18 Agustus 2009

Simbol Suksesi Kepemimpinan

Kabuyutan Ciburuy adalah tempat yang sunyi dan sakral. Para karuhun yang tiada lain orang-orang penting kerajaan Sunda, rupanya sengaja mendirikan tempat ini agar terisolasi dari keramaian duniawi. Selain itu, agar eksistensi kehidupan damai mereka terabadikan hingga akhir zaman. Jangan heran bila masyarakat sekitar mengeramatkan, bahkan menjadikannya bagai pusaka.

Penilik Kebudayaan Dinas Dikbud Kecamatan Bayongbong mengatakan bila pengaruh agama Hindu di Tatar Sunda pada masa lalu boleh dibilang amat dominan dibanding daerah Jawa tengah dan timur. Tapi ironisnya, di tanah Sunda sulit ditemukan bangunan tempat ibadah agama Hindu berbentuk candi atau pura. Candi yang ada di kawasan ini sebut saja Cangkuang, Garut dan Bojongmenje, Rancaekek, Bandung.

Kabuyutan Ciburuy yang kerap disebut tanah Dewa Sasana ini merupakan bukti leluhur Ciburuy yang kuat memegang spirit magis religius. Kabuyutan ini dulunya dijadikan tempat peribadatan dan pemujaan. Sekaligus cita-cita dari akhir kehidupan para petinggi kerajaan yang baik. “Sering ditemukan kisah raja sunda yang mengakhiri hidup dan masa tuanya dengan menjadi seorang raja resi atau pertapa,” ujarnya.

Dalam pandangan tokoh-tokoh kerajaan masa lalu, menjadi seorang resi, wiku, pandita atau pertapa, merupakan perilaku yang bijak dan sempurna dalam hidup di dunia. Sehingga wajar bila sang raja seperti ini akan berhasil dalam ngeuyeuk dayeuh ngolah nagara (mengatur pemerintahan). Sebab, sang raja mampu menyeimbangkan antara tugas menjalankan roda pemerintahan dengan ketaatan menekuni perintah sang pencipta, dan juga menghormati trandisi.

Simbol suksesi

Kabuyutan Ciburuy adalah jejak sejarah masa silam. Hal itu terinci jelas dengan adanya naskah-naskah dari daun lontar dan nipah. Meski belum tergali keseluruhan, namun sebagian isi naskah menyiratkan ajaran dan petuah. Antara lain berkenaan dengan filsafat, logika, etika dan estetika. Naskah lontar dan nipah ini merupakan amanat petinggi kerajaan tanah Sunda, yakni Prabu Guru Dharmasiksa Paramarta Mahapurusa, yang terkenal dengan gelar Sanghyang Wisnu.

Dalam amanatnya, Raja Sunda Prabu Guru Dharmasiksa menginginkan anak cucu dari keturunannya tetap mempertahankan dan menjaga martabat leluhur. Dharmasiksa adalah tokoh yang luar biasa. Cermin pemimpin yang patut diteladani. Dialah raja yang paling lama menduduki singgasana kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. Karirnya pun melejit mulai dari penguasa daerah bawahan di Saunggalah (kabupaten Kuningan, Jabar saat ini).

Dan kala itulah peristiwa suksesi kerajaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meski bukan keturunan raja, Dharmasiksa bisa naik tahta dengan damai dan tanpa pecah perang saudara. Dharmasiksa adalah satu diantara raja-raja bawahan yang berhasil menjadi raja Pusat. Inilah satu hal yang menurut catatan penilik Kebudayaan Bayongbong sebagai peristiwa suksesi yang paling damai. Rupanya, kenegarawanan serta sikap pribadi Prabu Dharmasiksa yang luhur, ia bisa menjadi pemimpin yang diharapkan rakyat.

Dukuh Ciburuy

Kabuyutan Ciburuy terletak di kampung Ciburuy, Desa Pamalayan, Bayongbong, Garut. Menuju ke sana bisa ditempuh dari dua arah. Salah satunya melalui jalan Cigedug menuju daerah tenggara dari jalan raya Bayongbong sejauh kurang lebih 3,5 Km. Dari jalan raya inilah perjalanan diarahkan menuju lereng gunung Cikuray. Lokasi Kabuyutan Ciburuy memang agak terpencil.

Dulu, ketika kabuyutan ini pertama didirikan, diperkirakan kawasan ini masih sepi. Bahkan tak banyak orang yang tahu dan menjamahnya. Kini Ciburuy telah menjadi perkampungan yang ramai. Akan tetapi, perilaku masyarakat kampung Ciburuy masih mencerminkan tradisi-tradisi leluhur yang berhubungan dengan keberadaan kabuyutan. Dan ini yang membedakan masyarakat kampung Ciburuy dengan daerah lainnya.

Selain itu, ciri-ciri fisik masyarakat Ciburuy gampang dibedakan, yakni memiliki postur tubuh yang rata-rata pendek dan bermata pencaharian bertani. Untuk memperkokoh keteguhan terhadap pelestarian tradisi karuhunnya, masyarakat Ciburuy membentuk semacam lembaga yang dinamakan Tukuh Ciburuy. Tukuh Ciburuy ini pula membedakan masyarakat Ciburuy dengan masyarakat desa lainnya di Bayongbong. *

Baca juga :
Mengunjungi Kabuyutan Ciburuy Garut
Ritual Warga Kabuyutan Ciburuy


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP