04 Agustus 2009

Kawah Cibuni Ciwidey

Letaknya di kompleks Gunung Sepuh, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Areal kawah ini memang layak dijadikan obyek wisata. Pemandangannya aduhai. Berhawa sejuk dan menyenangkan pula. Meski jarak tempuh lumayan jauh, tapi selalu saja ada orang berkunjung ke tempat ini untuk berekreasi. Selain itu, ada pula yang berkunjung khusus untuk melakukan puja semadi dan pengobatan alternatif.

Tempat ini ditemukan olah Jaka Lelana tahun 60-an. Jaka Lelana adalah seorang pertapa yang sudah kenyang berkelana ke berbagai penjuru. Suatu ketika, ia menemukan tempat ini setelah bertapa sekian lama. Jaka lalu masuk ke dalam aliran Kawah Cibuni yang panas, namun tidak mengalami sesuatu apapun pada tubuhnya. Jaka justru merasakan sesuatu yang aneh menjalari tubuh. Ada semacam kekuatan yang meresap hingga tulang sumsum.

Tak lama kemudian ia sadar bila air dari kawah itu bisa menjadi obat mujarab untuk menangkal segala penyakit. Hanya saja, saat Jaka naik kembali, tubuhnya mulai merasakan hawa panas dari air kawah. Ternyata, sewaktu masuk ke dalam air, dirinya punya kekebalan akan rasa panas.

Pengobatan Alternatif

Air panas yang dihasilkan dari Kawah Cibuni memang mujarab mengobati berbagai penyakit. Namun tidak semua orang kuat merasakan hawa panasnya. Bila sembrono, kulit bisa melepuh. Hal inilah yang ada di dalam pikiran Jaka Lelana, si penemu Kawah Cibuni. Dia lantas melakukan semadi, berkomunikasi dengan penguasa alam gaib tempat itu. Tempatnya di sekitar Pancoran Lima.

Akhirnya, Jaka menemukan cara agar tempat itu bisa dijadikan pemandian yang berfungsi untuk mengobati orang. Caranya, setiap akan melakukan pengobatan harus diadakan semacam ritual berupa permohoanan doa kepada Yang Mahakuasa. Usai ritual barulah air kawah bisa dipakai mandi, tanpa merasakan panas meskipun air kawah dalam keadaan mendidih.

Selanjutnya oleh Jaka tempat itu kemudian dimodifikasi menjadi tempat pemandian, sekaligus tempat olah kebatinan. Sejak saat itu, banyak orang menemukan kesembuhan setelah berendam di Kawah Cibuni. Penyakit fisik yang bisa disembuhkan antara lain encok, rematik, asam urat dan lainnya. Bahkan penyakit batin pun bisa diobati.

Karena dimakan usia, Ki Jaka kemudian meninggal dunia. Peran beliau mengobati sesama digantikan oleh putranya, Ki Ulloh Maulana. Dan seterusnya, setelah Ki Ulloh wafat, dilanjutkan istrinya Ibu Popon Ratnawaty, yang hingga kini dengan setia menunggui Kawah Cibuni sekaligus menjadi juru kunci.

Ular Raksasa

Setelah ditelusuri, di areal Kawah Buni ternyata ada 21 tempat yang dikeramatkan. Masing-masing nama tempat tersebut diambil dari para pengikut Prabu Siliwangi. Konon, pada setiap tempat itu ada penguasa gaibnya. Orang-orang menyebutnya 100 punjul 3. Entah apa maknanya. Tapi menurut keterangan kuncen Kawah Cibuni, para gaib itu sering berkumpul dan bermusyawarah di Gua Pangcalikan Sembah Eyang Pandita Rukmantara, yang terletak di pinggir sungai.

Memasuki areal Kawah Cibuni akan melalui kawasan kebun teh. Ketika itu pengunjung akan dihadang sebuah pohon besar di sebelah kanan jalan. Menurut spiritualis Tatar Sunda, Ki Mohammad, itu bukan sembarang pohon. Pohon itu dihuni arwah leluhur bernama Eyang Kopral. Pohon ini hakikatnya semacam penjaga kawasan Kawah Cibuni dari niat orang-orang yang hendak bermaksud jahat.

Konon, bila ada orang yang berniat jahat hendak memasuki kawasan ini, mereka akan dibuat lingkung dan hilang akal kesadarannya. Orang awam menyebutnya kemasukan roh halus. Padahal itu semua ulah Eyang Kopral yang tidak ingin tempat keramat itu dikotori orang jahat. Seperti dituturkan ibu Popon, kuncen Kawah Cibuni, tempat tersebut dijaga ular Sanca yang panjangnya mencapai 14 meter.

Tahun 1970-an, pernah ada pertapa yang duduk di atas sebuah tempat. Hanya saja, setelah diduduki, tempat itu terasa sedikit empuk dan hangat. Tepat tengah malam, tiba-tiba si pertapa ini merasakan tempat yang diduduki bergoyang-goyang amat kencang. Ia menduga terjadi gempa bumi. Namun tak lama kemudian ia barulah sadar bila tengah duduk di atas seekor ular yang sangat besar. Untunglah ular itu tidak murka. Sebab matanya yang kemerahan tiba-tiba menutup kembali, tertidur.

Masih di kawasan Kawah Cibuni, ada pula fenomana alam yang disebut Pancoran Lima. Air pancuran ini memiliki banyak faedah. Diantaranya berkhasiat untuk mengobati penyakit lahir dan batin. Misalnya mereka yang menderita sakit karena terjepit urat syarafnya. Konon dengan mandi di air pancuran ini, penyakit tersebut bisa hilang. Pendek kata, bagi mereka yang yakin dan menyerahkan segala urusan kepada Sang Maha Pencipta, maka segala jenis penyakit bisa disembuhkan. Pancoran lima ini dikuasai leluhur gaib Eyang Jaga Raksa dan Eyang Jaga Pirusa.

Seorang peziarah asal Kuningan, Drs Memet Rakhmat SP menurutkan, Kawah Cibuni merupakan patilasan Eyang Prabu Siliwangi. Bersama pasukannya, Prabu Siliwangi pernah melakukan lelaku di kawasan ini. Maka jangan heran bila hingga ini, daerah ini banyak diburu para peziarah dan pertapa. “Sebab suasananya memang memungkinkan untuk itu dan sangat mendukung,” tuturnya.

Menurut Memet yang biasa disapa Mang Jasos, dari Kuningan, suhu kawah Cibuni kurang lebih 37 derajat celcius. Dengan suhu seperti itu terkandung elemen mineral terutama yodium. “Bubur lemu yang dihasilkan kawah itu bisa digunakan sebagai masker, karena mengandung kalsium untuk memutihkan kulit dan membersihkan noda hitam,” ujar Memet.

Dr Dadang Ahmad Swaka, juga seorang peziarah, mengagumi kedahsyatan tempat itu. “Kalau saja pemerintah jeli melihat tempat ini, lalu menyerahkan kepada investor untuk mengelolanya, bukan tidak mungkin Kawah Cibuni mejadi tempat terapi air panas mineral alami atau natural spa,” katanya. ***



0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP