaytun mulai berlangsung dan selanjutnya berjalan cepat. Tahun 1996, Abu Toto dilantik Adah Djaelani untuk secara resmi menjadi pengganti Adah Djaelani selaku Presiden, Imam dan Komandemen Tertinggi NII. Tahun 1997 meletakkan batu pertama pembangunan Ma’had Al-Zaytun dan sejak saat itu seluruh nama alias yang berendeng itu ditanggalkan, yang ada hanya satu nama baru yaitu AS (Abdus Salam) Panji Gumilang (yang bermakna Abdus Salam Pembawa Bendera Kejayaan NII). Seluruh komunitas ma’had Al Zaytun haram untuk menyatakan ada dan kenal dengan nama-nama samaran atau nama alias AS Panji Gumilang sebelumnya. Dan hanya ada satu sebutan untuk AS Panji Gumilang yang diperbolehkan yaitu Syaykhul Ma’had. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, Abu Toto Abdus Salam AS Panji Gumilang pernah mengaku sebagai putra daerah kelahiran Indramayu, di lain waktu ia pernah mengaku sebagai putra daerah kelahiran Kulon (Banten), dan di lain waktu lainnya ia pernah mengaku sebagai putra daerah kelahiran Bogor. Itulah “kehebatan” Abdus Salam yang sebenarnya asli kelahiran Sembung Anyar, Gresik (Jawa Timur). &lt;br /&gt;Toto juga pernah menyatakan, “Masa lalu silahkan berlalu. Masa depan sajalah yang perlu dilihat dan diperhatikan.” Padahal, sampai kini ia masih menerapkan dan mengembangkan doktrin sesat NII yang diajarkan Kartosuwiryo, Adah Djaelani dan H. Karim Hasan. Bahkan, kualitas kesesatannya pun kini semakin menjadi-jadi. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bantahan Syekh Panji Gumilang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan Ma’had Al Zaytun sendiri, Syech AS Panji Gumilang, pada Sabtu (20/1/2007) silam, pernah membantah keras adanya tudingan ponpesnya terkait dengan gerakan KW 9 yang bertujuan mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). "Itu tudingan salah alamat, Al-Zaytun adalah pusat pendidikan, pengembangan budaya toleransi dan perdamaian" katanya kepada wartawan di kompleks Al Zaytun. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoBzh7o5TlI/AAAAAAAAAYc/IEOR1vZebyw/s1600-h/Syaykh+al-Zaytun3.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoBzh7o5TlI/AAAAAAAAAYc/IEOR1vZebyw/s200/Syaykh+al-Zaytun3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368417782607728210" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Panji Gumilang mengatakan dalam alam demokrasi saat ini orang bisa saja bebas berbicara."Orang boleh saja menuduh seperti itu. Tapi Al Zaytun tidak pernah seperti itu dan tidak pernah menuduh orang lain". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Panji meminta tuduhan terhadap pondoknya untuk dihentikan dan tidak dibicarakan lagi. Saat mengatakan hal itu, Panji juga menolak anggapan bahwa ponpesnya akan berafiliasi dengan partai Golkar dengan kehadiran Wapres M Jusuf Kalla yang juga ketua umum DPP Partai Golkar.  "Al Zaytun tak bisa dikaitkan dengan partai manapun. Di sini adalah pusat pendidikan serta pengembangan toleransi dan perdamaian,” ujar Panji Gumilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengembangan pendidikannya, Panji mengaku bahwa ponpesnya tidak bedanya dengan ponpes-ponpes lainnya di Indonesia."Semangat pesantren yang mandiri, cinta ilmu dan toleransi tetap ada di Al Zaytun ini,” kata Panji. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975431520005751097-2509231135852735875?l=ekorisanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ekorisanto.blogspot.com/feeds/2509231135852735875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/kemegahan-mahad-al-zaytun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/2509231135852735875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975431520005751097/posts/default/2509231135852735875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ekorisanto.blogspot.com/2009/08/kemegahan-mahad-al-zaytun.html' title='Kemegahan Ma’had Al Zaytun'/><author><name>Eko Risanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06118639094021653920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoByuC0GUoI/AAAAAAAAAYE/oICZMSv1G2A/s72-c/kampus+al+zaytun-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975431520005751097.post-4023249042451379482</id><published>2009-08-11T02:17:00.002+07:00</published><updated>2009-08-11T02:18:12.057+07:00</updated><title type='text'>SAYUTI “NABI” AKHIR ZAMAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoByZOLyCMI/AAAAAAAAAX8/Zw9RlHhp7Ek/s1600-h/ahmad+sayuti.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 139px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SoByZOLyCMI/AAAAAAAAAX8/Zw9RlHhp7Ek/s200/ahmad+sayuti.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368416533455440066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Bandung digegerkan seorang yang mengaku nabi terakhir. Pengakuan itu tertuang dalam dua buah buku yang ditulisnya. Ahmad Sayuti, “nabi” akhir zaman ini pun harus berurusan dengan polisi. Namun akhirnya ia pun bertobat dan menyatakan kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca pengakuan nabi oleh Ahmad Mosadeq pimpinan Alqiyadah Al Islamiyah beberapa waktu lalu, kini Bandung digemparkan lagi oleh Mohammad Sayuti atau Ahmad Sayuti (70) yang juga mengaku sebagai nabi. Bahkan dengan tegas ia menyatakan diri sebagai nabi terakhir, dan Muhammad yang disebut-sebut dalam kitab suci Alquran sesungguhnya tiada lain adalah dirinya sendiri. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan pengakuan sebagai nabi ini terurai dalam dua buah buku yang beredar secara terbatas sejak 2005. Dua buku itu ditulis dan diterbitkan sendiri oleh Ahmad Sayuti. Buku pertama berjudul "Kelalaian Para Pemuka Agama dalam Memahami Kitab-kitab Peninggalan Nabi-nabi Rasul Allah (Taurat, Injil dan Alquran) dengan Segala Akibatnya". Dan buku kedua berjudul "Mungkinkah Tuhan Murka". Pengakuan Sayuti sebagai nabi terakhir, tertulis dalam bukunya yang terakhir halaman delapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku-bukunya itu, Sayuti tak hanya mengaku sebagai nabi. Ia juga menyatakan bahwa kitab suci Taurat, Injil dan Al-Qur'an bukanlah firman Allah. Ketiganya hanya perkataan para nabi. Dan uniknya, buku yang dicetak secara swadaya dan terbatas oleh Sayuti ini, juga dikirim ke beberapa ormas Islam di Bandung, seperti ICMI dan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, pengakuan ‘nyeleneh’ Sayuti ini ini pun menimbulkan reaksi sejumlah ormas Islam. Hingga kemudian berujung ditangkapnya Ahmad Sayuti oleh aparat Polsek Kota Regol, Jalan Moch Toha, Kota Bandung, Rabu (6/2/2008) lalu. Menurut polisi, warga Jl. H. Samsudin No. 3, Ciateul, Kota Bandung, ini dinilai meresahkan masyarakat lantaran pengakuannya sebagai nabi atau rasul terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihadapan polisi, Ahmad Sayuti tetap mengaku sebagai nabi dan rasul terakhir. Namun sejauh itu, polisi masih belum berani memutuskan kasus kenabi Ahmad Sayuti ini. Terutama menyangkut pelanggaran hukum yang mungkin muncul setelah yang bersangkutan memproklamirkan diri sebagai nabi. “Kami masih menunggu fatwa MUI dan Pengawas Aliran dan Kepercayaan Masyarakat (PAKEM), apakah kasus Ahmad Sayuti mengandung sisi pelanggaran hukum atau tidak,” kata Kapolwiltabes Bandung Kombes Bambang Suparsono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itu, polisi belum melakukan langkah-langkah hukum terhadap sang nabi. Pemeriksaan dilakukan hanya sebatas mendengarkan keterangan dan pengakuannya saja. Sehingga saat diperiksa dan sesudahnya tidak ada penahanan. Kapolwil menjelaskan, langkah kepolisian dengan melakukan pemanggilan kepada Ahmad Sayuti ditempuh sebagai respon atas pengakuan kenabian Ahmad Sayuti. Langkah ini dilakukan, untuk mencegah dampak buruk yang mungkin akan muncul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai diperiksa polisi, Ahmad Sayuti mengaku dirinya tidak mempercayai ajaran Alquran. ”Isi yang terkandung dalam Alquran bukanlah firman yang diturunkan Allah, melainkan cerita Nabi Muhammad,” katanya kepada wartawan. Dan selama ini, kesalahan dalam Alquran menjadi penyebab utama terpecah belahnya umat Islam. “Saya prihatin melihat umat Islam saling gontok-gontokan. Saya ingin menyatukan kembali umat Islam yang terpecah belah itu,” katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putar Balik Fakta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Ketua Persatuan Islam Jawa Barat, Rahmat Nadjieb mengatakan, kedua buku yang ditulis Ahmad Sayuti itu telah memutarbalikkan fakta dan kebenaran. Berdasarkan penelitian dan investigasi Persis pada kedua buku ini, Ahmad Sayuti menganggap dirinya sebagai nabi yang diutus Allah dan Nabi Muhammad bukan nabi terakhir. "Ini jelas sebuah pemutarbalikkan fakta yang sebenarnya," kata Rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Sayuti pun, lanjutnya, menganggap kalau Alquran adalah kitab hukum bahasa Arab peninggalan Nabi Muhammad putra Abdullah yang ditulis oleh para sahabatnya atas perintah Muhammad. "Dia mengaku kalau Alquran turun pada tahun 1993 saat dirinya mendapatkan wahyu," ungkap Rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyimpangan lain yang dikemukakan Sayuti dalam bukunya, lanjut Rahmat, mengganti bacaan shalat kecuali surat Alfatihah. "Dia juga menganggap tafsir Alquran selama ini hanya kebohongan belaka dan kitab hadist Bukhori hanya kitab bohong yang isinya bukan perkataan Nabi Muhammad," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjelaskan, dalam dua buku yang terbit pada 2005 itu, Sayuti menganggap Alquran adalah kitab hukum berbahasa Arab peninggalan Nabi Muhammad putra Abdullah, yang ditulis oleh sahabatnya atas perintah Muhammad. Bahkan, Sayuti mengklaim Alquran turun pada tahun 1993 saat dia mendapatkan Wahyu. Penyimpangan lain dalam buku Ahmad Sayuti adalah mengganti bacaan salat, kecuali surat Al Fati
