04 Agustus 2009

Pohon Tanjung Situ Burung

Pohon Tanjung yang tumbuh di kawasan Situ Burung, Desa Katapang, Kabupaten Bandung ini terbilang unik. Ia tumbuh di tengah sawah, dan hingga kini tak pernah ada seorang pun yang berani mengusiknya. Konon, pohon yang hanya tinggal batangnya saja ini dihuni mahluk halus sebangsa jin. Mahluk ini tak rela ada yang menebangnya. Banyak orang kerasukan saat mereka mencoba menebang pohon ini. Bahkan anehnya, pohon ini pernah ditebang tapi kemudian berdiri kembali.

Bila ditelusuri, keanehan pohon Tanjung ini tak lepas dari cerita-cerita yang melingkupi kawasan Situ Burung, tempat di mana pohon ini tumbuh. Kawasan Situ Burung sendiri, selama ini dikenal sebagai lokasi yang sanget dan keramat. Sepintas lalu, banyak yang tak percaya bila kawasan ini angker dan masih dihuni beragam mahluk halus. Maklumlah, secara fisik, kawasan ini merupakan hamparan sawah serta rumah-rumah pemukiman penduduk. Sehingga sulit membayangkan bila tempat ini masih dihuni berbagai jenis mahluk halus.

Namun, jangan coba-coba bicara sompral atau meremehkan keangkeran tempat ini. Sudah banyak orang mengalami hal-hal gaib di kawasan ini. Semisal seringnya terjadi penampakan wujud seorang wanita cantik, lalu menghilang ditelan malam. Atau munculnya hewan-hewan gaib seperti gerombolan kucing siluman yang tidak terduga. Pernah pula orang mendapati belut-belut atau ikan-ikan aneh yang bermain di sawah-sawah garapan penduduk.

Meneropong masa lalu, kawasan ini merupakan danau alam yang airnya berasal dari satu sumber mata air. Sumber mata air ini terletak di dekat sebidang tanah yang mirip pulau mungil bernama Pelabuhan Bulan. Kabarnya, mata air itu berhubungan langsung dengan danau Situ Patenggang, Ciwidey. Secara logika, cerita itu memang sulit diterima. Sebab jaraknya saja mencapai 20 Km dari kawasan Katapang. Namun warga Situ Burung meyakini akan kisah tersebut.

Tatang Suparman, perangkat Desa Katapang, menceritakan hal-hal unik soal Situ burung. Dulu, bila ada yang memancing di Situ Burung sambil membakar menyan hitam, ia pasti akan mendapat ikan yang banyak. Tentu saja, kata Tatang, selain membakar menyan hitam, ada mantera-mantera yang harus dibaca. “Mantera-mantera itulah yang membuat ikan rela memakan umpan pancing,” katanya.

Pohon Tanjung

Seiring perjalanan waktu, banyak yang menginginkan danau Situ Burung dikeringkan dan dijadikan sawah agar lebih produktif. Penguasa kawasan itu, yaitu seorang saudagar kaya, menyetujui. Tapi dengan sarat, setiap tahu harus memberangkatkan haji dua warga Situ Burung ke tanah suci Mekkah. Itulah syarat, sekaligus menjadi tumbal mengeringkan air danau. Setelah terjadi kesepakatan, maka air Situ Burung pun dikeringkan. Sumber mata air yang terletak di Pelabuhan Bulan ditutup. Setelah kering, tanah bekas danau dikavling-kavling dan dijadikan sawah.

Pada tahun-tahun pertama, beber Tatang, setiap usai panen, para penggarap selalu mengirimkan dua orang warganya ke tanah suci. Tapi, lama kelamaan penduduk semakin banyak. Yang menggarap sawah pun semakin banyak pula. Seiring dengan itu, orang-orang yang dulu menggarap sawah banyak yang dimakan usia. Mereka mulai melupakan syarat mengirimkan haji dua warga tiap tahun. Karena itulah “penguasa” danau sering minta tumbal setiap tahun. Misalnya, ada pendatang yang mendadak kena penyakit, lalu meninggal dunia.

Bukan hanya itu, karena bertambahnya penduduk pula, mahluk gaib dan dedemit yang ada di Situ Burung mulai merambah hingga ke jalan raya. Makanya sering kali pengguna jalan di sana yang melihat penampakan wanita cantik, atau kucing-kucing siluman. Bukan hanya itu, sering pula orang di Situ Burung melihat ikan emas warna hijau dan merah. Atau ikan gabus raksasa dan sapi putih bernama si dongkol. Pernah pula ada seorang petani melihat belut yang banyak sekali. Ia lalu mencangkul kepala belut itu hingga kepalanya putus. “Sampai dirumah orang itu mengalami sakit, lalu meninggal dunia,” kata Tatang.

Pendek kata, banyak hal-hal aneh terjadi di kawasan Situ Burung. Termasuk diantaranya soal pohon Tanjung yang tumbuh di tengah sawah. Seperti diungkap H Saidin (85), pohon ini menyimpan banyak kisah mistis. Dari segi fisik, pohon tidak tidak terlihat menarik. Tak ada daun yang tumbuh didahan. Batangnya pun hitam seperti hangus terbakar. Kabarnya, beberapa tahun lalu pohon ini pernah disambar petir. Tapi anehnya pohon ini tidak tumbang, bahkan masih berdiri kokoh.
Usia pohon yang tingginya tak lebih dari lima meter ini diperkirakan sudah berabad-abad. Tak ada yang tahu persis kapan pohon ini tumbuh dan siapa yang menanamnya. Namun menurut cerita dari mulut ke mulut, pohon ini tumbuh dengan sendirinya. “Tepatnya ketika air danau Situ Burung masih menggenang,” ujar H Saidin.

Di danau ini pernah ada tragedy mengerikan berupa tenggelamnya perahu yang mengangkut satu grup kesenian gamelan. “Seluruh penumpangnya, termasuk sinden dan nayaga, tewas tersedot air yang berputar dari dasar danau,” ujar H Saidin lagi.

Menurut H Saidin, orang tuanya pernah bercerita bila pohon Tanjung ini muncul secara ajaib. Ketika itu, di salah satu bagian danau, tiba-tiba airnya bergolak. Padahal sebelumnya, air danau ini tampak tenang. Dalam keadaan bergolak itu, perlahan-lahan muncullah pohon Tanjung ini. Lambat laun pohon ini muncul hingga berketinggian mencapai 10 meter. Daunnya lebat, akar-akarnya menyembul. “Begitulah menurut cerita para sesepuh dahulu. Memang sepertinya sulit diterima akal sehat,” kata H Saidin.

Nah, sampai air danau mengering, pohon Tanjung ini masih tumbuh subur. Tapi lama-kelamaan, daun pohon ini berguguran. Begitulah selama bertahun-tahun, pohon ini tak memperlihatkan kehidupan. Kawasan di sekitarnya pun kemudian berubah menjadi sawah. Dan pohon Tanjung ini tumbuh di antara sawah-sawah itu. Dulu, ketika hendak membuka sawah tersebut, orang pernah berniat menebangnya. Memang, pohon itu berhasil ditebang dan tumbang.

Asep Taufik Rahmat, pemuda warga desa, mengatakan bila setelah penebangan itu, kejadian aneh berlaku. Keesokan harinya, pohon ini berdiri kembali. Bahkan tak terlihat adanya tanda-tanda pernah di tebang. Penduduk yang menyaksikannya sempat tercengang. Beberapa waktu kemudian, penggarap sawah pernah meminta orang untuk menebang pohon ini. Tapi apa yang terjadi. Baru saja beberapa hentakan kapaknya menghantam batang pohon, tiba-tiba orang ini terpental. Lalu dari mulutnya keluar kata-kata yang tidak dimengerti.

“Orang itu kerasukan mahluk halus,” kata Asep. Mahluk halus itulah yang selama ini menunggu pohon Tanjung, imbuh Asep. Tidak heran bila pohon ini tidak bisa ditebang. “Sebab penghuni gaibnya tidak menginginkan rumahnya diusik,” kata Asep lagi. Sejak saat itulah tak ada lagi orang yang berusaha menebangnya. Mereka tidak berani. Menurut Asep, pohon Tanjung itu dihuni mahluk halus sebangsa jin yang bernama Mbah Munaja. ***



0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP