18 Agustus 2009

Tradisi Panjang Jimat Cirebon

Panjang Jimat merupakan ritual melestarikan dan merawat jimat yang berupa kalimat syahadat. Panjang Jimat dilaksanakan bertepatan dengan maulud Nabi Muhammad, dan menjadi sarana pengingat lahirnya Nabi Muhammad, serta ajaran-ajarannya. Upacara ini sarat makna dan selalu diserbu ratusan ribu hadirin.

Suasana malam itu begitu khidmat. Ribuan warga Cirebon memenuhi empat telatah bersejarah dan sakral dalam perjalanan syiar Islam di kawasan Cirebon. Prosesi Panjang Jimat rutin dilakukan setiap 12 Rabiul awal, yang menjadi puncak atau pelal peringatan maulud Nabi Muhammad saw, yang sarat makna dan selalu dijubeli ratusan ribu massa.

Sebelumnya, telah dilakukan ritual pencucian beragam jimat atau benda-benda pusaka peninggalan leluhur Cirebon. Biasanya, air bekas mencuci ini kerap diburu masyarakat. Konon, air bercampur kembang setaman bekas mencuci Gong Sekati di Masjid Agung Kanoman, misalnya, diyakini bisa membawa keberkahan.

Menurut catatan, tradisi pelal Panjang Jimat ini telah dilaksanakan lebih dari 6 abad. Pelaksanaannya dilakukan di empat tempat yang menjadi peninggalan dari Sunan Gunung Djati. Antara lain, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton kacirebonan dan Kompleks makam Syekh Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, pendiri kasultanan Cirebon.

Uniknya, acara ini tak hanya dihadiri oleh ribuan warga Cirebon, tapi juga masyarakat dari luar seperti Majalengka, Indramayu, Kuningan, Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis, Bandung, bahkan dari daerah Tegal, Brebes, Pekalongan, Semarang, Jakarta dan Banten. Dari keempat tempat ritual itu, yang paling banyak dihadiri pengunjung adalah Keraton Kasepuhan dan Kanoman. Di Keraton Kasepuhan, pelal Panjang Jimat dipimpin langsung oleh Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadinignrat, SE, yang merupakan putra mahkota Sultan Kasepuhan XIII, Dr H Maulana Pakuningrat, SH.

Sedangkan di Keraton Kanoman, upacara dipimpin Pangeran Raja Muhammad (PRM) Emiruddin dan Patih Pangeran Qodiran untuk mengawal prosesi arak-arakan Nasi Jimat dari Bangsal Jinem ke Masjid Agung Kanoman. Kepemimpinan Emirudin menjadi semacam penegasan sebagai Sultan Kanoman XII pengganti Pangeran Raja Mohammad Djalaluddin, Sultan Kanoman XI.

Ritual Keramat

Prosesi Panjang Jimat diantaranya berisi arak-arakan nasi tujuh rupa atau Nasi Jimat yang melambangkan hari kelahiran manusia dari Bangsal Jinem yagn merupakan tempat sultan bertahta ke masjid atau mushala keraton. Nasi Jimat itu diarak dengan pengawalan 200 barisan abdi dalem yang membawa symbol-simbol. Barisan pertama adalah pembawa lilin, yang bermakna penerang. Lalu iring-iringan pembawa perangkat upacara seperti manggaran, nadan dan jantungan, yang melambangkan kebesaran dan keagungan.

Selanjutnya, berturut-turut iringan pembawa air mawar dan kembang goyang, perlambang air ketuban sebelum lahirnya jabang bayi dan usus atau ari-ari yang mengakhiri kelahiran. Kemudian iring-iringan pembawa air serbat yagn disimpan di 2 guci yang melambangkan darah saat bayi dilahirkan. Kemudian 4 baki yang menjadi lambing 4 unsur yang ada dalam diri manusia, yakni angin, tanah, api dan air.

Setelah iring-iringan pengawal lengkap berkumpul di Bangsal Purbayaksa, putra Mahkota PRA Arief atas izin Sultan Kasepuhan, memimpin arak-arakan menuju Langgar Agung sejauh 100 meter. Arak-arakan yang keluar dari Bangsal Purbayaksa disambut di luar keraton oleh pengawal pembawa obor. Ini merupakan perlambang Abu Thalib, paman nabi menyambut kelahiran bayi Muhammad pada malam hari yang kemudian menjadi manusia agung.

Arak-arakan ini menuju Langgar Agung (mushala). Di sana, Nasi Jimat Tujuh Rupa itu dibuka berikut sajian makanan lain termasuk makanan yang disimpan dalam 38 buah piring pusaka. Piring pusaka ini dikenal amat bersejarah dan paling dikeramatkan karena merupakan peninggalan Sunan Gunung Djati, dan berusia lebih dari 6 abad. Di Langgar Agung ini dilakukan shalawatan serta pengajian kitab Barjanzi hingga tengah malam.

Pengajian dipimpin imam Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan. Setelah itu makanan tadi disantan bersama-sama. Di sinilah kejadian unik berlaku. Rakyat yang berjubel-jubel di luar masjid, berusaha berebutan menyalami atau sekadar menyentuh tangan PRA Arief, Sultan Kasepuhan. Dalam keyakinan masyarakat, bila berhasil menyentuh calon Sultan tersebut, maka ia akan mendapatkan berkah dalam kehidupannya. Tak heran bila PRA Arief mendapat pengawalan ketat dari pengawal keraton.

Ngalap Berkah

Menurut keterangan, peringatan maulud Nabi Muhammad saw merupakan warisan dari kalifah Sholahuddin Al Ayubi, sekitar 700 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad. Sholahuddin selalu merayakan maulud dengan berbagai upacara yagn berlangsung amrak. Tujuannya agar umat muslim selalu ingat dan meneladani Muhammad. Di Cirebon, Pangeran Cakrabuana mengadopsi perayaan itu dan disesuaikan dengan adapt dan istiadat setempat. Dan sampai sekarang dikenallah apa yang disebut upacara Panjang Jimat.

Di Keraton Kanoman, sejak 17 April atau 7 Rabiul Awal, Gamelan Saketi (Sekaten) yang merupakan peninggalan Sunan Gunung Djati ditabuh diiringi shalawat dan puji-pujian karya Sunan Kalijaga “Lir Ilir”. Gamelan Sekati juga mengiringi prosesi Panjang Jimat. Akhir upacara, dilakukan prosesi “Buang Takir”, dimana gamelan yang selama 5 hari ditabuh, akan diistirahatkan dan ditabuh lagi pada upacara Panjang Jimat tahun depan. ***



0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP