05 Agustus 2009

Situs Astana Gede Kawali

Situs Astana Gede di Dusun Indrayasa, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Ciamis ini menyimpan kandungan histori yang amat tinggi. Ada nilai-nilai luhur terbubuhkan di sini. Adalah Raja Wastu Kancana yang menorehkan pesan-pesannya di atas bongkahan batu cadas. Uniknya, pesan-pesan itu ditoreh menggunakan tangannya. Apa isi pesan mistis sang prabu?

Masyarakat luas lebih mengenal Situs Astana Gede ini dengan nama Prasasti Kawali. Di kompleks ini terdapat sembilan situs yang sangat dilindungi. Dari sembilan situs ini, beberapa diantaranya terdiri dari batu bertulis atau prasasti. Menurut penelitian kepurbakalaan, situs-situs ini adalah tinggalan Prabu Wastu Kancana pada abad ke-13 masehi. Pada masa itu, beliau dikenal sebagai raja muda yang arif dan bijaksana. Selain itu, Prabu Wastu dikenal pula sebagai raja yang sakti mandraguna.

Ketika Prabu Wastu memerintah, kondisi rakyat berada dalam kesejahteraan, adil dan makmur. Tak heran bila sang raja berhasil memimpin negeri di tanah Kawali mencapai 104 tahun lamanya. Seperti diurai juru kunci kompleks Astana Gede, Akup Wiria (65), Prabu Wastu adalah raja yang naik tahta pada umur 24 tahun dan berumur panjang.

Karena cita-citanya yang ingin agar rakyat Kawali adil dan makmur, maka diakhir hayatnya, sang prabu menorehkan pesan-pesan mistis di atas beberapa bongkah batu cadas yang keras. Uniknya, torehan pesan bijak tersebut dilakukan dengan telunjuk tangannya. Hal seperti ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang biasa. Dan prabu Wastu telah menunjukkan kadigdayaannya agar pesan-pesannya dikenang sepanjang masa. Yang tidak kalah mengherankan juga terjadi pada sebongkah batu masih di kompleks itu pula. Di situ terdapat bekas telapak kaki sang prabu.

Menyala sendiri

Dan memang, sejarah telah membuktikan. Berabad-abad kemudian, prasasti-prasasti ini ditemukan dan dijadikan benda cagar budaya yang dilindungi. Anehnya, kawasan yang tak lebih dari 200 meter persegi ini sangat mengesankan kehidupan tempo dulu. Menurut beberapa peziarah dan pengunjung Astaga Gede, terasa betul ada hawa mistis yang seolah-olah menyelimuti tempat ini. “Kalau berada di sini kita seperti hidup di masa yang lalu,” tutur Samsudin (43), salah seorang pengunjung.

Selain situs dan makam keturunan kerajaan Kawali, di kompleks Astana Gede ini masih ditumbuhi pohon-pohon berusia tua. Terlihat dari akar-akarnya yang panjang melingkar dan menyembul keluar. Kondisi ini semakin mengukuhkan Astana Gede sebagai tempat yang tidak lekang dimakan zaman.

Seperti diungkap juru kunci Akup Wiria, kompleks Astana Gede boleh dibilang amat keramatkan masyarakat. Itu tak lain karena ada pesan-pesan luhur yang ditorehkan karuhun (leluhur) untuk generasi penerus. Bahkan pada hari-hari tertentu, kompleks ini sering dikunjungi oleh para peziarah. Tujuannya mereka tidak lain untuk ngalap berkah.

Namun Akup Wiria menyayangkan karena pesan-pesan yang terdapat di Astana Gede cenderung diabaikan oleh generasi sekarang, terutama para pimpinan. “Makanya jangan heran bila sekarang bangsa ini tengah diancam kehancuran. Soalnya mereka terutama sibuk dengan urusan pribadi. Mereka lupa nasib rakyatnya dan juga pesan-pesan leluhur,” tandas juru kunci yang sudah puluhan tahun menjaga Astana Gede,

Misalnya pada Prasasti I, terdapat tulisan berbunyi, “Inilah bekas beliau yang mulia prabu Wastu Kancana, yang berkuasa di kota Kawali yang memperindah keraton Surawisesa yang membuat parit di sekeliling ibukota yang memakmurkan seluruh desa. Semoga anda penerus yangmelaksanakan berbuat kebajikan agar lama jaya di dunia.”

Lalu para prasasti II, “Semoga ada yang menghuni di Kawali ini yang melaksanakan kemakmuran dan keadilan.” Dan prasasti IV, “Dari rasa yang ada yang menghuni kota ini jangan berjudi, bisa sengsara.” Semua pesan-pesan itu, kata Akup, sangat cocok dengan kondisi sekarang. Dan buktinya tidak diindahkan. Wajar bila negara ini dalam krisis berkepanjangan.

Menyala sendiri

Pada waktu-waktu tertentu, di tempat ini kerap muncul isyarat aneh. Masyarakat di sana sudah mengerti bila isyarat itu muncul dari para arwah leluhur. Misalnya ketika ada keramaian seperti pertunjukan seni. Suatu ketika, pernah ada pertunjukan seni tradisional yang digelar siswa-siswa sekolah dasar di Ciamis. Pertunjukan dilangsungkan pada malam hari di depan pintu masuk kompleks. Kebetulan, cerita yang dipertunjukkan bertema perang bubat.

Seperti biasa, sarana penerangan hanya menggunakan obor-obor yang disediakan setinggi 6 meter. Pertunjukan itu ditonton banyak orang. Ketika pertunjukan berlangsung, terjadilah keajaiban. Tiba-tiba obor-obor itu menyala dengan sendirinya. Padahal, tak ada seorang pun yang menyalakannya. Lebih aneh lagi, nyala obor yang semula sebuah ini, merembet ke puluhan obor lain. “Itulah salah satu isyarat yang biasa muncul di tempat ini,” kata Akup. ***


0 komentar:

Poskan Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP