18 Agustus 2009

Wanita Peminda Makam Siliwangi (2)

Sebuah makam yang aneh di lereng Gunung Pangrango, Cianjur. Terdiri dari gundukan batu-batu hitam yang antik. Meski tak terurus dan ditumbuhi rumput liar, tapi kesan keramat sangat terasa. Begitu menemukan makam itu, Hj Netty seakan terbius. Kesadaran fisiknya lenyap. Ia masuk ke alam tak kasat mata. Berkomunikasi dengan pengisi makam, Eyang Haji Jaya Pakuan Gelar Puun Prabu Seda Wali Sakti Hidayatullah Siliwangi, atau Prabu Siliwangi. Inilah kisahnya.

Kecintaan Hj Netty Medina S (64) akan sejarah leluhur begitu mendalam. Dan itu berangkat sejak Netty berusia muda. Ayahnya, Rd Endih Natapraja, anggota polisi Komdak (kini Polda) Jabar, juga demikian. Darah cinta leluhur itu, agaknya menurun pada diri Netty. Bahkan sang ayah ini pernah dipercaya Gubernur Jabar Mashudi ketika itu, masuk dalam tim untuk mencari makam Prabu Siliwangi, bersama 11 ahli sejarah. Namun, proses pencarian itu tidak membuahkan hasil.

Benda-benda Gaib

Penemuan "makam" atau patilasan Prabu Siliwangi di lereng Gunung Pangrango ini bukan dari proses singkat. Melainkan hasil dari sebuah pengembaraan yang penuh liku. Secara fisik, menuju makam keramat ini cukup sulit. Harus melalui jalan setapak yang jauh. Menembus hutan, membelah sawah dan mengitari lereng gunung di wilayah Cianjur. Sementara tempat tinggalnya waktu itu cukup jauh, di kompleks Perkebunan PTP XII Vada Cianjur, Cikalong Kulon. Bisa memakan waktu setengah hari untuk mencapainya.

Selebihnya, Netty telah menghabiskan banyak waktu dengan mengulik berbagai literatur sejarah. Terutama yang berhubungan dengan sejarah Pajajaran. Sejak muda, jiwa Netty memang telah terpanggil untuk menekuni sejarah Sunda. Padahal, wawasan formal soal itu, tak ada dalam kamus Netty. Semuanya serba otodidak dan penuh keajaiban. Bayangkan, di kediamannya, ratusan buku-buku kuno yang berkait dengan sejarah, berjajar di rak buku. Belum lagi benda-benda pusaka seperti keris, golok, tongkat dan lainnya. Semua terpajang dan terawat rapi. Anehnya, semua benda-benda itu datang dengan sendirinya. "Mungkin saya sudah ditakdirkan memegang amanah untuk memeliharanya," tutur Hj Netty.

Memang, menurut pengakuannya, baik kitab-kitab kuno, atau benda-benda gaib tersebut, datang dengan sendirinya. Wawasannya yang dalam terhadap segala hal yang berbau sejarah Sunda, telah membawanya masuk ke alam "lain". Batinnya menjadi amat peka. Kepekaan itu yang membuat Netty akrab dengan karuhun (leluhur) yang ada pada dimensi lain. Netty sanggup berkomunikasi dengan mereka.

Di luar aktivitasnya menekuri sejarah Sunda itu, ia pun aktif berkecimpung dalam organisasi budaya. Bahkan namanya tercatat sebagai salah seorang tokoh pendiri Angkatan Muda Siliwangi (AMS). Sebuah organisasi bermassa banyak, yang sangat disegani di wilayah Jawa Barat.

Makam Prabu Siliwangi

Adanya sebuah kerajaan bernama Pajajaran di tatar Sunda, begitu masuk dalam keyakinan Hj Netty. Soal ini, Hj Netty mengungkap bukti tertulisnya. Misalnya buku "Sejarah Prabu Siliwangi Ratu Purana Prabu Guru Dewasaprana Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajran Taun 1417-1513." Lalu buku "Sejarah Alquran", yang ditulis H Abubakar Meulaboh Atjeh, 1956. Dalam sebuah bab berjudul Fatahillah, terdapat paragraf berbunyi: "…berangkatlah menuju Jawa Barat, pertama kali ia menuju Batam. Maka sampailah ia di Girang itu daerah Banten. Ia diterima oleh Raja Pajajaran dan akhirnya raja Jawa Barat yang berkedudukan di Banten ini masuk Islam tahun 1522.

Kemudian buku "Sejarah Masjid" (H Abubakar Meulaboh Atjeh, 1955), dan catatan lainnya tentang keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran dengan Prabu Siliwanginya. Namun, semua tak menyebut secara spesifik di mana letak makam raja Pajajaran paling terkenal itu. Sampai kemudian tahun 1972, secara tak sengaja ia menemukan makam tersebut. Dan itu ketika ia berkunjung ke rumah salah seorang kenalannya, Abah Udi, di lereng Gunung Pangrango, Cianjur. Tepatnya di Kampung Selagombong, Desa Cikancana, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.

Ketika itulah secara tiba-tiba, terluncur sebuah pertanyaan dari Netty kepada Maman, putra Abah Udi. Apakah di sekitar sini ada makam keramat? Tanya Netty spontan. Maman sendiri heran, dari mana Netty tahu didaerah itu ada makam keramat. Dan spontan menjawab, "Ya, ada. Kira-kira 1,5 kilo dari sini." Tangan Maman menunjuk lereng sebuah gunung yang menjulang tinggi. Mendengar jawaban itu, Netty penasaran ingin melihatnya. Apalagi setelah dijelaskan Abah Udi, bila itu adalah makam Eyang Haji Jaya Pakuan. Kontan, tubuh Netty lemas. Darahnya seakan berhenti mengalir. Hj Netty mengucap istighfar berkali-kali. (Bersambung)


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP