05 Agustus 2009

Ruwatan Dalam Budaya Sunda (3)

Tradisi ruwatan telah mengakar pada sebagian masyarakat Sunda. Mereka berharap Gusti Nu Maha Kawasa (Tuhan Yang Maha Kuasa) berkenan memotong segala bentuk sengkala (kesialan) dalam hidup dan kehidupan. Hanya saja, terjadi pergeseran pemahaman dalam memaknai alat-alat perlengkapan ritual ruwatan tadi. Misalnya soal sesajen yang sesungguhnya bukan semata untuk dipersembahkan kepada arwah leluhur. Namun, ada kandungan makna luhur dari sesajen itu. Apa sajakah ?

Kaya akan makna dan filosofi kehidupan. Demikian simpul dari prosesi ruwat yang kerap digelar sebagian masyarakat Sunda. Ruwatan, dengan segala tata cara, media dan perlengkapannya, merupakan makna yang harus diungkap saat ruwatan itu diselenggarakan. Tengok saja, wayang atau gending Pakuan Padjadjaran yang kerap menjadi media ruwatan, sangat kaya nilai-nilai. Karena itulah, salah kaprah bila alat-alat perlengkapan (parawanten) dalam ruwatan yang kerap disebut sesajen itu, dimaknai sebagai persembahan buat arwah leluhur yang sudah meninggal.

Seniman Sunda dari Yayasan Candra Sangkala Soendha, Abah Adjat Sudradjat, mengungkapkan, dalam budaya Sunda, karuhun itu berasal dari kata karuh hun. Ka itu berarti masuk (ka ancikan), ruh artinya laku kehidupan, dan hun yagn artinya laku suci. Dalam budaya Sunda, sungguh keliru mengkultusnya orangnya atau tokoh tertentu yang disebut karuhun (leluhur).

Tapi, yang benar adalah menyikapi perilaku karuhun semasa hidup, seperti kepahlawanan, kebajikan dan kebijakannya. Dan ilmu karuhun tidak terdapat dalam tulisan, melainkan dalam simbol-simbol. Karena itu jangan harap di tatar Sunda banyak ditemukan ajaran-ajaran karuhun, sebab semuanya berupa simbol-simbol yang tak tertulis.

Paduan unsur seni

Masih menurut Abah Adjat, segi-segi nilai dalam prosesi ruwatan terkandung dalam Gending Pakuan Padjadjaran. “Karena itulah gending ini merupakan media ruwatan yang paling cocok dengan budaya Sunda,” katanya. Alasannya, jenis kesenian ini diperkirakan seusia dengan lahirnya tradisi ruwatan itu sendiri. Artinya sudah sangat tua. Menurut Abah Adjat, Gending Pakuan Padjadjaran itu menyatukan 3 unsur seni budaya yang penuh makna.

Tujuan pemakaiannya pun tak sekadar media ruwat, tapi juga untuk membuka sejarah kehidupan dengan budaya seni. Gending Pakuan Padjadjaran mengandung tiga unsur kesenian. Pertama, jentreng dan suling Baduy. Jentreng adalah kecapi kecil yang kawatnya berjumlah sembilan. Jenis kesenian ini nyaris punah dan hanya ada di daerah Badui. Sedangkan Suling Badui terbuat dari kayu, bukan dari bambu. Panjangnya 25 cm berlubang lima. Laras atau nadanya salendro buhun. Biasa jenis kesenian ini dipakai untuk ruwatan bumi.

Secara keseluruhan makna Gending Pakuan Padjdjaran menggunakan unsur ini disebut sungkeman rasa. Makna Kecapi 9 kawat, melambangkan kekuatan wali diri manusia. Yakni mata dengan kemampuan melihatnya, hidung dengan penciumannya, telinga dengan mendenarnya, bibir dengan ucapnya, otak dengan pikirannya, syaraf
dengan rasanya, jantung dengan denyut hidupnya, tangan dengan rabaannya, dan kaki dengan kekuatan langkahnya. Semua itu harus berkesinambungan untuk menjalankan pancen (tugas) Tuhan.

Kecapi sendiri punya makna cacap tur nepi, yang artinya tamat dan sampai, atas perintah Gusti Nu Maha Kangungan (Tuhan yang Maha Memiliki). Kemudian suling lubang lima bermakna nyusul eling atau mencari kesadaran melalui Panca Dharma manusia Sunda. Yakni, pertama, jiwa yang ber-Ketuhanan akan membuahkan rasa kemanusiaannya. Kedua, jiwa yang berkemanusiaan membuahkan rasa kebangsaan. Lalu ketiga, jiwa yang berkebangsaan akan membuahkan jiwa kerakyatan. Keempat, jiwa yang berkerakyatan akan membuahkan kebudayaan. Dan kelima, jiwa yang berkebudayaan akan membuahkan keadilan.

Unsur kedua disebut Gending Kawangi, yang disebut sungkeman cipta. Alat-alatnya terdiri dari gong tunggal, monggong renteng (jenglong) jumlah enam, yakni gong yang bentuknya lebih kecil. Dan bungkang jajar yang jumlahnya 18 bonang. Jumlah kutanya (penclon bersusun tiga) ada duapuluh lima. Ini merupakan simbul kekayaan manusia dalam leuit salawe jajar (tempat kehidupan 25 jajar). Bentuk kuta-kutanya melambangkan susunan indung (ibu pertiwi).

Lalu, unsur ketiga, sungkeman daya, yang dilambangkan dengan gendang pencak yang dinamakan padingdung. Alat-alatnya berupa sepasang gendang indung atau induk yang berjumlah dua buah, gending kecil (pelanter) berjumlah empat, sangkala (terompet), dan bende (gong kecil). Semua ini melambangkan manusia yang dilahirkan akan menjalani hidup, dan proses menjalaninya harus penuh dengan tata tingkah laku yang baik.

Makna unsur seni

Pada prosesi sungkeman rasa, terkandung makna akan kesadaran dirinya bahwa hidup ini berasal sir Gusti Nu Maha Kahayang (Tuhan Yang Maha Berkeinginan). Pada sungkeman cipta, termaktub makna saat terjadinya manusia ketika berada di dalam buana indung (kandungan) selama sembilan bulan sepuluh hari. Dan pada sungkeman daya, dimaknai sebagai lahirnya manusia mengenal buana (alam) yang artinya manusia harus berkesinambungan mengenal diri dan asalnya. Yakni mengenal diri dan sesamanya (ingsun atau sun), mengenal diri dan alamnya (da), dan mengenal diri dan Tuhannya (ha).

Aplikasi dari keseluruhan unsur seni ini dinamakan Sabdapalon yang diwujudkan dengan yang namanya gending degung. Diantaranya dari jentreng dengan simbolnya suling, dari padingdung diambil simbolnya gending. Kemudian disatukan dengan gending kawangi. Jadilah kesenian yang namanya degung. Nah, media ruwat Gending Pakuan Padjadjaran ini biasanya dimainkan pada waktu upacara kenegaraan, menyambut tamu agung, acara pelantikan raja atau pejabat tinggi, dan ruwatan-ruwatan buana alam. (bersambung)


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP