23 Agustus 2009

Makam Opu Daeng Manambon

Sebukit Rama adalah nama tempat yang menjadi bukti sejarah perjalanan Kerajaan Mempawah, Kalimantan Barat. Bukit yang berada kurang lebih 10 Km dari Kota Mempawah itu menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Mempawah sejak Patih Gumantar bertahta. Di situlah bermayam para tokoh-tokoh kerajaan Mempawah seperti Opu Daeng Menambon, serta Patih Gumantar. Mengapa kompleks Sebukit Rama dikeramatkan orang ?

Wajar bila kompleks Sebukit Rama di sebut-sebut sebagai saksi, sekaligus bukti sejarah Kerajaan Mempawah. Sebab di tempat itu ditemukan tilas-tilas sejarah seperti Batu Tempat Semedi, Tongkat Kayu Belian, Kolam Batu Berbentuk Teratai, serta Prasasti Balai Pertemuan. Kerajaan Mempawah sendiri berkait erat dengan Kerajaan Bangkule Rajakng yang dipimpin oleh Ne’Rumanga pada abad ke-16.

Sebukit Rama

Juru kunci Sebukit Rama, Gusti Lahmudin (62) dan Gusti Amar (62) menuturkan, sepeninggal Ne’ Rumanga, kerajaan ini dipimpin putranya, Patih Gumantar yang beristrikan Dara Irang. Sayang, sang istri lebih dulu meninggal dunia dan dikaruniani tiga anak, Patih Nyabakng, Patih Janakng dan Dara Itam.

Pikirannya terus saja gundah sepeninggal istri tercinta. Maka untuk menghibur diri, dia melakukan pengembaraan untuk mencari lokasi istana Bangkule Rajakng yang baru. Sampailah Patih Gumantar ke sebuah bukit bernama Gunung Kandang yang ukurannya tidak terlalu besar, namun strategis letaknya karena dikelilingi oleh sebuah sungai.

Patih Gumantar lantas membangun istana di situ. Istana itu diberinama diberi nama Sebukit Rama, yang artinya bukit raya, jaya, agung dan mulia. Sayang, Patih Gumantar terbunuh saat perang kayau mengayau (memenggal kepala manusia, red) dengan Suku Bidayuh (Biaju) di dekat Sungkung kawasan Serawak, tapi jasadnya di makamkan di Sebukit Rama.

Tak pelak, kejayaan Bangkule Rajakng pun runtuh hingga berabad kemudian bangkit lagi saat diperintah Raja Kudong yang pusat pemerintahannya di Pekana (sekarang Karangan, red). Namun kerajaan itu tak ada sangkut pautnya dengan Patih Gumantar. Sepeninggal Raja Kudong, kerajaan ini kemudian diambil alih oleh Raja Senggaok.

Versi lain yang menyebut, tatkala Patih Gumantar terbunuh saat perang kayau-mengkayau, kedudukannya digantikan oleh putranya yakni Patih Nyabakng, dengan pusat kerajaan di Sebukit Rama. Saat itulah, diadakan perjanjian dengan Ne’ Riyo dari Kerajaan Lara di Sungai Raja (Raya) Negeri Sambas, yang membuat batas antara kedua kerajaannya dari lautan membelah sepanjang Sungai Raya hingga menyusuri daratan dan gunung ke perhuluan dengan ditanami batu-batuan sebagai tanda yang disebut Sungai Raja Seba’yan.

Raja Senggaok sendiri, dengan sebutan Panembahan Senggaok, menikah dengan Puteri Cermin, yaitu salah satu puteri Raja Qahar dari Kerajaan Baturizal (Pagaruyung) Indragiri, Sumatera, yang mengungsi karena terjadi perang saudara di sana. Mereka dikaruniani seorang anak perempuan yang diberi nama Mas Indrawati.

Daeng Manambon

Saat dewasa, Mas Indrawati dinikahkan dengan Sultan Muhammad Zainudin dari Kerajaan Matan di Ketapang dan mendapatkan seorang putri cantik, Puteri Kesumba. Namun di kerajaan ini, sempat terjadi perang saudara. Sultan Muhammad Zainal akhirnya tersingkir dari tahta oleh adiknya sendiri, Sultan Agung.

Ia sempat mengirim surat meminta bantuan ke lima Opu bersaudara untuk merebut kerajaannya lagi. Keberhasilan lima Opu yang dipimpin Opu Daeng Menambon ini lah, yang kemudian menjadikannya dinikahkan dengan Puteri Kesumba. Dari perkawinan ini, mereka mendapat putra-putri. Tetapi yang menonjol kepopulerannya adalah Utin Chandramidi dan Gusti Jamiril atau Panembahan Adijaya Kesuma Jaya.

Beberapa tahun kemudian, Opu Daeng Menambon, istrinya dan Mas Indrawati (mertuanya, red) serta neneknya, Puteri Cermin dan langsung ke Senggaok. Setelah diadakan serah terima dari Pengeran Adipati, yakni sepupu yang memangku sementara tahta kerajaan, Opu Daeng Menambon yang merupakan cucu menantu Panembahan Senggaok, kemudian memangku jabatan Raja mempawah yang ketiga.

Dia kemudian memindahkan pusat kerajaan ke Sebukit Rama lagi. Cara pemerintahannya berjalan lancar, karena bijaksana dan taat memeluk agama Islam serta selalu bermusyawarah. Sedangkan Utin Chandramidi kemudian menikah dengan Sultan Abdurahman Alkadrie, raja pertama Kerajaan Pontianak. Sedangkan Gusti Jamiril menggantikan tahta Kerajaan Matan di Ketapang.

Hewan misterius

Sejarah masa silam telah berlalu. Dan kompleks Sebukit Rama di mana Opu Daeng Manambon dipusarakan, kini menjadi yang dikeramatkan orang. Konon, mendatangi kompleks makam Opu Daeng Manambon, harus dilandasi niat yang baik dan hati yang bersih. Bila tersirat niat yang buruk, dipastikan bakal mendapat hal-hal aneh. Seperti menjumpai kalajengking atau hewan berbisa yang misterius lainnya.

Menurut Gusti Lahmudin, jika berada di makam seorang raja besar, semua tergantung niatnya. Kalau tidak demikian, maka dia akan menjumpai hal-hal yang tak lazim di kawasan Sebukit Rama. ”Pernah dulu ada seorang wanita, tersesat dan sempat melihat tujuh tangga Kolam Batu berbentuk Teratai. Padahal di tempat itu hanya ada satu anak tangga saja,” jelasnya.

Pernah suatu ketika, kata Gusti Lahmudin, saat banyak orang yang tergila-gila dengan judi, tidak sedikit orang yang datang ke tempat itu hanya ingin minta nomor. ”Konon kabarnya ada yang pernah dapat. Tapi kebanyak dari mereka malah bertemu ular dan kalajengking berbisa. Binatang-binatang itu memang datang untuk menakut-nakuti agar tempat ini jangan dinodai untuk tujuan yang tak benar,” jelasnya. ***


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP