11 Agustus 2009

Patilasan Prabu Kean Santang

Nama Prabu Kean Santang amat terkenal di tanah Pasundan. Banyak nama untuk menyebut tokoh yang satu ini berdasarkan kiprahnya di banyak tempat di Jawa Barat. Rakyat di daerah-daerah tertentu seperti Garut, Bogor, Ciamis, atau Cirebon, meyakini betul keberadaan sang tokoh yang berjasa sebagai penyebar syiar Islam. Inilah beberapa peninggalannya.

Bagi masyarakat Jawa Barat, khususnya warga Garut, nama Kean Santang terdengar amat familier. Di hati mereka, kenangan tentang sang prabu yang terkenal sakti dan amat berjasa dalam syiar Islam ini, sudah terpatri. Bila mereka mendengar atau menemukan kata-kata Kean Santang, hati mereka langsung menerawang dan membayangkan kiprah sang prabu beberapa abad silam.

Prabu Kean Santang sendiri mempunyai seabreg nama. Di Cirebon namanya Walangsungsang, sedangkan orang Panjalu me¬nyebutnya Borosngora. Nama lain yang juga amat terkenal diantaranya Pangeran Mundinglaya Dikusumah, Prabu Rukmantara, Gagak Lumayung dll. Nama Kean Santang dikenal sebagai turunan Pajajaran yang tertua, putra Prabu Siliwangi.

Peninggalan dan jejak Prabu Kean Santang terdapat diberbagai tempat. Antara lain di Gadog, 5 Km dari Garut. Orang-orang begitu mempercayai bila peninggalan Prabu Kean Santang dikubur di sini. Di makam Gadog ini pula bisa dijumpai beberapa alat dan senjata peninggalan Prabu Kean Santang.

Kemudian di Dusun Ciburuy, yang berjarak kira-kira 15 km dari Garut. Tepatnya di Kecamatan Bayongbong. Dari alun-alun kecamatan, ada jalan kecil menuju arah selatan, dan terus naik menelusuri jalan kecil. Di situ akan ditemukan situs Ciburuy, yang diduga kuat sebagai patilasan Prabu Kean Santang, termasuk sehamparan batu tilas sang Prabu menunaikan salat.

Selain itu, di Ciela, tak jauh dari Bayongbong, terdapat pula benda-benda antik milik Kean Santang, yang saat ini dipelihara dengan baik oleh warga setempat. Di daerah Depok, kira-kira 110 km dari Garut ke arah selatan dan 7 km sebelum masuk Pameungpeuk, terdapat gunung yang diberinama Gunung Nagara. Rakyat di sana percaya bahwa Kean Santang dimakamkan di situ.

Dan kemudian kawasan hutan Sancang. Hampir seluruh rakyat Jawa Barat, tahu persis bila hutan yang paling dikeramatkan ini pernah disinggahi Prabu Kean Santang dan ayahnya Prabu Siliwangi. Beberapa lokasi di dalam hutan ini, diyakini sebagai patilasan tokoh-tokoh sakti itu.

Sayyidina Ali

Pernah diceritakan tentang keterampilan dan kecakapan Kean Santang. la ingin memperoleh kekuatan. la pergi ke Mekkah untuk menemui Syaidina Ali. Karena kesaktiannya, ia tidak berjalan sebagaimana layaknya manusia biasa, tapi dengan napak kancang atau berjalan di atas air laut. Nah, di Mekkah ia berjumpa seorang tua yang ternyata orang itulah yang dicarinya.

Orang tua itu lantas jatidiri dan maksudmu kedatangannya ke Mekkah. Di jelaskanlah bahwa ia putra Prabu Siliwangi, raja Pajajaran, yang ingin mempelajari keterampilan dan kepandaian dalam ilmu gaib. Ia lantas bertanya di mana kediaman Sayyidina Ali. Orang tua itu mengangguk, dan bersedia mengantarkan Kean Santang kepada orang yang dicarinya.

Di tengah perjalanan, orang tua itu teringat bila tongkatnya tertinggal. Disuruhnya Kean Santang untuk mengambilnya. Didapatkannya tongkat itu terpancang di tanah. Ketika hendak dicabut, ternyata tidak bisa. Bahkan setelah mengerahkan segenap tenaga, tongkat itu tak bergerak sedikit pun. Keringat mengalir disekujur tubuh, bahkan saking hebatnya tenaga yang dikerahkan, darah segar pun mengucur dari pori-pori. Hingga kemudian, orang tua yang menyertainya telah ada disisinya.

Dengan tenang orang tua itu berkata, "Engkau ingin bertemu dengan Syaidina Ali yang termasyhur itu? Akan aku tunjukkan setelah engkau mencabut tongkat itu. Ucapkanlah sekarang kalimat syahadat, pasti engkau berhasil mencabutnya". Dengan dipandu orang tua itu, Kean Santang mengucap kalimat syahadat. Setelah itu Kean Santang amat mudah mencabut tongkat. Dan rupanya, orang tua itu tiada lain adalah Sayyidina Ali, orang yang memang dicarinya.

Hutan Sancang

Setelah menuntut ilmu kepada Sayyidina Ali, Kean Santang kembali ke tanah Jawa dengan predikat muslim dan siap menyampaikan syiar Islam. Mulailah ia mengajarkan orang agama Islam, dan ayahnya tahu akan hal itu. Diam-diam Prabu Siliwangi dan pengikut¬nya pergi ke arah selatan, memasuki hutan Sancang. Kean Santang menyusulnya dan masuk hutan Sancang.

Raja Dilewa, sang penguasa hutan, bertanya maksud kedatangan Kean Santang bersama pasukan. "Saya datang ke sini untuk mengislamkan rakyat Sancang", jawab Kean Santang. Raja Dilewa menerangkan bahwa keputusan ada ditangan Prabu Siliwangi. Namun Prabu Siliwangi diam seriba bahasa, meski akhirnya berkata juga. “Ayo kita pergi ke sungai Cibabalukan, di sana kita bermusyawarah”

Di tempat itu, Siliwangi mematahkan ranting pohon kaboa, kemudian di perintahnya Kean Santang untuk memegang salah satu ujungnya, sementara ujung lainnya dipegang sendiri. Lalu ia menarik nafas panjang seraya berkata, "Kami bersama rakyat Sancang tidak masuk Islam, berubah agama tidak mudah. Tapi engkau Kean Santang mesti berhati-hati, sebab engkau menempuh jalan yang salah".

Sejenak Kean Santang tak berkata apa-apa. la bingung, lalu mengucap ajian Aji Ader Putih. Berhembuslah angin kencang, diikuti halilintar dan kilat sambar menyambar. Dunia akan runtuh, orang-orang menjadi panik. Tiba-tiba Prabu Siliwangi berubah menjadi harimau putih, tetapi tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Sementara itu rakyatnya berubah menjadi harimau yang warnanya hitam putih garis-garis.

Kean Santang lalu meneruskan perjalanan ke arah timur, sampailah ia dekat Cilauteureun dan disanalah ia tilem (menghilang). Konon, siapapun pergi ke hutan Sancang dan masuk gua Cigarogol, maka ia akan menemukan harimau putih yang masih hidup. Di mulut gua itu akan terlihat tulang belulang binatang. Masyarakat di sana percaya bahwa tulang-ulang itu dibawa harimau Sancang sebagai makanan harimau putih. ***


0 komentar:

Poskan Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP