05 Agustus 2009

Ruwatan Dalam Budaya Sunda (4)

Tradisi ruwatan yang penuh makna, sesungguhnya telah lama dikenal masyarakat. Dalam masyarakat Sunda, setiap ada kehendak, mereka menggelar ritual pasaduan (mohon ijin) yang termaktub di dalamnya prosesi ruwat, termasuk penghayatan nilai-nilainya. Hanya saja, seiring perkembangan jaman, prosesi ruwat kerap terlupakan. Akibatnya, nilai-nilai baru menyergap tanpa pandang positif dan negatifnya.

Prosesi ruwatan nyaris terdapat diseluruh kantung-kantung adat masyarakat. Yang berbeda adalah istilah dan alat-alat perlengkapannya. Namun belakangan, pelaksanaan ritual luhur itu sudah mulai luntur, termasuk dalam masyarakat Sunda. Hal ini seirama dengan menerobosnya nilai-nilai baru yang datang dari luar. Nilai-nilai itu bukan hanya mengikis tradisi lama yang positif, tapi seolah hendak menggantikannya. Maka yang terjadi adalah berkembangnya nilai-nilai yang sesungguhnya asing bagi sebagian masyarakat.

Cermin diri

Seniman dari Yayasan Candra Sangkala Soendha, Abah Adjat Sudradjat, mengkhawatirkan kondisi yang terjadi. Masyarakat kini justru merasa asing dengan tradisi leluhurnya sendiri. Prosesi pasaduan – ruwatan yang merupakan cermin lampah manusia mulai dari angka “0” atau nol (baca: jatidiri), sudah sulit ditemukan. Yang ada adalah seremonial tak bermakna dan penuh nafsu materialistik. Tak terlihat lagi nilai-nilai spiritual luhur.

Ruwatan, kata Abah Adjat, sesungguhnya merupakan pandu bagi tekad, niat dan lampah seseorang. Sebab di dalam ruwatan terkandung filosofi hidup dan kehidupan yang positif. Gelar pasaduan dan ruwatan bukan hanya sekadar memenggal datangnya sengkala (kesialan) atau kegagalan, tapi lebih dari itu. Di dalamnya ada nilai ijin –permisi atau sopan santun, interospeksi, tata tertib dan doa. “Sehingga bila nilai-nilai itu dipahami, maka segala bentuk sengkala dan ancamannya bisa dihindari,” terangnya.

Setidaknya, manusia harus menjawab lima pertanyaan. Antara lain, pertama, kepada siapa mohon ijin itu dipanjatkan. Dalam kaitan ini ada empat tahap. Tahap satu, yakni kepada jati diri. Di sinilah seseorang harus tahu diri dengan mengucap terima kasih kepada panca indera dan alat-alat tubuh lain, yang telah banyak memberi andil menjalani hidup dan kehidupan di dunia. Hal ini biasa disebut wali diri sebagai perlambang kekuatan manusia.

Wali diri itu antara lain, mata dengan kemampuan melihatnya, hidung dengan penciumannya, telinga dengan mendenarnya, bibir dengan ucapnya, otak dengan pikirannya, syaraf dengan rasanya, jantung dengan denyut hidupnya, tangan dengan rabaannya, dan kaki dengan kekuatan langkahnya. Semua itu harus berkesinambungan untuk menjalankan pancen (tugas) Tuhan. Antara lain mata, telinga, hidung, bibir, otak, saraf, tangan, kaki, jantung.

Tahap dua, berterima kasih kepada kedua orang tua, terus kepada nenek moyang dan leluhur sampai pucuk asalnya manusia. Tahap tiga, berucap terima kasih kepada alam semesta, seperti kepada Sanghyang Guru Bayu (angin), Sanghyang Guru Banyu (air), Sanghyang Guru Geni (Api), Sanghyang Guru Buana (tanah), alam tumbuhan dan alam hewan. Tahap empat, kepada penguasa segala-galanya (langit diri), yang sudah menjadikan dari segala kejadian.

Ruwat negeri

Ruwatan dengan perangkat nilai-nilainya sudah mulai jarang dilaksanakan. Akibatnya, masyarakat mulai kehilangan makna-makna. Bila kondisi ini merambah konteks negeri dan pemerintahan, yang terjadi adalah hilangnya pegangan. Jalannya pemerintahan goyah, banyak terjadi penyelewengan, goro-goro, dekadensi moral, KKN, dan ambruknya etika politik. “Mengapa Indonesia bisa seperti ini? Silakan saja jawab oleh diri sendiri, apa yang telah terjadi,” ujar Abah Adjat mempertanyakan.

Menurut pria yang terampil memainkan alat-alat musik sunda ini, penyebab semua itu karena makna ruwatan ditelantarkan. Negeri ini sebenarnya merana. Aturan-aturan yang dibuat menjadi Undang-Undang, tidak menjawab persoalan bangsa seutuhnya. Sebab semuanya kehilangan roh leluhur, berupa nilai-nilai luhur tradisional. “Meski Undang-undang dan aturan-aturan itu sudah baik, tapi masih harus didampingi dengan nilai-nilai tradisi,” beber Adjat.

Adjat merasa negeri ini harus diruwat. Tujuannya untuk menyelamatkan bangsa dari kesesatan nilai. Yang ujung-ujungnya adalah kehancuran bangsa. Kita harus kembali ke nilai-nilai luhur asli bangsa. Sebab dengan cara itulah negara ini akan pulih dari berbagai krisis dan disintegrasi. Langkah awal bisa dengan meruwat pimpinan atau calon pimpinan bangsa. Sehingga mata hati mereka terbuka untuk menyelamatkan negeri ini. Dan kelak dalam memimpin bangsa, para pemimpin itu akan selalu ingat nilai-nilai asli bangsanya. Bukan hanya itu, diri dan lingkungan pun harus diruwat. Sebab nilai-nilai luhur itupun harus meresap ke bawah.

Karena itulah tradisi ruwatan dalam arti sesungguhnya harus digairahkan lagi. Lantas, bagaimana waktu pelaksanaan ruwatan yang baik? Menurut Abah Adjat, sebenarnya semua hari itu baik dan ada maknanya. Hanya saja, ada waktu-waktu yang sejak jaman nenek moyang kita jarang digunakan, antara lain hari Jumat malam atau malam Sabtu. Hari itu kerap disebut tabu. Bila ada yang menyelenggarakan ruwat pada waktu tersebut, jatuhnya bala bagi peruwat sangat besar. “Ini sudah jadi keyakinan turun temurun,” ungkap Abah Adjat.

Selain hari Jumat malam, terang Abah Adjat, semua hari mengandung kebaikan. Cuma harus dicatat, pelaksanaan paling baik adalah tepat pukul 12.00 WIB atau pukul 00.00 WIB. Sebab jam 00 merupakan titik waktu dimana siklus kehidupan dimulai. Secara filosofi, ketika itulah hawa baru dalam kehidupan dimulai. Selain itu, malam dianggap sebagai waktunya semua mahluk berkumpul.

Adapun hari-hari itu sendiri memiliki simbul-simbul. Hari Senin, misalnya, merupakan simbol bunga, yang artinya mengharumkan. Kemudian Selasa simbol api, Rabu (daun) dimaknai sebagai daun telinga atau pendengaran, Kamis (angin) dimaknai nafas, Jumat (air) dimaknai darah, Sabtu (bumi) diartikan tempat berpijak atau kaki, dan Minggu (awan) dimaknai pikiran atau cita-cita. “Selain hari-hari yang mengandung makna, pelaksanaan ruwatan tergantung niat dan tekad untuk melakukan interospeksi,” kata Abah Adjat. (Habis)


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP