09 Agustus 2009

Pengakuan “Nabi” Ivan Santosa

Meluncurkan pengakuan Ivan sebagai Isa Almasih membuat unsur Muspika Harjamukti kebakaran jenggot. Hanya berselang dua hari sejak kasusnya merebak, para pimpinan kecamatan itu langsung menjambangi rumah Ivan. Mereka meminta Ivan untuk kembali ke jalan yang benar dan membuat pernyataan pencabutan statusnya sebagai “nabi”. Siapa sebenarnya “Nabi” Ivan Santosa ini ? Apa saja ajarannya ?

Sosoknya tak seberapa tinggi. Namun bila menilik sepintas, tampang pria kelahiran Cirebon 10 September 1974 ini memang mirip tokoh dalam film-film bertema religius semacam kenaikan Isa Almasih yang kerap ditayangkan stasiun TV. Kemiripan itu tampak nyata pada rambutnya yang gondrong bergelombang dan janggut panjangnya. Agaknya, itulah salah satu alasan yang membuat Ivan, menyatakan dirinya sebagai Isa Almasih.

Sayangnya, Ivan mulai membatasi bicaranya setelah membuat pernyataan di hadapan unsur Muspika, pejabat Depag Cirebon dan tokoh masyarakat. Meski begitu, potret diri yang sudah diturunkan dari dinding rumahnya, masih menjadi saksi “kenabiannya”. Di bawah foto tersebut masih jelas terbaca deretan tulisan Isa Almasih putera Maryam. Seperti pengakuannya kepada Radar Cirebon (Grup Jawa Pos) sebelum teken pernyataan, Ivan menegaskan bila dirinya memang Isa Almasih yang diutus Tuhan untuk membuktikan kebenaran bila umat manusia harus mengikutinya.

“Saya ini memang Isa Almasih putera Maryam. Bahkan sejak bayi saya sudah bisa berbicara pada siapapun. Ruh saya adalah kudus, suci. Kalau ternyata ada kesalahan yang saya perbuat, maka sejatinya itu bukan dari dalam diri saya. Tapi akibat kesalahan manusia-manusia jahat yang ada disekeliling saya,” terangnya. Ivan juga mengisahkan bila ia lahir antara tahun 1966-1977 di puncak pegunungan Himalaya. Beranjak dewasa ia mengaku diangkat Tuhan untuk bertugas di langit membantu kebutuhan bumi. “Karena itu, saya selalu dekat dengan Jibril dan Mikail.”

Setelah cukup tinggal di langit, tutur Ivan, beberapa tahun lalu dirinya ditanya oleh Tuhan apakah mau tinggal di bumi. Lantas Ivan pun menyanggupi. Ia mengaku turun ke bumi sempat tinggal di Cina, Jepang, Korea, Eropa dan akhirnya terbang ke Cirebon. Ketika ditanya apakah sebagai utusan Tuhan dirinya memiliki pengikut ?

Dengan raut wajah sedih, Ivan menyebut pengikutnya banyak. Termasuk presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hanya saja, ungkapnya, seiring waktu semua pengikut banyak yang tidak setia hingga akhirnya khianat. “Saya akan tetap berdakwah sebagai Isa Almasih. Harusnya semua orang mengakui saya, saya adalah Isa Almasih,” tegas Ivan.

Gangguan Psikologis

Pengakuan Ivan itulah yang dianggap unsur Muspika Harjamukti dan Departemen Agama Cirebon berbahaya. Sebab bila dibiarkan, selain dapat menimbulkan keresahan dikalangan masyarakat, yang dikhawatirkan adalah berhimpunnya para pengikut. “Sehingga bukan tidak mungkin terbentuk satu komunitas yang menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya,” tutur Anang, tokoh masyarakat setempat.

Seperti diungkap Anang pula, pengakuan Ivan dilatarbelakangi kehidupan pribadinya yang tertutup. Diduga kuat Ivan juga terlibat pengkajian dan pendalaman agama tanpa seorang guru. Sejak itulah Anang menduga perilakunya mulai aneh-aneh. Misalnya jika berinteraksi dengan tetangga, Ivan sering bicara mengatasnamakan utusan Tuhan. Yang lebih nyeleneh lagi, kata Anang, Ivan menyatakan kalau kiblat di masjid kompleknya salah dan mesti diubah. “Inikan tidak benar,” tandas Anang.

Satori, ayah Ivan, menerangkan bila anaknya memang mengalami masalah psikologi. Sejak di PHK dari Bank tempatnya bekerja dan bercerai dengan sang istri empat tahun silam, Ivan mengalami tekanan batin. Mulai saat itu dia lebih banyak berdiam diri di dalam rumah. Ketika itulah Ivan banyak mempelajari buku-buku agama Islam. Bahkan sejak beberapa tahun lalu, Ivan membuka usaha dagang alat-alat perlengkapan salat seperti kopiah, sarung, sajadah dan lain-lain. “Hanya saja, usahanya tidak begitu lancar,” tutur Satori.

Menurut Satori, Ivan termasuk anak yang cerdas. Terbukti ia bisa diterima bekerja sebagai karyawan Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI), sebelum akhirnya dilikuidasi pemerintah. Nah, sejak itulah kehilangan mata pencaharian. Akibatnya lagi, sang istri minta dicerai karena kondisi ekonomi keluarga goyah. Ivan sendiri memiliki dua anak, yang tertua umur 9 tahun dan yang kecil 5 tahun. ***


Baca juga :
Isa Almasih From Cirebon


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP