18 Agustus 2009

Kemunculan Bigfoot di Berbagai Tempat

Penampakan tapak kaki raksasa di lereng Gunung Papandayan, mengingatkan orang akan kemunculan fakta sejenis di beberapa tempat di tanah air dan mancanegara. Dan tentu saja, fenomena itu menimbulkan kehebohan luar biasa. Pemerintah negara bagian Johor, Malaysia, bahkan akan menghukum bagi siapa yang mengusik keberadaan bigfoot.

Penampakan tapak kaki mahluk raksasa di lereng Gunung Papandayan, mirip dengan kejadian di Ngabang, Kalimantan Barat, beberapa tahun silam. Bahkan warga Barito Utara, Kalimantan Tengah, tak hanya menemukan tapak kaki raksasa, tapi juga telapak tangan berukuran besar. Fakta menggemparkan tersebut ditemukan di wilayah ruas jalan menuju desa Sei Rahayu I kilometer 38, Kecamatan Teweh Tengah dan juga di Kelurahan Tumpung Laung, Kecamatan Montallat, Kalimantan Tengah.

Lurah Tumpung Laung I, Reginal H Tawu, di Muara Teweh, membenarkan, jejak telapak kaki dan tangan raksasa sering pula ditemukan di hamparan pasir Janah Gemuntur di sana. Berdasarkan cerita orang-orang tua di kelurahan Tumpung Laung, jejak telapak kaki dan tangan sering ditemukan di hamparan pasir Janah Gemuntur, sekitar 10 kilometer di belakang kelurahan yang juga ibukota kecamatan Montallat itu.

Meski demikian, belum ada warga yang mengaku melihat langsung makhluk raksasa yang diperkirakan sebesar gorila ini. Tapi para pemburu atau warga yang melintas di Janah Gemuntur, seringkali melihat jejak raksasa yang serupa dengan jejak telapak kaki dan tangan yang ditemukan di jalan simpang kilometer 38 yang menuju desa bekas transmigrasi Sei Rahayu.

Sejumlah warga masyarakat setempat yakin itu jejak makhluk raksasa, karena setiap pagi atau siang sering melihat daun-daun yang biasanya berserakan di sekitar lapangan, tiba-tiba bersih. Sepertinya ada tangan yang membersihkan tumpukan daun. "Menurut cerita orang tua, tempat ini memang angker. Dulu, hamparan pasir Janah Gemuntur pernah diusulkan menjadi lokasi wisata. Tapi sekarang belum terealisir," kata Reginal.

Dia tidak bisa memastikan, apakah jejak di Janah Gemuntur sama dengan jejak yang ditemukan staf Dinas Pekerjaan Umum Barut belum lama ini. Penemuan jejak ini mesti diteliti lebih lanjut, karena ada indikasi antara hal nyata dengan hal-hal gaib.

Seperti diketahui, jejak yang ditemukan di jalan trans kilometer 38 pada 1 November 2006 lalu, sempat menghebohkan sejumlah staf PU Barut. Telapak tangan dan kaki ukuran besar, hampir mirip bentuknya dengan telapak tangan manusia itu terlihat jelas di atas jalan yang baru di aspal dan dilapisi debu batu di kawasan hutan atau sekitar 400 meter dari simpang ruas jalan negara Muara Teweh-Puruk Cahu.

Terdengar Lolongan

Di Johor, Malaysia, kisah penemuan telapak Kaki Besar ini lebih dramatis. Tepatnya pertengahan Februari 2006 pagi-pagi buta. Ketika itu, Yazid Jaafar (29) bersama dua rekannya, Ariffin Sham dan Wan Ahmad Ismail, berada dalam gubuk perkebunan kelapa sawit tempat mereka bekerja, di Kaki Gunung Panti, Johor. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara lolongan dan auman aneh dari dalam hutan.

Bunyi yang terdengar itu dianggapnya sungguh luar biasa dan belum pernah terdengar sebelumnya. Suaranya seperti perpaduan bunyi monyet dan babi hutan. ''Kami dapat membedakan bunyi hewan liar yang biasa ditemui di hutan ini. Tapi saya tidak pernah mendengar bunyi aneh seperti itu,'' ungkap Jaafar kepada media setempat.

Lolongan dan auman itu terdengar sekitar 10 menit. Kemudian Jaafar dan dua rekannya mengambil lampu senter dan langsung pergi mencari sumber suara. ''Ketika diperkirakan berada di dekat sumber suara, kami mendengar bunyi dengusan yang kuat dan kami bergegas pergi karena takut,” kata mereka. Menyusul terdengarnya suara aneh itu, Jaafar juga terbelalak karena untuk pertama kalinya melihat telapak kaki raksasa. Di sekitarnya, didapati daun-daun pohon bekas dipetik pada ketinggian tiga meter lebih, dan dipercayai dimakan oleh makhluk itu.

''Saya melihat dengan jelas bekas telapak kaki menyerupai telapak kaki manusia, tetapi jarinya lebih besar di sepanjang tebing sungai. Makhluk itu mungkin muncul di hutan sekitar kawasan ini dan berjalan di sepanjang tebing sungai untuk makan daun,'' ungkap Jaafar. Ukuran jejak itu kira-kira panjang 50 cm dan lebar 30 cm. Jejak telapak kaki berukuran besar itu sangat jelas, empat jari bentuknya seperti telapak kaki monyet, ditambah satu ibu jari bengkok 90 derajat.

Sebelumnya, tepatnya sejak November 2005, media Malaysia telah dilanda demam Bigfoot. Saat itu, sejumlah pekerja tambak ikan mengklaim telah melihat tiga makhluk raksasa berbulu di pinggiran Endau Rompin. Mereka juga mengaku telah melihat sebuah jejak kaki raksasa yang sempat difoto oleh mereka. Foto itu kemudian dimuat oleh koran-koran lokal. Para petugas Endau Rompin telah menyisir lokasi penampakan makhluk-makhluk itu. Tapi tidak ditemukan bukti-bukti fisik tentang keberadaan mereka. Namun kemudian ada pula laporan penampakan Bigfoot dari penduduk asli yang tinggal di pinggiran hutan tersebut.

Pemerintah negara bagian Johor bahkan mengancam akan menghukum siapa pun mengusik mahkluk bigfoot atau si kaki besar. Kebijakan baru ini diumumkan, setelah ada sekelompok orang yang mengaku berhasil menangkap bayi bigfoot di hutan Johor. Pihak berwajib di negara bagian Johor mengancam akan memenjarakan warga asing yang memasuki hutan untuk mencari Big foot alias si kaki besar.

Namun, kini mahluk berbulu yang sulit ditemukan itu juga dilindungi dari warga Malaysia. Kebijakan ini diumumkan menyusul laporan bahwa sekelompok pria yang mengaku petugas suaka margasatwa mengatakan kepada warga desa di dekat Mersing, Johor, bahwa mereka telah memberhasil melumpuhkan bayi Bigfoot dengan panas yang dibubuhi obat bius.

Legenda Batak

Peradaban Batak, juga telah lama mengenal adanya makhluk yang bernama Homang. Homang adalah sejenis hewan yang mempunyai daya intelijensia tinggi. Tubuhnya berbulu dan pandangan matanya dapat menghilangkan ingatan manusia yang pernah melihatnya. Kegemarannya adalah mengambil anak dara desa untuk dibawa ke pedalaman hutan, untuk dijadikan sebagai teman. Homang sangat membutuhkan manusia sebagai temannya tapi dia sendiri tidak ingin diketahui secara umum oleh manusia.

Pada tahun 80-an, pernah ada khabar seorang putri desa di Panigoran, Pakkat, Humbahas, hilang ketika akan mengambil air ke pancuran umum di waktu subuh. Kabarnya, memang Homang memunculkan diri di pergantian pagi ke siang. Saat malam akan berubah terang, Homang akan mengincar anak dara yang suka atau sedang melamun atau "marangan-angan".

Berhasil, anak itu ditemukan kembali pulang ke rumahnya dengan pandangan mata yang linglung. Orang Batak bilang, itu "dililui Homang". Homang akan mengembalikan mangsa ke rumahnya setelah pikirannya dihilangkan. Korban hanya mengingat bahwa dia baru kembali dari hutan, tapi tidak mengetahui dari mana dan bagaimana jalannya.

Ada yang bilang, dalam perjalanan pulang Homang akan memberikan pilihan kepada korbannya, yakni menetap dengannya atau kembali ke rumah. Bila pilihan menetap, maka korban akan hidup dengan Homang di hutan. Dan bila pilihannya ingin kembali, Homang akan membolehkan korban pulang ke rumahnya dengan memberikan ciri-ciri jalan dan tidak boleh menoleh ke belakang. Bila menoleh ke belakang maka korban mungkin saja akan tersesat selamanya di hutan maupun di alam pikirannya sendiri, alias rittik atau gila. ***

luk Pemalu, Aktif Malam Hari



Ditemukannya tapak Kaki Besar alias Bigfoot di banyak tempat, mengindikasi fakta Bigfoot dekat dengan kebenaran. Tak heran bila banyak pihak tertarik untuk menyelidiki lebih jauh. Namun, hingga kini belum terdengar hasil memuaskan. Jadi, benarkah keberadaannya?

Cerita-cerita mengenai Si Kaki Besar alias Bigfoot telah terdengar sejak berabad-abad lalu. Ia selalu jadi pembicaraan hangat di sekitar api unggun bagi siapapun yang berkemah di tepi hutan atau gunung. Orang Amerika menyebutnya sebagai Sasquatch, dan kebanyakan memanggilnya Bigfoot (kaki besar). Makhluk misterius ini diyakini serupa kera besar yang hidup di wilayah-wilayah pegunungan dan hutan-hutan.

Legenda mengenai kera raksasa itu selalu diceritakan dari mulut ke mulut oleh kebanyakan suku Indian di Amerika, juga bangsa-bangsa asli Eropa dan Asia. Orang-orang di Himalaya, misalnya, memiliki kisah si Manusia Salju Buruk Rupa yang disebut Yeti. Di kalangan orang-orang Aborigin, Australia, Bigfoot dikenal sebagai Yowie Man. Orang-orang di Amerika Selatan, kawasan Amazon, menyebutnya Mapinguari.

Tinggi 3 Meter

Ribuan orang, konon mengaku pernah melihat manusia kera berbulu lebat itu. Namun, bukti keberadaannya masih kabur. Memang ada beberapa foto yang memperlihatkan makhluk tinggi besar tersebut, tetapi keasliannya diragukan. Sejauh ini banyak pula jejak-jejak kaki yang terlihat, seperti yang terjadi di di Kp Stamplat, lereng Gunung Papandayan, Garut, Jabar itu. Meski banyak yang mengaku pernah melihatnya, tapi orang-orang masih meragukan. Pasalnya belum ada bukti yang benar-benar akurat akan keberadaannya, sisa tulang belulangnya pun tidak pernah ditemukan.

Meski begitu, ada sekelompok kecil ilmuwan yang masih tergoda mencari, bahkan meyakini keberadaan Bigfoot. Walau mungkin mendapat cemooh dari banyak kalangan, namun kelompok ini mengungkap adanya bukti-bukti forensik yang cukup untuk menjalankan suatu ekspedisi yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Yakni penelitian ilmiah yang komprehensif untuk membuktikan bahwa makhluk legendaris itu benar-benar ada.

Ada atau tidak, yang jelas banyak kebudayaan memiliki cerita tentang manusia berbulu. Penampakan mereka di Amerika Utara dan Asia sudah dibicarakan sejak awal tahun 1800-an. Walau sudah banyak cerita, foto, dan jejak kaki mereka, namun sejauh ini belum pernah ada bukti ilmiah bahwa mereka ada. Tidak pernah ditemukan kotorannya, tulang belulangnya, serta tubuhnya, hidup atau mati.

Laporan mengenai bigfoot yang pertama didokumentasikan adalah jejak yang ditemukan seorang pedagang Kanada tahun 1811. Nama bigfoot (kaki besar) kemudian dikenal luas setelah adanya laporan media mengenai jejak kaki besar yang ditemukan di Bluff Creek, California, tahun 1959. Sedangkan foto bigfoot paling terkenal diambil tahun 1967 walau masih diperdebatkan keasliannya.

Baru-baru ini, para pencari bigfoot seolah mendapat harapan baru ketika rambut bigfoot ditemukan penduduk Teslin di Yukon. Mereka mengklaim menemukan rambut tersebut di sekitar jejak-jejak besar yang ditinggalkan makhluk setinggi 3 meter, serupa manusia, yang terlihat di halaman rumah mereka.

Kera Asia

Tanda-tanda keberadaan mahluk misterius yang banyak ditemukan di Amerika, Eropa dan Asia ini menimbulkan dugaan bahwa mahluk tersebut adalah keturunan dari sebangsa kera besar Asia yang bermigrasi hingga Amerika Utara pada jaman es. Para ilmuwan percaya saat ini setidaknya ada 2.000 manusia kera yang tinggal di hutan-hutan pegunungan Amerika Utara.

Makhluk jantan dewasa dari jenis ini diperkirakan berukuran tinggi 2,4 meter, beratnya sekitar 360 kilogram. Mahluk ini mempunyai kaki yang ukurannya lebih besar dari kaki manusia, sehingga mereka dikenal sebagai Bigfoot. Makhluk misterius ini diduga aktif pada malam hari (nocturnal) dan pemalu. Makanan utamanya adalah buah-buahan dan berbagai jenis berri.

Apakah Bigfoot benar adanya? Matt Moneymaker, seorang penjelajah, telah mencari Bigfoot selama bertahun-tahun. Suatu hari, di hutan sebelah timur Ohio, ia mengklaim berjumpa dengan primata itu. "Saat itu jam dua pagi dan bulan seperempat penuh," kata Moneymaker. "Tiba-tiba di depan saya berdiri makhluk setinggi 2,4 meter pada jarak lima meter, dan menggeram kepada saya. Ia seolah berkata bahwa saya berada di tempat yang salah."

Moneymaker, yang tinggal di Dana Point, California bagian selatan, adalah seorang pengacara yang di waktu senggangnya mengelola Bigfoot Field Researchers Organization, suatu jaringan yang terdiri dari sekitar 3.000 orang yang mengaku pernah bertemu Sasquatch. Meski banyak yang mengaku melihat makhluk itu, sayang sekali tidak satupun yang berhasil memotretnya. Barangkali foto Bigfoot paling terkenal adalah yang diambil oleh Roger Patterson pada tahun 1967.

Foto kontroversial itu melukiskan Bigfoot betina yang berjalan tergesa-gesa di tepi sebuah sungai di California utara. "Makhluk itu jelas-jelas bukan manusia," kata Moneymaker. Untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekedar berkhayal, para pendukung Bigfoot itu kini mencari bukti-bukti forensik untuk membuktikan keberadaannya. Penyelidik Jimmy Chilcutt dari Kepolisian Conroe, Texas, yang merupakan ahli dalam sidik jari dan jejak kaki, telah menganalisa lebih dari 150 cetakan kaki Bigfoot, yang disimpan di laboratorium Meldrum di Universitas Idaho.

Berdasar salah satu cetakan jejak kaki yang ditemukan tahun 1987 di Walla Walla, negara bagian Washington, Chilcutt meyakinkan bahwa Bigfoot benar-benar ada. "Pola dan teksturenya berbeda dengan pola lain yang pernah saya lihat," ujarnya. "Jelas ini tidak berasal dari manusia atau dari primata lain yang pernah saya ketahui. Pola alurnya memanjang sepanjang telapak, tidak seperti jejak manusia yang melebar. Tekstur telapak juga dua kali lebih tebal dibanding manusia, yang mengindikasikan makhluk ini memiliki kulit yang sangat tebal."

Sementara Meldrum mengatakan bahwa cetakan seberat 180 kilogram yang dikenal sebagai Cetakan Skookum menyajikan bukti yang lebih jelas mengenai keberadaan Bigfoot. Cetakan itu dibuat bulan September 2000 dari bekas jejak makhluk yang berbaring menyamping di sekitar tanah lumpur di Hutan Nasional Gifford Pinchot, di Washington.

Cetakan Skookum menggambarkan bentuk-bentuk yang diketahui sebagai lengan, paha, pinggul, dan juga betis. Kata Meldrum, ukurannya 40 hingga 50 persen lebih besar dari manusia normal dan anatominya tidak serupa dengan hewan-hewan yang sudah dikenal. Mengenai hal itu, beberapa akademisi percaya Meldrum bisa jadi benar. Peneliti simpanse terkenal, Jane Goodall, bahkan mengatakan dirinya yakin bahwa primata-primata besar yang belum ditemukan, seperti Yeti atau Sasquatch, benar-benar ada.

Masih Diragukan

Meski demikian, mayoritas ilmuwan menganggap Bigfoot hanyalah omong kosong belaka. Sebab bila makhluk itu memang ada, mengapa tidak satupun yang pernah tertangkap baik hidup maupun mati. Mengenai hal itu, para pembela Bigfoot berargumen bahwa makhluk itu sifatnya pemalu dan aktif di malam hari. Mereka juga menyebutkan bangkainya tidak pernah ditemukan seperti halnya kita jarang menemukan bangkai beruang grizzly di alam bebas.

Hal yang meragukan lagi adalah kenyataan dimana contoh-contoh rambut yang dibawa saksi mata ternyata berasal dari rusa elk, beruang atau sapi. Beberapa penglihatan dan jejak kaki, setelah diselidiki ternyata palsu. "Bukti-itu adalah hasil kerja orang-orang yang mencari sensasi," kata Michael Dennett, salah satu peneliti yang tidak percaya.

Keraguan Dennett terhadap Bigfoot makin besar setelah ia mendengar cerita putra Ray Wallace, seorang pencari jejak Bigfoot. Wallace, menurut sang putra, ternyata menciptakan legenda Bigfoot dengan membuat jejak-jejak kaki palsu dari kayu di wilayah perkemahan sebelah utara California pada tahun 1958.

Sedangkan mengenai cerita dari para saksi mata, Dennett lebih menganggapnya sebagai halusinasi orang-orang saja. "Laporan-laporan itu sama dengan laporan dari mereka yang mengaku melihat monster Loch Ness, UFO, atau makhluk lain," katanya. ***

Baca juga :
Big Foot Muncul di Gunung Papandayan


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP