04 Agustus 2009

Pulau Nusagede Situ Lengkong

Nusa Gede adalah pulau kecil yang berada di tengah Situ Lengkong atau Situ Panjalu. Luasnya sekitar 16 hektare. Nusa Gede kerap pula disebut Nusa Panjalu atau Nusalarang. Di atas pulau ini selalu tampak ribuan kalong beterbangan. Konon, itulah kalong jelmaan Prajurit Kerajaan Panjalu. Benarkah?

Kawasan Nusa Gede berada pada ketinggan sektiar 700 meter di atas permukaan laut, masuk dalam wilayah Desa dan Kecamatan Panjalu, Ciamis, Jabar. Ketika RI masih berada di bawah koloni Belanda, perhatian sangat besar ditujukan terhadap keberadaan dan kelestarian pulau ini. Tak heran bila sebuah perkumpulan perlindungan alam Hindia Belanda yang didirikan tahun 1863, pernah mengganti nama Nusa Gede menjadi Pulau Koorders.

Pada 21 Februari 1919 area Situ Lengkong dengan Nusa Gede-nya, pernah dinyatakaan sebagai kawasan cagar alam yang benar-benar dijaga kelestariannya. Termasuk budaya lokal yang menyertai perkembangannya. Koorders adalah seorang tokoh yang menaruh perhatian besar pada kehidupan botani. Bersama perkumpulan yang diketuainya, ia memelopori pencatatan berbagai jenis pohon yang ada di tanah Jawa.

Sebagai cagar alam, Nusa Gede berada dalam pengawasan KPH Ciamis. Ia memiliki hutan primer yang relatif masih utuh dan tumbuh secara alami. Wisatawan yang berkunjung dapat menikmati berbagai jenis flora di tempat ini.

Kalong jelmaan

Memasuki kawasan Nusa Gede, pengunjung akan disambut pohon rotan, tepus dan langkap. Semakin ke dalam, pengunjung akan melihat pohon-pohon besar jenis ki leho, ki haji dan ki kondang. Selain itu, di pulau ini juga terdapat berbagai jenis fauna, seperti tupai, burung hantu dan kalong. Bahkan tak jarang elang jambul putih mendatangi mampir di pulau ini.

Belakangan ini, warga di sana menyaksikan populasi kalong di kawasan Nusa Gede semakin bertambah. Kawanan kalong itu kabarnya berdatangan dari wilayah Astaga Gede Kawali, yang berjarak 6 km ke arah utara Ciamis. Kawasan itu diyakini sebagai pusat Kerajaan Galuh. Konon, kawanan kalong yang pindah itu terjadi sebelum bencana angin ribut yang melanda situs Astana Gede beberapa waktu lalu.

Situs Kawali dipercaya punya hubungan histori dengan situs Panjalu di Nusa Gede. Bahkan masyarakat setempat meyakini bila hewan kalong yang berterbangan di atas pulau seluas 9,25 Ha itu adalah jelmaan dari prajurit Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Galuh. Mereka bertugas menjaga Nusa Gede dari serbuan tangan-tangan jahil yang dapat merusak keutuhan sejarah.

Sejarah Panjang

Setiap wisatawan yang berkunjung ke Situ Lengkong dan Nusa Gede, kebanyakan tak sekadar ingin menikmati keindahan alamnya. Mereka yang mengunjungi Nusa GEde, biasanya sekalian melakukan ziarah ke makam leluhur masyarakat Panjalu yang tidak lain adalah perintis penyebaran agama Islam di Jabar. Nusa Gede atau Nusalarang bisa disebut sebagai kompleks pemakaman raja-raja Panjalu dan keturunannya sampai Bupati Panjalu terakhir, Dalem Tjakranegara III.

Keturunan terakhir Situ Lengkong, Demang Prajadinata, dikabarkan meninggal di Mekah. Namun, sebelum berangkat pada tahun 1908, ia beramanat agar Situ Lengkong dijadikan tanah hak kulah. Air dan ikannya dizariahkan, sedangkan pemeliharaannya diserahkan ke pemerintahan desa.

Kini kondisi Situ Lengkong sudah berubah. Saat ini luas Nusa Gede ketika airnya menyurut menjadi 16 Ha, sementara luas Situ Lengkong semakin menyempit. Hal ini disebabkan adanya kerusakan daerah hulu, sehingga kedalaman air hanya mencapai 7 meter. Hal itu akibat penebangan phon-pohon di daerah hulu Cipanjalu. Diprediksi, bila hal itu dibiarkan, lambat laun Situ Lengkong akan berubah menjadi daratan.

Menurut Abah Atong, keturunan ke-14 Prabu Borosngora, Situ Lengkong tidak terbentuk dengan sendirinya. Situ tersebut terbentuk sebagai bagian dari proses peng-Islaman yang dirintis Prabu Borosngora, anak kedua dari Prabu Sanghyang TJakradewa.
Berdasarkan Babad Panjalu, Prabu Borosngora disebut sebagai buyut Sanghyang Ratu Permanadewi, Ratu Kerajaan Soko Galuh yang membawa ajaran karahayuan (kemakmuran). Karena dipimpin seorang wanita, kerajaan tersebut dinamakan Kerajaan Panjlu. Dalam bahasa Sunda berarti laki-laki.

Kerajaan Panjalu pernah mengalami masa kejayaan. Namun sayang, dalam perjalanannya, kerajaan ini bagian Kasultanan Citebon sampai akhirnya menjadi kabupaten. Wilayahnya kemudian digabung dengan kabupaten Imbarnagara dan Kawali, sehingga menjadi Kabupaten Ciamis sekarang ini.

Selian merupakan obyek wisata, sebagai bekas kerajaan, Panjalu sebenarnya masih memiliki daya tarik lain, yakni tradisi nyangku. Tradisi ini selalu digelar tiap tahun pada hari Senin atau Kamis terakhir bulan Maulud. Nyangku yang berasal dari bahasa arab “yanko” yang artinya membersihkan. Dalam upacara tersebut, pedang hadiah dari Sayidina Ali dan barang pusaka lainnya seperti cis, keris dan tombak dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di Bumi Alit untuk dibersihkan.

Prosesi upacara dilanjutkan dengan mengarak benda pusaka tersebut ke Nusa Gede, lalu kembali ke balai desa untuk dibersihkan. Menjelang tengah hari, barang-barang pusaka itu disimpan kembali ke tempat asalnya. Bagi masyarakat Panjalu, nyangku memiliki makna yang luas. Dan sesuai dengan ajaran leluhur mereka, setiap langkah dalam upacara tersebut merupakan makna sendiri.

Kepada anak cucunya, Raja Panjalu mewariskan papagon atau ajaran yang antara lain berbunyi : “Pakena gawe rahayu dan pekan kreta bener” dan “amangan karna halal, pake karna suci, ucap lampah sabenere.” “Sampai sekarang ajaran itu masih dipegang oleh mereka yang merasa sebagai keturunan Panjalu meskipun sudah menetap di luar Panjalu,” ujar Abah Atong. ***


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP