17 Agustus 2009

Titisan Bung Karno & Ratu Kidul

Kampung Panunggulan RT 01 RW 08, Desa Babakan, Kec. Tenjo, Kab Bogor, cukup terpencil dan jauh dari keramaian. Namun dari situlah kegegeran berawal. Pasangan suami istri, Andi Antoni Setiawan (28) dan Yati Astari (20), tiba-tiba membuat pengakuan mengejutkan. Mereka membeber jatidiri yang sesungguhnya. Andi yang lahir di Blitar, mengaku sebagai titisan Bung Karno. Dan Yati Astari, warga asli Panunggulan, mengaku titisan Ratu Kidul. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Nama Andi dan Yati mendadak disebut-sebut orang. Bukan apa-apa, dari mulut pasangan muda itulah terluncur pengakuan nyeleneh, sekaligus mengejutkan. Sang suami, Andi Antoni Setiawan, tak hanya mengaku sebagai titisan Bung Karno, melainkan wujud dari Bung Karno itu sendiri. Dalam sehari-hari, Andi menyebut Abimanyu untuk nama lainnya. Sementara sang istri, Yati Astari, mengaku sebagai titisan Ratu Kidul, penguasa laut selatan. Nama lainnya adalah Ibu Ratu Siti Ningrum, Ibu Nyai Roro Kidul dan Ibu Suri Keraton Biru Kasepuhan Laut Kidul. Rumahnya yang berdinding bilik bambu di Kampung Panunggulan, disebutnya sebagai Keraton Biru.

Pengakuan yang menimbulkan cemooh dari masyarakat ini terjadi Minggu (23/5/2004) silam. Namun pasangan ini tak peduli. “Biarlah orang berkata apa saja tentang kami. Mereka tidak tahu bila kami sedang berjuang demi rakyat dan negara ini,” tutur Andi. Memang, memproklamirkan pengakuan itu, pasangan ini tak cuma modal dengkul. Ada segudang bekal yang telah dipersiapkan. Selain benda-benda pusaka yang diakuinya sebagai milik Bung Karno, seperti tongkat komando, keris, dan lain-lain, juga kemampuannya berbicara. Baik Abimanyu maupun Yati, terbilang mahir bertutur kata.

Pengakuan nyeleneh

Suasana politik yang ingat bingar oleh ritual pemilihan umum, bisa jadi merupakan momen yang pas bagi pasangan ini untuk membuat pengakuan aneh. Sehingga hawa politik yang panas, bisa membuat pengakuan itu melambung, dan mendapat perhatian dari sana sini. Artinya, ada dugaan kuat kedua orang ini hanya mencari popularitas di tengah situasi negara yang tengah sibuk menghadapi pergantian pimpinan dan pemerintahan.

Namun, dugaan ini dengan tegas dibantah Andi. Pria kelahiran Blitar, tanggal 16 Juli ini mengungkap alasannya. Menurut dia, kondisi negara ini sudah gawat. Telah terjadi krisis muntidimensi yang mengkhawatirkan. “Negara ini kehilangan jamus kalimasadha,” ucapnya. Maksudnya tiada lain, negara ini telah kehilangan figur, kekuatan dan pamor, sehingga menjadi morat-marit. “Saya ingin negeri ini kembali seperti jaman Bung Karno yang mempunyai wibawa di mata masyarakat dunia,” alasannya.

Pada jaman Bung Karno, bebernya, nama Indonesia harum dimata internasional. Nusantara bukan hanya dihormati, tapi juga disegani. Amerika Serikat sebagai negara adidaya, tidak berani macam-macam dengan Indonesia. Bung Karno sebagai pemimpin kala itu, bahkan berani dengan lantang berteriak, “Go To Hell America!” (Pergilah ke neraka Amerika!) “Pendeknya, cita-citanya menjadikan Indonesia mercusuar dunia nyaris tercapai, ketika itu,” terang Andi.

Sayangnya, belum tercapai cita-cita itu, pemerintahan Bung Karno berakhir dan beralih ketangan Soeharto. Sejak itu pembangunan memang berjalan, namun sifatnya semu. Karena dibangun di atas tumpukan utang kepada negara lain. Akibatnya, Indonesia semakin terpuruk. Era reformasi pun, tak memberi banyak harapan. Bahkan arahnya semakin melenceng. Korupsi makin merebak di mana-mana. Menurut Abimanyu, dulu Bung Karno hanya menitipkan bangsa ini kepada orang lain, yakni Soeharto. “Kutitipkan bangsa ini kepadamu,” cetus Abimanyu menirukan ucapan Bung Karno dengan suara lantang.

Inilah saatnya kebangkitan kembali Bung Karno. Ia akan mengambil alih kembali negeri ini, meski dengan cara yang lain. Abimanyu sendiri lantas me-warning Presiden Megawati, yang berkuasa saat ini, untuk datang kepadanya. Bila dalam waktu lima belas hari, terhitung sejak hari Minggu (23/5/2005), tidak juga datang kepadanya, maka karir Megawati sebagai presiden akan habis. Kendali pemerintahan berikutnya akan diserahkan kepada Amien Rais. “Karena langkahnya akan diamini oleh Yang Maha Kuasa,” ungkap Abimanyu.

Selain mengaku sebagai titisan Bung Karno, Andi alias Abimanyu ini juga mengaku memegang harta amanah. Yakni harta titipan yang dikumpulkan semasa Bung Karno berkuasa, untuk mensejahterakan rakyat. Harta ini, kata Abimanyu, jumlahnya sangat banyak dan tersimpan diberbagai tempat di tanah air. Seperti diungkap Yati, jumlah harta itu lebih dari cukup untuk melunasi utang-utang negara yang mencapai ratusan triliun. “Hanya saja mencairkannya harus memenuhi beberapa persyaratan,” tuturnya.

Yati alias Ibu Sukma alias Khairunnisa, tak mau berkomentar banyak soal harta amanah. “Itu masalah sensitif,” katanya pendek. Selama ini, sambungnya, banyak yang datang mencari Bapak (Bung Karno atau suaminya, red). Tapi mereka tidak pernah dikasih tahu. Sebab tujuan mereka hanya untuk menanyakan keberadaan harta amanah, ujar Yati. Namun ketika didesak, Yati mengungkap bila di Jawa Barat saja ada tiga tempat menyimpan harta amanah. Salah satunya di Banten, ketika masih menyatu dengan propinsi Jawa Barat.

Gerakan Bawah Tanah

Ramai-ramai pengakuan titisan Bung Karno dan Ratu Kidul ternyata cukup mengejutkan warga setempat. Masalahnya selama ini, keseharian pasangan muda itu tampak biasa-biasa saja. Tak ada yang janggal dalam diri mereka. Hanya saja, perilaku Yati kerap dipandang nyeleneh. Misalnya soal cara bertutur yang melebihi warga kampung lainnya. Yati dinilai pintar bicara, meski terkadang dianggap tak logis. Sedangkan Andi diketahui warga sebagai pendatang yang menikahi Yati secara baik-baik.

Namun dibalik semua itu, seperti diakui Yati, sesungguhnya mereka melakukan gerakan di bawah tanah. Yakni berjuang untuk memperbaiki kondisi negara ini. Nah, karena waktunya saat ini dianggap tepat, maka perjuangan yang selama beberapa tahun dirintis itu dibeberkan kepada khalayak. Dengan harapan rakyat mau bersama-sama berjuang memperbaiki negara ini. “Kalau hal ini dibiarkan terus menerus, maka negara ini akan hancur,” kata Yati.

Abimanyu juga tengah menyiapkan energi baru. Yakni sebuah perhimpunan yang akan menjadi kendaraan dirinya melakukan perjuangan. Kendaraan itu bernama Himpunan Keluarga Besar Rakyat Indonesia. Bahkan bendera HKBRI kini sudah siap untuk dikibarkan. “Bila HKBRI sudah beroperasi, maka semua partai-partai akan berguguran. Sebab semuanya sudah tercakup dan akan disatukan dalam satu himpunan besar, yakni HKBRI,” jelas Abimanyu. *

Sering Dikunjungi Kanjeng Ratu Kidul


Pengakuan Yati Astari alias Ratu Kidul alias Ibu Ratu Siti Ningrum

Wanita berperawakan tinggi kurus ini terbilang muda. Ia lahir di Kampung Panunggalan, 17 Agustus, dua puluh tahun silam. Bila melihat usianya, sulit rasanya membayangkan sebuah pengakuan titisan Ratu Kidul pada dirinya. Namun Yati bukan wanita sembarangan. Ia hanya lulusan SD di kampung. Saat usia 15 tahun, Yati merantau ke Jakarta. Saat itulah kepergiannya menggegerkan isi kampung. Pasalnya, sejak Yati meninggalkan rumah, keberadaannya tak diketahui lagi.

Yati menghilang bagaikan ditelan bumi. Tak ada secuil kabarpun yang memberitahu dimana Yati berada. Sanak famili dan para tetangga telah berusaha mencari Yati di Jakarta. Tapi hasilnya nihil. Mereka nyaris putus asa. Barulah setahun kemudian, tiba-tiba saja Yati muncul, dan pulang ke rumah. Hanya saja, perilaku Yati berubah 180 derajat. Yati sekarang sangat jauh berbeda dengan Yati yang dulu. Yati terlihat seperti orang stress. Namun ketika bicara, suaranya meledak-ledak. Tampak seperti wanita yang cerdas, lulusan perguruan tinggi.

Meski didesak sanak famili, Yati tak pernah mau mengungkap kepergiannya selama setahun. Usia 19 tahun, datang seorang pemuda bernama Andi, asal Blitar, meminangnya. Mereka pun menikah dengan upacara sederhana. Kini Yati tengah mengandung 8 bulan. Sang suami, juga tak banyak tingkah. Dia diketahui bekerja di Jakarta, yang saban minggu selalu pulang untuk berkumpul bersama sang istri.

Yati sendiri mengaku sebagai titisan Ratu Kidul, dengan nama lain Ibu Ratu Siti Ningrum, Ibu Nyai Roro Kidul Ibu Suri Keraton Biru Kasepuhan laut kidul. Yati mengaku kerap bertemu dengan Ratu Kidul. Kanjeng ratu, katanya, selalu datang pada waktu-waktu tertentu. Biasanya bila dirinya tengah menghadapi persoalan. “Sejak kemari Ratu Kidul membolehkan saya cerita apa saja, tapi harus hati-hati,” tutur Yati.

Yati yakin dirinya titisan Ratu Kidul. Antara lain berdasarkan ciri-ciri kelahirannya. Waktu dilahirkan ada tanda khusus. Sebelah kiri tubuhnya berwarna kuning, dan sebelah kanan warna biru. Setelah itu, umur 15 tahun menghilang selama setahun. “Sebenarnya, setelah tidak ada di sini, saya merasa banyak yang datang kepda saya. Tapi orang-orang mengatakan saya suka ngomong sendiri. Padahal saya berada di tempat lain, mengalami penggodokan dalam banyak hal, termasuk ilmu-ilmu agama,” ungkapnya. Selama menghilang itu, Yati mengaku pernah pulang ke rumah sebanyak tiga kali. Tapi kata orang tua mengatakan baru sekali.

Ingin Ketemu Megawati

Yati mengaku saat ini tengah melakukan perjuangan memperbaiki nasib negeri. Selama apa yang disebut Yati sebagai masa perjuangan, Yati mendapat titipan berupa sebentuk cincin untuk diberikan kepada presiden Megawati. Dan sejak setahun silam, niatnya bertemu Megawati hampir kesampaian. Hanya saja sang suami melarangnya. “Ada satu titipan yang harus dipakai Ibu Megawati,” tuturnya.

Pertemuannya dengan sang suami, cerita Yati, merupakan garis takdir. Andi sendiri yang datang ke sini, lalu memperkenalkan diri dengan nama Abimanyu. Namun, sebelum ketemu Andi yang mengaku Abimanyu, Yati sudah ketemu dengan orang-orang gaib. Mereka berpesan agar saya mencari lelaki yang namanya Abimanyu. “Setelah saya cari tidak ketemu. Ada yang namanya Abimanyu tapi ternyata bukan. Nah selama pencarian itu, saya menemukan banyak sekali yang mengaku Soekarno. Sejak itu saya stop perjalanan saya. Terus saya tinggal di rumah. Beberapa bulan kemudian, dia (Andi) datang sendiri ke sini,” beber Yati.

Semula, Yati sendiri ragu, apakah benar dia Abimanyu yang dicarinya selama ini. Tapi akhirnya dia sadar, ternyata pria itulah yang dicari. “Bapak (Andi atau Bung Karno, red) itukan kalau ngomong bibirnya naik ke atas sedikit. Itu yang saya tahu dari ciri-ciri Soekarno. Dan cirri-ciri seperti itu ada pada Andi,” ungkap Yati. Uniknya, Andi sendiri mengaku telah mencari Yati selama tiga tahun. Dalam pencarian itu dia banyak menemui tokoh-tokoh penting, hingga keluar masuk belantara Banten. “Tapi akhirnya ketemu di Panunggalan,” ungkapnya lagi.

Kata Yati, yang dikatakannya sebagai Soekarno itu benar. “Saya mengatakan ini tidak tega sama dia. Saya sendiri kaget, terharu, kok bisa ke sini,” tutur Yati sambil terisak. Banyak yang datang mencari dia, tapi tidak diberi tahu. “Dan sekarang ini sudah waktunya, maka saya buka. Andi itu tempat (boko), jadi tempat titisan Soekarno. Saya sebenarnya juga sedih dia dicemooh orang. Tapi saya tahu persis siapa dia, dan bagaimana perjuangannya.” *


---------------
Andi Antoni Setiawan alias Abimanyu alias Bung Karno

Karakter pria kelahiran Blitar ini tegas dan berani. Sorot matanya tajam, gaya bicaranya berapi-api. Andi Antoni Setiawan mengaku titisan Bung Karno. Dalam banyak kesempatan, Andi kerap memperkenalkan diri dengan nama Abimanyu. Seperti diterangkan Yati, istrinya, nama itu disandangnya karena membawa Cakra Emas. Cakra emas itu semacam kenabian atau wahyu dari Yang Maha Kuasa. “Cakra emas itu boleh dibilang baju plus isinya yang disebut antakusuma. Orang-orang sekarang bilangnya reinkarnasi. Kalau dulu bilangnya cakra emas atau lahir kembali. Cakra emas kalau dimasukkan ke negara adalah burung garuda,” jelas Yati.

Menurut Yati, sebelum meninggal, Bung Karno pernah mengatakan bahwa beliau menitipkan negara ini kepada kamu, dan suatu saat akan saya ambil kembali. Dan sekarang inilah saatnya negara ini diambil kembali. Sebab dulu hanya dititipkan. Setelah reinkarnasi mau diambil kembali. “Makanya waktu banyak yang nyari-nyari Soekarno, saya diam saja. Sebab saya tahu dia di sini. Ada yang nyari ke sini pun tidak saya kasih tahu. Pertama, untuk ke selamatan. Kedua, yang mencari Soekarno itu hanya untuk mengejar hartanya. Hartanya itu milik istri pertamanya, yang di selatan. Itu sebabnya tidak saya kasih tahu,” beber Yati.

Andi sendiri mengaku sebagai pewaris keraton Gebang yang ada di Kota Blitar, Jawa Timur. Dari kakeknya, dia menyebutkan keturunan Sunan Bonang. Andi alias Abimanyu mengatakan bila dirinya tidak mengaku-ngaku Bung Karno. Namun dia sendiri merasa adalah wujud dari Bung Karno itu. Pengakuan itu didasarkan kondisi negara yang genting. “Negara ini kehilangan Jamus Kalimosodho. Yakni kehilangan figur, kekuatan dan pamor, sehingga tampak morat marit,” tuturnya.

Abimanyu ingin negara ini kembali seperti jaman Bung Karno yang punya wibawa di mata dunia. Yang terjadi saat ini adalah negara kita kehilangan wibawa, bahkan dihina oleh negara-negara lain. “Nusantara terpuruk,” tandasnya. Orang-orang tua negeri ini, kata Abimanyu, sudah hilang. Sehingga dirinya ingin mempersatukan kembali anak-anak bangsa ini. Dia juga berpesan kepada Presiden Mgawati untuk bertobat terhadap dosa-dosanya yang sudah dilakukan. Mega juga dianjurkan sadar dan patuh pada nasehat para orang tua.

“Kalau itu yang dilakukan maka ia layak kembali menjadi pemmpin bangsa ini. Kalau tidak, maka saya serahkan bangsa ini pada Amien Rais, biar negara ini diamini oleh Tuhan YME,” katanya. Abimanyu itu adalah yang dituakan para sesepuh tanah Jawa. Seperti Mbah Kancil di Banten, Raja Badui Dalam, Kyai Oyot di Cianjur, Mbah Anom penguasa Sumur Tujuh (Cibulang), Gunung Ciremai dan tetua lainnya. “Kami sudah bersidang pada bulan Maulud yang lalu di Istana Bogor dan sudah diputuskan agar saya turun untuk menyelamatkan bangsa ini,” ujarnya.

Menurut Abimanyu, dirinya bisa mebuka tabir harta karun milik negara yang tersimpan di perut bumi nusantara. Namun, dia tidak mau gegabah seperti banyak orang yang mengaku bisa mengeluarkan harta karun itu asal ada kekuatan hukum sendiri dari negara. “Ini bukan main-main dan merupakan amanah yang diberikan pada dirinya dari para sesepuh tadi,” ungkapnya lagi. Abimanyu mengatakan bila menjadi pemegang amanah itu tidak boleh sombong. Sebab harta yang dipegangnya itu merupakan titipan yang harus dipergunakan untuk kepentingan rakyat. ***



0 komentar:

Poskan Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP