19 Juli 2009

Tradisi Bersyukur Masyarakat Adat Cigugur Kuningan (3)

Masyarakat Cigugur amat kuat memegang teguh tradisi karuhun (leluhur). Wujud prinsip tersebut terejawantah dalam kehidupan sehari-hari. Seren taun, merupakan salah satu tradisi bersyukur yang hingga kini masih dipertahankan. Dan tanggal 22 Rayagung, masyarakat adat di sana menetapkannya sebagai hari besar seren taun yang kerap dirayakan secara besar-besaran dan dihadiri oleh multietnis dari berbagai penjuru negara.

Perayaan pokok seren taun ditandai dengan ritual pokok ngagondang. Yakni ritual menumbuk pada dengan menumbukkan alu pada lesung, sambil menyanyi. Menurut Dadan Wildan, staf pengajar FKIP Universitas Galuh Ciamis, ritual ngagondang ini berangkat dari kepercayaan lama masyarakat Sunda yang agraris, yang disebut juga dengan Ajaran Djawa Sunda atau Madraisme.

Menurut ajaran ini, Dewi Sri atau Sanghyang Sri adalah Dewi Padi yang perlu dihormati dengan upacara-upacara religius daur ulang penanaman padi serta ajaran budi pekerti dengan mengolah hawa nafsu agar hidup selamat. Dan semua itu diwujudkan dalam upacara seren taun, yang pada hari “H” nya selalu menyedot ribuan pengunjung untuk menyaksikan.

Isu Negatif

Upacara seren taun dipusatkan di Gedung Paseban Tri Panca Tunggal dan sekitarnya, yang berada di Jalan Raya Cigugur. Gedung Paseban sendiri sangat menarik untuk disimak. Bangunan yang didirikan pada 1840 ini merupakan bangunan yang dilindungi undang-undang sebagai peninggalan bernilai sejarah. Secara fisik, bangunan ini terdiri dari beberapa ruang yang hampir sebagian besar materialnya berbahan kayu dan bilahan papan.
Salah satu ruangan di dalam gedung Paseban yang kerap menyedot rasa kagum adalah ruang Dapur Ageung. Ruangan ini kerap disebut-sebut masyarakat namun tak banyak yang berkesempatan melihatnya secara langsung. Sebab selain letaknya berada di bagian belakang, biasanya pengunjung upacara seren taun lebih memusatkan perhatiannya pada gelaran ritual yang diselenggarakan di ruangan lain.
Dapur Ageung (besar-red) sendiri adalah sebuah tungku perapian terbuat dari semen yang dikeempat sudutnya dilengkapi hiasan berbentuk ular naga, serta di bagian atas tungkunya dilengkapi ukiran berbentuk mahkota kerajaan. Seperti diungkap Pangeran Jati Kusumah, keberadaan tungku tersebut tak jarang diisukan negatif oleh sebagian masyarakat.
Isu tersebut berisi antara lain bahwa Kiai Madrais dan para pengikutnya dianggap sebagai orang-orang penyembah api serta suka bersembahyang di depan api. Bahkan, lanjutnya, sempat ada fitnah yang menyatakan bahwa di depan api tungku tersebut, keringat Kiai Madrais diperas dan diberikan kepada penganutnya. Fitnah tersebut, kata Pangeran Jati, bukan tidak mungkin awalnya diisukan oleh pihak penjajah dengan tujuan supaya masyarakat merasa jijik dan menjauhi serta membenci Bapak Kiai Madrais. Terlebih pada saat itu, pihak penjajah selalu bermaksud dan berupaya memecah belah serta melumpuhkan pengaruh nasionalisme masyarakat dari ajaran Kiai Madrais.
Sayangnya, isu negatif ini pernah diangkat dalam sebuah film layar lebar berjudul “Kafir” dan dianggap menyinggung perasaan masyarakat Kuningan. Mengenai hal ini, sekitar pertengahan April 2004 lalu, Warga Adat Karuhun Sunda Cigugur, Kuningan, melontarkan protes atas peredaran film tersebut. Warga merasa dilecehkan dan dicemarkan nama baik mereka gara-gara film Kafir. Disebut-sebut, film itu diangkat berdasarkan kisah nyata seorang tokoh di Cigugur, Kuningan, yang sangat identik dengan Kiai Madrais.
"Kalau saja mereka tidak menyebutkan film ini diangkat dari kisah nyata di Desa Cigugur, Kuningan, tentu kami tidak akan mempermasalahkannya. Tapi ketika tokoh kami disebut-sebut dan digambarkan seolah-seolah sama dengan tokoh yang diperankan dalam film itu, jelas kami merasa dilecehkan," kata Djatikusumah kala itu. "Itu fitnah. Pencemaran nama baik dan pembunuhan karakter terhadap sesepuh kami,” tandasnya.
Apa yang ditonjolkan dalam film tersebut, sangat bertolak belakang dengan kehidupan Madrais yang sebenarnya. “Apalagi beliau diceritakan sebagai dukun santet,” terangnya. Madrais, kata Pangeran Djati Kusumah, yang juga cucu lelaki pertama Madrais ini, adalah tokoh spiritual yang mengajarkan kesadaran beragama dan kebangsaan serta persatuan pada zaman Belanda.

Gedung Paseban

Gedung Paseban Tripanca Tunggal Cigugur memang selalu menjadi daya tarik. Bagi masyarakat adat di sana, fungsi keberadaan gedung Paseban ini sangat penting. Menurut Pangeran DJati Kusumah, sesuai dengan amanat pendirinya dan sejalan dengan tujuan Yayasan Tri Mulya yang bergerak di bidang pendidikan, maka setelah mengalami beberapa kali pemugaran, gedung yang sudah dijadikan Cagar Budaya Nasional berikut nilai seni budaya di dalamnya, kini dimanfaatkan untuk menunjang bidang pendidikan.
Di antaranya, sebagai pusat lokasi penyelenggaraan upacara Seren Taun, tempat menyimpan benda-benda bersejarah, seperti senjata keris, tombak, dan senjata masyarakat tradisional lainnya, serta koleksi alat-alat kesenian daerah masa lampau. Gedung Paseban, juga berfungsi sebagai perpustakaan buku-buku sejarah dan buku-buku mengenai keagamaan atau kepercayaan dari setiap agama dan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME.
Selain itu, gedung Paseban juga difungsikan Yayasan Tri Mulya sebagai pusat perkembangan seni budaya. Misalnya, dipakai tempat latihan seni karawitan, seni tari daerah termasuk latihan tari buyung yang biasa ditampilkan pada upacara seren taun, dan sebagai tempat untuk berlatih serta membuat aneka kerajinan untuk cindera mata dan suvenir.
Sayangnya, pemeliharaan gedung dan upaya pelestarian serta pengembangan seni budaya di cagar budaya nasional tersebut, menurut pengakuan Pangeran Djati, sampai saat ini belum mendapat dukungan materi dari pemerintah. "Dukungan moril dari pemerintah, mulai dari pemeritah daerah, provinsi sampai pemerintah pusat, memang sudah kami rasakan. Bantuan berupa dana dari pejabat pemerintah pun pernah kami terima, tapi kalau secara langsung pemerintah menganggarkan dan memberikan dana untuk upaya pelestarian gedung berikut seni budaya ke gedung Paseban Tri panca Tunggal ini, sampai sekarang belum pernah kami terima," tuturnya.
Meski begitu, tambahnya, pihaknya optimis seni budaya termasuk upacara seren taun sementara ini masih bisa dilestarikan dan dilaksanakan. Karena pada setiap pelaksanaan upacara seren taun yang selalu menghabiskan biaya paling besar, ternyata masih bisa terpenuhi dengan adanya iuran dan sumbangan dari masyarakat adat agraris Sunda yang tersebar di Jawa Barat. Eko risanto (habis)





0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP