11 Agustus 2009

SAYUTI “NABI” AKHIR ZAMAN

Bandung digegerkan seorang yang mengaku nabi terakhir. Pengakuan itu tertuang dalam dua buah buku yang ditulisnya. Ahmad Sayuti, “nabi” akhir zaman ini pun harus berurusan dengan polisi. Namun akhirnya ia pun bertobat dan menyatakan kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya.

Pasca pengakuan nabi oleh Ahmad Mosadeq pimpinan Alqiyadah Al Islamiyah beberapa waktu lalu, kini Bandung digemparkan lagi oleh Mohammad Sayuti atau Ahmad Sayuti (70) yang juga mengaku sebagai nabi. Bahkan dengan tegas ia menyatakan diri sebagai nabi terakhir, dan Muhammad yang disebut-sebut dalam kitab suci Alquran sesungguhnya tiada lain adalah dirinya sendiri.

Pernyataan pengakuan sebagai nabi ini terurai dalam dua buah buku yang beredar secara terbatas sejak 2005. Dua buku itu ditulis dan diterbitkan sendiri oleh Ahmad Sayuti. Buku pertama berjudul "Kelalaian Para Pemuka Agama dalam Memahami Kitab-kitab Peninggalan Nabi-nabi Rasul Allah (Taurat, Injil dan Alquran) dengan Segala Akibatnya". Dan buku kedua berjudul "Mungkinkah Tuhan Murka". Pengakuan Sayuti sebagai nabi terakhir, tertulis dalam bukunya yang terakhir halaman delapan.

Dalam buku-bukunya itu, Sayuti tak hanya mengaku sebagai nabi. Ia juga menyatakan bahwa kitab suci Taurat, Injil dan Al-Qur'an bukanlah firman Allah. Ketiganya hanya perkataan para nabi. Dan uniknya, buku yang dicetak secara swadaya dan terbatas oleh Sayuti ini, juga dikirim ke beberapa ormas Islam di Bandung, seperti ICMI dan lainnya.

Tentu saja, pengakuan ‘nyeleneh’ Sayuti ini ini pun menimbulkan reaksi sejumlah ormas Islam. Hingga kemudian berujung ditangkapnya Ahmad Sayuti oleh aparat Polsek Kota Regol, Jalan Moch Toha, Kota Bandung, Rabu (6/2/2008) lalu. Menurut polisi, warga Jl. H. Samsudin No. 3, Ciateul, Kota Bandung, ini dinilai meresahkan masyarakat lantaran pengakuannya sebagai nabi atau rasul terakhir.

Dihadapan polisi, Ahmad Sayuti tetap mengaku sebagai nabi dan rasul terakhir. Namun sejauh itu, polisi masih belum berani memutuskan kasus kenabi Ahmad Sayuti ini. Terutama menyangkut pelanggaran hukum yang mungkin muncul setelah yang bersangkutan memproklamirkan diri sebagai nabi. “Kami masih menunggu fatwa MUI dan Pengawas Aliran dan Kepercayaan Masyarakat (PAKEM), apakah kasus Ahmad Sayuti mengandung sisi pelanggaran hukum atau tidak,” kata Kapolwiltabes Bandung Kombes Bambang Suparsono.

Atas dasar itu, polisi belum melakukan langkah-langkah hukum terhadap sang nabi. Pemeriksaan dilakukan hanya sebatas mendengarkan keterangan dan pengakuannya saja. Sehingga saat diperiksa dan sesudahnya tidak ada penahanan. Kapolwil menjelaskan, langkah kepolisian dengan melakukan pemanggilan kepada Ahmad Sayuti ditempuh sebagai respon atas pengakuan kenabian Ahmad Sayuti. Langkah ini dilakukan, untuk mencegah dampak buruk yang mungkin akan muncul.

Usai diperiksa polisi, Ahmad Sayuti mengaku dirinya tidak mempercayai ajaran Alquran. ”Isi yang terkandung dalam Alquran bukanlah firman yang diturunkan Allah, melainkan cerita Nabi Muhammad,” katanya kepada wartawan. Dan selama ini, kesalahan dalam Alquran menjadi penyebab utama terpecah belahnya umat Islam. “Saya prihatin melihat umat Islam saling gontok-gontokan. Saya ingin menyatukan kembali umat Islam yang terpecah belah itu,” katanya lagi.

Putar Balik Fakta

Wakil Ketua Persatuan Islam Jawa Barat, Rahmat Nadjieb mengatakan, kedua buku yang ditulis Ahmad Sayuti itu telah memutarbalikkan fakta dan kebenaran. Berdasarkan penelitian dan investigasi Persis pada kedua buku ini, Ahmad Sayuti menganggap dirinya sebagai nabi yang diutus Allah dan Nabi Muhammad bukan nabi terakhir. "Ini jelas sebuah pemutarbalikkan fakta yang sebenarnya," kata Rahmat.

Ahmad Sayuti pun, lanjutnya, menganggap kalau Alquran adalah kitab hukum bahasa Arab peninggalan Nabi Muhammad putra Abdullah yang ditulis oleh para sahabatnya atas perintah Muhammad. "Dia mengaku kalau Alquran turun pada tahun 1993 saat dirinya mendapatkan wahyu," ungkap Rahmat.

Penyimpangan lain yang dikemukakan Sayuti dalam bukunya, lanjut Rahmat, mengganti bacaan shalat kecuali surat Alfatihah. "Dia juga menganggap tafsir Alquran selama ini hanya kebohongan belaka dan kitab hadist Bukhori hanya kitab bohong yang isinya bukan perkataan Nabi Muhammad," katanya.

Dia menjelaskan, dalam dua buku yang terbit pada 2005 itu, Sayuti menganggap Alquran adalah kitab hukum berbahasa Arab peninggalan Nabi Muhammad putra Abdullah, yang ditulis oleh sahabatnya atas perintah Muhammad. Bahkan, Sayuti mengklaim Alquran turun pada tahun 1993 saat dia mendapatkan Wahyu. Penyimpangan lain dalam buku Ahmad Sayuti adalah mengganti bacaan salat, kecuali surat Al Fatihah.

Buku berjudul "Kelalaian Para Pemuka Agama dalam Memahami Kitab-kitab Peninggalan Nabi-nabi Rasul Allah (Taurat, Injil dan Alquran) dengan Segala Akibatnya", bersampul abu-abu. Pada sampul buku setebal 42 halaman itu tertulis Muhammad Sayuti (Ahmad Sayuti) sebagai penyusun dan diterbitkan pada 5 April 2005, tanpa mencantumkan nama penerbit.

Buku kedua yang berjudul "Mungkinkah Tuhan Murka" bersampul hijau. Namun berbeda dengan buku pertama, pada buku kedua setebal 24 halaman itu tak menjelaskan kapan buku tersebut diterbitkan.

Bahasa Sunda

Dalam buku pertamanya yang berjudul Kelalaian Para Pemuka Agama dalam Memahami Kitab-Kitab Peninggalan Nabi-Nabi Rasul Allah (Taurat, Injil,dan Alquran) dengan Segala Akibatnya, Sayuti mengaku menerima wahyu dalam bahasa Sunda pada 1993. Hal tersebut dia tulis pada halaman sembilan buku setebal 42 halaman tersebut.
”Umur saya pada waktu diturunkan Alquran adalah 62 tahun. Dan Alquran ditakdirkan Allah diturunkan kepada saya setelah dimudahkan (diterjemahkan), dengan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia,” tulis Sayuti dalam bukunya.

Kemudian, pada paragraf selanjutnya, Sayuti menuliskan kebingungannya. ”Setelah kitab Taurat dan Injil kemudian Alquran diturunkan dan diwahyukan Allah kepada saya, mula-mula hati dan pikiran saya jadi bimbang tidak karuan dan apalagi namanya saya tidak tahu,”tulisnya.

Dia kemudian memutuskan pergi ke kampung menemui seorang ulama yang cukup terkenal dan akrab.Namun, ulama tersebut malah terheran-heran. ”Kepada siapa saya harus bertanya,karena apa-apa yang telah diturunkan kepada saya bertentangan dengan apa-apa yang saya peroleh dari beberapa ulama, dari beberapa golongan dan bahkan bapak saya sendiri,” tulisnya di halaman 10.

Mengenai pengakuan dirinya sebagai nabi,ditulis Sayuti di halaman 11 buku tersebut. ”Jadi jelas bahwa nama Muhammad nabi yang ummi yang namanya tertera di dalam Alquran adalah saya bukan beliau, beliau salah seorang di antara rasul-rasul yang dilebihkan Allah. Menurut beliau, bagi tiap-tiap umat ada seorang rasul, apabila datang rasul kepada mereka, mereka dihukum dengan adil tanpa kekerasan,” tulisnya lagi. ***


Mengenal “Nabi” Ahmad Sayuti



Tak ada yang menduga Ahmad Sayuti (70), menjadi setenar sekarang. Pasalnya, warga Jl. H. Samsudin, Ciateul, selama ini hanya mengenal Sayuti sebagai tukang cukur rambut. Selain itu, Sayuti dikenal sebagai pria sepuh yang baik dan tidak banyak bicara. Akan tetapi, warga tidak menyangka bila di balik sikapnya itu, ternyata Sayuti adalah seorang “nabi”.

Pernyataan-pernyataan Sayuti yang mengejutkan itu tertuang dalam dua buah buku karangannya yang berjudul "Kelalaian Para Pemuka Agama dalam Memahami Kitab-kitab Peninggalan Nabi-nabi Rasul Allah (Taurat, Injil dan Alquran) dengan Segala Akibatnya", dan "Mungkinkah Tuhan Murka". Melalui dua buku inilah ia tak hanya harus berurusan dengan polisi, tapi juga dengan organisasi Islam seperti Persis dan lembaga MUI. Bahkan pada Kamis (7/2/2008), rumahnya di Jl H Samsudin No 3 Bandung sempat disantroni orang dari sejumlah ormas Islam dan FPI.

Namun saat itu, sang nabi tidak berada di tempat. Beberapa penghuni rumah menyebut bila Ahmad Sayuti tengah pulang ke kampungnya di Singaparna, Kab. Tasikmalaya. Agaknya, pihak keluarga sengaja menyuruh Ahmad Sayuti untuk ‘bersembunyi’ dulu selama kasus kenabiannya masih ramai dibicarakan. Dan memang, Singaparna merupakan kampung halaman dan tempat kelahirannya di tahun 1931.

Ahmad Sayuti sendiri sehari-harinya bekerja sebagai tukang cukur. Pada tahun 1993, Ahmad Sayuti pernah menjadi salah satu khatib salat Jumat di Masjid Al Jihad yang berada di lingkungan tempat tinggalnya. Namun, setelah dia mengaku-aku sebagai nabi, Sayuti tidak pernah dipakai lagi sebagai khatib.

Terima Wahyu

Menurut Ahmad Sayuti, pengakuannya sebagai nabi atau rasul terakhir itu bukan tanpa sebab. Dirinya telah mendapatkan wahyu sebagai nabi pada 1993, saat usianya menginjak 62 tahun. Setelah itulah ia pun menulis dua buah buku yang konon sudah disebarkan kepada sahabat-sahabat dan pihak lain yang diperkirakan sudah lebih dari 100 orang.

Yang paling menonjol dalam bukunya itu antara lain kalimat yang menyebutkan, Alquran adalah kitab hukum bahasa Arab peninggalan Nabi Muhammad putra Abdullah, yang ditulis para sahabatnya atas perintah beliau dan Alquran diturunkan pada 1994 M. Dalam salah satu judul bukunya, Ahmad Sayuti juga menyebut dirinya telah mendapatkan wahyu dari Allah sebagaimana diwahyukan kepada nabi-nabi lainnya dan berisi sejarah, serta perjalanan dirinya saat memperoleh wahyu.

Ahmad Sayuti mengaku wahyu itu diterimanya pada Jumat malam di tahun 1993. Wahyu tersebut diterimanya lewat mimpi. ”Saya bermimpi dan dalam mimpi tersebut saya menerima wahyu. Sampai sekarang pun saya masih sering menerima wahyu,” kata Sayuti.

Berdasarkan keyakinan atas wahyu yang diterimanya tersebut, Ahmad Sayuti mengaku hanya cukup menjalankan salat dua kali dalam sehari, yaitu Magrib dan Subuh. Selain itu, dia juga mengganti bacaan salat, kecuali surat Al Fatihah. Sebelum menerima wahyu, menurut Sayuti, dirinya memang kerap mempelajari Alquran termasuk terjemahannya, baik dalam bahasa Sunda maupun Indonesia.

”Saya sudah pernah berdiskusi dengan ulama dari NU, Muhammadiyah, dan Persis, tapi tidak ada yang bisa menjawab kegelisahan saya. Akhirnya saya memutuskan mempelajari sendiri. Jadi, Alquran yang dibaca sekarang itu bukan firman Allah, melainkan perkataan Nabi Muhammad putra Abdullah. Saya juga belum sempat menyebarkan keyakinan ini,” katanya.

Sayuti menambahkan, setelah menerima wahyu tersebut, dirinya hanya berdoa dan beribadah menurut keyakinan yang dianutnya. Dia juga mengaku sempat memberikan ceramah di daerah Srimahi, Kota Bandung, tetapi ditentang masyarakat setempat.” Waktu itu, dalam ceramah saya katakan kepada mereka bahwa Alquran yang dibaca itu bukan firman Allah, tapi Muhammad putra Abdullah,” tandas Sayuti. ***

0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP