04 Agustus 2009

Batu Lonceng Suntenjaya

Batu Lonceng adalah sebutan masyarakat Desa Sunten Jaya untuk sebongkah batu yang bentuknya mirip tubuh manusia tengah semadi. Batu ini dikeramatkan karena dulunya bisa mengeluarkan suara lonceng dan mengeluarkan sinar. Inilah salah satu keajaiban Yang Maha Kuasa di Desa Sunten Jaya.

Sunten Jaya adalah nama desa terpencil di pelosok Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung. Alamnya subur dan sejuk karena diapit gunung-gunung yang masih hijau. Konon, desa ini pernah digunakan para pejuang kemerdekaan dan tokoh-tokohnya dahulu untuk bersembunyi. “Bung Karno sering datang ke sini untuk istirahat dan mengadakan pertemuan,” kata Sutisna Saputra (55), juru pelihara Batu Lonceng.

Tak hanya itu, Entis --demikian juru pelihara itu biasa disapa, malah menyebut bila desanya pernah disinggahi Gujarat Agung sewaktu menyiarkan Islam di daerah Jawa. Gujaran Agung bahkan membuka padepoan kecil untuk mengajarkan ilmunya kepada para santri setempat. Sepak terjang Gujarat Agung ini tercatat dalam sebuah buku kuno yang ditulis pada abad ke-12.

Sebagai basis pengajaran Islam, desa Sunten Jaya kerap didatangi santri-santri dari luar daerah. Tersebutlah santri utama Gujarat Agung yakni Sembah Sunan Dalem Marga Tuka Poko, Sembah Haji Husein dan Sembah Haji Gozali. “Mereka itu penerus ajaran Gujarat Agung sampai wafat dan dimakamkan di desa ini,” ujar Entis.

Ketiga murid Gujarat Agung ini sangat dihormati. Mereka dipercaya punya kelebihan dibanding orang kebanyakan. Tidak heran setelah wafat, makamnya yang terletak di salah satu lereng Gunung Palasari kerap diziarahi masyarakat. Mereka datang dari berbagai daerah dan tak jarang menginap di sana.

Bunyi lonceng

Ada cerita unik seputar Batu Lonceng. Dulu, batu yang tercatat sebagai benda cagar budaya ini terletak di makam keramat yang letaknya di lereng Gunung Palasari. Karena dianggap batu keramat, seringkali batu ini menjadi objek pencurian. Akan tetapi anehnya, baru beberapa hari menghilang, tiba-tiba saja batu ini sudah ada lagi di tempat semula.

Seperti diceritakan Entis, pada tahun 1942, angkasa Desa Sunten Jaya pernah dijadikan arena tempur Belanda melawan Jepang. Dalam pertempuran itu beberapa pesawat ada yang jatuh dan menabrak tebing gunung. Suatu ketika, di tengah bisingnya deru pesawat tempur, tiba-tiba dari batu ini muncul sinar terang benderang menyorot ke arah langit.

Masyarakat Sunten Jaya yang tengah sembunyi karena takut terkena bom nyasar, melihat jelas keajaiban tersebut. Pada saat yang sama, di tengah bisingnya suara deru suara pesawat, terdengar suara lonceng persis dari arah sinar terang itu berasal. Anehnya, sinar dan suara lonceng itu bagaikan isyarat untuk menghentikan perang. Terbukti tiba-tiba saja pesawat-pesawat menjauh dan meninggalkan arena tempur. Sejak kejadian itu tidak pernah ada lagi pertempuran udara.

Desa menghilang

Ada lagi kisah unik yang jadi cerita turun temurun. Konon, menurut strategi perang, bila ingin menguasai wilayah Bandung Raya, maka kawasan Lembang harus dikuasai terlebih dulu. Kabarnya baik Belanda maupun Jepang, tahu persis strategis itu. Sehingga sering kali negara penjajah itu melakukan operasi militer di daerah Lembang, termasuklah Desa Sunten Jaya.

Belanda sendiri sudah mencurigai lokasi pegunungan Palasari sering dijadikan tempat persembunyian para pejuang Indonesia. Suatu ketika serdadu Belanda melakukan patroli untuk menyisir keberadaan para pejuang kemerdekaan. Namun lagi-lagi keajaiban terjadi. Sampai di kawasan Sunten Jaya, tiba-tiba desa itu bagaikan menghilang dari peta. Sampai berhari-hari Belanda tidak bisa menemukan desa terpencil tersebut. Sampai akhirnya serdadu Belanda putus asa dan mundur.

Masyarakat Sunten Jaya pun merasakan keajaiban itu. Sebelumnya mereka sangat takut bila serdadu Belanda masuk ke desanya. Sebab dipastikan akan terjadi korban jiwa dan penangkapan secara paksa terhadap warganya. Ketika tahu desanya bisa menghilang, mereka pun merasa gembira. “Mungkin melihat keajaiban-keajaiban itu, lokasi lereng gunugn Palasari Lembang ini sering dijadikan tempat latihan para perwira TNI. Mungkin karena lokasinya cocok untuk latihan militer,” ungkap Entis. ***



0 komentar:

Poskan Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP