05 Agustus 2009

Nyangku, Tradisi Rakyat Panjalu

Daerah Panjalu amat dikenal masyarakat Pasundan karena memiliki nilai-nilai sejarah yang tinggi. Setiap bulan maulud, masyarakat Panjalu menggelar upacara Nyangku. Yakni ritual membersihkan benda pusaka sebagai penghormatan terhadap karuhun mereka Prabu Boros Ngora. Upacara adat ini selalu menyedot ribuan pengunjung.

Panjalu adalah nama daerah yang memiliki kekayaan alam luar biasa. Ia terletak pada sebuah bukit yang dikelilingi gunung-gunung. Di sebelah selatan Panjalu terdapat Gunung Syawal, sebelah utara Gunung Cakrabuana, barat Gunung Cendana dan timur Gunung Situng. Panjalu diliputi hawa pegunungan yang nyaman, sejuk dan segar. Tempat ini pun sangat mudah ditempuh karena dapat langsung berhubungan dengan daerah lain seperti Ciamis, Tasikmalaya, Majalengka, dan Kuningan.

Ditelinga masyarakat Jawa Barat, nama Panjalu identik dengan tempat-tempat spiritual yang kerap dijadikan lokasi wisata rohani atau ziarah. Sebut saja Karantenan Gunung Syawal, Batu Latar, Gunung Syawal, Cijauh, Kapunduhan, Guru Aji Cilimus, Cipanjalu, Citatah Dayeuh Luhur, Batu Panjang, Bumi Sakti, Gunung Tilu Panuusan, Cilanglung, Sareupeun, Kubang Kelong, Giut, Situ Lengkong, Nusa Gede dan Astana Gede.

Murid Sayyidina Ali

Akan tetapi, ada satu hal yang sering menarik perhatian masyarakat luas, yakni tradisi Nyangku. Nyangku adalah upacara adat yang dilakukan setiap minggu terakhir bulan Rabiul Awal (bulan Mulud) tepatnya setiap Senin dan Kamis. Tahun ini, ritual Nyangku dilaksanakan bertepatan dengan Senin (24/4) atau sehari setelah peringatan maulud Nabi Muhammad SAW.

Nyangku berasal dari bahasa Arab yaitu Yanko yang artinya membersihkan. Dalam hal ini adalah membersihkan berbagai ma¬cam benda-benda pusaka warisan nenek moyang Panjalu. Masyarakat setempat lebih lazim menyebut upacara adat tersebut se¬agai upacara Nyangku. Menurut sejarah, di daerah ini dahulu pernah beridiri sebuah kerajaan besar bernama Panjalu.

Nah, ritual Nyangku ini selalu menyedot ribuan pengunjung baik dari kalangan masyarakat masyarakat umum, penduduk Panjalu atau keturunannya yang datang dari berbagai daerah. Upacara ini digelar untuk mengingat jasa dan perjuangan leluhur masyarakat Panjalu, yakni Prabu Sanghiang Boros Ngora. Sang Prabu adalah raja Panjalu yang cukup terkenal.

Menurut catatan beberapa raja/ratu yang pernah memegang tampuk pimimpin kerajaan Panjalu turun temurun adalah Sanghyang Tisnajati, Sanghyang Permana, Prabu Babar Buana, Sanghyang Prabu Batara Laya, Prabu Rangga Gumilang, Prabu, Manggara Sakti, SanghyangPrabu Lembu Sampulur I, Sanghyang Ratu Permana Dewi, turun pada Sanghyang Prabu Cakradewa, Sanghyang Prabu Sampulur II, Sanghyang Prabu Boros Ngora, Prabu Hariang Kuning, Prabu Hariang Kancana, Prabu Hariang Ku¬luk Kukung Teko, Prabu Hariang Kadali Kancana dan seterusnya.

Sebelum menjadi raja, Prabu Boros Ngora sempat berguru ke Mekkah, Arab Saudi. Di sana ia mempelajari ilmu-ilmu ke Islaman. Konon di sana sang Prabu berguru langsung dengan Sayidina Ali, sahabat Rasulullah SAW. Usai berguru, Prabu Boros Ngora diberi cenderamata oleh Sayidina Ali berupa pedang, cis (jubah), dan air zam-zam.

Sepulang dari Mekkah, Prabu Boros Ngora diangkat menjadi raja Panjalu yang dulu letaknya di Citatah Dayeuh Luhur. Lantas, air zam-zam pemberian Sayyidina Ali itu dicampur dengan air danau Situ Lengkong di Panjalu. Kerajaan Panjalu sendiri dipindah dipindahkan ke Nusa Gede Situ Lengkong atas perintah ayahnya Prabu Sanghyang Cakradewa.

Benda-benda peninggalan Sang Prabu berupa cendera mata dari Mekkah dan lain-lainnya, hingga kini terus dirawat oleh keturunan-keturunan Panjalu hingga. Sebagai rasa hormat dan mengenang Raja Panjalu berikut perjuangannya itu, juga sebagai upaya melestarikan dan membersihkan benda-benda peninggalannya, digelarlah upacara Nyangku. Ritual ini akhirnya dilaksanakan secara turun-temurun. Bahkan benda-benda peninggalan raja Panjalu dianggap keramat oleh masyarakat.

Pawai Nyangku

Upacara Nyangku dimulai dengan mengeluarkan benda-benda pusaka peninggalan Raja Borosngora seperti pedang, keris, kujang, cis dan lainnya dari Bumi Alit. Bumi Alit adalah bangunan kecil berbentuk panggung dekat Alun-alun Panjalu sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka raja-raja Panjalu. Perlakuan khusus dalam ritual ini diberikan pada pedang yang konon merupakan pemberian Sayyidina Ali.

Setelah benda-benda pusaka itu dikeluarkan dari Bumi Alit, satu persatu di bawa menuju tempat upacara. Benda-benda itu digendong, layaknya menggendong anak bayi diiringi tetabuhan gembyung dan teriakan salawat. Rombongan yang terdiri dari tokoh masyarakat dan sesepuh Panjalu berjalan dalam deretan paling depan diiringi pembawa benda pusaka dan penabuh kesenian gambyung.

Ratusan pengiring lainnya berada dalam giring lainnya berada dalam barisan paling belakang mengantarkan perjalanan benda pusaka ke tempat upacara, yakni dihalaman kantor Desa Panjalu. Puncak acara nyangku adalah pembersihan benda-benda tersebut menggunakan air yang diambil dari sembilan mata air dicampur jeruk nipis.

Saat ritual ini dilakukan, tampak pemandangan menarik. Di bawah panggung dari bambu yang digunakan untuk mencuci benda-benda pusaka itu, ratusan orang berebutan sambil mengulurkan tangan untuk mengambil sisa air yang digunakan mencuci benda pusaka tersebut. Dipercaya air bekas mencuci tersebut bisa memberikan berkah untuk kehidupan. ***



0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP