17 Agustus 2009

Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya (1)

Pondok Pesantren Suryalaya didirikan 5 September 1906 (7 Rajab 1323 H) oleh KH Abdullah Mubarrok bin Nur Muhammad, yang biasa dipanggil Abah Sepuh. Di dalam masyarakat, Abah Sepuh dikenal sebagai tokoh yang aktif membantu mensejahterakan masyarakat sekitar, baik lahir maupun batin. Selain itu, Abah Sepuh juga banyak berjaya membantu Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam masa perjuangan kemerdekaan, yakni melalui syiar, pendidikan dan pengamalan agama Islam.

Abah Sepuh dikenal juga sebagai guru mursyid dalam pengajaran dan pengamalan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Awal mula berdirinya pontren Suryalaya tak lepas dari perjalanan Abdullah Mubarrok atau Syekh Mubarok ke Cirebon untuk berguru kepada Syekh Tolhah. Ketika itu, Syekh Mubarok sudah menjadi pengajar di Pesantren Tundagan. Tiap tiga bulan sekali ia pergi ke Cirebon untuk menimba ilmu kepada syekh Tolhah.

Sampai kemudian datang gangguan dari ulama sekitar dan aparat pemerintah kolonial. Syekh Mubarok waktu itu sudah megnamalkan ajaran-ajaran yagn diberikan Syekh Tolhah di pesantrennya. Bahkan memberikan penerangan kepada masyarakat sekitar tentang ihwal Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN). Akan tetapi, hal ini dinilai beberapa ulama di sekitar Tundagan sebagai ajaran yang menyimpang dari agama dan berbahaya.

Lantas aparat kolonial Belanda yang tahu TQN tengah disebarkan Syekh Mubarok kepada masyarakat mulai melakukan pelarangan. Aparat kolonial sudah mengendus bila tarekat itulah yang mensponsori pemberontakan Cilegon – Banten pada 1888 sehingga harus dicegah penyebarannya. Maka berdasarkan berbagai pertimbangan, Syekh Mubarok lantas memindahkan pesantren beserta keluarganya ke Kampung Cisero, 26 KM sebelah Barat Tundagan, atau masuk dalam wilayah Desa Pagerageung, Tasikmalaya.

Di Cicero, tingkat gangguan dari mereka yagn belum meahyami tarekat ternyata cuup besar, disamping lokasinya yang kurang sesuai untuk tempat pendidikan dan mudah terlihat oleh aparat colonial Belanda. Pada tahun 1904, pesantren lantas dipindahkan lagi ke Kampung Godebag, atau 2,5 Km arah timur Cicero. Di sinilah, Syekh Mubarok yang juga dikenal dengan panggilan Abah Sepuh kemudian membangun masjid dan rumah-rumah untuk temapt tinggal keluarga dan santri yang mondok.

Di Godebag ini, Abah Sepuh pernah dijebloskan ke dalam penjara. I alantas minta izin kepada Syekh Tolhah untuk mencari tempat lain yang lebih aman dari tekanan aparat colonial Belanda. Namun permohonan itu ditolak Syekh Tolhah. Sebab menurut mata batin Syekh Tolhah, Godebag punya masa depan gemilang. Bahkan Syekh Tolhah sempat sekian lama tinggal di Godebag untuk meyakinkan murid kesayangannya itu.

Dan benar saja, penglihatan ke depan guru mursyid TQN itu tidak meleset. Pesantren Godebag yang kemudian bernama Suryalaya itu berkembang pesat. Dan sedikit demi sedikit, ikhwan Suryalaya bertambah. Dan ajaran TQN pun mulai dipahami masyarakat secara luas, dan tidak dipandang sebagai ajaran yang menyimpang. Namun pada tahun 1953, Abah Sepuh yang mulai sakit-sakitan mulai menyerahkan semua urusan pesantren kepada KH Shohibul Wafa Tajul Arifin atau yang biasa dipanggil Abah Anom.

Abah Sepuh Mangkat

Pada 1956, Abah Sepuh mangkat. Tahun itu pula, putranya yang ke-5, yakni Abah Anom, menggantikan peran Abah Sepuh. Kiprah Abah Anom meneruskan pesantren Suryalaya adalah berusaha membangun berbagai sarana dan prasarana pertanian rakyat yang waktu itu dalam situasi keamanan buruk. Saluran air irigasi pedesaan yagn dibangun oleh Abah Sepuh sepanjang 2 KM, diperbaiki dan dipelihara agar airnya dapat mengairi sawah-sawah rakyat.

Peran Pontren Suryalaya dalam membantu perjuangan bangsa Indonsia lepas dari belenggu penjajah amat kentara. Secara langsung, misalnya, Pontren Suryalaya ikut membantu berjuang melawan pemberontakan DI/TII. Dalam bidang sosial, pontren Suryalaya juga aktif membina eks preman yang insaf, membina korban penyalahgunaan narkotika, kenakalan remaja dan gangguan kejiwaan yang ingin menjadi normal kembali. Peran lain adalah aktif membangun di bidang pertanian, koperasi, kesehatan, pendidikan umum dan sebagainya.

Secara tidak langsung, pontren Suryalaya ikut membangun bangsa dengan meningkatkan kualitas SDM melalui pendekatan keagamaan. Diantaranya dengan cara pendidikan, pengajaran dan pengamalan TQN bagi umat manusia yang ingin masuk Islam secara lengkap (lahir dan batin). Tujuannya untuk memperkuat iman agar hati menjadi bersih dan bebas dari kotoran yang akhirnya akan menimbulkan rasa ikhlas dan yakin kepada Allah dalam melaksankan amal, ibadah dan pekerjaan di dunia. (bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP