23 Agustus 2009

Dibalik Jatuhnya Kerajaan Pajajaran (1)

Pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16 panggung sejarah di tanah Jawa berubah oleh oleh dua fenomena menarik. Yakni melemahnya dan memudarnya kerajaan-kerajaan lama yang bercirikan Hindu-Budha. Pada sisi lain, muncul Islam sebagai kekuatan politik baru yang semakin menunjukkan pengaruh yang kian membesar. Pasca jatuhnya Majapahit (1527), kerajaan Hindu yang tersisa adalah Pajajaran (Bogor) dan Blambangan (Pasuruan). Inilah fenomena dibalik jatuhnya Kerajaan Pajajaran.

Setelah Majapahit jatuh sekitar tahun 1527, di Pulau Jawa hanya terdapat dua kerajaan Hindu yang masih tersisa, yaitu Kerajaan Pajajaran - yang ibukotanya terletak di sekitar Kota Bogor sekarang dan Kerajaan Blambangan di Pasuruan. Dan setelah Kerajaan Blambangan ditaklukkan oleh Demak (1546), maka tinggallah Kerajaan Pajajaran menjadi satu-satunya kerajaan Hindu yang masih berdiri.

Kekuatan Islam

Pada saat yang sama, kekuatan Islam mulai tumbuh. Melihat hal itu sebagai bahaya yang dapat mengancam eksistensinya, Kerajaan Pajajaran berupaya mengantisipasi dengan menerapkan dua macam kebijakan. Pertama, berusaha membatasi pedagang-pedagang Islam yang mengunjungi pelabuhan-pelabuhan yang berada di wilayah kekuasaan Pajajaran. Kedua, mengadakan hubungan persahabatan dan kerja sama dengan Portugis yang berkedudukan di Malaka. Hubungan persahabatan ini dimaksudkan agar Portugis dapat membantu Pajajaran apabila Kesultanan Demak menyerangnya.

Penguasaan Malaka oleh Portugis (1511), ditambah dengan sifat¬sifat ambisiusnya untuk memonopoli semua perdagangan rempah-¬rempah dari Nusantara dan sikapnya yang memusuhi orang-orang Islam, menimbulkan kebencian dan permusuhan dari para pedagang, khususnya pedagang muslim. Hal ini mengakibatkan mereka tidak mau melewati dan singgah di Malaka.

Akhirnya, dengan melalui alur pelayaran yang sulit, para pedagang dari India, Persia, Arab, dan lainnya dapat berhubungan dengan pusat-pusat perdagangan di Jawa melalui Selat Sunda setelah sebelumnya melewati Aceh Barat, Barus, Singkel, Padang Pariaman, dan Salida. Dengan demikian, kedudukan Banten sebagai pelabuhan clan vasal Pajajaran menjadi sangat penting clan ramai dikunjungi pedagang-pedagang asing. Kondisi ini pada gilirannya telah menjadikan Banten semakin terbuka, termasuk dalam hal penerimaan mereka terhadap Islam.

Kerajaan Demak

Pada sisi lain, perjanjian persahabatan antara Pajajaran dengan Portugis mendapat tanggapan tidak simpatik dari Banten, yang sudah banyak menerima kehadiran Islam, sehingga kesetiaan Banten terhadap Pajajaran semakin menipis. Hal yang sama ditunjukkan pula oleh Demak. la menilai bahwa dengan masuknya Portugis ke Pulau Jawa akan berakibat fatal bagi kemerdekaan Nusantara secara keseluruhan, sehingga peristiwa persahabatan Pajajaran-Portugis telah memperbesar hasrat Demak untuk menguasai Pajajaran.

Guna melumpuhkan kekuasaan Pajajaran, Demak tidak langsung melakukan serangan frontal ke pusat kekuasaannya, tetapi terlebih dahulu harus menguasai Banten. Strategi ini diambil dengan pertimbangan bahwa secara sosio-psikologis, masyarakat Banten yang terbuka dan sudah cenderung menerima kehadiran Islam, ditambah dengan kebencian mereka terhadap Pajajaran yang telah berkolusi dengan Portugis, akan mempermudah Demak untuk menanamkan pengaruhnya, lebih-lebih bila melalui pendekatan emosi keagamaan.

Secara geografis-ekonomis, Banten, sebagai kota pelabuhan dan pangkalan strategis di Jawa Barat, merupakan akses dan aset yang sangat berarti bagi Pajajaran, seperti halnya Sunda Kelapa. Dengan dikuasainya Banten berarti salah satu sumber daya dan sumber dana Pajajaran sudah dikuasai.

Dalam upaya menguasai Banten, Raja Demak, Sultan Trenggana, mengutus Sunan Gunung Jati beserta sejumlah pasukan perang Demak sekitar 1524-1525 untuk menyerangnya. Tidak diberitahukan terjadinya perlawanan yang berarti, malah yang terjadi penguasa Banten menerima kehadiran Sunan Gunung Jati dan pasukannya serta membantu proses Islamisasi. Perkembangan selanjutnya, Sunan Gunung Jati berhasil mengambil alih pemerintahan kota pelabuhan tersebut.

Setelah kota pelabuhan Banten berhasil dikuasai, langkah berikutnya, dalam upaya melaksanakan strategi global mengislamkan Jawa Barat, adalah menyerang Sunda Kelapa, sebuah kota pelabuhan utama yang penting dan ramai yang dimiliki Pajajaran. Perebutan kota ini berlangsung cukup sengit karena letaknya yang tidak jauh dari ibukota Kerajaan Pajajaran.

Sebagai petunjuk bahwa perebutan kota ini sangat penting bagi agama Islam, setetah berhasil direbutnya, kota ini diberi nama baru, Jayakarta atau Surakarta. Keduanya nama-nama Jawa yang berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti jaya dan makmur. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1527. (bersambung)


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP