04 Agustus 2009

Gua Rahmatullah Jelegong (1)

Gua yang terletak di Kampung Sukawangi Cisaat, RT 03 RW 01, Desa Jelegong, Soreang, Kabupaten Bandung ini terbilang unik. Pengunjung yang ingin berkelana di dalamnya harus membungkuk sejauh 14 meter. Setelah itu, sesuatu yang menakjubkan terlihat. Di bagian dalam terdapat 12 lubang, yang masing-masing memiliki anak lubang menyebar ke segala arah. Tanpa bantuan juru kunci, seseorang bisa tersesat dan tak pernah kembali lagi ke dunia luar.

Dinamakan Rahmatullah karena yang membuat gua ini bernama Rahmat. Dibuat sekitar 130 tahun yang lalu. Ia adalah seorang penambang pasir yang dikenal punya ilmu kebatinan sangat tinggi. Di sebelah Gua Rahmatullah, terdapat sebuah gua batu yang dalamnya hanya 5 meter. Gua inipun asli buatan Rahmat. Namun, yang luar biasa adalah proses pembuatannya hanya menggunakan pahatan-pahatan tangan. Luar biasa.

Gua Pasir

Gua yang terletak disisi kali Ciliwung ini sesungguhnya merupakan areal penambangan pasir di bawah tanah yang sudah puluhan tahun tak dipergunakan lagi. Di bawah tanah kawasan Jelegong, memang terkenal akan kandungan pasirnya yang berkualitas baik. Orang-orang menyebutnya pasir Nanjung, yang berpuluh-puluh tahun silam menjadi material bangunan-bangunan penting di wilayah Bandung dan sekitarnya.

Sebut saja Gedung Sate, Gedung Merdeka, Museum Geologi, dan sejumlah bangunan-bangunan penting lainnya, menggunakan bahan pasir ini. Kehebatan pasir Nanjung tampak dari kualitas bangunan yang hingga kini masih memperlihatkan kekokohan. Dinding tembok yang menggunakan pasir Nanjung, dijamin bangunan akan kokoh sampai berpuluh tahun lamanya.

Pasir Nanjung dipergunakan semasa Gubernur Jenderal Daendels memerintah Hindia Belanda. Kala itu, Bandung diperintah Bupati RA Wiranatakusumah. Namun sejak 50 tahun silam, areal penambangan pasir Nanjung ditutup. Otomatis, tambang pasir yang membentuk gua-gua bawah tanah ini tak pernah digunakan, bahkan tak pernah dijamah manusia lagi. Mulut gua pun tidak tampak lagi, tertutup oleh reruntuhan tanah dan tumbuhan-tumbuhan liar.

Saat ini, masyarakat Jelegong, terutama kampung Sukawangi Cisaat, bagai melupakan bila sekitar 20 meter di bawah bangunan rumah-rumah mereka terdapat lorong-lorong yang gelap. Sejak berpuluh-puluh tahun mereka tak lagi menyentuh gua itu. Baru pada tahun 2003 lalu, persis saat bulan Ramadhan 1424 H, gua pasir itu ditemukan kembali.

Adalah Asep Mawar (45), yang menemukan kembali gua. Secara tak sengaja ketika hendak membuat kolam, cangkul Asep menembus ruang kosong. Ternyata itu adalah mulut gua yang dalamnya mencapai ratusan meter. Asep mengaku sudah lama ia mengolah tanah dibantaran kali Citarum. Tapi selama itu pula tidak terbersit pikirannya bisa menemukan mulut gua Rahmatullah. “Soalnya sudah lama sekali soal gua bekas galian pasir tidak pernah disebut orang,” tutur Asep kepada penulis.

Ngalap Berkah

Setelah menemukan gua itu, bersama spiritualis hikmah Ki Engkus Kusumah Sumantri, Asep Mawar kemudian menatanya kembali. Ia pun lantas menjadi juru kunci gua tersebut. Aseplah orang yang tahu persis lika-liku gua Rahmatullah yang terkenal rumit dan banyak cabang. Beberapa spiritualis dan paranormal yang pernah mengunjungi gua ini mengakui adanya energi gaib yang kuat dibagian dalam. Paranormal Gus Dharma Adji, misalnya, mengaku terpukau oleh lika-liku gua Rahmatullah.

Menurut Gus Dharma Adji, ada semacam energi gaib yang terdapat di dalam gua itu. Hal itu, kata Gus Dharma, bisa jadi karena areal lingkungan gua termasuk kawasan yang jarang dijamah manusia. Padahal dulunya, areal itu termasuk ramai oleh hiruk pikuk penambangan pasir. “Kondisi itulah yang menyebabkan daya tarik mistis yang kuat dari dalam gua,” tutur Gus Dharma kepada posmo.

Ki Engkus Kusumah, spiritualis hikmah asal Cimahi Bandung yang menata ulang gua Rahmatullah mengungkap hal yang sama. Areal lingkungan gua Rahmatullah memang terkenal sanget (angker). Sekitar 300 meter dari lokasi gua, terdapat jembatan Leuwisapi atau jembatan Nanjung yang terkenal angker. Di bawah Jembatan Nanjung mengalir sungai Citarum yang berair keruh karena limbah pabrik. Sungai itu kerap dijadikan lokasi pembuangan mayat korban pembunuhan.

Selain itu, ujar Ki Engkus, sekitar 1 Km dari areal gua Rahmatullah, terdapat makam keramat yang selalu diziarahi orang-orang. Gua Rahmatullah sendiri, sejak dibuka setahun silam, sering didatangi orang-orang yang punya berbagai hajat. Mereka sengaja datang dari berbagai tempat untuk memburu berkah tempat tersebut. “Tidak jarang mereka menginap beberapa hari untuk mendapatkan wangsit,” ujarnya.

Menurut Ki Engkus, kawasan di sekitar gua Rahmatullah memang terkenal angker. Sering kali warga di sana menyaksikan adanya penampakan mahluk-mahluk gaib yang menyeramkan. Ini bisa dimaklumi. Sebab kawasan tersebut terkenal sebagai lokasi pembuangan mayat. Selain itu, bila malam hari, kawasan sepanjang jalan Nanjung sangat gelap karena minimnya penerangan. Gua ini pun, kata Ki Engkus, dihuni seekor naga dan harimau siluman. “Namun sejauh ini keberadaannya tidak mengganggu. Justru turut menjaga para peziarah yang ngalap berkah di dalam gua,” katanya. bersambung


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP