23 Agustus 2009

Keramat Batu Tujuh Bojongmenje

Batu Tujuh adalah sebutan tujuh bongkah batu yang terdapat di lingkungan RW 02 Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Batu Tujuh memang dikeramatkan. Bahkan nama gang yang melintasi lokasi batu itu berada, diberinama Gang Batu Tujuh. Masyarakat setempat yakin Batu Tujuh berkait dengan sejarah silam tempat itu. Tak seorang pun berani mengusik batu itu karena takut celaka.

Keberadaan Batu Tujuh hanya berjarak sekitar 400 meter dari lokasi candi Bojong Menje, yang baru ditemukan tiga tahun silam. Di sebut Batu Tujuh, karena jumlah batu ini tujuh bongkah. Fisiknya bulat tak beraturan dengan diameter rata-rata 60 cm. Semuanya tergeletak begitu saja di salah satu sudut jalan Gang Batu Tujuh.Yang unik dari batu ini adalah soal bobot.

Ketika ditanyakan kepada masyarakat setempat soal itu, mereka semua menggelengkan kepala, tanda tidak tahu. Kepala Kampung Bojongmenje, Somantri Salim (60), malah mengatakan sesuatu yang sulit dinalar. Katanya, berat batu tidak bisa diukur. “Bobotnya bisa mencapai satu ton bila yang ingin mengangkat punya niat buruk,” tandas tokoh yang dituakan di kampung itu.

Sejak ditemukannya Candi Bojongmenje alias Candi Orok beberapa tahun silam, keberadaan Batu Tujuh juga menyedot rasa ingin tahu masyarakat. Somantri meyakinkan bila Batu tujuh sudah ada sejak lama. Ia tergeletak di tanah milik H Umar. Dan sejak lama pula, tak pernah ada yang memindahkan batu-batu itu. Somantri mengatakan, pernah ada yang akan membawa salah satu batu itu. Memang, hari itu ia berhasil membawanya. Tapi esoknya, batu itu sudah ada di tempat semula. “Bahkan yang memindahkannya jadi sakit,” kenang Somantri.

Menurut Somantri, Batu Tujuh bukan sembarang batu. Batu itu merupaikan tinggalan leluhur yang pernah menghuni tempat itu ratusan tahun lalu. Bahkan kini batu itu ditunggui mahluk gaib bernama Nyi Mas Raja Inten. Konon ada satu keanehan yang melekat pada batu itu. Ia bisa memberi kekayaan bagi pemeliharanya. Hal itu dibuktikan H Umar. Dulu, sebelum merawat batu itu, ia tak memiliki apapun dalam bentuk harta. Namun setelah memelihara batu itu dihalaman rumahnya, H Umar memiliki tanah sampai 60 Ha yang tersebar di beberapa tempat.

Minta Tumbal

Tapi hati-hati terhadap batu ini. Bila bertindak gegabah, bisa dapat celaka. Seperti memindahkan letak batu dari tempat asalnya. Tiga tahun yang lalu, Somantri bercerita, pernah ada yang mencoba memindahkan batu itu. Namanya H Rohman. Sayangnya, proses pemindahan tidak didahului dengan permohonan ijin kepada penunggu batu. Akibatnya penghuni batu itu tak rela, Nyi Mas Raja Inten tak mau dipindah.

Lantas apa yang terjadi? Setelah memindahkan batu itu, keesokan harinya H Rohman jatuh sakit. Kian hari sakitnya tambah parah. Akhirnya dia meninggal dunia. Penyakit yang dideritanya pun sangat aneh. Sakit itu datang tiba-tiba dan tidak diketahui jenisnya. Ilmu kedokteran hanya menyebutnya sakit tekanan darah tinggi. “Bisa saja sebenarnya H Rohman menjadi tumbal dari batu itu,” tutur Somantri.

Setelah kejadian itu, beberapa tokoh kampung Bojongmenje pernah kedapatan ilafat. Bunyinya antara lain, “Kami jangan dirusak, peliharalah kami,” ujar Somantri menirukan bunyi ilafat itu. Akhirnya ilafat ini didiskusikan bersama beberapa pini sepuh kampung. Mereka meyakini isi ilafat itu adalah pesan untuk memelihara Batu Tujuh yang terletak di RT 02 itu. Sebab ternyata, petunjuk gaib semacam itu datangnya bukan hanya sekali, tapi beberapa kali kepada lain orang. Sejak itu Batu Tujuh dianggap keramat dan tak ada yang berani macam-macam.

Meski dikeramatkan, beber Somantri, kita tidak boleh melebih-lebihkan soal batu ini. Selain ia pun mahluk ciptaan Tuhan sama seperti manusia, bentuknya tetap saja batu, benda mati. Hanya saja, batu ini memiliki kelebihan dibandingkan benda sejenis. Yakni ada penunggunya, yang patut dihormati. “Ini pertanda kita harus menghargai alam semesta,” ungkap Somantri. ***


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP