11 Agustus 2009

Geger Ajaran Panca Daya

Masyarakat Kampung Tagog, Desa Karyamukti, Kec. Salawu, Kab. Tasikmalaya, geger. Kamis (28/8/2008) siang, rumah kediaman H Ishak Suhendra SH, Ketua PPS Panca Daya Cabang Tasikmalaya dan sekretariatnya di Jl Garut-Tasikmalaya, diserbu ratusan massa dari beberapa ormas dan OKP. Warga tak menyangka bila tokoh yang selama ini mereka hormati ternyata penyebar ajaran sesat dan menyesatkan.

Kamis (28/8/2008) sekitar pukul 12.00 WIB, suasana Kampung Tagog menjadi riuh rendah. Ratusan massa dari GP Ansor, Gerakan Masyarakat Anti Aliran Sesat (Gemas) dan Forum Masyarakat Madani, berteriak-teriak di depan rumah seorang tokoh masyarakat setempat bernama H Ishak Suhendra. Mereka menuntut agar H Ishak segera ditangkap dan dijebloskan ke dalam tahanan. Untunglah, aksi massa itu bisa dikendalikan aparat kepolisian setempat yang sejak awal turut mengiringi pergerakan massa.

H Ishak Suhendra SH, Ketua PPS Panca Daya Cabang Tasikmalaya, penulis buku “Agama dalam Realita”, sebenarnya tengah menjalani proses hukum di meja hijau. Tentu, karena paham sesatnya dalam buku itulah yang menyeret pensiunan PNS dari BPN Tasikmalaya ini menjadi pesakitan. H Ishak dituduh telah menodai agama Islam dan berpotensi meresahkan umat.

Parahnya lagi, akibat pemahamannya yang dinilai keliru tentang agama Islam dan kemudian disebar luaskan melalui bukunya itu, dapat berpotensi menyelewengkan akidah banyak orang. Apalagi kapasitasnya sebagai pimpinan perguruan pencak silat yang konon memiliki ribuan murid dan seorang penyembuh alternatif yang memiliki banyak pasien dari berbagai daerah. Ini tentu dapat sarana “dakwah” menyesatkan yang paling efektif kepada masyarakat luas.

Mangkir Sidang

Bila ditelusuri, peristiwa penyerbuan ratusan massa dari GP Ansor, Gerakan Masyarakat Anti Aliran Sesat (Gemas) dan Forum Masyarakat Madani, pekan silam itu merupakan puncak kekesalan terhadap H Ishak Suhendra. Sebab setelah melewati satu persidangan, terdakwa H Ishak yang berada dalam status tidak ditahan itu, justru selalu mangkir dalam persidangan.

Dan pada Kamis (28/8), merupakan sidang ketiga kalinya terdakwa mangkir dan menolak panggilan jaksa. Pada hari itu, sedianya jaksa penuntut umum akan membacakan tuntutannya. Seperti diungkap Juru Bicara MUI Kabupaten Tasikmalaya, H Dudu Rohman, terdakwa diadili karena terbukti melakukan penodaan terhadap agama dan dijerat oleh pasal 156a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman 5 tahun penjara.

Namun karena terdakwa tidak hadir juga, maka massa yang sejak awal memantau perkembangan sidang tersebut menjadi kesal. “Akhirnya usai sidang yang digelar secara terbuka itu, massa dari tiga ormas dan OKP ini mengambil inisiatif untuk menjemput paksa H Ishak ke persidangan dan meminta kejaksaan segera menjebloskannya ke dalam tahanan,” tutur H Dudu kepada posmo.

Disebar Lewat Pengajian

Menurut H Dudu Rohman, proses penyebaran ajaran menyimpang oleh H Ishak sudah terendus secara jelas sejak Februari 2008 silam. Ketika itu, sebagian masyarakat merasa resah dengan beredarnya sebuah buku yang isinya menyimpang dari kaidah-kaidah agama Islam. Buku itu berjudul “Agama Dalam Realita” yang ditulis H Ishak Suhendra SH. Tentu saja, nama penulis sangat tidak asing ditelinga masyarakat. Sebab ia adalah tokoh yang dermawan di daerahnya, pimpinan PPS Panca Daya yang memiliki banyak murid, dan juga juru penyembuh alternatif terkenal.

Karena memiliki kredibilitas yang baik dimata masyarakat itulah, dikhawatirkan paham menyimpang H Ishak dapat dengan mudah diserap masyarakat lainnya. Apalagi pesan-pesan muatan isi buku itu sering disampaikan H Ishak dalam pengajian yang selalu digelar setiap malam jumat kepada murid PPS Panca Daya dan sebagian warga setempat. Karena itu, pada 27 Februari 2008, Pengurus PAC GP Ansor Salawu mengambil sikap menolak ajaran sesat yang dilakukan H Ishak.

Melalui surat resminya bernomor 03/BAN/MWC/02/2008, PAC GP Ansor Salawu melaporkan jalannya pengajian malam Jumat dan temuan buku “Agama Dalam Realita” kepada Muspika dan KUA Kec. Salawu. Dan sehari kemudian, terjadilah sebuah rapat khusus yang dihadiri oleh bagian Kesbang Pemkab Tasikmalaya, Muspika, KUA, MUI dan GP Ansor yang membahas isi buku tersebut.

Setelah melalui pengkajian yang matang, ditemukanlah 9 point penyimpangan dalam buku “Agama Dalam Realita” karya H Ishak Suhendra. Maka untuk meluruskan pemahaman akidah yang disimpangkan H Ishak itu, pada 10 Maret 2008, Muspika Kec. Salawu memanggil yang bersangkutan untuk meminta klarifikasi. Pertemuan itu juga dihadiri pengkaji buku yang berjumlah 10 orang ulama.

Namun pertemuan itu tidak menghasilkan titik temu. Masalahnya, paradigma berpikir H Ishak Suhendra ngawur dan selalu mengacu pada percampuran agama. Dalam kesempatan itu H Ishak malah mempersilakan masalah pemahamannya itu dikaji kembali ditingkat yang lebih tinggi. H Ishak juga menganggap pengkajian ditingkat kecamatan Salawu bukan levelnya.

Seperti diungkap H Dudu Rohman, saat pertemuan dengan Muspika dan ulama itu, tercetuslah ungkapan H Ishak yang membuat para hadirin mengucap “mengelus dada”. Saat pembicaraan menemui jalan buntu, salah seorang ulama menanyakan, “… jadi H Ishak ini agamanya apa?” Lantas dijawab H Ishak, “Ya bisa Islam, bisa Kristen!”

Jawaban H Ishak seperti itu langsung membuat para hadirin mengucap istighfar sambil mengelus dada. Maka setelah pertemuan yang tidak ada titik temunya itu, para hadiri yang terdiri dari Muspika, para ulama dan masyarakat, berkeyakinan bila telah terjadi sesuatu yang “tidak beres” dengan pemahaman H Ishak terhadap Islam. Akhirnya Camat Salawu, Ema Somantri S.Sos, M.Si. secara resmi mengeluarkan surat kepada Bupati Tasikmalaya agar masalah H Ishak ini diproses lebih lanjut.

Dicekal MUI

Pasca pertemuan yang tidak sukses itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Tasikmalaya langsung melakukan pengkajian secara khusus. Dan hasilnya bisa ditebak bahwa paham yang diajarkan Ketua Persatuan Pencak Silat (PPS) Panca Daya Cabang Kab. Tasikmalaya, H. Ishak Suhendra adalah menyimpang. MUI meminta agar aparat hukum segera menarik buku berjudul “Agama dalam Realita” yang ditulisnya dari peredaran.

MUI juga menilai buku itu berpotensi meresahkan umat, dan yang paling berbahaya adalah membuat akidah masyarakat menjadi menyimpang. MUI juga memita agar Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem), segera memanggil pengarang buku tersebut dan memprosesnya sesuai hukum yang berlaku. ***


Buku “Agama Dalam Realita”



Dalam beberapa dialog dengan berbagai pihak, H Ishak Suhendra SH tampak yakin dengan pemahamannya tentang Islam sebagaimana ia tulis pada buku “Agama Dalam Realita”. Buku yang menghebohkan itu pun sempat beredar luas baik dalam bentuk buku aslinya, maupun foto copy-an. Di situlah H Ishak menafsirkan ayat-ayat sesuka hatinya.

Inilah yang amat dikhawatirkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tasikmalaya, beserta sejumlah ormas dan OKP Islam di sana. Bahwa akibat beredar luasnya pemahaman sesat dan menyesatkan H Ishak Suhendra dalam bentuk buku dan foto copy-annya, bakal tersampaikanlah pesan-pesan menyimpang si penulisnya.

Coba saja simak jawaban enteng yang H Ishak, yang ia cetuskan ketika ditanya ulama dalam satu dialog. “….jadi H Ishak ini agamanya apa?” Lantas H Ishak menjawab, “Ya bisa Islam, bisa Kristen!” Jawaban itu, menurut Juru Bicara MUI Kab. Tasikmalaya, H Dudu Rohman, didengar banyak orang. “Kenyataan itu semakin memperjelas adanya kejanggalan aqidah dalam diri H Ishak,” katanya.

Selain itu, dalam persidangan awal yang kala itu dihadiri terdakwa H Ishak, hakim sempat marah dan menggebrak meja. Pasalnya, H Ishak selalu melontarkan jawaban bertele-tele dan berbelit-belit. Misalnya untuk satu pertanyaan yang mestinya cukup dijawab dengan kata “ya” atau “tidak”, tapi H Ishak menjawabnya secara panjang lebar dan terkesan menceramahi majelis hakim.

Dan parahnya, jawaban itu pun ngawur. “Kan harus diterangkan dulu. Inikan soal agama pak hakim. Jadi pak hakim harus tahu bahwa Islam itu …. (panjang lebar, red),” tutur H Dudu menirukan jawaban H Ishak. Bahkan dipersidangan pun, H Ishak menolak didampingi pengacara. Dia ingin melakukan pembelaan secara lisan. Namun hakim meminta H Ishak untuk membuat jawaban secara tertulis dan memberi kesempatan selama satu minggu.

Tingkah laku H Ishak dipersidangan pun selalu mengundang cemooh dari para hadiri yang menyaksikan. Setiap jawaban yang dilontarkan H Ishak, selalu saja mengundang teriakan riuh rendah pengunjung. Masalahnya, jawabannya selalu nyeleneh dan ngawur. Karena kesal selalu disoraki, H Ishak sempat membalik badan menghadap pengunjung sambil menantang, “Mau apa kalian?” Lalu dibalas, “huuu ….” dari pengunjung.

Tafsir Seenaknya

Dalam buku “Agama Dalam Realitas”, setidaknya tercatat 9 point kejanggalan dan ketidaklaziman. Si penulis, H Ishak Suhendra, menganggap semua agama adalah benar, termasuk ajaran-ajarannya. Sehingga dalam bukunya, H Ishak mencampur adukan semua ajaran agama. Dan bila disimak, ada kecenderungan si penulis mengambil hal-hal yang mudah saja (simpel) dalam masalah agama. Padahal, masalah agama adalah hal serius.

Dalam salah satu kajian, si penulis menempatkan dan menafsirkan firman Allah dalam Alquran dengan memakan ro’yu saja dan tidak memakai metoda penafsiran yang benar. Seperti saat mengartikan lafaz “bismillahirrahmanirrahim”. Dalam buku itu, H Ishak seenaknya memenggal lafaz itu menjadi kata-kata yang diartikan semaunya. Misalnya “bismillahirrahmanirrahim” dipenggal menjadi kata bis = hidup, mil = hati, lahi = rasa, rohman = akal, dan rahim = budi.

Kemudian, di halaman 3 buku “Agama Dalam Realitas”, H Ishak juga menciptakan sendiri adanya istilah Rukun Agama. Menurut dia, dalam Islam itu ada 4 Rukun Agama, yakni iman, tauhid, makrifat dan Islam. Dia menjelaskan, bahwa sasaran Iman kepada kudrat Allah/kuasa Allah = Muhammad Rasulullah = tenaga murni Panca Daya. Dan pendorongnya adalah kasih.

Dalam buku itu, H Ishak juga membuat urutan Rukun Iman tidak sesuai tertibnya dimana ia mendahulukan iman kepada rosul daripada iman kepada kitab-kitab Allah (halaman 5-6). Pada halaman 17, terdapat pernyataan yang menyalahi aqidah. Bahwa “Wajib Allah membutuhkan Mahluk (manusia), mustahil tidak membutuhkan”. Juga dalam halaman 18, penulis menjelaskan tetang agama, sahadat, shalat, puasa, zakat, haji, tidak berdasarkan dalil dan ketentuan syara. Misalnya mengartikan shalat = bersatu; manunggal; yoga; lebur; sadar.

Yang paling mencolok dalam ajaran H Ishak adalah bahwa pelaksanaan shalat itu jumlahnya 50 kali dalam sehari semalam atau 24 jam. Maka shalat harus dilakukan dalam 24 jam secara terus menerus tiada hentinya (dawam). Ini tertulis dalam halaman 15 buku tersebut. Selanjutnya dalam halaman 19, H Ishak juga mengartikan sebagian rukun-rukun shalat di luar pengertian syara’.

Menurut jubir MUI Kab. Tasikmalaya, H Dudu Rohman, pihaknya mengkhawatirkan ajaran-ajaran menyimpang itu juga disampaikan kepada murid dan pasien-pasiennya. Sebab seperti diketahui, H Ishak dikenal aktif di perguruan silat dan pengobatan alternatif. “Kami khawatir ajaran-ajaran menyimpangnya itu disampaikan di sana. Dengan pendekatan seperti itu, kami kira pesan-pesan menyimpang dari pemahamannya tentang Islam dan ayat-ayat Alquran bisa dengan mudah masuk kepada mereka,” beber H Dudu. ***


Sisi Lain Kehidupan H Ishak



Dermawan, Dijuluki “Si Tangan Sakti”

Tak ada yang menyangka bila lelaki berusia 70 tahun ini bakal terjebak dalam penyimpangan aqidah. Bahkan masyarakat di sekitarnya, tidak akan menyangka sosok yang baik, pemurah dan suka menolong itu harus dipenjara karena urusan buku. H Ishak Suhendra SH adalah pensiunan pegawai negeri sipil dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Tasikmalaya.

Selama ini, nama H Ishak memang terkenal sebagai pimpinan perguruan silat dan penyembuh alternatif yang handal. Ia bahkan dijuluki “Si Tangan Sakti” karena dengan tangannya, ia banyak menyembuhkan orang sakit. Karena “kesaktiannya” itulah ia banyak menerima pasien dari berbagai daerah. Ada yang datang dari Jakarta, Bandung, Garut, dan daerah lainnya. Proses terapi pengobatan yang dilakukannya pun terbilang unik, tapi manjur. Yakni dengan cara mencubit-cubit pasien, lalu si pasien pun sembuh.

Dudu Rohaedin, Kepala Kampung Tagog, mengakui bila H Ishak adalah pria bertangan dingin karena gemar membantu warga. Di pinggir jalan Garut-Tasikmalaya, H Ishak membuat ruko-ruko untuk sarana perdagangan bagi warga setempat. Selain itu, di kampung Tagog, H Ishak juga sudah melakukan bedah rumah warga sebanyak 14 unit. “Semua itu berasal dari biaya pribadi beliau,” tutur Dudu.

Makanya, Dudu maupun warga setempat mengaku kaget kalau H Ishak diserbu massa. Namun setelah mengetahui permasalahannya, akhirnya warga bisa mengerti. Pihaknya sendiri tidak pernah tahu kalau H Ishak mengajarkan ajaran-ajaran sesat. “Selama ini kami lihat biasa-biasa saja,” katanya lagi.

Sementara itu, kepada wartawan H Ishak Suhendra mengatakan bila dirinya tidak melakukan kesalahan. Ishak menganggap paham yang diajarkan kepada anggotanya tidak sesat. Sebab yang diajarkan bukan masalah akidah, tetapi bagaimana caranya menggali potensi yang dimiliki manusia.
"Jika dinyatakan salah, salahnya di mana? Kita tidak pernah mengajarkan ajaran yang sesat. Justru kami mencoba mengajarkan, bagaimana caranya agar kita bisa memanfaatkan potensi yang kita miliki, supaya lebih bisa mensyukuri nikmat dari Allah," katanya. ***

-------------------------

KH A Saefulloh, Saksi Ahli MUI dan Pengasuh Pondok Pesantren Sukawana, Tasikmalaya

Dalam kehidupan sehari-hari, H Ishak itu berjalan normal. Dia pimpinan bela diri dan melakukan kegiatan pengobatan alternatif. Itu tidak menyimpang. Hanya saja, dia menulis buku yang isinya berpotensi menyesatkan umat. Dia menafsirkan sendiri ayat-ayat dalam Alquran. Banyak sekali yang aneh. Misalnya menafsirkan bismillah seenaknya sendiri. Dan banyak lagi yang lainnya. Seperti shalat harus 50 rakaat, dll. Dari mana dasarnya dia menafsirkan itu.

Saya menilai dia tidak punya pengetahuan yang memadai tentang agama Islam. Kalau menulis buku untuk pribadinya sendiri, ya tidak apa-apa. Tapi kalau untuk disebarluaskan, itu berbahaya. Hanya saja saya sangat menyayangkan sikap-sikapnya yang arogan. Mungkin karena dia bergerak di dunia persilatan, jadi ada sikap keberanian di sana.

Panggilan dan teguran dari MUI Kecamatan tidak digubris dan bahkan dianggap remeh. Dia menganggap MUI Kecamatan bukan levelnya. Juga dipanggil kejaksaan sampai 3 kali juga tidak hadir. Jadi dia sudah berani menantang aparat.

Salah melihat penyimpangan-penyimpangan dalam buku yang disebarluaskan itu menyeluruh. Baik dari segi aqidah maupun syariah. Dan itu tidak bisa ditolerir. Bukan masalah furu’ atau perbedaan pendapat dalam bidang fiqih. Tapi ini aqidah.
Kekhawatiran kita adalah akan timbul pemurtadan. Penyimpangan aqidah. Sebab katanya bila sudah memahami agama seperti dalam bukunya, maka salat pun tidak perlu dilakukan. Dan pemahaman dia bukan seperti salat yang dicontohkan rasulullah.

Kalau buku ini diperbanyak dan disebarluaskan, maka itu bisa berbahaya bagi pemahaman aqidah masyarakat, terutama yang minim pemahaman agamanya. Bukan hanya itu, juga bisa meresahkan. Ini terus terang massa itu masih baik dengan tidak bertindak anarkis. Saya juga sempat menanyakan kepada beliau, dengan kejadian ini apakah menyesal. Dia menjawab, “Tidak”. ***



0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP