25 Juli 2009

Uniknya Kampung Pulo Cangkuang

Kampung Pulo merupakan miniatur masyarakat yang masih kuat memegang adat istiadat karuhun. Kampong ini hanya terdiri dari 6 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 21 jiwa. Dalam kehidupan sehari-hari, warga kampung Pulo diatur ketentuan adat yang terus dipatuhi dari waktu ke waktu.

Kampung Pulo terdapat di sebuah pulau kecil bernama pulau Panjang. Di sebut pulau Panjang karena bentuknya memanjang dari barat ke timur dengan luas 16,5 ha. Di pulau ini, selain terdapat kampung adat, juga terdapat situs purbakala berupa Candi Cangkuang dan makam Eyang Arif Muhammad, yang tiada lain adalah leluhur dan pendiri Kampung Pulo. Selain pulau Panjang, disebelahnya juga terdapat dua pulau lain yang berukuran lebih kecil dan berbentuk agak bulat. Di sekeliling pulau kecil ini merupakan daratan rawa yang berair.

Kampung Pulo adalah dusun kecil peninggalan sejarah masa silam. Kampung ini terletak di Desa Cangkuang Kecamatan Leles, berjarak 17 km dari Kota Garut, atau kurang lebih 50 km dari Kota Bandung. Secara geografis, menuju kampung Pulo tidaklah terlalu mudah. Cara pertama, harus menyeberangi danau kecil yang bernama Situ Cangkuang. Cara kedua, dengan berjalan kaki melintasi galangan persawahan milik warga Desa Cangkuang. Yang terakhir ini jaraknya pun lumayan jauh karena harus menempuh rute memutar.

Udara kawasan ini tergolong sejuk, karena berada terletak di ketinggian 700 m diatas permukaan air laut. Di sepanjang perjalanan dari Leles ke desa Cangkuang, akan terpampang indahnya hamparan sawah yang menghijau. Di sebelah utara tampak Gunung Haruman, di sebelah barat Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur yang menjulang tinggi.

Pantangan Adat

Bagi warga Kampung Pulo, masih berlaku beberapa pantangan adat, yang apabila dilanggar bisa menyebabkan malapetaka. Pantangan adat itulah yang menuntut peri kehidupan sehari-hari warga Kampung Pulo begitu tertib dan teratur. Dan pantas saja bila orang-orang “pintar” dan mereka yang sering menyerap energi-energi alam sering merasakan adanya getaran-getaran aneh bila menginjakkan kaki di wilayah ini.

Energi yang kuat di sekitar kampung, diperkirakan karena tempat ini merupakan tinggal leluhur yang punya pengaruh kuat dalam syiar Islam beberapa abad silam. Ia adalah Eyang Arif Muhammad. Selain itu, Kang Sugi memperkirakan energi kuat kampung Pulo, juga berasal dari areal Candi Cangkuang yang persis di bagian kakinya, terdapat makam pendiri kampung Pulo, yakni Eyang Arif Muhammad. “Dua situs itulah yang menyebabkan energi Kampung Pulo terasa begitu kuat,” tuturnya.

Suasana sehari-hari Kampung Pulo terasa hening. Di kawasan ini sulit kita jumpai binatang-binatang ternak yang berkeliaran, meski di sekitarnya terdapat sawah warga membentang luas. Yang kerap mewarnai suasana kampung ini adalah suara penghuni enam buah rumah yang melantunkan ayat-ayat suci Alquran.

Suasana lebih sepi terjadi pada hari Rabu. Sebab ketika itu, penduduk Kampung Pulo tak mau keluar rumah. Yang mereka lakukan adalah mengaji atau mendalami ilmu-ilmu agama. Nah, saat suara azan menggema, tanpa dikomando, warga kampung ini serentak keluar rumah untuk menunaikan salat berjamaah di masjid kecil yang ada di kampung itu.

Seperti dituturkan Umar (40), salah seorang sesepuh adat Kampung Pulo dan generasi ke-8 keturunan Eyang Arif Muhammad, di kampungnya secara turun-temurun masih berlaku beberapa pantangan atau hal-hal tabu bila dilaksanakan (pamali –sunda). Misalnya, warga kampung Pulo tidak boleh memelihara binatang besar berkaki empat, lalu tidak boleh bekerja pada hari Rabu.

Kemudian tidak boleh memukul gong atau gamelan, lalu atap rumah tidak boleh dari jurei, dan kepala keluarga tidak boleh berjumlah lebih dari enam. “Semua pemali ini berasal dari al¬marhum Arif Muhammad, tokoh penyebar agama Islam yang makamnya terletak di samping Candi Cangkuang,” kata Umar.

Menurutnya, Eyang Arif Muhammad adalah panglima lasar perang kerajaan Mataram, yang mendapat perintah Sultan Agung untuk menyerbu Batavia pada abad ke-17. Namun, perjuangan Arief Muhammad dan para pengikutnya menemukan kegagalan. Karena gagal mereka tidak kembali ke Mataram melainkan singgah di pulau Panjang dan menetap di sana.

Di pulau Panjang inilah diperkirakan Arief Muhammad menemukan candi Cangkuang, sekaligus mendirikan perkampungan di daerah tersebut dan menyiarkan syariat Islam. Menurut Umar, Eyang Arif Muhammad bukanlah tokoh sembarangan. Selain memiliki ilmu Islam yang luas, leluhurnya itu juga punya keistimewaan. Antara lain kata-katanya mengandung tuah. Tak heran, bila kampung Pulo yang dijadikan cagar budaya, hingga saat ini masih lestari. Di kampung ini, orang tak boleh bertingkah sembarangan. “Inilah peninggalan Eyang Arif yang masih tersisa,” katanya.

Maka, setelah Eyang Arif meninggal dunia, jasadnya dikubur di kaki Candi Cangkuang dan kemudian makamnya dikeramatkan orang. Tidak sedikit yang datang berziarah ke makam itu sambil memohon doa kepada Allah SWT agar kehidupannya lapang. “Segala permohonan orang banyak dilakukan di sini. Tapi jangan lakukan itu dihari Rabu,” tandas Umar. “Sebab hari itu adalah pantangan orang melakukan aktivitas termasuk ziarah, kecuali diisi dengan pengajian dan beramal kebajikan.”

Rabu hari Sakral

Menurut Umar, hari Rabu juga dikenal oleh warga Kampung Pulo sebagai hari yang kelam. Sebab menurut sejarahnya, pada hari itulah putra bungsu Eyang Arif dan beberapa masyarakat Cangkuang tewas oleh sebuah malapetaka. Sehingga untuk mengenang hari itu, Eyang membangun sebuah masjid di kampung Pulo sebagai titisan putra kesayangannya itu.

Dari peristiwa inilah terhimpun 5 pamali (pantangan) tadi. Misalnya tidak boleh memelihara binatang berkaki empat karena Arief Muhammad tidak suka memelihara bi-natang yang suka memakan dedaunan. Selain itu, karena dekat Kampung Pulo terdapat candid an patung Syiwa peninggalan agama Hindu, sebagai penghormatan, tidak boleh ada binatang yang bisa mengotori tempat suci agama tersebut.

Keberadaan makam Arif Muhammad yang memeluk Islam berdampingan dengan Candi Cangkuang, yang merupakan tempat pemujaan Dewa Syiwa bagi pemeluk agama Hindu, menjadi satu bukti interaksi positif di antara kedua agama tersebut. Menurut Umar, ada beberapa kebiasaan yang berlaku dalam agama Hindu yang hingga saat ini masih dilakukan oleh masyarakat adat Kampung Pulo, yaitu tidak bekerja di ladang pada hari Rabu. Eyang Arif, mengajarkan bahwa umat beragama Hindu tidak bekerja pada hari Rabu,” jelas Umar.

Sementara larangan memukul gong atau gamelan, berhubungan dengan anak laki-lakinya. Saat itu, anak lelaki ke¬sayangannya baru dikhitan, lalu ditandu, dan diarak dengan iring-iringan orang yang membawa tetabuhan, termasuk seperangkat gamelan. Namun sayang, arak-arakan tersebut diamuk topan se¬hingga anaknya ini meninggal tertimpa tandu.

Mengenai rumah beratap ijuk dan berbentuk prisma, hingga kini belum diketahui asal-muasalnya. Sedangkan enam kepala keluarga atau enam rumah dan satu masjid, bermula dari keluarga Arief Muhammad sendiri. Beliau mem¬punyai enam anak perempuan dan seo¬rang anak laki-laki. Ini ditafsirkan enam anak perempuan dengan enam kepala keluarga, dan satu anak laki-laki yang meninggal dunia dengan symbol sebuah masjid.

Enam buah rumah adat berjejer saling berhadapan masing-masing 3 buah rumah di kiri dan di kanan. Jumlah dari rumah tersebut tidak boleh ditambah atau dikurangi serta yang berdiam di rumah tersebut tidak boleh lebih dari 6 kepala keluarga. Jika seorang anak sudah dewasa kemudian menikah maka paling lambat 2 minggu setelah itu, ia harus meninggalkan rumah dan keluar dari lingkungan keenam rumah tersebut. Walaupun 100 % masyarakat kampong Pulo beragama Islam, tetapi mereka juga tetap melaksanakan sebagian upacara ritual agama Hindu.

Dan masih menurut Umar, peninggalan Eyang Arif Muhammad pun hingga masih bisa disaksikan. Sedikitnya ada 12 kitab kuna yang tersimpan di museum mini situs Candi Cangkuang. Hanya saja, kitab-kitab itu sebagian besar dalam kondisi sangat memprihatinkan. Diantaranya adalah Kitab Tauhid, Kitab Ilmu Bahasa Arab, Kitab Fiqih, Kitab Ilmu Alat, Kitab Doa, dan Kitab Khutbah Jumat, yang semuanya ditulis tangan oleh Arif Muhammad. Kitab yang terakhir itu disebut-sebut sebagai uraian khutbah Jumat terpanjang di dunia.

Kondisi yang sama juga terjadi pada Kitab Al Quran yang ditulis dengan tangan oleh Arif Muhammad di atas kertas daun saih. Sampul dan sisi kiri dan kanannya sudah mulai dimakan rayap. Umar menjelaskan, saat ini seluruh keturunan Arif Muhammad tinggal dan mencari nafkah di sekitar situs Candi Cangkuang. Enam keluarga dari garis keturunan perempuan tinggal di tempat ini. Sedangkan keturunan laki-laki tinggal dan mencari nafkah di luar Kampung Pulo.

Adat istiadat Masyarakat Kampung Pulo

Dalam adat istiadat Kampung Pulo terdapat beberapa ketentuan yang masih berlaku hingga sekarang. Dan menurut kepercayaan bila masyarakat setempat melanggarnya, maka akan terjadi malapetaka bagi masyarakat tersebut. Antara lain :
1. Saat berziarah ke makam-makam leluhur, harus menyalakan bara api, kemenyan, minyak wangi, bunga-bungaan dan serutu. Hal ini dipercaya untuk mendekatkan diri (peziarah) dengan roh-roh para leluhur.
2. Dilarang beraktivitas pada hari Rabu. Karena Eyang Arif Muhammad tidak mau menerima tamu pada hari itu, dan hari Rabu digunakan untuk mengajarkan agama Islam. Kebiasaan warga Kampung Pulo untuk menghentikan kegiatan di hari Rabu ini juga terbawa oleh adat leluhur mereka yang telah membaurkan kebiasaan ini dengan ajaran agama Hindu.
3. Bentuk atap rumah selamanya harus mamanjang (jolopong).
4. Tidak boleh memukul Goong besar
5. Khusus di kampong Pulo tidak boleh memelihara ternak besar berkaki empat seperti kambing, kerbau, sapi dan lain-lain.
6. Setiap tanggal 14 bulan Maulud melaksanakan upacara adat memandikan benda-benda pusaka seperti keris, batu aji, peluru dari batu yang dianggap bermakna dan mendapat berkah. Yang berhak menguasai rumah- rumah adapt adalah wanitadan diwariskan pula kepada anak perempuannya. Sedangkan bagi anak laki-laki yang sudah menikah harus meninggalkan kampong tersebut setelah 2 minggu.

Baca juga :
Candi Cangkuang, Arca Syiwa & Arif Muhammad


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP