11 Agustus 2009

Kemegahan Ma’had Al Zaytun

Sejak awal pembangunan hingga diresmikan oleh Presiden Habibie pada 1999 silam, Pondok Pesantren Al Zaytun terus menerus memantik kontroversi. Memang, siapapun yang pernah menapakkan kakinya di kompleks ini, pasti akan berdecak kagum menyaksikan megahnya fasilitas yang ada. Saat itulah pertanyaan klasik bakal muncul. Dari mana dana untuk membangun ma’had terbesar dan termegah di Asia Tenggara ini ? Tak heran bila pesantren ini sering dikaitkan dengan gerakan NII KW 9 dalam hal menghimpun dana. Bahkan disebut-sebut bila gerakan merongrong NKRI itu bermarkas di balik kemegahan Al Zaytun. Benarkah ?

Tidak berlebihan bila menyebut pesantren yang diresmikan Presiden Habibie pada 1999 ini sebagai gambaran dari sistem pesantren modern. Ma’had Al Zaytun dimiliki oleh Yayasan Pesantren Indonesia. Ia dibangun di atas tanah 200 ha untuk sarana pendidikan, didukung 1000 ha lahan untuk usaha perternakan, pertanian dan tanaman hutan. Dukungan sektor pertanian itu bertujuan untuk menanamkan filosofi pertanian dalam proses belajar para santrinya.

Pesantren ini terus mengalami perkembangan pesat dari wktu ke waktu. Sarana prasarana pendidikan terus bertambah seiring dengan pertambahan jumlah santri. Sejak pertama kali diresmikan, pesantren ini langsung dikenal luas oleh masyarakat Islam di tanah air. Santri-santrinya datang dari seluruh Indonesia, bahkan ada yang berasal dari luar negeri, seperti Malaysia, Singapura dan Afrika Selatan.

Menuai Kontroversi

Perkembangan dan kemajuan yang fenomenal ini akhirnya menimbulkan kontroversial. Misalnya belum genap dua tahun usia Al Zaytun, telah berdatangan tudingan dan tuduhan yang dialamatkan ke pesantren ini. Di kalangan masyarakat Indramayu sendiri, misalnya, sudah tersiar kabar bila Ma’had Al Zaytun menganut ajaran dan akidah menyesatkan.

Pernah suatu ketika, mereka yang mengatasnamakan Keluarga Besar para orang tua korban kejahatan NII Ma’had Al Zaytun, pernah mendatangi DPR RI dan meminta DPR membentuk tim khusus guna menyelesaikan persoalan Al Zaytun. Itulah bentuk reaksi terhadap kesesatan yang dialamatkan kepada Al Zaytun. Reaksi pun terus datang bertubi-tubi, baik dari perseorangan maupun lembaga dalam berbagai acara. Mulai dari diskusi, tabligh akbar, bedah buku, sampai kesaksian para korban. Sebagian besar dari reaksi itu menyebut bila Ma’had Al Zaytun adalah sesat.

Di sisi lain, muncul juga anggapan dari masyarakat bahwa Al Zaytun murni sebagai lembaga pendidikan yang menerapkan kurikulum Departemen agama dan Departemen pendidikan Nasional secara terpadu. Mereka juga berpendapat bahwa isu-isu yang disebarluaskan oleh orang atau kelompok tertentu tidak lebih sebagai upaya memecah belah umat Islam dan sekaligus upaya penghancuran Islam oleh orang islam sendiri.

Jenderal (Purn) AM Hendropriyono, kepala BIN, dalam sambutannya ketika meresmikan dimulainya pembangunan gedung Dr Ir HM Soekarno pada 14 Mei 2003, menyatakan akan membela pesantren ini dengan seluruh kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya. Bahkan dia menyebut orang-orang yang selama ini mendiskreditkan Ma’had Al Zaytun sebagai iblis.

Munculnya sikap pro dan kontrak di masyarakat seputar ma’had Al Zaytun ini mendorong Departemen Agama RI lewat Balitbang Agama dan Diklat Keagamaan, untuk melakukan penelitian terhadap pesantren itu. Hasilnya, Depag mencatat beberapa hal. Pertama, bahwa Al Zaytun merupakan lembaga pendidikan yang berobsesi menjadi lembaga pendidikan Islam modern dan unggul. Kedua, komunitas Al Zaytun dalam memahami ayat Alquran dan Hadist bercorak rasional dan konstekstual.

Ketiga, walaupun interaksi sosial internal di kalangan komunitas Al Zaytun cukup dialogis dan berkultur islami, namun interaksi sosial eksternal seperti dengan masyarakat sekitar dan pejabat pemerintah cukup terbatas. Bila disimpulkan, hasil penelitian itu menyiratkan Depag belum menemukan bukti-bukti kesesatan Al Zaytun, atau keterlibatannya dengan gerakan NII.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga membentuk tim peneliti independen terhadap Ma’had Al Zaytun. Hasilnya, ditemukan beberapa hal. Pertama, indikasi kuat adanya hubungan antara Al Zaytun dengan NII KW 9 yang bersifat historis, finansial dan kepemimpinan. Kedua, terdapat penyimpangan faham dan ajaran Islam yang dipraktekkan organisasi NII KW 9. Ketiga, tidak ditemukan adanya penyimpangan ajaran Islam dalam sistem pendidikannya –kecuali dalam masalah zakat fitrah dan qurban.

Meski sikap pro kontra bermunculan di sana sini, namun pihak pesantren tak berhenti membangun. Hingga proses pembangunan itu terus berlangsung. Termasuk berdirinya masjid raya Rahmatan Lil’alamin yang mampu menampung 100.000 jamaah, serta ruang belajar berlantai empat yang diberinama”Gedung Jenderal Besar Soeharto”.

Sejarah Al Zaytun

Awalnya, sekelompok mahasiswa mengadakan diskusi intensif tentang model pendidikan islam yang representatif. Mahasiswa yang melakukan diskusi intensif itu adalah sekelompok mahasiswa ITB yang mempunyai jaringan dengan AS Panji Gumilang. Dalam perkembangan selanjutnya, diskusi itu menghasilkan beberapa pemikiran lanjutan berupa ide pendirian sebuah lembaga dan hingga pemilihan lokasi.

Menurut mereka, kondisi umat Islam Indonesia ternyata masih tergolong kaum yang belum mandiri dibanding dengan bangsa-bangsa lain. Mereka menyoroti kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai di kalangan umat Islam Indonesia. Mereka justru melihat umat Islam Indonesia hanya menonjol dalam sisi kuantitasnya.

Mereka melihat kondisi tersebut seagai realita yang tidak bisa dibantah. Kesamaan visi di antara mereka ini menghasilkan keputusan untuk memilih sistem pendidikan pesantren. Untuk itu, mereka mendirikan Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) pada 1 Juni 1993 atau bertepatan dengan hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1413 H. Untuk pertama kalinya YPI berkantor di desa Padaasih, Kecamatan Cibogo, Kabupaten Subang, berdasarkan akta pendirian tanggal 25 Januari 1994.

Yayasan ini berazaskan Pancasila dan UUD 1945 dan bertujuan ikut mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa. Untuk mencapai tujuan itu, yayasan akan melakukan berbagai usaha yang halal. Salah satunya mendirikan pondok-pondok pesantren di mana-mana. Untuk mematangkan sikap pilihan terhadap sistem pesantren, mereka mengunjungi berbagai pesantren di Indonesia, termasuk Malaysia. Mereka melihat visi, misi, dan tujuan pesantren-pesantren itu.

Dari situlah diadopsi pola-pola pesantren yang mereka anggap baik dan memperbaiki pola pesantren yang kurang baik yang nantinya akan diterapkan untuk mengembangkan Ma’had Al Zaytun. Pada tahun 1994, mereka menemukan beberapa desa salah satunya Desa Gantar (Mekarjaya), Haurgeulis, Indramayu, Jabar. Tahun 1995 mereka mensurvei areal sawah untuk studi kelayakan mendirikan bangunan.

Karena dianggap layak, pada 17 Mei 1995 mereka mendirikan cabang Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) di kecamatan Haurgeulis, kabupaten Indramayu. Inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Ma’had Al Zaytun yang fenomenal itu. Soal nama Ma’had, itu diadopsi dari nama lembaga pesantren di Malaysia. Pertimbangannya bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan yang asli Indonesia.

Untuk menerapkan kurikulum yang komprehensif dan up to date di pesantren, mereka menempuh sikap modern, yakni sikap yang sanggup mengantisipasi perkembangan zaman yang selalu mengalami perubahan. Oleh sebab itu motto pendidikan Ma’had Al Zaytun yang mereka kembangkan adalah ”Pesantren spirit but modern system”. Sebuah lembaga pendidikan yang disemangati oleh kemandirian pesantren, dan menggunakan sistem modern. Lembaga pesantren ini nantinya akan dihuni oleh individu santri yang berakhlak mulia, berpengalman luas, berpikiran bebas dan berbadan sehat.

Manajemen Ilahiyah

Pada awal 1995, mereka merintis pembangunan fisik. Proyek pembangunan ini didasari oleh misi dan visi Ma’had Al Zaytun. Oleh karena itu manajemen proyek yang diterapkan adalah manajemen ilahiyah yang bermakna manajemen tauhid atau manajemen proyek terpadu dan terkendali tanpa batas waktu dalam satu kesatuan sistem. Oleh karena itu pada pembangunan awal Ma’had Al Zaytun tidak membutuhkan waktu dan dana yang banyak. Antara merencanakan dan membangun tidak terlalu lama.

Begitu juga dalam pengerjaan konstruksi, mereka berperan sebagai konsultan sekaligus kontraktor bahkan menjadi sub-sub kontraktor. Menurut mereka, untuk membangun gedung Abu Bakar misalnya, biaya yang dikeluarkan hanya sepertiga jika dikerjakan oleh orang luar. karyawan pelaksana pembangunan awal pun direkrut dari anggota pengajian dan orang-orang yang bermukim di lingkungan Ma’had Al Zaytun sekitar 1.550 orang.

Hasilnya sungguh luar biasa. Dalam tempo 3 tahun, mereka berhasil mendirikan gedung pendidikan yang diberinama Abu Bakar Ash-Shidik, Umar Ibn Al Khatab dan satu unit asrama Al Musthofa. Sejak Juli 1999, 1 unit gedung pendidikan dan 1 unit gedung asrama difungsikan sepenuhnya. Kemudian mereka membangun fasilitas-fasilitas dasar penunjang antara lain dapur, kantin pelajar dan kantin tamu, kantor pos, wartel, barbersho, ruang serba guna, ruang tunggu tamu, ruang taklimat untuk tamu dan masjid Al Hayat.

Dan sejak itu pula mereka mulai menerima siswa-siswa yang jumlahnya mencapai 1.584 orang. Sedangkan tenaga pengajar yang terdiri dari murabbi dan mudarris sebanyak 296 orang. Setelah melalui seleksi, jumlah santri yang diterima adalah 1.459 orang. Dan pada 27 Agustus 1999, Presiden BJ Habibie berkenan meresmikan pesantren terbesar dan termegah di Asia Tenggara ini.

Perkembangan Al Zaytun

Pasca peresmian oleh Presiden Habibie, Ma’had Al Zaytun banyak dikunjungi tamu-tamu, dengan tujuan beragam. Ada yang sekadar menengok anak dan famili yang belajar di situ, namun tidak sedikit yang hanya ingin melihat kemegahan Al Zaytun. Semua tamu yang berkunjung umumnya memberikan sumbangan untuk Ma’had Al Zaytun.

Untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan Ma’had Al Zaytun, pada tahun 2000 mereka menerbitkan sebuah majalah bernama Majalah Al Zaytun. Majalah ini dirancang sebagai media komunikasi dan sarana penghubung YPI – Ma’had Al Zaytun dengan seluruh masyarakat. Dan sebagaimana cita-cita awalnya yakni ingin mendirikan Ma’had Al Zaytun di mana-mana, yayasan kemudian membangun ”pendidikan asas”. Ma’had Al Zaytun di Gresik, Jawa Timur, yang peletakan batu pertamanya dilakukan 18 Maret 2000 silam. Pendidikan asas Ma’had Al Zaytun juga dibangun di Subang, Labuan Banten dan di Riau.

Hingga kini, Ma’had Al Zaytun terus menerus melakukan pembangunan fisik. Selain baru saja menyelesaikan pembanguan masjid Rahmatan Lil ‘alamin yang megah dan mampu menampung 100 ribu jamaah, di sebelah utara masjid tersebut juga sedang dibangun waduk yang diberinama waduk Istisqo. Waduk ini dibangun untuk memanfaatkan kembali buangan air di asrama santri, run off water dan over flow kolam-kolam penampungan sehingga bisa dimanfaatkan kembali sebagai sumber air pertanian.

Dan menurut informasi, MA’had Al Zaytun juga telah memiliki tanah ribuan hektar di Houston, salah satu kota di negara bagian Texas, Amerika. Bahkan disebutkan bahwa tanah itu adalah wakaf dari seorang pebasket NBA, Hakeem Olajuwon.

Ma’had Al Zaytun memiliki luas lahan 1200 ha. Untuk sarana pendidikan seluas 200 ha dan selebihnya 1000 ha sebagai lahan pendukung yang dijadikan lahan perkebunan dan pertanian yang mengelilingi areal pendidikan. Saat memasuki gerbang utama Ma’had Al Zaytun, nampak gedung-gedung megah pembelajaran yang diberinama Abu Bakar As-Shidiq, Umat Ibn Al Khattab, Usman Ibn Affan, Ali Ibn Abi Thalib, dan Jenderal Besar HM Soeharto.

Gedung Abu Bakar As Shidiq dibangun dengan luas 10.000 meter persegi dengan bangunan empat lantai. Gedung ini memiliki 42 lokal dan 98 toilet. Gedung Umar Ibnu Al-Khattab menempati areal seluas 12.500 meter persegi dengan bangunan lima lantai dan memiliki lokal berjumlah 58 yang disertai 104 toilet. Sedangkan gedung Usman Ibnu Affan dibangun dengan luas 17.000 meter persegi dengan bangunan 6 lantai.

Gedung Usman ini memiliki 100 lokal yang dilengkapi dengan 172 toilet. Sementara gedung Ali Ibnu Abi Thalib menempati areal seluas 18.000 meter persegi dengan tujuh lantai. Gedung ini memiliki 100 lokal dan 180 toilet. Gedung pembelajaran Jenderal Besar Soeharto yang sedang dibangun dengan luas 20.000 meter persegi direncanakan memiliki tujuh lantai. Gedung Jenderal Besar Soeharto setiap kelasnya berukuran 8 x 12 m yang dilengkapi meja dan kursi bagi 36 siswa yang menghuni.

Sebagai sistem pendidikan berasrama, Ma’had Al-Zaytun memiliki asrama-asrama bagi para siswa yang terletak di sebelah utara gedung pembelajaran. Gedung-gedung asrama ini untuk setiap unitnya menempati lahan 22.000 M dan menampung sekurang-sckurangnya 1700 santri dengan kapasitas setiap kamar dihuni 10 orang. Sampai saat ini ada asrama Al-Fajar dan Al-Madani untuk santri-santri laki-laki, dan
asrama Al-Mustafa dan Al-Nur untuk santri-santri perempuan. Luas setiap kamar santri berukuran 8 x 9 dengan jumlah kamar tiap asrama 170 kamar, kecuali Al-Madani berukuran 8 x 10 m dengan jumlah kamar 204 kamar.

Di setiap kamar dilengkapi 3 kamar mandi dalam sebuah toilet, 1 ruang belajar, meja, kursi, lemari pakaian, dan ranjang tidur yang bersusun ganda. Tiap unit bangunan asrama dibuat dalam enam blok yang masing-masing bloknya menghadap ke arah luar dengan jarak pandang yang terbuka bebas ke luar. Pada setiap lantai asrama terdapat suatu hall besar yang berada di tengah-tengah gedung yang berukuran 30 x 32 m. Hal ini berfungsi sebagai wahana komunikasi antar santri dengan berbagai ragam budaya dari berbagai suku bangsa.

Jarak dari satu gedung ke gedung lain dipisah oleh jalan beton selebar kurang lebih empat meter, dan dihiasi oleh pohon-pohon yang rindang. Bagi para pengunjung, jalan beton ini bisa berfungsi sebagai tempat jalan santai. Di atas jalan beton dipasang papan nama dengan panah yang mengarah kepada tempat lokasi gedung-gedung.

Di luar areal bangunan pendidikan, terhampar lahan 1000 ha untuk lahan perkebunan dan pertanian. Disebelah selatan areal bangunan pendidikan terdapat tanaman-tanaman yang dikembangkan Ma'had Al-Zaytun dalam perkebunan, yaitu jeruk siam Garut, mangga, jati emas, jati genjah, rumput king grass, eukalyptus, zaitun, tin dan kurma. Di areal ini juga didirikan bangunan untuk peternakan sapi, kambing, itik, dan ikan.

Di sektor selatan ini dibangun gedung kultur jaringan dan rumah hijau (green house). Gedung rumah hijau ini seluas 567 m. Di dalam rumah hijau ini terdapat tujuh lokal dengan luas masing-masing 9 x 9 m. Ruang-ruang itu difungsiknn sebagai penyimpanan tanaman-tanaman baru siap ditanam atau siap dipasarkan. Sedangkan sebelah barat areal bangunan pendidikan, dikembangkan pertanian berupa padi gogo, sayuran seperti kubis. ***


Mengenal AS Panji Gumilang



Syekh Panji Gumilang adalah Syekh Ma’had Al Zaytun. Ia figur sentral dan elit utama dalam struktur sosial Ma’had Al Zaytun. Syekh Ma’had dalam pandangan warga komunitas Ma’had tidak hanya inisiator dan manajer tetapi sebagai pemimpin (leader) yang mereka “kagumi” karena memiliki wawasan yang futuristik. Ia memiliki pengalaman luas, berwibawa, tegas, kebapakan, pandai memanfaatkan peluang dan membangun kerjasama. Ia merupakan pemimpin kharismatik yang disegani dan penuh wibawa oleh semua warga ma’had.

Kedudukan dan pengaruh Syekh melebihi semua eksponen tak terkecuali ketua yayasan dan penasehat ahli almarhum Prof. DR. A.R. Partosentono. Padahal secara struktural, yayasan lebih independen dan lebih tinggi dari pada pimpinan Ma’had.
Kenapa Syekh mendominasi terhadap seluruh aktivitas Ma’had sebagaimana disebutkan?

Latar belakang kehidupan pribadi Syekh sendiri bisa menjawabnya. Pada
tahun 1993 Syekh Panji Gumilang menjadi Komandan Tertinggi NII KW 9 dan pada tahun 1996 ia menggantikan posisi keimamahan NII dari Adah Djaelani. Secara otomatis, walaupun Ma’had Al Zaytun sub-ordinasi dari Yayasan Pesantren Indonesia tetapi YPI adalah salah satu usaha negara yang diprogramkan, dimana posisi Syekh AS Panji Gumilang sebagai Imam.

Strukrur sosial dalam komunitas Ma’had Al Zaytun terdiri dari unsur pengurus yayasan yang dikenal dengan sebutan eksponen, mudarris, murabbi, uwadhof/karyawan, santri, serta para koordinator wilayah (Korwil). Eksponen (pengurus yayasan). Eksponen bertugas mengatur semua urusan pembangunan sarana pendukung pendidikan, keuangan serta pengelolaannya. Mereka umumnya berlatar belakang sosial sangat beragam; pengusaha, pejabat, tokoh masyarakat, pegawai negeri dan pensiunan.

Mereka bertanggung jawab atas ketersediaan semua kebutuhan Ma'had Al Zaytun dan sekaligus mengelola sumber-sumber keuangan dan pembiayaan pendidikan. Kelompok ini menempati strata atas di mana Syekh Ma'had berada. Mudarris dan Murabbi direkrut secara terbuka dari berbagai latar belakang pendidikan umum, agama dan pesantren, dengan perbandingan yang paling menonjol adalah: lebih banyak guru mata pelajaran umum dari pada mata pelajaran agama.

Mudarris adalah guru yang diberi tugas mengajar mata pelajaran tertentu dan mengajar di kelas. Sedang Murabbi adalah seorang pembimbing yang diberi tugas untuk memberikan pendampingan terhadap santri di luar kelas. Murabbi membimbing santri baik dalam belajar, mengikuti kegiatan ekstra kurikuler atau bimbingan lainnya yang diperlukan santri. Seorang Mudarris berperan juga sebagai Murabbi, tetapi, tidak semua Murabbi bertindak sebagai Mudarris.

Setiap Mudarris dan Murrabi dibina dan dikembangkan dengan terus menerus ditingkatkan ilmunya dengan mengikuti studi lanjut S-1 bagi yang belum sarjana, dan S-2 untuk yang sudah S-1. Peningkatan kualitas ilmu para Mudarris dan Murabbi dilakukan juga dengan pendidikan non formal di Ma’had Al Zaytun ketika libur. Untuk kepentingan studi lanjut bagi Mudarris dan Murabbi, Ma’had Al Zaytun telah melakukan kerjasama (Memorandum of Understanding) dengan berbagai perguruan tinggi.

Seorang mudarris yang merangkap sebagai murabbi memiliki jam kerja ‘hampir’ 24 jam sehari semalam, karena begitu kegiatan belajar-mengajar santri selesai pada pukul 22.00, mereka melakukan kontrol atau pengawasan terhadap santri yang tidak segera berisrirahat atau tidur sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Mereka juga melakukan pengawasan terhadap santri yang mencoba untuk berbuat yang tidak sesuai dengan aturan, seperti santri laki-laki mencoba menyusup ke asrama santri putri.

Begitu juga pada pagi harinya, ketika santri harus bangun pada pukul 03.00 dini hari, para murabbi sudah bangun lebih dahulu untuk kemudian membangunkan para santri. Tugas yang demikian berat, tetapi tidak diimbangi dengan imbalan atau gaji yang memadai, menjadi salah satu banyaknya mudarris dan murabbi yang akhirnya keluar dari Ma’had Al Zaytun.

Terkait NII KW 9

Dalam sebuah makalah pada acara bedah buku di Pemda Indramayu, Selasa (2/10-2001), Umar Abduh menyebut Syech AS Panji Gumilang sebagai pria berperawakan tinggi besar dan berkulit agak gelap. Ia adalah putra daerah kelahiran desa Sembung Anyar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Ia lahir 27 Juli 1946, tamat Sekolah Rakyat di Gresik tahun 1959, masuk Pondok Modern Gontor tahun 1961 dan memperoleh gelar sarjana dari fakultas Adab IAIN Ciputat, Jakarta tahun 1969.

Panji Gumilang juga sempat menjadi guru Aliyah di Perguruan Mathla’ul Anwar, Menes, Pandeglang (Propinsi Banten), selama 8 tahun dan berhenti di tahun 1978. AS Panji Gumilang terlahir bernama Abdus Salam bin Rasyidi. Namanya diganti menjadi Prawoto setelah menyatakan bai’at dan bergabung dengan gerakan NII Wilayah IX pimpinan Seno alias Basyar (alm) di tahun 1978. Ketika itu ia diangkat menjadi pejabat mas’ul jajaran Imarah untuk daerah Banten. Pernah di tahan di POMDAM Bandung selama 8 bulan dalam kasus GPI (Gerakan Pemuda Islam dalam peristiwa SU-MPR th 1978).

Di dalam tahanan, Abdus Salam satu sel dengan Shaleh As’ad dan Mursalin Dahlan. Sejak itulah Prawoto menjadi “fundamentalis” NII. Setelah menjalani masa tahanannya, ia bersentuhan secara intensif dengan para elite NII seperti Adah Djaelani, Aceng Kurnia, Tachmid Rahmat Basuki Kartosuwiryo, Toha Machfudz dan lain-lain yang kala itu dalam status buron setelah tertangkapnya HISPRAN (Haji Ismail Pranoto, awal Januari 1977) dan 23 tokoh komandemen gerakan NII di Jawa Timur. Kasus Hispran ini dikenal dengan nama Koji atau Komji (Komando Jihad).

Ketika para tokoh elite NII Adah Djaelani cs maupun elite NII Wilayah IX tertangkap, juga Seno dan H. Abdul Karim Hasan cs secara bersamaan tertangkap pada Agustus tahun 1981 di Jakarta, Prawoto kabur dan buron ke negeri Sabah Malaysia dengan membawa dana jama’ah, yang menurut sahabatnya berjumlah 2 miliar rupiah. Di Sabah Prawoto memperkenalkan dirinya sebagai pengusaha kayu dan besi tua (dari Indonesia) yang mengalami kebangkrutan.

Prawoto alias Abdus Salam Rasyidi dalam menjalani masa buron tersebut seringkali mondar mandir Banten-Jakarta-Sabah. Tempat Prowoto Abdus Salam Rasyidi singgah di Jakarta adalah di rumah kediaman Ustadz Rani Yunsih, Bidara Cina, Cawang. Sedangkan untuk ongkos tiket kembali ke Sabah seringkali dicukupi oleh HM Sanusi (yang waktu itu masih berdomisili di jalan Bangka, Mampang). Bantuan itu berhenti ketika HM Sanusi mendapat mushibah dijebloskan ke penjara oleh rezim ORBA (1985) dengan tuduhan terlibat kasus peledakan BCA (yang terjadi Oktober 1984).

Tahun 1987 Prawoto alias Abdus Salam kembali ke rumahnya di Menes, Pandeglang (kini provinsi Banten), dan bergabung kembali bersama H. Abd Karim Hasan, M.Ra’is Ahmad dan Nurdin Yahya dalam kelompok gerakan NII LK (Lembaga Kerasulan). Tahun 1990 Toto Salam –nama panggilan barunya– dipercaya H Karim, Komandan I Wilayah IX untuk menjadi Ka Staf I Wil IX.

Tahun 1992 melakukan kudeta internal di Wil IX lantas menobatkan diri menjadi Komandan Tertinggi NII (Mudabir bin yabah) dan menetapkan wilayah IX sebagai Ummul Qura (Ibukota) NII. Nama baru pun dibuat, diantaranya adalah Syamsul Alam, Nur Alamsyah, Syamsul Ma’arif, Abu Toto, Toto Salam dan Abu Ma’ariq (nama yang terakhir ini digunakan untuk membuka account pada Bank CIC, tempat kelompok ini menyimpan dana jama’ah).

Tahun 1993 Abu Toto Ma’ariq diadili melalui Musyawarah karena perilakunya yang buruk dan berkhianat terhadap kawan sendiri. Antara lain mengakibatkan H Muhammad Ra’is Ahmad ditangkap dan ditahan dalam waktu yang cukup lama. Selain itu, Abu Toto Ma’ariq dinilai tidak pantas memimpin KW IX. Musyawarah pimpinan KW IX akhirnya memutuskan Abu Toto dipecat dari jabatan Mudabir bin yabah (komandan sementara) hasil kudeta tahun 1992 tersebut. Tetapi Abu Ma’ariq membandel, ia tetap berjalan dengan orang-orangnya dan justru akhirnya mampu membangun KW IX membesar.

Selama kurun waktu sejak menjadi Mudabir bin yabah antara tahun 1992-1994 Abu Ma’ariq berhasil menghimpun dana jama’ah yang jumlahnya fantastis melalui qoror-qorornya yang akhirnya berlaku hingga sekarang.

Tahun 1994, hampir 1000 orang anggota NII wilayah Pandeglang (Banten) yang telah menyatakan keluar dari struktur kepemimpinan Abu Toto –serta berhasil memecat Toto di tahun 1993– ditangkap aparat keamanan. Oleh para mantan NII KW IX tersebut pengakuan dan keterangan diarahkan kepada Abu Toto (artinya mengakui diri mereka sebagai anak buah Toto Salam yang keluar dari jamaah pimpinan Toto Salam). Serta merta Abu Toto sekeluarga kabur dan meninggalkan rumah kediamannya di Menes Pandeglang (Banten) hingga saat ini. Dari kejadian tersebut berbagai pihak mulai menyadari bahwa Abu Toto adalah pemain tingkat tinggi yang bermain dengan pihak aparat. Nampaknya permainan itu berjalan terus hingga sekarang.

Antara tahun 1994-1995 program dan mobilisasi pembebasan tanah di Indramayu untuk rencana pembangunan Ma’had Al Zaytun mulai berlangsung dan selanjutnya berjalan cepat. Tahun 1996, Abu Toto dilantik Adah Djaelani untuk secara resmi menjadi pengganti Adah Djaelani selaku Presiden, Imam dan Komandemen Tertinggi NII. Tahun 1997 meletakkan batu pertama pembangunan Ma’had Al-Zaytun dan sejak saat itu seluruh nama alias yang berendeng itu ditanggalkan, yang ada hanya satu nama baru yaitu AS (Abdus Salam) Panji Gumilang (yang bermakna Abdus Salam Pembawa Bendera Kejayaan NII). Seluruh komunitas ma’had Al Zaytun haram untuk menyatakan ada dan kenal dengan nama-nama samaran atau nama alias AS Panji Gumilang sebelumnya. Dan hanya ada satu sebutan untuk AS Panji Gumilang yang diperbolehkan yaitu Syaykhul Ma’had.

Selama ini, Abu Toto Abdus Salam AS Panji Gumilang pernah mengaku sebagai putra daerah kelahiran Indramayu, di lain waktu ia pernah mengaku sebagai putra daerah kelahiran Kulon (Banten), dan di lain waktu lainnya ia pernah mengaku sebagai putra daerah kelahiran Bogor. Itulah “kehebatan” Abdus Salam yang sebenarnya asli kelahiran Sembung Anyar, Gresik (Jawa Timur).
Toto juga pernah menyatakan, “Masa lalu silahkan berlalu. Masa depan sajalah yang perlu dilihat dan diperhatikan.” Padahal, sampai kini ia masih menerapkan dan mengembangkan doktrin sesat NII yang diajarkan Kartosuwiryo, Adah Djaelani dan H. Karim Hasan. Bahkan, kualitas kesesatannya pun kini semakin menjadi-jadi. ***

---------------------------------------------------
Bantahan Syekh Panji Gumilang

Pimpinan Ma’had Al Zaytun sendiri, Syech AS Panji Gumilang, pada Sabtu (20/1/2007) silam, pernah membantah keras adanya tudingan ponpesnya terkait dengan gerakan KW 9 yang bertujuan mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). "Itu tudingan salah alamat, Al-Zaytun adalah pusat pendidikan, pengembangan budaya toleransi dan perdamaian" katanya kepada wartawan di kompleks Al Zaytun.

Namun Panji Gumilang mengatakan dalam alam demokrasi saat ini orang bisa saja bebas berbicara."Orang boleh saja menuduh seperti itu. Tapi Al Zaytun tidak pernah seperti itu dan tidak pernah menuduh orang lain".

Karena itu Panji meminta tuduhan terhadap pondoknya untuk dihentikan dan tidak dibicarakan lagi. Saat mengatakan hal itu, Panji juga menolak anggapan bahwa ponpesnya akan berafiliasi dengan partai Golkar dengan kehadiran Wapres M Jusuf Kalla yang juga ketua umum DPP Partai Golkar. "Al Zaytun tak bisa dikaitkan dengan partai manapun. Di sini adalah pusat pendidikan serta pengembangan toleransi dan perdamaian,” ujar Panji Gumilang.

Dalam pengembangan pendidikannya, Panji mengaku bahwa ponpesnya tidak bedanya dengan ponpes-ponpes lainnya di Indonesia."Semangat pesantren yang mandiri, cinta ilmu dan toleransi tetap ada di Al Zaytun ini,” kata Panji. ***



0 komentar:

Poskan Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP