11 Agustus 2009

Ritual Buang Pantang Orang Taman

Dalam tradisi orang Taman, kematian bukanlah akhir dari segala urusan. Terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Rupanya, ada beberapa pantangan yang tak boleh dilanggar oleh pihak keluarga. Siapa yang melanggar, dia akan terkena apa yang disebut denda adat. Selain itu, konon arwah yang telah meninggal itu tak akan tenang di alam sana.

Orang Taman adalah sub etnik Daya dari rumpun Banuaka. Kantung-kantung Orang Taman terdapat di Desa Sayut, Putussibau, Kapuas Hulu, Kalbar. Kehidupan orang Taman dikerumuni aturan adat tinggalan leluhur. Hingga kini, aturan adat itu masih diterapkan. Hampir setiap aspek kehidupan, selalu ada yang mengaturnya. Sejak cabang bayi dilahirkan, hingga dewasa dan meninggal dunia, aturan adat itu mengiringinya, termasuk kepada keluarga dan kerabatnya. Ritual buang pantang adalah salah satu aspek yang hidup dalam masyarakat Orang Taman.

Kehidupan sehari-hari Orang Taman berpusat di dalam lamin atau rumah panjang. Sebuah lamin dihuni puluhan rumah tangga. Memang bukan hanya sub etnik Taman saja yang menggunakan lamin sebagai pusat kehidupan, tapi sub etnik lain. Di Kapuas Hulu terdapat pula rumpun etnik lain, yakni Kayan dan Iban. Kedua rumpun etnik ini terdiri dari sub etnik sendiri.

Misalnya pada rumpun etnik Kayan, ada sub-etnik Kayan, Bukat dan Punan. Sedangkan pada rumpun Etnik Iban terdiri dari sub-etnik Iban dan Kantuk. Kebanyakan dari etnik dan sub etnik ini cenderung punya sistem perkampungan di pinggir sungai. Kebutuhan hidupnya pun kebanyakan dengan sistem berhuma (berladang) secara nomaden (berpindah-pindah).

Denda Adat

Ritual buang pantang terjadi sejak seseorang dalam keluarga meninggal dunia. Si meninggal bisa saja ayah, ibu, kakek, nenek, dan lain-lain. Bila seorang istri yang meninggal dunia dan meninggalkan suami, beberapa anak dan cucu, maka sejak itu berlakulah masa pantangan. Masa pantangan berlaku selama 20 hari berturut-turut. Namun menurut keterangan beberapa orang di Desa Melapi maupun Desa Sayut, pemerintah setempat memberi keringanan masa berpantang, yakni selama 15 hari.

Uniknya, masa berpantang ini tak hanya diberlakukan kepada suami, anak dan cucu mendiang, tapi semua kerabat atau warga yang tinggal di dalam lamin, bahkan pendatang atau tamu yang kebetulan berkunjung ke lamin saat kejadian berlangsung, diberlakukan. Hal-hal yang menjadi pantangan itu antara lain, pantang mengikuti pesta atau upacara, pantang menghidupkan televisi atau radio, pantang memakai perhiasan seperti arloji, emas atau perak, serta memakan ikan jenis tertentu. Selain itu, membunyikan alat musik juga termasuk pantangan.

Bila diantara mereka ada yang melanggarnya, baik disengaja maupun tidak disengaja, maka kepadanya dikenakan apa yang dinamakan denda adat. Denda adat ini berupa menyerahkan tempat tembakau atau tempat sirih. Bila diganti dengan uang, maka nilainya sekitar Rp 12.000 – Rp 25.000, yang harganya disesuaikan dengan fluktuasi harga. Dulu, pernah datang beberapa tamu ke sebuah lamin di Desa Melapi. Kebetulan, di dalam lamin itu baru saja ada orang yang meninggal. Otomatis, seluruh penghuni lamin diberlakukan masa berpantang.

Masa berpantang ini diberlakukan pula kepada siapapun meski dia tak mengetahuinya. Ketika itu pendatang ke lamin ini memakai arloji (perhiasan). Karena waktu itu sedang dalam masa pantangan, atau masa berkabung, maka beberapa tamu itu dituntut warga satu lamin untuk membayar denda adat. Namun, karena ketidak tahuannya, dia menolak. Maka terjadilah pertengkaran dan bahkan sampai melibatkan persidangan adat. Akhirnya tamu mau mengerti dan membayar denda adat.

Buang Pantang

Bila masa pantangan berakhir, maka suami yang ditinggal mati istrinya itu harus melaksanakan balu, yakni bagian dari aturan adat. Balu dapat berupa wujud perilaku, dimana suami tak boleh menikah lagi selama dua tahun. Sebaliknya, bila seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya, maka balu berlaku adalah tiga tahun tidak menikah lagi. Tapi, ada beberapa orang yang mengatakan bahwa pada saat ini balu karena ditinggal mati hanya dilaksanakan selama setahun saja, sehingga seorang dua atau janda wanita dapat menikah kembali.

Perkara kedua adalah balu dalam wujud benda. Kepada anak-anak diwariskan sebuah garantung ataupun tawak. Garantung ialah gong besar dengan ukuran keliling sekitar sebelas jengkal (kira-kira berdiameter 70 centimeter), dan tawak berupa gong dengan pencu dan kaki yang dalam serta berukuran keliling sekitar puluh jengkal. Bila keturunannya yang menjadi piatu atau yatim itu lebih dari seorang, maka terserah kepada anak-anak tersebut sebagaimana adilnya menerima warisan balu. Bila tidak memiliki garantung atau tawak, balu juga dapat dibayar dengan emas seberat 20 gr.

Lagu Berduka

Kematian di sebuah lamin, dimainkan berbagai alat musik sebagai tanda berkabung. Selain itu juga untuk menyambut tamu yang datang melayat. Lagu khusus untuk menyambut tamu disebut Manjaratun. Peralatannya terdiri dari tiga buah tawak, beberapa buah bebandi (gong ukuran sedang degnan diameter 45 cm), dan tung (drum sejenis dogdog), yang kesemuanya digantungkan pada tiang dan rak bambu. Di samping itu terdapat pula kangkuang (sejenis kohkol besar berbentu persegi) dan sebuah gong ceper. Semuanya dimainkan kaum lelaki, baik tua maupun muda. Setiap orang membunyikan satu alat. Lagu Manjaratun ini terus dimainkan selama tamu datang sampai duduk di sepanjang beranda di dalam lamin.

Upacara penyambutan tamu (pelayat) ini pun terbilang unik. dihadapan para pelayat, seorang tetua dari lamin itu menebaskan sebilah golok pada kayu yang disediakan seseorang dihadapannya. Kayu itu pun terbelah dua. Selanjutnya golok diserahkan kepada perwakilan para pelayat yang bukan dari satu kampung itu, dan melakukan hal sama. Para pelayat yang sekampung tidak melakukan itu karena sudah terwakili oleh tetua dari lamin tadi. Ritual ini disebut Manyapa Umpang.

Setelah rangkaian penyambutan tamu pelayat selesai, esoknya, berlangsunglah upacara adat balu. Yakni memusyawarahkan kesanggupan duda atau janda yang ditinggal mati, untuk membayar balu. Tahapan membayar balu ini berlangsung alot karena semua pihak, baik anak sulung, mertua, kerabat, kepala dusun dan kepala desa, mengemukakan pendapatnya masing-masing. Diantara mereka bahkan ada yang tak sepaham, sehingga tidak heran bila acara ini berlangsung hingga sore hari setelah terdapat kata mufakat.

Setelah itu, para tamu disuguhi maram, sejenis minuman dari brem atau air tape. Minuman itu dikemas dalam sebuah bambu yagn dihiasi selembar bulu burung. Perangkat minum dari bambu ini disebut bulok dalung. Sampai ditangga lamin, para tamu diberi lagi dua jenis minuman, yakni saguer (tuak enau) dan arak (ciur, air tape sulingan) masing-masing segelas.

Tuan rumah dilamin itu baik suami yang ditinggal mai, maupun sebaliknya, duduk berderet sesuai dengan urutan biliknya masing-masing dari lamin itu. Mereka bersandar ke dinding bilik. Sementara para tamu, duduk berderet di seberang tuan rumah secara berhadap-hadapan. Sambil berbincang-bincang, kembali para tetamu dihidangkan minuman-minuman sambil bersulang. Para tamu boleh minum sebanyak mungkin. Uniknya, suasana ini ditingkahi beberapa tamu yang keluar masuk lamping karena harus ke kamar kecil (MCK) di pinggir sungai.

Malam harinya berlangsugn upacara adat. Intinya untuk mempererat antara tuan rumah dengan tamu lamin. Upacara berlangsung tiga tahap. Tahap pembuka disebut batambar, dimana tokoh adat menaburkan beras disertai kata-kata pemberkatan untuk keselamatan semua yang hadir. Pemberkatan diselingi bunyi gong ceper. Tahap kedua sambutan tuan rumah, kepala dusun dan kepala desa. Tahap ketiga, disebut babaris, yakni acara minum secara bergiliran. Pada tahapan ini dua orang menabuh gong ceper dan babandi.

Tahap ketiga ini disebut pasiap, dimana serombongan gadis-gadis dan pemuda berpakaian wanita beriringan menyuapkan berbagai jenis kue ke mulut pihak tuan rumah dan tamu. Beberapa orang lainnya emngiringi acara itu dengan menabuh babandi ataupun gong ceper. Usai acara formal, orang-orang bebas membuat acara sendiri, boleh adu minum, ngobrol atau tidur. Begitulah acara bebsa hingga berlangsung sampai tiba saatnya minum kopi dan makan lemang bersama-sama, saat tengah malam. ***



0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP