27 Agustus 2009

Museum Prabu Geusan Ulun

Museum Prabu Geusan Ulun berdiri di sekitar kompleks kantor Pemkab Sumedang. Museum ini termasuk terlengkap di Jawa Barat, kecuali Banten dan Cirebon. Gedung tua ini berarsitektur Sunda dengan ornamen kayu jati. Di dalamnya terpajang warisan budaya leluhur, mulai abad ke-15 hingga abad ke-19 Masehi atau sejak zaman kerajaan Sumedang Larang hingga masa penjajahan Belanda.

Benda-benda cagar budaya yang disimpan dalam gedung ini lumayan banyak dan kerap mengundang perhatian masyarakat luas. Misalnya ada gamelan tua sebanyak 7 set, dan benda-benda pusaka leluhur Sumedang. Riwayat gamelan-gamelan itu selain buatan daerah Sumedang, ada pula yang dibuat semasa Kerajaan Mataram. Benda lain yang juga menyedot daya tarik adalah Mahkota Binokasih.

Mahkota ini selalu menjadi magnet pengunjung lantaran kandungan histori yang dipendamnya. Pada 1578, Mahkota Binokasih merupakan saksi bisu penobatan Prabu Geusan Ulun menjadi Raja Sumedanglarang tahun 1578. Sekaligus sebagai bukti eksistensi kerajaan Pajajaran karena mahkota itu peninggalan Pajajaran terakhir sebelum runtuh oleh Banten.

Bahkan pada masa lalu, mahkota ini sering dipakai untuk upacara pernikahan putra-putri tokoh Sumedang. Sebut saja Hayono Isman, mantan Menpora era Soeharto, adalah orang terakhir yang mengenakan mahkota ini saat menikah. Petugas Museum Prabu Geusan Ulun, Abdul Syukur (45), menceritakan bila mahkota Bikokasih seperti memiliki tuah tertentu. Misalnya melanggengkan hubungan suami istri.

Selain itu, juga terdapat keris milik Prabu Geusan Ulun, Panunggal Naga, dan keris milik Pangeran Kornel (Pangeran Kusumadinata IX), Nagasasra yang dipakai beliau saat berjabat tangan dengan Daendels dalam peristiwa Sadas Pangeran tahun 1811.
Menurut Abdul Syukur, sejarah berdirinya Museum Prabu Geusan Ulun dilatarbelakangi lahirnya Yayasan Pangeran Aria Atmaja (YPSA) tahun 1950 yang kemudian diubah menjadi Museum Pangeran Sumedang tahun 1955.

Geusan Ulun

Nama Geusan Ulun diambil dari tokoh sejarah yang kharismatik dan berjasa dalam menyebarkan agama Islam di wilayah bekas Pajajaran yang masuk ke wilayah Sumedanglarang. Museum yang terletak di jantung Kota Sumedang, berusia hampir tiga ratus tahun. Museum masih tampak utuh dan kokoh berdiri di sebelah gedung Negara yang juga kediaman resmi keluarga Bupati Sumedang. Gedung Negara ini dibangun pada pertengahan abad ke-19 pada masa pemerintahan Pangeran Sugih.

Sejak berdirinya sampai sekarang, Museum Prabu Geusan Ulun memiliki 6 buah gedung, dengan luas lahan 1,8 hektare dan dikelilingi benteng setinggi 3 meter. Di antaranya, Gedung Srimanganti, didirikan tahun 1706 oleh Bupati Dalem Adipati Tanujaya yang memindahkan pusat kota kabupaten dari Tegal Kalong ke tempat ini.

Hingga tahun 1950, Gedung Srimanganti menjadi kediaman resmi bupati atau keluarganya dan antara tahun 1950 sampai 1981 dipergunakan Kantor Pemda Sumedang serta pernah mengalami pemugaran bersamaan gedung Bumi Kaler, tahun 1982. Setelah itu, Srimanganti diserahkan kepada Yayasan Pangeran Sumedang oleh Direktur Kebudayaan Depdikbud masa itu. Gedung Srimanganti dan Bumi Kaler, sebelumnya masuk dalam Monumenter Ordonantie tahun 1931 sebagai benda Cagar Budaya.

Dalam gedung ini disimpan cukup banyak koleksi benda sejarah, antara lain Meriam Kalantaka peninggalan kompeni tahun 1656, Gamelan Panglipur peninggalan Pangeran Rangga Gede tahun 1625-1633, Gamelan Pangasih peninggalan Pangeran Kornel (1791-1828), serta Gamelan Sari Arum peninggalan Pangeran Sugih (1836-1882). Sementara itu, Gedung Bumi Kaler yang didirikan tahun 1850 atau masa pemerintahan Pangeran Kusumah Adinata (Pangeran Sugih) 1836-1882, dipergunakan sebagai tempat kediaman Bupati Sumedang.

Bentuk arsitektur khas sunda berupa Julang Napak, dibuat pada umumnya dari bahan kayu jati. Di dalam gedung ini disimpan, antara lain kitab/naskah kuno terdiri Alquran tulisan tangan abad 19, Kitab Waruga Jagat awal abad ke-18, serta Kitab Riwayat abad ke-19 dan huruf pegon. Selain kitab itu, juga kumpulan koleksi uang dalam dan luar negeri, puade, tempat anak dikhitan abad 19, Payung Kebesaran abad ke-17,18, dan 19, jam berdiri, peninggalan Pengeran Suria Atmaja, buku-buku di ruang perpustakaan.

Sementara itu, Gedung Gamelan juga didirikan tahun 1973 sumbangan dari Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta masa itu. Oleh Pemda diserahkan YPS dan kemudian digunakan menyimpan sebagian gamelan serta alat musik tradisional lainnya, selain digunakan tempat latihan tari-tarian. Di dalamnya tersimpan 10 unit gamelan, di antaranya Gamelan Sari Oneng Parakan Salak abad ke-19, pernah dibawa pameran di Amsterdam tahun 1883, di Paris 1889, dan Chicago 1893. Kemudian Gamelan Sari Oneng Mataram, abad ke-17 peninggalan Pangeran Penambahan, serta sejumlah gamelan lain abad ke-18.

Gedung lainnya, yakni gedung Gedeng yang pada mulanya dibangun pada tahun 1850 oleh Pangeran Suria Kusumah Adinata, digunakan menyimpan pusaka, senjata-senjata leluhur, dan gamelan peninggalan masa lalu. Gedung Gedeng juga sempat dipugar pada tahun 1950, tapi fungsinya masih tetap untuk menyimpan pusaka leluhur. Baru kemudian, pada tahun 1990 dibangun Gedung Pusaka baru sehingga sebagian besar koleksi pusaka dipindahkan ke gedung pusaka yang baru ini. *



0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP