19 Juli 2009

Wuku Taun Sebagai Ritual Agung




Satu bentuk pelestarian tradisi leluhur yang paling menonjol di Kampung Cikondang adalah pelaksanaan upacara adat Wuku Taun. Upacara adat ini dilakukan sebagai bentuk syukur atas anugerah Yang Maha Kuasa karena telah memberikan hasil bumi yang menghidupi mereka sepanjang tahun. Selain bentuk syukur, Wuku Taun juga dimaksudkan sebagai ritual menyambut tahun baru dengan doa semoga setahun ke depan diberikan keselamatan dan perlindungan.

Tradisi Wuku Taun selalu jatuh pada 15 Muharam. Namun sejak tanggal 1 Muharam, kesibukan warga telah tampak di sana-sini. mereka bergotong royong menumbuk padi yang kelak dijadikan bahan nasi tumpeng. Padi yang sebelumnya disimpan di lumbung tersebut merupakan hasil panen tahun lalu dari sawah keramat yang menjadi kekayaan adat.

Kaum wanita yang bertugas menumbuk padi terdiri atas lima atau enam orang dengan ketentuan, mereka tidak sedang haid. Pakaiannya khusus, dilengkapi karembong atau kain yang diselendangkan yang biasanya digunakan untuk menggendong bayi dan kepalanya ditutup kerudung. Kegiatan menyambut upacara Seren Taun-Mapag Taun dari hari ke hari makin meningkat. Selain menyiapkan beras untuk bahan pembuat nasi tumpeng, kaum wanita membuat opak dan makanan khas masyarakat Kampung Cikondang.

Kaum pria secara bergotong royong menyiapkan kayu bakar dan daun pisang yang harus diambil dari kaki Gunung Tilu. Kelak, daun-daun tersebut dijadikan bahan untuk berbagai macam wadah penganan dan lauk pauk yang digunakan pada puncak upacara yang diselenggarakan tanggal 15 Muharam.

Seperti diungkap kuncen Bumi Adat Cikondang, Anom Samsa, upacara Wuku Taun telah dilaksanakan lebih dari tiga abad. Terhitung sejak leluhur pertama mereka tinggal di kawasan hutan Gunung Tilu. Setiap tahun, tanpa diundang, ratusan orang keturunan masyarakat adat Cikondang ikut terlibat dalam upacara tersebut.

Upacara dimulai dengan penyembelihan ayam untuk dimasukkan dalam tumpeng padi ladang dan padi sawah. Masyarakat di rumah masing-masing membuat tumpeng berisi ayam. Sebagian masyarakat lainnya dengan sukarela bekerja di rumah adat, mempersiapkan tumpeng, lauk-pauk, dan 12 kue tradisi antara lain ampengan ketan, opak putih dan merah, wajit, ketan, pisang, dan kelontong.

Masyarakat yang membuat tumpeng di rumah-rumah akan menyerahkan tumpengnya ke rumah adat dan pekerja di rumah adat akan membalasnya dengan tumpeng lain yang lebih lengkap. Upacara ditutup sore hari dengan doa bersama sebagai tanda syukur atas rezeki tahun lalu. Peserta upacara pun tak hanya masyarakat adat Cikondang saja, tapi juga warga dari luar kampung.

Menjelang tengah hari, puluhan nasi tumpeng yang berasal dari rumah-rumah penduduk dibawa ke rumah adat. Kelak, setelah anom membacakan ijab kabul yang menandai puncak acara tersebut, nasi tumpeng berikut lauk pauknya dibagikan kembali kepada masyarakat. Sekitar seratus meter arah selatan rumah adat terdapat tiga makam, yaitu makam anom atau uwa Idil, Mak Akung, dan Mak Ampuh. Tempat tersebut dipercaya pula sebagai tempat ngahyang atau menghilangnya leluhur mereka yang menjadi penduduk pertama dan sekaligus pendiri Kampung Cikondang.

Penuh Makna

Menurut Abah Ilin Dasyah, inti dari upacara ini adalah mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para leluhur Kampung Cikondang yang berperan bagi kesejahteraan dan keselamatan kampung mereka. Nasi tumpeng merupakan simbol dari rasa syukur tersebut. Dari pembuatan hingga pembagian tumpeng pengiring yang sebanyak 100 buah, merupakan gambaran rasa gotong royong dan kebersamaan warga masyarakat.

Menurut Ilin, pada hakikatnya, wuku taun bukanlah pesta perayaan semata. Dengan melaksanakan upacara adat tersebut, warga seolah membuka dan membaca kembali sebuah buku yang memuat sejarah Kampung Cikondang. ”Tahun ini kami telah melaksanakan wuku taun untuk yang ke-304. Ini artinya, upacara ini sudah berlangsung sejak tiga abad lalu,” ungkap Ilin.

Bukti lain juga dibeberkan Ilin. Tumpeng lulugu yang berjumlah tiga itu masing-masing terdiri dari tiga macam beras yang berbeda, yaitu beras padi, beras padi huma, dan beras ketan. Ilin menuturkan, pada awalnya masyarakat Kampung Cikondang bertani dalam bentuk huma. Sejak sistem irigasi masuk pada awal tahun 1900, sebagian masyarakat Kampung Cikondang beralih ke cara bertanam sawah dengan siklus tiga kali panen dalam setahun.

Selain sebagai bukti historis, penggunaan makanan berbahan dasar beras ini menegaskan tentang keterikatan masyarakat Kampung Cikondang dengan alam sekitar. Mayoritas penduduk Kampung Cikondang bermata pencaharian petani.
Bahan lain yang digunakan sebagai pelengkap juga berasal dari beras. Di samping tumpeng, terdapat 12 jenis makanan ringan pengiring, seperti peuyeum, dodol, wajit, angleng, upuntir, ampeyang, borondong, kalontong, opak merah dan opak putih. Pengiring yang nonberas hanya tebu dan buah pisang. ***


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP