17 Agustus 2009

Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya (2)

Hampir setiap kali menyebut Ponpes Suryalaya, maka orang akan langsung teringat Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN). Memang, pengamalan TQN merupakan spesialisasi dari Ponpes Suryalaya. Yakni penggabungan dua tarekat mu’tabarah, yaitu Tarekat Qodiriyah dengan metode dzikir jaharnya dan Tarekat Naqsyabandiyah dengan metode dzikir khofinya.

Seperti dituturkan pengasuh Pontren Suryalaya, KH Zaenal Abidin Anwar, melalui pengamalan TQN akan timbul rasa ikhlas, tenteram, adil, welas asih, ramah, jujur, cinta kepada agama dan Negara, berani berkorban demi agama dan Negara, berpendirian teguh, gotong royong, tahan godaan setan, sabar, waspada dan hilangnya rasa benci, emosi, cengeng, nafsu jahat, iri dengki, dan penyakit hati lainnya.

Kegiatan pengajaran TQN atau talqin atau bai’at dzikir diberikan dan langsung di awasi oleh Abah Anom sebagai guru mursyid yang berlokasi di pusat Ponpes Suryalaya, Tasikmalaya. Karena kondisi kesehatan dan usia Abah Anom yang tidak memungkinkan, kegiatan ini beliau dibantu oleh wakil-wakil talqin yang telah diberi mandat untuk dapat memberikan talqin TQN dengan lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia dan Asean.

Talqin ini diberikan kepada orang-orang yang ingin belajar dzikir secara benar seperti yagn telah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW, sahabat-sahabat nabi dan ulama-ulama atau wali-wali yang mewarisi ilmu dzikir dari beliau sebagai salah satucara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT serta mengerjakan segala perintah-Nya dengan hati yang lebih yakin dan ikhlas.

Jadi dalam diri orang tersebut harus ada keinginan yang meskipun kecil, untuk dapat lebih meningkatkan diri dalam melaksanakan perintah-Nya (beribadah) secara sempurna lahir dan batin, sehingga dapat lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Keinginan itu merupakan inti dari taubat, yang merupakan pernyataan bahwa apa yang telah dilakukan sebelumnya dalam beribadah belumlah sempurna dan ingin lebih disempurnakan.

Setiap bulan, rata-rata tamu yang berkunjung ke Ponpes Suryalaya mencapai ribuan. Mereka datang baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Seperempat tamu tersebut adalah ikhwan lama TQN dengan tujuan silaturahmi kepada Abah Anom atau pengasuh ponpes Suryalaya lainnya. Selebihnya, para tamu itu datang untuk meminta diajarkan dzikir TQN atau talqin baik kepada Abah Anom atau wakil talqin yang ada. Hal ini belum termasuk talqin yang diberikan oleh apra wakil talqin dipelbagai daerah.

Jika sudah ditalqin dzikir TQN, maka dzikir jahar dan khofi yagn sudah ditanamkan ke dalam hati harus selalu diamalkan, sesuai aturan pengamalan TQN secara lengkap yang terdapat dalam buku Uqudul Jumaan, yaitu meliputi pengamalan harian, mingguan (khataman) dan bulanan (manaqiban).

Insya Allah, jika hal ini diterapkan secara rajin dan berdisiplin, akan diperoleh hikmahnya sesuai dengan azas dan tujuan TQN yaitu : semakin dekat kepada Allah swt, mendapatkan keridhoan-Nya, timbul perasaan cinta kepada-Nya dan akhir mendapatkan ma’rifat dari-Nya. “Jika ini sudah tercapai, maka jadilah ia manusi ainsan kamil yang berguna bagi agama, bangsa dan Negara, paling tidak bagi masyarakat sekitar,” tutur KH Zaenal Abidin.

Silsilah TQN

TQN selain merupakan spesialisasi dari ponpes Suryalaya, ia juga adalah gabungan dua tarekat mu’tabarah, yakni tarekat Qodiyah yang terkenal dengan metode dzikir jaharnya (diucapkan) dan Tarekat Naksyabandiyah degnan metode dzikir khofinya (dalam hati). Melalui talqin dan pengamalan kedua dzikir itu, dengan tidak lupa melaksanakan syariat Islam yang wajib dan sunat lainnya, Insya Allah manusia dapat mencapai mahabah dan ma’rifat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

Silsilah TQN hingga Abah Anom sekarang ini antara lain : Allah SWT, Jiblil as, Muhammad saw, Sayyidina ali kw, Husain ra, Zain al ‘Abidin ra, Muhammad al Baqr ra, Ja’far al Shadiq ra, Musa al Khadim ra, Abu al Hasan “ali Ibn Musa ra, Ma’ruf al Karkhi ra, Sirr al Saqathi ra, Abu al Qasim al Junaidi al Baghdadi ra, Abu bakr Dilfi al Syibli ra, Abu al Fadhl atau ‘Abd al Wahid al Tamimi ra, Abdul FAroj at Thurthuusi ra, Abu al Hasan ‘Ali Ibn Yusuf al qirsyi al Hakkari ra, Abu Sa’id al Muharik Ibn ‘Ali al Mahzumi ra.

Setelah itu tersebutlah tokoh ulama besar sepanjang masa, yang masuk ke dalam silsilah TQN ke-19 yakni Abdul Qadir al Jailani qs. Kemudian Abd al ‘Aziz ra, Muhammad al Hattak ra, Syams al “Din ra, Syarof al Din ra, Nur al Din ra, Wali al Din ra, Hisyam al Din ra, Yahya ra, Abu Bakr ra, Abd al Rahim ra, Utsman ra, Abd al Fatah ra, Muhammad Murad ra, Syams al Din ra, Ahmad Khatib Syambas Ibn Abd al Ghaffar ra, Thalthat ra, (36) Abdullah Mubarak Ibn Nur Muhammad ra (Abah Sepuh), dan terakhir (37) Shohibulwafa Tajul Arifin ra (Abah Anom).

Pada masa awal tarekat-tarekat diajarkan dan diamalkan di Indonesia, kelancaran untuk mencapai tingkat pengembangannya sangat tergantung kepada para penguasa dan pejabat pemerintah kesultanan atau kerajaan bersangkutan. Para guru tarekat pda masa awal, kebanyakan berasal dari luar Indonesia, kemudian berhasil menjadi penasehat-penasehat keagamaan para Sultan, para kerabat Sultan dan para pejabat tinggi di kesultanan, seperti para wali di Jawa atau ulama besar di luar pulau Jawa.

Sebagai contoh Tarekat Naqsyabandiyyah, dapat cepat dan lancer dalam mencapai tingkat pengembangannya mulai abad ke-13 hingga abad ke-18. Hal itu dikarenakan para Sultan atau pejabat-pejabat tinggi di kesultanan menganut Tarekat Naqsyabandiyyah atau Sattariyyah. Sedangkan Tarekat Qadiriyyah dan lainnya kebanyakan dianut di lapisan menengah ke bawah.

Pada abad ke-17 hingga ke-19, laju perkembangan dan luas cakupan tarekat-tarekat tersebut mengalami hambatan besar karena terjadinya peperangan baik antar bangsa Indonesia sendiri, maupun perang menghadapi serbuan bangsa-bangsa eropa seperti Pportugis, Belanda dna Inggris yang memasuki berbagai bagian wilayah Indonesia. (bersambung)


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP