17 Agustus 2009

Masjid Jami Kebon Jeruk

Meski terletak ditengah hiruk pikuk kota Jakarta, tapi kewibawaannya tetap terjaga. Masjid yang dibangun pada abad ke-17 ini begitu sejuk dan wingit. Di masjid inilah para mujahid digembleng selama 4 bulan. Lalu dilepas untuk syiarkan Islam ke berbagai daerah di pelosok tanah air. Inilah masjid yang membius orang menjadi mujahidin dan ahli dakwah mumpuni.

Secara administratif, Masjid Jami Kebon Jeruk terletak di jalan Hayam Wuruk No. 85, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat. Ia berada persis ditengah ingar bingar deru kendaraan yang melaju di jalur Hayam Wuruk dan Gajah Mada yang ramai. Masjid ini berbatasan langsung dengan kompleks pertokoan di sebelah selatan dan utara. Sedangkan dibagian selatan, terdapat pemukiman penduduk yang cukup padat.

Dari segi arsitektur, keaslian bangunan belum tersentuh perubahan. Jadi keasliannya masih tetap dipertahankan. Meski begitu, proses renovasi sudah berkali-kali dilakukan. Itu untuk menjaga kekokohan masjid yang sudah berusia 3 abad ini. Namun beberapa perubahan dari bentuk asli sudah terjadi juga. Misalnya bagian mihrab (tempat imam, red). Mihrab baru berukuran 2 X 1,5 m, dengan dinding tembok. Sementara mimbar yang asli di bawa ke Museum Fatahillah.

Bangunan masjid dikelilingi pagar tembok pada bagian utara dan timur. Sedangkan sisi barat dan selatan dilengkapi pagar besi setinggi hampir 2 meter. Menara masjid ada dua buah. Sebuah menara lama, dan lainnya baru. Menara lama terbuat dari kaca dengan teralis kayu. Puncaknya berbentuk empat persegi dengan hiasan bulan bintang di dalamnya.

Makam Cina

Masjid ini terasa agung karena memendam sejarah masa lampau. Masjid Jami Kebon Jeruk adalah masjid pertama yang dibangun di kawasan Glodok. Masjid ini dibangun tahun 1786 Masehi oleh Chau Tsien Hwu, seorang saudagar dari daerah Sin Kiang, negeri Tiongkok. Chau Tsien Hwu adalah seorang pemeluk Islam yang taat. Ia datang ke tanah Jawa karena merasa ditindas oleh pemerintah di daerahnya.

Sebagai wujud pemberontakan dirinya, pergilah ia berlayar ke tanah Jawa. Ketika sampai di Jakarta, ia menemukan sebuah surau yang tiangnya telah rusak. Surau itu nampak tidak terpelihara lagi. Bisa dimaklumi, pada masa itu tentara Belanda tengah berkuasa. Mereka menjajah dan meredam sekian banyak kegiatan rakyat jajahannya. Nah, melihat kondisi itulah Chau Tsien Hwu mendirikan tempat ibadah yang diberi nama Masjid Kebon Jeruk.

Sebagai bukti sejarah, disebelah timur halaman masjid, terdapat makam dengan nisan bertuliskan Fatimah Hwu. Ia adalah istri dari Chau Tsien Hwu, pendiri masjid. Nisan ini berbentuk kepala naga dengan tulisan huruf Cina dan penanggalan Arab. Tertulis 1792. Tahun wafatnya fatimah. Nisan itu pula yang menjadi lambang keunikan dari masjid Jami Kebon Jeruk.

Ahli Dakwah

Seperti diungkap KH Muhammad Muslihuddien, pengurus Masjid Kebon Jeruk, sejak awal didirikan, masjid ini menjadi markas gemblengan para pendakwah. Ternyata Chau Tsien Hwu bukan hanya seorang pedagang. Ia pun seorang yang mahir berdakwah. Telah banyak pendakwah ulung ia lahirkan. Namun sejak beberapa waktu kemudian, kegiatan gemblengan seperti itu vakum. Bahkan sampai seabad lebih.

Dan seperti sebuah mukjizat, pada tahun 1974, misi dakwah kembali bergema. Ahli-ahli dakwah dari berbagai penjuru seakan berdatangan. Mereka saling bertukar pikiran dan menimba ilmu. Menggali hakikat hidup dan kehidupan. Membedah ajaran dalam Alquran dan Hadis. Hasilnya, jurus-jurus berdakwah yang jitu tercipta.

Menurut KH Muhammad Muslihuddien, setiap malam jumat selalu ada istima (berkumpul, red). Yakni kegiatan berkempul atau pengajian bagi seluruh umat islam. Malam itulah disusun rencana dakwah, dan esok paginya para pendakwah disebar. Uniknya, kegiatan dakwah dilakukan dengan biaya sendiri. "Itu sesuai dengan sunnah Rasul dan semangat berjihad," tutur KH Muslihuddien.

Para pembimbingnya teradiri dari kiai-kiai senior dan ahli-ahli dakwah yang suka rela datang sendiri. Gemblengan dilakukan selama bertahap. Tahap pertama selama 4 hari. Bila ia terlihat berminat ditingkatkan menjadi 40 hari, dan seterusnya 4 bulan. Setelah siap, dia akan dilepas untuk berdakwah keliling. ***


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP