17 Agustus 2009

Kekeramatan Masjid Angke Jakarta

Sejuk dan menyenangkan. Begitulah kesan orang-orang yang pernah salat di masjid ini. Didirikan 2 April 1751, oleh seorang wanita Cina Tartar yang kaya raya. Banyak kejadian-kejadian tak masuk akal berlaku di masjid ini. Fakta itulah yang menjadikan masjid Angke begitu dikeramatkan. Dulu, areal masjid ini merupakan tempat pembantaian etnis Cina oleh VOC.

Suasana nyaman sangat mendominasi. Tak jarang orang ingin berlama-lama ibadah di dalam masjid yang bernama Al Anwar ini. Beberapa orang terlihat salat dengan khusuknya. Ada perasaan lain saat berada di masjid ini. Masjid Angke, memang dikenal orang sebagai masjid keramat. Berbagai peristiwa besar dan aneh dimasa lalu, mengangkat pamor masjid ini dihati umat. Bahkan oleh orang-orang tertentu, masjid ini diyakini punya yoni. Ada daya magnit yang sanggup menarik orang untuk ibadah.

Masjid Angke atau masjid Al Anwar terletak di Jalan Tubagus Angke RT 01 RW 05, Kampung Rawa Bebek, Kel. Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Tahun 1972, masjid ini ditetapkan Gubernur DKI Ali Sadikin, menjadi benda cagar budaya yang patut dilindungi. Siapa yang merusak atau mengambil benda-benda apapun yang ada di dalam masjid, akan mendapat hukuman berat.

Tempat Pembantaian

Bangunan sakral ini seakan memamerkan beragam arsitektur. Ia berdiri di atas tanah seluas 200 m2. Ukurannya lebih kurang 15 X 15 meter. Wujud fisik tersebut masih asli sejak pertama dibangun. Belum pernah tersentuh perubahan sedikitpun. Renovasi dan penguatan fisik, memang kerap terjadi. Namun karena ukurannya terlampau mungil, maka ada penambahan bangunan. Hal itu semata untuk menampung jamaah yang selalu membludak dan ingin salat di masjid keramat tersebut.

Bentuk pintu masuk, serta tiang-tiang agungnya berjumlah 4 buah. Ini mengingatkan orang pada bentuk arsitektur Belanda dan model masjid tua yang ada di Mataram dan Demak. Mimbarnya terbuat dari tembok berukir dan melekat pada tembok. Sedangkan terali-terali jendela berbentuk panjang tanpa ukiran. Ini adalah corak bangunan khas Banten. Tapi yang paling menarik adalah bagian atap yang bersusun dua serta berujung lancip. Cungkup masjid sangat dipengaruhi gaya arsitektur Cina. Sangat mirip dengan rumah ibadah umat Budha, yakni klenteng atau Vihara.

Memang, menurut sejarah, masjid ini didirikan oleh seorang wanita Cina suku Tartar yang kaya raya. Ia bersuamikan seseorang berasal dari Banten. Wajar saja bila motif-motif Cina begitu mendominasi gaya arsitektur masjid Angke ini. Menurut ketua DKM Masjid Angke, H Supriatna, pernah ada berkas kuno tulisan tangan berhuruf arab. H Supriatna menduga isinya adalah sejarah pendirian masjid ini. Berkas itu tersimpan dalam sebuah peti kecil. Sayang, peti tersebut sudah dibakar oleh mertuanya, H Mohammad ali bin Abdullah bin Mohammad Mute. Sebab keadaannya sudah hancur, dan ia tidak tahu kegunaannya.

Di areal masjid ini, dulu merupakan tempat pembantaian etnis Cina oleh VOC. Peristiwa berdarah itu terjadi tahun 1740 yang dikenal sebagai peristiwa penjagalan orang-orang cina oleh VOC dibawah pimpinan Gubernur General Andrian Valckenier. Kala itu, banyak mayat-mayat orang Cina bergelimpangan dan mengapung di sekitar sungai Angke. Bau amis darah dan potongan-potongan kepala berserakan di mana-mana.

Konon, sejak peristiwa itu, muncullah nama Angke. Dalam bahasa Cina, Ang artinya merah (darah), dan Ke artinya bangkai. Waktu penyembelihan terjadi, orang-orang Cina bersembunyi di dalam kampung. Warga kampung yang iba menyaksikan peristiwa itu melindungi mereka. Lantas mereka pun hidup bersama dengan damai. Sebagai ucapan terima kasih, seorang wanita Cina dari suku Tar-tar mendirikan sebuah masjid. Kemudian diberinama Angke. Dalam perkembangan selanjutnya, selain menjadi tempat ibadah, masjid inipun dijadikan markas penggemblengan santri-santri, serta tempat menyusunan strategi penyerangan terhadap Belanda.


Lolos Dari Kebakaran Besar



Kekeramatan Masjid Angke diakui banyak orang. Maklum, bangunan sakral ini masuk dalam daftar masjid-masjid tua yang ada di tanah air. Tidak hanya itu. Masjid yang didirikan 2 April 1751, ini pun meninggalkan goresan sejarah yang dalam. Antara lain pernah lolos dari kebakaran besar bulan September 1957. Benarkah itu?

Masjid Angke dikenal pula dengan nama Al Anwar. Terletak di Jalan Tubagus Angke RT 01 RW 05, Kampung Rawa Bebek, Kel. Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Bila orang salat di masjid ini, mereka selalu ingin berlama-lama. Seperti ada kekuatan aneh yang menyedot orang untuk bersujud menyembang Allah SWT.

Rangkaian sejarah penting turut mewarnai perkembangan masjid yang terletak di lingkungan perumahan penduduk ini. Di depan masjid Angke, ada sejumlah makam tokoh-tokoh penting. Diantaranya adalah makam Pangeran Tubagus Angke, makam Syeh Djafar, dan makam Sultan Syech Syarif Hamid Alqadri dari pontianak.

Makam Sultan Pontianak

Menurut cerita rakyat di sana, beberapa puluh tahun lalu, tanah pekuburan di depan masjid Angke ini pernah porak poranda. Itu terjadi karena pohon besar disampingnya tumbang dihantam angin ribut. Tanah makam terbongkar. Beberapa makam di dekat pohon itu terangkat naik. Tak pelak, tulang belulang di dalamnya menyembul dan berserakan. Sejauh cerita rakyat, tak ada kejadian aneh setelah angin ribut itu.

Peristiwa gaib, pernah di alami H Supriatna, ketua DKM Masjid angke sejak 1957. Tahun 1968, tutur H Supriatna, suatu malam dari makam Sultan Hamid keluar sinar terang kekuning-kuningan. Tiba-tiba Supriatna yang tengah duduk di depan masjid, didatangi sosok tinggi besar berjubah putih. Kemunculannya tepat dari atas makam Sultan Hamid. H Supriatna yakin, itulah wujud Sultan Hamid semasa hidup dulunya.

Menurutnya, Sultan Hamid adalah seorang pangeran dari Kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat. Ia dikenal sebagai penentang Belanda yang paling gigih. Karena keberaniannya itulah, tahun 1800-an, Belanda menangkap dan membuangnya ke Batavia, tepatnya di daerah Mangga Dua atau Pasar Pagi saat ini. Tak jelas kapan ia berada di sana. Tapi pada kuburan tersebut terdapat pualam bertulis "Sultan Sjech Sjarief Hamid Alqadri, meninggal dalam usia 64 tahun 35 hari pada tahun 1274 Hijriah atau 1854 masehi".

Kebakaran Besar

Menurut H Supriatna, sebenarnya gelar keramat pada masjid Angke ini karena sering terjadi peristiwa di luar logika. Pada tahun 1960-an, misalnya, pernah ada seorang ibu haji dari Makassar. Dia datang jauh-jauh hanya untuk mencari masjid Angke. Kepda H Supriatna, ibu haji itu menuturkan. Suatu saat, katanya, ketika tengah tafakkur, ia mendapat ilafat agar mencari masjid Angke di Jakarta. Tentu saja dirinya kebingungan. Sebab yang namanya Jakarta itu luas. Dan masjid Angke sendiri entah letaknya dimana.

Maka, berangkatlah ia ke Jakarta, ditemani suaminya. Setelah setengah bulan mengobok-obok Jakarta, yang didapat malah masjid Luar Batang. Masjid ini juga sama tuanya dengan Masjid Angke. Namun bukan itu yang dimaksud dalam ilafat. Sampai kemudian ia bertanya kepada seorang lelaki. Dan lelaki itulah H Supriatna, ketua DKM Masjid Angke. Bukan main gembiranya si ibu haji bisa menemukan masjid yang dimaksud dalam ilafatnya.

Bulan September tahun 1959, kembali masjid ini memperlihatkan keajaiban. Pada waktu itu terjadi sebuah kebakaran besar. Percikan api diketahui muncul dari sebuah bengkel vulkanisir. Dengan cepat api melahap rumah-rumah yang mayoritas terbuat dari kayu dan beratap daun rumbia. Kontan seluruh kampung mulai dari daerah Angke sampai Jembatan Besi, hangus terbakar.
Tapi aneh, dengan izin Allah, kata H Supriatna, masjid angke ini tidak terbakar sedikit pun. Padahal, bila logika sehat bicara, sudah pasti bangunan masjid ini ikut terbakar. Tapi kenyataannya tidak sama sekali. Itulah keajaiban. "Rumah ayah saya, H Ali Abdullah yang juga pengurus masjid Angke ini, juga lolos dari kebakaran itu," kenang H Supriatna. Sejak itulah masjid ini dianggap masyarakat sebagai masjid keramat. ***


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP