05 Agustus 2009

Ruwatan Dalam Budaya Sunda (1)

Ruwatan atau ngaruat dalam bahasa Sunda, ternyata merupakan kebiasaan yang bermakna sangat dalam. Ia juga bagian dari keyakinan sebagian masyarakat Sunda. Meski secara fisik, tradisi ini sudah jarang dipraktekkan. Ruwatan dianggap sakral dalam kehidupan. Konon, itu berkait dengan hidup matinya manusia, bahkan kesinambungan negeri dan alam semesta.

Sesepuh Sunda R Kardata Puradiredja, pernah mengungkap perihal ruwatan atau ngaruat ini. Menurut beliau, kata ruat berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti patah (potong). Jadi ngaruat mengandung makna mematahkan akibat-akibat yang buruk seperti malapetaka, bala dan bencana, dari pembawaan sesuatu atau seseorang yang telah ditentukan. Walaupun ngaruat mendasarkan pada cerita wayang, namun tata caranya (kiyas atau padika), telah ada sebelum masyarakat Sunda mengenal wayang.


Semisal seni pantun yang dianggap agung oleh masyarakat Sunda, kerap dipakai untuk ruwatan pada masa lampau. Meski pun tata caranya berbeda dengan ruwatan oleh wayang (Golek). Yang memegang peranan utama dalam lakon cerita yang menjadi latar belakang ngaruat itu ialah Batara Kala. Seorang denawa putra Batara Guru yang bukan dari hasil persetubuhan, tetapi menjelma dari “kama” yang jatuh ketika Batara Guru menunggang Garuda.

Suatu ketika Batara Kala minta ijin kepada Batara Guru untuk menggunakan daging manusia sebagai bahan makanannya. Mendapat permintaan itu, sulit rasanya Batara Guru mengambil keputusan. Sebab bila dibiarkan, manusia isi alam nantinya akan habis, punah. Bila dilarang, memang Buta makanannya adalah daging manusia. Maka Batara Guru pun mengijinkan Batara Kala untuk memakan daging manusia.

Akan tetapi, Batara Guru memberi batasan siapa saja manusia yang bisa dimangsa oleh Batara Kala. Mereka adalah Untang-anting (anak lelaki yang tunggal); Unting-unting (anak wanita yang tunggal); Lamunting (anak yang dilahirkan tanpa diikuti bali atau tembuni); Sarimpi (anak wanita empat orang tanpa saudara laki-laki); Saramba (empat orang anak laki-laki tanpa saudara perempuan);

Kemudian Pandawa (lima orang anak laki-laki tanpa saudara perempuan); Pandawi (lima anak perempuan tanpa saudara laki-laki); Pandawa kaselapan (lima orang anak, empat laki-laki seorang perempuan); Pandawa ipil-ipil (lima orang anak terdiri dari, seorang laki-laki dan empat orang perempuan); Uger-uger (dua anak semuanya laki-laki); Kembagn sepasang (dua orang anak semuanya perempuan); Gandana-gandini (dua anak yang pertama laki-laki yang kedua perempuan);

Lalu, Gandini-gandana (dua orang anak, kakaknya perempuan, adiknya laki-laki); Kulah ngahapit pancuran (tiga orang anak yang ditengah laki-laki); Pancuran ngahapit kulah (tiga orang anak, yang ditengah anak perempuan); Tunggul pinang/tunggili (anak tunggal karena ditinggal mati oleh saudara-saudaranya); Nanggung bugang (anak tunggal, ditinggal mati oleh kakak dan adik-adiknya); Bayi yang dilahirkan memakai balakutak (kepalanya diliputi cairan putih).

Konon, selain yang diutarakan Batara Guru di atas, masih ada 10 ciri lagi yang diperbolehkan menjadi makanan Kala. Akan tetapi cirinya itu bisa terjadi setiap saat dan dimana saja karena lebih bersifat umum. Sehingga lambat laun esensinya juga menjadi berkurang. Walaupun criteria manusia yang boleh dimakan Bataa Kala telah ditetapkan, namun untuk menjaga agar tidak terlalu banyak jatuh korban, Batara Guru menambahkan lagi beberapa syarat lain kepada Batara Kala.

Mereka inilah yang tidak boleh dijadikan mamangsan (makanan) Batara Kala. Pertama, mereka yang dapat dibunuh dengan menggunakan gegendir (godam). Kedua, mereka yang sanggup menjabarkan huruf (aksara) yang berada pada tubuh (badan) Batara Kala. Kalau orang itu tidak dapat menjabarkan sendiri, bisa mewakilkan kepada orang lain. Dalam kaitan ini, berkembanglah sebuah cerita. Suatu ketika, Batara Kala dalam keadaan lapar dan tengah mencari “mamangsan” yang telah ditetapkan oleh Batara Guru.

Batara Guru yang khawatir jatuhnya banyak korban, mengutus Dewa Wisnu untuk mencegat Batara Kala, dengan menyamar sebagai “Dalang”. Maka, keluarlah mantera-mantera yang merupakan ajian-ajian yang sampai sekarang, konon hanya dipahami oleh para Dalang. Umpamanya ajian yang menguraikan pertumbuhan jasad Batara Kala, dari mulai “kama” Batara Guru terus menjelma menjadi janin, kemudian memerinci huruf “ha, na, ca, ra, ka” yang dimulai dari belakang, diteruskan dengan mantera-mantera lainnya.

Akhirnya, Batara Kala oleh Dalang Wisnu dibersihkan tubuhnya (dimandikan) dengan diiringi mantera-mantera. Mantera-mantera itu diantaranya berisi, “Hai Kala, sadarlah kau: kembalilah kau ke tempat asalmu. Kamu berasal dari tiada, maka kembalilah kepada ketiadaanmu itu. Jati adalah asal kita maka “jati” adalah tempat kita pula.” Dengan mantera-mantera itu, Batara Kala pun menyingkir. Namun, dia tetap ada dan siap memangsa manusia-manusia tertentu. Nah, untuk menghindari jatuhnya korban pada manusia yang bisa disantap Batara Kala, digelarlah prosesi ruwatan.

Prosesi itu biasa dilaksanakan dengan berbagai bentuk yang esensinya merupakan doa penolak bala. Prosesi ruwatan dengan menggelar wayang (golek atau kulit), sebagai symbol Batara Kala adalah bagian yang biasa ditancapkan pada pohon pisang. Air bekas memandikannya itu, yang telah berisi “rampai” dipakai mandi oleh anak yang diruat atau dioleskan pada bagian-bagian dari benda atau rumah yang juga akan diruat seperti tiang, dinding, pintu, lantai dan sebagainya. Bila yang diruwat itu halaman, maka air itu dicipratkan ke empat sudutnya. (bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP