05 Agustus 2009

Makam Mbah Cacagati Conggeang

Di dalam bangunan semi permanen seluas 2,5 X 4 meter ini terdapat dua pusara bernisan batu. Satu diantaranya berbalut kain putih. Masyarakat Desa Narimbang, Kecamatan Conggeang, Sumedang, menyebutnya makam Mbah Cacagati. Ia adalah leluhur mereka yang juga pendiri desa Narimbang. Bagi peziarah asal Indramayu, makam ini dikenal pula sebagai patilasan Prabu Siliwangi dan Sunan Giri yang patut diziarahi menjelang musim tanam.

Makam Mbah Cacagati terletak di hutan Sawah Kalapa lereng Gunung Tampomas. Selain letaknya yang terpencil karena berada di tengah hutan, dua makam ini amat dikeramatkan. Dua tahun silam, tragedi besar terjadi. Di atas pusara makam keramat ini terjadi pembantaian lima peziarah asal Indramayu. Darah segar pun bersimbah mengotori makam. Banyak yang mengatakan mereka adalah tumbal makam itu karena akan terjadi perbuatan terkutuk.

Pasca kejadian itu, makam Mbah Cacagati pun semakin dikeramatkan. Bahkan kesan angker semakin melekat. Menurut warga setempat, darah segar yang pernah memercik dan membasahi nisan yang terbuat dari batu itu, sudah lama dibersihkan. Namun entah kenapa, seringkali warga mencium semilir bau amis darah dari kompleks makam ini. “Kejadian pembantaian di makam ini sudah lama, tapi bau darahnya sering tercium dari jauh,” tutur Wardi, warga Narimbang.

Makam Keramat

Di kaki Gunung Tampomas memang terdapat dua makam keramat. Diantaranya makam Mbah Cacagati di Blok Sawah Kalapa dan sebuah lagi di puncak Gunung Tampomas. Bagi warga setempat, kedatangan orang asing yang tiada lain adalah para peziarah, bukan hal baru. Sudah sejak lama hal itu berlaku. “Selama ini tidak pernah ada kejadian apapun. Kejadian yang lalu itu hanya kebetulan saja, bukan akibat makam yang minta tumbal,” tutur Ki Oso bin Hasan (63), kuncen makam Mbah Cacagati.

Ki Oso memang tak menampik bila makam yang ditungguinya secara turun temurun itu dikeramatkan. Menurut dia, selain makam Mbah Cacagati, tempat itu juga merupakan makom atau patilasan. Tentu saja bukan sembarang orang yang meninggalkan tapak penting di tempat itu. “Dia adalah Eyang Prabu Siliwangi dan Prabu Sunan Giri,” ujar Ki Oso.

Keberadaan tempat keramat ini, terangnya, sudah terkenal kemana-mana. “Banyak yang mempunyai hajat tertentu datang dan menginap di makam ini. Termasuk lima peziarah yang jadi korban itu. Mereka datang ke sini dan menginap sejak tiga hari lalu,” ujarnya lagi.

Menurut Ki Oso, warga Indramayu bahkan menganggap penting keberadaan makam ini. Mereka meyakini bila usai panen dan menghadapi masa bercocok tanam, mereka merasa harus ziarah ke makam tersebut. Tak jelas apa motivasi mereka. Yang pasti, kata Ki Oso, sudah sejak bertahun-tahun mereka melakukan ziarah itu. Ada yang datang secara rombongan, namun tidak jarang yang ziarah perorangan. Umumnya mereka tidur di tempat itu. “Tidak jarang ada peziarah yang sudah berkali-kali datang ke makam ini,” kata Ki Oso.

Tapak Sejarah

Secara historis, kawasan di kaki Gunung Tampomas ini mengandung tapak sejarah yang penting. Karena itulah warga Narimbang terkesan unik. Hal ini diakui banyak kalangan. Meski sifat ramah tamah warga desa Narimbang tidak diragukan, namun mereka memiliki watak yang keras. Agaknya, sejarah leluhur mereka yang membentuk itu. Soal watak keras masyarakat Narimbang ini sudah terbukti ketika mencoba mempertahankan sesuatu yang dianggap benar. Bahkan tidak segan-segan mereka menyerbu kantor polisi, seperti pernah terjadi beberapa tahun yang lalu.

Menurut sejarah, di desa ini dulu pernah berdiri kerajaan yang bernama Gunung Karang Padjadjaran yang dipimpin oleh seorang ratu bernama Dewi Imbang Rasa. Kerajaan ini dianggap sebagai pecahan kerajaan Padjadjaran pasca kehancurannya. Nah, Dewi Imbang Rasa mempunyai suami bernama Kusumah Yudda. Dari sang suami, Dewi Imbang Rasa dikaruniai tiga orang puteri, yakni Dewi Kencana Ningrat, Dewi Ratna Wulan, dan Dewi Juwita Wati. Dewi Juwita Wati kemudian menikah dengan Syarif Arifin, seorang pria kebangsaan Turki.

Dewi Juwita Wati dikaruniawi seorang anak bernama Putri Cacagati. Sampai akhir hayatnya, Putri Cacagati wafat dan di makamkan di Blok Sawah Kalapa. Sampai sekarang di kenal dengan nama Mbah Cacagati, yang di atas pusaranya terjadi pembantaian lima peziarah. Wilayah kerajaan Gunung Karang ini lumayan luas, mencakup wilayah kecamatan Conggeang, Kecamatan Paseh, kecamatan Buahdua, dan sebagian Kabupaten Subang.

Nah, setelah Gunung Tampomas meletus, ibukota kerajaan sering berpindah-pindah dari Narimbang ke Haur Ngombong Tanjungsari. Kemudian pindah lagi ke Nangtung, Ungkal, Ujung Jaya, dan Cipelang. Setelah itu kembali ke Narimbang. Hingga kini tersebutlah nama Desa Narimbang, yang diambil dari nama Sang Ratu, Dewi Imbang Rasa. ***


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP