05 Agustus 2009

Makuta Binokasih Sumedang

Makuta Binokasih adalah lambang kebesaran atau mahkota kerajaan Pajajaran. Menjelang keruntuhannya, Raja Pajajaran Prabu Siliwangi menyerahkan mahkota ini kepada Prabu Geusan Ulun, Raja Sumedang Larang. Itu sebagai simbol bahwa Pajajaran masih hidup dan diteruskan oleh Sumedang Larang.

Sumedang bermula dari sebuah kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Raja Galuh didirikan oleh Prabu Guru Adji Putih atas perintah Prabu Suryadewata. Di beri nama Tembong Agung , tembong artinya nampak dan agung sebuah cita-cita luhur. Terletak di melakukan tapa brata untuk Kampung Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja sekarang.

Diceritakan jaman dahulu kala, “poek bulan tahun saka”, Prabu Tadjimalela dinobatkan menggantikan tahta ayahnya. Nama kerajaan Tembong Agung diganti menjadi Hibar Buana yang berarti di gunung Cakrabuana, terungkaplah kata awal “Insun Medal, Insun Mandangan” yang artinya “aku dilahirkan dan aku menerangi”. Dari situ terbentuklah nama Sumedang. Nama kerajaan Hibar Buana pun diganti menjadi kerajaan Sumedang Larang.

Tampuk pimpinan kerajaan Sumedang Larang terus berlanjut sampai putra beliu yakni Prabu Lebu Agung, kemudian Prabu Gajah Agung, kemudian Putri Nyi Mas Ratu Intan Dewata atau Ratu Pucuk Umun yang menikah dengan Pangeran Santri Kusumahdinata, tahun 1530. Pangeran Santri adalah putra Pangeran Palakaran dari puteri Sindangkasih.

Pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452 Saka atau bertepatan dengan tanggal 21 Oktober 1530 M, Pangeran Santri dinobatkan sebagai Raja Sumedang Larang. Tiga bulan kemudian, di keraton Pakungwati, Cirebon, diadakan perjamuan syukuran atas kemenangan Cirebon atas Galuh, sekaligus merayakan penobatan Pangeran SAntri. Kala itu, Sumedang Larang telah masuk dalam lingkaran pengaruh Kerajaan Cirebon. Pangeran Santri merupakan murid Susuhunan Gunung Jati. Ia adalah penguasa Sumedang Larang yang menganut agama Islam pertama, dengan pusat pemerintahannya di Kutamaya.

Dari pernikahannya dengan Ratu Pucuk Umun itu, Pangeran Santri yang bergelar Pangeran Kusumahdinata I ini dikaruniai 6 keturunan. Yakni Pangeran Angkawijaya (Prabu Geusan Ulun), Kiai Rangga Haji, Kyai Demang Watang Walakung, Santowan Wirakusumah (yang melahirkan keturunan anak cucu di Pagaden Subang), Santowan Cikeruh dan Santowan Awiluar. Pangeran Santri wafat 2 Oktober 1570.

Diantara putra-putrinya dari Pucuk Umun, yang melanjutkan pemerintahan Sumedang Larang ialah Pangeran Angkawijaya yang bergelar Prabu Geusan ulun. Semasa pemerintahannya, ia melanjutkan dan meluaskan kekuasaannya hingga meliputi wilayah selatan dengan Samudera Hindia, utara laut Jawa, barat kali Cisadane dan wilayah timur kali Cipamali.

Pajajaran Runtuh

Bersamaan dengan itu, Kerajaan Pajajaran sewaktu dipimpin oleh Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi (1575) jatuh akibat serangan gabungan pasukan Islam. Sebelum Prabu Siliwangi meninggalkan Pajajaran, ia mengutus 4 orang Kandagalante (wedana). Mereka adalah Eyang Jayaperkosa (Sanghyang Hawu), Kondang Hapa, Terong Peot (Pancar Buana) dan Nangganan (Wiradijaya), untuk menyerahkan Makuta Binokasih serta menyampaikan amanat untuk Raja Sumedang Larang Prabu Geusan Ulun.

Adapun bunyi amanat tersebut adalah agar Kerajaan Sumedang Larang melanjutkan kekuasaan Pajajaran. Selengkapnya bunyi amanat tersebut adalah “sira paniwi dening Pangeran Geusan Ulun. Rukungsira rumaksa wadyabala, sinangguhan niti kaprabunwang salwirnya”. Sejak saat itu, keempat Kandagalante ini mengabdi kepada Raja Sumedang Larang, dan kemudian Prabu Geusan Ulun menjadi penerus kerajaan Pajajaran.

Kemudian pada 22 April 1579, Prabu Geusan Ulun dinobatkan menjadi Prabu Sumedang Larang yang merupakan penerus kerajaan Pajajaran. Tanggal itu pula yang kini menjadi Hari Jadi Kabupaten Sumedang. Kerajaan Sumedang Larang sendiri ketika itu telah menganut Islam.

Rekaman peristiwa, barang bukti dan berbagai benda pusaka purbakala peninggalan kerajaan Sumedang Larang hingga para Pangeran dan Bupati tersimpan lengkap bahkan terpelihara dengan baik, serta dapat disaksikan langsung eksistensinya di museum Prabu Geusan Ulun yang berada tepat di samping Pendopo Kabupaten Sumedang.

Selain benda bersejarah yang tersimpan di museum itu, tanah leluhur Sumedang juga diwarisi dengan berbagai situs dan peninggalan sejarah lainnya yang bertebaran di berbagai bekas kerajaan. Bentuk-bentuk peninggalan itu antara lain adanya upacara adat tradisi seni budaya buhun, yang hingga kini masih mengental di masyarakat. Seni pahat, makanan khas, keramah tamahan, serta panorama alamnya yang memikat. ***


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP