05 Agustus 2009

Gamelan Sari Oneng Sumedang

Gamelan Sari Oneng merupakan tinggalan penting sejarah Kerajaan Sumedang Larang. Ia sekaligus cermin para Pangeran Sumedang Larang yang menggemari kesenian. Gamelan ini pernah tertinggal di Belanda dan dikembalikan lagi karena sering berbunyi sendiri.

Kabupaten Sumedang memang layak dijuluki kota tua. Tua karena beragam peninggalannya telah menjadi cagar budaya yang harus dilindungi dan sebagian besar masih utuh. Sumedang juga memiliki sejarah unik karena kehidupan para pangerannya yang gagah berani, agamis dan menyukai kesenian.

Kabupaten Sumedang memiliki luas 1.522.20 km atau 12.129 ha dengan ketinggian di atas 100 dpl. Menurut legenda rakyat Sumedang, kata Sumedang berasal dari ucapan Prabu Tajimalela pada saat terjadi keajaiban alam sekitar Tembongagung, di mana langit menjadi terang benderang oleh cahaya yang melengkung menyerupai selendang selama tiga hari tiga malam.

Peristiwa itu terjadi bertepatan dengan penyerahan tahta kerajaan kepada putra kedua Prabu Tajimalela, yakni Gajah Agung. Gajah Agung tepilih dan berhak menduduki tahta kerajaan setelah lulus dalam sebuah ujian atau sayembara. Pada saat itu, prabu Tajimalela berucap Insun medal, insun madangan yang artinya aku lahir untuk memberi penerangan. Sejak saat itu, timbullah nama Sumedang yang kemudian menjadi kerajaan Sumedang Larang, di mana sebagai nalendranya ialah Prabu Gajah Agung dan wilayahnya harus mencari sendiri.

Dari sinilah, Prabu Tajimalela mengajarkan ilmu kasumedangan yang berisi 33 pasal. Dan itulah yang dikemudian hari di kemudian hari menjadi falsafah hidup rakyat kerajaan Sumedang Larang. Sedangkan, kata Sumedang Larang ditinjau secara etimologi, mempunyai arti Su yakni bagus, Medang artinya luas, dan Larang berarti tiada bandingannya. Artinya Sumedang larang adalah tanah luas yang bagus tiada bandingan.

Gamelan Sari Oneng

Keunikan lain dari kehidupan para Pangeran Sumedang adalah jiwa seni dan kesenangannya menikmati kesenian tradisional. Sebut saja kesukaannya ketika itu adalah mendengar musik gamelan, menonton pertunjukan sendratari dan tari topeng. Namun pada masa penjajahan Belanda sekitar 1920, kebebasan menikmati pertunjukan seni semakin sedikit.

Pada zaman Belanda, bangsawan pribumi lebih mendapat tempat yang nyaman menikmati musik yang bernuansa Eropa, sambil berdansa dan menyantap makanan sebagaimana dilakukan kaum penjajah. Tempat yang paling popular untuk menikmati hiburan bernuansa Eropa di Sumedang kala itu adalah Preanger Weed Look Societiet yang oleh bangsa pribumi disebut Gedung Silet.

Kini, Gedung Silet telah mengalami pemugaran dan beralih fungsi dan berganti nama menjadi Graha Insun Medal yang letaknya tak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang. Nah, barulah sejak pemerintahan Jepang pada 1945, bangsawan pribumi baru dapat menikmati kembali pertunjukan kesenian tradisional secara lebih leluasa karena Gedung Silet oleh Jepang dijadikan tempat hiburan tentara Dai Nipon dan bangsawan pribumi dengan pertunjukan kesenian tradisional.

Kesenian yang bernuansa Eropa, justri dilarang oleh Jepang. Tak heran bila tari Topeng Cirebonan dan sendratari menjadi pribadona hiburan dan kerap dipentaskan di sana. Jejak peninggalan para pangeran Sumedang yang memiliki jiwa seni itu, masih bisa disaksikan hingga kini. Tempatnya adalah Museum Prabu Geusan Ulun. Museum ini sendiri memiliki 6 bangunan dengan Gedung Srimanganti sebagai bangunan utama.

Di dalam bangunan Srimanganti inilah terdapat seperangkat Gamelan Sari Oneng, salah satunya Sari Oneng Parakan Salak yang cukup dikeramatkan. Gamelan ini selain memiliki type suara yang aneh, juga pernah tertinggal di negeri Belanda. Saat ini, gamelan ini tidak pernah lagi digunakan mengingat kondisinya yang sudah tua.

Gamelan di Gedung Srimanganti ini merupakan peninggalan Pangeran Panembahan. Ceritanya, Gamelan Sari Oneng Parakan Salak ini pernah dipamerkan di Amsterdam tahun 1883 dan di Chicagon 1893. Ketika itulah salah satu perangkat gamelan ini, yakni goong besarnya, tertinggal di Belanda. Barulah seratus tahun kemudian, goong ini dikembalikan ke Indonesia.

Mengapa dikembalikan? Seperti dituturkan salah seorang petugas Museum Prabu Geusan Ulun, Abdul Syukur, ketika gamelan itu berada di Belanda, pada malam-malam tertentu goong sering berbunyi sendiri, padahal tidak ada yang menabuhnya. Mengetahui keadaan seperti itu, pengurus alat-alat kesenian di Belanda sering dihantui rasa takut. Akhirnya pada 1989, goong ini dikembalikan ke Indonesia.

Gamelan Sari Oneng Parakan Salak dibuat di Sumedang tahun 1825. Saat itu Sumedang merupakan pusat budaya di Jawa Barat. Sedangkan rancaknya dibuat dari kayu besi di Muangthai. Selain tepat menyimpan gamelan Sari Oneng Parakan Salak, di gedung yang juga dipergunakan sebagai tempat latihan tari daerah. Di tempat ini terdapat pula koleksi Gamelan Sari Oneng Mataram abad 17 peninggalan Pangeran Panembahan, gamelan Sekar Manis abad 18, gamelan Sekar Oneng abad 18 dan gamelan Sangir abad 18. ***


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP