11 Agustus 2009

Jejak Mistik Situ Burung

Situ Burung adalah nama danau yang kini jadi hamparan sawah dan perumahan. Pada masa lampau, Situ Burung merupakan danau alam yang menawan. Airnya tenang, jernih. Petinggi kawasan Bandung, kerap ngaso di tempat ini, sambil menikmati gamelan dan wayang. Di sana sini tampak orang mengail ikan. Suatu ketika, tragedi besar berlaku. Bau amis darah dan hawa mistik merebak, sejak saat itu. Danau pun mengering, tinggalkan bekas masa lalu yang kelabu. Kucing-kucing siluman, hantu wanita cantik, arwah gentayangan, ikan dan belut gaib, muncul menakutkan. Sesekali, terdengar suara gamelan yang entah darimana asalnya.

Cerita tentang keangkeran Situ Burung tak sebatas bibir. Itu realita. Orang-orang di sana bila ditanya soal Situ Burung selalu tersenyum penuh arti. Raut wajahnya seperti membayangkan sesuatu. Apalagi kalau bukan kisah-kisah yang saat ini masuk kategori seram. Bagi mereka, cerita-cerita semacam itu tidak aneh. Bahkan penampakan wujud mahluk dari dunia lain, bagaikan bumbu dalam kehidupan mereka. Sampai-sampai kengerian tak lagi jadi beban. Mereka sudah terbiasa dengan semua itu. H. Saidin (85), Tatang Suparman (62), H. Ambar Sulaeman (60), Hadi RM (22), Mulyana (30), Asep Taufik Rahmat (19), dan warga Situ Burung lain, memberi kesaksian.

Kawasan angker

Situ Burung adalah dataran rendah bersawah seluas 60 Ha. Secara administratif, kawasan ini masuk wilayah Desa/Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung. Kiri-kanan berbatasan dengan Desa Pangauban dan Cilampeni. Kebanyakan warga Situ Burung adalah bersaudara. Mereka rata-rata masih satu keluarga dari garis leluhur yang sama, atau kait mengait karena hubungan nikah. Uniknya, hampir seluruh warga Situ Burung punya cerita serupa soal misteri daerah yang didiaminya sejak berpuluh-puluh tahun lalu itu. Konon, rata-rata warga pernah mengalami peristiwa gaib. Entah melihat kucing siluman, ikan ajaib, atau hal lain sejenisnya.

Hal serupa juga kerap dialami warga pendatang. Yakni orang-orang dari luar Situ Burung yang ingin menetap di kawasan itu dan sekitarnya. Mereka pun kerap menjumpai hal-hal aneh, bahkan menakutkan. Nah, karena tak banyak tahu asal usul kawasan itu, umumnya mereka tak betah lama tinggal di sana. Meski begitu, banyak pula warga pendatang yang terbiasa dengan apa yang berlaku. Dan lambat laun mereka menjadi penduduk tetap di Situ Burung.

Karena punya riwayat panjang di masa lalu ditambah seringnya orang-orang di sana mengalami peristiwa gaib, maka kawasan itu dinyatakan angker oleh banyak orang. Tapi, tidak semua orang menganggap demikian. Ada pula yang berperilaku ceroboh dan menganggap remeh Situ Burung. Orang-orang seperti inilah, kata Mulyana, warga Situ Burung, yang sering diganggu “penunggu” Situ Burung. “Biasanya orang ini didatangi wanita berwajah cantik. Lalu ia tiba-tiba berubah wujud menjadi mahluk paling mengerikan,” kata anggota Perguruan Silat Budi Hati, Katapang, Kab. Bandung ini. “Tentu saja dia lari pontang-panting,” sambung Mulyana.

Tangan Raksasa

Daerah Situ Burung, seperti diungkap Asep Taufik Rahmat, salah seorang pemuda Desa Katapang, sarat dengan keanehan. Bagaimana tidak aneh, katanya, bila orang yang lewat Situ Burung malam hari, tiba-tiba mendengar suara gamelan wayang golek. Kejadian ini yang paling sering dialami. Asep menceritakan ketika suatu saat, rekannya sedang asik berjalan lewat Situ Burung. Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara gamelan mengalun.

Mendengar suara gamelan, dia tergoda ingin menyaksikan. “Lumayan buat hiburan,” pikirnya ketika itu. Maka dia pun berusaha mencari dimana sumber suara gamelan itu. Namun setelah dicari-cari, muasal suara tak ditemukan. Ia pun sempat beberapa kali berpapasan dengan rekan-rekan yang lain dan menanyakan keberadaan panggung hiburan wayang golek. Namun semua rekannya menggeleng dan mengatakan tak ada wayang golek di sekitar situ. “Akhirnya dia sadar kalau itu suara gamelan gaib dari tengah Situ Burung,” ujar Asep Rahmat.

Cerita-cerita ganjil seputar Situ Burung ternyata tidak sedikit. Seperti dialami Hadi (22), juga pemuda Desa Katapang. Hadi bahkan mengaku paling sering mengalami peristiwa-peristiwa gaib di Situ Burung. Umpamanya kejadian beberapa waktu lalu. Malam itu, Hadi tengah lewat di jalan kecil yang membelah Situ Burung. Tiba-tiba saja Hadi dikejutkan sebuah penampakan sesuatu yang mengerikan. Dihadapannya terpampang wujud tangan besar sekali. Seperti tangan raksasa.

Warna tangan itu hitam legam. Mulanya, Hadi terkejut, bahkan nyaris pingsan mendapati kenyataan itu. Tapi tiba-tiba saja dia sadar bila itu hanya penampakan semata. Hadi yakin mahluk menyeramkan itu tak bermaksud menyakitinya, atau membunuhnya. Benar saja, tiba-tiba terdengar suara besar di dekat telinganya. “Simkuring ayeuna nembongan ka anjeun. Eta lantaran simkuring nyaah ka anjeun. (Saya sekarang memperlihatkan diri, sebab saya sayang dengan kamu),” kata Hadi menirukan suara gaib itu.

Hadi penasaran atas apa yang dialaminya. Dia ingin tahu wujud seutuhnya dari tangan raksasa itu. Ketika kepalanya ditengadahkan ke atas, sumber tangan itu tak tertangkap mata. Hanya gelap gulita yang terlihat. Namun dari suaranya, Hadi yakin mahluk itu adalah jin yang beberapa waktu lalu juga pernah menemuinya. Sayang, tutur Hadi, kejadian itu tak berlangsung lama. “Kira-kira hanya tiga menit, lalu semuanya menghilang ditelan malam.”

Bukan hanya itu saja cerita-cerita seputar Situ Burung. H Saidin (85), sesepuh Desa Katapang yang masih buyut Ki Jenggot leluhur Situ Burung, juga punya pengalaman unik. H Saidin kerap menemukan kucing-kucing siluman berkeliaran di seputar sawah miliknya. Ketika itu H Saidin tengah mencangkul di sawah. Mulanya, beber H Saidin, seekor kucing kecil berwarna hitam muncul, entah darimana asalnya. Tiba-tiba dalam hitungan menit, muncul kucing-kucing lain dalam jumlah besar. Mereka terlihat bermain-main, ada yang berloncatan di sekitar sawah.

Waktu pertama kali mendapati kejadian itu, H Saidin tak tahu bila hewan itu mahluk gaib. Karena melihat banyak kucing, ketika itu dirinya mendekati salah seekor darinya. Namun anehnya, ketika hendak ditangkap, kucing itu tak bisa diraihnya. Kucing itu tiba-tiba menghilang, dan muncul lagi di tempat lain. “Akhirnya saya baru tahu bila itu kucing siluman, seperti pernah diceritakan orang tua saya,” tutur H Saidin kepada posmo. Menurut pria yang usianya hampir seabad ini, kucing-kucing siluman itu ada yang memimpin. “Ada ratunya yang bernama Sopal. Bila menampakkan diri, wujudnya sebesar anjing dewasa, dan warnanya hitam,” ungkapnya sambil memperkirakan muasal hewan-hewan itu dari Pelabuhan Bulan.

Pelabuhan Bulan

Keangkeran Situ Burung bukan terjadi tanpa sebab. Konon, semua itu karena sejarah masa lalu yang melingkupi. Seperti diungkap Asep Taufik Rahmat, nama Situ Burung sendiri sebenarnya juga aneh. Situ Burung, katanya, artinya danau yang tidak jadi. Hal itu disebabkan adanya kesepakatan para leluhur Situ Burung soal penguasaan mata air yang terletak di Pelabuhan Bulan. Pelabuhan Bulan adalah tanah datar yang dulu terletak ditengah-tengah danau. Di dekat Pelabuhan Bulat itu terdapat mata air, yang konon menghubungkan Situ Burung dengan Situ Patenggang. Diyakini, Pelabuhan Bulan itulah sebagai pusat mistik kawasan Situ Burung.

Danau Situ Patenggang terletak di Kecamatan Ciwidey, daerah Bandung Selatan. Atau berjarak kira-kira 30 Km dari Situ Burung ke arah selatan. Menurut kesepakatan para leluhur ketika itu, mata air Pelabuhan Bulan terpaksa diserahkan ke Situ Patenggang. Ketika itu, mata air Pelabuhan Bulan memang menjadi rebutan. Sebab melalui mata air itulah keberadaan danau yang ada di kawasan Katapang (Situ Burung) terjaga. Sesuai kesepakatan, bila Ki Jenggot berhasil dikalahkan, maka sumber mata air Situ Burung itu akan diserahkan ke Situ Patenggang.

Maka dalam sebuah pertarungan, Ki Jenggot berhasil dikalahkan oleh salah seorang jawara Situ Patenggang. Dan sesuai kesepakatan, maka mata air Pelabuhan Bulan ditutup. Otomatis, lambat laun air danau mengering. Sejak itulah kawasan itu dinamakan Situ Burung, yang artinya danau tidak jadi. Setelah air danau kering, areal yang luas itu dijadikan pesawahan penduduk sekitar. “Sumber mata air itu masih ada di sekitar Pelabuhan Bulan,” terang Asep Taufik.

Menurut Asep, yang menutup mata air Pelabuhan Bulan adalah seekor ikan lele gaib raksasa. Beberapa saksi konon pernah melihat ikan itu terlihat di Situ Patenggang. Meski begitu, jelas Asep, kawasan Situ Burung bisa menjadi danau kembali bila terjadi 10 kali hujan besar. Bila itu terjadi, maka Situ Burung akan tergenang dan menjadi danau kembali. “Karena mata air itu ditutup, maka danau Situ Patenggang masih ada sampai sekarang,” ujarnya. ***

Makam Ki Jenggot Tak Boleh Diziarahi



Ki Jenggot dikenal sebagai leluhur Situ Burung yang melegenda. Pada masa silam, Ki Jenggot adalah seorang pendekar pilih tanding. Kesaktiannya menggaung melewati wilayah Bandung. Banyak pendekar ketika itu, ogah berhadapan dengan tokoh yang satu ini. Namun sudah takdir Yang Kuasa, Ki Jenggot harus tewas dalam memperebutkan mata air Pelabuhan Bulan. Kini makamnya dikeramatkan, tapi tak boleh diziarahi orang.

Kisah tentang Situ Burung ada beberapa versi. Namun tiap-tiap versi punya ujung pangkal yang sama. Itu artinya, semua kisah itu bermuara pada satu hal, yakni Pelabuhan Bulan. Pelabuhan Bulan sebagai pusat mistik kawasan Situ Burung, kini hanyalah sebidang tanah mirip bukit mini. Dulunya, Pelabuhan Bulan adalah pulau mungil yang terletak di tengah danau (Situ Burung). Di tempat inilah dahulu kala, para pembesar sering beristirahat sambil menikmati kesenian gamelan dan wayang golek. Sesekali mereka melayari danau yang berair jernih.

Makan korban

Tatang Suparman (62), Kaur Kesra Desa Katapang, menuturkan bila Pelabuhan Bulan adalah pusat Situ Burung. Tak jelas benar, mengapa tanah seonggok itu dinamakan Pelabuhan Bulan. Tapi yang pasti, areal sekitar danau yang dulu belum punya nama itu dikuasai desa. Untuk membiayai pemerintahan desa, maka tanah-tanah itu disewa kepada penduduk untuk digarap. Saratnya, sipenyewa menyerahkan sekian persen hasil panen untuk lumbung desa sebagai pajak. “Entah kenapa, banyak warga menunggak pajak itu. Maka Kepala Desa waktu itu menyita tanah-tanah itu dari penggarapnya,” cetus Tatang.

Danau Situ Burung sendiri sejak lama dikenal sanget (angker). Konon, bila ada yang memancing di Situ Burung sambil membakar menyan hitam, ia pasti akan mendapat banyak ikan. Tentu saja, selain membakar menyan hitam, ada mantera-mantera yang harus dibaca. Secara fisik danau ini memang indah. Tidak heran bila banyak para pembesar yang sering kongkow-kongkow di sana, atau melayari danau diiringi gamelan. Tatang Suparman menceritakan, suatu ketika terjadilah musibah besar.

Ada satu grup gamelan tengah menghibur para pembesar sambil berlayar di danau Situ Burung. Sementara para pembesar itu menyaksikannya di Pelabuhan Bulan. Tiba-tiba saja, terjadi bencana. Muncul putaran air dari sumber mata air dekat Pelabuhan Bulan. Putaran air itu lama-lama makin besar, dan menyebabkan air danau bergelora. Tak pelak, perahu yang mengangkut kelompok kesenian gamelan terombang-ambing. Fatalnya, perahu pun karam, lalu tenggelam. Sinden dan para pengiringnya turut tenggelam. Jenazah mereka pun tak pernah ditemukan. “Karena itulah jangan heran kalau sewaktu-waktu di Situ Burung sering terdengar suara gamelan gaib,” tutur Tatang.

Seiring perjalanan waktu, banyak yang menginginkan danau (Situ Burung) dikeringkan dan dijadikan sawah agar lebih produktif. Penguasa kawasan itu setuju, dengan sarat, setiap tahu harus memberangkatkan haji dua warga Situ Burung ke tanah suci Mekkah. Itulah syarat, sekaligus menjadi tumbal mengeringkan air danau. Setelah terjadi kesepakatan, maka air Situ Burung pun dikeringkan. Sumber mata air yang terletak di Pelabuhan Bulan ditutup. Setelah kering, tanah bekas danau dikavling-kavling dan dijadikan sawah.

Pada tahun-tahun pertama, jelas Tatang, setiap usai panen, para penggarap selalu mengirimkan dua orang warganya ke tanah suci. Tapi, lama kelamaan penduduk semakin banyak. Yang menggarap sawah pun semakin banyak pula. Seiring dengan itu, orang-orang yang dulu menggarap sawah banyak yang dimakan usia. Mereka mulai melupakan syarat mengirimkan haji dua warga tiap tahun. Karena itulah “penguasa” danau sering minta tumbal setiap tahun. Misalnya, ada pendatang yang mendadak kena penyakit, lalu meninggal dunia.

Bukan hanya itu, karena bertambahnya penduduk pula, mahluk gaib dan dedemit yang ada di Situ Burung mulai merambah hingga ke jalan raya. Makanya sering kali pengguna jalan di sana yang melihat penampakan wanita cantik, atau kucing-kucing siluman. Bukan hanya itu, sering pula orang di Situ Burung melihat ikan emas warna hijau dan merah. Atau ikan gabus raksasa dan sapi putih bernama si dongkol. Pernah ada seorang petani melihat belut yang banyak sekali. Ia lalu mencangkul kepala belut itu hingga kepalanya putus. “Sampai dirumah orang itu sakit, lalu meninggal dunia,” kata Tatang.

Makam Ki Jenggot

Masih seputar Situ Burung, ketika itu terjadi rebutan penguasaan sumber mata air yang terletak di Pelabuhan Bulan. Mata air itulah yang mengairi danau selain karena hujan dari langit. Namun, bila mata air dipertahankan, maka ada kemungkinan danau Situ Patenggang mengering. Karena itulah, pendekar di sana meminta agar mata air Situ Burung ditutup lalu dijadikan sawah. Dan untuk mengairi sawah itu, air Situ Patenggang akan dialirkan ke sana melalui mata air di Pelabuhan Bulan.

Menurut Asep Taufik Rahmat, terjadilah pertarungan antar pendekar saat memperebutkan mata air tersebut. Dalam pertarungan yang terjadi di Pelabuhan Bulan, banyak pendekar berguguran. Jumlah mereka banyak. Setelah tewas, para pendekar itu dimakamkan secara massal di sudut danau. Kini lokasi pemakaman itu menjadi bangunan STM di blok Ceuri, Situ Burung. Bukti kuburan massal itu adalah saat penggalian sumur di sekolah itu, para penggali menemukan tulang belulang dan tengkorak manusia.

Nah, untuk menghentikan pertumpahan darah ketika itu, para pendekar Situ Burung berikrar, bila jagoan mereka Ki Jenggot bisa dikalahkan, maka mata air Pelabuhan Bulan akan diserahkan. Akhirnya dalam sebuah pertarungan, Ki Jenggot yang terkenal sebagai pendekar pilih tanding bisa dikalahkan. Kabarnya, Ki Jenggot sengaja mengalah supaya tidak terjadi pertumpahan darah lagi. Mayatnya lalu dimakamkan di Blok Pasung, tak jauh dari Pelabuhan Bulan. Hingga kini makam Ki Jenggot masih ada dan dikeramatkan orang. Namun uniknya, makam itu tak pernah terlihat diziarahi orang.

Menurut H Saidin, buyut Ki Jenggot, selain keluarga, makam Ki Jenggot tak boleh diziarahi. Alasannya, untuk menghindari adanya pengkultusan terhadap sosok Ki Jenggot. “Jangan sampai ada menyalahgunakan ziarah kubur untuk perbuatan syirik,” tandas H Saidin. Makam Ki Jenggot sendiri, kata H Saidin, sering menunjukkan kejanggalan. Misalnya, bila tangan dimasukkan ke dalam tanah makam, ketika dicabut selalu muncul bau harum yang merebak ke mana-mana. ***


-----------------------------------------
H. Saidin (85), buyut ki Jenggot, sesepuh Desa Katapang

Situ Burung ibarat gudangnya keanehan. Di sinilah kebesaran Tuhan sering diperlihatkan. Salah satu keanehannya adalah muncul pohon Kalimala di Pelabuhan Bulan. Pohon itu muncul secara mendadak, tanpa diketahui asal usulnya. Bukti lain adanya kisah masa lalu adalah terdapat cadas (batu) ngampar. Konon diatas tempat itu orang sering duduk-duduk sambil menikmati keindahan danau Situ Burung di masa lalu.

Keberadaan makam Ki Jenggot, kakek buyut saya, juga fenomena lain Situ Burung. Banyak yang berniat menziarahi makam Ki Jenggot, tapi kami pihak keluarga melarang. Kami khawatir makamnya dijadikan tempat untuk kepentingan lain. Sehingga bisa mengarah kepada perbuatan syirik. Meski sering muncul kejadian aneh, semua itu harus ditanggapi sebagai kebesaran Yang Maha Kuasa. Karena Kuasa Nyalah semua itu bisa terjadi. Selain itu bisa menjadi sarana untuk mempertebal keimanan kita. *

-----------------------------------------
Tatang Suparman (62), perangkat desa Katapang

Air Situ Burung bersumber dari Situ Patengang. Tanah danau asalnya dari sitaan lurah karena para penyewa tanah tidak sanggup membayar pajak hasil panen kepada lumbung desa. Sekarang ini istilahnya pajak. Saat itu banyak yang ingin ingin kawasan Situ Burung dikeringkan dan dijadikan sawah. Tapi ada syarat, yakni memberangkatkan tiap tahun naik haji, sebagai tumbalnya.


Karena penduduk semakin banyak, yang menempati areal bekas danau pun semakin banyak pula. Ditambah orang-orang pada masa lalu sudah banyak yang tua dan meninggal dunia. Maka orang pun mulai lupa adanya perjanjian dahulu kala untuk memberangkatkan haji dua warga setiap tahun.

Karena lupa syarat itulah penunggu Situ Burung minta tumbal. Tumbalnya antara lain warga baru yang terkena serangan penyakit, terus meninggal dunia. Kejadian-kejadian gaib paling sering terjadi pada kurung 1970 ke bawah. Sekarang kejadian-kejadian aneh itu sudah jarang. Yang mengalami pun kebanyakan para pendatang. *

----------------------------------------
Asep Taufik Rahmat (19), warga Situ Burung

Meski sering mengalami kejadian gaib, saya sudah terbiasa. Suatu ketika saya pernah melihat di tengah sawah ada keramaian. Suasananya hiruk pikuk. Selokan kecil yang sehari-hari saya lihat, saat itu berubah menjadi jalan besar. Kalau saya amati, jalan itu menuju ke arah keraton kerajaan jin. Orang-orang berlalu lalang di jalan itu. Suasananya mirip seperti pasar rakyat.

Ketika saya mendalami ilmu tenaga dalam di sebuah perguruan silat, saya mulai merasakan getaran-getaran kuat di Situ Gunung. Bahkan saya bisa berdialog dengan jin yang menunggu kawasan Situ Burung. Salah seorang jin yang menunggu pohon Tanjung di tengah sawah, bernama Mbah Munaja, akhirnya masuk Islam.

Bukan hanya itu, di kawasan Situ Burung pula saya kedatangan raja jin dari Bermuda. Konon, itulah jin peliharaan presiden AS, Geroge W. Bush. Jin ini datang karena ingin menjajal ilmu. Selain itu, di Situ Burung pula saya kedatangan jin dari Timur Tengah, tepatnya dari Afganistan. Namanya Ki Hamka. Dia mengaku tahu letak persembunyian Osama Bin Laden, tapi dia bersumpah tidak akan membuka rahasianya. Semua itu saya alami di Situ Burung. *



0 komentar:

Poskan Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP