23 Agustus 2009

Keangkeran Hutan Cikondang

Kawasan hutan yang tak seberapa luas ini ditumbuhi aneka jenis pohon berusia tua. Masyarakat di sana begitu mengakrabinya. Itu lantaran di dalam hutan ini ada jalan jalan setapak yang menghubungkan antar kampung. Tapi, orang-orang tua di sana selalu mewanti-wanti siapapun untuk waspada. Sebab kalau bertindak sembrono, sama artinya dengan mencari celaka. Inilah kisah khas hutan Cikondang.

Rasa hormat masyarakat di sekitar hutan Cikondang, Desa Lamajang, Pangalengan, Kabupaten Bandung terhadap kelestarian alam begitu nyata. Contohnya terhadap hutan yang luasnya hanya beberapa hektare di sudut kampung Cikondang ini. Bisa jadi, hal ini tumbuh lantaran keyakinan akan adanya selimut mistis yang menyelubungi hutan Cikondang. Kecintaan mereka terhadap hutan, boleh dibilang sebanding dengan kecintaan terhadap sawah. Tidak heran bila setiap tahun, masyarakat selalu menggelar upacara Seren Taun Mapag Taun. Sebuah upacara adat sebagai rasa syukur kepada Yang Mahakuasa karena berhasil panen.

Di sisi lain, kehidupan masyarakat Cikondang juga sangat religius. Hampir seluruh warga memeluk agama Islam. Salah satu contoh unik dari masyarakat di sana adalah ketika berjalan sambil membawa kitab suci Alquran. Mereka membawa Alquran dengan menjunjungnya di atas kepala. Seorang tokoh masyarakat di sana, Ilin Dasyah (68), mengatakan, itulah wujud penghormatan rakyat Cikondang terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran.

Hutan Angker

Hutan Cikondang yang ditumbuhi pohon-pohon besar ini dibelah sebuah jalan setapak yang menghubungkan antar kampung. Karena itulah kesan seram yang selalu menempel pada sebuah hutan, tidak terasa pada hutan ini. Masyarakat Cikondang seperti sudah terbiasa. Cuma, kehati-hatian ekstra seolah sudah tertanam dalam diri warga kampung. Mereka yakin bila bertindak macam-macam di dalam hutan, maka balak akan menyusul. Misalnya menebang pohon sembarangan. Maka dipastikan si penebang akan mengalami nasib apes, seperti jatuh sakit, kesialan, bahkan sampai usahanya bangkrut.

Disadari atau tidak, hutan Cikondang ternyata memang angker. Orang-orang di sana yakin betul bila hutan itu dihuni oleh sebangsa lelembut. Sehingga berkembang anggapan, mengganggu kelestarian hutan, sama dengan mengusik keberadaan mahluk tidak kasat mata itu. Namun, kata Ilin Dasyah, keberadaan mereka harmonis dengan masyarakat di sekitar hutan.

Berbeda dengan apa yang pernah dialami Anom Alun, sesepuh desa Lamajang yang dianggap memiliki kelebihan oleh masyarakat. Suatu ketika, lelaki yang usianya hampir seabad ini masuk hutan. Konon, menurut cerita warga, Anom Alun memiliki kelebihan bisa masuk ke dalam alam gaib dan berkomunikasi dengan penghuninya. Anom Alun juga dikenal sebagai juru kunci makam Uyut Istri yang kerap diziarahi para pemburu berkah.

Suatu hari, Anom Alun masuk ke kawasan hutan Cikondang. Dia berniat mencari kayu untuk dijadikan kayu bakar. Tak jauh dari hutan, ia menemukan sebatang pohon tua yang sudah kering. Anom Alun berkesimpulan, mengambil pohon itu tidaklah menganggu kelestarian hutan. Sebab pohon itu memang sudah tidak berguna lagi. Nah, Anom Alun bermaksud menebang pohon itu.

Dia pun berjalan mendekati pohon itu. Lalu dikeluarkan sebuah kapak yang dibawanya dari rumah. Sebagai tokoh kebatinan, Anom Alun tahu persis adanya penghuni gaib hutan Cikondang. Maka sebelum kapak diayun, mulut Anom Alun terlihat komat kamit. Ia merapal mantera. Usai itu, pohon pun ditebangnya dengan kapak. Sampai sekian waktu tidak terjadi apa-apa. Bahkan hingga batang pohon nampak tipis dikikis kapak. Herannya, pohon itu tidak kunjung tumbang. Ini tentu mengherankan. Secara logika, mestinya pohon itu tumbang. Sebab batang pohonnya sudah tinggal beberapa centimeter. Mestinya, tertiup angin sedikit saja sudah roboh.

Melihat keadaan itu, Anom Alun sendiri sadar ada sesuatu yang terjadi. Memang hutan Cikondang bukan sembarang hutan. Bisa saja penghuni hutan itu tidak rela pohon ini ditebang. Karena pemahaman itulah, kembali Anom Alun merapal mantera, minta ijin mengambil batang pohon ini untuk keperluan yang baik. Anom berkomunikasi dengan mahluk yang tidak kasat mata.

Tapi, tetap saja pohon tidak mau tumbang. Kesabaran Anom Alun mulai hilang. Ia lalu mengambil sikap ancang-ancang. Setelah mengambil jarak secukupnya, tiba-tiba dia menggebrak pohon itu dengan telapak tangaa. Namun apa yang terjadi sungguh diluar dugaan. Tumbangkah pohon itu? Ternyata tidak. Pohon tetap berdiri kokoh. Sebaliknya, tubuh Anom Alun justru terjengkang beberapa meter. Bahkan dari mulutnya keluar darah segar. Untunglah, tak jauh dari tempat itu ada orang yang sedang melintas, sehingga segera memberikan pertolongan.

Menurut Ilin Dasyah, bangsa lelembut penghuni hutan Cikondang tidak menghendaki pohon itu diambil siapapun, termasuk tokoh sehebat Anom Alun. Mahluk halus yang menghuni kawasan itu adalah para punggawa atau pengawal Uyut Istri, tokoh yang makamnya selama ini dijaga Anom Alun. Itu tandanya siapa pun tidak bisa mengganggu hutan itu. “Kalau punya indera lebih, sebenarya orang biasa pun bisa melihat adanya semacam perkampungan mahluk halus di hutan Cikondang,” katanya, seraya menambahkan, bila sejak dahulu, hutan itu memang tidak pernah disentuh orang. ***

0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP