05 Agustus 2009

Sangkuriang Versi Kuningan

Selama ini kita kenal cerita Sangkuriang hanya terdapat di daerah Bandung. Namun, Kabupaten Kuningan pun memiliki cerita itu. Bahkan ada jejak-jejaknya. Beberapa peneliti dan spiritualis membeberkan petunjuk itu. Mereka menyebutnya Sangkuriang versi Kuningan. Di kawasan sebelah timur kabupaten Kuningan, misalnya, ada areal yang kontur geografisnya mirip dengan lokasi-lokasi yang digambarkan dalam legenda Sangkuriang.

Kisah Sangkuriang memang identik dengan Tangkuban Parahu, sebuah gunung yang terletak di kawasan Bandung Utara. Sangkuriang adalah legenda yang diyakini kenyataannya oleh sebagian besar masyarakat Sunda. Ia seorang pemuda tampan dan sakti mandraguna. Dalam penggalan kisahnya, ia kemudian mencintai seorang gadis, Dayang Sumbi, yang tiada lain adalah ibunya sendiri.

Suatu ketika, Dayang Sumbi menyadari bila pemuda yang mencintai dan ingin memperistrinya itu adalah anaknya sendiri. Norma-norma dan adat istiadat tentu melarang hubungan itu. Dayang Sumbi menolak Sangkuriang, namun pemuda itu nekad ingin memperistrinya. Dayang Sumbi tak bisa mencegah keinginan anaknya, lalu melontarkan syarat.

Syaratnya, bila Sangkuriang ingin memperistri dirinya, maka ia harus membuat sebuah danau, lengkap dengan perahu untuk pesiar. Danau dan perahu itu harus jadi dalam waktu semalam. Bila hingga fajar menyingsing pekerjaan belum selesai, maka kandaslah keinginannya memperistri Dayang Sumbi. Secara logika, syarat itu tak mungkin bisa dipenuhi. Namun Sangkuriang yang memiliki kesaktian menerima syarat itu.

Dengan meminta bantuan sahabatnya dari bangsa jin dan siluman, Sangkuriang bekerja memenuhi permintaan Dayang Sumbi. Namun Sumbi telah mempersiapkan muslihat agar pekerjaan Sangkuriang gagal. Ia meminta seluruh wanita di negeri itu membakar jerami agar terlihat fajar telah menyingsing. Muslihat itu berhasil, disambut kokok ayam menandakan fajar telah tiba. Kaum jin dan siluman tak bisa bekerja lagi karena hari terang. Mereka meninggalkan pekerjaan yang belum selesai. Sangkuriang kecewa. Ia murka, lalu menendang perahu setengah jadi itu hingga melayang dan tertelungkup.

Penggalan kisah itu terkait erat dengan kontur geografis kawasan Bandung Utara. Konon, lama kelamaan perahu itu membentuk sebuah gunung bernama Tangkuban Parahu (perahu yang tertelungkup atau nangkub). Sedangkan danaunya membentuk sebuah kawah besar. Letusan gunung Tangkuban Parahu yang terjadi dianggap sebagai amarah Sangkuriang kepada Dayang Sumbi.

Versi Kuningan

Sebagian warga Kabupaten Kuningan, Jabar, juga memiliki versi lain tentang Sangkuriang. Mereka meyakini bila legenda serupa itu pun pernah terjadi di kawasan timur Kabupaten Kuningan. Pepen Supena Adiwijaya, karyawan Dinas Pendidikan Kab. Kuningan yang juga warga asli kelahiran kaki Gunung Ciremai, menunjukkan bukti-bukti adanya kemiripan kisah Sangkuriang yang terkenal itu.

Bersama Ki Mohammad, seorang spiritualis Tatar Sunda, Pepen membeberkan bukti-bukti jejak Sangkuriang di Kabupaten Kuningan. Kawasan yang dijadikan ditunjukkan itu terletak di kecamatan Cimahi dan Cidahu arah timur. Jarak tersebut lebih kurang 32 Km dari kota Kuningan. Memasuki kawasan tersebut, di kiri-kanan jalan nampak gunung keusik atau gunung pasir yang menghalangi pemandangan sawah diseberangnya.

Memasuki wilayah Desa Legok, tampak pemandangan yang indah, berudara segar dan sejuk. Terlihat pula sungai Cisanggarung yang berkelok-kelok seperti ular. Menurut Pepen Supena, di sebelah barat kawasan ini terdapat gunung kecil yang membentuk mirip perahu telungkup (perahu nangkub) yang juga kerap disebut Tangkuban Parahu, mirip seperti yang ada di Bandung.

Masuk Desa Cikeusik, Kec. Cidahu, terlihat gundukan tanah yang di atasnya rata seperti meja. Gunung itu diberinama Gunung Puter Lambung. Di sebelah gunung itu terdapat sebuah lagi yang disebut Gunung Puter Sari. Memasuki Desa Mekarjaya, ditemukanlah danau (waduk) Cimaneungteung. Bendungan ini kabarnya dibuat oleh Sangkuriang untuk lalayaran (berlayar) bersama Dayangsumbi. Bendungan ini diapit dua Gunung Puter Lambung dan Puter Sari.

Danau tersebut dilalui sungai Cisanggarung dan jadi sumber irigasi melalui Kali Ciberes. Di sebelah kirinya terdapat menara yang kerap dipakai bermain anak-anak muda. Menurut kabar, danau Cimaneungteung ini dihuni oleh siluman buaya putih yang bernama Ki Patih Amben. Menurut cerita masyarakat setempat, buaya itu kerap memakan korban orang-orang yang melanggar pantangan dan berbuat sembrono di kawasan itu.

Kawasan ini juga dikenal angker karena seringnya muncul hantu wanita cantik. Korban-korban yang kerap diganggu hantu wanita ini adalah para pria hidung belang. Lelaki hidung belang ini kerap dihampiri penampakan wanita cantik yang mengajaknya ‘main’ ke Cimaneungteung. Namun sesampainya di sana, wanita itu tiba-tiba menghilang.

Pada masa lalu, lokasi ini merupakan tilas sejarah penting dalam perjuangan melawan Belanda. Kala itu, para pejuang kerap mencegat pasukan musuh dan menghabisinya di daerah itu. Tidak jauh dari tepat itu ada sebuah tempat yang terkenal dengan sebutan Ciroke. Sebelum zaman reformasi, di tempat ini banyak bergentayangan ‘bidadari-bidadari’ yang kerap menemani para lelaki hidung belang untuk kencan.

Seperti halnya kisah Sangkuriang di Tangkuban Parahu Bandung Utara, kisah versi Kuningan pun serupa. Setelah gagal melaksanakan tugasnya karena tipu daya Dayang Sumbi, Sangkuriang murka. Ia lalu mengambil pecut (cambuk) dan mengejar Dayangsumbi. Suara lecutan cambuk itu menggelegar bagaikan halilintar. Sampai-sampai masyarakat kini bila mendengar suara halilintar, kerap menganggapnya sebagai suara cambuk Sangkuriang yang sedang mengejar Dayangsumbi.

Bukit Taeuh Sabatok di kawasan itu, bisa dipakai untuk menutup air Cisanggarung, yakni gunungan pasir yang disebut Gunung Puter Lumbung. Menurut keyakinan orang-orang tua di sana, suatu hari nanti, Gunung Puter Lumbung akan pindah dengan sendirinya. “Sehingga tempat tersebut akan berubah rupa menjadi danau, seperti yang dicita-citakan Sangkuriang sesuai permintaan Dayang Sumbi,” beber Pepen.

Dengan demikian, tercapailah keinginan Sangkuriang untuk mengawini ibunya sendiri. Menurut Pepen, sebetulnya itu merupakan kiasan dan cermin kondisi saat ini. Bahwa pada suatu hari nanti, akan banyak terjadi anak dijinahi orang tuanya sendiri, dan juga sebaliknya. Itu sesungguhnya adalah supata (kutukan) dari Dayang Sumbi sebagai wujud balas dendam.

Di sebelah Barat Cimaneungteung, ada suatu tempat yang dikeramatkan para tetua di sana. Lokasi itu disebut Cadas Gantung, yang keadaannya sama dengan terowongan Sanghyang Tikoro, Rajamandala Kabupaten Bandung. Bahkan menurut sebagian orang, tempat itu sering digunakan sebagai sarana mencari kekayaan atau pesugihan. Uniknya, orang-orang yang kerap datang ke sana adalah mereka yang berasal dari luar Kuningan. ***




0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP