18 Agustus 2009

Big Foot Muncul di Gunung Papandayan

Sepekan terakhir ini warga Garut, Jawa Barat, dihebohkan penampakan tapak kaki raksasa (Bigfoot) di lereng Gunung Papandayan. Banyak yang menduga bila di lereng gunung berapi itu ada penghuninya dari golongan buta (raksasa). Sebab tak sedikit warga di sana bertutur kerap melihat penampakan si Jangkung alias mahluk tinggi besar. Inilah penelusuran posmo di lokasi penampakan.

Kamis pagi, akhir November 2006, Ahmudin berlari tergopoh-gopoh dari arah lereng Gunung Papandayan. Mimik wajahnya memperlihatkan ketakutan dan rasa cemas. Kelakuan lelaki berusia 60 tahun itu membuat warga Dusun Stamplat, Desa Panawa, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut, itu tentu saja memancing keheranan warga. Beberapa warga menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi.

Tapak Raksasa

Ahmudin adalah pria beranak enam, warga RT 04 RW 07 Dusun Stamplat, yang memiliki sepetak kebun di lereng Gunung Papandayan. Jarak kebunnya dengan perkampungan penduduk mencapai 2 km, dengan posisi kemiringan mencapai 30-40 derajat. Tak heran bila Mang Udin, begitu warga di sana menyapanya, kerap tidur di kebun hingga sepekan lamanya. Setelah perbekalan habis, ia kembali ke kampung dan kemudian balik lagi ke ladang.

Nah, Kamis pagi itu, Ahmudin terbangun dari gubuknya di pinggir ladang. Atap gubuk, dedaunan dan tanah tampak basah oleh embun dan hujan rintik semalam. Kontur tanah ladang yang berkemiringan mencapai 40 derajat itu membuat luas pandangan ke atas dan arah bawah tampak leluasa. Saat mata menyisir areal kebun miliknya, ia terkejut melihat tapak-tapak kaki yang aneh dan janggal.

Pasalnya, telapak kaki mirip manusia itu berukuran tidak normal. Selain jarak tapak kaki yang satu dengan lainnya sangat lebar, ukurannya juga besar. Dan tentu saja, siapa pun yang berpikiran normal, akan langsung mengatakan bila itu adalah tapak buta atau raksasa. Tapak kaki itu tercecer dari arah lereng gunung atas menuju ke bawah.

Kenyataan itu membuat bulu kuduknya spontan merinding. Tapi karena penasaran, Udin mencoba menelusuri jejak kaki itu dari atas ke bawah. Ia menghitung terdapat sekitar 49 telapak kaki yang berukuran besar. Anehnya, tapak kaki itu menghilang persis dekat sebuah kolam berukuran 4 x 6 meter. Tak jelas apakah mahluk itu masuk ke dalam kolam itu, atau melompatinya. Yang pasti, tapak itu tak ditemukan lagi di seberang kolam.

Mang Udin yang sudah belasan tahun membuka kebun di areal milik Perhutani petak 119 HA/12 H, Blok Cagarburung, itu langsung panik. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera ambil langkah seribu. Udin berniat melaporkan penemuannya kepada warga kampung. Tak kurang dari sejam, warga Kampung Stamplat, Desa Panawa, berbondong-bondong melihat tapak kaki raksasa itu. Gegerlah desa itu.

Mengundang Perhatian

Kabar penampakan tapak kaki raksasa yang oleh masyarakat luas disebut Bigfoot itu, dalam waktu singkat, telah menembus batas-batas desa yang hanya bisa dicapai melalui jalan darat dalam kondisi berbatu dan memprihatinkan. Kini hampir sebagian besar warga Garut dan Jawa Barat mengetahui kabar tersebut. Banyak yang penasaran datang langsung ke lokasi penampakan, tapi tak sedikit yang cukup hanya mendengar cerita, karena sulitnya mencapai lokasi.

Rasa penasaran pun melanda para pejabat pemda setempat. Mulai dari kepala desa di sekitar kecamatan Pamulihan, camat, sampai pejabat humas Pemkab Garut, turun ke lapangan. Minggu (26/11), Kabag Humas Setda Garut Drs Dikdik Hendrajaya, M.Si, sengaja datang bersama Camat Pamulihan Drs Firman Karyadin, Kepala Desa Panawa Dudih, dan masyarakat, ramai-ramai melihat kebenaran penampakan tapak raksasa itu. Dan mereka merasa takjub dengan apa yang dilihatnya.

Meski demikian, banyak yang bertanya-tanya soal kebenaran pemilik tapak kaki buta itu. Banyak warga yang mengusulkan agar pemda membentuk tim khusus untuk menelusuri kebenaran penemuan itu. Namun tidak sedikit yang sebaiknya tidak usah dibesar-besarkan, dan menganggap itu sebagai kejadian alamiah dan pasrah atas kehendak Yang Maha Kuasa.

Setelah melalui penelitian, ditemukan setidaknya 49 jejak Bigfot. Panjang tapak kaki tersebut mencapai 40-46 cm dengan lebar 17-18 cm dan berkedalaman 3 - 5 cm. Panjang tapak ibu jarinya mencapai 9 cm dengan lebar 7 cm. Sedangkan jarak satu tapak kaki dengan tapak kaki lainnya berkisar antara 145 cm hingga 245 cm. Bila dilihat dari posisinya, seluruh tapak kaki itu mengarah ke bawah, sehingga diduga mahluk raksasa itu berjalan dari lereng gunung mengarah ke perkampungan warga.

Tapak Gaib

Selama berhari-hari, penampakan tapak raksasa di lereng Gunung Papandayan itu menjadi buah bibir masyarakat. Banyak yang menduga tapak kaki itu merupakan tapak kaki mahluk gaib penghuni kawasan Papandayan. Ada juga yang menyebut sebagai tapak binatang mirip kera semacam gorila. Tapi tidak sedikit pula yang berspekulasi bila tapak itu milik manusia raksasa yang selama ini misterius dan menghuni hutan Gunung Papandayan.

Terlepas dari berbagai tanggapan atas tapak raksasa itu, sebenarnya warga Stamplat tidak terlalu merasa terkejut dengan kenyataan tersebut. Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya di tahun 2005, seorang warga bernama Entin (45), bahkan pernah melihat sendiri dengan jelas sosok mahluk tinggi besar berbulu hitam. Dalam jarak kurang lebih 30 meter, Entin melihat mahluk itu tengah berjalan di kebun miliknya, di lereng Papandayan.

Entin sempat shock dengan apa yang dilihatnya. Ia segera memberitahu sang suami dan para tetangga. Sayang, mahluk itu dengan cepat menghilang dan tak meninggalkan jejak. Kabar penampakan mahluk raksasa inipun merebak ke seantero kampung. Entin memperkirakan mahluk itu memiliki ketinggian 3 meter, berbulu hitam dan jalannya agak membungkuk. Tapi Entin tak melihat bagian depan wajah mahluk itu.

Selain Entin, seorang ibu rumah tangga bernama Eti Supandi (42), warga RT 03 RW 07 Dusun Stamplat, mengaku pernah menyaksikan hal serupa. Kejadiannya tahun 1999, pada malam hari sekitar pukul 23.00 WIB. Kala itu, Eti hendak menutup kain gordin jendela kaca rumahnya yang posisinya menghadap ke tanah lapang. Maklum, malam sudah larut dan ia akan segera tidur.

Tanpa sengaja matanya melihat ke luar rumah yang waktu itu tampak terang oleh cahaya rembulan. Tiba-tiba saja pada jarak sekitar 20 meter dari rumahnya, ia menyaksikan sosok hitam, tinggi besar, sedang berjalan menuju rimbunan pohon-pohon pinus. Seakan tidak percaya dengan apa yang dipandangnya, Eti menggosok-gosok mata. Ternyata memang benar, sosok setinggi hampir 3 meter itu benar adanya.

Esok paginya, Eti mendatangi tempat munculnya sosok hitam itu bersama seorang tetangga. Benar saja, di tempat itu terlihat ada semacam telapak kaki berukuran besar. Namun sayang tapak tidak terlalu jelas karena kondisi tanah yang kering dan keras akibat lama tidak hujan. Bahkan ia sempat meminta tetangganya itu untuk memberi tanda tapak kaki itu. Eti lantas menyebutnya si Jangkung, dan sejak itu tidak pernah melihatnya lagi.

Dadan Jarot (21), juga warga dusun Stamplat, pernah dengar cerita sehubungan dengan tapak raksasa itu. Seorang warga bernama Rohman, suatu hari sedang melihat tapak raksasa. Setelah itu dia hendak merokok. Setelah itu mengambil korek gas untuk menyalakan. Anehnya, korek itu tidak bisa hidup. Kejadian ini juga dialami rekan-rekannya yang lain. Akhirnya tak ada seorang pun yang merokok. ”Tapi setelah sampai di bawah (di kampung, red), mereka bisa menghidupkan rokok seperti biasa. Memang aneh,” ujar Dadan.

Daerah Pewayangan

Spekulasi seputar penampakan tapak raksasa di lereng Gunung Papandayan terus berputar. Menurut cerita orang-orang tua di kawasan Desa Panawa, kemunculan mahluk raksasa itu sebenarnya tidak perlu diributkan. Sebab hal tersebut akan terjadi setiap 50 tahun sekali. Boleh dikata, kemunculan mahluk raksasa itu merupakan siklus 50 tahunan. ”Sebelumnya pernah terjadi penampakan seperti ini tahun 1955,” kata Ade Suhara, Ketua Rukun Kampung Pasir Lenggut, Desa Panawa.

Menurut dia, kawasan Pamulihan memang unik. Di lihat dari nama dusun dan desanya saja, asumsi orang sudah mengarah pada satu hal. Cobalah simak nama-nama seperti Desa Panawa atau Pandawa. Juga ada nama Desa Arjuna dan Desa Srikandi. Nama yang berhubungan dengan dunia pewayangan itu, kata Ade Suhara, adalah peninggalan dari nenek moyang mereka. Bila ditilik secara mendalam, tentu ada makna dan latarbelakangsejarahnya.

Bahkan dari segi lokasi, desa-desa di kaki lereng Gunung Papandayan itu sangat sulit ditempuh melalui jalan darat. Sarana transportasi darat kondisinya sangat sulit, berkelok-kelok, berbatu dan rawan longsor. Alat transportasi umum pun hanya tiga buah dan tripnya sehari sekali. Tidak heran bila kampung-kampung di kawasan Pamulihan bagaikan terisolasi. Pendeknya, tiga kata menerangkan kawasan itu: gunung, hutan dan perkebunan. ***


------------------------
Eti Supandi (42), Warga Stamplat

Sebenarnya ada tapak raksasa itu bukan barang aneh bagi orang sini. Sebab banyak yang pernah lihat baik wujudnya ataupun tinggalannya dari dulu. Hanya ceritanya jarang dibesar-besarkan dan menyebar dari mulut kemulut di dalam kampung saja.

Beberapa orang warga sini ada yang pernah lihat wujudnya, atau tapaknya saja. Saya yakin itu tapak Si Jangkung. Sebab tahun 1999 saya pernah lihat Si Jangkung di depan rumah saya, terus masuk ke hutan pinus di pinggir lapangan. Kejadiannya malam jam sebelas, dan pagi-pagi saya lihat tempat itu ada bekas tapak kakinya.

Kalau dilihat sepintas, dia mirip manusia. Tapi karena tingginya sampai tiga meter, dan warnanya hitam, saya kira dia bukan manusia. Mungkin raksasa atau mahluk seperti monyet besar. Biarpun pernah muncul hal-hal seperti itu, atau cerita-ceritanya, tapi warga di sini aman-aman saja. Mereka tidak pernah terusik atau terganggu, bahkan tidak ada laporan warga yang pernah diganggu oleh mahluk aneh. *


Ahmudin (60), Penemu Tapak Big Foot

Saya tidak punya firasat apa-apa kebun saya dilewati mahluk raksasa. Saya sudah cek semuanya ada 49 tapak dari atas ke bawah sepanjang kurang lebih 150 meter. Saya sangat yakin ini bukan ulah manusia. Tapi sejak malamnya saya tidak mendengar suara apapun. Ini aneh.

Hanya saja, hal-hal aneh muncul setelah penemuan tapak raksasa ini. Beberapa kali saya seperti bermimpi di datangi mahluk tinggi berbulu hitam. Kejadian lebih jelas waktu tanggal 28 November jam 5 sore, sepulang dari kebun. Karena sering mimpi didatangi mahluk hitam, saya mencoba minta agar kalau mahluk itu memang benar adanya, tolong menampakkan diri.

Malam harinya, saya didatangi mahluk berbulu hitam itu. Ia mengaku bernama Suna, sedang numpang lewat mau cari makan buat istrinya yang sedang hamil. Nama istrinya adalah Neri, dari golongan manusia tapi tubuhnya tinggi. Wajahnya cantik bermahkota, mengenakan baju kebaya.

Sayangnya kedatangan mahluk itu begitu singkat, tapi saya jelas-jelas dalam keadaan sadar dan bukan mimpi. Di akhir pertemuan dengan mahluk itu, saya hanya mengatakan silahkan saja kalau mau cari makanan, tapi jangan mengambil warga di sini. Carilah buah-buahan, sayuran atau binatang. Kampung kami ini aman, jangan ganggu kami.

Setelah berkata begitu, mahluk itu terus pergi. Dan sejak itu saya tidak pernah dibayang-bayangi mahluk hitam. Malah sampai sekarang tidak terdengar ada hewan ternak yang hilang atau hasil kebun yang dicuri. Saya yakin itu tapak raksasa yang nyata, dan tidak akan mengganggu siapa pun kalau kita tidak menganggu.


Adet Suhara (38), Ketua RW

Kata orang-orang tua di stamplat, penampakan tapak raksasa itu selalu terulang tiap 50 tahun sekali. Saya sering dengar cerita-cerita itu. Tapi apa dampak dan akibat kemunculan itu saya tidak tahu. Apakah jadi pertanda buruk atau baik, tidak tahu. Saya hanya mengambil hikmahnya kalau ini semua adalah kehendak Yang Maha Kuasa, sekaligus sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya.

Di daerah kami memang banyak kejadian janggal. Kemunculan tapak raksasa itu adalah salah satunya. Kalau melihat faktanya, saya berkesimpulan itu tapak gaib. Sebab selain wujudnya tidak pernah ditemukan, tapak kaki itu juga menghilang begitu saja. Sekarang yang harus kita lakukan adalah bagaimana menyikapinya. Ini berhubungan dengan teguran supaya manusia kembali melirik alam lingkungan yang mulai rusak. *

Baca juga :
Kemunculan Bigfoot di Berbagai Tempat


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP