04 Agustus 2009

Bumi Alit Arjasari

Masyarakat di sana menyebut kompleks Bumi Alit ini Kabuyutan Lebakwangi Batukarut. Luasnya kurang lebih 5 Ha. Terletak di kawasan Arjasari, Kabupaten Bandung. Di dalam Bumi Alit (rumah kecil, Sunda) ini tersimpan sejumlah benda pusaka peninggalan karuhun orang Sunda. Sebut saja kujang, keris, tombak, pisau kecil dan gobang. Tak heran bila tempat ini sangat dikeramatkan.

Bumi Alit ini kerap pula disebut rumah buhun. Zaman dahulu, di Bumi Alit inilah para karuhun berkumpul dan bermusyawarah. Wajar saja. Mengingat lingkungan Bumi Alit sangat nyaman di bawah rindangnya pohon-pohon tua. Pohon-pohon itulah yang kerap menebar hawa sejuk. Konon, bagi mereka yang memiliki ketajaman mata batin, sering merasakan adanya getaran-getaran energi yang kuat dari kawasan ini.

Anang Rochman (58), salah seorang juru pelihara kabuyutan ini, menyebut daya tarik mistik itulah sebagai penyebab banyaknya orang berkunjung. Menurut Anang, para pengunjung ke Bumi Alit bermacam-macam. Ada yang sekadar ingin tahu nilai sejarah dan tinggalan leluhur, tapi ada pula yang punya maksud-maksud tertentu. Malah tak jarang pula ada yang menginap di dalam kabuyutan ini dengan harapan dapat ilafat dan bisikan gaib.

Banyak kejadian aneh dialami orang yang menginap di Bumi Alit. "Pernah ada pengunjung yang menginap di dalam rumah buhun, esoknya sudah berada di bale-bale,” ujar Anang Rochman seraya berpesan agar saat memasuki kawasan kabuyutan diiringi niat yang bersih dan semata-mata mensyukuri kebesaran Yang Maha Kuasa.

Gamelan Purba

Menurut catatan sejarah, Bumi Alit ini merupakan jejak masa lalu nenek moyang orang Sunda. Secara geografis, letak kabuyutan ini berada di daerah Parahiyangan kidul (selatan), tepatnya Kecamatan Arjasari, Banjaran, Kabupaten Bandung. Jaman dulu, daerah ini merupakan bentukan sebuah telaga raksasa, yang membentang 60 Km dari barat ke timur, dan 15 km dari utara ke selatan.

Pada suatu ketika, air telaga ini meresap ke dalam bumi melalui Gua Air Sanghyang Tikoro, di Rajamandala, Padalarang. Karena tersedot bumi, lama kelamaan telaga itu menjadi sebuah daratan rendah dan menjadi rawa. Setelah airnya kering, datanglah empat orang bangsawan dari Kerajaan Galuh yang telaknya di wilayah Barat.

Sampai di areal bekas telaga itu, keempat bangsawan ini menemukan sebuah pohon Tanjung, yang sangat besar berbunga lebat yang menebarkan semerbak wangi ke segala penjuru. Oleh keempat bangsawan tadi, daerah tersebut diberinama Tanjungwangi. Karena terletak di dataran rendah, maka orang-orang generasi berikutnya menyebut Lebakwangi (dataran rendah yang wangi).

Seorang pinisepuh kampung Lebakwangi, Adak Sutia, mengatakan bila sejarah Lebakwangi dan Bumi Alit ini bisa ditelusuri dari berbagai peninggalan yang ada. Selain benda-benda pusaka, terdapat pula Gamelan Renteng “Embah Bandong”. Gamelan ini menjadi semacam saksi perjalanan hidup orang Sunda. Gamelan ini masih tersimpan di kediaman salah seroang pengurus Sasaka Waruga Pusaka, organisasi yang mengurusi rumah adat.

Gamelan ini hanya ditabuh pada waktu-waktu tertentu, dan tidak sembarang orang boleh menabuhnya. Misalnya saat peringatan Maulud Nabi Mudahammad SAW, atau upacara-upacara sakral lainnya. Selain itu, keberadaan rumah buhun atau Bumi Alit juga semakin menegaskan keberadaan enenk moyang orang Sunda. Rumah ini beratap julak ngapak. Letaknya persis di sisi jalan raya, Arjasari.

Ritual Sakral

Pada hari biasa, areal kabuyutan selalu terlihat sepi. Meski begitu, tak ada larangan buat siapapun untuk mengunjungi kawasan ini. Suasana ramai baru terlihat saat Rabiul Awal tiba, terutama pada tanggal 12. Saat itulah biasanya orang datang berbondong-bondong membawa rantang yang berisi penganan khas Sunda seperti rangginang, opak, wajit, katimus, lemper, dan lain-lain.

Saat itulah ritual sacral Ngarumat digelar. Ribuan pengunjung yang datang duduk bersila dengan di atas karpet. Benda-benda pusaka di dalam Bumi Alit di keluarkan. Setelah dibersihkan, benda-benda itu dibungkus menggunakan kain putih setebal lima lapis. Di bagian luar, ke-5 benda pusaka itu disatukan menggunakan kain kafan, diberi kapas, serta bunga rampai layaknya membungkus jenazah manusia. Benda pusaka itu disimpan dengan posisi “ditidurkan” di atas kasur beralaskan bantal kecil.

Menurut Anang Rochman, benda-benda pusaka itu merupakan peninggalan Embah Manggungdikusumah, nenek moyang yang juga seorang penyebar Islam di daerah tersebut. Sepeninggal beliau, Embah Manggung menitipkan ke-5 benda tersebut kepada para pengawalnya, yakni Embah Lurah Sutadikusumah, Embah Wira Sutadikusumah, Embah Patrakusumah, dan Embah Aji Kalangsumitra.

Selain benda-benda tersebut, sebuah kamar di bumi alit dijadikan sebagai tempat menyimpan benda pusaka lainnya. Yaitu sumbul (sejenis gentong yang dibungkus dengan kain kafan serta digantungkan pada sebuah palang). Ritual 12 Rabiul Awal, biasanya dibagi menjadi dua bagian. Pertama, prosesi memandi benda-benda pusaka. Kedua, ceramah agam yang dilanjutkan dengan menabuh gamelan renteng, memotong tumpeng dan botram (makan bersama) di sekitar bumi alit. Prosesi membersihkan benda-benda pusaka harus melewati sejumlah prosedur. Tak boleh sembarang melakukannya.

Nah, orang-orang yang berkunjung pada hari lain, biasanya memiliki tujuan tertentu. Di komplek ini memang terdapat sejumlah makam leluhur yang biasa diziarahi, yaitu makam Embah Lurah Sutadikusumah, makam Embah Wira Sutadikusumah, makam Embah Patrakusumah, makam Embah Aji Kalangsumitra dan makam Embah Dalem Andaya Sakti. Makam yang terakhir itu paling banyak dikunjungi.

Meski bebas dikunjungi, tapi untuk masuk ke dalam hanya boleh dilakukan pada hari-hari tertentu yakni Senin dan Kamis. Sejak dulu, Bumi Alit hanya dijadikan tempat menyepi yaitu pada malam Senin dan Kamis. Sementara hari Selasa Ramadan, rumah adat tidak boleh dimasuki.

0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP