17 Agustus 2009

Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya (3)

Salah satu ciri khas Ponpes Suryalaya selain melaksanakan pendidikan formal berbasis kurikulum agama Islam dan Umum, juga membuka pondok Inabah. Yakni pondok yang diperuntukkan menangani mereka yang kecanduan narkoba, kenakalan remaja dan gangguan jiwa lainnya. Proses penanganannya menggunakan metode TQN.

Pendidikan agama Islam di Ponpes Suryalaya secara tradisional sudah berjalan bersamaan dengan berdirinya ponpes ini tahun 1905. saat itu, KH Abdullah Mubarok (Abah Sepuh) sudah berusia 54 tahun dan sudah cukup lama belajar ilmu agama dari berbagai guru, diantaranya Syekh Tolhah dari Cirebon dan Syekh Holil dari Madura. Kedua guru ini dikenal sebagai guru Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) besar pada zamannya.

Sejak itu Abah Sepuh menerima santri yang ingin belajar Islam baik ilmu teori seperti fiqih, ushuluddin, ilmu alat, tasawuf, dan lain-lain, termasuk praktek amaliah seperti pelaksanaan syari’ah Islam maupun pelaksanaan tarekat Islam dalam bentuk pengajaran (talqin) dan pengamalaan TQN.

Apalagi sejak diterimanya mandate sebagai guru mursyid TQN dari Syekh Tolhah pada tahun 1908, maka semakin banyaklah santri-santri beliau. Kondisi ni berlangsung terus ketika Ponpes SUryalaya dipimpin oleh KH Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom) yang juga mendapat mandate sebagai guru mursyid TQN sejak tahun 1956.

Pendidikan formal

Sejak tahun 1957, santri Ponpes Suryalaya semakin membludak. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, maka didirikanlah sekolah dengan kurikulum formal yang menitikberatkan pendidikan agama Islam seperti Madrasah Diniyyah Awwaliyah. Dan dari tahun ketahun perkembangan semakin pesan dengan didirikan sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP), Madrasah Tsanawiyah (MT), Madrasah Aliyah (MA), Pendidikan Guru Agama (PGA), dan Perguruan Tinggi Da’wah Islam (1963).

Sejak tahun 1970, berdiri lagi sekolah-sekolah dengan kurikulum pendidikan formal umum seperti SMP (1970), SMA (1976), TK (1978), SMU (1994), dan Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (AILM, 1986). Meski demikian cirri khas dari pesantren tetap dipertahankan dalam satu pendidikan formal. Diantaranya dalam satu lokasi selalu ada Kiyai/Ajengan, Mesjid, Sekolah/kampus, asrama, dan kompleks rumah tinggal guru/dosen.

Di luar jam sekolah formal yang berlangsung dari pukul 07.00 – 13.00, siswa/santri dapat mengikuti kegiatan pengajian tradisional (non formal) yang dilaksanakan di Masjid Nurul Asror, yang waktunya setelah salat wajib. Kegiatannya antara lain mengaji Alquran, mengaji kitab Safinah, Jurmiah, Tijan, Taqrib, Imriti, kemudian Tasripan, dan lain peljaran seperti bahasa Arab, ngaji Lagam, Imla dan lain-lainnya.

Pondok Inabah

Salah satu ciri khas Ponpes Suryalaya adalah adanya pondok Inabah. Inabah berarti kembali ke jalan yagn benar. Dalam pengertian tasawuf, Inabah adalah salah satu maqam atau tingkatan dalam perjalanan seorang murid yagn sedang berupaya mendekati Allah swt, yaitu pada maqam kembalinya dari maksiat menuju kepada ketaatan kepada Alalh Karena merasa malu melihat Allah swt.

Sasaran dari TQN yang dikembangkan Ponpes Suryalah adalah batiniah/rohaniah atau jiwa/hati manusia. Sehingga jiwa/hati dibersihkan dari segala kotoran atau penyakit yang timbul karena kurang kuatnya iman dalam menahan gelombang godaan setan. Dan narkotika adalah salah satu cara yang sangat disenangi oleh setan untuk membawa manusia kepada kesesatan, terutama bagi remaja yang salah didik. Sama halnya minuman keras, obat-obat narkotika menyerang pusat syaraf manusia dan punya sifat yang menghilankan kesadaran.

Dari pengalaman, seorang yang telah menderita kecanduan narkotika, 90% perkataannya adalah dusta dan sering berpura-pura baik. Orang tua yagn tidak waspada akhirnya sering mendapatkan bahwa anaknya ternyata sudah cukup lama menderita kecanduan narkotika, sehingga sulit untuk disembuhkan. “Tujuan akhir dari inabah adalah mengembalikan mereka menuju jalan yang benar dan diridhoi Allah swt,” tutur KH Zaenal Abidin Anwar, pengasuh Ponpes Suryalaya.

Dengan metode TQN yang dipakai untuk penyembuhan korban narkotika dan gangguan kejiwaan lainnya adalah penyembuhan yang dimulai dari hati/jiwa. Ini sesuatu dengan petunjuk Alquran dan Hadist. Maka pada 1971, secara insidentil dimulailah penyembuhan terhadap para korban narkotika yagn dititipkan ke Ponpes Suryalaya dengan metode TQN. Ternyata hanya dalam waktu 6 bulan, hasil memuaskan diraih.

Agar proses penyembuhan berjalan lebih efektif dan efisien, maka pasien ditempatkan dalam suatu panti penyembuhan, termasuk untuk menangani kenakalan remaja dan gangguan kejiwaan lainnya. Akhirnya tahun 1980 didirikanlah panti Inabah I di desa Cibeureum, Ciamis yang dipimpin H Anangsyah.

Metode TQN yang dipakai untuk penyembuhan korban narkotika, kenakalan remaja dan gangguan kejiwaan, dikembangkan secara khusus yang pelaksanaan dimulai dari jam 02.00 pagi dengan mandi taubat/junub. Selanjutnya Sholat Sunat Taubat, Tahajud, sholat sunat lainnya dan diteruskan dengan zikir sebanyak-banyaknya sampai datang waktu subuh. Setelah itu diteruskan dengan zikir dan kemudian sholat sunat.

Begitulah seterusnya kegiatan harian dari pasien adalah salat (wajib dan sunat), zikir, makan dan akhirnya tidur kembali pada jam 22.00 untuk bangun kembali pada jam 02.00 dengan kegiatan yang sama. Dalam waktu sepekan, jika kesadaran asien sudah pulih, maka mereka di bawah kepada Abah Anom atau para wakilnya, untuk ditalqin. Jika kegiatan ini dilaksanakan secara disiplin dan rutin, maka dalam waktu 2 bulan sampai 6 bulan, mereka akan sembuh total dan menjadi normal kembali. (habis)


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP