05 Agustus 2009

BOCAH TUMBAL ILMU HITAM

Gadis cilik berusia 7 tahun ditemukan tewas dalam kondisi hitam legam di sebuah akuarium yang dipendam di dalam tanah. Kematiannya diduga kuat sebagai tumbal dari praktek ilmu hitam yang dipelajari sebuah kelompok spiritual di kawasan Batujajar, Kota Cimahi. Sebelumnya, bocah 12 tahun juga ditemukan tewas setelah diperkosa, masih di kawasan tersebut. Kabarnya mereka adalah tumbal-tumbal dari praktek ilmu hitam ?

Ini adalah kisah nyata yang terjadi empat tahun silam di kawasan Batujajar Kota Cimahi. Saya rasa masih cukup menarik untuk diambil inti ceritanya. Bahwa fenomena tumbal demi mendapatkan “ilmu”, ternyata masih ada di sekitar kita. Semoga kita tetap waspada. –pen.

Bau busuk khas mayat manusia tercium menyeruak dari sebuah lubang di dapur rumah Riky Djadja Hermawan di Kp Ciampel RT 02/03, Desa Laksana Mekar, Kec. Padalarang, Kab. Bandung. Suasana dusun yang semula adem ayem tiba-tiba saja terusik. Pagi itu, Selasa (6/9/2005), petugas kepolisian dari Mapolsek Batujajar Polres Cimahi dan ketua RT setempat dibantu beberapa warga melakukan penggalian sebuah lubang yang berisi akuarium berukuran 100 cm x 180 cm.

Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata di dalam akuarium itu terbujur sesosok mayat bocah perempuan berusia tujuh tahun. Kondisi mayat amat mengenaskan. Sekujur tubuh hitam legam, ditimbuni bubuk kapur yang bercampur kapur barus. Di bagian atas akuarium ditutupi daun pisang dan sehelai tikar. Kondisi itu membuat mayat masih utuh, padahal korban sudah hampir dua bulan mati.

Menurut polisi, korban bernama Bayina Yustika Awaliyah (7), putri Ny Cucu Cunaya Sari (34), warga Kp Dungus Purna RT 03/10, Desa Galanggang, Kec. Batujajar, Cimahi. Korban dinyatakan hilang sejak 16 Juli 2005, setelah dibawa seorang ahli kebatinan bergelar Mahaguru untuk diobati di daerah Sukabumi, Jabar. Sejak itu, korban tak pernah kembali, dan ditemukan sudah menjadi mayat.

Jadi Tumbal

Berdasarkan keterangan dari warga, bocah Bayina Yustika Awaliyah merupakan korban dari praktek ilmu hitam yang dikembangkan sekelompok orang di kawasan Batujajar. Kelompok ini terdiri dari beberapa orang anggota yang merupakan sempalan dari sebuah perguruan ilmu silat tenaga dalam di sana. Perguruan ini bernama Raja Suci Sejati pimpinan Mifta Ulumudin Fadilah (45), yang bergelar Mahaguru.

Perguruan Raja Suci Sejati sendiri, sebenarnya beraliran putih alias tidak mengembangkan ajaran yang aneh-aneh. Hanya saja, beberapa oknum anggotanya, yang dipimpin sendiri oleh Ulumudin, disinyalir melakukan praktek pendalaman ilmu yang beraliran hitam. Konon, dalam rangka meningkatkan kesaktian para anggota, dibutuhkan nyawa anak-anak kecil sebagai tumbalnya.

Seperti diungkap warga, murid-murid Ulumudin sering dijuluki manuk panca warna, yang artinya burung lima warna. Tak jelas apa makna julukan itu. Yang pasti, nama itu tetap menyiratkan adanya sesuatu yang tersembunyi. Bahkan masih menurut penuturan warga, dan ini cukup mengejutkan, moto lain gerakan sempalan Perguruan Raja Suci Sejati ini adalah “ilmu diatas tipu dan kejujuran”.

Namun, Mahaguru Perguruan Raja Suci Sejati, Ulumudin kepada posmo di ruang tahanan Mapolsek Batujajar mengatakan bila perguruannya tidak mengamalkan ilmu hitam. Bahkan dalam praktek pengobatan yang dikembangkan perguruannya, tidak ada unsur-unsur penggunaan ilmu hitam. Semuanya biasa-biasa saja. “Moto perguruan kami yang sesungguhnya adalah badan dilaga jiwa di sukma,” terang Ulumudin.

Menurut petugas dari Mapolsek Batujajar, tentu tidak mudah mengatakan korban sebagai tumbal ilmu hitam. Sebab bukti-bukti yang mengarah ke sana sulit ditemukan. Tapi dari keterangan warga memang mengarah ke sana. “Sebab kelompok ini sering mengadakan ritual-ritual dan tempatnya berpindah-pindah,” tutur salah seorang anggota polsek Batujajar.

Masih kata petugas, awal-awal penelusuran kasus ini, kami menemukan adanya kasus penculikan seorang siswi SMP di wilayah ini. Beberapa waktu kemudian ia ditemukan tewas, setelah diperkirakan korban diperkosa terlebih dahulu. “Kami masih mengembangkan penyidikan, apakah kasus tersebut berhubungan dengan kematian Bayina (korban, red),” ungkapnya lagi.

Dalih pengobatan

Kasus ini bermula dari keinginan Ny Cucun Cunaya Sari (34), warga Kp Dungus Purna Rt 03/10, Desa Galanggang, Kec. Batujajar, Cimahi, agar putrinya Bayina Yustika Awaliyah (7), bisa sembuh dari kelumpuhan yang diderita akibat penyakit polio dan tuna rungu bawaan lahir. Ia lantas menemui seorang ahli kebatinan bernama Mifta Ulumudin Fadilah (40) yang bergelar Mahaguru. Proses pengobatan putrinya berlangsung sejak November 2004.

Kala itu, Ulum ditemani muridnya Riky Djadja Hermawan (48). Dengan penuh keyakinan sang mahaguru menyatakan sanggup menyembuhkan penyakit si bocah. Proses pengobatan secara berkala dilakukan mahaguru yang dibantu para murid yang juga bertindak sebagai asistennya.

Seperti diakui Ny Cucun, total biaya yang dikeluarkan selama pengobatan itu mencapai Rp 60 juta rupiah. Uang sebesar itu diminta para asisten Mahaguru untuk keperluan transportasi dan pengganti biaya ramuan hasil racikan mahaguru. Namun proses pengobatan itu tak kunjung memperlihatkan kemajuan. Sang anak tetap saja dengan kondisi semula.

Terlanjur telah mengeluarkan uang banyak untuk pengobatan, hari Jumat (15/7/2005) pagi, Ny Cucun kembali membawa putrinya ke rumah Ulum di Kampung Cibeber, Cimahi. Saat itulah Ulum meminta Ny cucun agar rumahnya di Kp Dungus Purna, dikosongkan. Menurut Ulum, di rumah itulah proses pengobatan terhadap Bayina akan dilakukan lebih intensif lagi. Ulum juga mengatakan bila rumah tersebut akan digunakan sebagai tempat meditasi untuk memperkuat proses pengobatan.

Meninggal Dunia

Atas permintaan itu, Ny Cucun menyanggupi dan ia tinggal sementara di rumah orang tuanya di Kp Cimanglid, Desa Galangang, Kec. Batujajar, Cimahi. Setelah menyerahkan putrinya, Ny Cucun pamit untuk pulang. Sepeninggal sang ibu, Bayina langsung diobati oleh Ulum dibantu Djadja. Tak jelas betul di mana letak kesalahannya, yang pasti, sore harinya, bocah cacat akibat polio itu menghembuskan nafas terakhir saat dalam proses pengobatan.

Seperti diakui Ulum, dirinya tidak panik atas kejadian itu. Sebab ia yakin betul Bayina belum ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa untuk meninggal dunia. Sehingga dengan memohon doa dan melakukan ikhtiar, anak itu bisa dihidupkan kembali. Maka, meski ada lagi denyut jantung, hari itu juga bocah Bayina dibawa ke rumah Ny Cucun di Kp Dungus Purna yang sudah dikosongkan.

Di tempat itulah diduga Ulum melakukan ritual untuk menghidupkan kembali bocah Bayina. Namun sayang upaya tak membuahkan hasil. Bocah malang itu tetap saja terbujur kaku dan tak bernyawa. Menurut Ulum, waktu itu terjadi kesalahan ritual yang dilakukan murid-muridnya. “Ini karena ada yang lalai dilakukan sehinga takdir kematian itu datang,” tuturnya.

Uniknya, Ulum sempat menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada Pendi, salah seorang muridnya. Surat itu berisi petunjuk untuk menghidupkan kembali mayat si bocah. Bunyi surat yang aslinya berbahasa Sunda itu sebagai berikut:

Kang Pendi !

Saya menitipkan anak yang keberadaannya pingsan atau mati, kalau dibiarkan akan jadi fitnah, terpaksa harus diurus sebaik-baiknya, ditidurkan dulu, penglihatan pribadi saya masih tidak kuat menyebutkannya.

Artinya sedang ada di alam akherat masih bisa mohon kepada Yang Maha Kuasa supaya bisa kembali lagi seperti semula, caranya baca Dua Kalimat Sahabat di dalam air yagn mengalir atau di bawa ke dalam air terjun dibarengi supaya bergerak seperti ikan, atau dibawa ke laut Kidul dan sebelumnya minum dulu air laut atau air garam, supaya otak kita tidak putus dari ekhidupan. Sekian dulu surat dari saya terima kasih.

Selain dari menjadikan badannya utuh walaupun jantung sudah tidak berdenyut, sambil terangi oleh lilin, yang seterusnya setelah rapih sambil dikuburkan seperti biasa, selnajutnya agar bisa menghibur kepada ibunya, supaya jangan terlalu kagetr seandainya menerima berita itu dari grup kita semua.

Cara membuatnya:
Kalau nanti anak sudah rpaih masukkan ke dalam peti biar seperti agama Kristen juga, nanti sudah beres di Islamkan lagi.
Masalah utama:
Beri kapur disampingnya supaya jangan bau awas terkena air, khawatir baunya menyengat sesudahnya. Insya Allah masalah operasionalnya nanti ada untuk mengantar semuanya grup kita, kurang lebih Rp 50 juta kita semua harus membuktikan barang-barangnya, dan kita semua tidak punya apa-apa sama sekali serta biaya itu untuk yang berada di dalam (maksudnya mayat, red).
Ulum


Dimasukkan akuarium

Senin (18/7) pagi, Ny Cucun ingin tahu perkembangan kesehatan putrinya dan datang ke rumahnya yang dipergunakan Ulum untuk mengobati putrinya. Saat itu Ulum tidak berterus-terang tentang kondisi anaknya. Ia berbohong kepada Ny Cucun dengan mengatakan bila anaknya dibawa ke Sukabumi untuk proses pengobatan. Ny Cucun pun pulang kembali.

Sorenya, mayat Bayina yang mulai membusuk di bawa ke rumah Ulum di Cibeber oleh muridnya Djajda. Hanya beberapa jam di sana, Ulum menyuruh Djadja membawa mayat itu ke rumahnya di Kp Ciampel Rt 02/03, Desa Laksana Mekar, Kec. Padalarang, Kab. Bandung. Di situlah jasad Bayina dimasukkan ke dalam akuarium berukuran 180 cm X 50 cm.

Agar tidak menimbulkan bau busuk, di sekeliling mayat ditaburi bubuk kapur yang dicampur kamper (kapur barus). Akuarium itu lantas dimasukkan ke dalam lubang di dapur rumah Djadja. Untuk mengecoh semua orang, bagian atas akuarium ditutup daun pisang, kantong plastik dan anyaman kayu. Karena dikerjakan dengan rapi, maka bekas galian dan lubang tempat menyimpan akuarium sama sekali tak terlihat.

Setelah merasa berhasil menutupi jejak kematian bocah Bayina, baik Ulumudin maupun murid-muridnya mulai berpindah-pindah tempat. Ny Cucun yang berusaha menanyakan kabar anaknya tak bisa lagi menemui Ulumudin. Tanggal 31 Juli 2005, warga Kp Dungus Purna diganggu bau mayat yang berhembus dari rumah Ny Cucun yang sudah dikosongkan. ***


Mifta Ulumudin Fadilah (45) sang Mahaguru, tersangka Utama :
Berusaha Menghidupkan Kembali>

Catatan hidup Ulumudin cukup unik. Sebelum terjun melakukan praktek pengobatan alternatif, ia pernah menjabat Kepala Sekolah di SLTP Bina Karya Desa Ngamprah, Padalarang. Selain itu ia pun nyambi menjadi guru di SMU Yas. SMK 5 Oktober Cimahi. Pria beranak dua dan beristrikan bekas muridnya ini sering disebut murid-muridnya sebagai Mahaguru atau gurubesar. “Tapi itu bukan berarti saya melebihi Tuhan,” tuturnya.

Gelar mahaguru berdasarkan ilmu dan kepiawaian saya melebihi murid-murid lainnya di dalam perguruan. Perguruan silat beladiri tenaga dalam Raja Suci Sejati berpusat di Sidoarjo. Tadinya saya akan mengembangkan perguruan ini di Jawa Barat, tapi nyatanya tidak berkembang dan jadinya seperti ini. “Di sini (Jawa Barat, red) system manajemennya kacau, karenanya gayanya keluargaan. Kalau sistim kekeluargaan maka jadinya seperti ini.”

Menurut Ulumudin, pengobatan alternatif sebenarnya bukan profesinya. “Intinya saya adalah guru beladiri,” tuturnya kepada posmo. “Saya pernah menjadi murid perguruan Sahbandar Kari Madi (SKM) yang berlokasi di Batujajar, Bandung. Tapi karena tidak aktif (bubar), saya mengembangkan sendiri perguruan Raja Ratu Sejati di Surabaya tahun 2003.”

Proses pengobatan yang dilakukan Ulumudin dengan menggunakan air kelapa yang di baker, lalu airnya diminumkan kepada pasien. Tujuan pengobatan itu untuk pembersihan, katanya. Sedangkan untuk lumpuh, si pasien dimandikan subuh hari. Terus memakai air jerami (cai remis). “Saya juga mengutip buku Prof Hembing yang menggunakan cara-cara seperti itu,” katanya.

(Berikut tanya jawab singkat dengan tersangka)

Bagaimana Anda mengenal Ny Cucun ibunya korban ?

Kami pertama kali bertemu melalui Cecep dan Jaja pada sekitar bulan November 2004.

Apa yang Anda lakukan terhadap korban ?

Saya melakukan pengobatan secara tradisional. Ritual pengobatannya tidak menggunakan bahan-bahan kimia. Saya menggunakan buah kelapa yang dibakar lalu airnya diminumkan. Untuk penyakit lumpuh saya memandingannya dengan air biasa diwaktu subuh. Pengobatan pertama kali dilakukan di rumah Cucun di Desa Galanggang.
Untuk lebih mengintensifkan pengobatan, Ibu Cucun saya minta pindah sementara.
Perkembangan bayina selama setahun belum ada. Perkembangannya ada tapi sedikit, misalnya kalau selama ini hanya terbaring sudah merangkak. Mungkin karena terlalu lama dan tidak melihat ada perkembangan, ibu Cucun minta efektivitas. Tapi ya tidak bisa, kalau pengobatan alternative yang tetap begini aja.

Apakah minta uang ke ibu Cucun untuk biaya pengobatan ?

Yang saya minta kebanyakan untuk operasional. Operasionalnya ke motor dan mobil, itu untuk ikatan saja. Tapi pembayaran resminya belum, nanti kalau sembuh baru diperhitungkan, Karena itu hal-hal kewajaran sebagai manusiawi. Makanya tidak ada dituntut kepada hal itu.

Mengapa sampai meninggal ?

Itu pengobatan terakhir begini, pada hari itu si ibu datang dan menyerahkan anaknya diobati. Saya waktu itu dibantu Jaja untuk mengobati. Obat yagn diberikan tetap, motif apapun itu alternatifnya tradisionil atau pengobatan alternative. Tidak ada yang lain.
Pada hari jumat, ibu cucun menitipkan anaknya dan setelah bu Cucun pergi, anaknya meninggal. Saya bilang kepada Cecep, kalau anak ini meninggal. Dalam bahasa sunda, sing bisa-bisa weh ngahibur bu Cucun, kan anda dekat, terus dipulasara dengan baik. Dipelihara istilahnya. Saya juga kirim surat ke pendi, supir saya, nama asli aceng, dia juga masih murid saya, profesinya pekerja. Tapi surat ini belum sempat dikirim.

Waktu itu anda yakin kalau Bayina yang sudah meninggal masih bisa diselamatkan lagi ?

Prediksi saya, itukan karena kelemahan. Mudah-mudahan masih bisa kalau kedokteran kan mungkin disebut koma, atau mati suri. Dan seperti dalam program perguruan yang saya kembangkan, kecuali takdir ilahi bahaya apapun kita bisa ikhtiar, kecuali takdir. Itu kemasan misi program perguruan saya. Jadi walaupun sudah meninggal saya masih berusaha mengupayakan agar bisa hidup lagi.

Caranya bagaimana ?

Itu karena terjadi pengoperalihan tugas, di suruh diantarkan ke rumahnya ke Batujajar. Ya jelas secara umum itukan meninggal dunia. Tapi proses ritual menghidupkan lagi itu gagal, karena surat saya juga tidak sampai.

Mengapa harus memakamkan korban dengan cara itu ?

Upaya yang gagal itulah, dan biar ibunya tahu masih utuh. Ya minimal seperti mumi lah. Tapi karena situasi dan kondisi tidak menentu, saya tidak ketemu lagi dengan si ibu. Dan saya lari kabur karena di cari polisi.

Mengapa sampai dipindah-pindahkan, atau diserahkan saja kepada ibunya korban ?

Itu perasaan Cecep. Dan belum berani sambil menunggu waktu. Cecep itu fasilitator yang pertama kali mengobati.

Mengapa tidak terus terang mengatakan kepada ibunya ?

Saya punya perhitungan dan itu sebetulnya akan saya lakukan. Tapi masalah ini keburu tercium polisi, dan oleh Cecep saya di suruh pergi. Kebetulan Cecep lebih dulu di ambil polisi. Tapi setelah itu dia bebas.

Bagaimana anda tertangkap ?

Waktu itu hari Senin saya mau ngambil uang di ATM. Dari kawan saya pak Seno katanya mau ngasih 300 ribu. Ambil saja di BCA Padalarang, nanti ada orang di situ yang mau ngambil. Nah waktu saya datang di situ ternyata orang itu polisi.

Kemana anda selama pelarian ?

Selama sebulan saya berpindah-pindah. Dan saya pernah sembunyi di rumah pak Yanto Ketua HIPSI Jabar di Jalan gunung Masigit, Cipatat, Kab. Bandung. Kalau bisa sampaikan ke dia kalau saya ada di kantor polisi, saya sangat berharap sekali agar dia datang segera.

Betulkah kematian korban karena anda mengamalkan ilmu hitam ?

Oh itu tidak benar, semua terjadi karena faktor X saja. ***

------------------------------
Gus Dharma Adji, Ahli Kebatinan/Paranormal
Jadi Tumbal Punden Keramat

Ada proses pengobatan yang penggarapannya diserahkan kepada punden keramat. Itu sering terjadi di Gunung Muria (Jawa Tengah) atau di Indramayu, Jabar, di sebuah kuburan yang banyak dihuni kera-kera. Ada orang yang sebenarnya tidak mampu mengobati, sehingga dia menyerahkannya kepada kekuatan gaib.
Orang seperti ini adalah calo salah satu punden, lalu diserahkan ke punden minta disembuhkan. Mestinya, kondisi pasien harus sembuh dulu, baru kemudian meninggal dunia karena diambil jadi tumbal.
Soal ilmu hitam memang sering berhubungan dengan tumbal. Ilmu-ilmu yang diamalkan seperti ini tidak jauh berbeda dengan pesugihan yang selalu mitna tumbal. Ilmu kesaktian seperti rawa rontek, juga minta tumbal. Karena siapa yang menguasai ilmu ini tidak bisa mati. Tumbalnya nyawa manusia atau bayi.
Ilmu santet, juga meminta tumbal, karena masuk dalam golongan ilmu hitam. Seperti bisa menghilang yang dipergunakan untuk kejahatan. Ilmu hitam itu bersekutu dengan setan. Seperti santet, pesugihan, atau pengobatan aliran hitam, yang pengobatan di serahkan kepada pundek keramat, sementara dia bertindak sebagai calo karena tidak sanggup menyembuhkan.
Jadi kepada masyarakat dihimbau hati-hati dan meneliti jika ingin berobat ke ahli altertnatif. Apakah betul-betul orang ini menguasai pengobatan alternati atau tidak. Sebab salah-salah dia bisa jadi dia ini hanyalah calo punden keramat dan si pasien suatu saat kelak akan dijadikan tumbalnya. ***



0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP