18 Agustus 2009

Wanita Peminda Makam Siliwangi (1)

Hj Netty Medina S, menemukan sebuah makam keramat. Belakangan terungkap bila itu adalah makam Prabu Siliwangi. Letaknya dilereng Gunung Pangrango, Cianjur, Jabar. Dalam pengembaraannya di alam batin, Hj Netty dibimbing untuk memindahkan makam itu. Kini Makam Prabu Siliwangi telah dipindah ke belakang rumahnya, kampung Ngamprah Pasir Pari, Desa Nengkelan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung.

Wanita kelahiran tahun 1937 ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia bukan paranormal, juga bukan ahli kebatinan. Ia pun, juga bukan ahli sejarah yang biasa duduk dibangku akademis. Tapi, Hj Netty adalah putri seorang pensiunan polisi di Komdak (kini Polda, red) Jabar berpangkat mayor. Namun kecintaannya pada leluhur, serta kedalaman memahami sejarahnya, telah memberinya ketajaman mata batin.

Segala hal yang berbau leluhur Sunda, ia talungtik (teliti) dengan caranya sendiri. Dasarnya pun tidak main-main. Selain terjun langsung ke lapangan, Hj Netty mengakurkannya dengan berbagai literatur. Buku-buku tua dan naskah-naskah yang jarang ditemukan dewasa ini, sudah habis dilahapnya. Salah satu hasilnya adalah pengalaman unik ketika menemukan makam (petilasan) raja Pajajaran paling terkenal itu, di lereng Gunung Pangrango. Yang kemudian dipindahkan ke belakang rumahnya di Ciwidey, Bandung.

Jejak Leluhur

Di tatar Sunda, nama Prabu Siliwangi, raja kerajaan Pajajaran, sudah bukan hal asing. Bahkan nama itu sudah melanglang buana ke antero jagad. Namanya begitu harum, seharum kepribadiannya semasa hidup. Tomme Pires, ilmuwan asal Portugis yang pernah masuk Indonesia abad 17, meninggalkan tulisan tentang keberadaan Prabu Siliwangi di negaranya. Dalam catatannya, ketika masuk daerah Pakuan (Bogor) melalui sungai, Pires melihat tiang-tiang kokoh sepanjang sungai. Ia mengidentifikasi itu sebagai tiang-tiang istana kerajaan Sunda (Pajajaran).

Prasasti Batu Tulis Bogor, juga salah satu bukti otentik. Prasasti itu merupakan persembahan prabu Surawisesa, raja Pajajaran, untuk ayahandanya Sri Baduga Maharaja Ratu Haji, atau Prabu Siliwangi. Padahal prabu Surawisesa waktu itu sangat berkuasa. Tapi ia selalu ingat kebesaran ayahandanya. Terutama oleh karya-karya besarnya. Sebab itulah, prabu Surawisesa membuat sebuah prasasti untuk mengenang kebesaran ayahnya itu.

Adapun bunyi prasasti batu tulis adalah "Semoga selamat, ini tanda peringatan bagi Prabu Ratu Suwargi (almarhum, red) ia dinobatkan dengan gelar Prabu Ratu Dewata Prana dinobatkan lagi dengan gelar Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata dialah yang membuat parit pertahanan di Pakuan, dia anak Rahyang Dewa Niskala yang di pusarakan di Gunatiga, cucu Rahyang Niskala Wastu Kencana yang dipusarakan di Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat hutan samida, membuat telaga rena maha wijaya dialah yang membuat semua itu."

Begitulah. Nama Prabu Siliwangi tak sekadar tercantum dalam prasasti. Juga tidak dalam pelajaran sejarah. Tapi benar-benar merasuk dalam hati sanubari rakyat, terutama masyarakat Sunda. Memang, hingga kini ada kontroversi tentang raja termasyhur itu. Terutama soal keberadaan makamnya. Pakar sejarah sendiri, konon angkat tangan. Begitu pun ahli kepurbakalaan. Hal ini semakin mengokohkan kesimpulan, bila sang prabu tidak wafat, melainkan moksa (tilem atau menghilang).

Melalui pergulatan batinnya, Hj Netty Medina yakin, bila "makam" yang ia pindahkan itu adalah patilasan tilemnya Prabu Siliwangi. Untuk bisa menemukan patilasan itu sendiri, Hj Netty harus menempuhnya dengan susah payah. Menembus hutan dan menyusuri lereng gunung. Hingga tahun 1972, bertemulah ia dengan sebuah makam yang panjang dan lebar. Letaknya di tengah sawah milik Abah Udi, di bawah rimbunnya sebuah pohon, di lereng Gunung Pangrango. Kejadian-kejadian gaib yang sulit dicerna akal sehat, kerap kali menghampirinya. (Bersambung)


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP