17 Agustus 2009

Bogor Ibukota Pakuan Pajajaran

Pada 3 Juni silam, Bogor merayakan hari jadinya. Pada saat itulah, 527 tahun yang lalu, Kerajaan Pakuan Pajajaran melakukan pelantikan Sri Baduga Maharaja, sebagai raja Pajajaran yang pertama. Upacara itu dikenal dengan nama Kuwedabhakti, yang berlangsung tepat pada 3 Juni 1482. Lantas benarkah Bogor merupakan ibukota Pakuan Pajajaran?

Upacara Kuwedabhakti dilangsungkan selama sembilan hari. Itu berlangsung hingga peresmian Pakuan (Kabupaten Bogor saat ini) menjadi pusat pemerintahan. Sekaligus melantik Sri Baduga Maharaja, sebagai raja Pajajaran yang pertama. Nah, berdasarkan peristiwa histories itulah sidang pleno DPRD Kabupaten Bogor, 26 Mei 1972, menetapkan tanggal 3 Juni sebagai hari jadi Kabupaten Bogor.

Ibukota Pajajaran

Secara tradisional, letak ibukota Pakuan Pa¬jajaran berada di Kota Bogor sekarang. Angga¬pan itu didukung bukti-bukti sejarah dan hasil penelitian kepurbakalaan. Salah satu bukti se¬jarah yang masih ada sampai sekarang adalah sebuah prasasti di daerah Batutulis.
Dalam prasasti Batutulis diberitakan "Wag na pun, Ini Sasakala Prabu Ratu purane pun. Di wastu diyadi ngaran Prabu Guru Dewataprana, diwastu diyadi ngaran Sri Baduga Maharaja Ratuhaji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu De¬wata".

Artinya, “Semoga selamat. Inilah tanda peringatan Prabu Ratu almarhum. Dinobatkan ia dengan na¬ma Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) ia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Pen¬guasa di Pakuan Sri Sang Ratu Dewata). Dalam cerita pantun Bogor disebutkan, pada masa Pajajaran setiap tahun selalu diadakan per¬ayaan upacara "Gurubumi" dan "Kuwedhabak¬ti ".

Dalam agama Pajajaran, Kurewa adalah De¬wa kekayaan (kemakmuran) dan dianggap sua¬mi Dewi Sri (padi). Upacara tsb diadakan 49 hari setelah penutupan musim panen jatuh, akhir bu¬lan Maret. Bila dari akhir Maret jamu 58 hari (49+9) atau kira-kira dua bulan, maka upacara "Kuwedabhakti" sebagai penutupan upacara "Guru¬bumi" akan jatuh pada akhir Mei atau awal Juni .

Menurut perhitungan yang teliti, bulan puma¬ma pada bulan Mei 1482 bersamaan dengan tang¬gal 15 Rabiulawal tahun 887 Hijrah dan itu jus¬tru jatuh pada 4 Mei 1482, sedangkan upacara "Kuwedhabakti" pada akhir Mei atau awal Juni . Dengan demikian, ditetapkan bahwa upacara yang dimaksud berlangsung pada awal Juni 1482. Malam purnamanya bertepatan dengan tanggal 15 rabiul akhir 887 Hijrah yang jatuh pada tang¬gal 3 Juni 1482. Dan 3 Juni 1482 itu pula dijadikan sebagai hari jadi Kota Bo¬gor.

Lalu mengapa tidak diam¬bil sejak pertama kali Pakuan Pajajaran didirikan, sekitar awal abad ke-8? Me¬mang ada benarnya. Namun kesulitannya adalah tidak tentu angka tahunnya. Sementara pada periode 1482, bebera¬pa kali kedudukan Pakuan diseling oleh kota-ko¬ta lain sebagai pusat pemerintahan. Di samping itu, muncul pula alasan kesejara¬han, karena periode Sri Baduga, adalah permu¬laan periode atau era Pajajaran akhir yang sejak itu ibukota kerajaan tidak pindah-pindah lagi sampai saat keruntuhannya.

Secara tradisional, justru periode Pajajaran akhir inilah yang di¬jadikan kebanggaan penduduk Jabar. Alasan ter¬penting dalam pembentukan "hari jadi" ini ialah ci¬ta-cita yang terkandung di dalamnya. Mengapa mempunyai sejarah "Hari Jadi Bogor" karena harus kembali ke motto sejarah "Histori vitae Magistra" (Sejarah adalah Guru Kehidupan).

Peta kuno

Lantas, benarkah letak ibukota Pakuan Pajajaran berada di Kota Bo¬gor sekarang? Setidaknya, ada bukti kuat yang menunjukkan hal itu. Yakni sebuah peta kuno buatan orang Sunda yang tersimpan di sebuah desa di daerah Garut. Dalam peta yang terbuat dari bahan kain digambarkan, letak Pajajaran berada antara Cisadane dan Cili¬wung, tepatnya di Kota Bogor sekarang.

Bukti lain, laporan ekspedisi VOC pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Sersan Scipio yang melewati daerah Batutulis pada hari Sabtu tanggal 26 Juli 1687 dalam perjalanan ekspe¬disinya mencari pantai selatan, memberitakan adanya sisa-sisa parit dan benteng. la mendapat laporan, kelompok peninggalan purbakala di Batutulis adalah bekas singgasana raja Pajajaran.

Laporan kedua berasal dari Kapitan Adolf Winkler 15 Juni 1690. la memberitakan telah melewati Pakuan yang terletak di Pajajaran, an¬tara sungai besar (Ciliwung) dan Sungai Tangerang (Cisadane). Berita itu disusul laporan ekspedisi VOC ke lereng Pangrango untuk meneliti sumber gempa bumi dahsyat yang ter¬jadi pada malam tanggal4/5 Januari 1699 (letu¬san Gunung Salak) Ekspedisi yang dipimpin Ram dan Coops.

Dalam perjalanan dari Cikereteg lewat Kampung Rancamaya tanggal 29 November 1701, rombongannya sampai ke Tajur. Di daerah ini mereka menemukan sisa "jalan yang lurus di¬tumbuhi pohon durian kedua tepinya" dan meru¬pakan tempat bercengkrama raja Pajajaran.

Berita keempat berasal dari Abraham van Riebeck yang pernah dua kali mengunjungi Batu¬tulis. Pertama pada tanggal 17 Aguustus 1703 se¬bagai Direktur Jendral VOC dan kedua kali pa¬da tanggal 15 Mei 1704 sebagai Gubernur Jen¬dral. la adalah putra Jan van Riebeck pendiri "Kaapstad" di Afrika Selatan. la melaporkan ten¬tang adanya sisa-sisa parit dan adanya gerbang Pakuan (Layungsari/Jerokuta) yang kanan-kirinya diapit oleh dua buah parit yang curam dan dalam. Jarak dari gerbang Pakuan ke Batutulis disebutkan dua menit perjalanan naik kuda.

Tapak sejarah

Pembuktian kepurbakalaan dilakukan oleh CM Pleyte. la berhasil menemukan bekas-bekas benteng atau kuta Pakuan. Ternyata daerah bekas ibukota Pakuan Pajajaran meliputi Jerokuta, Batutulis, Lawanggintung, pasar Sukasari. Bekas kuta (benteng) Pakuan masih dapat disaksikan di daerah Tajur belakang Kompleks Perumahan LIPI antara Cibalok dan Cipakancilan.

Adapun bekas-bekas parit dapat dilihat di tiga tempat, yaitu sebelah luar sisa kuta, di Batutulis (dari be¬lakang stasiun kereta api membentang sampai di Balekambang) dan di kompleks perumahan . Dreded terbentang sampai di belakang SD Batu¬tulis I. Dapat dipastikan, bahwa letak bekas ibukota Pakuan Pajajaran adalah di Kota Bogor yang sekarang.

Anggapannya, bahwa bekas istana Pakuan terletak di Istana Bogor sekarang yang berada dari almarhum Suhamir dan MA Salmun, ternyata keliru karena tidak didukung bukti-buk¬ti sejarah lagi. Lagi pula sebagian kesimpulan¬nya didasarkan atas isi "prasasti kebun Raya". Prasasti ini ternyata "palsu", karena dibuat oleh Dr Friederich, seorang sarjana yang pertama kali mencoba prasasti Batutulis.

Letak bekas Istana Pakuan, menurut penelit¬ian ialah di daerah Lawanggintung di Kompleks Zeni Angkatan Darat. Hal ini didasarkan kepa¬da hasil penelitian tentang Dam Cipakancilan ba¬gi kehidupan penduduk Pakuan seham-hari, ceri¬tera pantun Bogor dan penelitian penul is atas po¬sisi batu-batu peninggalan Purbakala.

Dari bukti-bukti sejarah di atas, wajarlah bila kita mengambil tahun pendirian Kota Bogor jauh ke masa silam, yaitu pada saat tempat ini menja¬di ibukota kerajaan Pajajaran. Selain adanya hubungan historis dan lokasi antara Kota Bogor dan Pakuan, juga terdapat hubungan kepen¬dudukan. Tokoh-tokoh Ranggading dan Ki Mangparang adalah tokoh pembesar Pajajaran yang kemudi¬an memimpin masyarakat muslim di Pajajaran di daerah sekitar Batutulis dan Pakancilan.

Artinya, setelah kekuasaan Pajajaran dilikuidasi oleh Banten, Pakuan hanya kehilangan fungsinya sebagai pusat pemerintahan, tetapi tidak kehi¬langan fungsinya sebagai tempat tinggal. Dan yang jelas ulang tahun Kotamadya Bogor maupun Kabupaten Bogor sama dilaksanakan pada 3 Juni atau dikenal dengan "Hari Jadi Bo¬gor”. ***


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP