18 Agustus 2009

Aliran Tarekat Amaliyah Diamuk Massa

Karena digunakan sebagai tempat menyebarkan ajaran sesat, markas jamaah majlis taklim Miftahussalamah, di Kampung Laladon Desa Parakan Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor, diamuk ratusan massa. HM Yusup Maulana, pimpinan majlis yang mengamalkan tarekat amaliyah itu pun diamankan polisi untuk menghindari pengadilan massa.

Minggu petang (29/10/2006), warga Desa Parakan Ciomas, Kab. Bogor, dikejutkan suara hiruk pikuk. Suara-suara itu berasal dari iring-iringan massa yang memperlihatkan tampang kemarahan. Sambil menenteng benda-benda keras seperti linggis, balok kayu dan batu-batu, mereka berpawai menuju kampung Laladon Kadoya, Desa Parakan, Ciomas. Tepat di mulut jalan menuju RT 02 RW 05, mereka membelok dan berhenti di depan rumah No. 30 yang dihuni Ustad HM Yusup Maulana.

Rumah itu tampak lengang. Tak ada seorang pun di sana. Penghuninya, ustad Yusup, tengah menghadiri pertemuan dengan tokoh-tokoh desa Parakan dan Pagelaran, serta unsur-unsur Muspika setempat di Kantor Camat Ciomas. Di sana, ustad Yusup tengah berdialog membicarakan kegiatan majlis taklim Miftahussalamah yang dipimpinnya. Kabarnya, Yusuf tak sekadar membuka pengajian sebagaimana lazimnya penganut ahlus sunnah wal jamaah. Ia juga menyebarkan tarekat Amaliyah, yang diduga keras berisi ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan syareat Islam.

Rumah di Kp Laladon Kadoya itulah yang selama ini dijadikan pusat kegiatan ustad Yusup. Di depannya, terdapat musala permanen yang dapat menampung jamaah hingga 100 orang. Di musala itulah praktek rutin pengajian tarekat amaliyah dilakukan. Namun, tak jelas siapa yang memberi komando, tiba-tiba massa yang berkerumun tadi, langsung melempari rumah ustad Yusup dan musala tersebut. Genteng, kaca-kaca, dan dinding tembok, berderai terkena lemparan batu-batu. Tak hanya rumah ustad Yusup dan musala yang dirusak, dua rumah lain disebelahnya pun turut terkena lemparan. Penghuninya langsung angkat kaki dan menyelamatkan diri.

Tak puas dengan aksi pelemparan, massa pun merangsek ke dalam rumah dan musala. Mereka mengobrak-abrik rumah dan isinya, bahkan 2 motor yang ada di rumah ustad Yusuf dirusak, lalu dilempar ke dalam sumur. Untunglah kejadian itu tak berlangsung lama. Setelah setengah jam massa mengamuk, Pasukan Dalmas Polres Bogor datang dan mengamankan lokasi kejadian. Malam itu juga, ustad Yusuf yang masih melakukan dialog bersama tokoh masyarakat dan unsur Muspika, langsung digiring ke Mapolres Bogor untuk dimintai keterangan.

Karena dianggap telah melakukan tindak anarkis, polisi menangkap sembilan warga yang dianggap bertanggungjawab atas aksi tersebut. Kapolres Bogor AKPB Irlan, mengatakan, berdasarkan penyidikan dan pengembangan yang dilakukan, modus perusakan adalah sikap ketidaksukaan masyarakat terhadap terhadap kegiatan yang dijalani HM Yusuf Maulana. Ia juga menyatakan polisi belum menemukan siapa otak di balik aksi perusakan tersebut. "Berdasarkan penyidikan dan pengembangan yang kami lakukan, aksi perusakan tersebut adalah spontanitas masyarakat. Kami belum melihat adanya modus lain," katanya.

Guna melakukan pencegahan agar aksi perusakan tidak berlanjut, pihaknya telah mengajak instansi terkait di jajaran Pemerintah Kabupaten Bogor, Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat, para tokoh masyarakat untuk memberikan pengarahan dan penjelasan kepada warga masyarakat terhadap suatu temuan. "Dari situasi yang berselisih atau silang pendapat, agar jangan disikapi dengan tindakan anarkis sehingga bisa menjadi obyek hukum," katanya lagi.

Zikir Jahat

Menurut warga setempat, amuk massa itu berawal dari keresahan warga yang sudah berjalan hampir enam tahun. Keresahan dipicu oleh adanya pengajian yang dilaksanakan Majlis Taklim Miftahussalamah, pimpinan ustad HM Yusup Maulana. Sebab setelah diamati, warga melihat pengajian itu semakin berkembang ke arah yang tidak diinginkan. Jamaah yang datang rata-rata bukan masyarakat sekitar, melainkan dari luar kota. Mereka datang menggunakan mobil, atau motor.

Tapi, tentu saja bukan itu duduk masalahnya. Yang meresahkan warga adalah materi pengajian yang disampaikan ustad Yusup terasa lain dari kebanyakan umat Islam. Ada beberapa hal yang menurut warga sangat tidak lazim. Misalnya soal hukum salat Jumat. Menurut aliran Amaliyah, salat Jumat hukumnya sunnat, sehingga tak dilaksanakan pun tidak apa-apa. “Ini kan aneh. Waktu orang-orang di kampung salat Jumat, mereka malah tidur,” ungkap Aceng, salah seorang warga Kp. Laladon Kadoya.

Bukti lain penyimpangan ajaran tarekat Amaliyah pimpinan HM Yusup adalah menetapkan sendiri waktu pelaksanaan saum ramadhan dan pelaksanaan Idul Fitri. Ibadah saum yang mereka laksanakan dimulai dua hari lebih awal dari ketetapan pemerintah. Begitu pula hari raya Idul Fitri, mereka tetapkan jatuh pada hari Sabtu (21/10/2006). Masih ada beberapa hal lain yang tentu saja menyimpang dari ajaran Islam, seperti pelaksanaan salat sudah dianggap sah hanya dengan mengucap niat saja.

Di luar pelaksanaan pengajian yang terang-terangan terlihat penyimpangannya, ada satu amalan yang dipraktekkan oleh jamaah Amaliyah. Seperti dituturkan salah seorang warga yang enggan disebut jatidirinya, jamaah tarekat Amaliyah mengamalkan zikir jahat. Yakni zikir untuk kelancaran usaha bagi pengamalnya, namun efeknya buruk bagi orang lain. Sumber posmo ini menuturkan bila zikir jahat yang diamalkan jamaah Amaliyah, sudah membawa kebangkrutan dua warga setempat.
Warga ini, katanya, setiap melakukan usaha selalu gagal. Konon, itu akibat zikir jahat yang ditebar anggota tarekat Amaliyah. Hanya saja, tidak jelas bagaimana bunyi ataupun bentuk zikir jahat yang bisa merontokkan usaha seseorang tersebut. Sehingga kebenarannya pun masih menjadi tanda tanya. Akan tetapi, soal zikir ini, Encep (52), tokoh masyarakat setempat, juga membenarkan. Hanya saja ia tidak yakin bila zikir itu bisa membawa sial bagi usaha orang lain.

“Saya memang mendengar adanya zikir jahat. Tapi yang tahu tentu hanya para anggota mereka sendiri,” ucap Encep. Dan masih menurut Encep yang diakui sejumlah warga, praktek pengajian majlis taklim Miftahussalamah ini tidak lazim. Misalnya pelaksanaan pengajian dimulai sejak sore hari, dan baru selesai dini hari. “Mana ada pengajian semalam suntuk seperti itu. Pasti ada apa-apanya di dalam pengajian tersebut,” ucap Encep lagi.

Warga Parakan dan Pagelaran tentu merasa khawatir bila mereka akan dianggap masyarakat luas sebagai bagian dari pengikut ajaran Amaliah. Maklum saja, tempat pengajian dan pengajaran aliran ini berada di kampung mereka. Oleh karena itulah mereka merasa aman bila HM Yusup diusir dari kampung dan menutup majlis taklim Miftahussalamah itu. Namun, di kantor polisi HM Yusuf membantah tuduhan warga. "Saya masih mengajarkan Alquran," ujarnya ketika itu.


Sosok HM Yusup Maulana bin Ujang (60)



Banyak yang ingin tahu sosok HM Yusup Maulana, pimpinan Tarekat Amaliyah yang tindak tanduknya membuat geger masyarakat ini. Namun, pribadinya yang tertutup dan jarang bergaul dengan warga, tak banyak yang tahu sisi lain sang ustad.

Nama lengkap pria kelahiran 60 tahun silam ini adalah Muhammad Yusup Maulana. Ia dikenal sebagai pribadi yang tertutup, tapi ramah ketika berpapasan dengan warga. Terbukti bila berpapasan dengan orang lain, ia selalu menebar senyum. Akan tetapi, di luar semua itu, Yusup tertutup. Pribadinya eksklusif dan terlihat bagaikan menyimpan segudang misteri. Boleh jadi, ia memang menyimpan banyak ajaran-ajaran dan pengetahuan tentang seluk beluk agama Islam.

Identitas HM Yusup Maulana pun tidak tercantum dalam catatan rukun tetangga (RT) setempat. Pasalnya, sejak kedatangannya ke Kampung Laladon Kadoya enam tahun silam, Yusup tidak pernah melaporkan diri. Hal itu diutarakan Encep, yang menjabat Ketua Rukun Tetangga 02 RW 05, Desa Parakan. Ustad Yusuf menunaikan ibadah haji pada tahun 2005 lalu. Pada kartu identitas rombongan haji, Yusup menulis pendidikan terakhirnya sekolah rakyat (SR).

Meski pribadinya tertutup, tapi Yusup diketahui memiliki dua orang istri. Yang seorang ikut dengannya tinggal di Kp Laladon Kedoya, yang seorang seorang lagi berada di desa lain. Kedatangannya di Kp Laladon Kadoya atas prasarana yang disediakan salah seorang warga RT 02 bernama Sodik. Pria yang meninggal dunia tahun 2005 lalu itulah yang memfasilitasi Yusup baik rumah, maupun segala kebutuhan hidup lainnya. Maklum saja, Yusup memang tidak mempunyai pekerjaan lain, selain memimpin majlis taklim Miftahussalamah.

Karena keterampilannya menyampaikan ajaran-ajaran agama, Yusup memiliki banyak jamaah. Dan uniknya, rata-rata jamaah Yusup adalah orang-orang dari luar desa. Bahkan ada yang dari Jakarta, atau Bandung. Merekapun terlihat berasal dari latarbelakang ekonomi berada. Terbukti setiap kali datang ke pengajian, mereka mengendarai kendaraan baik roda empat maupun roda dua. Tidak heran bila perkembangan pengajiannya berjalan yang cukup pesat. Yusup sanggup membangun musala yang sangat permanen lengkap dengan fasilitas di dalamnya. Bahkan atas sokongan para jamaah, Yusup dapat menunaikan ibadah haji tahun lalu.

Mengaku Tobat

Rupanya, perjalanan hidup Yusup yang religius, ternyata dilatarbelakangi pengamalan ilmu agama yang menyimpang. Terbukti ajaran-ajaran yang disampaikan kepada para jamaahnya, dianggap Majelis Ulama setempat sebagai ajaran yang sesat. Bahkan selain mendapat penolakan dari warga yang ditandai pengrusakan rumah dan musalanya, ia pun harus diusir dari desa. Dan tepat pada saat aksi amuk massa berlangsung, Yusup sebenarnya tengah memberikan pernyataan pengakuan dihadapan unsur-sunsur Muspika Kecamatan Ciomas dan tokoh masyarakat.

Di atas secarik kertas, HM Yusuf Maulana mengakui bila perbuatannya selama ini telah menyimpan dari aturan-aturan agama Islam. Pernyataan yang berisi lima poin itu ditandatangani dihadapan Kepala Desa Parakan, H Oman Rohmana, Kepala Desa Pagelaran, H Tohir, Ketua MUI Kecamatan Ciomas, Drs KH Muyadi, MPdi, Camat Ciomas Rudy Gunawan, SH., Danramil 2120 Ciomas Kapten Marah Sulaiman, dan Kapolsek Ciomas AKP Sardjiman.

Dalam pernyataannya, Yusuf mengaku kalau ajaran Amaliyah tidak sesuai dengan Ahli Sunnah Wal Jamaah, Alquran, Sunnah, Hadis, Izma dan Qiyas. Yusuf juga bersedia membubarkan ajarannya serta sepakat untuk bertobat dan meminta maaf kepada warga setempat. Selain itu ia juga menyanggupi untuk pindah dari Desa Parakan secepatnya. Namun sayang, meski telah membuat pernyataan, ratusan massa terlanjur mengamuk dan merusak rumah serta musala sering di¬pakai untuk pengajian dan pengajaran aliran Amaliyah.

Rincinya, Yusup mengaku telah mengajarkan ajaran agama Islam kepada santri/murid pengajian di Desa Parakan dan Desa Pagelaran Ciomas, yang tidak sesuai dengan ahlu sunnah waljamaah, antara lain ajaran itu tidak ada dasarnya dan tidak sesuai dengan ahlu sunnah waljamaah, alquran, sunnah, ijma dan qiyas, antara lain menentukan hari raya idul fitri, tidak mewajibkan salat jumat, ajaran yang ada dalam kitab dawamul haq, tariqat-tariqat bagi amaliyah yang menyimpang dari alquran, sunnah, ijma dan qiyas.

Selain itu, Yusup juga menyatakan bertaubat kepada Alalh SWT dan mohon maaf pada masyarakat dan tokohnya, atas perilaku pribadi dan kelompoknya yang mengganggu dan meresahkan masyarakat Desa Parakan dan Pagelaran. Yusup juga akan pindah domisili dari desa Parakan Kec. Ciomas ke tempat lain, dan menginstruksikan kepada para muridny untuk bertaubat dan meninggalkan ajaran/wiridan yang selama ini diajarkan dan kembali pada komunitas ahli sunnah waljamaah. *

----------------------------

Keterangan Encep, Ketua RT 02/05/tokoh masyarakat

Sebenarnya sudah lama warga disini yang terganggu oleh pengajian yang dilakukan ustad Yusup. Terbukti setiap terdengar koor zikir dari jamaah Amaliyah, selalu saja ada warga yang nyeletuk dan teriakan menyindir. Tapi hanya sejauh itu. Untuk berbuat lebih jauh warga tidak berani. Mungkin karena itulah kelompok pengajian ini merasa aman dan semakin berkembang.


Warga yang ikut pengajian ustad Yusup kurang lebih 10 orang, dan mereka sudah mengaku khilaf dan bertobat kepada Allah SWT. Secara pribadi meskipun Ketua RT di sini, saya tidak begitu mengenal ustad Yusuf. Asal usulnya memang tidak jelas, waktu pertama kali dia pindah ke sini juga tidak lapor. Dia di bawa oleh salah seorang warga bernama Sodik yang sudah meninggal setahun lalu.

Selanjutnya diteruskan oleh anaknya Sodik, yakni Oji yang pengusaha bengkel motor. Semua kebutuhan hidup Ustad Yusup ditanggung oleh Sodik, mulai dari makan hingga diberi tempat tinggal. Karena pengajiannya berkembang, kehidupan ekonominya maju. Sebab banyak anggota jamaah dari luar kota ternyata orang-orang kaya. Terlihat mereka datang ke pengajian menggunakan mobil.

Ustad Yusup orangnya misterius. Dia tidak banyak bergaul dengan warga. Yang kami tahu soal dia, dia itu mengaku berasal dari Pagentongan Bogor, dan beristri dua orang. Yang satunya lagi tinggal di kampung Laksana. Tapi soal keluarganya kami tidak tahu menahu.

Sehari-hari, Yusup tidak punya pekerjaan tetap. Selain mengurus pengajiannya, kerjanya ya cuma tidur saja. Sampai dia naik haji tahun lalu, semua yang menanggung adalah jamaahnya. Yang menjadi keresahan warga adalah pelaksanaan pengajian yang selalu dilakukan sejak malam hari hingga dini hari. Warga di sini sudah lama curiga dengan model pengajian seperti itu. Jarang di dalam Islam melakukan zikir hingga dini hari.

Yang anehnya, selain salat jumat tidak diwajibkan bagi anggota jamaah, waktu orang-orang salat jumat mereka malah tidur di rumah, kadang-kadang pergi ke istri keduanya. Setiap pengajian diikuti tidak kurang dari 30 orang jamaah.
Saya pernah diajak salah seorang anak buahnya untuk ikut pengajian. Katanya kalau mau usaha cepat berhasil, ikut saja pengajian ustad Yusup. Tapi saya menolaknya, soalnya sudah kelihatan kalau ada penyimpangan. Kehebatan zikir mereka adalah ketika rumah Sodik akan di sita bank. Tapi entah kenapa, setelah kehadiran Ustad Yusup, rumah tersebut tidak jadi di sita. *

Ainur Ridho, Sekretaris MUI Kec. Ciomas

Ajaran Amaliah ini dikembangkan oleh Yusup Maulana. Inti ajarannya banyak bertentangan dengan syareat Islam, terutama dikalangan ahlu sunnah wal jamaah. Seperti tidak mewajibkan salat jumat, dan hukumnya hanya sunnat. Selain itu, ajaran ini dapat menentukan awal Ramadan dan awal idul fitri sendiri, mereka punya pegangan sendiri.

Yang cukup mencolok adalah keberadaan Syekh abdul Qodir Zaelaeni yang lebih tinggi kedudukannya dari pada Nabi Muhammad SAW. Kami melihat banyak peraturan yang ada dalam Islam dia langgar. Dampaknya, isi pengajian itu membelok dari ajaran yang sebenarnya. Maka timbullah benturan sosial di kalangan masyarakat. Akhirnya rumah di rusak massa. Itu karena masyarakat resah dan tidak puas.

Ada lagi ajaran yang jauh menyimpang, misalnya jika salat cukup mengingat kepada Allah saja. Itu jelas tidak sesuai syareat karena tidak mengikuti rukun sahnya salat. Selain itu, Yusuf juga menggunakan hadis yang menyebutkan di akhir zaman umat Islam akan terbagi ke dalam 73 aliran, tetapi satu-satunya aliran yang dijamin masuk surga adalah aliran Amaliyah. *


Tarekat yang Dikembangkan Yusup Maulana



Di dalam tumpukan buku-buku dan kita-kitab yang terdapat di rumah ustad HM Yusup, terdapat catatan-catatan yang ditulis tangan dengan menggunakan bahasa sunda. Isinya diperkirakan merupakan inti ajaran yang tercantum dalam Kitab Dawamul Haq. Antara lain berisi ajaran tentang makrifat, ilmu mencari Allah, keimanan, tentang umat rasulullah, asal usul dan hakekat manusia, dan lainnya.

Lebih rinci, beberapa bagian isi catatan tersebut sebagai berikut. Bahwa makrifat kepada Allah itu wajib bagi seluruh manusia, tepatnya bagi manusia yang sudah akil baligh. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW (tidak ditulis perawinya, red), “Awaluddini ma’rifattullohi ta’ala”. (awal-awalnya agama itu harus tahu dulu Allah SWT). Jalan makrifat kepada Allah ada dua, ada jalan dari bawah ke atas, dan ada jalan dari atas ke bawah.

Menurut catatan ini, jalan dari bawah ke atas itu melalui belajar di pesantren, mengkaji kitab Quran dan melakoni ibadahnya, yakni rukun yang lima perkara. Itulah jalan ibadah makrifat kepada Allah Taala. Tapi sayangnya, banyak yang tidak sampai ke makrifatnya, lantaran terlanjur mendapat kenyamanan menyebut asmanya. Artinya sudah merasa nikmat dengan begitu, padahal bila diteruskan makrifat kepada dzat sifatnya Allah Ta’ala, masa tidak ketemu akan kenikmatannya, sebab baru di asma saja sudah begitu nikmatnya.

Soal asal usul umat manusia, dalam catatan tersebut disebutkan berasal dari babu Hawa yang berasal dari tulang iga nabi Adam. Sementara nabi Adam berasal dari unsur bumi, unsur pi, unsur air, dan unsur angin. Sedangkan unsur-unsur itu berasal dari nur Muhammad, yakni cahaya hitam hakekatnya bumi, cahaya putih hakekatnya air, cahaya kuning hakekatnya angina, dan cahaya merah hakekatnya api. Lalu nur Muhammad berasal dari nur yang Maha Suci, yakni dari johar awal (zat yang paling awal). Johar awal inilah bibitnya tujuh bumi, tujuh langit, dan segala isinya.

Catatan ini juga menerangkan perbedaan iman dan makrifat. Iman artinya percaya dan makrifat artinya tahu. Percaya kepada Allah Ta’ala itu harus dengan makrifat, sehingga jangan hanya iman dengan taklid, mengaku percaya adanya Allah berdasarkan kabar dari orang lain, atau dapat dari kita saja, atau jangan hanya percaya adanya Allah hanya karena adanya ciptaan-Nya, seperti bumi dan langit. Agama lain pun menganut kepercayaan seperti itu. Tentu saja, kalau demikian tidak adanya beda Islam dengan agama lain. Oleh karena itu makrifat juga penting selain iman.

Sementara istilah Islam, diartikan suci, bersih dari segala kotoran. Menurut catatan ini, kotoran itu tiada lain adalah nafsu. Siapa pun manusia di dunia ini pasti punya nafsu. Di dalam manusia walaupun dia ahli agama, pasti punya nafsu, apalagi yang melakukan sirik, ujub, ria, dan takabur. Agama Islam tidak ada duanya. Bahkan karena satu, maka sifatnya gaib. Karena sifatnya Islam adalah nur. Sewaktu kita berada di alam nur, tidak punya nafsu, tidak ingin apa-apa.

Di dalam Islam tidak ada dua, yakni kanjeng Rasulullah. Sebab manusia itu kebagian pangkat Islam, manusia hanya jadi umat, tapi yang sampai ke pangkat umat pun sudah bangga. Oleh sebab itu harus tahu dulu Rasulullah. Di dalam rukun Islam juga diwajibkan ziarah ke kuburan Kanjeng Rasulullah dan ke Baitullah. Jadi harus jelas hakekatnya Rasulullah dan Baitullah dan keratonnya Allah Ta’ala, dan itu ada di dalam diri sendiri.

Catatan yang diperkirakan ditulis oleh Ustad HM Yusup Maulana ini juga menerangkan perihal Alquran yang terdiri dari empat perkara. Yakni Qur’anul Majid, yaitu qur’an yang ada hurupnya, yang umum dipakai ngaji oleh umat Islam sealam dunia. Lalu Qur’anul Karim, yaitu qur’an yang mulia, yang ada tulisannya, karena yang dimuliakan oleh umat Islam se alam dunia. Kemudian, Qur’anul Hakim, yakni quran yang agung, barangnya itu juga, yang suka dibaca dan diagungkan oleh umat Islam. Dan terakhir, Qur’anul Adim yang artinya qur’an yang suci dan langgeng, petunjuk yang langgeng hukumnya dari dunia sampai akhirat. *


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP