04 Agustus 2009

Legenda Onom Ciamis

Kisah Onom seakan tak terpisahkan dengan sejarah perkembangan Kabupaten Ciamis. Dulu, para bupati dan raja-raja Galuh, diyakini punya hubungan dengan lelembut ini. Dalam berbagai hal, Onom dipercaya sering membantu mereka. Konon, kini Onom menghuni Pulo Majeti. Siapa sebenarnya Onom?

Kisah bangsa lelembut bernama Onom di Ciamis, tak terpisahkan dengan perjalanan Bu¬pati/Raja Galuh R.A.A. Kusuma¬diningrat di masa lalu. Raja Galuh yang kerap dipanggil Kangjeng Prebu ini amat dikenal di kalangan masyarakat setempat sebagai bupati yang berhasil membangun Ciamis.

Misalnya, saat memimpin Ciamis menggantikan Raden Adi¬pati Kusumadiningrat pada tahun 1886, Kangjeng Prebu membangun irigasi-irigasi dan dam (bendungan). Misalnya salu¬ran Gandawangi dan Nagawiru un¬tuk mengairi persawahan dan mem¬buka areal baru. Dengan pemba¬ngunan irigasi itu, pembangunan sektor pertanian di bawah kepe¬mimpinan Kangjeng Prebu me¬ngalami kemajuan cukup pesat.

Dia juga mewajibkan pasangan warganya yang menikah membawa kitri atau bibit pohon kelapa untuk ditanam di halaman rumahnya. Ke¬bijakan itu masih terasa manfaat-nya sampai sekarang. Ciamis kini menjadi sentra kelapa dan ada 13 ribu orang yang menggantungkan hidupnya dari pohon tersebut.

Sahabat Onom

Selain sukses membangun Ciamis, Kangjeng Prebu juga dikenal masyarakat sebagai bupati yang memiliki banyak "kelebihan". Sampai-sampai salah satu peninggalannya di Selagangga, sering didatangi banyak orang dan jadi ajang ngalap berkah. Kelebihan sang bupati diantaranya punya hubungan khusus dengan roh halus yang dise¬but Onom.

Bentuk hubungan khusus itu misalnya saat ada pesta atau hajat di pendopo, bupati selalu menyedia¬kan tempat dan hidangan khusus untuk Onom. Tempat khusus itu letaknya di belakang pendopo Ciamis. Di situ juga disajikan hidangan yang ditutupi dengan daun pohon kelapa. Tidak semua orang bisa masuk ke ruangan itu, kecuali kuncen Ranca Onom yang pakai¬annya terbuat dari kain goni yang terkoyak-koyak dengan tutup kepala kukusan.

Hubungan Onom dengan Bupati Ciamis dan keturunannya, kabarnya terus berlangsung dan menjadi bagian kepercayaan masyarakat Ciamis hingga sekarang. Onom tetap dipercaya ikut menjaga kea¬manan para Bupati Ciamis dan ke¬turunannya dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Beberapa Bupati Ciamis penerus Kanjeng Prebu, bahkan sengaja mengosongkan atau tidak menggunakan salah satu ruangan yang ada di Gedung Negara --tempat tinggal para bupati. Dan dalam setiap ulang tahun Ciamis, sering disediakan ruangan dan makanan khusus untuk Onom. Hanya saja, dalam beberapa tahun terakhir kisah atau kebiasaan itu meredup.

Salah seorang Bupati Ciamis, Sastrawinata, pernah mendapatkan penghargaan Bintang Willems Orde, dari pemerintah kolonial Be¬landa. Penghargaan itu diberikan karena Sastrawinata dinilai berhasil meredam pemberontakan PKI di Ciamis. Tokoh PKI Alimin dan Mu¬so datang ke Ciamis pada tahun 1926.

Menurut cerita rakyat Ciamis, bahwa ke¬berhasilan bupati meredam pemberontakan PKI itu karena bantuan Onom. Ceritanya, setelah membu¬nuh beberapa warga Ciamis, pem¬berontak itu sempat mengepung bu¬pati yang sedang berada sendirian di pendopo. Tapi begitu pemberon¬tak mendekat, mereka melihat ada ratusan orang bersenjata lengkap berada di belakang bupati. Para pemberontak pun mundur. Padahal waktu itu bupati sendirian. Itu salah satu kisah Onom dalam kaitannya sebagai pelindung bupati di Ciamis.

Mahluk Halus

Sebutan Onom, siluman dan Pulo Majeti di daerah Purwaharja Ciamis ini selalu berkait dengan kisah mistik, kesan angker dan menyeramkan. Bagi sebagian warga Ciamis, cerita soal Onom dan Pulo Majeti bagaikan bagian dari sejarah daerah mereka. Tak heran bila cerita soal Onom masih sering terangkat ke permukaan yang diwariskan secara turun temurun.

Onom seolah menjadi simbul nilai magis bagi sebagian warga Ciamis. Sejak zaman dulu sampai sekarang, sebutan itu, paling tidak ikut menambah pamor bagi mereka yang sedang berada di rantau orang. Konon, bila warga yang suatu saat mendapatkan kesulitan atau marabahaya, Onom akan tiba seketika asal dipanggil, sehingga yang bersangkutan akan terhindar dari marabahaya yang sedang mengancamnya.

Onom dipercaya sebagai mahluk halus (siluman), yang tidak saja dapat dipanggil jika diperlukan, tetapi juga mampu memberikan bantuan dan sumber kekuatan bagi yang memanggilnya. Tak heran bila kemudian berkat pengaruh onom, sebagian masyarakat Ciamis (yang percaya pada Onom) memiliki kebanggaan tersendiri sebagai warga Ciamis dengan kekuatan Onomnya.

Sebelum tahun 1970-an, setiap ada acara-acara resmi pemerintahan, senantiasa diawali dengan upacara ritual "pemanggilan" Onom. Misalnya ketika Gubernur Jabar akan meresmikan penggunaan helikopter "Ciung Wanara" yang kebetulan dilakukan di Ciamis. Sebelum acara peresmian dilakukan, diadakan upacara pernujaan dan pemanggilan Onom.

Kemunculan Onom ditandai dengan hadirnya seekor kuda tak berpenumpang, tapi tubuhnya bermandi keringat dengans napas terengah-engah seakan menanggung beban yang berat. Kuda yang datang ke lokasi upacara itu diyakini tengah ditunggangi oleh ratu Onom. Namun saat ini, kepercayaan dan pemujaan terhadap Onom lengkap dengan sesajian yang dilakukan oleh pihak pemerintah tidak ada lagi. Ini terjadi seiring dengan makin melunturnya kepercayaan, pemujaan dan pemanggilan Onom yang berkembang di masyarakat Ciamis sendiri.

Pulo Majeti

Sisa-sisa kepercayaan terhadap Onom kini masih berkembang di sebagian kecil masyarakat, terutama yang tinggal sekitar pusat kekuatan Onom, yakni Pulo Majeti. Pulo Majeti ini dulunya berada di tengah-tengah Rawa Onom. Pulo Majeti inilah disinyalir sebagai pusatnya kerajaan Onom. Orang yang datang ke tempat ini tidak diperbolehkan mengeluarkan kata-kata yang sompral (seenaknya).

Menurut Eming Surabraja, mantan Kepala Desa Purwaharja ke 17, Onom merupakan pasukan balatentara dari Kerajaan Medang yang ditaklukkan balatentara Keralaan Galuh. Karena kecewa atas kekalahan itu, Raja Medang berikut pengikutnya "tilem" (menghilang) di Pulo Majeti. Yang tilem di Pulo Majeti itu adalah Prabu Selang Kuning Sulaeman Anom, Ibu Ratu Gandawati ingkanggarwa, Raden Patih Kalintu Undara Pamerat Jagat, Raden Jaksa Jagabuana, Raden Wedana Langlangbuana, Kiai Bagus Tol Malbaeni dan Kiai Bagus Mantereng.

Sedangkan pengikutnya terdiri Mas Bugel, Mas Bedegel, Mas Rimpung dan Mas Jemblung . Namun sebelum "tilem", mereka berjanji akan mengirimkan upeti setiap tahun sesuai permintaan Raja Galuh. Pemimpin kerajaan Medang, kemudian dipercayakan kepada Prabu Anom, yang ditugaskan dari Kerajaan Galuh. Akan tetapi Prabu Anom dalam menjalankan tampuk kepemimpinannya bertindak semena-semena. Hingga nama Kerajaan Medang berganti nama menjadi Kerajaan Onom.



0 komentar:

Poskan Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP