19 Juli 2009

Tradisi Bersyukur Masyarakat Cigugur (2)

Bait-bait penuh makna selalu dilantunkan pemimpin upacara. Itulah bagian sakral upacara Seren Taun yang digelar sekali setiap tahun oleh masyarakat di Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan. Iringan nada-nada gamelan renteng yang melantunkan tembang papalayon dan babarit sengaja dipersembahkan kepada karuhun atau nenek moyang. Itulah sebagian ritual yang menjadi spirit tradisi bersyukur seren taun.

Bangunan paseban Tripanca Tunggal, tempat berlangsungnya upacara seren taun masyararakat agraris Desa Cigugur tidak hanya tampak semakin sakral. Bangunan yang didirikan pada 1840 itupun seakan mengundang para karuhun untuk turut dalam suasana pesta adat seren tahun. Pertanda syukur akan karunia Yang Kuasa atas hasil panen, sekaligus mohon perlindungan agar musim bercocok tanam tahun depan tak ada gangguan.

Tradisi Seren Taun yang setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat agraris di desa Cigugur, sebenarnya memiliki makna hampir sama dengan upacara-upacara yang biasa dilakukan oleh para petani di seluruh Indonesia. Bahkan petani di negara-negara maju juga masih melakukan kebiasaan atau upacara thank's giving kepada Tuhan atas limpahan hasil pertanian.

Di Jawa Tengah, upacara jenis ini kerap pula terdengar. Semisal kebiasaan petani dengan tradisi Mapag Sri-nya. Dan banyak lagi upacara-upacara sejenis, lengkap dengan beragam uborampenya. Intinya, semua itu merupakan bentuk penghormatan yang tak terhingga dari para petani, atas limpahan rejeki yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Sehingga berbagai hasil bumi masih dapat dinikmati oleh masyarakat.

Melalui Seren Taun inilah, masyarakat petani di kawasan Cigugur dan sekitarnya, menyampaikan rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sebagai pencerminan kesadaran pribadi atas suatu kenyataan yang mereka terima, yakni hidup dengan kehidupan, dengan kehalusan budi, cinta kasih, tatakrama dalam menerima sentuhan cipta, rasa, dan karsa yang diperikan sang Pencipta.

Gedung Paseban

Sejak bertahun-tahun lamanya, tradisi seren taun selalu digelar di kompleks gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Bagi masyarakat Kuningan, bangunan cagar budaya ini bukan hanya dianggap sakral, tapi mirip semacam keraton bagi sebuah kerajaan. Masyarakat di sana meyakini gedung Paseban sebagai tempat berkumpulnya karuhun mereka. Hanya saja, kesan keraton seperti umumnya tidak tampak. Sebab dari segi arsitektur, bangunan Paseban ini tak ubahnya gedung tua peninggalan masa lalu saja.

Meski begitu, bangunan Paseban Tri Panca Tunggal ini memiliki makna fisolofi yang dalam. Secara keseluruhan, gedung paseban terdiri dari beberapa bangunan dan ruangan yang hampir sebagian besar material bangunannya berbahan kayu dan bilahan papan. Bangunan dan ruangannya secara keseluruhan ditata menghadap ke arah Barat.
Menurut Pangeran Jati Kusumah, pinisepuh masyarakat Kuningan sekaligus pemilik gedung Paseban, penataan seperti tersebut merupakan lambang yang menggambarkan bahwa Timur dan Barat sebagai garis perjalanan matahari. Artinya bahwa dalam keidupan ini berada di antara terbit dan terbenam atau lahir dan mati.
Di bangunan tua yang didirikan sekira tahun 1840-an itu, terdapat empat ruangan yang diberi nama ruang Jinem, Pendopo Pagelaran, Srimanganti (bagian depan Padaleman), dan ruang Dapur Ageung.

Ruang Jinem, dulunya merupakan tempat yang biasa dipakai untuk kegiatan sarasehan atau ceramah dalam memberi dan menerima pengertian hidup dan kehidupan serta kejiwaan dalam pengheningan cipta untuk dapat mengenal dan merasakan adanya cipta, rasa dan karsa. Di ruangan ini terdapat relief di tiang dan dinding menggambarkan muka denawa dalam nyala api. Keberadaan relief tersebut, untuk mengingatkan bahwa dalam menjalani kehidupan harus selalu waspada dalam menyalurkan nafsu yang kerap dipengaruhi pula amarah atau sifat api.

Masih di ruangan Jinem, juga terdapat relief Raksesi berhadapan dengan Satria Pinandita. Relief tersebut, juga menggambarkan dan mengingatkan, bahwa dalam hal menghindari hawa nafsu buruk harus memakai sifat satria, namun tidak dibenarkan menghindarinya dengan cara mengasingkan diri dari kehidupan ramai. Artinya, selain manusia itu harus memiliki sifat kesatria yang berbudi luhur penuh rasa kehalusan, juga harus memiliki sifat kesatria yang aktif dan kreatif dalam kehidupan bermasyarakat.

Relief yang pemberi gambaran dan tuntunan bagi kehidupan manusia, juga terdapat di ruang pendopo. Di antaranya dua relief tulisan Purwa Wisada dan Sri Resi Sukma Komara Tunggal dengan aksara Sunda. Kemudian, relief burung garuda di atas lingkaran ditunjang dua ekor naga, serta lukisan kepala Banaspati. Sedangkan ruangan Sri Manganti yang terletak di bagian tengah dari keseluruhan ruang gedung Tri Panca Tunggal, adalah bagian dari ruang padaleman (ruang lebet). Di ruangan ini terdapat kursi tempat pelaminan khusus keluarga, terdiri dari satu sofa ukuran besar berwarna merah dengan kaki dan rangka kayu penuh ukiran, serta sejumlah kursi berukuran biasa berangka kayu ukiran.

Selain untuk pelaminan keluarga penghuni gedung, ruang Sri Manganti, suka dipakai pula untuk upacara pernikahan, merundingkan persiapan uapacara seren taun, dan sebagai tempat untuk memecahkan masalah keluarga. Bahkan menurut Pangeran Jati Kusumah, sewaktu terjadi konflik antara Suku Dayak dengan masyarakat Madura di Kalimantan pun, ruangan tersebut sempat dijadikan tempat musyawarah kekeluargaan antara ketua dan tokoh masyarakat adat Suku Dayak dan ketua atau tokoh masyarakat Madura, yang sengaja diundang Pangeran Jati Kusumah, untuk merundingkan dan menghentikan pertikaian antarsuku tersebut. (bersambung)


0 komentar:

Poskan Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP