05 Agustus 2009

Ruwatan Dalam Budaya Sunda (2)


Tujuan ngaruwat bukan sekadar menyelamatkan hidup seseorang, atau demi sinambung negeri dan alam semesta. Tapi juga memelihara tatanan dan nilai. Di dalamnya sarat dengan falsafah hidup. Hal itu tercermin dari perlengkapan upacara yang semuanya mengandung makna kehidupan.

Syarat-syarat melangsungkan gelar ruwatan memang bukan sesuatu yang baku. Semuanya terpulang pada kemampuan pihak penyelenggara ruwatan. Namun harap dicatat, seperangkat syarat tadi tak sekadar sebagai gugur kewajiban bila sudah terpenuhi. Tapi lebih penting dari itu adalah maknanya. Semisal keharusan menyediakan hasil-hasil bumi seperti padi, tebu, pisang, dan kelapa. Itu merupakan bentuk susuguhan buat Dewi Sri yang datang menjemput Ki Dalang Kandabuana (Dewa Wisnu). Hasil bumi sendiri merupakan makna kesejahteraan rakyat.

Syarat ruwatan

Masih seperti uraian sesepuh Sunda R Kardata Puradiredja. Prosesi ruat yang berarti patah atau potong, mengandung makna mematahkan akibat-akibat yang buruk seperti malapetaka, bala dan bencana, dari pembawaan sesuatu atau seseorang yang telah ditentukan. Nah, untuk keperluan ngaruat, harus disediakan beragam perlengkapan. Antara lain, padi dua ikat (geugeus atau pocong), kelapa satu tanda (manggar) jumlahnya ganjil, berem (air tape ketan) satu kendi, lalu bubur beras putih dan ditengahnya beras merah, dan dua buah jambangan, satu besar, satu kecil diisi air setengah beserta banga tujuh rupa warna.

Ada yang bisa dijadikan pelengkap, misalnya: air dalam bokor diisi dengan tiga buah uang logam (perak atau tengahan, uang masa lalu), boeh dua helai, tikar baru digulungkan di dalamnya bantal kain, padi dua ikat (geugeus), kalapa satu manggar, dua pohon pisang beserta buahnya, batangan tebu kuning beserta daunnya, haur geulis (koneng), daun kemuning, daun keluwih, daun hanjuang, jukut palias (sebangsa rumput), daun kelapa muda, mayagn jambe (bunga pianng); bokor berisi beras, telur kanteh dan uang setali.

Kemudian, ayam hidup, pangradinan beserta minyak wangi (pangradinan tempat sisir, kaca, bedak, untuk keperluan berias diri); bunga tujuh warna, yang biasa (sejak dulu) tumbuh di tanah air seperti cempaka, kenanga, melati, tanjung dan sebagainya; tujuh rupa rujak, pemanis harus gula aren; kelapa muda sudah dikupas atasnya dan bawahnya tetapi belum dilubangi; pasu diisi rampai; kendi kosong diatasnya telur sebagai tutup; puncak manik (tumpeng bagian atasnya); tumpeng rasul; tujuh macam congcot-congcot kecil; bumbu cobek; bumbu gegecok; panglay; bubur merah dan putih; surabi, apam, cara, tiap macam tujuh biji; ketupat ketan, tangtang angin diikat.

Selain itu, bagi mereka yang mampu, bisa menyediakan alat-alat rumah, tujuh macam air yang diambil dari tujuh sumur, golok, dan bakakak ayam mentah. Pada waktu upacara ngaruat berlangsung, parupuyan, padi dan kelapa, digantungkan dibelakang Dalang. Jambangan di bawah gedebog pisang (tempat ditancapkan wayang) sebelah kanan Dalang. Bila yang diruat itu seorang anak, maka buah-buahan, makanan, dan umbi-umbian, selanjutnya diberikan kepada fakir miskin.

Kepercayaan kepada Kala sangat mendalam dalam masyarakat. Kala yang artinya waktu, dianggap sebagai biang keladi malapetaka bila “padika” atau “kiyas” untuk mencegahnya tidak dilaksanakan. Bila seseorang akan pindah rumah dan sebagainya, maka ditanyakan dulu “kala” itu sedang berada di mana. Karena itu, setiap tahun dibagi empat tempat berdiamnya Kala (arah mata angin).

Tidak dibenarkan seseorang yang akan pindah atau pergi jauh untuk sesuatu tujuan yang arahnya mapag (menjemput) Kala. Seseorang yang akan pindah atau pergi ke utara, umpamanya, sementara bila Kala sedang di utara, maka saat meninggalkan rumah jangan langsung menuju ke utara, tetapi pergi dulu ke jurusan lain, setelah jauh baru belok ke tujuan semula. “Itu dimaksudnya agar arahnya tidak menjemput Kala, yang berarti mengundang malapetaka,” jelas Kardata Puradiredja.

Pentingnya pasaduan

Memang, ada perbedaan pendapat soal media, tatkala sebuah prosesi ruwat digelar. Misalnya, media ruwat tak mesti menggunakan wayang golek. Abah Adjat Sudradjat, seniman dari Yayasan Candra Sangkala Soendha, mengungkapkan bahwa media ruwatan sesunggungnya bukanlah wayang (golek). Alasannya, tradisi ruwatan atau ngaruat, itu sudah ada sebelum seni wayang lahir. Yang paling tepat adalah menggunakan gending. “Usia gending jauh lebih tua dari wayang. Diperkirakan seiring dengan lahirnya tradisi ruwatan itu sendiri,” ujarnya.

Dalam kaitannya dengan ruwatan ini, budaya Sunda mengenal pula istilah pasaduan. Menurut Abah Adjat, pasaduan merupakan wujud dari ruwatan itu sendiri. Bahkan makna pasaduan lebih luas dari ruwatan yang hanya sekadar memenggal datangnya sengkala (kesialan). Pasaduan itu untuk menata kehidupan, sehingga dalam mengarungi hidup sehari-hari lebih tertata. “Pasaduan merupakan mohon ijin kepada Gusti Nu Maha Suci, alam, manusia dan asalnya, atas adanya suatu hajat atau maksud tertentu. Di dalam pasaduan ini terdapat prosesi ruwatan,” terang Abah Adjat.

Sebagai upacara sakral untuk mencapai segala maksud, sebelum menggelar pasaduan, ada lima pertanyaan yang harus dijawab. Antara lain, pertama, kepada siapa pasaduan atau mohon ijin itu dipanjatkan. Dalam kaitan ini ada empat tahap. Tahap satu, yakni kepada jati diri. Di sinilah seseorang harus tahu diri dengan mengucap terima kasih kepada panca indera dan alat-alat tubuh lain, yang telah banyak memberi andil menjalankan hidup dan kehidupan di dunia. Antara lain mata, telinga, hidung, bibir, otak, saraf, tangan, kaki, jantung.

Tahap dua, berterima kasih kepada kedua orang tua, terus kepada nenek moyang dan leluhur sampai pucuk asalnya manusia. Tahap tiga, berucap terima kasih kepada alam semesta, seperti kepada Sanghyang Guru Bayu (angin), Sanghyang Guru Banyu (air), Sanghyang Guru Geni (Api), Sanghyang Guru Buana (tanah), alam tumbuhan dan alam hewan. Tahap empat, kepada penguasa segala-galanya (langit diri), yang sudah menjadikan dari segala kejadian. (bersambung)


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP